Anda di halaman 1dari 11

ADAKAH PEMBAGIAN ANTARA TUBUH DAN PIKIRAN, MATERI DAN KESADARAN, FISIK DAN SPIRITUAL?

BAGAIMANA SESEORANG DAPAT MENTRANSENDENSI TUBUH DAN PIKIRAN UNTUK MENCAPAI KESADARAN SPIRITUAL? Sumber: Osho: The Psychology of the Esoteric: Esoteric Games: A Hindrance To Growth Hal pertama yang harus dipahami adalah pembagian antara tubuh dan pikiran adalah salah samasekali. Jika kamu memulai dengan pembagian itu kamu tidak akan mencapai ke mana-mana; suatu permulaan yang salah tidak akan membawa ke manapun. Tidak ada yang dapat dihasilkan olehnya karena setiap langkah mempunyai perkembangan logisnya masing-masing. Langkah kedua akan muncul dari langkah pertama, dan langkah ketiga dihasilkan dari langkah kedua, dst. Ada suatu urutan logis. Jadi pada saat kamu mengambil langkah pertama, kamu telah memilih semuanya dalam suatu cara. Langkah pertama lebih penting daripada langkah terakhir, permulaan lebih penting daripada akhir, karena akhir hanyalah suatu hasil, suatu perkembangan. Tetapi kita selalu memikirkan akhir, tidak pernah memikirkan awal; selalu memikirkan tujuan, tidak pernah memikirkan cara. Akhir telah menjadi begitu penting bagi kita sehingga kita kehilangan jejak benihnya, awalnya. Lalu kita dapat terus bermimpi, tetapi kita tidak pernah mencapai yang nyata. Bagi setiap pencari, konsep pribadi yang terbagi ini, konsep tentang eksistensi ganda ini tubuh dan pikiran, fisik dan spiritual - adalah langkah yang salah. Keberadaan itu tidak terbagi; semua pembagian hanya bersifat mental. Cara pikiran memandang pada setiap hal menciptakan suatu dualitas. Adalah merupakan penjara bagi pikiran yang membagi. Pikiran tidak dapat berbuat lain. Adalah sulit bagi pikiran untuk memahami dua kontradiksi sebagai satu, kutub berlawanan sebagai satu. Pikiran mempunyai suatu paksaan, suatu obsesi untuk menjadi konsisten. Ia tidak dapat memahami bagaimana terang dan gelap sebagai satu. Itu tidak konsisten, itu paradoksikal. Pikiran harus menciptakan pertentangan: Tuhan dan iblis, hidup dan mati, cinta dan benci. Bagaimana orang dapat memahami cinta dan benci sebagai satu energi? Itu sulit bagi pikiran. Jadi pikiran membagi. Kemudian kesulitannya hilang. Benci itu lawan cinta, dan cinta lawan benci. Sekarang kamu dapat menjadi konsisten dan pikiran menjadi tenang. Jadi pembagian itu suatu kenyamanan bagi pikiran - bukan kebenaran, bukan suatu kenyataan. Adalah nyaman untuk membagi dirimu menjadi dua: tubuh dan kamu. Tetapi pada saat kamu membagi, kamu sudah mengambil langkah yang salah. Kecuali kamu kembali dan mengubah langkah pertama, kamu akan mengembara dari kehidupan ke kehidupan, dan tidak ada yang dihasilkan darinya; karena satu langkah salah menuntun lebih banyak langkah salah lainnya. Jadi mulailah dengan permulaan yang benar. Ingatlah bahwa kamu dan tubuhmu itu bukan dua, bahwa dua itu hanya suatu kenyamanan. Satu saja sudah cukup sejauh berkaitan dengan Keberadaan.

