Anda di halaman 1dari 5

UTS SEMINAR AUDITING RANGGIKA UTARI 1002133374 Dosen penguji: Dr Andreas CPA

Soal 1 Professional judgment merupakan kata kunci dalam menerapkan ISAs dan semua standar yang berbasis prinsip ( principles based standard). Apa yang anda ketahui tentang professional judgment dan mengapa merupakan kata kunci dalam menerapkan ISAs? Jawab: professional

judgment

dipengaruhi

oleh

penerapan

pengetahuan

dan

pengalaman seorang auditor dalam melaksanakan audit. Selain pengalaman dan pengetahuan dalam auditing, profesional judgment auditor juga ditentukan oleh sikap skeptisisme profesional. Hal ini senada dengan pernyataan U.S Government Accountability Office (GAO) dalam Government Auditing Standard yang menyebutkan bahwa professional judgment auditor didukung oleh penerapan sikap skeptisisme profesional. Profesional Judgement merupakan kata kunci dalam penerapan ISA, jika keputusan audit masih dibuat oleh auditor yang belum memiliki pengalaman yang memadai, ISA dengan tegas menyatakan bahwa audit tersebut tidak sesuai dengan ISA. Untuk Indonesia, ciri penerapan ISA yang paling jelas adalah seberapa besarnya keterlibatan partner yang pakar dalam penugasan audit tersebut. Soal 2 Anda diminta menjawab lima butir pertanyaan yang terdapat di dalam bab I buku Audit Berbasis ISA yaitu: Apakah ini keharusan? Dapatkah kita menolaknya? Jika harus, siapa yang mengharuskan? Mengapa kita harus menerimanya? Adakah pilihan-pilihan lain?

Jawab: Apakah ini keharusan? Pengadobsian International Standar on Auditing (ISA) merupakan sebuah keharusan bagi auditor, karena ISA merupakan standar audit yang berlaku internasional. Untuk bisa mengikuti dunia audit global seorang auditor harus mengikuti standar audit yang berlaku secara global, agar terjadi kesesuaian antara pemberi jasa dan penerima jasa audit. Dapatkah kita menolaknya? Auditor bisa menolak perubahan yang mengarah ke ISA, tetapi pastinya da konsekuensi yang akan ditanggung oleh auditor tersebut. Seorang auditor hanya bias memerikan jasa auditnya kepada perusahaan dengan entitas yang kecil, karena perusahaan kecil tersebut belum perlu menggunakan ISA. Karena itulah pangsa pasar audit untuk auditor semakin sempit, seiring dengan adanya perubahan pasar yang mengarah ke pengadobsian ISA Jika harus, siapa yang mengharuskan? Secara langsung tidak ada pihak yang mengharuskan auditor mengadopsi ISA. Pengadobsian ISA dilakukan karena adanya kekuatan perubahan pasar global yang secara langsung dapat mempengaruhi perusahaan atau entitas pengguna jasa audit. Hal ini memaksa auditor untuk mengikuti ISA, jika tidak auditor akan dipersilahkan keluar dari jaringan kerjasama global/internasonal. Mengapa kita harus menerimanya? Auditor menerima ISA bukan karena kebutuhan pasar, auditor juga dapat nilai tambah dari pengadosian ISA tersebut. dengan mengadopsi ISA diiharapkan dapat meningkatkan mutu atau kualitas audit dari seorang auditor, dengan memberikan laporan yang lebih baik bagi investor dan meminimalkan kegagalan. Auditor yang mendeteksi kecurangan secara tidak langsung akan memberikan reasonable assurance pada auditor atas tuntutan yang mungkin terjadi dikemudian hari. Adakah pilihan-pilihan lain? Bagi auditor besar yang memiliki jaringan global tentu tidak ada pilihan selain mengadopsi ISA, auditor besar juga tidak terlalu terkendala masalah beban pengadopsian ISA tersebut. tetapi untuk auditor kecil dengan sumber daya minimal, tentu akan kesulitan dalam mengadopsi ISA untuk itu auditor kecil, diperbolehakn untuk tidak mengadopsi ISA dan sebagai gantinya memilih SAK ETAP dengan konsekuensi pengurangan pangsa pasar auditnya. Atau dengan membentuk rekanan dengan auditor ternama, atau bias juga melakukan penggabungan sesama auditor kecil dan menjadi sebuah auditor gabungan yang memadai dalam mengadopsi ISA.

