Anda di halaman 1dari 3

Master of Giving Oleh TOTO SUHARYA

Dalam materi lain penulis sudah menjelaskan bagaimana logikanya bahwa sedekah bisa menambah rezeki yang kita miliki. Rumus-rumus memberi sudah penulis sampaikan dalam berbagai kesempatan agar orang mudah memahami, seperti 1-1= 10, 1-1=700. Dalam hal ini, penulis tidak akan membahas dari mana rumus itu diturunkan, atau mengapa memberi dapat menambah harta yang kita miliki. Pada kesempatan ini penulis akan menyampaikan bagaimana tahap-tahapan agar kita menjadi orang yang ahli dalam memberi (sedekah) atau master of giving. Taha-tahapan tersebut penulis urutkan berdasarkan kepada ajaran agama, ijma para ulama dan penelurusan penulis berkaitan dengan sedekah. Sebenarnya ukuran-ukuran berapa orang bersedekah banyak di bicarakan oleh para ulama, namun dalam hal ini penulis ingin memberi sedikit hasil pemikiran tentang tahapan-tahapan ukuran dalam hal bersedekah. Untuk mendapatkan urutan ini, penulis lakukan dengan penelitian terhadap Al-Quran dan membandingkan dengan pendapat-pendapat ulama yang tersebar dalam buku-buku keagamaan. Namun ada juga, ukuran-ukuran yang penulis ambil dari hasil pemikiran (ijtihad). Maka dari itu, jika yang penulis kemukakan ini salah, jangan berpikir panjang tinggalkanlah, dan jika hasil pemikiran ini mengandung kebenaran itulah kebenaran dari Allah. Tahap-tahap yang harus dilalui oleh seseorang untuk menjadi master sedekah sebagai berikut;

Berkorban (Master) Barang Dicintai 10% 2,5% sekemampuan

Tahap pertama, memberi berdasarkan kepada kemampuan. Tahap ini dijelaskan dalam surat At Thalaaq ayat 7, Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Siapa

yang harus mengeluarkan harta sesuai dengan kemampuannya? Mereka adalah orang-orang yang merasa kekurangan (miskin). Memberi sesuai dengan kemampuan diperuntukkan bagi merekamereka yang miskin agar mereka terangkat dari kemiskinannya.