Adalah palsu membagi dirimu menjadi dua. Sesungguhnya, kamu selalu merasa bahwa kamu itu satu, tetapi sekali kamu mulai memikirkannya, masalah mulai timbul. Jika tubuh kamu sakit, pada saat itu kamu tidak pernah merasa dirimu dua. Kamu merasa kamu satu dengan tubuhmu. Hanya sesudahnya, ketika kamu mulai memikirkan soal itu, kamu membagi. Pada saat kini, tidak ada pembagian. Sebagai contoh, jika seseorang menaruh pisau di dadamu, pada saat itu tidak ada pembagian. Kamu tidak berpikir ia akan membunuh tubuhmu; kamu pikir ia akan membunuh KAMU. Hanya sesudahnya, ketika pengalaman itu sudah menjadi bagian dari memori, kamu dapat membagi. Sekarang kamu dapat melihat pada kejadiannya, memikirkan soal itu. Kamu dapat berkata orang itu akan membunuh tubuhmu. Tetapi kamu tidak dapat mengatakan itu pada saat kejadian itu sendiri. Kapansaja kamu merasa, kamu merasakan kesatuan. Kapansaja kamu berpikir, kamu mulai membagi. Kemudian, permusuhan tercipta. Jika kamu bukan tubuh, suatu pergulatan berkembang. Pertanyaan timbul: Siapa tuannya? Tubuh atau saya? Lalu ego mulai merasa disakiti. Kamu mulai menindas tubuh. Dan saat kamu menindas tubuh, kamu menindas dirimu sendiri; saat kamu berkelahi dengan tubuh, kamu berkelahi dengan dirimu sendiri. Banyak kebingungan tercipta. Ia menjadi bunuh diri. Bahkan jika kamu mencoba, kamu tidak dapat benar-benar menindas tubuhmu. Bagaimana saya dapat menindas tangan kiriku dengan tangan kananku? Mereka tampak seperti dua, tetapi energi yang sama mengalir di keduanya. Jika mereka benar-benar dua, maka penindasan akan menjadi mungkin - dan tidak hanya penindasan, penghancuran total akan menjadi mungkin - tetapi jika energi yang sama mengalir di keduanya, bagaimana saya dapat menindas tangan kiriku? Ini hanya permainan pura-pura. Saya dapat membuat tangan kananku menindih tangan kiriku, dan saya dapat berpura-pura tangan kananku telah menang, tetapi detik selanjutnya saya dapat mengangkat tangan kiriku dan tidak ada yang dapat menghentikannya. Inilah permainan yang kita lakukan. Ia berlangsung terus menerus. Kadang-kadang kamu menekan seks, dan kadang-kadang seks menekanmu. Ia menjadi lingkaran setan. Kamu tidak dapat menekan seks. Kamu dapat mentransformasikannya, tetapi kamu tidak pernah dapat menekannya. Memulai dengan suatu pembagian antara kamu dana tubuh mengarah kepada penindasan. Jadi jika kamu ada untuk transformasi, kamu tidak seharusnya mulai dengan membagi. Transformasi dapat datang hanya dari suatu pemahaman keseluruhan sebagai keseluruhan. Penindasan datang dari kesalahpahaman keseluruhan sebagai bagian-bagian yang terbagi. Jika saya paham kedua tangan adalah milikku, maka usaha untuk menindas salahsatunya adalah konyol. Pergulatannya menjadi konyol, karena yang mana yang menindas yang mana? Siapa yang berkelahi dengan siapa? Jika kamu dapat merasa nyaman dengan tubuhmu, kamu dapat mengambil langkah pertama itu akan menjadi yang benar. Kemudian, pembagian, penindasan tidak akan ada. Jika kamu membagi dirimu dari tubuhmu, banyak hal akan mengikutinya secara otomatis. Semakin kuat kamu menindas tubuhmu, semakin frustrasi kamu jadinya, karena

penindasan itu mustahil. Gencatan senjata sementara dapat dicapai, tetapi kemudian kamu akan dikalahkan lagi. Dan semakin frustrasi kamu, semakin besar pembagian, semakin lebar gap yang berkembang antara kamu dan tubuhmu. Kamu mulai merasa semakin bermusuhan dengannya. Kamu mulai merasa tubuh sangat kuat dan mengapa kamu tidak dapat menindasnya. Lalu kamu berpikir: 'Sekarang saya harus berjuang lebih keras lagi!' Itulah sebabnya saya katakan segala sesuatu mempunyai logikanya masingmasing. Jika kamu memulai dengan suatu premis salah, kamu dapat terus berjalan ke tujuan, tidak pernah mencapai ke manapun. Setiap perjuangan menuntunmu ke perjuangan lainnya. Pikiran merasa: 'Tubuhku kuat dan saya lemah. Saya harus menindasnya lebih keras lagi.' Atau ia merasa: 'Sekarang saya harus membuat tubuhku lemah.' Semua pertapaan keras hanyalah usaha-usaha membuat tubuh lemah. Tetapi semakin lemah tubuh kamu buat, semakin lemah dirimu jadinya. Suatu kekuatan relatif selalu terjaga di antara kamu dan tubuhmu. Saat kamu menjadi lemah kamu mulai merasa lebih frustrasi, karena sekarang kamu lebih gampang dikalahkan. Dan kamu tidak dapat melakukan apa-apa: semakin lemah kamu, semakin kecil kemungkinan mengatasi tarikan tubuh dan kamu harus lebih kuat lagi melawannya. Jadi hal pertama adalah jangan berpikir dalam kerangka pembagian. Pembagian ini - fisik dan spiritual, material dan mental, kesadaran dan benda - hanyalah suatu kesalahan bahasa. Seluruh omongkosong tercipta dari bahasa. Sebagai contoh, jika kamu mengatakan sesuatu, saya harus menjawab ya atau tidak. Kita tidak punya sikap netral. Ya adalah selalu absolut, tidak juga absolut. Tidak ada kata netral dalam bahasa manapun. Jadi De Bono telah menciptakan satu kata baru, PO. Ia berkata PO seharusnya dipakai sebagai kata netral. Ia artinya: 'Saya telah mendengar pandanganmu. Saya tidak mengatakan ya atau tidak atas pandangan itu. Gunakan PO, dan seluruh kemungkinan berubah. 'Po' adalah suatu kata palsu yang diambil De Bono dari hypothesis atau possibility atau poetry. Ia adalah kata netral tanpa penilaian di dalamnya, tanpa kutukan, tanpa pujian, tanpa komitmen, bukan mendukung atau melawan. Jika seseorang menghinamu, katakan saja 'po'. Kemudian rasakan bedanya dalam dirimu. Suatu kata dapat membuat begitu banyak perbedaan. Ketika kamu berkata 'po', kamu sedang berkata: 'Saya telah mendengarkanmu. Sekarang saya tahu bahwa inilah sikapmu kepadaku. Kamu mungkin benar; kamu mungkin salah. Saya tidak membuat penilaian.' Bahasa menciptakan pembagian. Bahkan para pemikir besar terus menciptakan secara linguistik hal-hal yang tidak ada. Jika kamu tanya mereka, 'Apa itu pikiran?' mereka menjawab, 'Pikiran itu bukan materi.' Jika kamu bertanya, 'Apa itu materi?' mereka menjawab, 'Materi bukan pikiran.' Baik materi maupun pikiran tidak dikenal. Mereka mendefinisikan materi berdasarkan pikiran dan mendefinisikan pikiran berdasarkan materi. Akar-akarnya tetap tidak diketahui. Ini konyol, tetapi itu lebih nyaman bagi kita daripada berkata, 'Saya tidak tahu. Tidak ada yang dikenal soal itu.'

