Anda di halaman 1dari 40

TEKNIK PENGECORAN DAN PENGELASAN

APA YANG DIMAKSUD PROSES PENGECORAN


Proses pengecoran (CASTING) adalah salah satu teknik pembuatan produk dimana logam dicairkan dalam tungku peleburan kemudian dituangkan kedalam rongga cetakan yang serupa dengan bentuk asli dari produk cor yang akan dibuat.

4 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PROSES PENGECORAN

Adanya aliran logam cair kedalam rongga cetak Terjadinya perpindahan panas selama pembekuan dan pendinginan dari logam dalam cetakan Pengaruh material cetakan Pembekuan logam dari kondisi cair

Klasifikasi Cetakan Pada Proses pengecoran

Proses Pengecoran Secara Umum

BEBERAPA BAGIAN PENTING DALAM DESAIN SALURAN SUATU CETAKAN

Gating sistem (sistem saluran) Sprue (saluran tuang) Riser (saluran penambah) Ingate (saluran masuk) Runner (saluran pengalir)

1. Gating sistem (sistem saluran)

Sistim saluran dapat didefinisikan secara sederhana sebagai suatu bagian untuk mengalirnya logam cair mengisi rongga cetakan. Bagian-bagiannya meliputi cawan tuang (pouring basin), saluran turun (sprue), saluran pengalir (runner), dan saluran masuk (ingate)

JENIS-JENIS SISTEM SALURAN

Karakteristik sistem saluran

Dapat mengurangi terjadinya turbulensi aliran logam cair kedalam rongga cetakan. Turbulensi akan menyebabkan terjadinya gas-gas udara atau kotoran (slag) didalam logam cair yang dapat menghasilkan cacat coran. Mengurangi masuknya gas-gas kedalam logam cair. Mengurangi kecepatan logam cair yang mengalir kedalam cetakan, sehingga tidak terjadi erosi pada cetakan. Mempercepat pengisian logam cair kedalam rongga cetak untu menghindari pembekuan dini. Mengakomodir pembekuan terarah (directional solidification) pada produk coran. Gradien temperatur yang terjadi saat masuknya logam cair kedalam cetakan harus sama baiknya dengan gradien temperatur pada permkaan cetakan sehingga pembekuan dapat diaahkan menuju riser.

2. Sprue (saluran tuang)

Sprue atau saluran tuang adalah suatu saluran vertikal tempat penuangan atau pouring logam cair yang berada pada daerah diatas parting line yang akan meneruskan logam cair kedalam ingate, riser dan produk cor. Secara umum bentuk saluran masuk ada beberapa tipe diantaranya adalah sprue seperti terompet dan pouring basin (bush) yang berbentuk seperti kotak makanan.

HAL-HAL YANG DIPERTIMBANGKAN DALAM PEMBUATAN SPRUE

Ukuran sprue harus dapat membatasi laju aliran logam cair. Ukuran sprue yang dibuat menjadikan laju aliran tetap. Bentuk sprue persegi panjang lebih baik dibandingkan dengan bentuk bulat untuk luas permukaan yang sama, umumnya bentuk sprue mengecil kebawah dengan kemiringan 2 7 . Ukuran standar sprue adalah 1,27 3,81 cm untuk persegi panjang ataupun bulat. Ketinggian sprue ditentukan oleh coran da tinggi raiser. Sprue ditempatkan sejauh mungkin dari saluran masuk (ingates) Sprue ditempatkan dibagian tengah pengalir (runner). Ukuran sprue 1,27x0,48 cm untuk coran kecil dan 2,54x16 cm untuk coran tipis yang besar. Sprue dibuat bentuk meruncing (tapered).

CONTOH BENTUK-BENTUK SPRUE

3. Riser (saluran penambah)

Riser atau saluran penambah adalah suatu cadangan atau resevoir cairan logam yang berfungsi untuk mengantisipasi akibat dari kontraksi dan penyusutan (shrinkage) yang akan terjadi pada saat logam cair mengalami solidifikasi, sehingga diharapkan produk cor yang dihasilkan tidak mengalami cacat akibat kekurangan volumenya. Dalam aplkasinya riser memiliki jenis tertentu yang menyesuaikan dengan bentuk produk cor dan modulus dari produk cornya. Jenis riser yang sering digunakan antara lain top riser, blind riser, side riser, lap ingate riser dan lain-lain.

