Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN TUTORIAL MODUL I BERPIKIR KRITIS DAN KETERAMPILAN PEMBELAJARAN

SKENARIO I: DOKTER SUKSES


1. Ferry Ramadhan 2. Maulida Fajar Uthary 3. Wahyu Agustyawan 4. Ayu Mahbengi 5. Andri 6. Devie Halita 7. Julisa Effendi Tbn 8. Kusuma Rezeky.R 9. Maria Ulfa 10. Rossi Paramita 11. Yuly Veranita 12. Yuni Novita Rahmi 13. Yuldy Afdianur 14. Saifuddin : Ketua : Sekretaris : Notulen : Anggota : Anggota : Anggota : Anggota : Anggota : Anggota : Anggota : Anggota : Anggota : Anggota : Anggota

TUTOR : Misra Hanum, S.Si, M.Kes

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ABULYATAMA

2008 HALAMAN PENGESAHAN LAPORAN TUTORIAL MODUL I FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ABULYATAMA
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Judul Skenario Modul Tutor Kelompok Ketua Sekretaris Notulen Anggota : : : : Dokter Sukses Berpikir Kritis dan Keterampilan Pembelajaran Misra Hanum, S.Si, M.Kes : : : : B3 Maulida Fajar Uthary Wahyu Agustyawan 1. Ayu Mahbengi Ferry Ramadhan

2. Andri 3. Devie Halita 4. Kusuma Rezeky 5. Julisa Effendi Tbn 6. Maria Ulfa 7. Rossi Paramita 8. Yuni Novita Rahmi 9. Yuldi Afdianur 10. Yuli Veranita 11. Saifuddin

Telah diperiksa oleh Tutor kelompok B3

Lampoh Keude, 29 Oktober 2008 Ketua kelompok B3

(Misra Hanum, S.Si, M.Kes)

(Ferry Ramadhan)

DAFTAR ISI
1. Halaman Pengesahan 2 2. Daftar Isi 3 3. Pendahuluan 4 4. Skenario 5. Tahap I. Identifikasi Istilah 6. Tahap II. Identifikasi Masalah 7. Tahap III. Analisis Masalah 8. Tahap IV. Strukturisasi 9. Tahap V. Learning Objective 10. Tahap VI. Hasil Belajar Mandiri ......................................................................12 11. Kesimpulan 12. Daftar Pustaka ..22 ..22 .. 5 .. 6 .. 7 .. 8 ..10 ..11 ...................................................................... ...................................................................... .....................................................................

PENDAHULUAN
Berdasarkan atas sistem pembelajaran yang baru dan menunutut keaktifan para mahasiswa, dibutuhkan suatu referensi yang jelas dan konkret mengenai sistem pembelajaran tersebut, yaitu menyangkut Problem Based Learning (PBL). Dengan sistem belajar mandiri seperti ini, mahasiswa dituntut untuk dapat berpikir secara kritis, dan membutuhkan berbagai sumber literatur sebagai pendukung, agar kelak menjadi pribadi yang lebih bijak dan komunikatif. Pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya untuk mengarahkan para mahasiswa ke dalam proses belajar sehingga mereka dapat memperoleh tujuan belajar sesuai dengan apa yang diharapkan. Karena itu pembelajaran hendaklah memperhatikan kondisi individu setiap mahasiswa sebab dalam PBL ini merekalah yang akan belajar. Akhirnya kami berharap makalah ini dapat berguna bagi kita semua selaku mahasiswa.

SKENARIO I

Dokter Sukses
Setelah tamat SMU, Krisdayanti diterima sebagai mahasiswa baru di Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama, dia ingin menjadi dokter yang kompeten dan profesional. Disana dia dihadapkan dengan cara belajar baru yang disebut dengan PBL, sesuai dengan cara belajar orang dewasa ( adult learning). Untuk mendukung pembelajarannya dia harus mampu memanfaatkan sumber-sumber literatur (learning resouscer) yang ada di FK Universitas Abulyatama maupun ditempat lain, karena ilmu kedokteran sangat berkembang dan dinamis.