Ketika kita berkata, 'Pikiran bukan materi,' kita merasa nyaman - seolah-olah sesuatu telah didefinisikan. Tidak ada yang didefinisikan. Baik pikiran maupun materi tidak dikenal, tetapi mengatakan, 'Saya tidak tahu,' akan menggembosi ego. Saat kita membagi, kita merasa kita telah menjadi tuan atas hal-hal yang mana tidak kita pahami samasekali. Sembilan puluh sembilan persen filsafat diciptakan oleh bahasa. Bahasa yang berbeda menciptakan jenis filsafat yang berbeda, jadi kalau kamu mengubah bahasanya, filsafatnya akan berubah. Itulah sebabnya filsafat tidak dapat diterjemahkan. Sains selalu dapat diterjemahkan, tetapi filsafat tidak. Dan puisi bahkan lebih tidak dapat diterjemahkan karena ia tergantung pada kesegaran tertentu dari bahasa. Saat kamu mengubah bahasanya, aromanya hilang; citarasanya hilang. Citarasa itu milik dari susunan tertentu kata-kata, suatu penggunaan tertentu kata-kata. Mereka tidak dapat diterjemahkan. Jadi hal pertama yang harus diingat adalah jangan memulai dengan pembagian. Hanya kemudian kamu memulai dengan benar. Maksud saya bukan memulai dengan konsep 'saya adalah satu'. Bukan itu maksud saya. Sehingga lagi lagi kamu memulai dengan sebuah konsep. Mulai saja dengan ketidaktahuan, ketidaktahuan yang rendah hati; dengan suatu basis 'saya tidak tahu'. Kamu dapat mengatakan tubuh dan pikiran itu terpisah, atau kamu dapat mengambil posisi berseberangan dan dapat berkata, 'Saya adalah satu. Tubuh dan pikiran adalah satu.' Tetapi statemen ini masih mengandaikan suatu pembagian. Kamu mengatakan satu, tetapi kamu sedang merasa dua. Melawan perasaan dua kamu menegaskan kesatuan. Penegasan ini sekali lagi merupakan suatu penindasan yang halus. Jadi jangan memulai dengan advaita, dengan filsafat nondualistik. Mulailah dengan Keberadaan, bukan dengan konsep-konsep. Mulailah dengan suatu kesadaran nonkonseptual yang mendalam. Itulah yang saya maksudkan dengan suatu permulaan yang benar. Mulailah dengan merasakan yang eksistensial. Jangan berkata satu atau dua; jangan berkata ini atau itu. Mulailah dengan merasa apa yang ada. Dan kamu hanya dapat merasa apa yang ada ketika pikiran tidak ada - sungguh, ketika bahasa tidak hadir. Ketika bahasa absen, kamu berada dalam Keberadaan. Ketika bahasa hadir, kamu berada dalam pikiran. Dengan bahasa yang berbeda, kamu akan mempunyai pikiran yang berbeda. Ada begitu banyak bahasa. Tidak hanya secara linguistik, tetapi secara agama dan politik. Seorang komunis yang sedang duduk di sampingku itu tidak sedang berada bersamaku samasekali. Ia hidup dalam suatu bahasa yang berbeda. Di sisi lain dariku, mungkin sedang duduk seseorang yang percaya pada karma. Orang komunis dan orang ini tidak dapat bertemu. Tidak ada dialog yang mungkin karena mereka tidak tahu bahasa lawan bicaranya samasekali. Mereka mungkin menggunakan kata-kata yang sama, tetapi mereka tidak tahu apa yang dimaksudkan lawan bicaranya. Mereka hidup dalam alam semesta yang berbeda.

