Anda di halaman 1dari 4

II GAGASAN A.

Kondisi Kekinian Pencetus Gagasan

1. Definisi Nekrosis Pulpa Kematian jaringan pulpa akibat sistem pertahanan pulpa sudah tidak dapat menahan besarnya rangsangan sehingga jumlah sel pulpa yang rusak menjadi semakin banyak dan menempati sebagian besar ruang pulpa. Sel-sel pulpa yang rusak tersebut akan mati dan menjadi antigen bagi sel-sel pulpa yang masih hidup 2. Penyebab Nekrosis Pulpa Jaringan pulpa yang kaya akan vaskuler, syaraf dan sel odontoblast; memiliki kemampuan untuk mengadakan pemulihan jika terjadi peradangan. Akan tetapi apabila terjadi inflamasi kronis pada jaringan pulpa atau merupakan proses lanjut dari radang jaringan pulpa maka akan menyebabkan kematian pulpa/nekrosis pulpa. Hal ini sebagai akibat kegagalan jaringan pulpa dalam mengusahakan pemulihan atau penyembuhan. Semakin luas kerusakan jaringan pulpayang meradang semakin berat sisa jaringan pulpa yang sehat untuk mempertahankan vitalitasnya. Nekrosis pulpa pada dasarnya terjadi diawali karena adanya infeksi bakteria pada jaringan pulpa. Ini bisa terjadi akibat adanya kontak antara jaringan pulpa dengan lingkungan oral akibat terbentuknya dentinal tubules dan direct pulpal exposure, hal ini memudahkan infeksi bacteria ke jaringan pulpa yang menyebabkan radang pada jaringan pulpa. Apabila tidak dilakukan penanganan, maka inflamasi pada pulpa akan bertambah parah dan dapat terjadi perubahan sirkulasi darah di dalam pulpa yang pada akhirnya menyebabkan nekrosis pulpa. 3. Hubungan Kalsium Hidroksida terhadap Nekrosis Pulpa Kalsium hidroksida adalah suatu bahan yang bersifat basa kuat dengan pH 12-13 (Castagnola dan Orlay, 1956: 33). Bahan ini sering digunakan pada direct pulp capping. Jika diletakkan kontak dengan jaringan pulpa, bahan ini dapat mempertahankan vitalitas pulpa tanpa menimbulkan reaksi radang, dan dapat menstimulasi terbentuknya batas jaringan termineralisasi atau jembatan terkalsifikasi pada atap pulpa (pulpa yang terbuka) (Sikri dan Dua, 1985; de Queiroz dkk, 2005). Sifat bahan yang alkali inilah yang banyak memberikan pengaruh pada jaringan. Bentuk terlarut dari bahan ini akan terpecah menjadi ion-ion kalsium dan hidroksil (Castagnola dan Orlay, 1956: 33).

Sifat basa kuat dari kalsium hidroksida dan pelepasan ion kalsium akan membuat jaringan yang berkontak menjadi alkalis. Keadaan basa akan menyebabkan resorpsi atau aktifitas osteoklas akan terhenti karena asam yang dihasilkan dari osteoklas akan dinetralkan oleh kalsium hidroksida dan kemudian terbentuklah komplek kalsium fosfat. Ion kalsium Selain itu osteoblas menjadi aktif dan mendeposisi jaringan terkalsifikasi, maka batas dentin akan dibentuk di atas pulpa (Castagnola dan Orlay, 1956: 3; Kavitha,2005:10-11). Ion hidroksil diketahui dapat memberikan efek antimikroba. Ion hidroksil akan memberikan efek antimikroba dengan cara merusak lipopolisakarida dinding sel bakteri dan menyebabkan bakteri menjadi lisis. Sifat basa dari kalsium hidroksida akan menetralisir daerah lesi, baik dari bakteri maupun produknya (Castagnola dan Orlay, 1956: 34; Kavitha,2005:8).