Tahap I Identifikasi Istilah


Mahasiswa : Suatu tingkatan pendidikan yang didalamnya menuntut seseorang untuk bersikap dewasa dan berpikir kritis. Dokter : Seseorang yang memiliki pengetahuan dan ilmu dibidang kesehatan, serta telah diakui kemampuannya baik oleh pemerintah maupun oleh masyarakat. Kompeten : Pengakuan kepada seseorang yang telah mampu dalam memutuskan suatu hal dan masalah secara sigap. Profesional : Seseorang yang memiliki keahlian dalam suatu hal dan dapat menyikapi segala hal secara bijaksana. Problem Based Learning (PBL): Suatu sistem pembelajaran yang berbasis tutorial dalam kelompok kecil diskusi dengan pemberian suatu kasus sebagai patokan utama dan didalamnya menuntut keaktifan para peserta diskusi. Adult Learning (Pembelajaran secara dewasa) : Pembelajaran pribadi seseorang yang didalamnya perkembangan ideologi, biologis, attitude dan psikologis. menyangkut masalah

Learning Resouscer : Sumber-sumber ilmiah yang mendukung sistem pembelajaran secara PBL. Dinamis : Terus berkembang mengikuti perkembangan zaman.

Tahap II Identifikasi Masalah


Masalah inti Masalah tambahan : Problem Based Learning (PBL) : 1. Dokter 2. Adult Learning 3. Active Learning

Tahap III Analisis Masalah


Problem Based Learning (PBL) : Suatu sistem pembelajaran berbasis tutorial yang mana mahasiswa sebagai student center dan sistem pembelajarannya berdasarkan masalah. Tujuan PBL : Menciptakan mahasiswa yang memiliki kompetensi, aktif, komunikatif dan tidak bertindak secara individual. Keunggulan PBL : Mendorong mahasiswa lebih aktif, Membentuk pribadi mahasiswa yang komunikatif Mahasiswa yang tidak aktif dalam suatu kelompok diskusi akan terus tertinggal. Visi dan Misi : Menghasilkan dokter yang sukses, aktif, komunikatif, serta memiliki skill dan attitude yang baik. Perbedaan antara PBL dan Konvensional : PBL memakai sistem pembelajaran student center dan adult learning Tenaga pengajar disebut tutor dan berperan sebagai fasilitator. Konvensional memakai sistem pembelajaran teacher center, dimana hanya menggunakan text book sebagai sarana pendukung. Dokter : Seorang yang sebelumnya telah mendapat pendidikan dibidang kesehatan dan telah mendapat pengakuan baik dari pemerintah dan telah dapat mengaplikasikan segala ilmu dan pengetahuannya kepada masyarakat, namun tidak terlepas dari adab dan etika sebagai seorang dokter.

Kekurangan PBL :

Kriteria seorang dokter : Telah diakui kemampuannya oleh masyarakat, Dapat berkomunikasi dengan baik kepada pasien, Kompeten dan Profesional.

Apakah dokter sukses itu dapat dikatakan sebagai dokter yang kompeten dan profesional? Tentu saja, karena kompeten dan profesional merupakan salah satu kriteria dari dokter sukses. Tujuan Adult Learning : Membentuk pribadi yang mandiri dan sadar akan kewajiban sebagai orang dewasa. Active Learning : Sistem belajar yang didalamnya menuntut keaktifan dan perhatian penuh dari para mahasiswa. Tujuan Active Learning : Untuk mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimiliki mahasiswa, Agar tercapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang mereka miliki, Agar tercipta mahasiswa yang critical thinking.

