Anda di halaman 1dari 8

Hubungan indeks massa tubuh (IMT) dengan usia menarche pada remaja putrid di SMP N 3 Cilacap tahun 2012

Desi Puspitasari; 09 2012

IMT (Indeks Massa Tubuh) a. Pengertian Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI) didefinisikan sebagai bobot badan dalam kilogram dibagi luas permukaan tubuh yang diukur dalam meter. BMI biasanya dinyatakan tanpa satuan, namun satuan yang disepakati adalah kg/m2 b. IMT sebagai indicator status gizi Status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu, atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk variabel tertentu, contohnya gondok endemic yang merupakan keadaan tidak seimbangnya pemasukan dan pengeluaran yodium dalam tubuh (Setiyabudi, 2007). Gizi adalah suatu proses organism menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absorbs, transportasi, penyimpanan, metabolism dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan energi (Setiyabudi, 2007). Baik gizi kurang maupun gizi lebih memegang peranan penting pada morbiditas dan mortalitas. Dengan demikian, pengkajian status gizi merupakan landasan bagi berbagai upaya untuk memperbaiki kesehatan perorangan dan masyarakat di seluruh dunia. Menurut Michael J. Gibney (1991) penentuan status gizi dapat dilakukan dalam beberapa cara yaitu ada empat pendekatan utama untuk mengkaji status gizi, antara lain: 1. Antropometri yang mengukur besar dan komposisi tubuh manusia. 2. Bio marker yang mencerminkan asupan nutrient dan dampak yang ditimbulkan oleh asupan nutrient tersebut. 3. Pemeriksaan klinis yang memastikan konsekuensi klinis akibat ketidakseimbangan asupan nutrient. 4. Pengkajian makanan yang meliputi asupan makanan dan nutrient. Masing-masing pendekatan ini memiliki kekuatan dan keterbatasan yang berbeda. Ukuran antropometri (yaitu tinggi dan berat badan) mudah dikumpulkan dan akurat. Namun demikian, ukuran ini juga menggambarkan aktivitas fisik disamping asupan makanan dan hanya mencerminkan keseimbangan energy jangka panjang. Pengukuran antrometri merupakan bagian dari pemeriksaan klinis dan dapat meliputi pengukuran berat badan, lipatan kulit serta lingkar berbagai ukuran tubuh (sirkum ferensia). Tinggi dan berat badan biasanya digabungkan dengan mengikuti cara tertentu untuk mendapatkan satu ukuran tunggal yang menggambarkan berat relative terhadap tinggi badan,

ukuran tunggal ini merupakan indicator untuk menunjukkan gizi kurang atau gizi lebih energy jangka panjang. Indikator antropometri yang dapat digunakan untuk menilai status gizi adalah Indeks Massa Tubuh (IMT) sebagai alat penyaringan yang cepat dan efektif untuk menilai status gizi. IMT merupakan pembagian berat badan (dalam kilogram) terhadap kuadrat tinggi badan (dalam meter). IMT dapat digunakan dalam rentang yang panjang yaitu usia 2-20 tahun. Untuk anak digunakan IMT yang spesifik menurut usia dan gender. Penggunaan IMT menurut umur memiliki kegunaan diantaranya adalah menyediakan suatu referensi alat screening bagi remaja yang sebelumnya belum tersedia. Konsisten dengan indeks orang dewasa sehingga digunakan secara kontinu sejak usia 2 tahun sampai dewasa untuk mengecek kelebihan berat badan pada saat masa kanak-kanak sampai masa dewasa. Keuntungan lain dari penggunaan IMT menurut umur adalah dapat melacak faktor risiko pada masa kanak-kanak terhadap perkembangan penyakit masa dewasa seperti risiko terkena penyakit kardiovaskuler, termasuk didalamnya penyakit hiperlipidemia, peningkatan insulin dan tekanan darah tinggi. c. Menentukan status gizi dengan hitung IMT Indeks Massa Tubuh (IMT) dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut: [ ]

