Anda di halaman 1dari 63

BAB I PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan semakin kompleksnya masalah psikologis sebagai akibat dari modernisasi, industri, globalisasi dan komunikasi yang sangat canggih, mengakibatkan kecenderungan meningkatkan angka gangguan mental psikiatri di kalangan masyarakat saat ini, yang akan datang dan terus menjadi masalah sekaligus tantangan bagi tenaga kesehatan, khususnya tenaga perawat. Krisis multi dimensi telah mengakibatkan tekanan yang keras pada sebagian masyarakat. Selain mengalami gangguan fisik seperti gangguan gizi, dan penyakit infeksi, juga gangguan pada kesehatan mental yang pada akhirnya dapat menurunkan produktivitas kerja, kualitas hidup, secara nasional dan mungkin akan mengalami kemunduran generasi (Azrul Azwar, 2001).

Menurut WHO, prevalensi gangguan jiwa pada tahun 2006 di atas 100 jiwa per 1000 penduduk didunia, sedangkan di Indonsia mencapai 264 per 1000 penduduk (hasil survey kesehatan rumah tangga) atau 2,6 kali lebih tinggi ketentuan WHO (Azrul Azwar, 2001). Waham adalah keyakinan individu yang tidak dapat di validasi atau di buktikan dengan realitas, keyakinan individu tersebut tidak sesuai dengan intelektual dan latar belakang budayanya, tidak dapat digoyangkan atau diubah dengan alasan yang logis dan keyakinan tersebut diucapkan berulang- ulang (Rawlin, 1993). Berdasarkan hal tersebut diatas mengingat banyaknya populasi klien dengan waham dan pentingnya strategi keperawatan yang diberikan maka kelompok akan menyajikan asuhan keperawatan dengan waham.

2. TUJUAN a. Tujuan umum Untuk mendapatkan gambaran umum tentang penerapan proses keprawatan pada klien yang mengalami gangguan isi piker : waham kebesaran. b. Tujuan Khusus 1. Dapat melakukan pengkajian, analisa data, merumuskan masalah keperawatan, membuat pohon masalah dan menetapkan diagnosa keperawatan. 2. Dapat menyusun rencana keperawatan sesuai masalah keperawatan pada klien dengan waham 3. Dapat melakukan implementasi keperawatan pada klien dengan waham 4. Dapat melakukan evaluasi terhadap tindakan keperawatan yang telah dilakukan

pada klien dengan waham.

3. MANFAAT 1. Masukan bagi ilmu keperawatan kususnya keperawatan kesehatan jiwa dalam meningkatkan mutu asuhan keperawatan. 2. Menambah pengetahuan klien dan keluarga dalam merawat klien dengan gangguan waham.

BAB II TINJAUAN TEORITIS

A. PENGERTIAN WAHAM Waham adalah Keyakinan terhadap sesuatu yang salah dan secara kukuh dipertahankan walaupun tidak diyakini oleh orang lain dan bertentangan dengan realita normal ( Stuart dan Sundeen, 1998 ) Waham adalah keyakinan klien Yang tidak sesuai dengan kenyataan tetapi di pertahankan dan tidak dapat diubah secara logis oleh orang lain, keyakinan ini berasal dari pemikiran klien yang sudah kehilangan kontrol ( Depkes RI, 2000 ) Waham adalah suatu keyakinan seseorang yang berdasarkan penilaian realitas yang salah, keyakinan yang tidak konsisten dengan tingkat intelektual dan latar belakang budaya, ketidakmampuan merespon stimulus internal dan eksternal melalui proses interaksi atau informasi secara akurat.

B. KLASIFIKASI WAHAM Macam macam waham yaitu : Waham agama Keyakinan klien terhadap suatu agama secara berlebihan, diucapkan beruilang-ulang tapi tidak sesuai kenyataan Waham kebesaran keyakinan kllien secara berlebihan bahwa ia memiliki kebesaran atau kekuatan khusus atau kelebihan yang berbeda dengan orang lain , di ucapkan berulang-ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan. Waham somatik Klien yakin bahwa bagian tubuhnya terganggu oleh penyakit yang menyerangnya Waham nihilistik Klien yakin bahwa dirinya sudah tidak ada lagi didunia atau sudah meninggal dunia Waham curiga Klien yakin bahwa ada orang atau kelompok orang yang sedang mengancam dirinya

Waham siar pikir

Klien percaya bahwa pikirannya disiarkan ke dunia luar

Waham sisip pikir

Klien percaya ada pikiran orang lain yang masuk dalam pikirannya
4

Waham kontrol pikir:

Klien merasa perilakunya dikendalikan oleh pikiran orang lain

C. ETIOLOGI Penyebab secara umum dari waham adalah gannguan konsep diri : harga diri rendah. Harga diri rendah dimanifestasikan dengan perasaan yang negatif terhadap diri sendiri, termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri, merasa gagal mencapai keinginan. Ada kecenderungan hubungan di dalam keluarganya yang tidak harmonis ditandai dengan kekacauan, tidak berperasaan, dingin. Saat ini, kebermaknaan keadaan keluarga seperti ini sebagai etiologi belum pasti. mekanisme pertahanan spesifik yang digunakan oleh pasien biasanya penyangkalan, proyeksi, dan regresi. Waham adalah salah satu bentuk gangguan orientasi realita (GOR).Gangguan orientasi realita adalah ketidakmampuan seseorang menilai kenyataan yang ada,GOR di sebabkan oleh : 1. Fungsi otak yang terganggu oleh fungsi kognitif dan proses pikir, fungsi persepsi, fungsi emosi fungsi motorik dan fungsi sosial. 2. Gangguan pada fungsi kognitif dan persepsi mengakibatkan kemampuan menilai dan menilik terganggu. 3. Gangguan fungsi emosi, motorik dan sosial mengakibatkan berespon terganggu yanng tampak dari perilaku verbal dan non verbal.

4. Umumnya GOR ditemukan pada klien yeng menderita skizofrenia dan psikotik lain.

D. AKIBAT Akibat dari waham klien dapat mengalami kerusakan komunikasi verbal yang ditandai dengan pikiran tidak realistic, flight of ideas, kehilangan asosiasi, pengulangan kata-kata yang didengar dan kontak mata yang kurang. Akibat yang lain yang ditimbulkannya adalah beresiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan biasanya terjadi pada pasien dengan wahan curiga.

E. MANIFESTASI KLINIS WAHAM 1. Menolak makan 2. Tidak ada perhatian 3. Ekspresi wajah sedih / Gembira / Ketakutan 4. Gerakan tidak terkontrol 5. Mudah Tersinggung 6. Isi pembicaraan tidak sesuai dengan kenyataan 7. Tidak bisa membedakan antara kenyataan dan bukan kenyataan 8. Menghindar dari orang lain 9. Berbicara kasar

10. Menjalankan kegiatan keagamaaan secara berlebihan 11. Mendominasi pembicaraan F. RENTANG RESPON WAHAM

Respon Adaptif

Respon Maladaptif

Pikiran logis - Pikiran logis - Persepsi akurat

distorsi pikiran - Kadang proses piker terganggu - Ilusi

gangguan pikiran/waham - Kekacauan pikiran/delusi - Gangguan persepsi sensori Halusinasi

- Perilaku sesuai - Hubungan sosial harmonis

- Prilaku aneh/tidak biasa - Menarik diri

- Perilaku tidak terorganisir - Isolasi sosial

G. FAKTOR PREDISPOSISI a. Hambatan perkembangan akan mengganggu hubungan interpersonal seseorang. Hal ini dapat meningkatkan stress dan ansietas yang berakhir dengan gangguan persepsi. Klien menekan perasaannya sehingga pematangan fungsi intelektual dan emosi tidak efektif b. Faktor sosial budaya Seseorang yang merasa diasingkan dan kesepian dapat menyebabkan timbulnya
7

waham c. Faktor psikologis Hubungan yang tidak harmonis, peran ganda / bertentangan dapat menimbulkan ansietas dan berakhir dengan pengingkaran terhadap kenyataan. d. Faktor biologis Waham diyakini terjadi karena adanya atrofi otak, pembesaran ventrikel di otak, atau perubahan pada sel kortikal dan limbik e. Faktor Genetik Herediter : Bisa di turunkan.

