Anda di halaman 1dari 22

1

Dikontrol oleh mekanisme homeostasis, namun lebih kompleks dibandingkan haus. SEBAB haus hanya butuh cairan. Sedangkan LAPAR?

Berarti kehilangan different thing to eat. Manusia memerlukan beragam zat makanan (protein, karbohidrat, zat lemak, mineral) agar sehat.

Mekanisme belajar food preferences


1. Manusia terlahir diprogram untuk menyukai atau tidak menyukai unsur-unsur dengan rasa tertentu. Misalnya, bagaimana reaksi bayi bila diberi makanan dengan rasa manis? Bagaimana pula reaksi bayi (baru lahir) bila diberi makanan pahit? 2. Melalui mekanisme learning & social learning

Pada dasarnya, manusia perlu makan untuk memertahankan homeostasis energi tubuh. Sel-sel tubuh akan membakar makanan agar menghasilkan energi untuk beraktivitas. Bahan bakar utama bagi saraf otak adalah glukosa. Tanpa glukosa, saraf-saraf tidak dapat bekerja. Kekurangan metabolic fuel (glukosa) akan memicu rasa lapar, sedang kelebihan metabolic fuel akan merasa kenyang (tidak ingin makan).

Para ilmuwan mengira, regulasi lapar amatlah sederhana, yaitu seseorang akan merasa lapar bila perutnya berkontraksi. TETAPI riset membuktikan, pandangan di atas keliru. Tikus (percobaan) maupun manusia, bila saraf yang mengirimkan pesan dari perut menuju otak dilukai, maka organisme tetap dapat merasakan lapar. Demikian pula, setelah perut seseorang diangkat karena alasan medis, orang itu tetap merasa lapar. Artinya, ada sesuatu dari lapar yang lebih dari hanya sekedar yang perut kosong.

Tentu saja, perut berperanserta dalam meregulasi lapar. Kadar kalori (bukan volume makanan) menjadi penentu dari seberapa cepat makanan meninggalkan perut. Semangkuk besar selada tanpa saus akan menimbulkan rasa lapar lebih cepat dibandingkan sepotong cake karena perut lebih cepat kosong oleh makanan rendah kalori. Bila perut berkontraksi, maka seseorang akan merasa kian lapar. Biasanya seseorang akan merasa lapar bila 60% (isi) perutnya kosong, dan seseorang akan merasa sangat lapar bila 90% (isi) perut kosong.
6

Perut bukanlah satu-satunya organ yang bertanggungjawab atas lapar. Satu diantara organ terpenting adalah OTAK.

Otak, khususnya hipotalamus, sangat penting dalam meregulasi lapar. Kemudian dilakukan penelitian pada areaVMH dan LH. Binatang yang terluka VMH nya (ventromedial hypothalamus) akan makan secara berlebihan sehingga mengalami obesitas. Ini berarti, VMH turut meregulasi lapar. Daalm hal ini, VMH bertindak sebagai sumber umpan balik negatif. Bila organisme telah kenyang, VMH akan mengirimkan sinyal untuk menghentikan makan. Pada binatang yang VMH nya dirusak, maka sinyal kenyang tidak akan pernah dikirim.
7

Sebaliknya, kerusakan pada lateral hypothalamus (LH) akan berdampak berbeda. Binatang percobaan yang dilukai LH nya, tidak mau makan. Akhirnya, mati karena kelaparan. Berdasarkan temuan di atas, LH merupakan on switch untuk makan, dan VMH merupakan off switch untuk makan.

Dua hipotesis menjelaskan regulasi lapar, yaitu:

1. Glucostatic hypothesis

menyatakan level glukosa dalam darah menjadi pertanda tubuh memerlukan makanan. Artinya, seseorang akan merasa lapar bila level glukosa berada di bawah titik tertentu. Istilah glucostatic merujuk pada stabilitas level glukosa pada tubuh dan otak. Beberapa temuan tidak bisa dijelaskan oleh glucostetic hypothesis, sehingga muncullah penjelasan alternatif untuk memahami lapar, yaitu:

2. Lipostatic hypothesis

menyatakan level lipids (lemak) dalam darah akan menjadi pertanda tubuh memerlukan makanan. Bila lemak dalam tubuh berkurang, maka rasa lapar akan meningkat.
9