HAL-HAL YANG DIPERTIMBANGKAN PADA PEMBUATAN RISER


Tempatkan riser dekat bagian yang tebal. Penggunaan side riser umumnya ditempatkan diatas ingate, digunakan untuk coran dengan dinding tipis. Riser diukur berdasarkan volume logam cair. Riser dibuat cukup besar agar dapat mengisi bagian yang menyusun dan terakhir membeku. Riser mempunyai perbandingan yang besar antara volume luas dari corannya sendiri sehingga coran akan membeku terlebih dahulu dibandingkan riser. Ketinggian riser tergantung dari jenis riser yang digunakan. Untuk top riser = 1,5 kali diameter riser Side riser = 0,75 2 kali diameter riser Untuk memudahkan pembuatan riser, biasanya dibuat riser neck. Riser akan efektif jika riser neck dibuat lebih pendek.

4. Ingate (saluran masuk)

Ingate atau saluran masuk adalah saluran yang mendistribusikan langsung logam cair kedalam rongga produk cor. Ingate harus mudah dipotong untuk proses pelepasan produk cor dari bagian sistem salurannya atau biasa disebut fettling, oleh karena itu dalam pembuatan ingate kita harus memperhatikan ukuran coran, ketebalannya, kondisi cetakan dan ukuran, bentuk ingate nya itu sendiri.

HAL-HAL YANG DIPERTIMBANGKAN DALAM PERENCANAAN INGATE


Ingate dipasang pada bagian yang tebal. Gunakan ukuran standar dan bentuk yang umum digunakan (biasanya berbentuk persegi panjang) Tempatkan ingate dengan meminimalkan terjadinya pengadukan atau erosi pada pasir cetak oleh aliran logam cair. Tidak menempatkan ingate pada posisi perangkap dross. Jarak yang pendek antara ingate dan coran. Disarankan jumlah ingate lebih dari satu (banyak) dengan tujuannya untuk menjaga keseragaman dan kecepatan distribusi logam cair. Ingate pertama sebaiknya ditempatkan cukup jauh dari dasar sprue untuk mencegah kotoran dan turbulensi logam cair masuk ke dalam produk. Jarak minimal yang disarankan adalah 10 mm. Ingate sebaiknya diletakkan pada posisi cope sepanjang dasar runner atau pada posisi drag dengan tambahan dasar runner pada posisi drag.

5. Runner (saluran pengalir)

Runner atau saluran pengalir merupakan saluran utama didalam cetakan yang akan mendistribusikan logam cair ke dalam ingate. Selain itu runner juga berfungsi menahan pengotor atau impurities yang terbawa dalam logam cair agar tidak masuk kedalam produk cor. Pengotor tersebut akan mengapung keatas runner karena beda kecepatan alir lengan logam cairnya.

HAL- HAL YANG DIPERTIMBANGKAN DALAM MENENTUKAN RUNNER


Untuk potongan melintang runner sebaiknya berbentuk trapesium, untuk mencegah kotoran dari logam cair masuk ke dalam cavity. Untuk pemasangan runner disarankan dengan sambungan menipis dimana luas sambungan tersebut sama dengan luas runner. Disarnakan untuk mengurangi luas potongan melintang runner setiap ada pemasangan ingate, hal ini untuk keseragaman distribusi logam cair ke dalam setiap ingate. Logam cair yang masuk pertama kali ke dalam runner akan menumbuk yang runner dengan keras, sehingga dapat menyebabkan aliran turbulen dan menimbulkan kotoran dapat masuk ke dalam ingate yang paling dekat ujung runner. Untuk mencegah hal ini ujung runner sebaiknya dipanjangkan (runner extension) yang berbentuk tapper sangat efektif untuk mengurangi turbulensi, dan bila ruang terlalu sempit maka dapat menggunakan mangkok (well).

