Anda di halaman 1dari 24

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sejak akhir Perang Dunia II hingga dewasa ini, penelitian epidemiologi telah banyak dilakukan oleh para ahli, terutama di Negara-negara maju. Di Amerika Serikat, berbagai hasil penelitian epidemiologi telah banyak dimanfaatkan dalam usaha meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di negara ini, demikian pula halnya pada negara-negara maju lainnya. Walaupun perkembangan disiplin ilmu epidemiologi tampaknya berjalan agak lambat, tetapi pada saat ini telah banyak digunakan dalam berbagai disiplin ilmu kesehatan serta yang erat hubungannya dengan bidang kesehatan secara umum. Dewasa ini epidemiologi sebagai salah satu disiplin ilmu yang relatif masih baru walaupun telah digunakan secara luas, tetapi masih diliputi oleh berbagai selisih pendapat maupun perbedaan pengertian yang bukan saja dalam hal definisi epidemiologi secara umum, tetapi juga dalam hal pengertian terhadap berbagai istilah dan pengukuran. Penggunaan rate atau ratio yang masih sering salah serta kesepakatan tentang arti angka insidensi ( incidence rate) masih sering muncul di permukaan. Berbagai konsep dalam penelitian epidemilogi harus lebih dimantapkan terutama dalam penelitian hubungan sebab akibat yang merupakan inti penelitian epidemiologi. Epidemiologi telah banyak mengalami perubahan sejak awal penggunaannya secara tradisional, baik yang bersifat perubahan filosofis maupun perubahan dalam teknis penggunaannya. Namun demikian, dengan kemajuan ilmu dan teknologi sekarang ini, telah banyak mendorong para ahli epidemiologi untuk mengembangkan diri dan sekaligus berusaha mengembangkan disiplin ilmu epidemiologi agar dapat sejajar dengan berbagai ilmu dasar lainnya.

18

1.2 Masalah
Adapun masalah-masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah: Definisi epidemiologi Faktor dan ineraksi multifakor yang menyebabkan penyakit gigi dan mulut (HAE) Indeks derajat kesehatan gigi dan mulut, metode pengukuran, dan jenis pengukuran. Rancangan untuk penelitian epidemiologi Penanggulangan, pencegahan, kontrol penyakit masalah kesehatan gigi dan mulut di masyarakat.

1.3 Tujuan
Pembuatan makalah ini bertujuan: Untuk mengetahui definisi dari epidemiologi Untuk mengetahui faktor dan ineraksi multifakor yang menyebabkan penyakit gigi dan mulut (HAE) Untuk mengetahui indeks derajat kesehatan gigi dan mulut, metode pengukuran, dan jenis pengukuran. Untuk mengetahui rancangan untuk penelitian epidemiologi

18

Untuk mengetahui penanggulangan, pencegahan, kontrol penyakit masalah kesehatan gigi dan mulut di masyarakat.

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Epidemiologi

2.1.1 Definisi Istilah epidemiologi berasal dari bahasa yunani, yaitu: epi yang berarti atas, demos yang berarti rakyat atau penduduk dan logos yang berarti ilmu, sehingga epidemiologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang hal-hal yang terjadi atau menimpa penduduk. Epidemiologi ini tidak terbatas hanya mempelajari tentang epidemi (wabah) saja

18

tetapi epidemiologi juga dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang penyebaran penyakit pada manusia di dalam konteks lingkungannya, mencakup juga studi tentang polapola penyakit serta pencarian determinan-determinan penyakit tersebut.1 Pengertian lainnya, epidemiologi merupakan suatu cabang ilmu kesehatan untuk menganalisis sifat dan penyebaran berbagai masalah kesehatan dalam suatu penduduk tertentu serta mempelajari sebab timbulnya masalah serta gangguan kesehatan tersebut untuk tujuan pencegahan maupun penanggulangan. Epidemiologi merupakan filosofis dasar disiplin ilmu-ilmu kesehatan termasuk kedokteran, yakni suatu proses login untuk menganalisis serta memahami hubungan interaksi antara proses fisik, biologis, dan fenomena sosial yang berhubungan erat dengan derajat kesehatan, kejadian penyakit maupun gangguan kesehatan lainnya.2 Selain itu, ada beberapa definisi lainnya menurut para ahli antara lain: 1. Hirsch (1883); epidemiologi adalah suatu gambaran kejadian, penyebaran dari jenis-jenis penyakit pada manusia pada saat tertentu di berbagai tempat di bumi dan mengkaitkan dengan kondisi eksternal. 2. Greenwood (1934); epidemiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang penyakit dan segala macam kejadian yang mengenai kelompok (herd) penduduk. 3. Moris (1964); epidemiologi adalah suatu pengetahuan tentang sehat dan sakit dari suatu penduduk. 4. Brian Mac Mahon (1970); epidemiologi adalah studi tentang penyebaran dan penyebab frekuensi penyakit pada manusia dan mengapa terjadi distribusi semacam itu. 5. Wade Hampton Frost (1972); epidemiologi sebagai suatu pengetahuan tentang fenomena massal (Mass Phenomen) penyakit infeksi atau sebagai riwayat alamiah ( Natural History) penyakit menular. 6. Abdel R. Omran (1974); epidemiologi adalah suatu penyakit mengenai terjadinya suatu penyakit dan distribusi keadaan kesehatan, panyakit dan perubahan pada penduduk, begitu juga determinannya serta akibat-akibat yang terjadi pada kelompok penduduk.