Tahap IV Strukturisasi
Student Center

Problem Bassed Learning (PBL)

Adult Learning

Critical Thinking

Sumber-sumber Literatur

Active Learning

Dokter Kompeten dan Profesional

10

Tahap V Learning Objective


Mahasiswa dapat memahami: 1. 2. 3. 4. Dokter Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI) Peran seorang dokter Adult Learning Definisi Tujuan Active Learning Definisi Tujuan Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses active learning Problem Bassed Learning (PBL) Definisi Tujuan Keunggulan Kekurangan Perbedaan antara PBL dan Konvensional

11

Tahap VI Hasil Belajar Mandiri


A. Problem Bassed Learning (PBL) PBL pertama kali digunakan oleh fakultas kedokteran universitas McMaster, Kanada pada tahun 1969. di dalam PBL para pengajar tidak lagi berdiri di tengah sebagai expert (teacher center) yang siap memberi kuliah (transferring information). Fungsinya berubah menjadi fasilitator secara operasional sering disebut tutor, karena proses diskusi kelompok disebut tutorial.1 PBL didefinisikan sebagai metode pembelajaran dimana mahasiswa sejak awal dihadapkan pada suatu masalah, kemudian diikuti oleh pencarian informasi yang besifat student centered. A.1. Tujuan PBL Secara kognitif : Mengaktifkan prior knowledge, Menciptakan Encoding specificity : kedekatan dan kemiripan antara situasi belajar dan penerapannya di kemudian hari akan menghasilkan performance yang lebih baik, Mengelaborasi pengetahuan, berbagai khususnya subyek, dalam diskusi hanyut kelompok dengan yang merupakan pemprosesan aktif dari suatu informasi, Mengintegrasikan sehingga problem professional yang akan dihadapi kelak. Secara afektif :

12

dokter, -

Apa yang dipelajari berhubungan erat dengan statusnya sebagai calon Kuat memotivasi diri (intrinsik), yang umumnya menjadi masalah besar dalam sistem konvensional.

Secara Psikomotor : Melatih komunikasi interpersonal yang lebih baik, Meningkatkan kemampuan problem solving yang lebih baik, Dapat membiasakan belajar mandiri, hal ini penting dalam rangka belajar berkelanjutan (long life study). PBL yang sesungguhnya adalah memungkinkan mahasiswa untuk melakukan : Belajar mandiri secara aktif,, Berorientasi pada cara belajar orang dewasa (adult oriented), Berpusat pada problem (problem centered), Berpusat pada mahasiswa (student centered), Bersifat kerja sama (collaborative), Integrasi-interdisiplin dari berbagai cabang ilmu (integrated-interdisciplinary), Terdiri dari kelompok-kelompok kecil 5-10 mahasiswa (small groups), Dilaksanakan dalam konteks klinik (clinical context), Mahasiswa menentukan arah belajarnya sendiri.1

A.2. Kelebihan dan kekurangan system (Problem Based Learning) PBL Kelebihan : Student centered PBL mendorong active learning, memperbaiki pemahaman, retensi, dan pengembangan lifelong learning skills. Generic competencies PBL memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk mengembangkan generic skills dan attitudes yang diperlukan dalam praktiknya di kemudian hari. Integration PBL memberi fasilitasi tersusunnya integrated core curriculum. Motivation PBL cukup menyenangkan bagi mahasiswa dan tutor, dan prosesnya motivasi. membutuhkan partisipasi seluruh mahasiswa dalam proses pembelajaran, lingkungan belajar memberi stimulasi untuk meningkatkan

13

Deep Learning PBL mendorong pembelajaran yang lebih mendalam, mahasiswa berinteraksi dengan materi belajar, menghubungkan konsep-konsep dengan aktifitas keseharian, dan meningkatkan pemahaman mereka.

Constructivist approach mahasiswa mengaktifkan prior knowledge dan mengembangkannya pada kerangka pengetahuan konseptual yang sedang dihadapi.

Meningkatkan kolaborasi antara berbagai disiplin (di pendidikan kedokteran : ilmu-ilmu kedokteran dasar dan klinik). Relevansi relevansi relevan bagi mahasiswa. kurikulum difasilitasi oleh struktur pembelajaran mahasiswa yang berdasarkan masalah. PBL meniadakan content yang tidak

PBL mengurangi beban kurikulum yang berlebihan bagi mahasiswa. Tutors who cant teach tutor hanya menyenangi disiplin ilmunya sendiri, sehingga tutor mengalami kesulitan dalam melakukan tugas sebagai fasilit.tor dan akhirnya mengalami frustasi.