H. FAKTOR PRESIPITASI a. Faktor sosial budaya Waham dapat dipicu karena adanya perpisahan dengan orang yang berarti atau diasingkan dari kelompok. b. Faktor Biokimia Dopamin, Norepineprin, dan zat halusinogen lainnya diduga dapat menjadi penyebabwaham pada seseorang. c. Faktor psikologis
8

Kecemasan yang memanjang dan terbatasnya kemampuan untuk mengatasi masalah sehingga klien mengembangkan koping untuk menghindari kenyataan yang menyenangkan.

I. STATUS MENTAL Biasanya klien masih bisa berpakaian baik dan rapi, tetapi mungkin terlihat eksentrik dan aneh, Tidak jarang bersikap curiga atau bermusuhan terhadap orang lain. Klien

biasanya cerdik ketika dilakukan pemeriksaan sehingga dapat memanipulasi data, selain itu perasaan hatinya konsisten dengan isi waham. J. SENSORI DAN KOGNISI Tidak memiliki kelainan dalam orientasi kecuali klien waham spesifik terhadap orang, tempat, dan waktu. Daya ingat atau kognisi lainnya biasanya akurat. Pengendalian impuls pada klien waham perlu diperhatikan bila terlihat adanya rencana untuk bunuh diri , membunuh atau melakukan kekerasan pada orang lain. Gangguan proses pikir : waham biasanyanya diawali dengan adanya riwayat penyakit berupa kerusakan pada bagian korteks dan limbic otak, bisa dikarnakan terjatuh atau didapat ketika lahir. Hal ini mendukung terjadinya perubahan emosional seseorang yang tidak stabil. Bila berkepanjangan akan menimbulkan perasaan rendah diri., kemudian mengisolasi diri dari orang lain dan lingkungan. Waham kebesaran akan timbul sebagai manifestasi ketidakmampuan seseorang dalam memenuhi kebutuhannya, bila respon lingkungan

kurang mendukung terhadap perilakunya dimungkinkan akan timbul resiko perilaku kekerasan pada orang lain.

K. POHON MASALAH Resiko tinggi prilaku kekerasan


Perubahan isi fikir : waham

Core problem

Isolasi sosial

Harga diri rendah kronis

10

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN 1. IDNTITAS KLIEN Klien dengan waham biasanya menyebutkan umur dan pekerjaan yang tidak sesuai dengan kenyataan.

2. ALASAN MASUK / KELUHAN UTAMA Klien dengan waham biasanya masuk RSJ dengan keluhan : gerakan tidak terkontrol,isi pembicaraan tidak sesuai dengan kenyataan,tidak bisa membedakan antara kenyataan dan

11

bukan kenyataan,menjalankan kegiatan agama secara berlebihan,dan mendominasi pembicaraan.

3. FAKTOR PREDISPOSISI Biasanya faktor predisposisi/pendukung seseorang mengalami waham adalah : adanya hambatan perkembangan,merasa di asingkan dan kesepian,hubungan dengan keluarga dn orang lain yang tidak harmonis,adanya atrofi otak,pembesaran ventrikel di otak atau perubahan pada sel kortikal dan limbic.

4. FISIK Pada pasien waham biasanya terjadi penurunan BB karena menolak makan dan minum.

5. PSIKOSOSIAL. a. Genogram. b. Konsep Diri. 1. Citra tubuh Biasanya pasien dengan waham miliki perasaan negative terhadap diri sendiri. 2. Identitas diri Pada pasien dengan waham kebesaran misalnya mengaku seorang polisi padahal kenyataan nya tidak benar. 3. Peran Klien berperan sebagai kepala keluarga dalam keluarganya. 4. Ideal diri
12

Klien berharap agar bisa cepat keluar dari RSJ karena ia bosan sudah lama di RSJ. 5. Harga diri Adanya gangguan konsep diri : harga diri rendah karena perasaan negatif terhadap diri sendiri,hilangnya rasa percaya diri dan merasa gagal mencapai tujuan. c. Hubungan sosial Pasien dengan waham biasanya memiliki hubungan sosial yang tidak haramonis. d. Spiritual. 1. Niali dan keyakinan Biasanya kalau pada pasien dengan waham agama meyakini agamanya secara berlebihan. 2. Kegiatan ibadah. Biasanya pada pasien dengan waham agama melakukan ibadah secara berlebihan. 6. STATUS MENTAL. a. Penampilan Pada pasien waham biasanya penampilan nya sesuai dengan waham yang ia rasakan. Misalnya pada waham agama berpakaian seperti seorang ustadz. b. Pembicaraan Pada pasien waham biasanya pembicaraan nya selalu mengarah ke waham nya,bicara cepat,jelas tapi berpindah-pindah,isi pembicaraan tidak sesuai dengan kenyataan.

13

c. Aktivitas motorik Pada waham kebesaran bisa saja terjadi perubahan aktivitas yang berlebihan. d. Alam perasaan Pada waham curiga biasanya takut karena merasa orang-orang akan melukai dan mengancam membunuhnya. Pada waham nihilistic merasa sedih karena meyakini kalau dirinya sudah meninggal. e. Interaksi selama wawancara Pada pasien waham biasanya di temukan : 1.Defensif : selalu berusaha mempertahankan pendapat dan kebenaran dirinya. 2.Curiga : menunjukkan sikap / perasaan tidak percaya pada orang lain. f. Isi pikir. Pada pasien dengan waham Kebesaran biasanya : klien mempunyai keyakinan yang berlebihan terhadap kemampuannya yang disampaikan secara berulang yang tidak sesuai dengan kenyataan. g. Proses pikir Pada pasien waham biasanya pikiran yang tidak realistis,flight of ideas,pengulangan kata-kata. h. Tingkat kesadaran
14

Biasanya masih cukup baik.

7. KEBUTUHAN PERSIAPAN PULANG. a. Makan. 1. Observasi dan tanyakan frekwensi, jumlah, variasi, macam (suka / tidak suka / pantang) dan cara makan. 2. Observasi kemampuan klien dalam menyiapkan dan membersihkan alat makan. b. BAB / BAK. Observasi kemampuan klien untuk : 1. Pergi, menggunakan dan membersihkan WC. 2. Membersihakn diri dan merapikan pakaian.

c. Mandi. Observasi dan tanyakan tentang : 1. Frekwensi, cara mandi, menyikat gigi, cuci rambut, gunting kuku, cukur (kumis, jenggot dan rambut). 2. Observasi kebersihan tubuh dan bau badan. d. Berpakaian. Observasi dan tanyakan tentang : 1. Kemampuan klien dalam mengambil, memilih dan mengenakan pakaian dan alas kaki.

15

2. Penampilan dandanan klien. 3. Frekwensi ganti baju klien. 4. Nilai kemampuan yang harus dimiliki klien : mengambil, memilih dan mengenakan pakaian. e. Istirahat dan tidur. Observasi dan tanyakan tentang : 1. Lama dan waktu tidur siang/ tidur malam. 2. Persiapan sebelum tidur seperti menyikat gigi, cuci kaki, berdoa. 3. Kegiatan sesudah tidur seperti merapikan tempat tidur, mandi / cuci muka dan menyikat gigi. f. Penggunaan obat. Observasi dan tanyakan pada klien dan keluarga tentang : 1. Penggunaan obat : frekwensi, jenis, dosis, waktu dan cara. 2. Reaksi obat. g. Pemeliharaan kesehatan. Tanyakan kepada klien dan keluarga tentang : 1. Apa, bagaimana, kapan dan kemana perawatan dan pengobatan lanjut. 2. Siapa saja sistem pendukung yang dimiliki (keluarga, teman, institusi dan lembaga pelayanan kesehatan) dan cara penggunaannya. h. Kegiatan di dalam rumah. Tanyakan kemampuan klien dalam : 1. Merencanakan, mengolah, dan menyajikan makanan.
16

2. Merapikan rumah (kamar tidur, dapur, menyapu, mengepel). 3. Mencuci pakaian sendiri. 4. Mengatur kebutuhan biaya sehari-hari. h. Kegiatan di luar rumah. Tanyakan kemampuan klien : 1. Belanja untuk kemampuan sehari-hari. 2. Dalam melakukan perjalanan mandiri dengan jalan kaki, menggunakan kendaraan pribadi, kendaraan umum. 3. Kegiatan lain yang dilakukan klien di luar rumah (bayar listrik / telepon/ air, ke kantor pos dan bank) 8. MEKANISME KOPING. Tanyakan pada klien dan keluarga dan observasi mekanisme penyelesaian masalah klien selama ini.