18

7. Lilienfeld (1977); epidemiologi adalah suatu metode pemikiran tentang penyakit yang berkaitan dengan penilaian biologis dan berasal dari pengamatan suatu tingkat kesehatan populasi. 8. Anders Ahlbom & Staffan Norel (1989); epidemiologi adalah ilmu pengetahuan mengenai terjadinya penyakit pada manusia. 9. Robert H. Fletcher (1991); epidemiologi adalah disiplin riset yang membahas tentang distribusi dan determinan penyakit dalam populasi. 10. Last (1988); epidemiologi adalah ilmu tentang distribusi dan determinan-dterminan dari keadaan atau kejadian yang berhubungan dengan kesehatan di dalam populasi tertentu, serta penerapannya untuk mengendalikan masalah-masalah kesehatan.3

Dari berbagai definisi atau pengertian yang telah dikemukakan para ahli epidemiologi yang pada dasarnya memiliki persamaan pengertian yakni epidemiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari, menganalisis, serta berusaha memecahkan berbagai masalah kesehatan maupun masalah yang erat hubungannya dengan kesehatan pada suatu kelompok penduduk tertentu.

18

2.1.2 Faktor- faktor dan interaksi multifaktor yang menyebabkan penyakit gimul

Segitiga epidemiologi ini sangat umum digunakan oleh para ahli dalam menjelaskan konsep berbagai permasalahan kesehatan termasuk salah satunya adalah terjadinya penyakit terjadinya suatu penyakit sangat tergantung dari keseimbangan dan interaksi ketiganya.

Segitiga epidemiologi yang saling terkait satu sama lain:

1. Host (penjamu) Keadaan manusia yang sedemikian rupa sehingga menjadi faktor resiko untuk terjadinya suatu penyakit. Faktor penjamu yang biasanya menjadi faktor untuk timbulnya suatu penyakit sebagai berikut:

18

Umur Jenis kelamin Ras, suku (etnik) ras kulit putih dengan ras kulit hitam yang berbeda kerentanan terhadap suatu penyakit.

Genetik Status kesehatan umum termasuk status gizi. Bentuk anatomis tubuh. Fungsi fisiologis Keadaan imunitas dan respon imun Kemampuan interaksi antara host dan agent Penyakit yang diderita sebelumnya. Kebiasaan hidup dan kehidupan sosial dari host sendiri.

Karakteristik host manusia mempunyai karakteristik tersendiri dalam menghadapi ancaman penyakit yang bisa berupa: Resistensi: kemampuan dari host untuk bertahan terhadap suatu infeksi. Terhadap suatu infeksi kuman terentu maka manusia mungkin mempunyai mekanisme pertahanan tersendiri dalam menghadapinya. Imunitas: kesanggupan host untuk mengembangkan suatu respon imunologis dapat secara alamiah maupun diperoleh sehingga tubuh kebal terhadap suatu penyakit tertentu. Infektioness: potensi host yang terinfeksi untuk menularkan penyakit kepada orang lain. Pada keadaan sakit maupun sehat, kuman yang berada dalam tubuh seseorang berpindah pada orang lain disekitarnya.