Dengan bahasa, setiap orang hidup dalam suatu alam semesta pribadi. Tanpa bahasa, kamu milik lidah umum, Keberadaan. Inilah yang saya maksudkan dengan meditasi; membuang dunia linguistik pribadi dan memasuki Keberadaan nonverbal. Mereka yang membagi tubuh dan pikiran selalu melawan seks. Alasannya adalah, biasanya, seks itu satu-satunya pengalaman alami yang nonverbal yang kita kenal. Bahasa tidak dibutuhkan samasekali. Jika kamu menggunakan bahasa dalam seks, kamu tidak dapat masuk secara mendalam. Jadi semua yang berkata kamu adalah bukan tubuh akan melawan seks, karena dengan seks kamu mutlak tak terbagi. Jangan hidup dalam dunia verbal. Masuklah mendalam ke dalam Keberadaan itu sendiri. Gunakan apasaja, tetapi kembali lagi dan lagi ke level nonverbal, level kesadaran. Dengan pohon-pohon, dengan burung-burung, dengan langit, dengan matahari, dengan awan-awan, dengan hujan - hiduplah dengan Keberadaan nonverbal dimana pun. Dan semakin kamu melakukannya, semakin dalam kamu masuk ke dalamnya, semakin kamu merasa suatu kesatuan yang tidak ada pertentangan keduaan; suatu kesatuan yang bukan hanya merupakan suatu rangkaian dari dua, tetapi merupakan kesatuan dari benua dengan pulau-pulau yang terhubung ke benua dibawah permukaan air lautan. Yang dua selalu merupakan yang satu. Kamu melihatnya sebagai dua karena kamu hanya melihat di permukaan. Bahasa adalah permukaan. Semua jenis bahasa - agama, politik - adalah di permukaan. Ketika kamu hidup dengan Keberadaan nonverbal, kamu sampai kepada suatu kesatuan yang halus yang bukan kesatuan matematis tetapi suatu kesatuan eksistensial. Jadi jangan mencoba bermain permainan verbal ini: 'Tubuh dan pikiran adalah terbagi; tubuh dan pikiran adalah satu...' Buang mereka! Mereka menarik, tetapi tidak berguna. Mereka tidak membawa ke mana-mana. Bahkan jika kamu menemukan kebenaran di dalam mereka, mereka hanya kebenaran verbal. Apa yang dapat kamu pelajari dari mereka? Selama beribu-ribu tahun pikiranmu telah bermain permainan ini, tetapi ia kekanak-kanakan; setiap permainan verbal itu kekanak-kanakan. Bagaimanapun seriusnya kamu bermain ia tidak ada bedanya. Kamu akan menemukan banyak hal yang akan mendukung posisimu, banyak makna, tetapi ia hanya sebuah permainan. Sejauh berhubungan dengan kerja sehari-hari, bahasa itu berguna; tetapi kamu tidak dapat masuk ke alam yang lebih dalam dengannya, karena alam-alam ini nonverbal. Bahasa hanya suatu permainan. Jika kamu menemukan suatu asosiasi antara yang verbal dengan yang nonverbal, alasannya bukan karena kamu telah menemukan suatu rahasia penting, bukan. Kamu dapat menemukan banyak asosiasi yang nampak penting, tetapi mereka tidak benar-benar penting. Mereka seperti ini karena pikiranmu telah secara tidak sadar menciptakan mereka. Pikiran manusia di mana-mana pada dasarnya sama, jadi setiap hal yang berkembang dari pikiran manusia cenderung sama. Sebagai contoh, kata 'mama' terbentuk sama dalam semua bahasa. Bukan karena ada sesuatu yang penting di dalamnya, tetapi karena suara 'ma' adalah suara yang paling mudah diucapkan semua anak. Begitu suara itu ada kamu

dapat menciptakan kata yang berbeda dari suara itu, tetapi suara hanyalah sebuah suara. Anak-anak hanya membuat suara 'ma', tetapi kamu mendengarnya sebagai sebuah kata. Kadang-kadang kesamaan dapat ditemukan yang hanyalah kebetulan. 'Tuhan' itu kebalikan dari 'hantu'. Itu hanya kebetulan. Tetapi kita merasakannya bermakna karena bagi kita 'hantu' adalah sesuatu yang rendah. (catatan penerjemah: aslinya adalah: God is the reverse of dog) Lalu kita berkata bahwa Tuhan adalah kebalikan dari ini. Ini adalah interpretasi kita. Mungkin bahwa untuk kebalikan dari Tuhan kita menciptakan sebuah kata 'hantu' dan kemudian memberi nama ini untuk menunjuk pada sesuatu. Keduanya tidak berkaitan sama sekali, tetapi jika kamu menciptakan hubungan di antara mereka, ia nampak penting bagimu. Kamu dapat terus menciptakan kesamaan dari segala hal. Kamu dapat menciptakan katakata seluas lautan, dengan kesamaan yang tidak terbatas. Sebagai contoh, kata 'monkey'. Kamu dapat memainkan kata ini dan menemukan asosiasi tertentu, tetapi sebelum Darwin hal ini tidak mungkin. Karena kita sekarang tahu bahwa manusia berasal dari monyet, kita dapat memainkan permainan kata-kata. Kita dapat berkata monkey sebagai man-key: key (kunci) ke manusia. Orang lain telah menghubungkan dua kata ini dengan cara berbeda. Mereka berkata bahwa monyet dan manusia berhubungan karena pikiran: man mempunyai pikiran monkeyish. Jadi kamu dapat menciptakan asosiasi dan menikmatinya, kamu dapat merasa