Anda di halaman 1dari 9

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Indonesia sebagai negara agraris, mempunyai sumber energi biomassa yang melimpah. Salah satu sumber energi biomassa di Indonesia yang potensial adalah limbah pertanian, seperti sekam padi, jerami, ampas tebu, batang dan tongkol jagung serta limbah-limbah pertanian/perkebunan lainnya Biomassa tidak hanya mencakup berbagai jenis tanaman pertanian, kayu, tumbuhan perairan, pertanian konvensional yang lain, kehutanan, sumber daya perikanan tetapi juga mencakup lumpur pulp, lindi hitam, sisa fermentasi alkohol, dan limbah industri organik lainnya, sampah kota seperti sampah dapur dan limbah kertas, serta lumpur limbah (Asian biomassa handbook, 2008). Penggunaan biomassa bukan hanya sebagai penghasil serat, bahan pangan, pakan ternak, minyak nabati, bahan bangunan dan sebagainya, biomassa juga digunakan sebagai bahan energi (bahan bakar). Umumnya yang digunakan sebagai bahan bakar adalah biomassa yang nilai ekonomisnya rendah atau merupakan limbah setelah diambil produk primernya. Biomassa dalam bentuk kayu bakar dan limbah pertanian merupakan sumber energi tertua. Hingga sekarang, biomassa sebagai sumber energi masih cukup berperan terutama untuk negara-negara berkembang. Data dari Shell Breifing Service (1980) yang dikutip Abdul Kadir (1982) menyebutkan bahwa konsumsi energi biomassa di negara-negara berkembang (tidak termasuk negara OPEC) pada tahun 1977 adalah sekitar 54% dari konsumsi energi keseluruhan (Agustina, 2007).

1.2. Tujuan Adapun tujuan dari percobaan fraksionasi biomassa adalah sebagai berikut: 1. Mampu menghitung neraca massa pada sistem fraksionasi biomassa 2. Mampu menghitung yield pada sistem fraksionasi biomassa 3. Mampu menghitung persentase recovery komponen-komponen utama biomassa.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Biomassa Biomassa adalah bahan organik yang dihasilkan melalui proses fotosintesis, baik berupa produk maupun buangan. Contoh biomassa antara lain tanaman, pepohonan, rumput, ubi, limbah pertanian dan limbah hutan, tinja dan kotoran ternak. Ada berbagai jenis biomassa dan komposisinya juga beragam. Beberapa komponen utama adalah selulosa, hemiselulosa, lignin, pati, dan protein (Anonim, 2012). Pohon biasanya mengandung selulosa, hemiselulosa dan lignin seperti tanaman herba meskipun persen komponennya berbeda satu sama lain. Jenis biomassa yang berbeda memiliki komponen yang berbeda, misalnya gandum memiliki kadar pati yang tinggi, sedangkan limbah peternakan memiliki kadar protein yang tinggi. Karena komponen ini memiliki struktur kimia yang berbeda, maka reaktivitasnya juga berbeda. Dari segi penggunaan energi, biomassa

berlignoselulosa yang terutama mengandung selulosa dan lignin seperti pohon berada dalam jumlah yang banyak dan mempunyai potensi yang tinggi

(Asian biomassa handbook, 2008). 2.2 Komponen Biomassa Selulosa adalah polimer dari -glukosa dengan ikatan -1-4 antara unit-unit glukosa. Selulosa terdapat pada kayu, kapas, rami dan tumbuhan lainnya. Selulosa pertama kali diisolasi dari kayu pada tahun 1885 oleh Charles F. Cross dan Edward Bevan. Derivat selulosa merupakan eksipien yang penting dalam farmasi. Salah satu turunan selulosa adalah selulosa mikrokristal. Selulosa mikrokristal diperkenalkan pada awal tahun 1960-an merupakan eksipien terbaik dalam pembuatan tablet secara cetak langsung. Selulosa mikrokristal dibuat dengan cara hidrolisis terkontrol alfa selulosa, suatu pulp dari tumbuhan yang berserat dengan larutan asam mineral encer (Anonim, 2012). Selulosa merupakan senyawa organik dengan rumus (C6H10O5)n, sebuah polisakarida yang terdiri dari rantai linier dari beberapa ratus hingga lebih dari

2.2.1 Selulosa

sepuluh

ribu.