18

2. Agent Disebabkan oleh berbagai unsur seperti unsur biologis yang oleh mikroorganisme (virus, bakteri, jamur, parasit, protozoa, metazoa, dll), unsur nutrisi karna bahan makanan yang tidak memenuhi standar gizi yang ditentukan, unsur kimiawi yang disebabkan karna bahan dari luar tubuh maupun dari dalam tubuh sendiri(karbon monoksid, obat-obatan, arsen, pestisida) unsur fisika yang disebabkan oleh panas, benturan, dll. Karakteristik agent Infektivitas: kesanggupan dari organisme untuk beradaptasi sendiri terhadap lingkungan dari host untuk mampu tinggal dan berkembang biak dalam jaringan host. Patogenesis: kesanggupan untuk organisme untuk menimbulkan suatu reaksi klinis khusus yang patologis setelah terjadinya infeksi pada host yang diserang. Virulensi: kesanggupan untuk organisme tertentu menghasilkan reaksi patologis berat yang mungkin hingga menyebabkan kematian. Virulensi kuman menunjukkan beratnya penyakit. Tosisitas: kesanggupan organisme untuk memproduksi reaksi kimia yang toksin oleh substansi kimia yang dibuatnya. Invasitas: kesanggupan organisme untuk merangsang reaksi imunologi dalam host. Antigensitas: kesanggupan organisme untuk merangsang reaksi imunologi dalam host. Beberapa organisme mempunyai antigenisitas lebih kuat dibanding yang lain. Jika menyerang pada aliran darah akan lebih merangsang imunorespone dari pada yang menyerang permukaan membran. .

18

3. Environment( lingkungan) Faktor lingkungan adalah faktor ketiga sebagai penunjang terjadinya penyakit, faktor datangnya dari luar. Faktor lingkungan ini dibagi menjadi: Lingkungan biologis Lingkungan fisik Lingkungan sosial ekonomi.

Ineraksi multifaktor Segitiga epidemiologi disebut juga dengan ecological atau epidemiologi triads. Menurut John Gordon, model ini menggambarkan interaksi tiga komponen penyebab penyakit yaitu: 1. Manusia (host) 2. Penyebab (agent) 3. Lingkungan (environment)

Penyakit dapat terjadi karna adanya ketidakseimbangan antara ketiga komponen tersebut. Model ini dikenal dengan model triangel epidemiologi atau trial epidemiologi dan cocok untuk menerangkan penyebab penyakit infeksi. Sebab peran agent (yaitu mikroba) mudah diisolasikan dengan jelas dari lingkungannya.2

18

Jika E natural kemudian virulen dari EA sebagian dinetralkan oleh ketahan tubuh H simbiosis (subclinical disease).

Jika resistensi H>E selalu menguntungkan H dan kemudian H mengalahkan EA (etiological agent) dan menang H good health.

Jika virulensia EA sangat tinggi, ketahanan H sangat rendah dan E sangat menguntungkan EA death of host.

18

Jika E hanya sedikit menguntungkan H dan EA kurang virulen serta ketahanan H sedang chronic disease.

Jika EA lebih virulen dan host lemah E menguntungkan EA maka EA mengatakan H acute disease.

2.1.3 Indeks derajat kesehatan gigi dan mulut, metode pengukuran, dan jenis pengukurannya. 1. Indeks OHI-S Untuk mengukur kebersihan gigi dan mulut dapat digunakan OH simplified dari green dan vermillion (OHIS). OHIS = debris indeks + dengan kalkulus indeks = DI + CI

18

a. Penilaian debris indeks Debris indeks = jumlah penilaian debris Jumlah gigi yang diperiksa b. Penilaian kalkulus indeks Kalkulus indeks = jumlah penilaian kalkulus Jumlah gigi yang diperiksa Status OHIS: Baik Sedang Buruk = 0 1,1 = 1,2 3 = >3

2. Indeks CPITN (ccomunnity periodontal indeks for treatments needs)

Dipergunakan untuk mendapatkan gambaran tingkat kondisi jaringan periodontal. Penilain CPITN mengharuskan menggunakkan probe periodontal. Gigi geligi kemudian dibagi kedalam 6 sexton: 1. Sexton 1 = gigi 4,5,6,7 kanan RA 2. Sexton 2 = gigi 1,2,3 kanan kiri RA 3. Sexton 3 = gigi 4,5,6,7 kiri RA 4. Sexton 4 = gigi 4,5,6,7 kanan RB 5. Sexton 5 = gigi 1,2,3 kanan kiri RB 6. Sexton 6 = gigi 4,5,6,7 kiri RB

