Anda di halaman 1dari 21

REFERAT DEVIASI SEPTUM NASI

LANIRA ZARIMA N. H1A 008 038

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA BAGIAN ILMU PENYAKIT TELINGA, HIDUNG, DAN TENGGOROKAN RUMAH SAKIT UMUM PROVINSI NTB FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 2012

PENDAHULUAN

Bentuk septum normal adalah lurus di tengah rongga hidung tetapi pada orang dewasa biasanya septum nasi tidak lurus sempurna di tengah. Angka kejadian septum yang benarbenar lurus hanya sedikit dijumpai, biasanya terdapat pembengkokan minimal atau terdapat spina pada septum. Bila kejadian ini tidak menimbulkan gangguan respirasi, maka tidak dikategorikan sebagai abnormal. Deviasi yang cukup berat dapat menyebabkan obstruksi hidung yang mengganggu fungsi hidung dan menyebabkan komplikasi atau bahkan menimbulkan gangguan estetik wajah karena tampilan hidung menjadi bengkok.1,2 Gejala sumbatan hidung meskipun bukan suatu gejala penyakit yang berat, tetapi dapat menurunkan kualitas hidup dan aktivitas penderita. Penyebab sumbatan hidung dapat bervariasi dari berbagai penyakit dan kelainan anatomis. Salah satu penyebabnya dari kelainan anatomi adalah deviasi septum nasi.1 Deviasi septum nasi memang merupakan masalah yang sering ditemukan di masyarakat. Kelainan ini ditandai dengan bengkoknya lempeng kartilago septum, yaitu struktur yang memisahkan antara kedua nostril. Deviasi septum biasanya disebabkan oleh trauma, walaupun terdapat beberapa kasus yang merupakan bawaan sejak lahir dengan deviasi septum nasi. Kelainan ini dapat menyebabkan terjadinya obstruksi nasal unilateral maupun bilateral, yang bermanifestasi sebagai gangguan pernapasan melalui hidung, tidur mendengkur, sakit kepala, infeksi sinus rekuren, ataupun perdarahan hidung yang rekuren.3

ANATOMI DAN FISIOLOGI HIDUNG

Struktur Anatomi Hidung Hidung luar berbentuk piramid menonjol pada garis tengah di antara pipi dengan bibir atas. Struktur hidung luar dapat dibedakan atas tiga bagian, yaitu yang paling atas berupa kubah tulang yang tak dapat digerakkan, di bawahnya terdapat kubah kartilago yang sedikit dapat digerakkan, dan yang paling bawah adalah lobulus hidung yang mudah digerakkan.4 Berikut bagian-bagiannya dari atas ke bawah : pangkal hidung (bridge), dorsum nasi, puncak hidung, ala nasi, kolumela, dan lubang hidung (nares anterior).5

Gambar 1. Anatomi Hidung Luar 3

Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi oleh kulit, jaringan ikat dan beberapa otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan atau menyempitkan lubang hidung. Kerangka tulang terdiri dari : Tulang hidung (os nasal), Prosesus frontalis os maksila, dan Prosesus nasalis os frontal. Sedangkan kerangka tulang rawan terdiri dari beberapa pasang tulang rawan yang terletak di bagian bawah hidung, yaitu : Sepasang kartilago nasalis lateralis superior, Sepasang kartilago nasalis lateralis inferior yang disebut juga sebagai kartilago alar mayor, Beberapa pasang kartilago alar minor, dan Tepi anterior kartilago septum.5

Gambar 2. Kerangka Tulang dan Tulang Rawan Hidung Luar Rongga hidung atau kavum nasi berbentuk terowongan dari depan ke belakang yang dipisahkan oleh septum nasi di bagian tengahnya menjadi kavum nasi kanan dan kiri. Lubang masuk kavum nasi bagian depan disebut nares anterior dan lubang bagian belakang disebut nares posterior (koana) yang menghubungkan antara kavum nasi dengan nasofaring.4,5