Menurut teori ini, makan merupakan cara untuk memertahankan cadangan energi secara adekwat melalui berat badan. Tubuh akan memantau sinyal sel-sel lemak agar tetap konstan. Tatkala lemak tubuh terlalu rendah, seseorang akan makan. Sebaliknya, bila terlalu tinggi seseorang akan menghentikan makan. Hormon leptin juga turut dilibatkan dalam perilaku mencari makanan. Bila leptin gagal meregulasi lapar, maka seseorang akan mengalami obesitas. Hipotesis lipostatik menyebabkan munculnya teori berikutnya, yaitu set-point theory.
10

TEORI SET-POINT
Menurut teori set-point, setiap orang memiliki preset body weight yang merupakan faktor penentu secara biologis. Set point terbentuk saat lahir atau satu tahun pertama kehidupan, yang didasarkan pada sel-sel lemak tubuh. Jumlah sel-sel lemak ini dapat bertambah (bukan berkurang) di sepanjang rentang kehidupan. Orang yang memiliki sel-sel lemak lebih banyak, cenderung memiliki berat badan lebih berat. Ukuran sel-sel lemak akan bervariasi mengikuti berat badan. Bila seseorang makan sedikit, maka ukuran sel-sel lemaknya akan mengerut. Bila seseorang makan banyak, ukuran sel-sel lemak akan bertambah. Seseorang akan merasa penuh.
11

Teori set-point memerediksi bahwa sangat sulit bagi seseorang untuk kehilangan berat badan karena (pada dasarnya) tubuh memiliki kecenderungan untuk kembali menuju set-point, dengan ukuran sel-sel lemak yang normal. Bila seseorang melakukan diet, tubuh akan memberikan respon seperti sedang lapar berkepanjangan. Semakin sedikit seseorang makan, maka semakin besar tubuh bekerja untuk membantu mengatasi keadaan lapar itu. Makan berlebihan selama beberapa waktu, akan meningkatkan set-point. Statistik menunjukkan, lebih dari 90% dieters akhirnya kembali ke berat badan semula. Diet dengan mengombinasikan olah raga dan rendah lemak, diet rendah kalori akan lebih efektif menurunkan berat badan dibandingkan diet saja.
12

Tiga teori regulasi lapar

Teori

Penjelasan menentukan kebutuhan akan makanan.

Glucostatic hypothesis VMH dan LH memantau level glukosa dalam darah untuk
Lipostatic hypothesis Set-point theory
VMH dan LH memantau level lemak (lipids) dalam darah untuk menentukan kebutuhan akan makanan. Setiap orang memiliki preset body weight, ditentukan oleh jumlah sel-sel lemak dalam tubuh. Sel-sel lemak akan melebar bila berat badan bertambah dan mengerut bila berat badan berkurang. Ketika seseorang mencoba mengurangi berat badan, sulit kiranya untuk lebih rendah dari set-point; tubuh manusia memaknakan diet sebagai kelaparan dan meresponnya dengan cara menyimpan makanan sebanyak mungkin. Bila berat badan bertambah terus, set-point akan meningkat. 13

Faktor-faktor Psikologis dalam Lapar


Meskipun lapar secara nyata merupakan motif biologis, namun faktor-faktor psikologis turut terlibat dalam regulasi makanan yang masuk ke dalam tubuh. Melalui maturation dan belajar, individu bergerak dari bayi yang (hanya) minum susu menuju orang dewasa dengan makanan tertentu yang disukai. Lahir dan besar di budaya tertentu, akan menentukan jenis makanan yang disukai. Misalnya, lahir dan besar di budaya barat, akan menyukai roti gandum. Lahir dan besar di pulau Jawa (Indonesia) akan menyukai nasi. Faktor emosi juga berperan dalam perilaku makan. Seseorang yang sedang anxious akan makan lebih banyak dibanding porsi biasanya; orang depresi akan kehilangan nafsu makan selama beberapa waktu.
14

Faktor psikologis yang paling bermasalah bagi seseorang yang bermaksud mengendalikan perilaku makan, adalah incentives. Bagaimana perilaku makan seseorang ketika datang ke subuah pesta dengan pelbagai pilihan makanan yang tersaji dan mengundang selera? Betulkah hanya mencoba satu macam makanan? Incentives merupakan isyarat eksternal yang (akan) mengaktifasi motif. Mencium aroma kue dari tempat pembakaran, tercium aroma makanan dari food court, melihat tampilan kue kesemuanya akan menggugah rasa lapar.
15

Melihat makanan yang mengundang selera akan mengakibatkan saraf-saraf di hipotalamus tergugah, khususnya bila itu makanan kesukaan, dan mencium aroma makanan akan memicu insulin yang kemudian menstimulasi rasa lapar karena kadar gula darah menurun. Penelitian laboratorium pada binatang percobaan menunjukkan bahwa melihat incentive merupakan kekuatan besar yang akan meningkatkan berat badan di atas set point.