Berdasarkan National Institutes of Health (NIH), individu dengan nilai Indeks Massa Tubuh (IMT): 1. Kurang dari 18,5 dianggap kekurangan bobot badan. 2. 18,5 sampai dengan 24,9 dianggap memiliki bobot badan normal. 3. 25 sampai dengan 29,9 dianggap kelebihan bobot badan. 4. 30 keatas digolongkan sebagai gemuk; dan 5. 40 keatas digolongkan sangat gemuk. Sedangkan pengelompokan status gizi berdasarkan tabel IMT Depkes anak usia 5-15 tahun, yaitu status gizi kurus, normal, risiko gemuk, dan gemuk, adalah sesuai dengan tabel berikut: Tabel Tentang status Gizi Berdasarkan Tabel IMT Depkes RI

BBLR 80 2010; 35 2009 Pengertian Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram tanpa memandang masa gestasi (berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 jam setelah lahir) (Wiknjosastro, 2007). Bayi dikatakan berat lahir rendah (BBLR) bila berat bayi 2500 gram saat dilahirkan tanpa memandang masa gestasi (Wiknjosastro, 2008). Sejak tahun 1961 WHO telah mengganti istilah premature baby dengan low birth weight baby (Bayi dengan Berat Lahir Rendah = BBLR). Hal ini dilakukan karena tidak semua bayi dengan berat kurang dari 2500 gram pada waktu lahir disebut bayi premature. BBLR adalah bila berat badannya kurang dari 2500 gram (sampai dengan 2499 gram). Bayi yang dilahirkan dengan BBLR umumnya kurang mampu meredam tekanan lingkungan yang baru sehingga dapat mengakibatkan pada terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan, bahkan dapat mengganggu kelangsungan hidupnya (Wiknjosastro, 2006). Menurut Manuaba (2007), tidak semua bayi dengan berat badan lahir rendah bermasalah dianggap sebagai bayi premature, tetapi terdapat beberapa criteria sebagai berikut: 1. Berat badan lahir rendah, sesuai dengan umur kehamilannya, menurut perhitungan hari pertama haid terakhir. 2. Bayi dengan ukuran kecil masa kehamilan (KMK), artinya bayi yang berat badannya kurang dari persentil ke-10 dari berat sesungguhnya yang harus dicapai, menurut umur kehamilannya. 3. Atau berat badan lahir rendah ini disebabkan oleh kombinasi keduanya artinya: a) Umur hamilnya belum waktunya untuk lahir. b) Tumbuh kembang intrauteri, mengalami gangguan sehingga terjadi kecil untuk masa kehamilannya. WHO (1979) membagi umur kehamilan dalam 3 kelompok yaitu: 1) Pre-term yaitu umur kehamilan kurang dari 37 minggu lengkap (kurang dari 259 hari). 2) Term yaitu umur kehamilan mulai dari 37 minggu sampai kurang dari 42 minggu lengkap (259 sampai 293 hari). 3) Post-term yaitu 42 minggu lengkap atau lebih (294 hari atau lebih). Menurut Proverawati (2010), tanda-tanda dari bayi BBLR adalah sebagai berikut: 1) Umur kehamilan sama dengan atau kurang dari 37 minggu. 2) Berat badan sama dengan atau kurang dari 2500 gram. 3) Panjang badan sama dengan atau kurang dari 46 cm, lingkar kepala sama dengan atau kurang dari 33 cm, lingkar dada sama dengan atau kurang dari 30 cm. 4) Rambut lanugo masih banyak. 5) Jaringan lemak subkutan tipis atau kurang. 6) Tulang rawan daun telinga belum sempurna pertumbuhannya. 7) Tumit mengkilap, telapak kaki halus.