Bagian dari kavum nasi yang letaknya sesuai dengan ala nasi, tepat di belakang nares anterior, disebut vestibulum. Vestibulum ini dilapisi oleh kulit yang mempunyai banyak kelenjar sebasea dan rambut-rambut panjang yang disebut vibrise. Tiap kavum nasi mempunyai 4 buah dinding, yaitu dinding medial, lateral, inferior dan superior.4,5 Dinding medial hidung adalah septum nasi. Septum dibentuk oleh tulang dan tulang rawan. Bagian tulang rawan adalah kartilago septum (lamina kuadrangularis) dan kolumela. Sedangkan bagian tulang adalah : lamina perpendikularis os etmoid, os vomer, krista nasalis os maksila, dan krista nasalis os palatina.5 Septum dilapisi oleh perikondrium pada bagian tulang rawan dan periosteum pada bagian tulang, sedangkan di luarnya dilapisi pula oleh mukosa hidung. Bagian depan dinding lateral hidung licin, yang disebut agger nasi dan di belakangnya terdapat konka-konka yang mengisi sebagian besar dinding lateral hidung.

Gambar 3. Septum Nasi

Pada dinding lateral terdapat 4 buah konka. Yang terbesar dan letaknya paling bawah ialah konka inferior, kemudian yang lebih kecil ialah konka media, yang lebih kecil lagi ialah konka superior, dan yang terkecil disebut konka suprema. Konka suprema ini bersifat rudimenter. Konka inferior merupakan tulang tersendiri yang melekat pada os maksila dan labirin etmoid, sedangkan konka media, superior, dan suprema merupakan bagian dari labirin etmoid.5 Di antara konka-konka dan dinding lateral hidung terdapat rongga sempit yang disebut meatus. Tergantung dari letak meatus, ada 3 meatus, yaitu meatus inferior, medianus dan superior. Meatus inferior terletak di antara konka inferior dengan dasar hidung dan dinding lateral rongga hidung. Pada meatus inferior terdapat muara (ostium) duktus nasolakrimalis.5 Meatus medius terletak di antara konka media dan dinding lateral rongga hidung. Pada meatus medius terdapat bula etmoid, prosesus unsinatus, hiatus semilunaris, dan infundibulum etmoid. Hiatus semilunaris merupakan suatu celah sempit melengkung dimana terdapat muara sinus frontal, sinus maksila, dan sinus etmoid anterior. Meatus superior merupakan ruang di antara konka superior dan kona media. Pada meatus superior terdapat muara sinus etmoid posterior dan sinus sfenoid.4,5

Gambar 4. Dinding Lateral Cavum Nasi

Dinding inferior rongga hidung merupakan dasar rongga hidung dan dibentuk oleh os maksila dan os palatum. Dinding superior atau atap hidung sangat sempit dan dibentuk oleh lamina kribriformis, yang memisahkan rongga tengkorak dari rongga hidung. Lamina kribriformis merupakan lempeng tulang yang berasal dari os etmoid, tulang ini berlubanglubang (kribrosa/saringan) sebagai tempat masuknya serabut-serabut saraf olfaktorius. Di bagian posterior, atap rongga hidung dibentuk oleh os sfenoid.5

Kompleks Ostiomeatal (KOM) Kompleks ostiomeatal (KOM) merupakan celah pada dinding lateral hidung yang dibatasi oleh konka media dan lamina papirasea. Struktur anatomi penting yang membentuk KOM adalah : prosesus unsinatus, infundibulum etmoid, hiatus semilunaris, bula etmoid, agger nasi, dan resesus frontal.

KOM merupakan unit fungsional yang berfungsi sebagai tempat ventilasi dan drainase dari sinus-sinus yang letaknya di anterior, yaitu sinus maksila, sinus frontal, dan sinus etmoidalis superior.5

Gambar 5. Kompleks Ostiomeatal (KOM)