18

Cara pengukuran CPITN: Pengkuran dilakukan tanpa menimbulkan rasa sakit. Tekanan yang diberikan tidak boleh lebih dari 20 gram. Probe dimasukkan kedalam saku gusi kemudian gigi indeks , kemudian mengikuti konfigurasi anatomidan pemukaan akar gigi dari arah distal ke mesial dengan cara menarik turunkkan probe. Cara perhitungan CPITN: a. Mengetahui tingkat keparahan jaringan periodontal Jumlah orang dengan skor tertinggi Jumlah orang yang diperiksa

b. Mengetahui luasnya masalah Rata-rata sexton yang tidak terkena penyakit periodontal Jumlah orang dengan skor tertinggi Jumlah orang yang diperiksa Rata-rata sexton dengan skor berdarah Jumlah orang denga skor tertinggi 1,2,3,4 Jumlah orang yang diperiksa Rata-rata sexton dengan skor karang gigig Jumlah orang dengan skor tertinggi 1,2,3,4 Jumlah orang yang diperiksa Rata-rata sexton dengan poket dangkal atau lebih tinggi

18

Jumlah orang dengan skor tertinggi 3,4 Jumlah orang yang diperiksa Rata-rata sexton dengan skor poket dalam Jumlah orang dengan skor tertinggi 4 Jumlah orang yang diperiksa

c. Mengetahui kebutuhan perawatan Persentase orang yang membtuhkan instruksi kebersihan dan prevalensi penyakit periodontal. Jumlah orang dengan skor tertinggi (1+2+3+4) x 100 % Jumlah orang yang diperiksa

Kriteria perawatan:

Kode 0 1 2 dan 3 4 perawatan

kebutuhan perawatan - tidak membutuhkan - memerlukan perbaikkan OH - perbaikkan OH dan skelling profesional - perbaikkan OH dan skelling professional serta komphrensif

18

Ukuran dalam epidemiologi: a. Prevalensi Frekuensi suatu penyakit pada suatu jangka waktu tertentu dikelompok masyarakat tertentu. b. Insidensi Frekuensi timbulnya penyakit-penyakit baru selama satu jangka waktu tertentu pada kelompok masyarakat tertentu.2

2.1.4

rancangan untuk penelitian epidemiologi

Di sini ada 3 pendekatan yang digunakan dalam epidemiologi, antara lain: 1. Epidemiologi Deskriptif Pendekatan ini dapat memberikan gambaran tentang adanya masalah dalam populasi tertentu dengan membandingkan populasi tersebut terhadap populasi lainnya, atau dengan populasi yang sama pada waktu yang berbeda. Pendekatan ini banyak digunakan dalam mencari keterangan tentang keadaan derajat kesehatan maupun masalah kesehatan dalam suatu populasi tertentu pada waktu dan tempat yang tertentu pula. Di samping itu epidemiologi deskriptif dapat pula memberikan gambaran tentang faktor yang mempengaruhi timbulnya penyakit atau gangguan kesehatan pada suatu populasi tertentu dengan menggunakan analisis data epidemiologi serta data informasi lain yang bersumber dari berbagai disiplin seperti data genetika, biokimia, lingkungan hidup, mikrobiologi, sosial ekonomi, dan sumber keterangan lainnya. Variabel-variabel epidemiologi terdiri dari: Orang (Person) Di sini akan dijelaskan peranan umur, jenis kelamin, kelas sosial, pekerjaan, golongan etnik, status perkawinan, besarnya keluarga, struktur keluarga dan paritas.

18

a) Umur Umur adalah variabel yang selalu diperhatikan dalam penyelidikan-penyelidikan epidemiologi. Angka-angka kesakitan maupun kematian hampir semua keadaan menunjukkan hubungan dengan umur. Dengan cara ini orang dapat membacanya dengan mudah dan melihat pola kesakitan menurut golongan umur. b) Jenis Kelamin Di luar negeri menunjukkan bahwa angka kesakitan lebih tinggi di kalangan wanita sedangkan angka kematian lebih tinggi di kalangan pria. Perbedaan angka kematian disebabkan oleh faktor-faktor intrinsik: faktor keturunan yang terkait dengan jenis kelamin atau perbedaan hormonal karena berperannya faktor-faktor lingkungan, mis: lebih banyak pria menghisap rokok, minum-minuman keras, bekerja keras, berhadapan dengan pekerjaanpekerjaan berbahaya, lebih suka pada hal-hal yang menantang atau yang beresiko tinggi, dst. Perbedaan angka kesakitan yang lebih tinggi di kalangan wanita, di Amerika Serikat dihubungkan dengan kemungkinan bahwa wanita lebih bebas untuk mencari perawatan. c) Kelas Sosial Kelas sosial adalah variabel yang sering pula dilihat hubungannya dengan angka kesakitan atau kematian, variabel ini menggambarkan tingkat kehidupan seseorang. Kelas sosial ini ditentukan oleh pendidikan, pekerjaan, penghasilan, juga tempat tinggal. Hal-hal tersebut dapat mempengaruhi bagaimana pemeliharaan kesehatan seseorang. d) Jenis Pekerjaan Jenis pekerjaan dapat berperan dalam timbulnya penyakit melalui beberapa jalan, yakni: Adanya faktor-faktor lingkungan yang langsung dapat menimbulkan kesakitan seperti bahan-bahan kimia, gas-gas beracun, radiasi, dsb.