Kekurangan :

Human resources jumlah pengajar yang diperlukan dalam proses tutorial lebih banyak dari pada system konvensional. Other resources banyak mahasiswa yang ingin mengakses perpustakaan dan komputer dalam waktu bersamaan. Role models mahasiswa dapat terbawa kedalam situasi konvensional dimana tutor berubah fungsi menjadi pemberi kuliah sebagaimana di kelas yang lebih besar.

Information overload mahasiswa dapat mengalami kegamangan sampai seberapa jauh mereka harus melakukan self directed study dan informasi apa saja yang relevan dan bermanfaat.1

A.3. Perbedaan antara system PBL dengan Konvensional Tabel 1. Perbedaan system PBL dengan Konvensional1 Konvensional PBL Instruktur / pengajar (faculty member) Instruktur / pengajar (faculty member) berperan sebagai expert atau otoritas berperan sebagai fasilitator, pemandu, formal co-learner, mentor, coach, atau

14

Pengajar bekerja dalam situasi teritolasi. Pengajar displin. memberi ) kuliah (transmit

konsultan professional. Pengajar bekerja bersama dalam tim dengan anggota dari luar disiplinnya Mahasiswa bertanggung jawab atas dan menciptakan dan kemitraan antara mahasiswa

information

berdasarkan

kontes pembelajarannya

pengajar. Pengajar bekerja secara individual di Sekelompok dalam disiplinya.

pengajar

merancang

pembelajaran berdasar masalah yang bersifat ill-structured untuk mahasiswa, dan memiliki konsep yang mendorong mahasiswa untuk memperoleh ilmu / informasi baru. Pengajar menekankan motivasi dengan cara memberi masalah yang nyata dan memahami masalah yang ada pada

mahasiswa Pengajar bekerja secara individual di .Struktur fakultas bersifat suportif dan dalam disiplinnya. fleksibel. Pengajar terlibat dalam perubahan perspektif instruksional dan evaluasi melalui instrument evaluasi yang baru dan peer review.
Mahasiswa dianggap sebagai tong kosong atau penerima informasi yang pasif . Mahasiswa bekerja dalam situasi terisolasi. Pengajar mengambil mendorong inisiatif mahasiswa untuk membangkitkan dengan fakultas

semangat belajar. Mahasiswa berinteraksi

untuk saling memperoleh umpan balik tentang kinerja guna perbaikan. Mahasiswa menyerap, menyalin, mengingat, Mahasiswa belajar secara aktif dan mandiri dan mengulangi informasi untuk tugas berdasar masalah yang telah disiapkan oleh khusus, misalnya ujian. Belajar adalah kegiatan individualistic dan kompetitif. fakultas, tanpa memperhatikan atau mengingat adanya ujian atau tidak. Mahasiswa belajar dalam suasana kolaborati dan suportif

15

Mahasiswa mencari jawaban yang benar untuk mencapai hasil yang bagus dalam ujian / test.

Fakultas tidak menganjurkan adanya suatu jawaban yang benar, tetapi untuk dan membantu merangkai masalah, membuat mahasiswa pertanyaan, mengeksplorasi belajar

menyusun alternatif,

keputusan yang efektif Kinerja diukur berdasarkan content specific tasks Mahasiswa mengidentifikasi, menganalisis, dan memecahkan prior masalah knowledge dan dengan dan bukan menggunakan pengalaman Penilaiabn bersipat sumatif, dan

sebelumnya,

berdasarkan recall. Mahasiswa mengevaluasi kontribusi masingmasing eserta kawan kawannya dalam kelompok. Mahasiswa bekerja dalam kelompok untuk memecahkan masalah, mereka mencari dan mengaplikasikan berbagai mahasiswa konteks, mencari pengetahuan mahasiswa dalam mencari yang

evaluatornya hanyalah instruktur / pengajar yang bersangkutan. Kuliah di berikan dengan cara komunikasi satu arah, informasi di berikan kepada sejumlah mahasiswa.

sumber belajar, dan fakultas memandu pengetahuan relevan dan bermanfaat untuk ketrampilan dan karier mereka di masa mendatang.

