Anda di halaman 1dari 2

Hematoma dari Septum Nasal Trauma hidung minor terjadi pada anak-anak hampir setiap hari.

Sebuah komplikasi serius tetapi jarang pada trauma hidung atau wajah adalah hematoma septum hidung, yang merupakan kumpulan darah antara tulang rawan dan tulang septum hidung. Hidung memiliki suplai darah yang sangat kaya dari arteri karotis eksternal dan internal. Pleksus Kisselbach adalah suplai darah untuk septum hidung anteroinferior, yang merupakan lokasi dari sebagian besar episode epistaksis. Ketika hidung terkena trauma, pembuluh darah mungkin merobek, menyebabkan pengumpulan darah di ruang antara tulang rawan dan perichondrium. Jika darah terus terkumpul, suplai darah tulang rawan dapat terhambat, menyebabkan tekanan yang disebabkan nekrosis avaskular dari tulang rawan hidung. Sebuah hematoma dari septum hidung dapat hadir segera atau, lebih biasanya, beberapa hari setelah cedera awal. Dalam sebuah penelitian, saat presentasi berkisar antara 1 sampai 14 hari setelah trauma (rata-rata, 5,9 hari). Banyak anak-anak atau orang tua mengingat trauma khusus untuk hidung, seperti perkelahian, jatuh, benturan muka oleh bola, atau tabrakan dengan obyek. Untuk anak-anak muda yang telah mengalami trauma, pelecehan anak juga harus diperhatikan. Gejala yang paling umum adalah sumbatan hidung, tapi rasa sakit, rhinorrhea, dan demam juga dapat terjadi. Kehadiran demam harus meningkatkan kecurigaan abses septum hidung. Pemeriksaan intranasal sangat penting. Septum muncul berlumpur/berlendir (atau pucat) dan bengkak. Nyeri mungkin ada yang terlokalisir pada septum bersama dengan palpasi lembut ujung hidung. Mukosa hidung dapat bengkak berwarna biru, ungu, atau seperti cherry melewati septum yang sering menyumbat aliran udara. Hematoma mungkin unilateral atau bilateral, dengan lesi bilateral yang biasanya pada fraktur septum. Jika vasokonstriktor intranasal telah diberikan kepada pasien, massa tetap berukuran sama dan berfluktuasi saat diperiksa. Manajemen hematoma septum hidung termasuk konsultasi otolaryngologist untuk insisi dan drainase segera. Jika pembengkakan tersebut tidak lega, tulang rawan dapat dihancurkan, menyebabkan hidung terjadi obstruksi jalan napas, perforasi septum, dan kelainan bentuk hidung. Komplikasi tersebut sangat relevan dalam perkembangan anak, yang membutuhkan tulang rawan untuk dukungan dari hidung dan pertumbuhan wajah. Keruntuhan tulang rawan dapat menyebabkan deformitas kosmetik seperti punuk hidung atau "hidung sadel." Karena hematoma mempunyai media yang kaya, sehingga pasien juga

berisiko terinfeksi. Staphylococcus aureus, Streptococcus pneumoniae, grup A Streptococcus beta-hemolitik, Haemophilus influenzae, dan anaerob adalah kuman patogen potensial. Pembentukan abses dapat menyebabkan komplikasi tambahan, termasuk meningitis, abses otak, subarachnoid empiema, dan trombosis sinus kavernosus. Klindamisin direkomendasikan sebagai pengobatan awal menunggu hasil kultur. Pembungkus hidung dan cakupan dengan antibiotik diindikasikan selama awal pengobatan. Pembungkus hidung, biasanya selama 2 sampai 3 hari, membantu mencegah akumulasi kembalinya darah. Pasien harus diikuti untuk akumulasi kembali dari hematoma atau tanda-tanda infeksi. Rekonstruksi dan perbaikan dapat dimulai sedini mungkin sejak 6 bulan setelah proses penyakit aktif telah dikendalikan. Pasien harus terus dipantau untuk tanda-tanda kerusakan tulang rawan dan perubahan kosmetik untuk 12 sampai 18 bulan ke depan. Ketika memulangkan pasien yang telah menderita semua jenis trauma hidung atau cedera wajah, orang tua dan pasien harus diperingatkan untuk memperhatikan tanda-tanda dan gejala dari hematoma hidung.

Komentar: Kadang diagnosis ini menjadi suli untuk dokter karena tumpang tindih antara gejala hematoma dari septum hidung dan yang biasanya infeksi saluran pernapasan. Dalam satu penelitian, hanya 50% dari pasien yang menderita hematoma septum hidung disertai dengan rasa sakit. Gejala obstruksi hidung, rhinorrhea, dan demam dapat mudah dikaitkan untuk hidung tersumbat ditandai dari infeksi saluran pernapasan atas. Oleh karena itu, menanyakan tentang riwayat trauma sangat penting. Karena beberapa kasus mungkin berhubungan dengan trauma ringan dan waktu untuk munculnya dapat berkisar dari 1 sampai 14 hari, orang tua mungkin tidak ingat cederanya tanpa diberitahu. Menggunakan anestesi topikal, pemberian dekongestan, dan penyelidikan dapat membantu dalam membuat diagnosis karena pembengkakan hidung dari hematoma tidak berkurang dengan dekongestan.