B. DAFTAR MASALAH KEPERAWATAN Masalah keperawatan Perubahan isi pikir : Waham Subjektif : Data yang perlu dikaji

17

Klien mengatakan bahwa dirinya adalah orang yang paling hebat

Klien mengatakan bahwa ia memiliki

kebesaran atau kekuasaan khusus Objektif :

Klien terlihat terus ngoceh tentang kemampuan yang dimilikinya

Pembicaraan klien cenderung berulang

Isi pembicaraan tidak sesuai dengan kenyataan

C. POHON MASALAH

Resiko tinggi perilaku kekerasan


18

Perubahan isi pikir : waham

Isolasi sosial

Harga diri rendah kronis

D. MASALAH KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL 1. Risiko tinggi perilaku kekerasan 2. Perubahan isi pikir: Waham 3. Isolasi social 4. Harga diri rendah

19

E. DIAGNOSA KEPERAWATAN Perubahan isi pikir : Waham

F. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN

Tujuan Pasien mampu : -Berorientasi kepada realitas secara bertahap -Mampu berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan -Menggunakan obat dengan prinsip 6 benar

Kriteria Hasil Setelah .. x pertemuan pasien dapat memenuhi kebutuhannya

Intervensi sp 1 -Identifikasi kebutuhan pasien yang tidak terpenuhi -Bicara konteks realita ( Tidak mendukung atau membantah waham pasien ) - Latih pasien untuk memenuhi kebutuhan dasar nya - Masukkan dalam jadwal

20

Setelahx pertemuan pasien mampu : - Menyebutkan kegiatan yang sudah dilakukan -Mampu menyebutkan serta memilih kemampuan yang dimiliki

harian pasien sp 2 -Evaluasi kegiatan yang lalu ( sp 1 ) -Identifikasi potensi / kemampuan yang dimiliki -Pilih dan latih potensi / ataukemampuan yangdimiliki -Masukkan dalam jadwal

Setelahx pertemuan pasien dapat menyebutkan kegiatan yang sudah dilakukan dan mampu memilih kemampuan lain yang dimiliki

kegiatan pasien sp 3 -Evaluasi kegiatan yang lalu ( sp 1 dan 2 ) -Pilih kemampuan yang dapat dilakukan Pilih dan latih yang dimiliki -Masukkan dalam jadwal

Keluarga mampu : -Mengidentifikasi waham pasien -Memfasilitasi pasien untuk memenuhi kebutuhannya -Mempertahakan program

Setelahx pertemuan, keluarga mampu mengidentifikasi masalah dan menjelaskan cara merawat pasien

kegiatan pasien sp 1 -Identifikasi masalah keluarga dalam merawat pasien -Jelaskan proses terjadinya waham

21

pengobatan pasien secara optimal

-Jelaskan tentang cara merawat pasien waham -Latih ( simulasi ) cara merawat -RTL keluarga / jadwal Setelahx pertemuan keluarga mampu : -Menyebutkan kegiatan yang sesuai dilakukan -Mampu memperagakan cara merawat pasien Setelahx pertemuan keluarga mampu mengidentifikasi masalah dan mampu menjelaskan cara merawat pasien merawat pasien sp 2 -Evaluasi kegiatan yang lalu ( sp 1 ) -Latih keluarga cara merawat pasien ( langsung ke pasien ) -RTL keluarga sp 3 -Evaluasi kemampuan keluarga ( sp 2) -Evaluasi kemampuan pasien -RTL keluarga : follow up, Rujukan

22

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. A DENGAN GANGGUAN PROSES FIKIR : WAHAM DIRUANGAN MUARAI. B. RSJ DAERAH BENGKULU
RUANGAN NO REG TANGGAL MASUK TANGGAL PENGKAJIAN : MURAI B : 000025 : 20-11-2012 : 02-01-2013

A. IDENTITAS KLIEN NAMA UMUR AGAMA PENDIDIKAN : TN.A : 42 TAHUN : ISLAM : SMA 23

STATUS PEKERJAAN ALAMAT PENANGGUNG JAWAB NAMA UMUR AGAMA PEKERJAAN ALAMAT

: BELUM KAWIN : SWASTA : DESA SUMBER SARI LUBUK DURIAN

: TN.U : 44 TAHUN : ISLAM : PNS : SRI KATAN BLOK U. KEC PONDOK KELAPA

HUBUNGAN DENGAN KLIEN : KAKAK KANDUNG

B.

ALASAN MASUK TN.A merupakan klien ulangan, pernah masuk ke RSJ soeprato sudah dua kali ini yang pertama pada tanggal 06-01-1998 dan yang kedua pada tanggal 20-11-2012 dengan keluhan yang sama, klien diantar oleh keluarganya dengan alasan : karena klien

membuat rusuh warga seperti memberhentikan kendaraan yang sedang melintas didepan rumahnya klien dengan alasan klien kalau klien sedang razia kendaraan, klien sering mengoceh-ngoceh sendiri, bicara kacau, kadang-kadang mau memukul orang dan klien sering mengatakan kepada orang lain kalau dirinya seorang polisi, klien mengatakan kalau dirinya sedang menjalan kan tugasnya sebagai anggota polisi dan kadang-kadang

24

klien mengatakan kalau dirinya sedang kerasukan roh anggota polisi dan klien harus memenuhi apa yang di perintahkan roh yang telah merasukkinya.

C.

FAKTOR PREDISPOSISI Klien mengatakan sudah dua kali masuk ke RSJ yang pertama pada tanggal 06-01-1998 salama 2 minggu dan klien sudah diizinkan pulang karena dianjurkan oleh dokter untuk rawat jalan dan yang kedua pada tanggal 20-11-2012 sampai bulan ini klien belum diizinkan pulang karena klien belum dinyatakan sembuh, klien mengatakan anggota keluarganya tidak ada yang mengalami gangguan jiwa seperti yang klien alami,klien mengatakan kalau sejak kecil klien mempunyai cita-cita untuk menjadi seorang polisi tapi ayahnya tidak mendukung apa yang diinginkan klien tapi klien bersikuku keras untuk menjadi polisi sedangkan ayahnya mendukung klien untuk menjadi sorang guru tapi klien menolaknya kemudian klien setelah lulus SMA klien mengikuti tes pulisi sebanyak dua kali, tes yang pertama klien gagal dan tes yang kedua klien juga gagal dengan dua kali kegagalan membuat klien frustasi berat sehingga munculah sifat-sifat klien yang aneh seperti klien sering mengurung diri, mengoceh-ngoceh sendiri, mengamuk, dan kadangkala klien sering mengaku dirinya seorang polisi .

D.

PEMERIKSAAN FISIK TTV : TD : 120/80 mmhg N : 75 x/ menit

25

RR : 21x/ menit S BB TB : 36.5 c

: 165 cm : 60 kg

Saat dialakukan pengkajian fisik klien mengatakan ada keluhan fisik seperti klien merasa pusing kepala, badan terasa capek,lemas, dan klien mengatakan setelah minum obat klien merasa mengantuk berat.
E.

Psikososial
1.

Genogram

Klien 5 bersaudara 3 laki-laki, 2 perempuan, klien tinggal bersama kedua orang tuanya dan adiknya yang bungsu, klien mengatakan bisanya di rumah bekerja sebagai petani penyadap karet dan kadang klien membantu pekerjaan dirumah adiknya sebagai polisi, apa bila ada masalah klien bercerita pada kedua orang tuanya

26

2. Kosep diri
a.

Gambaran diri Klien mengatakan mensyukuri semua bagian tubuhnya dan tidak membeda-bedakan karena semua bagaian tubuhnya adalah pemberian dari Allah SWT yang harus disyukuri

b.

