Anda di halaman 1dari 3

Pemahaman Estetika

Istilah estetika di abad ke 17 diperkenalkan oleh Alexander Gottlieb Baumgarten, melalui buku yang berjudul Aesthetica Acromatica (1750). Ada dua bagian estetika yaitu secara deskriptif dan normatif. Estetika deskriptif menguraikan dan menggambarkan tentang fenomena pengalaman keindahan, sedangkan estetika normatif mempersoalkan penyelidikan hakikat, dasar dan ukuran pengalaman keindahan. Aspek-aspek keindahan (beauty) inilah yang sangat berperan di dalam estetika hingga membedakannya dengan aspek-aspek seni (art).

Estetika (aesthetic) perlu dibedakan dengan artistika (artistic) dari sifat dasar yang mempengaruhi daya cipta manusianya. Estetika memilliki sifat obyektif kontekstual, sedangkan seni memiliki sifat subyektif. Arti dari obyektif kontekstual bahwa estetika bersifat obyektif, namun bukan obyektif murni untuk semua sudut pandang. Estetika memiliki obyektifitas tertentu bagi manusia yang menilai dalam sudut pandang sama. Seseorang yang menyukai sudut pandang tradisional hampir pasti akan berbeda apresiasi estetikanya dengan seseorang yang menyukai sudut pandang modern. Seseorang yang menyukai hal-hal atraktif dinamis juga akan berbeda apresiasi estetikanya dengan seseorang yang menyukai hal-hal laras dan tenang. Pandangan estetika Barat juga berbeda dengan estetika Asia. Budaya estetik masyarakat empat musim juga berbeda dengan budaya estetik masyarakat dua musim. Alam lingkungan ternyata mempengaruhi pandangan estetik sekelompok masyarakat dengan karakteristik yang spesifik.

Kedinamisan dan keselarasan bentuk alam merupakan pemandangan mutlak yang membawa nilai estetika bagi manusia. Komposisi dan proporsi yang tercapai dari paduan antara gunung, jajaran pepohonan dan hamparan rumput selalu membawa rasa yang menyenangkan bagi manusia. Padang pasir yang luas dan gersang memiliki keindahan dari tiggi-rendahnya perbukitan dengan garis-garis hasil goresan angin. Lautan yang luaspun tidak terlihat membosankan karena berpadu dengan lekuk keindahan awan di atasnya. Saat-saat transisi di mana matahari terbit diwaktu pagi, atau tenggelam di kala senja demikian eksotis mempengaruhi jiwa manusia. Dalam mengungkapkan rasa estetiknya, manusia berusaha meniru alam dan menjadikannya karya-karya yang bersifat imitatif. Baik Plato maupun Aristoteles sependapat bahwa karya estetik merupakan tiruan dari alam dan kehidupan manusia. Seluruh fenomena alam telah mempengaruhi manusia hingga terbit pemahamannya akan kekuasaan yang lebih tinggi darinya. Luasnya alam semesta dan berbagai keunikan bentuk yang mengisinya merupakan limpahan rahmat bagi manusia untuk dinikmati.

Untuk mensyukuri apa yang telah didapatkan di dunia dengan limpahan keindahan alam semesta tersebut, manusia menyampaikannya dengan berbagai penciptaan bentuk. Semenjak manusia hanya menggunakan alam dengan tingal di dalam gua dan berburu, goresan dan pahatan sederhana tentang rasa syukur ditorehkan di dinding tempatnya tinggal. Selanjutnya manusia menyusun dan memahat batu di luar gua sebagai peringatan dan tempat bagi pengucapan rasa

syukur tersebut. Ketika manusia mulai menggunakan elemen alam untuk tempat tinggalnya dengan tanah, batu dan kayu; berbagai keindahan dan pengucapan rasa syukur membuat perwujudan bentuk yang beraneka-ragam. Agustinus (354-430) mengajarkan bahwa keindahan merupakan salah satu bentuk yang ada dalam kekuasan Sang pencipta. Bentuk-bentuk menjulang didasari dengan penghargaan terhadap penguasa alam semesta yang berada di atas langit. Ukiran-ukiran tertentu merefleksikan sosok penguasa alam semesta yang dipuja. Tatanan dan orientasi bangunan juga diatur dalam rangka penghargaan kepada sesuatu Yang Maha Tinggi. Ecara berkelompok, manusia memiliki keyakinan tertentu terhadap cara menghargai Sang pencipta. Dengan hubungan kemasyarakatan ini tumbuh budi dan daya manusia yang bersinggungan pula dengan kebersamaan sosial di dalam komunitasnya.