8) Genetalia belum sempurna, labia minora belum tertutup oleh labia mayor, klitoris menonjol (pada bayi perempuan). Testis belum turun ke dalam skrotum, pigmentasi dan rugue pada skrotum kurang (pada bayi laki-laki). 9) Tonus otot lemah sehingga bayi kurang aktif dan pergerakannya lemah. 10) Fungsi syaraf yang belum atau tidak efektif dan tangisannya lemah. 11) Jaringan kelenjar mammae masih kurang akibat pertumbuhan otot dan jaringan lemak masih kurang. 12) Vernic caseosa tidak ada atau sedikit bila ada. b. Penyebab Menurut Wiknjosastro (2007), penyebab dari BBLR antara lain: 1) Persalinan kurang bulan / premature Bayi lahir pada umur kehamilan kurang dari 37 minggu. Pada umumnya bayi kurang bulan disebabkan tidak mampunya uterus menahan janin, gangguan selama kehamilan, lepasnya plasenta lebih cepat dari waktunya atau rangsangan yang memudahkan terjadinya kontraksi uterus sebelum cukup bulan. Bayi lahir kurang bulan mempunyai organ dan alat tubuh yang belum berfungsi normal untuk bertahan hidup di luar rahim. Semakin muda umur kehamilan, fungsi organ tubuh semakin kurang sempurna dan prognosisnya semakin kurang baik. Kelompok BBLR ini sering mendapatkan penyulit atau komplikasi akibat kurang matangnya organ karena masa gestasi yang kurang (premature). 2) Bayi lahir kecil untuk masa kehamilan Bayi lahir kecil untuk masa kehamilan adalah bayi yang mengalami hambatan pertumbuhan saat dalam kandungan (janin tumbuh lambat atau retardasi pertumbuhan intra uterin) dengan berat lahir persentil ke-3 grafik pertumbuhan janin (Lubchenco). Hal ini dapat disebabkan oleh terganggunya sirkulasi dan efisiensi plasenta, kurang baiknya keadaan umum ibu atau gizi ibu, atau hambatan pertumbuhan yang berasal dari bayinya sendiri. Kondisi bayi lahir kecil sangat tergantung pada usia kehamilan saat dilahirkan dan berapa lama terjadinya hambatan pertumbuhan itu dalam kandungan. c. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kejadian BBLR 1) Faktor ibu a) Umur Umur reproduksi optimal bagi seorang ibu adalah antara umur 20-35 tahun, dibawah dan diatas usia tersebut akan meningkatkan risiko kehamilan dan persalinan (Depkes RI, 2003). b) Paritas Paritas yang tinggi akan berdampak pada timbulnya berbagai masalah kesehatan baik bagi ibu maupun bayi yang dilahirkan. Salah satu dampak kesehatan yang mungkin timbul dari paritas yang tinggi adalah berhubungan dengan kejadian BBLR (Bobak, 2005). c) Jarak kehamilan

Jarak kehamilan kurang dari 2 tahun dapat menimbulkan pertumbuhan janin kurang baik, persalinan lama dan perdarahan pada saat persalinan karena keadaan rahim belum pulih dengan baik (Dian, 2010). d) Gizi kurang Bayi BBLR akan meningkat jumlahnya di suatu daerah, bila kondisi ibu hamil di masyarakat tersebut mempunyai keadaan kesehatan yang kurang memuaskan (Sediaoetama, 2004). Kegagalan kenaikan berat badan ibu pada trimester I dan II akan meningkatkan risiko terjadi BBLR. Kekurangan gizi pada ibu lebih cenderung mengakibatkan BBLR atau kelainan yang bersifat umum daripada menyebabkan kelainan anatomic yang spesifik. Kekurangan gizi menimbulkan anemia zat gizi dan zat besi yang dapat mempengaruhi tumbuh kembang janin dalam rahim, tumbuh kembang yang kurang akan menimbulkan BBLR, keguguran, persalinan preterm, tumbuh kembang syaraf pusat terganggu / IQ rendah (Manuaba, 2008). 2) Riwayat kehamilan a) Hamil dengan hidramnion Hidramnion sering disebut dengan polihidramnion merupakan keadaan cairan amnion melebihi 2000 cc. Hidramnion dapat menimbulkan persalinan sebelum kehamilan 28 minggu, sehingga dapat menyebabkan kelahiran prematur dan dapat mengakibatkan kejadian BBLR (Sastrawinata, 2005). b) Hamil ganda Yaitu kehamilan dimana jumlah janin yang dikandung lebih dari satu. Berat badan kedua janin pada kehamilan kembar tidak sama, dapat berbeda antara 50 sampai 1000 gram, karena pembagian darah pada plasenta untuk kedua janin tidak sama (Wiknjosastro, 2007). Regangan pada uterus yang berlebihan pada kehamilan ganda merupakan salah satu faktor yang menyebabkan kelahiran BBLR. Pada kehamilan ganda distensi uterus berlebihan, sehingga melewati batas toleransi dan sering terjadi partus premature. Kebutuhan ibu akan zat-zat makanan pada kehamilan ganda bertambah yang dapat menyebabkan anemia dan penyakit defisiensi lain, sehingga sering lahir bayi yang kecil. Kematian perinatal anak kembar lebih tinggi daripada anak dengan kehamilan tunggal dan prematuritas merupakan penyebab utama (Wiknjosastro, 2007). 3) Perdarahan antepartum Perdarahan antepartum merupakan perdarahan pada kehamilan diatas 22 minggu hingga menjelang persalinan yaitu sebelum bayi dilahirkan (Saifuddin, 2002). Sedangkan menurut Sastrawinata (2005), perdarahan antepartum ialah perdarahan pada trimester terakhir dari kehamilan. Perdarahan antepartum yang berbahaya umumnya bersumber dari kelainan plasenta seperti plasenta previa dan solusio plasenta. Komplikasi utama dari perdarahan antepartum adalah perdarahan yang menyebabkan anemia dan syok yang menyebabkan keadaan ibu semakin jelek. Keadaan ini yang menyebabkan gangguan ke plasenta yang