Selulosa

merupakan

komponen

struktural

utama dinding

sel dari tanaman hijau, Selulosa adalah senyawa organik yang paling umum di Bumi. Sekitar 33% dari semua materi tanaman adalah selulosa (isi selulosa dari kapas adalah 90% dan dari kayu adalah 40-50%). Selulosa tidak dapat dicerna oleh manusia, hanya dapat dicerna oleh hewan yang memiliki enzim selulase. Derajat polimerasinya, ditunjukkan oleh n, dengan nilai kisaran yang lebar mulai dari beberapa ribu hingga puluhan ribu. Hidrolisis total selulosa menghasilkan D-glukosa (sebuah monosakarida), akan tetapi hidrolisis parsial menghasilkan disakarida (selobiosa) dan polisakarida yang memiliki n berurutan dari 3 ke 10. Selulosa memiliki struktur kristal dan memiliki resistensi yang tinggi terhadap asam dan basa (Asian biomassa handbook, 2008).

Gambar 2.1 struktur selulosa 2.2.2 Hemiselulosa Hemiselulosa merupakan suatu polisakarida lain yang terdapat dalam tanaman dan tergolong senyawa organik, hemiselulosa bersifat non-kristalin dan tidak bersifat serat, mudah mengembang karena itu hemiselulosa sangat berpengaruh terhadap bentuknya jalinan antara serat pada saat pembentukan lembaran, lebih mudah larut dalam pelarut alkali dan lebih mudah dihidrolisis dengan asam. Degradasi hemiselulosa dalam asam lebih tinggi dibandingkan dengan delignifikasi, dan hidrolisis dalam suasana basa tidak semudah dalam suasana asam, adanya hemiselulosa mengurangi waktu dan tenaga yang

diperlukan untuk melunakkan serat selama proses mekanis dalam air. Hemiselulosa mempunyai potensi yang cukup besar untuk dijadikan sebagai penjerap karena gugus OH yang terikat dapat berinteraksi dengan komponen adsorber.

Hemiselulosa merujuk pada polisakarida yang mengisi ruang antara seratseratselulosa dalam dinding sel tumbuhan. Secara biokimiawi, hemiselulosa

adalah semua polisakarida yang dapat diekstraksi dalah larutan basa (alkalis). Komponen utama hemiselulosa pada dicotyledoneae didominasi oleh xiloglukan, sementara pada monocotyledoneae komposisi hemiselulosa lebih bervariasi. Hemiselulosa adalah polimer polisakarida heterogen tersusun dari unit Dglukosa, D-manosa, L-arabiosa dan D-xilosa. Hemiselulosa pada kayu berkisar antara 20-30%. Hasil hidrolisis hemiselulosa akan menghasilkan D-xilosa dan monosakarida lainnya. Hemiselulosa tersusun dari gabungan gula-gula sederhana dengan lima atau enam atom karbon. Degradasi hemiselulosa dalam asam lebih tinggi dibandingkan dengan delignifikasi, dan hidrolisis dalam suasana basa tidak semudah dalam suasana asam (Indah, 2012). Hemiselulosa merupakan polisakarida dimana unit-unitnya terdiri atas monosakarida dengan 5 karbon seperti D-xilosa, D-arabinosa dan monosakarida 6 karbon seperti D-manosa, D-galaktosa dan D glukosa. Jumlah monosakarida pada 5 karbon lebih banyak dibandingkan monosakarida 6 karbon dan

rumus molekul rata-ratanya adalah (C5H8O4)n. Karena derajat polimerisasi (n) hemiselulosa adalah antara 50 sampai 200, yaitu lebih kecil dari selulosa, maka ia lebih mudah terurai dibandingkan selulosa, dan kebanyakan

hemiselulosa dapat larut dalam larutan alkali. Hemiselulosa yang umum adalah xilan, yang terdiri atas xilosa dengan ikatan 1, 4. Hemiselulosa yang lain adalah glukomanan, tetapi semua hemiselulosa beragam jumlahnya bergantung pada jenis pohon dan juga bagian tumbuhan itu sendiri (Asian biomassa handbook, 2008).

Gambar 2.2 struktur hemisellulosa

2.2.3 Lignin Lignin atau zat kayu adalah salah satu zat komponen penyusun tumbuhan. Komposisi bahan penyusun ini berbeda-beda bergantung jenisnya. Lignin terutama terakumulasi pada batang tumbuhan berbentuk pohon dan semak.

Pada batang, lignin berfungsi sebagai bahan pengikat komponen penyusun lainnya, sehingga suatu pohon bisa berdiri tegak (seperti semen pada sebuah batang beton). Berbeda dengan selulosa yang terbentuk dari gugus karbohidrat, struktur kimia lignin sangat kompleks dan tidak berpola sama.