Kebersamaan sosial manusia telah membuat kesepakatan adat dan mempengaruhi kekhas-an penciptaan bentuk beserta ciri keindahan yang spesifik. Estetika pada saat tersebut mulai diarahkan pada hubungan antara satu manusia dengan manusia lainnya. Keceriaan dalam pengukiran dan pewarnaan elemen bangunan ditujukan untuk menyambut orang yang bertamu. Penyediaan beranda dan halaman yang luas digunakan sebagai tempat yang berfungsi untuk menampung banyak orang. Kemegahan tampilan dan perbesaran skala bangunan ditujukan dalam rangka menampilkan status sosial yang tinggi dari pemilik bangunan. Segenap penghayatan keindahan dihubungkan dengan penampilan jati diri dan komunikasi manusia. Manusia telah menjadi subyek dan obyek bagi keindahan. David Hume (1711-1776) menyatakan bahwa keindahan sangat ditentukan oleh sifat manusia yang dipengaruhi oleh kebiasaan dan jati dirinya. Imanuel Kant (1724-1804) menganggap bahwa keindahan memberi fokus yang amat dibutuhkan untuk menjembatani segi-segi teori dan praktek sifat dasar manusia. Teknologi yang semakin berkembang menjadi sebuah peluang bagi aktualisasi pengungkapan jati diri tersebut. Berbagai sifat prinsip dari pemilik bangunan maupun perancangnya tampil secara ekspresif melalui pencapaian pengetahuan produksi bentuk dari elemen-elemen arsitektur.

Eksploitasi alam telah menghasilkan produk-produk yang menunjukkan tingginya kemampuan manusia. Penemuan bahan kaca dan baja telah merubah pandangan estetik dalam perwujudan arsitektur menjadi semakin efektif dan efisien. Penemuan ini juga telah membuat rekayasa struktur yang mampu menampilkan besaran bangunan jauh melebihi skala manusia. Keindahan alam telah dapat diubah oleh manusia dengan keindahan hasil kemajuan teknologi. Kota-kota besar dengan berbagai gedung pencakar langit merupakan representasi lingkungan modern yang demikian maju. Modernitas ini kemudian memunculkan nilai estetika lain yang berorientasi pada individualitas. Sebuah karya estetik menjadi ternilai dari ekspresi individu yang memiliki kemampuan mengungkapan pandangan-pandangannya.John dewey (1859-1952) mengatakan bahwa estetika demikian terpaut dengan kehidupan manusia. Pandangan ini diperkuat dengan pernyataan George Santayana (1863-1952) yang menyatakan bahwa keindahan tidak bersifat obyektif dan identik dengan kesenangan yang dialami manusia, sebuah rasa yang diobyektifkan dan diproyeksikan ke dalam obyek karya.

Secara individual manusia memiliki pemikiran-pemikiran tertinggi tentang idealisme. Benedetto Croce (1866-1952) menghubungkan idealisme manusia dengan intuisi. Menurutnya intuisi adalah gambar yang berada di dalam pikiran manusia, oleh karenanya hasil keindahan juga ditentukan oleh gambaran tersebut. Sebuah karya merupakan alat bantu manusia dalam mengungkapkan sesuatu yang terdapat di dalam pikirannya. Clive Bell (1851-1964) mempopulerkan gagasannya tentang perasaan estetis (aesthetic emotion). Perasaan estetis dibedakan dengan perasaan biasa ketika manusia menjalani kehidupan sehari-hari. Perasaan estetis muncul dan dicari dari pengalaman ketika seseorang berhadapan dengan sesuatu yang sangat berarti.