Tahap kedua, memberi berdasarkan pada ukuran zakat yang telah ditetapkan yaitu 2,5% dari barang atau harta yang kita miliki. Ukuran 2,5% mengacu kepada ukuran zakat yang lazim kita keluarkan berdasarkan pendapat yang disepakati oleh para ulama. Tahap ketiga, yaitu 10% dari harta yang kita miliki. Perhitungan itu kita dapatkan dari hitung-hitungan sedekah sebagaimana dikemumkakan oleh Ustad Yusuf Mansyur dalam bukuknya, miracle of giving. Tahap keempat, adalah mensedekahkan barang-barang yang dicintai. Tahap ini menunjukkan tahap kesempurnaan bagi orang-orang yang ahli sedekah (dermawan). Ukuran ini dapat ditemukan dalam Al-Quran. Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. (Ali Imran (3):92). Barang-barang yang dicintai tidak dinilai dari besara kecilnya, mahal dan murahnya barang. Bisa saja barang yang murah, menjadi barang yang sangat kita cintai. Atau sebaliknya barang yang mahal tidak kita cintai. Jadi barang yang dicintai jika sudah dijadikan barang maka bentuknya jadi relatif. Ukuran barang yang dicintai adalah barang yang sangat kita takuti kehilangannya. Barangbarang tersebut bisa saja, baju, celana, cincin, lukisan, uang, dan sebagainya. Sebagai contoh dalam hadist Nabi dijelaskan bagaimana seseorang bersedekah (memberi) dengan barang yang dicintainya. Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata: Abu Thalhah adalah seorang sahabat Ansar yang paling banyak harta di Madinah. Dan harta yang paling ia sukai adalah kebun Bairaha. Kebun itu menghadap ke mesjid Nabawi. Rasulullah saw. biasa masuk ke kebun itu untuk minum airnya yang tawar. Anas berkata: Ketika turun ayat ini: Sekali-kali kalian tidak sampai kepada kebaikan (yang sempurna) sebelum kalian menafkahkan sebagian harta yang kalian cintai. Abu Thalhah datang kepada Rasulullah saw. dan berkata: Allah telah berfirman dalam kitab-Nya: Sekali-kali kalian tidak sampai kepada kebaikan (yang sempurna) sebelum kalian menafkahkan sebagian harta yang kalian cintai, sedangkan harta yang paling aku cintai adalah kebun Bairaha, maka kebun itu aku sedekahkan karena Allah. Aku mengharapkan kebaikan dan simpanannya (pahalanya di akhirat) di sisi Allah. Oleh sebab itu, pergunakanlah kebun itu, wahai Rasulullah, sekehendakmu. Rasulullah saw. bersabda: Bagus! Itu adalah harta yang menguntungkan, itu adalah harta yang menguntungkan. Aku telah mendengar apa yang engkau katakan mengenai kebun itu. Dan aku berpendapat, hendaknya kebun itu engkau berikan kepada kaum kerabatmu. Lalu Abu Thalhah membagi-bagi kebun itu dan memberikannya kepada kaum kerabat dan anak-anak pamannya. (Shahih Muslim No.1664). Tahap kelima adalah tahap terberat. Jika dibandingkan dengan kejuaraan tinju, kelas ini dianggap kelas berat atau jika dalam tingkatan karate yaitu ban hitam. Orang-orang yang sudah sampai pada tahap ini layak disebut dengan Master of Giving. Ukuran pada tahap ini diambil dari keterangan Al-Quran. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. (Al-Kautsar (108):1-2). Ayat ini sering dikaitkan dengan ibadah qurban. Ibadah qurban adalah ritual keagamaan dalam ajaran agama Islam yang sering dikaitkan dengan peristiwa penyembelihan Ismail oleh Bapaknya Nabi Ibrahim yang digantikan dengan hewan sembelihan. Dalam kontek ini, ibadah qurban dapat dianggap sebagai ibadah yang menguji pengorbanan seseorang sampai pada tingkat tertinggi. Pengorbanan dapat dipandang sebagai bentuk ketaatan tertinggi manusia kepada Tuhan. Ukuran pengorbanan tersebut diilustrasikan oleh peristiwa keberanian Nabi Ibrahim dalam mengorbankan anaknya Ismail untuk disembelih karena hal itu telah diperintahkan oleh Tuhan dalam memimpinya. Bukan saja keberanian untuk berkorban yang dicontohkan dalam peristiwa qurban ini tetapi sikap iklhas menerima keputusan Tuhan sebagaimana dicontohkan oleh Ismai anak Nabi Ibrahim. Atas keberanian dan keikhlasan

kedua manusia inilah, Tuhan memberikan rezeki yang besar dengan menggantikan sembelihan manusia dengan sembelihan hewan qurban. Berkorban dengan barang yang kita miliki lebih berat dari memberi dengan barangbarang yang dicintai. Perbandingan berkorban dengan memberikan barang yang dicintai, dapat kita lihat dalam kejadian berikut; seseorang sahabat Nabi Muhammad saw memberikan seluruh tanah milik yang amat dicintainya kepada kaum kerabatnya, dan Nabi Ibrahim menyembelih anaknya demi untuk mentaati perintah Allah. Coba pikirkan mana yang lebih berat? Tanah yang luas tentu saja tidak akan berarti apa-apa jika ditukar dengan anak-anak yang sangat kita cintai. Jadi ukuran berkorban bisa diartikan mengeluarkan barang-barang yang kita cintai dan bernilai sangat tinggi. Jadi, Nabi Muhammad, saw mencontohkan pengorbanan tersebut dengan menyembelih hewan kurban sebanyak 100 ekor unta. Itulah bentuk pengorbanan yang sangat tinggi dan Allah berjanji akan memperbanyak rezeki yang kita miliki. Wallahu alam.