Gugus aromatik ditemukan pada lignin, yang saling dihubungkan dengan rantai alifatik, yang terdiri dari 2-3 karbon. Lignin merupakan senyawa dimana unit komponennya, fenilpropana dan turunannya, terikat secara 3 dimensi. Strukturnya kompleks dan sejauh ini belum sepenuhnya dipahami. Struktur 3 dimensi yang kompleks ini menyebabkan ia sulit untuk diuraikan oleh mikroorganisme dan bahan-bahan kimia. Berdasarkan pengamatan ini, maka dapat disimpulkan bahwa lignin memberikan kekuatan mekanis dan juga perlindungan untuk tumbuhan itu sendiri. Selulosa, hemiselulosa dan lignin dapat ditemukan secara universal dalam berbagai jenis biomassa dan merupakan sumber daya karbon alami yang paling berlimpah di bumi (Asian biomassa handbook, 2008).

Gambar 2.3 struktur lignin

2.2.4 Pati Seperti selulosa, pati merupakan polisakarida dimana unit komponennya adalah D-glukosa, tapi ia dihubungkan oleh ikatan -glikosida. Karena perbedaan dalam struktur ikatan, maka selulosa tidak larut dalam air sedangkan sebagian pati (lihat Gambar. 2.3 .1-b) dapat larut dalam air panas (amilosa, dengan bobot molekul antara 10.000 sampai 50.000, mencakup hampir 10% -20% dari pati) dan sebagian lagi tidak dapat larut (amilopektin, dengan bobot molekul antara 50.000 sampai 100.000, mencakup hampir 80% - 90% dari pati). Pati ditemukan di dalam biji, umbi (akar) dan batang, dan mempunyai nilai yang tinggi sebagai makanan (Asian biomassa handbook, 2008). 2.2.5 Protein Protein merupakan senyawa makromolekul dimana asam amino

dipolimerisasi dengan derajat yang tinggi. Sifat-sifatnya berbeda bergantung pada jenis dan rasio komponen asam amino dan derajat polimerisasi itu sendiri. Protein bukan merupakan komponen utama biomassa dan hanya meliputi proporsi yang lebih rendah jika dibandingkan dengan 3 komponen yang sebelumnya (Asian biomassa handbook, 2008). 2.2.6 Komponen-komponen lain (organik dan anorganik) Jumlah komponen organik yang lain berbeda bergantung pada jenis biomassa, tetapi ada juga komponen organik dengan jumlah yang tinggi seperti gliserida (minyak sawit dan minyak sayur) dan sukrosa di dalam tebu dan gula bit. Contoh yang lain adalah alkaloid, pigmen, terpena dan bahan berlilin. Meskipun komponen ini ditemukan dalam jumlah yang sedikit, namun memiliki nilai tambah yang tinggi sebagai ramuan obat. Biomassa tidak hanya terdiri atas senyawa organik makromolekul tetapi juga mengandung bahan anorganik (abu) dalam jumlah yang sangat kecil. Unsur logam primer termasuk Ca, K, P, Mg, Si, Al, Fe dan Na. Bahan dan jumlahnya berbeda bergantung pada jenis bahan baku (Asian biomassa handbook, 2008).

2.3 Fraksionasi Biomassa Fraksionasi biomassa menggunakan pelarut organik banyak dikembangkan, karena lebih murah dan relatif ramah lingkungan, pelarutnya dapat di recovery serta cocok untuk proses skala menengah. Fraksionasi biomassa dengan pelarut organik juga dikenal dengan proses organosolv. Pelarut organik yang digunakan seperti alkohol, asam organik, ester, fenol dan keton. Proses organosolv juga telah menjadi salah satu proses alternatif dalam pembuatan pulp yang lebih ramah lingkungan dan dikenal dengan organosolv pulping. Pada proses fraksionassi biomassa dengan pelarut organik, proses delignifikasi dan proses hidrolisis polisakarida (terutama pada hemiselulosa) bisa terjadi secara serempak dalam suatu tahapan proses (Villaverde dkk 2010). Pelarut organik yang sering digunakan sebagai media fraksionasi biomassa adalah asam asetat dan asam format. Kelebihan asam asetat dan asam formiat adalah : 1. 2. 3. 4. Proses fraksionassi bisa dilakukan pada tekanan atmosfer Dapat dilakukan dengan ataupun tanpa katalis Sesuai untuk berbagai sumber biomassa Memiliki selektifitas yang tinggi terhadap proses delignifikasi dan mempertahankan selulosa terdegradasi 5. Produk yang dihasilkan relatif ramah lingkungan

