Anda di halaman 1dari 2

Warga Kulonprogo dari Wallfare Jadi Workfare

Wirausahawan perempuan Susmirah diam-diam melakukan berbagai inovasi baru. Dengan memanfaatkan bakat yang dimilikinya dipadukan dengan potensi alam dan organisasi kelompok perajin gula merah yang tergabung dalam Posdaya, ia mulai mengembangkan berbagai rasa gula merah. Yang menarik, berbagai cita rasa, mulai rasa strowberi, melon, nangka, pisang dan lain sebagainya, dengan harga jual yang jelas melonjak naik.

Susmirah (tengah) didampingi suaminya (kiri) bersama Ketua TP PKK Kulonprogo Ny Wiwiek Toyo S Dipo.
[FOTO-FOTO: HARIS]

NTUK mengisi waktu pagi hari sebelum berangkat ke kantor, biasanya segelas teh atau kopi manis akan menemani sarapan kita. Begitu pula saat sore hari untuk menghilangkan kepenatan yang biasanya menyerang, ada kebiasaan sebagian masyarakat kita yang memanfaatkan waktu senggangnya dengan minum segelas kopi atau teh manis sambil menikmati suasana sore menjelang pulang ke rumah. Agar teh atau kopi yag dihidangkan terasa manis, masyarakat menambahkan minuman teh atau kopi dengan beberapa sendok gula putih (gula pasir). Penggunaan gula yang terkadang melebihi takaran menyebabkan banyak di antara warga masyarakat yang mengalami gangguan
32

kesehatan seperti kelebihan kalori, obesitas, diabetes serta beberapa gangguan kesehatan lainnya. Pada masa jayanya gula putih (gula pasir), gula merah atau lebih dikenal dengan gula Jawa yang kita kenal selama ini, hanya dijadikan sebagai komoditi yang kurang diperhitungkan. Bentuknya bisa beraneka macam ada yang berbentuk silinder seperti potongan bambu dan setengah tempurung kelapa. Karena bentuknya yang kurang menarik, rasa manis dan gurihnya hanya sekadar untuk pemanis aneka masakan. Kini gula merah tidak lagi dalam bentuk yang kurang menarik. Karena harus dibeli dalam bentuk yang silinder dan bentuk tempurung kelapa, tapi sudah dikemas dalam bentuk lain yaitu dalam bentuk

Gemari Edisi 93/Tahun IX/Oktober 2008

serbuk, sama dengan kemasan gula putih yang terbuat dari perasan batang pohon tebu. Bahkan keduanya juga sudah dijual dalam bentuk kemasan sachet. Bahkan kini gula merah sudah naik pangkat mengisi kagiatan rehat kopi di hotel-hotel berbintang. Dengan banyaknya konsumsi gula merah secara otomatis akan menaikkan jumlah pemasukan yang akan didapat para petani. Kalau dulu harga gula merah satu ikat dengan berat satu kilogram hanya berkisar Rp 2.000 sampai Rp 3.000, melonjak antara Rp 5.000 sampai Rp 7.500 per kantong dengan berat 1 kilogram. Melihat peluang pasar yang begitu besar bagi perkembangan pemasaran gula merah, Ibu Susmirah mengajak beberapa petani Kulonprogo dan sekitarnya, termasuk wilayah lain di Yogyakarta dan Jawa Tengah yang memiliki lahan pohon kelapa, untuk bersama-sama membuat gula merah serbuk yang dikemas secara apik dan baik. Sehingga, menimbulkan minat masyarakat khususnya wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta untuk dijadikan oleh-oleh atau buah tangan. Sejalan dengan berkembangnya permintaan gula merah serbuk, berkembang pula cita rasa konsumen dan peruntukan gula merah bukan hanya pelengkap minum teh atau kopi, tapi juga di buat berbagai makanan ringan dengan aneka rasa yang menggunakan bahan baku gula merah. Berdasarkan permintaan pasar mulailah Susmirah melakukan berbagai inovasi baru. Dengan memanfaatkan bakat yang dimilikinya dipadukan dengan potensi alam dan organisasi kelompok perajin gula merah yang tergabung dalam Posdaya, mulai dikembangkan berbagai rasa gula merah, mulai rasa strowberi, melon, nangka, pisang dan lain sebagainya dengan harga jual yang jelas melonjak naik, yaitu kisaran Rp 10.000 sampai Rp 15.000 per bungkus, ukuran satu kilogram. Dengan perkembangan kelompok petani gula merah dan pengrajin kerajinan khas

Yogya dan Jawa Tengah, kesibukan Susmirah bukan hanya mengelola toko souvenir kerajinan dan oleh-oleh saja. Tetapi ia juga melatih ibu-ibu pengelola Posdaya yang ingin mengembangkan ketrampilannya, baik dalam membuat oleholeh penganan khas Yogya dan Jawa Tengah tapi juga berbagai kerajinan. Bukan hanya itu, Susmirah juga membuka kesempatan dan peluang pasar bagi pengrajin untuk memasarkan produk yang mereka hasilkan di galeri Yogjavanesia Craft miliknya. Baik dalam bentuk titipan barang ataupun membuka counter ruang pamer sendiri. Upaya yang dilakukan Susmirah dan keluarganya ini berhasil mengangkat kehidupan warga masyarakat Desa Sentolo khususnya, tapi juga warga masyarakat Kulonprogo umumnya. Saat ini tidak sedikit di antara warga yang dulunya mendapat pelatihan Susmirah kini telah menjadi pengusaha kecil yang tangguh. Begitu pula dengan pembantu rumah tangganya, kini sudah tidak lagi menjadi pembantu, tapi telah menjelma menjadi seorang pengusaha kerajinan yang sukses. Apa yang telah diupayakan Susmirah secara perlahan tapi pasti telah mengubah kehidupan masyarakat dari jurang kemiskinan ke arah yang lebih sejahtera. Bahkan ia mengubah julukan warga Kulonprogo dari Wallfare (yang mengharap belas kasih) menjadi Workfare (yang cinta bekerja keras dan berinovasi). RIS

Gula merah dan souvenir khas DI Yogyakarta dan Jawa Tengah di toko milik Susmirah.

Gemari Edisi 93/Tahun IX/Oktober 2008

33