Identitas diri Klien mengatakan sebelum dibawa ke RSJ dirinya adalah asisten polisi yang membantu pekerjaan polisi dan klien merasa bangga atas pekerjaannya kemudian klien mengatakan senang dan bangga dengan jenis kelaminnya sebagai laki-laki karena bisa membantu ayahnya atau adiknya untuk bekerja, tapi klien merasa minder dan malu dengan statusnya yang belum kawin karena klien sudah berumur 42 tahun tapi belum kawin karena seharusnya umur seperti klien sudah kawin dan mempunyai anak tapi klien belum kawin sehingga dengan setatusnya klien klien merasa malu dengan teman-taman seumurnya dan kelurganya. MK : harga diri rendah

c.

Peran Klien mengatakan dalam keluarganya klien sebagai pembantu pencari uang dan tualang punggung keluarga serta sebagai kakak untuk adik-adiknya dalam

masyarakat klien berperan membantu mengamankan apa bila ada kerusuhan, MK : .

27

d.

Ideal diri Klien berharap bisa cepat pulang kerumah dan kembali beraktivitas membantu kelurganya. MK : ..

e.

Harga diri Klien mengatakan hubungan dengan lingkuangan dan teman-teman terjalin baik klien mempunyai keluarga yang menghargainya, apa bila ada yang keluar Rumah pamit dengannya, tapi klien kadang merasa malu dengan keadaan mentalnya yang tidak sama dengan yang lain. MK : harga diri rendah

3.

Hubungan sosial
a. Klien

mengatakan orang yang berarti dalam hidupnya adalah kedua orang tuanya

dibuktikan kalau klien ada masalah klien selalu bercarita pada orang tuanya.
b. Klien

mangatakan sering ikut kegiatan kelompok seperti membantu adiknya dalam

menjalankan tugas sebagai polisi. MK : waham kebesaran


4.

Spritual
a.

Klien mengatakan klien percaya bahwa tuhan tidak akan memberikan cobaan diluar kemampuan umatnya, klien mengatakan gagguan jiwa merupakan bukan kutukan dari

28

tuhan tetapi adalah cobaan, klien mengatakan ia yakin bahwa tuhan akan membantunya agar cepat sembuh
b.

Klien mengatakan waktu di rumah walau pun tidak 5 waktu tapi klien masih melakukan ibadah sholat dan berdoa, di RSJ klien juga sering melakukan ibadah sholat dan tidak pernah lupa

F.

STATUS MENTAL
a.

Penampilan Penampilan klien rapi, penggunaan pakaian sesua, tidak memakai pakaian dalam diluar baju, rambut rapai sudah dipotong penggunaan tepat waktu setelah selesai mandi.

b.

Pembicaraan pembicaraan klien capat, pembicaraan berpindah-pindah dari satu ke kalimat lain yang tidak ada kaitanya dan pembicaraannya selalu mengarah kewahamnya. MK : gangguan proses fikik : waham kebesaran

c.

Aktivitas motorik Aktivitas klien sangat baik, tidak lesu, tidak gelisah, tidak ada gerakan agitasi, tidak ada gerakak tambahan seperti : TIK grimasen, tremor dan cumpulsif

d.

Alam perasaan

29

Klien tampak sedih karena dibawa RSJ dan klien merasa dijauhi keluarga dan klien mengatakan khawatir dengan keadaanya keluarga tidak mau menerima klien karena kondisinya, klien merasa cemas atas kondisi yang tidak kunjung sembuh. MK : gangguan harga diri rendah

e.

Afek Perubahan roman muka klien sesuai dengan stimulus yang dirasakan pada saat klien sakit atau sedih, klienn tampak sedih apa bila sedang ada masalah dan klien tampak senang apa bila sedang bahagia.

f.

Interaksi selama wawancara Selama proses intruksi / pengkajian klien kooperatif, tidak bermusuhan dan mau merespon pertanyaan yang diajukan, kontak mata positif (+) mau menatap lawan kata bicara, dan terkadang tatapan mata klien kosong tidak ada sikap depresi / curiga yang klien tampilkan selama pengkajian.

g.

Persepsi Klien mengatakan tidak pernah mendengar suara yang menyuruh untuk melakukan tindakan, dan tidak pernah melihat bayangan-bayangan apabila nanti melihat / mendengar tidak akan dihiraukan. MK : .

30

h.

Proses fikir Saat pengkajian pembicaraan klien berbelit belit, kadang dia mengatakan dirinya sebagai polisi dan terkadang dia seorang pembantu adiknya yang seorang polisi, pembicaran Sarkumstasial dan Flightof idealis. MK : gangguan proses fikir : waham kebesaran

i.

Isi fikir Klien mengalami waham kebesaran.Klien mengatakan bahwa dirinya adalah seorang anggota polisi tetapi klien menyadari bahwa kenyataan sebenarnya dirinya bukanlah seorang polisi. MK : gangguan proses fikir : waham kebesaran Masalah keperawatan: waham kebesaran.

j.

Tingkat kesadaran Klien mengatakan dia sedang ngobrol dan dia sedang berada dirumah sakit jiwa. Klien tidak tampak bingung, bisa menjawab semua pertanyaan. Tidak mengalami disorientasi waktu tempat dan orang. MK : .

k.

Memori Klien tidak mengalami gangguan, daya ingat jangka panjang, klien bisa mengingat kejadian yang terjadi lebih dari satu bulan yang lalu. Seperti klien dirumah berkumpul

31

bersama keluaga, klien mengalami gangguan, jangka pendek saat ini. Klien bisa mengingat atau mengulangi lagi penjelasan yang diberikan. MK :
l.

Tingkat konsentrasi dan berhitung Klien mampu berkonsentrasi saat pengkajian, perhatian klien tidak mudah berganti dari 1 objek keobjek yang lain, klien mampu berhitung melakukan penambahan dan pengurangan pada benda benda nyata. MK :

m.

Kemampuan penilaian Klien mampu mengambil keputusan yang sederhana secara mandiri misalnya disuruh mandi dulu sebelum makan atau makan dulu sebelum mandi. Klien lebih memilih mandi dulu sebelum makan.

n.

Daya Tilik diri Klien mengatakan ia sadar dengan masalah, keluarga membawa ke RSJ karena telah menangkap orang(menghadang) dijalan karena tidak memakai helm, padahal ia bukan polisi. Klien tidak menyalahkan orang lain atau lingkungannya, klien hanya menyalahkan dirinya dan klie bingung dengan dirinya sendiri, polisi atau bukan. MK :

32

G.

PERSIAPAN PULANG
a.

Makan Klien makan 3x sehari ,pagi,siang, sore klien mengatkan menyukai semua jenis makanan dan klien juga tidak punya pantangan jenis makanan, klien juga membantu mengagkat air kedalam gelas, membersihkan piring setelah makan.

b.

Mandi Klien mengatakan mandi 2-3 x/hari ia selalu menyikat gigi mandi dengan menggunakan sabun madi dan memakai shampo bila persedian masih ada.

c.

Defeksi/berkemih Klien mampu melakukan defeksi atau berkemih yang benar yaitu pergi ke wc kemudaian membersihkannya kembali, klien juga tampak mampu membersihkan diri dan merapikan pakaian kembali

d.

Berpakaiaan Klien mampu mengambil dan memilih serta mengenakan pakaian secara mandiri, penampilan klien rapi dan sudah sesuai, baju dipakai dibadan dan celana dipakai dikaki.

e.

Istirahat dan tidur Klien mengatakan ia biasanya tidur siang 1 jam dan ketika malam klien biasanya tidurjam 19.30 wib dan bangun pagi jam 05.30 dan ketika bagun klien mandi dan sholat.
33

f.

Penggunaan obat Klien mengatakan 3x sehari ia makan obat klien mengatakan obatnya ada 2 macam klien tidak tahu tentang dosis dan efek samping obat yang dimakan

g.

