Anda di halaman 1dari 4

BIOGRAFI IBNU SINA

Nama lengkap Ibnu Sina adalah Abu Ali Husain bin Abdullah bin Hasan bin Ali Bin Sina yang bergelar asy-Syaikhur Raiis (pemimpin para Syekh). Ia dilahirkan pada tahun 370 H atau bertepatan dengan tahun 980 M, yaitu di sebuah desa kecil bernama Afsyanah, tidak jauh dari kota Bukhara yang berada dalam wilayah Republik Uzbekistan, bekas jajhan Uni Soviet, dan terletak di sisi barat kota Samarkand. Ayah beliau sendiri berasal dari kota Balkh, sebelah selatan kota Samarkand. Ayahnya baru pindah ke kota Bukhara pada masa pemerintahan Gubernur Saman yang bernama Nuh II bin Manshur karena dipindahtugaskan. Lalu, ia menetap di desa Afsyanah hingga mempersunting seorang gadis. Setelah Ibnu Sina lahir, keluarga kecil itu pindah lagi kekota Bukhara, yaitu sebuah kota dimana Ibnu Sina pertama kali menimba ilmunya berupa ilmu-ilmu tentang Al-Quran dan sastra (Khalid;2009). Ibnu Sina terlahir dari keluarga pengikut Syiah. Ayahnya Abdullah Ibn Hasan berasal dari Balkh. Beliau adalah seorang Syi;ah Ismai-liyah dan simpatisan Fatimiyah yang pernah menjabat sebagai seorang gubernur disuatu kota dekat Bukhara pada masa pemerintahan Nuh bin Mansur, Sultan Dinasti Samanid. Pada usia lima tahun, Ibnu Sina dengan keluarganya pindah ke kota Bukhara. Bukhara adalah ibu kota kerajaan Samanid yang merupakan pusat aktivitas para intelektual. Berbagai kegiatan keilmuan ditemukan serta terdapat banyak pemikir besar di Bukhara. Ayah Ibnu Sina menaruh perhatian cukup besar kepada Ismail al-Zahid dan Abu Abdillah al-Natili, seorang ulama dan ahli matematika terbesar pada saat itu. Melalui al-Natili inilah, Ibnu Sina menguasai logika dan matematika. Bahkan, dalam kedua bidang ini Ibnu Sina sudah jauh mendahului pemahaman gurunya, alNatili. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila dikatakan pada usianya yang masih dini, Ibnu Sina telah mampu berdiri sendiri sebagai pemikir yang bebas dan memiliki otoritas keilmuan, juga tidak mengherankan bila dalam usia 10 tahun ia telah hapal Al-Quran seperti dinyatakan sendiri dalam otobiografinya: Saya telah menghafal dan melengkapi studi AlQur;an serta bagian-bagian terpenting dari kesustraan Arab, sebegitu jauhnya aehingga orang-orang merasa ingin mengetahui lebih jauh tentang apa yang telah saya dapatkan(Silfia;2004). Pada masa remaja mulai tertarik dengan cara mengobati atau menyembuhkan orang. Tidak heran jika ia sangat menggemari pelajaran-pelajaran dibidang kedokteran. Walhasil, di usianya yang masih sangat muda yaitu 16 tahun, ia dikabarkan dapat membuka tempat

praktek kedokteran sendiri. Tak puas dengan kedokteran, pada masa remajanya ia juga dikenal menguasai bidang-bidang yang menjadi dasar dari ilmu filsafat yang akan dikembangkan olehnya, seperti logika dan metafisikanya Al-Farabi mengenai uraian dari Aristoteles (Muhammad;2005). Ketika Ibnu Sina menginjak umur 17 tahun, Gubernur Samanid Nuh II bin Manshur mengidap sebuah penyakit yang tidak mampu disembuhkan oleh banyak dokter. Kebetulan pada waktu itu juga kebesaran nama Ibnu Sina telah tersebar dikalangan para dokter. Mereka pun akhirnya merekomendasikan Ibnu Sina kepada gubernur untuk menyembuhkan penyakitnya itu.Setelah diundang Ibnu Sina datang dan ikut bergabung bersama tim dokter gubernur lainnya. Praktik penyembuhan kali ini membuka pintu peluang yang sangat banyak untuk masa depannya (Khalid;2009). Jasanya yang telah menyembuhkan penguasa Bukhara membuat Ibnu Sina mendapat kemudahan untuk belajar diperpustakaan penguasa yang memiliki beragam buku yang tentu saja memiliki beragam buku yang tentu saja sangat bernilai. Hal ini membuat Ibnu Sina dapat lebih memperdalam berbagai ilmu yang dikuasainya, juga mempelajari berbagai ilmu lainnya (Muhammad;2005). Pada usianya yang kedua puluh satu tahun, bertepatan dengan tahun 391 H/1001 M, Ibnu Sina mulai menyajikan karya-karyanya, seperti Kitab al-Majmu tentang matematika , Kitab al-Hasil wa al-Mahsul yang terdiri dari dua puluh satu jilid tentang berbagai macam sains. Selain itu Ibnu Sina masih melengkapinya dengan berbagai kajian yang disajikannya dalam Kitab Birr wa Lyhm yang memuat pembahasan mengenai etika (Silfia;2004). Ketika Ibnu Sina menginjak dua puluh dua tahun,ayahandanya menunggal dunia. Kondisi yang tidak mendukung ini mendorong Ibnu Sina untuk meninggalkan kota Bukhara menuju Jurjaniyah, daerah itu menjadi ibukota kerajaan Khawarizm. Dalam istana Ali ibn Maimun Khawarismsyah inilah, Ibnu Sina memperoleh berbagai dukungan dan perlindungan dari para wazir. Abu al-Hasan Ahmad ibn Muhammad al-Suhaily misalnya, yang kepadanya Ibnu Sina menulis Kitab at-Tadrik li Anwa al Khata fi at-Tadbtr dan Qiyam al-Ard fi Wasat as-Sama tentang metafisika dan astronomi. Sekitar tahun 403 H/1012 M setelah mengunjungi guru sufi, Abu Said ibn Abi al-Khair di Jurjan , Ibn Sina berkunjung ke kerajaan Qabus untuk sekadar memastikan bahwa rajanya betul-betul telah meninggal dunia. Karena kesedihannya ditinggal oleh pelindung yang sangat diharapkannya itu (Raja AlQabus), Ibnu Sina kembali kesuatu kampung di Khawarism, dan kemudian ia perge ke Jurjan