ia sebagai sebuah permainan yang bagus, tetapi ia hanya sebuah permainan. Orang harus ingat itu. Kalau tidak kamu akan kehilangan jejak apa yang real dan apa yang hanya sebuah permainan, dan kamu akan menjadi gila. Semakin dalam kamu masuk dalam kata-kata, semakin banyak asosiasi kamu temukan. Dan kemudian, hanya dengan trik dan pemelintiran, kamu dapat menciptakan sebuah filsafat menyeluruh darinya. Banyak orang yang melakukan itu. Bahkan Ram Dass melakukan ini banyak sekali. Ia telah memainkan kata 'monkey' dengan cara ini; ia telah membandingkan kata 'dog' dan 'God' dengan cara ini. Itu baik; tidak ada yang salah dengan itu. Apa yang ingin saya katakan adalah ini: jika kamu memainkan permainan dan menikmatinya, maka nikmatilah - tetapi jangan dibodohi olehnya. Dan kamu dapat dibodohi. Permainan itu dapat menjadi begitu mengasyikkan sehingga kamu akan terus memainkannya, dan banyak energi akan terbuang sia-sia. Orang berpikir bahwa karena ada begitu banyak kesamaan di antara bahasa maka pasti ada suatu bahasa asal darimana semua bahasa datang. Tetapi kesamaan ini bukan karena ada suatu bahasa umum; mereka ada karena kesamaan pikiran manusia. Di seluruh dunia, orang yang frustrasi mengeluarkan bunyi yang sama; orang yang sedang jatuh cinta mengeluarkan suara yang sama. Suatu kesamaan dasar di antara manusia juga menciptakan kesamaan dalam kata-kata kita. Tetapi jangan terlalu dianggap serius, karena kemudian kamu dapat tersesat di dalamnya. Bahkan jika kamu menemukan sumber-sumber penting ia tidak bermakna, tidak relavan. Bagi seorang pencari spiritual, ia di luar inti persoalannya.

Dan pikiran kita adalah sedemikian rupa sehingga ketika kita mencari sesuatu kita memulai dengan sebuah prakonsepsi. Jika saya merasa muslim itu buruk, maka saya akan terus menemukan hal-hal yang mendukung argumen saya dan akhirnya saya membuktikan diriku benar. Lalu kapansaja saya bertemu seorang muslim saya mulai menemukan kesalahan-kesalahan, dan tidak ada orang yang mengatakan saya salah karena saya punya bukti. Seseorang bisa datang kepada orang yang sama dengan konsep yang berlawanan. Jika muslim berarti menjadi seorang baik bagi dia, bukti-bukti kebaikan ini dapat ditemukan pada orang muslim yang sama. Baik dan buruk bukan berlawanan; mereka ada bersamaan. Manusia mempunyai kemungkinan untuk menjadi keduanya, jadi apapun yang kamu cari dalam dirinya kamu akan menemukannya. Dalam situasi yang sama ia baik dan dalam situasi yang sama ia buruk. Ketika kamu menghakiminya, itu tergantung lebih kepada definisimu daripada situasi itu sendiri. Itu tergantung bagaimana kamu melihat ini atau itu. Jika kamu pikir merokok itu buruk, sebagai contoh, maka ia menjadi buruk. Jika kamu pikir bahwa bersikap dalam cara tertentu adalah buruk, maka ia menjadi buruk. Jika kita sedang duduk di sini dan seseorang jatuh tertidur ketika kita sedang bicara, jika kamu pikir itu buruk buruklah ia. Tetapi sebenarnya, tidak ada yang baik; tidak ada yang buruk. Seseorang dengan pendirian yang lain akan berpikir hal yang sama ini baik. Ia akan berpikir jika seseorang berbaring dan tertidur di antara teman-temannya, itu adalah baik karena ia merasakan kebebasan melakukan itu. Jadi itu tergantung pada pendirianmu. Saya pernah membaca tentang percobaan yang AS. Neill lakukan di sekolahnya, Summerhill. Ia bereksperimen dengan sekolah jenis baru di mana ada kebebasan total. Ia kepada sekolahnya, tetapi tidak ada disiplin. Suatu hari seorang guru sakit jadi ia beritahu anak-anak jangan membuat keributan untuk mengganggu guru malam itu. Tetapi pada malam hari, anak-anak mulai berkelahi persis di sebelah kamar guru sakit itu. Neill naik ke lantai atas. Ketika anak-anak mendengar seseorang naik mereka menjadi diam dan mulai belajar. Neill melihat ke dalam ruang melalui jendela. Seorang anak, yang sedang berpura-pura siap pergi tidur, melihatnya di jendela. Ia berkata pada anak lain, 'Hanya Neill. Ayo, tidak perlu berhenti. Itu hanya Neill.' Jadi mereka mulai berkelahi lagi. Dan Neill itu kepala sekolah! Neill menulis, 'Saya sangat senang mereka tidak takut padaku sampai mereka berkata, 'Tidak perlu berhenti. Itu hanya Neill.'' Ia merasa nyaman dengan itu, tetapi tidak ada kepala sekolah lain yang akan merasa nyaman. Tidak pernah ada kepala sekolah manapun! Tidak pernah ada dalam sejarah! Jadi itu tergantung padamu, pada bagaimana kamu mendefinisikan hal-hal. Neill merasa itu sebagai cinta, sekali lagi, itu adalah definisinya. Kita selalu menemukan apa yang kita cari. Kamu dapat menemukan apapun di dunia ini jika kamu dengan serius mencarinya.