18

Situasi pekerjaan yang penuh dengan stess (yang telah dikenal sebagai faktor yang berperan pada timbulnya hypertensi, ulcus lambung).

Ada tidaknya gerak badan di dalam pekerjaan; di AS ditunjukkan bahwa penyakit jantung koroner sering ditemukan di kalangan mereka yang mempunyai pekerjaan di mana kurang adanya gerak badan.

Karena berkerumun dalam satu tempat yang relatif sempit, maka dapat terjadi proses penularan penyakit antara para pekerja.

Penyakit karena cacing tambang telah lama diketahui terkait dengan pekerjaan di tambang.

e) Penghasilan Yang sering kita nilai adalah menilai hubungan antara tingkat penghasilan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan maupun pencegahan. Seseorang kurang memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada mungkin oleh karena tidak mempunyai cukup uang untuk membeli obat, membayar transport, dsb.1 f) Golongan Etnik Golongan etnik meliputi kelompok homogen berdasarkan kebiasaan hidup maupun homogenitas biologis/genetik. Ras; ada penyakit yang tampak karena perbedaan ras tetapi lebih dipengaruhi oleh lingkungan dan kebiasaan hidup, mis: perbedaan insidensi penyakit pada ras Cina dengan Indonesia asli. Agama; adanya perbedaan makanan yang terlarang (trichinosis) Hubungan garis keturunan dan antarkeluarga; adanya penyakit dengan garis keturunan yang jelas seperti gondok, diabetes, asma yang dipengaruhi gaya hidup, genetik atau sosial. Adanya penyakit menular yang berpusat pada rumah tangga seperti tuberkulosis, scabies, dll.2 g) Status Perkawinan

18

Diduga bahwa sebab-sebab angka kematian lebih tinggi pada yang tidak kawin dibandingkan dengan yang kawin ialah karena ada kecenderungan orang-orang yang tidak kawin kurang sehat. Kecenderungan bagi orang-orang yang tidak kawin lebih sering berhadapan dengan penyakit, atau karena adanya perbedaan-perbedaan dalam gaya hidup yang berhubungan secara klausal dengan penyebab penyakit-penyakit tertentu. h) Besarnya Keluarga Di dalam keluarga besar dan miskin, anak-anak dapat menderita oleh karena penghasilan keluarga harus digunakan oleh banyak orang. i) Struktur Keluarga Struktur keluarga dapat mempunyai pengaruh terhadap kesakitan (seperti penyakit menular dan gangguan gizi) dan pemanfaatan pelayanan kesehatan. Suatu keluarga yang besar karena persediaan harus digunakan untuk anggota keluarga yang besar maka mungkin pula tidak dapat membeli cukup makanan yang bergizi. j) Paritas Tingkat paritas telah menarik perhatian para peneliti dalam hubungan kesehatan si ibu maupun si anak. Kecenderungan ibu yang berparitas rendah lebih baik dari yang berparitas tinggi, terdapat asosiasi antara tingkat paritas dan penyakit-penyakit tertentu seperti asma bronchiale, ulkus peptikum, pilorik stenosis, dst.