B. Seberapa jauh kondisi kekinian Kapur adalah sebuah benda putih dan halus terbuat dari batu sedimen, membentuk bebatuan yang terdiri dari mineral kalsium. Kapur biasanya terbentuk di dalam laut dengan kondisi bebatuan yang mengandung lempengan kalsium plates (coccoliths) yang dibentuk oleh mikroorganisme coccolithophores. Biasanya lazim ditemukan pada batu api dan chert yang terdapat dalam kapur.

Batu kapur (gamping) dapat terjadi dengan beberapa cara, yaitu secara organik, mekanik atau secara kimia. Sebagian besar batu kapur yang terdapat di alam terjadi secara organik, jenis ini berasal dari pengendapan cangkang/rumah kerang dan siput, foraminifera atau ganggang, atau berasal dari kerangka binatang koral/kerang. Batu kapur dapat berwarna putih susu, abu-abu muda, abu-abu tua, coklat bahkan hitam, tergantung keberadaan mineral pengotornya.

2.

Ketersediaan sumber air yang mengandung kapur Kapur banyak terdapat di berbagai wilayah Indonesia. Utamanya terdapat pada daerah yang memiliki pegunungan kapur. Bisa ditemukan di daerah Wonogiri dan sekitarnya untuk wilayah Jawa Tengah. Kemudian Surabaya sebagai salah satu sumber dari Jawa Timur.

C. Langkah-langkah Strategis yang Dilakukan Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi mendorong kita untuk senantiasa berkembang dengan pola yang lebih maju. Kemajuan ini juga meliputi segala bidang tidak terkecuali dalam bidang kesehatan khusunya kesehatan gigi. Semakin hari makin banyak penemuan yang telah dilakukan oleh para peneliti. Hal inilah yang kemudian banyak memberikan andil dalam kesehatan gigi manusia. Tapi bisa dilihat dalam sekitar kita sendiri masih banyak orang yang mengeluh dikarenakan permasalahan terhadap giginya. Namun keluhan itu tidak selamanya bersamaan dengan kondisi keuangan yang memungkinkan pergi ke dokter gigi. Atau juga tidak bersamaan dengan keberanian untuk pergi ke dokter gigi yang menyeramkan bagi sebagian orang. Untuk itulah penulis menggunakan alternative lain yang murah dan mudah dicari yakni pemanfaatan sumber air yang mengandung kapur atau kalsium hidroksida yang nantinya dapat menjadi air minum dan air kumur.

D. Pihak-Pihak Yang Akan Dilibatkan Dalam Mengaplikasikan Gagasan a. Dinas Kelautan Dinas Kelautan daerah berperan dalam menganalisis kadar air laut yang teradapat pada daerahnya terhadap kandungan kapur b. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Untuk mengadakan penelitian lanjutan dalam rangka memanfaatkan kandungan zat kapur untuk nekrosis pulpa sebagai lanjutan gigi berlubang, dibutuhkan suatu kerja sama dengan LIPI. LIPI, dalam hal ini bagian LITBANG (Penelitian dan Pengembangan) akan sangat berperan dalam memfasilitasi penulis dalam melakukan penelitian tersebut. c. Pemerintah Republik Indonesia (DIKTI) Pemerintah Republik Indonesia berperan penting dalam hal memberikan tunjangan dana untuk penelitian yang akan dilakukan. Dukungan dana yang diberikan akan memberikan kemudahan untuk kelancaran penelitian. d. Badan POM (Pengawas Obat dan Makanan)

Badan POM berperan dalam mengawasi proses evaluasi Uji klinis efektifitas zat kapur yang terkandung dalam sumber air dan pemanfaatannya di dalam air minum dan obat kumur. Badan POM berperan dalam pemberian izin pemasaran, apabila setelah melalui uji klinis, kandungan zat kapur dapat membantu untuk mencegah terjadinya nekrosis pulpa. e. PDGI Sebagai badan yang menaungi dokter gigi di seluruh Indonesia maka akan turut berperan penting dalam mengawasi jalannya penelitian yang menggunakan objek gigi sebagai tujuan akhirnya.