Cetakan Pasir
Cetakan pasir adalah cetakan yang terbuat dari pasir yang diberi bahan pengikat. Pasir yang paling banyak digunakan adalah pasir silika baik pasir silika dari alam maupun pasir silika buatan dari kwarsit. Bahan pengikat yang paling banyak digunakan adalah bentonit. Cetakan pasir yang digunakan pada pengecoran logam bukan besi (logam non ferrous) selain magnesium menggunakan campuran sebagai berikut:

1. 2. 3. 4. 5.

Pasir silika, dengan AFS fineness 130 dan butiran pasir sub angular Bentonit : 16% Graphite : 2% Corn flour : 0,5% Kadar air : 4,5%

:81,5%

Diagram Alir Proses Pengecoran Dengan Cetakan Pasir

Keadaan Fisik dan Sifat Fisik Beberapa Jenis Pasir Cetak

Bentuk dasar pasir cetak

Pasir Angular (bersudut). Pasir bersudut sulit untuk dibentuk melalui penekanan keras, namun kekuatan cetakan dari pasir jenis ini lebih baik dibandingkan dengan pasir jenis bulat. Tetapi pasir jenis ini mengalami thermal shock dan expansi karena jarak butirannya sangat kecil. Pasir Round (bulat). Pasir jenis ini memiliki mampu bentuk dan permeabilitas yang baik hingga mudah dibentuk untuk membuat cetakan karena butirannya cukup besar dan seragam. Pasir ini membutuhkan pengikat lempung dan kadang terjadi thermal shock yang kuat. Pasir Sub-angular. Pasir jenis ini terbentuk dari pasir angular yang bagian ujung sudut butir tujuannya terputus hingga terbentuk sub-angular. Permeabilitas pasir ini lebih buruk dibandingkan dengan pasir namun kekuatannya tinggi.

Persyaratan Pasir Cetak

Mempunyai sifat mampu bentuk yang baik. Permeabilitas yang cocok. Distribusi besar butir yang cocok. Komposisi yang cocok. Mampu dipakai lagi. Pasir harus murah.

Sifat-sifat Yang Harus Dimiliki Pasir Cetak

1. Kekuatan menahan beban berat logam, cukup baik.

2. Tidak beraksi secara kimia dengan logam cair.


3. Tahan terhadap erosi aliran logam cair. 4. Mampu dilewati sejumlah gas serta tahan terhadap temperatur tinggi

Pengolahan Pasir Cetak

Pengadukan Pasir Cetak

Tanah lempung, air dan bahan tambahan dibutuhkan pada pasir cetak. Komposisi yang tidak tepat serta pencampuran yang tidak merata, tidak akan memberikan kekuatan yang cukup pada cetakan. Mixer atau alat pengaduk pasir digunakan untuk mendapatkan sifat-sifat pasir berikut : Bahan pengikat tersebar dengan merata Kadar air terkendali Pasir bebas dari kotoran Pasir terlepas dan tidak tergumpal Suhu pasir mencapai ruang

Penggilingan Pasir Cetak

Cara kerja penggilingan ini adalah dengan memanfaatkan dua rol berputar dalam tangki, yang mengaduk pasir bersama pengikat yang menekannya ke dasar atau ke samping tangki. Pengadukan biasanya berlangsung 5-10 menit dan jumlah putaran

kirakira
60-100 putaran per menit.

Pengayakkan Pasir

Untuk mendapatkan kembali pasir cetak baru atau bekas pakai yang layak digunakan kembali dalam proses pengecoran, maka dipakai mesin pengayak untuk menyisihkan kotoran dan butir-butir pasir yang sangat kasar.

Proses Pembuatan Cetakan Pasir

Pembuatan cetakan pasir dapat dilakukan dengan tangan ataupun dengan mesin Pembuatan cetakan pasir dengan tangan coran sukar dibuat oleh mesin pembuat cetakan, atau coran yang besar sekali. Sedangkan pembuatan cetakan pasir dengan

pasir dipilih karena lebih efisien dan menjamin produksi


cetakan baik.

Pembuatan cetakan pasir menggunakan tangan dilakukan dengan urutan sebagai berikut:

Kriteria Kualitas Pasir Cetak yang Baik

Kandungan lempung (clay). Distribusi ukuran dan bentuk butir pasir. Prosentase kalsium karbonat. Prosentase non-silicious materials. Kandungan air. Stabilitas thermal.

Pengujian Pasir Cetak