Perdarahan Hidung Bagian atas hidung rongga hidung mendapat pendarahan dari a. etmoidalis anterior dan posterior yang merupakan cabang dari a. oftalmika dari a. karotis interna. Bagian bawah rongga hidung mendapat pendarahan dari cabang a. maksilaris interna, di antaranya adalah ujung a. palatina mayor dan a. sfenopalatina yang keluar dari foramen sfenopalatina bersama n. sfenopalatina dan memasuki rongga hidung di belakang ujung posterior konka media. Bagian depan hidung mendapat pendarahan dari cabang-cabang a. fasialis. Pada bagian depan septum terdapat anastomosis dari cabang-cabang a. sfenopalatina, a. etmoid anterior, a. labialis superior, dan a. palatina mayor yang disebut pleksus Kiesselbach (Littles area). Pleksus Kiesselbach letaknya superfisial dan mudah cedera oleh trauma, sehingga sering menjadi sumber epistaksis (pendarahan hidung), terutama pada anak. Vena-vena hidung mempunyai nama yang sama dan berjalan berdampingan dengan arterinya. Vena di vestibulum dan struktur luar hidung bermuara ke v. oftalmika yang berhubungan dengan sinus kavernosus. Vena-vena di hidung tidak memiliki katup sehingga merupakan faktor predisposisi untuk mudahnya penyebaran infeksi hingga ke intrakranial.5

Persarafan Hidung Bagian depan dan atas rongga hidung mendapat persarafan sensoris dari n. etmoidalis anterior, yang merupakan cabang dari n. nasosiliaris, yang berasal dari n. oftalmikus (N.V-1). Rongga hidung lainnya, sebagian besar mendapat persarafan sensoris dari n. maksila melalui ganglion sfenopalatina. Ganglion sfenopalatina selain memberikan persarafan sensoris juga memberikan persarafan vasomotor atau otonom untuk mukosa hidung. Ganglion ini menerima serabutserabut sensoris dari n. maksila (N.V-2), serabut parasimpatis dari n. petrosus superfisialis mayor dan serabut-serabut simpatis dari n. petrosus profundus. Ganglion sfenopalatinum terletak di belakang dan sedikit di atas ujung posterior konka media. Sedangkan fungsi penghidu berasal dari nervus olfaktorius. Saraf ini turun dari lamina kribrosa dari permukaan bawah bulbus olfaktorius dan kemudian berakhir pada sel-sel reseptor penghidu pada mukosa olfaktorius di daerah sepertiga atas hidung.5

Mukosa Hidung Rongga hidung dilapisi oleh mukosa yang secara histologik dan fungsional dibagi atas mukosa pernapasan dan mukosa penghidu. Mukosa pernapasan terdapat pada sebagian besar rongga hidung dan permukaannya dilapisi oleh cilliated pseudostratified collumnar epithellium yang mempunyai silia dan diantaranya terdapat sel-sel goblet. Pada bagian yang lebih terkena aliran udara mukosanya lebih tebal dan kadang-kadang terjadi metaplasia menjadi sel epital skuamosa. Dalam keadaan normal mukosa berwarna merah muda dan selalu basah karena diliputi oleh palut lendir (mucous blanket) pada permukaannya. Palut lendir ini dihasilkan oleh sel-sel goblet pada epitel dan kelenjar seruminosa submukosa. Silia yang terdapat pada permukaan epitel mempunyai fungsi yang penting. Dengan gerakan silia yang teratur, palut lendir di dalam kavum nasi akan didorong ke arah nasofaring. Dengan demikian mukosa mempunyai daya untuk membersihkan dirinya sendiri dan juga untuk mengeluarkan benda asing yang masuk ke dalam rongga hidung. Gangguan pada fungsi silia akan menyebabkan banyak sekret terkumpul dan menimbulkan keluhan hidung tersumbat. Gangguan gerakan silia dapat disebabkan oleh pengeringan udara yang berlebihan, radang, sekret kental dan obat-obatan. Mukosa penghidu terdapat pada atap rongga hidung, konka superior dan sepertiga bagian atas septum. Mukosa dilapisi oleh pseudostratified columnar non-ciliated epithellium. Epitelnya dibentuk oleh tiga macam sel, yaitu sel penunjang, sel basal dan sel reseptor penghidu. Daerah mukosa penghidu berwarna coklat kekuningan. Di bawah lapisan epitel terdapat tunika propria yang banyak mengandung pembuluh darah, kelenjar mukosa dan jaringan limfoid. Pembuluh darah pada mukosa hidung mempunyai susunan yang khas. Arteriol terletak pada bagian yang lebih dalam dari tunika propria, tersusun secara paralel dan longitudinal. Arteriol ini memberikan perdarahan pada anyaman kapiler periglanduler dan subepitel. Pembuluh eferen dari anyaman kapiler ini membuka ke rongga sinusoid vena yang besar, yang dindingnya dilapisi oleh jaringan elastin dan otot polos. Pada bagian ujungnya, sinusoid mempunyai sfingter otot. Selanjutnya sinusoid akan mengalirkan darahnya ke pleksus vena yang lebih dalam, lalu ke venula. Dengan susunan demikian, mukosa hidung menyerupai jaringan kavernosa yang erektil, yang mudah mengembang dan mengerut. Vasokonstriksi dan vasodilatasi pembuluh darah ini dipengaruhi oleh saraf otonom.4,5