Jadi jangan mulai dengan sebuah pikiran yang terpaku dalam mencari sesuatu. Mulai saja! Dan pikiran yang mencari bukan berarti mencari sesuatu tetapi semata-mata mencari saja. Semata-mata mencari, tanpa gagasan yang terprakonsepsi, dengan tidak ada pembatasan mencari. Kita menemukan hal karena kita mencarinya. Makna dari cerita Menara Babel dalam Bible adalah ketika kamu berbicara, kamu terbagi. Cerita itu bukan berarti orang mulai berbicara bahasa yang berbeda tetapi mereka mulai terus berbicara. Saat kamu berbicara, kebingungan timbul. Saat kamu mengutarakan sesuatu, kamu terbagi. Hanya keheningan yang satu. Banyak orang yang telah menyia-nyiakan hidupnya mencari sesuatu. Ketika sesuatu dianggap serius, kamu dapat memboroskan hidupmu dengan sangat mudah. Bermainmain dengan kata-kata itu begitu memuaskan ego sehingga kamu dapat memboroskan hidupmu melakukannya. Bahkan jika ia menarik - sebuah permainan bagus, menghibur ia tidak berguna bagi seorang pencari spiritual. Pencarian spiritual bukan sebuah permainan. Permainan yang sama dapat dilakukan dengan angka. Kamu dapat membuat hubungan. Kamu dapat menjelaskan mengapa ada tujuh hari dalam seminggu, tujuh not musik, tujuh lapisan kesadaran, tujuh tubuh. Mengapa selalu tujuh? Lalu kamu dapat menciptakan filsafat disekitarnya, tetapi filsafat ini hanya produk imajinasimu. Kadang-kadang hal bermula dengan cara yang sangat polos. Sebagai contoh, cara menghitung dimulai. Satu-satunya alasan ada sembilan angka adalah karena manusia mempunyai sepuluh jari. Di seluruh dunia, penghitungan pertama terjadi adalah dengan jari. Jadi sepuluh adalah batas yang dipilih. Ia cukup, karena kamu dapat terus mengulang. Jadi di seluruh dunia, hanya ada sembilan angka. Sekali sembilan telah ditetapkan, ia menjadi sulit untuk memahami bagaimana melakukan dengan angka yang lebih banyak atau lebih sedikit dari sembilan. Tetapi lebih sedikit dapat dipakai. Sembilan hanyalah sebuah kebiasaan. Leibnitz hanya menggunakan tiga angka: 1, 2 dan 3. Semua masalah dapat dipecahkan hanya dengan tiga angka atau sembilan angka. Einstein hanya menggunakan dua angka: 1 dan 2. Lalu perhitungan menjadi: 1, 2 10, 11, 12, 20, 21, 22, 100, ...Bagi kita, tampak ada delapan gap, tetapi gap itu tidak ada; ia hanya ada dalam pikiran kita. Kita mempunyai pendirian tetap bahwa 3 harus datang setelah 2. Tidak ada keharusan. Tetapi ia menjadi membingungkan kita. Kita pikir 2 tambah 2 selalu 4, tetapi tidak ada keharusan inheren. Jika kamu pakai sistem dua-digit, maka 2 tambah 2 akan menjadi 11. Tetapi kemudian '11' dan '4' mempunyai arti yang sama. Kamu dapat berkata bahwa dua kursi tambah dua kursi adalah empat kursi, atau kamu dapat berkata mereka adalah sebelas kursi, tetapi sistem apapun yang kamu ikuti, secara eksistensial jumlah kursi tetap sama. Kamu dapat menemukan alasan untuk segala hal - mengapa ada tujuh hari dalam seminggu, mengapa ada dua puluh delapan hari dalam siklus mens wanita, mengapa ada

tujuh not musik, mengapa ada tujuh alam kesadaran. Dan sesuatu dari perihal ini mungkin mempunyai suatu alasan di belakangnya. Sebagai contoh, kata 'menses' berarti sebulan. Ia mungkin bahwa manusia pertama mulai menghitung bulan menurut siklus menstruasi wanita, karena siklus feminin alami itu adalah suatu periode waktu yang tetap: dua puluh delapan hari. Ini akan menjadi metode mudah untuk mengetahui bahwa satu bulan telah lewat. Ketika istrimu mulai menses, satu bulan telah lewat. Atau, kamu dapat menghitung bulan berdasarkan bulan. Tetapi periode waktu yang kita sebut satu bulan menjadi tiga puluh hari. Bulan menjadi lebih besar selama lima belas hari dan menyusut selama lima belas hari, jadi tiga puluh hari ia telah melewati suatu siklus lengkap. Kita menetapkan bulan berdasarkan bulan, jadi kita berkata sebulan mempunyai tiga puluh hari. Tetapi jika kamu menetapkannya berdasarkan