16

Kebanyakan orang termotivasi untuk menurunkan berat badan namun (kemudian) gagal. Faktor apa yang menyebabkan seseorang berhasil atau gagal menurunkan berat badan? Seseorang dikatakan obese bila kelebihan berat badan sebesar 20%. Body mass index (BMI) adalah ukuran kadar lemak tubuh yang didasarkan pada tinggi dan berat badan. Seseorang dikatakan: 1. Underweight bila BMI <18.5 2. Normal bila BMI berkisar 18.5 24.9 3. Overweight bila BMI antara 25 29.9 4. Obese bila BMI >30.
17

Diet seringkali gagal karena lebih mudah terpengaruh rasa lapar. Ketika menghadapi kecemasan, depresi, stres, atau faktorfaktor lainnya maka dieters akan menghentikan pembatasan makanan. Media images juga memengaruhi pola makan. Media seringkali mempublikasikan ukuran tubuh ideal, sehingga banyak orang berfantasi ingin memiliki tubuh yang kurus. Naik-turunnya berat badan, sangat membahayakan kesehatan. Artinya, bila seseorang berada dalam siklus losing and regaining weight secara konstan, hal ini berbahaya bagi kesehatan. Faktor lain yang memengaruhi obesitas adalah kecenderungan seseorang untuk makan banyak bila disajikan aneka makanan.

18

Beberapa Psikolog Budaya menekankan faktor-faktor eksternal dalam menjelaskan luasnya perbedaan individual dalam hal berat badan. Perbedaan-perbedaan itu dapat diamati antar budaya dan waktu. Di Samoa, Fiji, Tonga, dan daerah-daerah lain di kawasan kepulauan Pasifik, merupakan fenomena umum bila laki-laki dan perempuan memiliki berat badan >150 kg. Sebaliknya di Jepang, hanya para olahragawan Sumo yang berbadan besar. Fungsi waktu, juga turut menentukan hal ini. Ada kurun waktu tertentu dalam sejarah yang memopulerkan tubuh kurus atau sebaliknya.
19

Kelebihan berat badan bisa menjadi masalah bagi sebagian orang. Tetapi beberapa diantaranya chronically underweight, bisa karena me-metabolis makanan sangat cepat dan adanya inefisiensi ATAU karena memiliki ketidakseimbangan hormonal. Orang-orang tersebut alih-alih termotivasi makan untuk hidup, malah justru termotivasi menolak makan dan karenanya beresiko sakit atau bahkan mati. Gejalanya muncul di usia 11-15 tahun, dan 43% diantaranya muncul pada usia 16-20 tahun. Dari orang-orang yang menderita kelainan di atas, 65% diantaranya pulih secara utuh setelah melalui treatment.

20

Sejumlah kecil underweight people menderita anorexia nervosa., yaitu kelainan makan hingga titik kelaparan karena secara ekstrim memiliki distorsi keyakinan bahwa dirinya overweight. Seseorang akan didiagnose anorexic bila berat badannya berkurang hingga 85% dari berat badannya yang normal. Umumnya terjadi pada perempuan, dan sekitar 10 hingga 25% berakhir dengan kematian. Tidak diketahui secara pasti penyebab kelainan makan ini, tetapi diduga berakar dari hubungan keluarga yang disfungsional. Treatment nya bisa menggunakan obat-obatan. Psikoterapi, bahkan hospitalisasi.
21

Sebaliknya, bulimia ditandai oleh makan banyak yang kemudian diikuti dengan dimuntahkannya kembali atau dibersihkan, dengan menggunakan obat pencahar. Kelainan ini terutama dijumpai pada remaja dan dewasa muda, lebih banyak perempuan. Seperti halnya anorexia, bulimia dapat diatasi melalui psikoterapi dan terapi obat-obatan.

22