Fisiologi Hidung Berdasarkan teori struktural, teori revolusioner dan teori fungsional, maka fungsi fisiologis hidung dan sinus paranasal adalah 1) fungsi respirasi untuk mengatur kondisi udara (air conditioning), penyaring udara, humidifikasi, penyeimbang dalam pertukaran tekanan dan mekanisme imunologik lokal; 2) fungsi penghidu, karena terdapanya mukosa olfaktorius (penciuman) dan reservoir udara untuk menampung stimulus penghidu; 3) fungsi fonetik yang berguna untuk resonansi suara, membantu proses berbicara dan mencegah hantaran suara sendiri melalui konduksi tulang; 4) fungsi statistik dan mekanik untuk meringankan beban kepala, proteksi terhadap trauma dan pelindung panas; serta 5) refleks nasal.5 Sebagai Jalan Napas Pada saat inspirasi, udara masuk melalui nares anterior, lalu naik ke atas setinggi konka media dan kemudian turun ke bawah ke arah nasofaring, sehingga aliran udara ini berbentuk lengkungan atau arkus. Pada ekspirasi, udara masuk melalui koana dan kemudian mengikuti jalan yang sama seperti udara inspirasi. Akan tetapi di bagian depan aliran udara memecah, sebagian lain kembali ke belakang membentuk pusaran dan bergabung dengan aliran dari nasofaring. Pengatur Kondisi Udara (Air Conditioning) Fungsi hidung sebagai pengatur kondisi udara perlu untuk mempersiapkan udara yang akan masuk ke dalam alveolus. Fungsi ini dilakukan dengan cara : a) Mengatur kelembaban udara. Fungsi ini dilakukan oleh palut lendir. Pada musim panas, udara hampir jenuh oleh uap air, penguapan dari lapisan ini sedikit, sedangkan pada musim dingin akan terjadi sebaliknya. b) Mengatur suhu. Fungsi ini dimungkinkan karena banyaknya pembuluh darah di bawah epitel dan adanya permukaan konka dan septum yang luas, sehingga radiasi dapat berlangsung secara optimal. Dengan demikian suhu udara setelah melalui hidung kurang lebih 37o C. Sebagai Penyaring dan Pelindung Fungsi ini berguna untuk membersihkan udara inspirasi dari debu dan bakteri dan dilakukan oleh : a) Rambut (vibrissae) pada vestibulum nasi b) Silia

10

c) Palut lendir (mucous blanket). Debu dan bakteri akan melekat pada palut lendir dan partikel-partikel yang besar akan dikeluarkan dengan refleks bersin. Palut lendir ini akan dialirkan ke nasofaring oleh gerakan silia. d) Enzim yang dapat menghancurkan beberapa jenis bakteri, disebut lysozime. Indra Penghidu Hidung juga bekerja sebagai indra penghidu dengan adanya mukosa olfaktorius pada atap rongga hidung, konka superior dan sepertiga bagian atas septum. Partikel bau dapat mencapai daerah ini dengan cara difusi dengan palut lendir atau bila menarik napas dengan kuat. Resonansi Suara Penting untuk kualitas suara ketika berbicara dan menyanyi. Sumbatan hidung akan menyebabkan resonansi berkurang atau hilang, sehingga terdengar suara sengau. Proses Bicara Membantu proses pembentukan kata dengan konsonan nasal (m, n, ng) dimana rongga mulut tertutup dan rongga hidung terbuka, palatum molle turun untuk aliran udara. Refleks Nasal Mukosa hidung merupakan reseptor refleks yang berhubungan dengan saluran cerna, kardiovaskuler dan pernapasan. Contohnya, iritasi mukosa hidung menyebabkan refleks bersin dan napas terhenti. Rangsang bau tertentu menyebabkan sekresi kelenjar liur, lambung dan pankreas.4,5