Kegiatan didalam rumah Klien mengatakan di rumah jarang membantu pekerjaan rumah karena ia sibuk dengan pekerjaan diluar rumah.

h.

Kegiatan diluar rumah. Klien mengatakan dia sering membantu dan menjadi asisten adiknya seorang polisi.

H.

MEKANISME KOPING Klien mengatakan jika ada masalah klien bercerita dengan kedua orangan tuanya, karena ia merasa orang tuanyalah yang bisa membantu.

I.

MASALAH PSIKOSOSIAL DAN LINGKUNGAN Klien mengatakan pernah mengikuti organisasi dalam masyarakat, sering apa bila ada acara pesta pernikahan klien membantu angkat kursi dan membantu membersihkannya , klien mengatakan dirinya tamatan SMA klien tidak menyambung lagi karena ingin menjadi polisi. Klien mengatakan tinggal bersama kedua orang tuanya dan adiknya , untuk pelayanan klien mempunyai kartu jamkesmas.
34

J.

POHON MASALAH

Resiko tinggih prilaku kekersan

Perubahan proses fikir : waham

Harga diri rendah

K.

DIAGNOSA MEDIS : F.32.0 Therapi : -

Pph 2x1 mg perhari Hld 2x2 mg perhari Tp 2x2 mg perhari

L.

MASALAH KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL


a.

Resiko tinggi prilaku kekerasan Perubahan proses fikir : waham Harga diri rendan kronis

b.

c.

35

M.

ANALISA DATA DATA SENJANG DS : MASALAH KEPERAWATAN

NO

Klien sering mengatakan kalau PERUBAHAN PROSES FIKIR : WAHAM dirinya seorang polisi KEBSARAN

Klieng kadang mengatakan kalau dirinya sebagai asisten polisi Klien mengatakan kalau dirinya merasa kerasukan roh polisi DO : Klien sering berbicara kearah

wahamnya seperti klien mengaku sebagai polisi Pembicaraan klien tidak sesuai 2 dengan kenyataan yang ada Klien bicaranya berbelit-belit tidak 3 sampai ketujuan
36

DS: Klien mengatakan malu dengan 1 keadaanya sekarang. Klien mengatakan malu dengan 2 statusnya yang belum kawin pada hal umur klien sudah 42 tahun Klien mengatakan minder dengan kawan-kawannya 3 yang sudah HARGA DIRI RENDAH (HDR)

menikah sedangkan klien belum di umurnya yang sudah 42 tahun Klien mengatakan sudah tidak

4 5

semangat lagi untuk hidup Klien dirinya sudah tidak ada dibutuhkan lagi DO : Klien tampak merunduk kalau ditanya tentang stausnya yang belum kawin

1 Klien sering duduk merenung

37

Klien tampak sedih Klien tampak lesu 2 3 DS : Klien mengatakan mudah marah apa bila pembicaraannya dipotong dengan orang lain 1 klien mudah marah apa bila RESIKO PRILAKU KEKERASAN

barang-barang dipakai kawannya seperti baju pemberian adiknya 2 yaitu baju anggota polisi karena baju itu baju kesayanganya klien mengatakan ingin memukul orang yang menyangkal

pembicaraan yang sedang serius

DO : Klien tampak marah apa bila 1 pembicaraanya yang mengarah ke

38

wahamnya disangkal Klien 2 seringkali memukul

kawannya yang memakai pakaian kesayangannya

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

Ruangan Hari/tanggal Pertemuan

: Murai B : Selasa, 01-01-2013 :1

Nama klien No. medrek kelompok

: Tn. A : : Kelompok 3

A.

Proses keperawatan
1.

Kondisi pasien

2.

Diagnose keperawatan

3.

Tujuan khusus

39

4.

Membina hubungan saling percaya Mengidentifikasi kebutuhan yang tidak terpenuhi dan cara memenuhi kebutuhan Menganjurkan klien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian

Tindakan keperawatan Bina hubungan saling percaya


-

Sapa klien dengan ramah baik verbal maupu non verbal Perkenalkan diri dengan sopan Tanyakan nama klien dan nama panggilan yang disenangi klien Menjelaskan tujuan pertemuan Tunjukan sikap empati, menerima klien apa adanya Tanyakan perasaan dan maslah ynag dihadapi Mengidentifikasikebutuhan yang tidak terpenuhi Mengidentifikasi cara memenuhi kebutuhan Menganjurkan klien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian

B.

Strategi komunikasi
1.

Orientasi Assalamualaikum. Perkenalkan pak nama saya perawat Novi Saya yang dinas pagi ini di ruang murai B. saya dinas dari jam 01.-14 WIB nanti. Saya yang akan merawat bapak hari ini, nama bapak siapa ? Senangnya dipanggil apa ? Bisa kita berbincang- bincang tentang apa yang bapak rasakan ? Berapa lama bapak maunya kita berbincang- bincang ? bagaimana kalau 15 menit ? Dimana enaknya kita berbincang- bincang pak ? disini saja ya pak ?
40

2.

Fase kerja Apa yang bapak rasakan sekarang ? Iya. Saya mengerti pak. Bapak merasa bahwa bapak seorang polisi. Tapi sulit untuk saya mempercayainya karena setau saya kalau polisi tempatnya bukan disini, tapi dikantor. Sedangkan bapak sekarang di rumah sakit. Kita lanjutkan lagi pembicaraan kita pak tampaknya bapak ada yang dipikirkan, bisa bapak ceritak apa yang bapak rasakan? mengapa bapak sampai dibawa ke RSJ ? Padahal bapak itu merasa seorang polisi ? Oo begitu ya pak..nah biasanya kegiatan apa yang bpk lakukan di rumah ? O .. bagaimana kalau kegiatan itu kita masukkan ke dalam jadwal kegiatan harian bapak ?

3.

Fase terminasi Bagaimana perasaan bapak setelah berbincang- bincang dengan saya ? Apa sja yang tadi telah kita bicarakan pak coba ulangi ? bagus pak. Bagaimana kalu jadwal ini bapak coba lakukan , setuju pak ? Besok kita bertemu lagi untuk ngobrol- ngbrol lagi ya pak tentang kemampuan yang lain atau hoby yang bapak miliki ? mau dimana kita bercakap-cakap ? bagaimana kalau disini saja jam 10.00 wib ya pak ? bapak mau ? Baiklah kalaun begitu smapai bertemu lagi besok ya pak.

41

Implementasi dan evaluasi Hari/tgl Selasa 01-01-13 Implementasi Assalamualaikum.. selamat pagi pak, Apa kabar pak? perkenalkan pak, saya perawat novi anggraini, panggil saya novi, saya yang dinas pagi diruangan ini dari jam 07.30 wib nanti, saya yang akan merawat bapak hari ini, Nama bapak siapa? bapak senangnya di panggil apa? S : Nama saya Aizen heri, panggil saja aizen O: kontak mata (+) dank lien mau menyebutkan namanya Bisa kita berbincang-bincang tentang S : iya, Terserah mau berapa lama Evaluasi S : selamat pagi juga O : Kontak mata ( + ) S : Baik

42

apa yang bapak rasakan? Berapa lama bapak maunya kita berbincang-bincang pak? Kita bincang-bincangnya sekitar 15 menit ya pak. disini saja ya pak Tampaknya ada yang bapak pikirkan, Coba bapak ceitakan apa yang bapak rasakan. Oh,begitu ya pak Bapak tau nggak bapak sekarang ada dimana? Kenapa bpk sampai masuk ke RSJ. S : Iya O:Klien mau berbincang-bincang sekitar 15 menit S : Saya pengen pulang, Bosan di sini terus, seperti dipenjara, dikurung terus. O : Klien tampak sedih S : Di RSJ O : Klien mengetahui tempat ia berada S : Saya dibawa ke RSJ karena saya sering menghentikan orang yang bermotor yang tidak memakai helm.

mengapa bapak yang menghentikannya, emang bapak itu siapa. Oh, saya mengerti kalau bapak merasa seorang polisi, tapi sulit untuk saya mempercayainya, karena setau saya kalau polisi itu tempatnya bukan disini tapi dikantor kepolisian, sedangkan bapak sekarang ada di RSJ.