2.4 Proses Organosolv Proses organosolv adalah proses pemisahan serat dengan menggunakan bahan kimia organik seperti metanol, etanol, aseton, asam asetat, dan asam formiat. Proses ini telah terbukti memberikan dampak yang baik bagi lingkungan dan sangat efisien dalam pemanfaatan sumber daya hutan. Dengan menggunakan proses organosolv diharapkan permasalahan lingkungan yang dihadapi oleh industri pulp dan kertas akan dapat teratasikarena proses organosolv memberikan beberapa keuntungan, antara lain : 1. Yield pulp yang dihasilkan tinggi 2. Daur ulang lindi hitam dapat dilakukan dengan mudah 3. Tidak menggunakan unsur sulfur sehingga lebih aman terhadap lingkungan

4. Dapat menghasilkan by-products (hasil sampingan) berupa lignin dan hemiselulosa dengan tingkat kemurnian tinggi 5. Dapat mengurangi biaya produksi secara ekonomis Penelitian mengenai penggunaan bahan kimia organik sebagai bahan pemasak dalam proses pulping sebenarnya telah lama dilakukan. Ada berbagai macam jenis proses organosolv, namun yang telah berkembang pesat pada saat ini adalah proses alcell (alcohol cellulose) yaitu proses pulping dengan menggunakan bahan kimia pemasak alkohol, proses acetocell (menggunakan asam asetat) dan proses organocell (menggunakan metanol) (Apry,2010). 2.5 Proses Acetosolv Penggunaan asam asetat sebagai pelarut organik disebut dengan proses Acetosolv. Proses acetosolv dalam pengolahan pulp memiliki beberapa keunggulan, antara lain:bebas senyawa sulfur, daur ulang limbah dapat dilakukan hanya dengan metode penguapan dengan tingkat kemurnian yang cukup tinggi, dan nilai hasil daur ulangnya jauh lebih mahal dibanding dengan hasil daur ulang limbah kraft keuntungan dari proses acetosolv adalah bahan pemasak yang digunakan dapat diambil kembali tanpa adanya proses pembakaran bahan bekas pemasak. Selain itu proses tersebut dapat dilakukan tanpa menggunakan bahanbahan organik (Apry, 2010) 2.6 Proses pembuatan Pulp Ada 3 macam proses pembuatan pulp, yaitu: 1. Proses mekanis proses ini tidak digunakan bahan-bahan kimia. Bahan baku digiling dengan mesin sehingga selulosa terpisah dari zat-zat lain (Viikari & Lantto, 2002). 2. Proses semi-kimia Proses ini dilakukan seperti proses mekanis, tetapi dibantu dengan bahan kimia untuk lebih melunakkan, sehingga serat-serat selulosa mudah terpisah dan tidak rusak (Viikari & Lantto, 2002).

3. Proses kimia Bahan baku dimasak dengan bahan kimia tertentu untuk mengllilangkan zat lain yang tidak perlu dari serat-serat selulosa. Dengan proses ini, dapat diperoleh selulosa yang murni dan tidak rusak (Viikari & Lantto, 2002). Adapun jenis-jenis proses pembuatan pulp kimia yaitu : a. Pembuatan pulp sulfit Pulp sulfit dengan rendemen tinggi dapat dihasilkan dengan proses sulfit bersifat asam, bisulfit atau sulfit bersifat basa. Penambahan metanol dan antrakuinon dalam proses ini akan mempercepat proses delignifikasi serta dapat mengurangi degradasi karbohidrat selama proses pulping sehingga rendemen pulp meningkat. Proses ini memiliki beberapa keuntungan antara lain dapat mengolah semua jenis kayu, rendemen pulp yang dihasilkan lebih tinggi, pulp yang dihasilkan mudah diputihkan dan mempunyai sifat kekuatan yang prima, serta dapat mengurangi emisi gas sulfur yang terjadi pada proses konvensional. b. Pembuatan pulp sulfat (kraft) Proses ini menggunakan natrium sulfat yang direduksi didalam tungku pemulihan menjadi natrium sulfit, yang merupakan bahan kimia kunci yang dibutuhkan untuk delignifikasi. Proses kraft diakui mempunyai banyak segi positif, antara lain mampu mengolah semua jenis bahan baku dengan berbagai macam kualitas dan dapat menghasilkan pulp dengan kualitas yang sangat prima. Di lain pihak, proses konvensional ini juga mempunyai beberapa kelemahan, salah satunya adalah kontribusinya terhadap pencemaran lingkungan. c. Pembuatan pulp soda Proses pembuatan pulp soda umumnya digunakan untuk bahan baku yang berasal dari limbah pertanian seperti merang, katebon, bagase serta kayu lunak.