B. Dokter Dokter yang membaktikan hidupnya untuk perikemanusiaan tentulah akan selalu lebih mengutamakan kewajiban di atas hak-hak ataupun kepentingan pribadinya.dalam menjalankan tugas, bagi dokter berlaku Aegroti salus lex suprema, yang berati keselamatan pasien adalah hukum yang tertinggi (yang utama). Seorang dokter sangatlah mejunjung tinggi etika kedokteran. Etika kedokteran adalah pengetahuan tentang prilaku profesional dokter dalam menjalankan pekerjaannya sebagaimana yang telah tercantum dalam lafaznya yang telah di susun oleh organisasi profesinya bersama-sama pemerintah.2 B.1. Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI)

16

Defenisi kode etik Kode etik adalah seperangkat perilaku anggota profesi kedokteran dalam hubungan dengan pasien, teman sejawatnya,dan masyarakat umum.2 Dalam perhimpunan profesi Ikatan Dokter Indonesia (IDI), maupun secara fungsional terikat dalam organisasi pelayanan, pendidikan dan peneliti telah menerima Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI), adapun undang-undang yang mengatur kode etik dokter adalah: Pasal (1) : Setiap dokter harus menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan Sumpah Dokter. Pasal (2) : Seorang dokter harus senantiasa melakukan profesinya menurut ukuran yang tertinggi. Pasal (3) : Dalam melakukan pekerjaan dokternya seorang dokter tidak boleh di pengaruhi oleh pertimbangan keuntungan pribadi. Pasal (4) : Perbuatan berikut dipandang bertentangan dengan etik : a. Setiap perbuatan yang bersifat memuji diri sendiri. b. Secara sendiri atau bersama-sama menerapkan pengetahuannya dan keterampilan kedokteran dalam segala bentuk, tanpa kebebasan profesi. c. Menerima imbalan selain dari pada yang layak sesuai dengan jasanya, kecuali dengan keikhlasan, sepengetahuan dan atau kehendak penderita. Pasal (5) : Tiap perbuatan atau nasehat yang mungkin melemahkan daya tahan makhluk insani, baik jasmani maupun rohani, hanya diberikan untuk kepentingan penderita. Pasal (6) : Setiap dokter harus senantiasa berhati-hati dalam mengumumkan dan menerapka setiap penemuan teknik atau pengobatan baru yang belum diuji kebenarannya. Pasal (7) : Seorang dokter hanya memberi keterangan atau pendapat yang dapat dibuktikan kebenarannya. Pasal (8) : Dalam melakukan pekerjaannya, seorang dokter harus mengutamakan/ mendahulukan kepentingan masyarakat dan memperhatikan semua aspek pelayanan kesehatan yang menyeluruh (promotif, preventif, kuratif, dan