planet Venus atau dengan periode menstruasi, ia mempunyai dua puluh delapan hari. Kamu dapat melenyapkan disparitas dengan membagi siklus dua puluh delapan hari dan berpikir dalam kerangka mingguan tujuh hari. Lalu, sekali pembagian menjadi tetap dalam pikiran, hal-hal lain mengikutinya secara otomatis. Itulah yang saya maksud dengan: segala sesuatu mempunyai logikanya sendiri. Sekali kamu memiliki mingguan tujuh hari kamu dapat menemukan banyak pola lain dari tujuh, dan tujuh menjadi nomor penting, sebuah nomor magis. Bukan begitu. Seluruh hidup adalah magis atau tidak magis. Itu hanya sebuah permainan bagi imajinasi. Kamu dapat bermain dengan hal-hal ini, dan ada banyak kebetulan. Dunia ini begitu besar, begitu tidak terbatas, begitu banyak hal terjadi setiap detik, sehingga pasti ada kebetulan. Kebetulan mulai bertambah, dan akhirnya kamu menciptakan sebuah daftar yang begitu panjang sampai kamu diyakinkan olehnya. Lalu kamu bertanya-tanya, 'Mengapa selalu tujuh? Pasti ada misteri di dalamnya.' Misteri itu hanyalah pikiranmu melihat kebetulan-kebetulan itu dan mencoba untuk menafsirkan mereka dengan sebuah cara yang logis. Gurdjieff berkata bahwa manusia itu makanan untuk bulan. Ini sangat logis. Itu menunjukkan kebodohan logika. Segala hal dalam hidup itu berguna bagi sesuatu yang lain, jadi Gurdjieff tiba pada suatu ide yang sangat inventif: bahwa manusia pasti juga merupakan makanan bagi yang lain. Lalu, 'Manusia itu makanan buat apa?' menjadi sebuah pertanyaan logis untuk diajukan. Matahari tidak mungkin menjadi pemakan manusia karena cahaya matahari adalah makanan bagi makhluk lain, bagi tumbuhan. Manusia akan menjadi anak tangga yang lebih rendah bagi spesies lain. Tetapi ini tidak dapat terjadi karena manusia itu binatang tertinggi - menurut dia. Jadi, manusia tidak dapat menjadi santapan bagi matahari. Bulan terhubung dengan kita dengan cara yang lebih halus. tetapi bukan dengan cara yang seperti yang Gurdjieff katakan. Ia terhubung secara halus dengan periode

menstruasi wanita. Ia terkait dengan air pasang, pasang surut dan arus laut. Banyak orang terlihat menjadi gila pada saat bulan purnama. Itulah darimana kata 'lunatic' berasal: lunar, bulan. Bulan selalu menghipnotis pikiran manusia. Gurdjieff berkata, 'Manusia pasti menjadi makanan bulan, karena makanan dapat dengan mudah dihipnotis oleh si pemangsanya.' Binatang, khususnya ular, pertama-tama menghipnotis mangsanya. Mereka menjadi begitu lumpuh sehingga dapat dimakan. Ini adalah kebetulan lain yang dimainkan Gurdjieff. Penyair, orang gila, artis, pemikir, semua terhipnotis oleh bulan. Pasti ada sesuatu di situ. Manusia pasti suatu makanan. Kamu dapat bermain dengan ide ini. Dengan pikiran yang subur seperti Gurdjieff, hal-hal terus jatuh dalam suatu pola logis. Gurdjieff adalah seorang jenius yang mampu menyusun hal-hal dalam suatu cara sehingga mereka tampak begitu logis, rasional, bermakna, tidak soal seberapa absurdnya mereka. Ia mempostulatkan teori ini dan kemudian imajinasinya dapat menemukan banyak hubungan, banyak bukti. Setiap pembuat sistem menggunakan logika untuk merusak, untuk membuktikan pendapatnya. Setiap pembuat sistem! Mereka yang ingin tetap bersama kebenaran tidak dapat menciptakan sistem. Sebagai contoh, saya tidak dapat menciptakan sebuah sistem karena, bagiku, usaha itu sendiri salah. Saya hanya dapat bersifat terfragmen dalam apa yang saya katakan, secara tidak lengkap. Akan ada gap, sesuatu yang tidak terhubungkan. Padaku, kamu harus melompat dari satu titik ke titik lain. Sebuah sistem dapat diciptakan dengan sangat mudah karena gap-gap dapat diisi dengan imajinasi. Kemudian seluruh hal menjadi sangat jelas dan rapi, logis. Teatpi karena ia menjadi logis, ia bergerak semakin jauh dan jauh dari sumber eksistensial. Semakin banyak kamu tahu, semakin banyak kamu merasa ada gap-gap yang tidak dapat