Tempat (Place) Banyak penyakit yang berpengaruh pada tempat tertentu. Misalnya penyakit demam kuning, kebanyakan terdapat di Amerika Latin. Distribusinya disebabkan oleh adanya reservoir infeksi (manusia atau kera), vektor (Aedes aegypty), penduduk yang rentan dan keadaan iklim yang memungkinkan suburnya agen penyebab penyakit. Daerah di

18

mana vektor dan persyaratan iklim ditemukan, tetapi tak ada sumber infeksi, disebut receptive area untuk demam kuning. Contoh penyakit lainnya yang terbatas pada daerah tertentu atau yang frekuensinya tinggi pada daerah tertentu, misalnya Schistosomiasis di daerah di mana terdapat vektor snail atau keong (Lembah Nil, Jepang); gondok endemik ( endemic goiter) di daerah yang kekurangan zat yodium. Waktu (Time) Perubahan penyakit dalam masyarakat menurut waktu dapat dibedakan: 1) fluktuasi jangka pendek, di mana perubahan angka kesakitan berlangsung beberapa jam, hari, minggu, dan bulan. 2) perubahan-perubahan secara siklus di mana perubahanperubahan angka kesakitan terjadi secara berulang-ulang dengan antara beberapa hari, beberapa bulan (musiman), tahunan, beberapa tahun, dan 3) perubahan-perubahan angka kesakitan yang berlangsung dalam periode waktu yang panjang, bertahun-tahun atau berpuluhan tahun, yang disebut secular trends.

2. Epidemiologi Analitik Pendekatan ini dipergunakan untuk menguji data serta informasi-informasi yang diperoleh. Ada 2 studi tentang epidemiologi ini, antara lain: Studi riwayat kasus (case history studies); dalam studi ini akan dibandingkan antara dua kelompok orang, yakni kelompok yang terkena penyebab penyakit dengan kelompok orang yang tidak terkena penyakit. Studi kohort (kohortbstudies); dalam studi ini sekolompok orang dipaparkan pada suatu penyebab penyakit. Kemudian diambil sekelompok orang yang mempunyai ciri-ciri yang sama dengan kelompok pertama tetapi tidak dipaparkan atau tidak dikenakan pada penyebab penyakit. Kelompok kedua ini disebut kelompok kontrol. Kemudian dicari perbedaan antara kedua kelompok tersebut, bermakna atau tidak.

18

3. Epidemiologi Eksperimen Studi ini dilakukan dengan mengadakan eksperimen (percobaan) kepada kelompok subjek, kemidian dibandingkan dengan kelompok kontrol yang tidak dikenakan percobaan.1

2.1.5

Penanggulangan, pencegahan, kontrol penyakit masalah kesehatan gigi dan mulu di masyarakat.

1. Upaya peningkatan kesehatan gigi dan mulut (promotif)

18

Penyuluhan kesehatan gigi dan mulut. Misal: entang gigi berlubang, cara menggosok gigi, pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut. Pelatihan kader terpadu: melatih kader kesehatan setempat (guru, dokter kecil, dll) untuk mampu memberikan penyuluhan, deteksi dini terhadap kelainan gimul, pengobatan darurat sederhana, melakukan kegiatan rujukan.

2. Upaya pencegahan penyakit gigi dan mulut ( preventif) Tindakan mengotrol agar penyakit tidak terjadi: Kontrol diet: banyak makan buah Kontrol plak: menggosok gigi Memperkuat lapisan email gigidengan pemberian larutan fluor topikal Lakukan perawatan fissure sealant.

3. Kuratif Tindakan penyembuhan penyakit (kuratif) sesuai dengan kompetensi: Pengobatan darurat untuk menghilangkan rasa sakit (relief of pain) Penumpatan dengan ART (Atraumatic Restoratif Treatment).1

18

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan
.

18

DAFTAR PUSTAKA

1. Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Kesehatan Masyarakat: Ilmu dan Seni. Jakarta: PT. Rineka Cipta 2. Noor, Nasri Noor. 1997. Dasar Epidemiologi. Ujung Pandang: PT. Rineka Cipta 3. Beaglehole, R., dkk. 1997. Dasar-dasar Epidemiologi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press 4. http://elearning.gunadarma.ac.id/epidemiologi-kebidanan.html

18

5. http://suyatno.blog.undip.ac.id/ 6. http://www.depkes.go.id/ 7. http://arviant.web.ugm.ac.id/ 8. http://akademik.unsri.ac.id/journal/IKM/Epidmenular 9. http://infoanda.com/penyakit-pasca-banjir 10. http://organisasi.org/arti-definisi-pengertian-imunisasi-tujuan-manfaat-cara-dan-jenis-

imun isasi-pada-manusia
11. http://pppl.depkes.go.id/

12. Mn, Bustan. 2002. Pengantar Epidemiologi. Jakarta: PT. Rineka Cipta
13. Leavell, H.R and Clark, E.G. 1965. Preventive Medicine for the Doctor in his Community

3th Edition. New York: Mc Graw-Hill Inc

18