17

rehabilitatif), serta berusaha menjadi pendidik dan pengabdi masyarakat yang sebenarnya. Pasal (9) : Setiap dokter dalam bekerja sama dengan para pejabat dibidang kesehatan dan bidang lainnya serta masyarakat, harus memelihara saling pengertian sebaik-baiknya. Pasal (10) : Setiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup insani. Pasal (11) : Setiap dokter wajib bersikap tulus ikhlas dan mempergunakan segala ilmu dan keterampilannya untuk kepentingan penderita. Dalam ia tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan, maka ia wajib merujuk penderita kepada dokter lain yang mempunyai keahlian dalm bidang penyakit tersebut. Pasal (12) : Setiap dokter harus memberikan kesempatan kepada penderita agar senantiasa dapat berhubungan dengan keluarga dan penasehatnya dalam beribadat dan atau dalam masalah lainnya. Pasal (13) : Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang seorang penderita, bahkan juga setelah penderita itu meninggal dunia. Pasal (14) : Setiap dokter wajib melakukan pertolongan darurat sebagai suatu tugas perikemanusiaan, kecuali ia yakin ada orang lain yang bersedia dan lebih mampu memberikannya. Pasal (15) : Setiap dokter memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingin diperlakukan. Pasal (16) : Setiap dokter tidak boleh mengambil alih pasien dari teman sejawatnya, tanpa persetujuannya. Pasal (17) : Setiap dokter harus memelihara kesehatannya, supaya dapat bekerja dengan baik. Pasal (18) : Setiap dokter hendaknya senantiasa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan tetap setia kepada cita-citanya yang luhur. Pasal (19) : Setiap dokter harus berusaha dengan sungguh-sungguh menghayati dan mengamalkan KODEKI.2 B.2. Peran seorang Dokter B.3.1. Peranan dokter ketika melayani pasiennya.

18

Melaksanakan pelayanan dengan sebaik-baiknya. Membuat pasien merasa nyaman Ramah Menggunakan bahasa yang sopan Mendengarkan keluhan pasien dengan sungguh-sungguh. Mampu bersosialisasi Tidak sombong Memposisikan diri sebagai anggota masyarakat yang baik tanpa membanggakan diri.

B.3.2. Peranan dokter dalam lingkungan masyarakat.

B.3.3. Peranan dokter sesama teman sejawat. Saling menghargai.

C. ADULT LEARNING Proses pembelajaran pribadi seseorang yang luas serta kaya akan sumber belajar yang menyangkut masalah kedewasaan dan menyangkut masalah perkembangan ideologi, biologis, attitude, dan psikologis. Malcolm Knowles mengenalkan istilah andragogy yang diartikan sebagai the art and science of helping adult learning. Andragogy didasarkan atas 5 asumsi sebagai berikut : Orang dewasa adalah orang yang independent dan self directing. Mereka memiliki pengalaman yang sangat luas dan kaya dengan sumber belajar. Mereka menilai pembelajaran sebagai suatu hal yang terintegrasi dengan kebutuhan dan tuntutan kehidupan sehari-hari. Mereka lebih tertarik pada problem centered approach dari pada subject centered. Mereka lebih termotivasi untuk belajar melalui dorongan internal dari pada dorongan dari luar. D. ACTIVE LEARNING D.1. Latar belakang

19

Pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya untuk mengarahkan mahasiswa kedalam proses belajar sehingga mereka dapat memperoleh tujuan belajar sesuai dengan apa yang di harapkan. Oleh karena itu pembelajaran hendaknya memperhatikan perbedaan-perbedaan individual mahasiswa tersebut, sehingga pembelajaran benar-benar dapat merubah kondisi mahasiswa dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak paham menjadi paham serta yang berperilaku kurang baik menjadi baik. Gejala yang lain terlihat pada kenyataan banyaknya pengajar yang menggunakan metode pengajaran yang cenderung sama setiap kali pertemuan di kelas berlangsung.3 D.2. Pengertian Pembelajaran aktif ( active learning ) dimaksutkan untuk mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang di miliki oleh mahasiswa, sehingga semua mahasiswa dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang mereka miliki. Di samping itu pembelajaran aktif ( active learning ) juga dimaksudkan untuk menjaga perhatiaan mahasiswa agar tetap tertuju pada proses pembelajaran.3 Konfucius mengungkapkan : Apa yang saya dengar, saya lupa Apa yang saya lihat, saya ingat Apa yang saya lakukan, saya paham. Ketiga pernyataan ini menekankan pada pentingnya belajar aktif agar apa yang di pelajari tidak menjadi suatu hal yang sia-sia. Mel Silberman (2001) memodifikasi dan memperluas pernyataan Konfucius diatas menjadi apa yang disebutkannya dengan belajar aktif (active learning), yaitu : Apa yang saya dengar, saya lupa. Apa yang saya dengar dan lihat, saya ingat sedikit. Apa yang saya dengar, lihat dan tanyakan atau diskusikan dengan beberapa teman lain, saya mulai paham. Apa yang saya dengar, lihat, didiskusikan dan lakukan, saya memperoleh pengetahuan dan keterampilan. Apa yang saya ajarkan pada orang lain, saya kuasai.