11

DEVIASI SEPTUM NASI

Bentuk septum normal ialah lurus di tengah rongga hidung, tetapi pada orang dewasa biasanya tidak lurus sempurna di garis tengah. Deviasi septum yang ringan tidak akan mengganggu, akan tetapi bila deviasi itu cukup berat akan menyebabkan penyempitan pada satu sisi hidung. Dengan demikian dapat terjadi gangguan fungsi hidung dan menyebabkan komplikasi.2

Definisi dan Klasifikasi Deviasi septum ialah suatu keadaan dimana terjadi peralihan posisi septum nasi dari letaknya yang berada di garis medial tubuh. Deviasi septum menurut Mladina dibagi atas beberapa klasifikasi berdasarkan letak deviasi, yaitu : 1. Tipe I : benjolan unilateral yang belum mengganggu aliran udara. 2. Tipe II : benjolan unilateral yang sudah mengganggu aliran udara, namun masih belum menunjukkan gejala klinis yang bermakna. 3. Tipe III : deviasi pada konka media (area osteomeatal dan meatus media). 4. Tipe IV : S septum (posterior ke sisi lain, dan anterior ke sisi lainnya). 5. Tipe V : tonjolan besar unilateral pada dasar septum, sementara di sisi lain masih normal. 6. Tipe VI : tipe V ditambah sulkus unilateral dari kaudal-ventral, sehingga menunjukkan rongga yang asimetri. 7. Tipe VII : kombinasi lebih dari satu tipe, yaitu tipe I-tipe VI.1,6

12

Gambar 6. Klasifikasi Deviasi Septum Nasi Menurut Mladina

Bentuk-bentuk dari deformitas septum nasi berdasarkan lokasinya, yaitu : 1) Spina dan Krista Merupakan penonjolan tajam tulang atau tulang rawan septum yang dapat terjadi pada pertemuan vomer di bawah dengan kartilago septum dan atau os ethmoid di atasnya. Bila memanjang dari depan ke belakang disebut krista, dan bila sangat runcing dan pipih disebut spina. Tipe deformitas ini biasanya merupakan hasil dari kekuatan kompresi vertikal. 2) Deviasi Lesi ini lebih karakteristik dengan penonjolan berbentuk C atau S yang dapat terjadi pada bidang horisontal atau vertikal dan biasanya mengenai kartilago maupun tulang. 3) Dislokasi Batas bawah kartilago septum bergeser dari posisi medialnya dan menonjol ke salah satu lubang hidung. Septum deviasi sering disertai dengan kelainan pada struktur sekitarnya.

13

4) Sinekia Bila deviasi atau krista septum bertemu dan melekat dengan konka di hadapannya. Bentuk ini akan menambah beratnya obstruksi.1,2

Kelainan struktur akibat deviasi septum nasi dapat berupa : 1) Dinding Lateral Hidung Terdapat hipertrofi konka dan bula ethmoidalis. Ini merupakan kompensasi yang terjadi pada sisi konkaf septum. 2) Maksila Daya kompresi yang menyebabkan deviasi septum biasanya asimetri dan juga dapat mempengaruhi maksila sehingga pipi menjadi datar, pengangkatan lantai kavum nasi, distorsi palatum dan abnormalitas ortodonti. Sinus maksilaris sedikit lebih kecil pada sisi yang sakit. 3) Piramid Hidung Deviasi septum nasi bagian anterior sering berhubungan dengan deviasi pada piramid hidung. 4) Perubahan Mukosa Udara inspirasi menjadi terkonsentrasi pada daerah yang sempit menyebabkan efek kering sehingga terjadi pembentukan krusta. Pengangkatan krusta dapat menyebabkan ulserasi dan perdarahan. Lapisan proteksi mukosa akan hilang dan berkurangnya resistensi terhadap infeksi. Mukosa sekitar deviasi akan menjadi edema sebagai akibat fenomena Bernouili yang kemudian menambah derajat obstruksi.1