S : Saya seorang polisi. O : Klien tampak bangga saat mengatakan kalau dia seorang polisi S : Iya saya sekarang memang di RSJ, Dia tidak memakai helm makanya saya tangkap O : Kontak mata ( + ) Pandangan tajam

43

Apa saja kegiatan yang biasanya bapak lakukan dirumah? Oh, Begitu ya pak. Bagaimana kalau kegiatan itu kita masukkan ke dalam jadwal kegiatan harian bapak ? Bagaimana perasaan bapak setelah berbincang-bincang dengan saya. Apa saja tadi yang telah kita bicarakan pak, coba bpk ulangi.

S : kalau pagi biasanya saya bersihbersih kemudian pergi ke kebun. O : Klien senyum

S : Senang, karena ada teman ngobrol O : Klien tampak senang S : ya cerita-cerita kalau saya itu seorang polisi dan ngobrol tentang mengapa saya sampai masuk di RSJ O : Klien masih ingat tentang apa yang dibicarakan

Besok kita bertemu lagi ya pak untuk berbincang-bincang tentang kemampuan yang bapak miliki, Mau dimana kita kita berbincang-bincang besok pak, bagaimana kalau disini saja, jam 10.00 wib. Bapak mau?

S : Iya. O: Klien mau membuat kontrak untuk bertemu lagi

A : - Tuk I tercapai
-

Hubungan saling percaya sudah terbina dan klien mau membicarakan wahamnya

P:

Lanjutkan tuk 2

44

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN Hari/tanggal : Rabu, 02-01-2013 Ruangan : Murai B Pertemuan ke : 2 Nama klien No. medrek Kelompok : Tn. A : : Kelompok 3

A.

Proses keperawatan
1.

Kondisi klien Klien mengatakan ia adalah seorang polisi. Klien tampak sering diam, kalu diajak ngobrol, pasien koperatif.

2.

Diagnosa keperawatan Perubahan proses piker : waham kebesaran

3.

Tujuan khusus

45

Membantu

mengidentifikasi

kemampuan

positif

pasien

dan

membantu

mempraktekkannya.
4.

Tindakan keperawatan
-

Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi fisik dan emosional pasien Berdiskusi tentang kemampuan positif yang dimiliki Bantu melakukan kemampuan yang dimiliki

B.

Strategi komunikasi
1.

Orientasi Selamat pagi pak. Bagaimana keadaannya hari ini ? bagus ! Apakah bapak sudah mengingat-ingat apa saja hobi atau kegemaran bapak ? Bagaimana kalau kita bicarakan hobi tersebut sekarang ? Dimana enaknya kita berbincang-bincang tentang hobi bapak tersebut ? Berapa lama bapak mau berbincang-bincang ? bagaimana kalau 15 menit tentang hal tersebut ?

2.

Fase kerja Apa saja bapak ? saya catat ya pak, terus apa lagi ? Wah, rupanya bapak pandai main volley ya, tidak semua orang bisa bermain volley seperti itu lho pak. Bisa bapak ceritakan kepada saya kapan pertama kali belajar main volley, siapa yang dulu mengajarkan kepada bapak ? dimana ? Bisa bapak peragakan kepada saya bagaimana volley yang baik itu ? Wah baik sekali permainannya .
46

Cobak kita buat

jadwal untuk kemampuan bapak ini ya , berapa kali sehari/

seminggu bapak mau bermain volley ? Apa yang bapak harapkan dari kemampuan yang lain selain bermain volley ?

3.

Fase terminasi Bagaimana perasaan bapak setelah kita bercakap-cakap tentang hobi dan kemampuan bapak ? Setelah ini cobak bapak lakukan latihan volley sesuai dengan jadwal yang telah kita buat ya ? Besok kita ketemu lagi ya pak ? kita akan membahas tentang obat yang harus baak minum. Kita ngbrolnya besok diruangan baak saja , jam 10.00wib bapak setuju ? Baiklah kalu begitu saya permisi dulu ya pak bapak istirhat saja dulu.

47

Implementasi dan Evaluasi Hari/ tanggal Rabu 02-01-13 Bagaimana keadaannya hari ini. Apakah bapak sudah mengingat igat apa saja hobby bapak atau kegemaran bapak. Bagaimana kalau kita bicarakan hobby tersebut sekarang pak Dimana enaknya kita berbincangbincang pak, Berapa lama, Bagaimana kalau 15 menit pak. Apa saja hobby bapak. Terus apa lagi pak. S : Main volley, main sepak bola O : Klien senyum dan mau menyebutkan hobbynya Wah, rupanya bapak hobby main volley, tidak semua orang bisa main
48

Implementasi Selamat pagi pak. S : Pagi

Evaluasi O : Kontak mata ( + ) S : Baik. S : Iya, disini saja. O : Kontak mata ( + ) Klien tersenyum

S : Pertama kali saya belajar main volley itu waktu Smp.

volley seperti itu lo pak. Kapan pertama kali bapak belajar main volley. Siapa yang mengajari bapak. Ohh, begitu ya pak. Nah bagaimana kalau kita buat jadwal nanti kita latih kemampuan bpk ini.berapa kali sehari atau seminggu bapak mau bermain volley nya Apa yang bapak harapkan dari kemampuan bermain volley ini. Ada tidak kemampuan atau hobby bapak yang lain selain bermain volley. Bagus sekali pak, ternyata bapak juga banyak hobby nya ya. Bagaimana perasaan bapak setelah kita bercakap-cakap? Setelah ini coba bapak lakukan latihan kita buat ya. Besok kita bertemu lagi ya pak, kita akan membahas tentang obat yang harus bapak minum, kita ngobrolnya besok disini saja ya pak. Jam 10.00 wib, apa bapak setuju. Baiklah kalau begitu, saya permisi
49

O : Klien ingat kapan ia mulai belajar main volley dan tersenyum saat mengatakannya S : Diajari oleh guru saya disekolah. O : Klien senyum S : Iya, 2 kali seminggu aja

harian untuk kemampuan bapak ini ya, O : Klien tampak senang

S : Saya berharap biar saya punya aktivitas dan tidak hanya diam saja. O : Klien menunduk S : Hobby saya selain main volley adalah sepak bola. S : Iya O : Klien senyum S : Senang karena ada teman ngobrol. O : Klien tampak senang dan senyum S : Iya yang telah dibuat

volley sesuai dengan jadwal yang telah O : Klien mau melakukan jadwal

S : Iya

dulu ya pak..,bapak bisa lanjutkan istirahatnya. Sampai bertemu besok ya pak A : Tuk 2 tercapai ditunjukkan dengan klien mampu menyebutkan kemampuan yang dimilikinya dan memperagakannya P : lanjutkan Tuk 3

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

Hari/tanggal : Kamis , 03-01-2013 Ruangan : Murai B Pertemuan ke : 3

Nama klien No. medrek Kelompok

: Tn. A : : kelompok 3

A.

Proses keperawatan
1.

Kondisi klien Klien tampak lebih baik dan bersemangat. Pasien mengatakan kalau ia seorang polisi.

2.

Diagnose keperawatan Perubahan proses pikir : Waham kebesaran.

3.

Tujuan khusus
-

Mengajarkan dan melatih cara minum obat yang benar Menjelaskan efek samping dan jenis-jenis obat Pasien menggunakan obat dengan prinsip 5 benar.

4.

Tindakan keperawatan
-

Diskusikan bersama klien tentang obat yang dia minum


50

Ajarkan klien mengetahui efek sampng dan kegunaan obat yang di minum Bantu klien menggunkan obat dengan prinsip 5 benar

B.

Strategi komunikasi
1.

Orientasi Selamat pagi pak. Apa masih ingat dengan saya ? ya benar pak. Bagaimana keadaan hari ini pak ? apa sudah dicoba latihan volleynya ? bagus sekali. Semalam tidurnya nyenyak pak ? sesuai dengan janji nkita kemarin pak, hari ini kita akan membicarakan tentang obat yang bapak minum. Dimana kita mau berbincang- bincang pak ? bagaimana kalau disini saja ? Berapa lama kita berbincang- bincang pak ? 15 atau 20 menit ?