mengakibatkan anemia pada janin bahkan terjadi syok intra uterin yang mengakibatkan kematian janin intra uterin (Wiknjosastro, 2007). 4) Faktor janin a) Pre-eklamsia / Eklamsia Pre-eklamsia/Eklamsia ialah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, edema, dan proteinuria yang timbul karena kehamilan. Penyakit ini umumnya terjadi dalam trimester ketiga kehamilan, tetapi dapat terjadi sebelumnya misalnya pada mola hidatidosa. Pre-eklamsi/Eklamsi dapat mengakibatkan keterlambatan pertumbuhan janin dlam kandungan atau IUGR dan kelahiran mati. Hal ini disebabkan karena preeklamsia/Eklamsi pada ibu dapat menurunkan aliran darah ke plasenta sehingga mengakibatkan gangguan fungsi plasenta, sedangkan bayo memperolah makanan dan oksigen dari plasenta, suplai makanan dan oksigen yang masuk ke janin berkurang. Pada hipertensi yang agak lama pertumbuhan janin akan terganggu dan pada hipertensi yang agak pendek bisa terjadi gawat janin sampai kematian janin karena kekurangan oksigenasi, selain itu pada ibu dengan pre-ekalmsia/eklamsia juga mudah terjadi partus prematurus yang sering mengakibatkan BBLR (Wiknjosastro, 2006). b) Ketuban pecah dini Menurut Nugroho (2010), ketuban pecah dini (KPD) adalah pecahnya ketuban sebelum waktunya melahirkan atau sebelum inpartu, pada pembukaan 4 cm (fase laten). KPD disebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan membrane yang diakibatkan oleh adanya infeksi yang dapat berasal dari vagina dan serviks. Pada persalinan normal selaput ketuban biasanya pecah atau dipecahkan setelah pembukaan lengkap. Komplikasi yang dapat timbul akibat KPD antara lain infeksi maternal ataupun neonatal, hipoksia karena kompresi tali pusat dan persalinan premature (Wiknjosastro, 2006). c) Hipertensi Penyakit hipertensi dalam kehamilan merupakan kelainan vaskuler yang terjadi sebelum kehamilan atau timbul dalam kehamilan atau pada permulaan persalinan, hipertensi dalam kehamilan menjadi penyebab penting dari kelahiran mati dan kematian neonatal. Ibu dengan hipertensi menyebabkan terjadinya insufisiensi plasenta, hipoksia sehingga pertumbuhan janin terhambat dan sering terjadi kelahiran premature (Wiknjosastro,2006). 5) Faktor janin a) Cacat bawaan Yaitu kelainan janin yang cacat sebagai akibat pertumbuhan janin dalam kandungan tidak sempurna. Kelainan congenital merupakan kelainan dalam pertumbuhan struktur bayi yang timbul sejak kehidupan hasil konsepsi sel telur (Wiknjosastro, 2006).