untuk yang kedua kalinya. Disana Ibnu Sina menulis Kitab al-Mukhtasar al Awsat, Kitab al Mabda wa al Maad dan al-Arsyad al Kulliyyah, yang tiap-tiap bab dalam kitab-kitab tersebut selanjutnya membentuk bagian-bagian penting dari Kitab an-Najah dan al-Qanun. Kota Rayyan adalah tempat persinggahan Ibnu Sina. Dia mampir dikota itu pada tahun 405 H/1014 M. Disini ia berhasil menyembuhkan penyakit istri dan putra Fakhr alDaulah al-Dailami, serta menulis al Maad. Petualangan Ibnu Sina belum berakhir sampai disini. Dia masih terus melanjutkan perjalanannya , pertama menuju Qazwin kemudian Hamadan dengan maksud menemui penguasa Dinasti tersebut. Kemudian tidak lama setelah kehadirannya di Hamadan, Ibnu Sina diminta untuk mengobati Sama ad-Daulah yang kebetulan sedang jatuh sakit. Keahlian Ibnu Sina dalam menyembuhkan penguasa tersebut, bukan saja membuat prestasinya semakin gemilang dikalangan istana, melainkan juga mengantarkannya menduduki posisi politis sebagai seorang wazir; suatu posisi yang pada gilirannya melahirkan rival-rival politik bagi dirinya sendiri. Sampai tahun 411 H/1020 M, Ibnu Sina masih tetap menjalani tugas-tugas kenegaraan. Di tengah kesibukannya, dia masih mampu menulis masterpiece-nya dibidang filsafat paripatetik, yakni kitab al-Syifa. Sama adDaulah yang menggantikannya Syams ad-Daulah(w.412 H/ 1021 M) meminta Ibnu Sina untuk tetap dalam posisinya sebagai wazir. Tetapi, karena kejenuhannya terhadan istana Hamadan, Ibnu Sina menolak pemerintahan itu. Penolakan tersebut menimbulkan reaksi sengit dari pihak penguasa terhadap Ibnu Sina. Tajaul Mulk yang telah lama menjadi rival Ibnu Sina memanfaatkan situasi ini. Dengan berbagai tipu daya, ia memenjarakan Ibnu Sina dibenteng Fardjan, didekat Hamadan. Kendatipun demikian, selama empat bulan dalam penahanan, sang filosof yang bergelar asy-Syaikh ar Rais ini, justru melahirkan beberapa risalah penting, termasuk diantaranya kitab al-Hidayah, Kitab al-Qalanj dan Risalah Hay ibn Yaqsan. Ketika terjadi serangan Ala ad-Daulah ke Hamadan, Ibnu Sina berusaha untuk melarikan diri. Berkat bantuan al-Jurjani Ibnu Sina dapat sampai ke Isfahan dengan selamat (Silfia;2004). Setibanya didaerah tersebut, ia disambut sangat baik oleh Ibnu Kakawaih. Di daerah Isfahan itulah Ibnu Sina kembali menulis karya-karyanya, lebih khususnya lagi meringkas dua buku sebelumnya, dengan memberikan tambahan keterangan dan bantahan singkat. Ibnu Sina juga menulis buku tentang cara pemeriksaan penyakit dan peralatannya, juga menulis buku tentang sastra. Disamping itu ia menyempurnakan lagi tulisannya di bidang kedokteran, dan menjabat sebagai menteri Ibnu Kakawaih selama beberapa waktu. Ibnu Sina pada masamasa akhir hidupnya terserang penyakit kolera. Kemudian karena ia ingin merasa cepat

sembuh, ia pun banyak mengonsumsi obat, bahkan terkesan berlebihan. Hal inilah yang di kemudian hari menyebabkan adanya kerusakan di lambungnya. Karena itu, ia harus menyembuhkan penyakit kolera yang sudah lama di deritanya dan di tambah lagi dengan luka di lambungnya. Selanjutnya, keadaan Ibnu Sina semakin bertambah parah. Kemudian ketika Ibnu Kakawaih hendak pergi ke daerah Hamadan, Ibnu Sina ikut serta menemaninya, hingga penyakitnya kambuh lagi. Kali ini penyakitnya tambah parah sampai ia tiba di Hamadan. Setibanya di daerah tersebut, Ibnu Sina merasa bahwa sistem kekebalan tubuhnya sudah tidak mampu lagi melawan penyakit yang di deritanya. Karena itulah, ia pun merasa enggan untuk memberikan pengobatan untuk dirinya sendiri. Akhirnya penyakitnya semakin bertambah parah, dan keadaan tersebut berlangsung selama beberapa hari hingga ajal menjemputnya pada umur 57 tahun, yaitu pada tahun 428 H/1037 M. (Khalid;2009).