Jin RH dkk membagi deviasi septum berdasarkan berat atau ringannya keluhan : 1) Ringan Deviasi kurang dari setengah rongga hidung dan belum ada bagian septum yang menyentuh dinding lateral hidung. 2) Sedang Deviasi kurang dari setangah rongga hidung tetapi ada sedikit bagian septum yang menyentuh dinding lateral hidung. 3) Berat Deviasi septum sebagian besar sudah menyentuh dinding lateral hidung.3

14

Jin RH dkk juga mengklasifikasikan deviasi septum menjadi 4, yaitu : 1) Deviasi lokal termasuk spina, krista dan dislokasi bagian kaudal 2) Lengkungan deviasi tanpa deviasi yang terlokalisir 3) Lengkungan deviasi dengan deviasi lokal 4) Lengkungan deviasi yang berhubungan dengan deviasi hidung luar.3

Gambar 7. Klasifikasi Deviasi Septum Menurut Jin RH dkk

Etiologi Deviasi septum umumnya disebabkan oleh trauma langsung dan biasanya berhubungan dengan kerusakan pada bagian lain hidung, seperti fraktur os nasal. Pada sebagian pasien, tidak didapatkan riwayat trauma, sehingga Gray (1972) menerangkannya dengan teori birth Moulding. Posisi intrauterin yang abnormal dapat menyebabkan tekanan pada hidung dan rahang atas, sehingga dapat terjadi pergeseran septum. Demikian pula tekanan torsi pada hidung saat kelahiran (partus) dapat menambah trauma pada septum.1,2 Faktor risiko deviasi septum lebih besar ketika persalinan. Setelah lahir, resiko terbesar ialah dari olahraga, misalnya olahraga kontak langsung (tinju, karate, judo) dan tidak menggunakan helm atau sabuk pengaman ketika berkendara.1,3 Penyebab lainnya ialah ketidakseimbangan pertumbuhan. Tulang rawan septum nasi terus tumbuh, meskipun batas superior dan inferior telah menetap, juga karena perbedaan pertumbuhan antara septum dan palatum. Dengan demikian terjadilah deviasi septum.2

Gejala Klinis Gejala yang sering timbul biasanya adalah sumbatan hidung yang unilateral atau juga bilateral. Hal ini terjadi karena pada sisi hidung yang mengalami deviasi terdapat konka yang hipotrofi, sedangkan pada sisi sebelahnya terjadi konka yang hipertrofi sebagai akibat 15

mekanisme kompensasi. Keluhan lainnya ialah rasa nyeri di kepala dan di sekitar mata. Selain itu, penciuman juga bisa terganggu apabila terdapat deviasi pada bagian atas septum. Deviasi septum juga dapat menyumbat ostium sinus sehingga merupakan faktor predisposisi terjadinya sinusitis.2 Jadi deviasi septum dapat menyebabkan satu atau lebih dari gejala berikut ini : Sumbatan pada salah satu atau kedua nostril Kongesti nasalis biasanya pada salah satu sisi Perdarahan hidung (epistaksis) Infeksi sinus (sinusitis) Kadang-kadang juga nyeri pada wajah, sakit kepala, dan postnasal drip. Mengorok saat tidur (noisy breathing during sleep), terutama pada bayi dan anak.6,7 Pada beberapa kasus, seseorang dengan deviasi septum yang ringan hanya menunjukkan gejala ketika mengalami infeksi saluran pernapasan atas, seperti common cold. Dalam hal ini, adanya infeksi respiratori akan mencetuskan terjadinya inflamasi pada hidung dan secara perlahan-lahan menyebabkan gangguan aliran udara di dalam hidung. Kemudian terjadilah sumbatan/obstruksi yang juga terkait dengan deviasi septum nasi. Namun, apabila common cold telah sembuh dan proses inflamasi mereda, maka gejala obstruksi dari deviasi septum nasi juga akan menghilang.7