20

Ada beberapa alasan yang dikemukakan mengenai penyebab mengapa kebanyakan orang cenderung melupakan apa yang mereka dengar. Salah satu jawaban adalah karena adanya perbedaan antara kecepatan bicara guru dengan tingkat kemampuan siswa mendengarkan apa yang disampaikan guru.3 Dan penambahan visual pada proses pembelajaran dapat menaikkan ingatan sampai 171% dari ingatan semula. Dengan penambahan visual di samping auditori pembelajaran kesan yang masuk dalam diri pelajar semakin kuat sehingga dapat bertahan lebih lama di bandingkan hal dengan hanya menggunakan audio atau pendengaran saja. Thorndike ( bimo wagito,1997 ) mengemukakan 3 hukum belajar, yaitu : I. Law of readiness, yaitu kesiapan seseorang untuk berbuat dapat memperlancar hubungan antara stimulus dan respons. II. Law of exercies, yaitu dengan adanya ulangan-ulangan yang selalu dikerjakan maka hubungan antara stimulus dan respons akan menjadi lancar. III. Law of effect, yaitu hubungan antara stimulus dan respons akan menjadi lebih baik jika dapat menimbulkan hal-hal yang menyenangkan, dan hal ini cenderung akan selalu di ulang. Active learning ( belajar aktif ) pada dasarnya berusaha untuk memperkuat dan memperlancar stimul dan respons mahasiswa dalam pembelajaran, sehingga proses pembelajaran menjadi hal yang menyenangkan, tidak menjadi hal yang membosankan bagi mereka.3 D.3. Aplikasi active learning dalam pembelajaran. L.Dee Fink ( 1999 ) mengemukakan metode active learning sebagai berikut : - Dialog dengan diri sendiri adalah proses dimana pelajar mulai berfikir secara reflektif mengenai topik yang di pelajari. Mereka menanyakan pada diri sendiri mengenai apa yang mereka pikir atau yang harus mereka pikir. - Dialog dengan orang lain, bukan dimaksudkan sebagai dialog parsial, tetapi dialog yang lebih aktif dan dinamis ketika pengajar membuat diskusi kelompok kecil tentang topik yang di pelajari - Observasi terjadi ketika pelajar memperhatikan atau mendengar seseorang yang sedang melakukan sesuatu hal yang berhubungan dengan apa yang mereka pelajari.

21

- Doing atau berbuat merupakan aktifitas belajar dimana mahasiswa berbuat sesuatu, seperti membuat suatu experimen, mengkritik sebuah argumen atau sebuah tulisan dan lain sebagainya.3

KESIMPULAN
Seorang dokter haruslah memperkuat posisinya dengan meningkatkan

profesionalismenya dan tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip ilmiah, etik, hukum dan agama. Etik kedokteran yang diamalkan dengan baik, dalam arti tidak hanya di fahami dan dihayati, akan dapat menjamin seorang bekerja dengan baik, tentram, terhormat dan sukses.

DAFTAR PUSTAKA
1. 2. Harsono, Prof. dr. Sp.S(K), Pengantar Problem Based Learning, FK-UGM, Yogyakarta, 2005: 2-13. Hanafiah, M, Jusuf, SpOG, Dr.Amir, Amri, Spf, Etika Kedoteran & Hukum Kesehatan, EGC,1999 : 2-26. 3. Http://edu-articles.com/lama/ 4. Batubara Saiful, Dr.H, Kurikulum Berbasis Kompetensi Pendidikan Kedokteran Dasar, Medan , 2007.

22