Bayi yang dilahirkan dengan kelainan congenital, umumnya akan dilahirkan sebagai bayi dengan berat lahir rendah atau bayi kecil untuk masa kehamilannya. BBLR dengan kelainan congenital, kira-kira 20% meninggal dalam minggu pertama kehidupannya (Wiknjosastro, 2007). b) Infeksi dalam rahim Yaitu janin mengalami infeksi sebagai akibat penyakit yang diderita ibu. Ibu hamil yang menderita HIV/AIDS maka janinnya sangat rentan mengakibatkan infeksi dalam rahim. Infeksi hepatitis terhadap kehamilan bersumber dari gangguan fungsi hati dalam mengatur dan mempertahankan metabolism tubuh, sehingga aliran nutrisi ke janin dapat terganggu atau berkurang. Oleh karena itu, pengaruh infeksi hepatitis menyebabkan abortus atau persalinan premature dan kematian janin dalam rahim (Manuaba, 2001). Wanita hamil dengan infeksi rubella akan berakibat buruk terhadap janin. Infeksi ini dapat menyebabkan bayi berat lahir rendah, cacat bawaan dan kematian janin (Wiknjosastro, 2001), bagi ibu sepsis daya tahan relative menurun yang mengakibatkan janin: (1) Abortus. (2) Prematuritas. (3) Ketuban pecah dini. (4) BBLR / IUGR. (5) Kelainan congenital. (6) Neonatus dengan infeksi. d. Klasifikasi Menurut Surasmi (2003) klasifikasi BBLR berdasarkan berat badan yaitu: 1) Bayi berat badan lahir amat sangat rendah adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 1000 gram. 2) Bayi berat badan lahir sangat rendah adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 1500 gram. 3) Bayi berat badan lahir cukup rendah adalah bayi yang lahir dengan berat badan 1501-2500 gram. Menurut Proverawati (2010), bayi BBLR menurut masa gestasinya dapat dibagi menjadi: 1) Prematuritas murni yaitu masa gestasinya kurang dari 37 minggu dan berat badannya sesuai dengan berat badan untuk masa gestasi berat atau biasa disebut neonates kurang bulan sesuai untuk masa kehamilan (NCB-SMK). 2) Dismaturitas yaitu bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa gestasi itu. Berat mengalami retardasi pertumbuhan intrauterin dan merupakan bayi yang kecil untuk masa kehamilannya (KMK). Sedangkan menurut Fraser (2009), ada 4 tipe bayi BBLR yaitu:

1) Bayi dengan laju pertumbuhan intrauteri normal pada saat lahir, bayi tersebut kecil karena persalinan dimulai sebelum akhir 37 minggu gestasi. Bayi prematur ini tumbuh sesuai dengan usia gestasi (SMK). 2) Bayi dengan laju pertumbuhan intrauteri terlambat dan yang dilahirkan aterm atau lebih dari aterm atau postterm ini pertumbuhannya kurang untuk usia gestasi dan sering disebut kecil untuk masa kehamilan (KMK). 3) Bayi dengan laju pertumbuhan intrauteri lambat dan sebagai tambahan, yang dilahirkan sebelum aterm, bayi prematur ini kecil, baik karena persalinan dini maupun pertumbuhan intrauteri yang terganggu. 4) Bayi yang dianggap besar untuk masa kehamilan (LGA) di berat badan berapa pun bila mereka berada di atas 90 persentil. e. Komplikasi BBLR dapat mengalami komplikasi sebagai berikut: 1) Asfiksia BBLR bisa terjadi kurang, cukup atau lebih bulan, semuanya berdampak pada proses adaptasi pernafasan waktu lahir sehingga mengalami asfiksia lahir. BBLR membutuhkan kecepatan dan ketrampilan resusitasi (Wiknjosastro, 2008). 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) f. Gangguan pernafasan Hipotermi Hipoglikemi Masalah pemberian ASI Infeksi Ikterus Masalah perdarahan

Anda mungkin juga menyukai