Diagnosis Deviasi septum biasanya sudah dapat dilihat melalui inspeksi langsung pada batang hidungnya. Dari pemeriksaan rinoskopi anterior, dapat dilihat penonjolan septum ke arah deviasi jika terdapat deviasi berat, tapi pada deviasi ringan, hasil pemeriksaan bisa normal.1 Penting untuk pertama-tama melihat vestibulum nasi tanpa spekulum, karena ujung spekulum dapat menutupi deviasi bagian kaudal. Pemeriksaan seksama juga dilakukan terhadap dinding lateral hidung untuk menentukan besarnya konka. Piramid hidung, palatum, dan gigi juga diperiksa karena struktur-struktur ini sering terjadi gangguan yang berhubungan dengan deformitas septum.1,2 Namun, diperlukan juga pemeriksaan radiologi untuk memastikan diagnosisnya. Pada pemeriksaan Rontgen kepala posisi antero-posterior tampak septum nasi yang bengkok. Pemeriksaan nasoendoskopi dilakukan bila memungkinkan untuk menilai deviasi septum

16

bagian posterior atau untuk melihat robekan mukosa. Bila dicurigai terdapat komplikasi sinus paranasal, dilakukan pemeriksaan X-ray sinus paranasal.1

Penatalaksanaan

Bila gejala tidak ada atau keluhan sangat ringan, tidak perlu dilakukan tindakan koreksi septum.

Analgesik, digunakan untuk mengurangi rasa sakit. Dekongestan, digunakan untuk mengurangi sekresi cairan hidung. Pembedahan :
o

Septoplasty (Reposisi Septum) Septoplasty merupakan operasi pilihan (i) pada anak-anak, (ii) dapat dikombinasi dengan rhinoplasty, dan (iii) dilakukan bila terjadi dislokasi pada bagian caudal dari kartilago septum. Operasi ini juga dapat dikerjakan bersama dengan reseksi septum bagian tengah atau posterior. Pada operasi ini, tulang rawan yang bengkok direposisi. Hanya bagian yang berlebihan saja yang dikeluarkan. Dengan cara operasi ini dapat dicegah komplikasi yang mungkin timbul pada operasi reseksi submukosa, seperti terjadinya perforasi septum dan saddle nose. Operasi ini juga tidak berpengaruh banyak terhadap pertumbuhan wajah pada anak-anak.

SMR (Sub-Mucous Resection) Pada operasi ini, muko-perikondrium dan muko-periosteum kedua sisi dilepaskan dari tulang rawan dan tulang septum. Bagian tulang atau tulang rawan dari septum kemudian diangkat, sehingga muko-perikondrium dan mukoperiosteum sisi kiri dan kanan akan langsung bertemu di garis tengah. Reseksi submukosa dapat menyebabkan komplikasi, seperti terjadinya hidung pelana (saddle nose) akibat turunnya puncak hidung, oleh karena bagian atas tulang rawan septum terlalu banyak diangkat. Tindakan operasi ini sebaiknya tidak dilakukan pada anak-anak karena dapat mempengaruhi pertumbuhan wajah dan menyebabkan runtuhnya dorsum nasi.2,8,9

17

Komplikasi Deviasi septum dapat menyumbat ostium sinus, sehingga merupakan faktor predisposisi terjadinya sinusitis. Selain itu, deviasi septum juga menyebabkan ruang hidung sempit, yang dapat membentuk polip. Sedangkan komplikasi post-operasi, diantaranya : 1) Uncontrolled Bleeding. Hal ini biasanya terjadi akibat insisi pada hidung atau berasal dari perdarahan pada membran mukosa. 2) Septal Hematoma. Terjadi sebagai akibat trauma saat operasi sehingga menyebabkan pembuluh darah submukosa pecah dan terjadilah pengumpulan darah. Hal ini umumnya terjadi segera setelah operasi dilakukan. 3) Nasal Septal Perforation. Terjadi apabila terbentuk rongga yang menghubungkan antara kedua sisi hidung. Hal ini terjadi karena trauma dan perdarahan pada kedua sisi membran di hidung selama operasi. 4) Saddle Deformity. Terjadi apabila kartilago septum terlalu banyak diangkat dari dalam hidung. 5) Recurrence of The Deviation. Biasanya terjadi pada pasien yang memiliki deviasi septum yang berat yang sulit untuk dilakukan perbaikan.7,8

Prognosis Deviasi septum ialah suatu keadaan dimana terjadi peralihan posisi dari septum nasi dari letaknya yang berada di garis medial tubuh. Prognosis pada pasien deviasi septum setelah menjalani operasi cukup baik dan pasien dalam 10-20 hari dapat melakukan aktivitas sebagaimana biasanya. Hanya saja pasien harus memperhatikan perawatan setelah operasi dilakukan. Termasuk juga pasien harus juga menghindari trauma pada daerah hidung.1