Soal 3 Pada halaman 59 dari buku Audit Berbasis ISA terdapat laporan auditor independen. Apabila anda perhatikan dengan seksama, perubahan mendasar apa yang anda lihat bila dibandingkan dengan laporan auditor independen sebelum penerapan ISA? Jawab: Perbedaan Laporan Audit Baku Baru dibanding lama: 1. Penambahan paragraf pengantar yang membedakan dengan jelas antara tanggung jawab manajemen dan tanggung jawab auditor terhadap LK 2. Suatu pengakuan eksplisit bahwa audit memberikan suatu keyakinan memadai dalam konteks materialitas 3. Penambahan penjelasan ringkas mengenai audit 4. Penyebutan konsistensi dalam laporan audit dilakukan hanya jika prinsip akuntansi yang berlaku umum tidak secara konsisten diterapkan. Penyebutan ini dilakukan dengan cara menambahkan paragraf penjelasan setelah paragraf pendapat 5. Pengubahan cara pelaporan suatu ketidak pastian yang bersifat material dengan menghapus kata tergantung, dari yang digunakan dalam pendapat wajar, dengan pengecualian dan menambah paragraf penjelasan setelah paragraf pendapat. Soal 4 Dalam membahas sifat perubahan standar disebutkan bahwa ciri penting dari audit berbasis ISA ialah bahwa audit ini berbasis risiko. Ciri ini terlihat dalam proses audit. Pertanyaan: Apa tujuan auditor dalam audit berbasis risiko? Apa unsur-unsur dasar dari suatu audit berbasis risiko? Bagaimana pendekatan dalam melaksanakan audit berbasis risiko? Jawab: A. Tujuan auditor dalam audit berbasis risiko Dalam mangaudit laporan keuangan, tujuan menyeluruh auditor adalah: a. memperoleh asurans yang layak mengenai apakah laporan secara keseluruhan telah bebas dari salah saji material, yang disebabkan oleh kecurangan atau kesalahan, untuk memungkinkan auditor memberikan pendapat mengenai apakah laporan keuangan dibuat, dalam segala hal yang

material, sesuai dengan kerangka pelaporan keuangan yang dibuat, serta sesuai dengan kerangka pelaporan keuangan yang berlaku. b. melaporkan laporan keuangan, dan mengkomunikasikan segala sesuatunya seperti yang diwajibkan ISA, serta sesuai dengan temuan auditor. B. Unsur-unsur dasar dari suatu audit berbasis risiko a. inherent risk ( risiko bawaan) merupakan kerentanan suatu asersi ( mengenai jenis transaksi, saldo , akun, atau pengungkapan) terhadap salah saji yang material itu, sendiri atau tergabung tanpa memperhitungkan pengedalian terkait. b. control risk ( risiko pengendalian) risiko bahwa suatu salah saji bisa terjadi dalam suatu asersi ( mengenai jenis transaksi, saldo, akun, atau pengungkapan) dan bisa material itu, sendiri atau tergabung dengan salah saji lainnya, tidak tercegah, terdeteksi dan terkoreksi pada waktunya oleh pengendalian internal perusahaan. c. detection risk (risiko pendeteksian) risiko bahwa prosedur yang dilaksanakan auditor untuk menekan risiko audit ke tingkat rendah yang dapat diterima, tidak akan mendeteksi salah saji yang bisa material, secara individu atau tergabung dengan salah saji lainnya.

C. Pendekatan dalam melaksanakan audit berbasis risiko ada beberapa pendekatan antara lain: a. Skeptisime professional Auditor wajib merencanakan dan melaksanakan suatu audit dengan skeptisisme profesional dengan menyadari bahwa, ada kemungkinan situasi yang menyebabkan laporan keuangan disalah sajikan secara material. b. kearifan professional auditor wajib melaksanakan kearifan professional dalam merencanakan suatu audit atas laporan keuangan.

c. asurans yang layak untuk memperoleh asurans yang layak, auditor memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat untuk menekan risiko audit ke tingkat rendah yang dapat diterima. Dengan demikian memungkinkan auditor menarik kesimpulan yang layak untuk digunakan sebagai dasar pemberian pendapat auditor. d. menggunakan tujuan sesuai ISA yang relevan untuk mencapai tujuan menyeluruhnya, auditor wajib menggunakan tujuan yang dinyatakan dalam ISA relevan dalam merencanakan dan melaksanakan audit tersebut, dengan memperhatikan keterkaitan di antara (berbagai) ISA untuk ; ~ mementukan apakah prosedur audit tambaha disamping yang diwajibkan ISA memang diperlukan untuk mencapai tujuan yang dinyatakan dalam ISA ~mengevaluasi apakah bukti audit yang diperoleh sudah cukup dan tepat Soal 5 Sebagai dasar opini auditor, ISA mewajibkan auditor memperoleh asurans yang layak apakah laporan keuangan secara keseluruhan bebas dari salah saji yang material yang disebabkan oleh fraud atau error. Asurans yang layak adalah asurans pada tingkat tinggi. Bagaimana asurans yang layak dapat dicapai auditor? Jawab: Asurans yang layak adalah asurans yang tinggi, tetapi bukan pada tingkat tinggi yang mutlak (absolute level of assurance). Asurans yang layak dapat dicapai ketika auditor memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat (sufficient approriate audit evidence) untuk menekan risiko audit. Auditor ingin menekan risiko audit ini ketingkat rendah yang dapat diterima (to an acceptably low level). Dengan bukti audit yang cukup dan tepat, auditor sudah menekan risiko audit. Namun, tidak mungkin sampai ke tingkat nol, karena adanya kendala bawaan dalam setiap audit. Auditor tidak dapat memberikan absolute assurance (assurans mutlak). Auditor menarik kesimpulan auditnya dan mendasarkan opini atau pendapat berdasarkan bukti-bukti audit. Padahal kebanyakan bukti audit lebih bersifat persuasive (menguatkan) dan bukannya conclusive (meyakinkan secara mutlak).