2.

Fase kerja Bapak ada berapa macam obat yang bapak minum? jam berapa saja obatnya diminum ? Bapak perlu minum obat agar bapak cepat sembuh, pikiran bapak jadi tenang, tidurnya juga tenang. Kalau bapak tidak minum obat nanti skait bapak akan kambuh.Obatnya ada tiga macam pak. Yang warna orange CP2 gunanya agar tenang. Yang putih ini namanya THP gunanya agar rileks, dan merah jambu ini namanya HLP gunanya agar pikirannya jadi teratur. Semua I ni diminum 3 kali sehari jam 7 pagi. Jam 1 siang dan jam 7 malam. Bila nanti setelah minum obat mulut bapak terasa kering. Untuk membantu mengatasinya bapak bisa banyak minum. Sebelum minum obat ini bapak harus mengecek dulu label dikotak obay apakah bener nama bapak tertulis disitu, berapa dosis atau butir yang harus diminum. Jam berapa saja harus diminum. Baca juga apakah obatnya suda benar.
51

Obat-obat ini harus diminum secara teratur dan kemungkinan besra harus diminum dalam waktu yang lama. Agar tidak kambuh lagi sebaiknya bapak tidak menghentikan sendiri obat yang harus diminum sebelum berkonsultasi dengan dokter

3.

Fase terminasi Bagaiman perasaan bapak setelah kita bercakap- cakap tentang obat yang bapak minum ? nah sekarang coba bapak ulangi lagi apa saja macam obat yang bapak minum, keuntungan minum obat dan kerugian apabila minum obat ? dan jam berapa saja bapak harus minum obatanya ? Mari kita ,masukkan kedalam jadwal kegiatan bapak ya ? jangan lupa minum obatnya dan nanti saat makan minta obatnya pada suster. Jadwal yang telah kita buat kemarin lanjutkan ya pak. Bapak, besok kita ketemu lagi untuk melihat jadwal kegiatan yang telah dilaksanakan Bagaimana kalau sepertia biasa, jam 10.00wib dan di tempat yang sama ? Bapak setuju ? sampai besok ya pak.

52

Implementasi dan Evaluasi Hari/tanggal Kamis 03-01-13 Masih ingat dengan saya pak. Bagaimana keadaannya hari ini. Implementasi Selamat pagi pak. S : Pagi. O : Kontak mata ( + ) S : Masih. O : Klien masih ingat dengan perawat S : Baik O:Kontak mata(+), Klien tampak senang Apa sudah bpk coba latihan main volleynya pak. Bagus sekali pak. Sesuai dengan janji kita kemaren pak. Hari ini kita akan membicarakan tentang obat yang bapak minum, dimana kita mau berbincang-bincang pak, bagaimana kalau disini saja pak, kita ngobrolnya selama 15 menit ya pak, apa bapak setuju. Bapak, ada berapa macam obat yang bapak minum, warna apa aja pak,
53

Evaluasi

S : Sudah. S : Iya, Terserah mau berapa lama O : Klien senyum dan mau berbincangbincang dengan perawat

S : Ada 3 macam. Orange, putih, merah jambu. O : Klien mampu menyebutkan berapa

macam obat yang ia minum dan warna obatnya Bapak tau nggak fungsi obat yang bapak minum untuk apa dan namanya apa. Obat yang bapak minum ada 3 macam, yang warna orange namanya CPZ gunanya agar tenang., yang putih ini namanya THP gunanya agar Rileks, dan yang merah jambu ini namanya HLP gunanya agar pikiran jadi tenang, semua ini diminum 3 kali sehari. Bila nanti setelah minum obat mulut bapak terasa kering, untuk membantu mengatasinya bapak bisa banyak minum. Sebelum minum obat ini bapak harus mengecek dulu label dikotak obat apakah benar nama bapak tertulis disitu. Berapa butir yang harus diminum, jam berapa harus diminum, baca juga apakah nama obatnya sudah benar. Obatobat ini harus diminum secara teratur dan kemungkinan besar harus diminum dalam waktu yang lama, agar tidak kambuh lagi sebaiknya bapak tidak menghentikan sendiri obat yang harus diminum sebelum
54

S : Tidak tau. O : Klien tidak tau fungsi obat yang ia minum S : Iya O : Klien memperhatikan perawat saat menjelaskan obat yang ia minum dan fungsi obat

berkonsultasi dengan dokter. Bagaimana perasaan bapak setelah kita bercakap-cakap. Nah sekarang coba bapak ulangi apa yang saya jelaskan tadi. Kita masukkan dalam jadwal kegiatan bapak ya? Jangan lupa minum obatnya, jadwal yang kita buat kemaren dilanjutkan ya pak.besok kita bertemu lagi untuk melihat jadwal kegiatan yang telah dilaksanakan. Kita bertemu lagi besok disini jam 10.00 wib. Bapak setuju ?, baiklah pak, bapak bisa istirahat lagi. A : Tuk 3 tercapai, ditandai dengan klien mampu menjelaskan fungsi obat yang diminum dan kerugiannya apabila tidak patuh minum obat P: pantau penerapan sp 3 S : Iya O : Klien mau memasukkan kegiatan minum obat dalam jadwal yang telah dibuat S : Senang. O : Klien tampak senang dan tersenyum S : Saya minum obat 3 x sehari, warnanya orange O : Klien mampu menjelaskan obat yang ia minum merah muda, putih,

55

BAB IV PEMBAHASAN

Setelah melakukan asuhan keperawatan jiwa pada TN.A dengan gangguan isi pikir : Waham kebesaran selama 7 hari mulai pada tanggal 02 Januari 2013 sampai 09 Januari 2013. Dalam melaksanakan asuhan keperawatan dilahan praktek ada beberapa perbedaan yang ditemukan kurang sesuai dengan konsep teori yang ada. Oleh karena itu pada BAB IV ini penulis berusaha akan membahasnya yang meliputi semua tahapan proses yang dimulai dari pengkajian sampai evaluasi keperawatan.
1.

Pengkajian Pada proses pengkajian penulis memperoleh data dengan menggunakan metode wawancara baik dengan klien secara langsung, keluarga dan orang terdekat. Selain itu juga penulis memperoleh data dari, observasi langsung dengan klien dan laporan kesehatan klien atau status klien diruang rawat inap. Selama melakukan pengkajian penulis tidak banyak menemukan hambatan yang berarti dalam memperoleh data tentang klien. Hal ini dikarenakan adanya kerjasama antar klien, keluarga, orang terdekat klien dan tim kesehatan lainnya.

56

Hasil pengkajian pada TN.A ditemukan data bahwa penyebab klien masuk ke Rumah Sakit Jiwa Soeprapto Daerah Bengkulu ialah dimana klien mengalami gangguan isi pikir : Waham kebesaran. Hal ini disebabkan karena ada masalah tentang cita-cita yang tidak tercapai untuk menjadi anggota polisi . Dimana klien sangat mendambakan sebagai anggota polisi namun klien mengalami hambatan dalam mengikuti tes polisi sebanyak dua kali namun klien mengalami kegagalan sehingga klien mengalami frustasi dari itu juga klien tidak mendapatkan dukungan dari kedua orang tuanya,orang tua klien lebih mendukung klien untuk menjadi seorang guru tapi klien menolaknya dan klien masih berabisi untuk menjadi polisi tapi orang tua klien tidak mengizinkan klien untuk ikut tes yang ketiga kalinya dengan alasan klien sudah mengikuti tes polisi sebanyak dua kali tapi hasilnya gagal sehingga orang tuanya trauma. Dari kegagalan yang dialami sebanyak dua kali itu sangat membuat klien terpukul dan frustasi berat sehingga timbul prilaku-prilaku yang menyipang dari klien seperti klien sering menyendiri, mengamuk tanpa ada sebab,sering mengaku sebagai anggota polisi dan klien sering menghentikan kendaraan bermotor yang melitas di depan rumahnya karena klien merasa sebagai anggota polisi. Hal ini sesuai dengan konsep teori yang dikemukakan oleh Ade, 2011 dimana tanda-tanda waham ialah: Menolak makan, tidak ada perhatian perawatan diri, ekspresi wajah sedih/gembira/ketakutan, gerakan tidak terkontrol, mudah

tersinggung, isi pikiran tidak sesuai dengan kenyataan, tidak bisa membedakan antara kenyataan dan bukan kenyataan, menghindari dari orang lain, mendominasi Pembicaran, dan berbicara kasar.
57