18

KESIMPULAN

Deviasi septum nasi dapat berupa kelainan bawaan sejak lahir atau paling sering terjadi akibat trauma. Risiko terjadinya deviasi septum meningkat pada laki-laki karena lebih banyak terpapar dengan lingkungan dan trauma. Deviasi septum yang ringan tidak memberikan keluhan, sedangkan yang berat dapat menyebabkan kesulitan bernapas akibat obstruksi nasal.9 Terapi konservatif untuk obstruksi nasal dapat dilakukan dengan pemberian obatobatan untuk mengatasi gejala pada pasien. Namun untuk mengkoreksi deviasi septum, tindakan pembedahan sangat penting. Tujuannya adalah untuk mencegah terjadinya perburukan kondisi pasien sehingga menyebabkan berbagai komplikasi. Tingkat keberhasilan tindakan pembedahan yang diharapkan tergantung pada berat ringannya deviasi septum nasi yang terjadi.8 Secara umum, sebagian besar pasien dengan deviasi septum nasi lebih baik dilakukan tindakan septoplasty dibandingkan dengan sub-mucous resection (SMR) karena adanya komplikasi post-SMR, seperti perforasi septum, perdarahan, dan saddle nose.7,9

19

DAFTAR PUSTAKA

1. Budiman BJ, Asyari A. Pengukuran Sumbatan Hidung Pada Deviasi Septum Nasi. Bagian Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher (THT-KL) Fakultas Kedokteran Universitas Andalas : Padang. 28 Juli 2011 : hlm 1-7. Available at :

http://repository.unand.ac.id/17339/1/Pengukuran_Sumbatan_Hidung_Pada_Deviasi_Sep tum.pdf (Accessed : 2012 April 7) 2. Nizar NW, Mangunkusumo E. Kelainan Septum. Dalam : Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD, editor. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Edisi Keenam. Cetakan Keempat. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. 2010 : hlm 126-127. 3. Jin HR, Lee JY, Jung WJ. New Description Method and Classification System for Septal Deviation. Department of Otorhinolaryngology, Seoul National University, College of Medicine, Boramae Hospital : Seoul. Journal Rhinology, 2007; 14 : 27-31. Available at : http://www.doctorjin.co.kr/Journal%20PDF/50%20New%20description%20method%20a nd%20classification%20system%20for%20septal%20deviation_2007_06.pdf (Accesed : 2012 April 5) 4. Higler PA. Hidung : Anatomi dan Fisiologi Terapan. Dalam : Adams GL, Boies LR, Higler PA. Boies Buku Ajar Penyakit THT. Edisi 6. Cetakan Ketiga. Jakarta : EGC. 1997 : hlm 173-188. 5. Soetjipto D, Mangunkusumo E, Wardani RS. Hidung. Dalam : Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD, editor. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Edisi Keenam. Cetakan Keempat. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. 2010 : hlm 118-122. 6. Baumann I, Baumann H. A New Classification of Septal Deviations. Department of Otolaryngology, Head and Neck Surgery, University of Heidelberg : Germany. Journal of Rhinology, 2007; 45 : 220-223. Available at :

http://www.rhinologyjournal.com/Rhinology_issues/44_Baumann.pdf (Accessed : 2012 April 7) 7. Park JK, Edward IL. Deviated Septum. The Practice of Marshfield Clinic, American Academy of Otolaryngology Head and Neck Surgery. 2005. Available at :

20

http://www.marshfieldclinic.org/proxy/MC-ent-DeviatedSeptum.1.pdf (Accessed : 2012 April 7) 8. Bull PD. The Nasal Septum. In : Lecture Notes on Diseases of The Ear, Nose and Throat. Ninth Edition. USA : Blackwell Science Ltd. 2002 : p. 81-85. 9. Widjoseno-Gardjito, editor. Kepala dan Leher. Dalam : Sjamsuhidajat R, Wim de Jong, editor. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Cetakan I. Jakarta : EGC. 2005 : hlm 365-366.

21

Anda mungkin juga menyukai