diisi. Keberadaan tidak pernah konsisten, tidak pernah. Sebuah sistem perlu konsisten, tetapi Keberadaan sendiri tidak pernah konsisten. Jadi tidak ada sistem yang pernah mampu menjelaskannya. Di mana saja manusia yang telah menciptakan sistem untuk menjelaskan Keberadaan - di India, di Yunani, di China - ia telah menciptakan permainan. Jika kamu menerima langkah pertama sebagai benar, maka seluruh sistem bekerja secara sempurna, tetapi jika kamu tidak menerima langkah pertama, seluruh bangunan runtuh. Seluruh bangunan adalah suatu aktivitas imajinasi. Ia baik, puitis, indah. Tetapi sekali sebuah sistem bersikeras bahwa versi Keberadaan nya adalah kebenaran mutlak, ia menjadi keras dan merusak. Sistem-sistem kebenaran ini adalah puitis. Mereka indah, tetapi mereka hanya puisi. Banyak gap harus diisi oleh imajinasi. Gurdjieff menunjukkan fragmen kebenaran tertentu, tetapi karena tidak mudah membuat sebuah teori dari satu atau dua fragmen, ia merakit banyak fragmen. Lalu ia mencoba membuat fragmen-fragmen ini menjadi sebuah sistem yang koheren. Ia mulai mengisi

gap-gap. Tetapi semakin banyak gap diisi, semakin banyak realitas hilang. Dan akhirnya, seluruh sistem runtuh oleh hal-hal yang mengisi gap-gap itu. Seseorang yang terpesona oleh kepribadian seorang guru mungkin menjadi sadar akan gap dalam teorinya, sementara mereka yang tidak terpesona akan melihat hanya gap-gap dan bukan fragmen kebenaran. Bagi para pengikutnya, Buddha adalah seorang buddha, seorang Tercerahkan - tetapi bagi orang lain ia menciptakan kebingungan karena mereka hanya melihat gap-gap. Jika kamu menghubungkan semua gap bersama ia menjadi destruktif, tetapi jika kamu menghubungkan semua fragmen kebenaran bersama, ia dapat menjadi sebuah fondasi bagi transformasimu. Kebenaran itu pasti bersifat fragmental. Ia begitu tidak terhingga sehingga dengan sebuah pikiran yang terbatas kamu tidak pernah dapat memperoleh keseluruhan. Dan jika kamu bersikukuh ingin mendapatkan keseluruhan, kamu akan kehilangan pikiranmu, kamu akan mentransendensi pikiranmu. Tetapi jika kamu menciptakan sebuah sistem, kamu tidak akan pernah kehilangan pikiranmu, karena kemudian pikiranmu mengisi gap-gap itu. Sistem menjadi rapi dan bersih; ia menjadi mengesankan, rasional, dapat dipahami, tetapi tidak pernah lebih dari itu. Dan sesuatu yang lebih dari itu diperlukan: kekuatan, energi untuk mentransformasi kamu. Tetapi kekuatan hanya dapat datang melalui kilasan fragmental. Pikiran menciptakan begitu banyak sistem, begitu banyak metode. Ia berpikir, 'Jika saya membuang hidup yang sedang kujalani ini, sesuatu yang lebih dalam akan ditemukan.' Ini konyol. Tetapi pikiran terus berpikir bahwa suatu tempat di Tibet, suatu tempat di Meru Pravat, suatu tempat, 'hal nyata' pasti sedang terjadi. Hati berada dalam konflik: bagaimana pergi ke sana? Bagaimana menghubungi guru-guru yang sedang bekerja di sana? Pikiran selalu mencari sesuatu di suatu tempat lain, tidak pernah mencari sesuatu di sini dan sekarang. Pikiran tidak pernah di sini. Dan setiap teori menarik orang-orang: 'Di gunung Meru, sesuatu yang nyata sedang terjadi sekarang juga! Pergilah ke sana, hubungi guru di sana, dan kamu akan ditransformasikan.' Jangan jadi korban akan hal seperti itu. Bahkan jika mereka punya dasar, jangan tertipu. Seseorang mungkin memberitahumu sesuatu yang nyata, tetapi alasan bagi ketertarikanmu itu salah. Yang nyata itu di sini dan sekarang; ia sedang bersamamu sekarang. Akhirnya, orang menemukan gunung Meru itu di sini, Tibet di sini: 'Di sini, di dalam diri ini. Dan saya telah berkelana dan berkelana ke mana-mana...' Semakin rasional sistem, semakin ia jatuh berantakan, dan sesuatu yang irasional harus diperkenalkan. Tetapi saat kamu berkenalan dengan unsur irasional, pikiran mulai pecah. Jadi jangan kawatir dengan sistem. Terjun saja ke dalam di sini dan sekarang.