Faktor predisposisi dan faktor presipitasi pada klien TN.A diatas tidak semuanya sesuai dengan konsep teori yang penulis buat. Sedangkan pada faktor predisposisi dan faktor presipitasi yang penulis buat yang bersumber dari buku Ade, 2011 disebabkan oleh faktor perkembangan, faktor sosial budaya, faktor psikologis, faktor biologis, faktor genetik, dan faktor biokimia. Pada klien TN.A waham yang timbul disebabkan oleh faktor psikologis, koping individu yang tidak efektif, dimana klien kurang mendapat dukungan yang kuat dan baik dari keluarga maupun lingkungan dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi klien. Pada perubahan perilaku pada saat pengkajian tidak semua data ditemukan yang sesuai dengan konsep teori. Pada pengkajian konsep diri yang sesuai dengan konsep teori yang bersumber dari Depkes RI 1994 ialah pada harga diri dimana klien selalu tampak diam dan tidak percaya diri, terkadang pandangan mata hanya fokus pada satu arah saja dan klien tidak mau berbincang pada orang sekitar. Sedangkan pada pengkajian status mental yang sesuai dengan konsep teori ialah pembicaraan lambat dan pelan, aktivitas motorik yang kurang aktif atau tidak kooperatif, alam perasaan yang selalu tampak sedih terkadang mengamuk, afek yang labil, klien yang tidak dapat menceritakan masalahnya dengan baik dengan perawat atau keluarga, interaksi selama wawancara klien hanya menjawab seperlunya saja dengan nada pelan, persepsi klien yang beranggapan ada yang datang dan mengajak berbicara dengan klien, tingkat kesadaran klien yang tidak dapat mengingat waktu, tempat, kemampuan klien yang tidak dapat mengambil keputusan sendiri atau menilai dan daya tilik diri yang mana klien tidak merasa ia sakit.

58

Sedangkan data yang tidak sesuai dengan konsep teori ialah pada pemeriksaan fisik, dimana ditemukan Tekanan darah yang normal, Nadi yang normal, Suhu tubuh yang normal, dan Pernafasan yang normal. Sedangkan pada konsep teorinya ialah data pemeriksaan fisik abnormal, misalnya pada tekanan darah yang meningkat, nadi meningkat, hal ini dikarenakan klien selalu menolak makan, kadang-kadang klien labil. 2. Diagnosa Keperawatan Pada konsep teori yang penulis buat bersumber dari Ade, 2010 dan farida terdapat 4 diagnosa keperawatan yaitu:
a) b) c) d)

Resiko tinggi prilaku kekerasan Perubahan proses fikir : waham kebesaran Isolasi sosial Harga diri rendah kronis

Pada studi kasus penulis menemukan 4 diagnosa keperawatan yang sesuai dengan konsep teori yaitu: Resiko tinggi prilaku kekerasan, perubahan proses fikir : waham kebesaran, isolasi sosial, harga diri rendah kronis. Dari 4 diangnosa yang penulis temuakan 1 diagnosa yang dapat di angkat dikarenakan keterbatasan waktu.diagnosa yang dapat diangkat yaitu : gangguan proses fikir : waham kebesaran. 3. Intervensi keperawatan

59

Penyusunan intervensi keperawatan yang dilakukan oleh penulis berdasarkan diagnosa yang penulis temukan dan disesuaikan berdasarkan kebutuhan klien. Tujuan dan kriteria hasil serta prioritas masalah perencanaan yang penulis ambil diantaranya : a. Diagnosa gangguan proses pikir : waham kebesaran intervensi yang penulis buat ialah : bina hubungan saling percaya dengan keluarga (berkenalan, kontrak waktu dan menjelaskan tujuan pertemuan), tunjukan sikap menerima keyakinan klien tanpa sikap mendukung, tidak membantah/menyangkal keyakinan klien. bantu klien untuk menghubungkan keyakinan yang salah dengan peningkatan kecemasan, fokus dan kuatkan realita, bantu dan dukung klien dalam mengungkapkan secara verbal . 4. Implementasi keperawatan Pelaksanaan tindakan keperawatan yang dilakukan oleh penulis secara nyata langsung kepada klien TN. A, merupakan realisasi dari intervensi keperawatan yang sesuai dengan konsep teori yang dilaksanakan selama 7 hari secara bertahap, spesifik dan akurat. Hal ini dimaksudkan agar penerapannya sesuai dengan tujuan yang dicapai. Intervensi yang paling utama penulis lakukan ialah membina hubungan saling percaya dengan menggunakan teknik komunikasi terapeutik yang merupakan kiat keperawatan jiwa), menunjukan sikap menerima keyakinan klien tanpa sikap mendukung, tidak membantah/menyangkal keyakinan klien. Membantu klien untuk menghubungkan keyakinan yang salah , memfokus dan menguatkan pada realita, membantu dan

mendukung klien dalam mengungkapkan secara verbal perasaan emosinya. Membantu dan mendorong klien dalam mengontrol emosinya, mendiskusikan dengan anggota keluarganya tentang masalah yang dihadapinya oleh klien, memberi
60

pujian atas apa yang sudah dilakukan oleh klien dan melakukan Sp pada klien,hanya SP keluarga yang tidak penulis lakukan dikarenakan keluarga klien tidak ada. 5. Evaluasi keperawatan Selama 7 hari penelitian, penulis menemukan 4 diagnosa keperawatan yang berdasarkan konsep teori, dari 4 diangnosa yang ditemuakan hanya 1 diangnosa yang penulis angkat yaitu gangguan proses fikir : waham kebesaran hal tersebut karena keterbatasan waktu.
a.

Gangguan isi pikir : waham kebesaran, masalah tercapai sebagian hal ini dikarenakan pada diagnosa ini SP 4 keluarga belum dapat terlaksanakan.

61

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Waham adalah Keyakinan terhadap sesuatu yang salah dan secara kukuh dipertahankan walaupun tidak diyakini oleh orang lain dan bertentangan dengan realita normal. Penyebab secara umum dari waham adalah gannguan konsep diri : harga diri rendah. Harga diri rendah dimanifestasikan dengan perasaan yang negatif terhadap diri sendiri, termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri, merasa gagal mencapai keinginan. Ada kecenderungan hubungan di dalam keluarganya yang tidak harmonis ditandai dengan kekacauan, tidak berperasaan, dingin. Saat ini, kebermaknaan keadaan keluarga seperti ini sebagai etiologi belum pasti. mekanisme pertahanan spesifik yang digunakan oleh pasien biasanya penyangkalan, proyeksi, dan regresi.

B. Saran

62

Dalam memberikan asuhan keperawatan klien dengan Waham, hendaknya dilakukan kontak yang sering dan singkat dengan memodifikasinya berdasarkan

kemampuan dan kebutuhan klien. Selain itu tidak mendukung dan tidak menyangkal isi wahamnya. Terapi aktifitas kelompok (TAK) hendaknya dilakukan secara rutin dan teratur karena merupakan suatu terapi yang dapat mempercepat proses penyembuhan. (dapat memutuskan stimulus internal klien dengan memberikan stimulus eksternal). DAFTAR PUSTAKA Depkes RI. 2000. Keperawatan Jiwa : teori dan Tindakan Keperawatan Jiwa. Jakarta : Depkes RI Keliat, B. A. 1999. ProsesKesehatan Jiwa. Edisi 1. Jakarta : EGC. Stuart, G. W. dan Sundeen, S. J. 1995. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Terjemahan dari Pocket Guide to Psyciatric Nursing, oleh Achir yani S. Hamid. Jakarta : EGC.

63