Anda di halaman 1dari 6

3.

Kondisi Perekonomian Indonesia Berdasarkan laporan keuangan Indonesia yang dipublikasikan oleh Bank Indonesia, kinerja Perekonomian Indonesia selama tahun 2010 terus mengalami perbaikan ditengah ketidakseimbangan pemulihan ekonomi global terutama di negara-negara Eropa dan Amerika. Hal tersebut terlihat dari pertumbuhan PDB yang meningkat tinggi, neraca pembayaran yang mengalami surplus yang cukup besar, serta kinerja sektor keuangan yang semakin membaik. Didukung fundamental yang membaik serta terjaganya persepsi positif terhadap perekonomian Indonesia, nilai tukar rupiah juga mengalami penguatan engan volatilitas yang cukup rendah. Disisi harga, inflasi sampai dengan pertengahan tahun 2010 masih cukup terjaga,. Namun paruh kedua paruh laporan, intensitas gangguan dari sisi pasokan, khususnya bahan pangan, memberikan tekanan yang cukup besar terhadap inflasi, sehingga inlasi tercatat tinggi ari tarchet yang ditetapkan. Pertumbuhan ekonomi domestik selama tahun laporan mencapai 6,1%, lebih tinggi dari pertumbuhan tahun 2009 yang hanya mencapai 4,6%. Peningkatan tersebut didukung oleh sumber pertumbuhan yang semakin berimbang, sebagaimana tercermin pada peran investasi dan ekspor yang meningkat. Peningkatan investasi pada tahun 2010 ditandai dengan semakin tingginya peranan investasi yang sifatnya menambah kapasitas ekonomi. Sementara itu, perbaikan kinerja ekspor juga diikuti oleh semakin terdiversifikasinya komoditas dan negara tujuan ekspor, yang tercermin pada membaiknya kinerja-kinerja sektor-sektor yang menghasilkan komoditas dan negara tujuan ekspor, yang tercermin pada membaiknya kinerja sektor-sektor yang menghasilkan komoditas yang diperdagangkan secara internasional (tradable sector), khususnya industri pengolahan. Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada tahun 2010 surplus cukup besar, mencapai 30,3 miliar dolar AS. Kinerja tersebut didukung oleh transaksi berjalan yang masih mencatat surplus serta tingginya surplus transaksi modal dan financial. Surplus transaksi berjalan tersebut terutama didukung oleh kinerja ekspor yang tumbuh tinggi, meskipun disisi lain impor dan pembayaran transfer pendapatan tumbuhlebih tinggi. Sementara itu, tingginya surplus transaksi modal dan financial disertai dengan struktur aliran modal yang semakin membaik. Hal tersebut tercermin dari peranan aliran masuk modal asing dalam bentuk invstasi langsung, Foreign Direct Investment (FDI) yang meningkat. Peningkatan aliran masuk modal asing didorong baik oleh faktor domestik, seperti prospek ekonomi yang terus membaik. Dengan perkembangan terseut, posisi cadangan devisa di penghujung tahun 2010 mencapai 96,2 miliar dolar AS, cukup memadai untuk mendukung kebutuhan impor dan

kewajiban eksternal, serta memberiakn keyakinan dalam menjaga stabilitas nilai tukar. 3.2 Kondisi Investasi di Indonesia Dengan meningkatnya aktivitas perekonomian Indonesia juga diikuti dengan pertumbuhan investasi. Peningkatan konsumsi dan ekspor yang menonjol selama tahun 2010 mendorong naiknya pertumbuhan investasi. Kepercayaan elaku ekonomi, baik didalam maupun diluar negeri, terhadap kondisi ekonomi Indonesia terus meningkat sehingga mendorong naiknya pembiayaan investasi. Peningkatan investasi juga didukung oleh beberapa perbaikan dalam peraturan terkait investasi dan perdagangan internasional. Apresiasi rupiah turut mendukung naiknya investasi melalui peningkatan impor barang modal. Namun, peningkatan investasi tersebut masih perlu dukungan perbaikan iklim invesatasi, antara lain kondisi infrastruktur khususnya di bidang listrik dan jalan yang masih terbatas. Kinerja dan prospek ekonomi Indonesia yang terus membaik mendorong naiknya peran investasi langsung asing (FDI) dalam aliran masuk modal asing ke Indonesia selam tahun 2010. Kenaikan FDI dan pinjaman luar negeri swasta berdampak langsung pada kinerja sektor riil, dengan terutama terjadi pada sektor nontradable dan sektor industri. Upaya untuk menarik investasi langsung asing perlu didukung oleh kebijakan yang mengarahkan pada sektor tradable dan berorientasi ekspor. Sementara itu, seumber pembiayaan alternatif selain kredit perbankan dan investasi langsung asing juga perlu dikembangkan melalui pendalaman pasar keuangan sehingga dapat memanfaatkan aliran masuk modal asing. Dari sisi lapangan usaha, peningkatan pertumbuhan didukung oleh sektor industri; sektor perdagangan, hotel dan restoran (PHR); serta sektor pengangkutan dan komunikasi. Konstribusi ketiga sektor tersebut terhadap pertumbuhan ekonomi diprakirakan mencapai lebih dari 60%. Pertumbuhan sektor industri diperkirakan meningkat sejalan dengan meningkatnya permintaan. Selain itu, tingginya pertumbuhan investasi, baik ditahun 2010 maupun 2011, diperkirakan mendukung pertumbuhan industri. Sektor PHR serta sektor pengangkutan dan komunikasi merupakan dua sektor yang diperkirakan tumbuh relatif tinggi di 2011, seiring dengan meningkatnya aktivitas perekonomian. Pertumbuhan ekonomi di 2011 di perkirakan masih akan tetap didominasi oleh non-traded sector (tabel 1). % yoy, Tahun Dasar 2010 2010 Sektor 2009 2010 2011 I II III IV Pertania 4 3 3,1 3,8 3,8 2,9 3,2-3,7 Pertambangan dan penggalian 4,4 3,1 2,7 4,2 4,2 3,5 3,3-3,8

Industri Pengolahan 2,2 Listrik, Gas dan Air Bersih 14,3 Bangunan 7,1 Perdangan, Hotel dan Restauran 1,3 Pengangkutan dan Komunikasi 15,5 Keuangan, Pesewaan dan Jasa 5,1 Jasa-Jasa 6,4 PDB 4,6 Sumber : Bank Indonesia

3,9 8,8 7,3 8,6 12 4,8 4,7 5,6

4,3 3,4 6,8 8,7 13,2 5,9 6,4 5,8

5,3 4,3 6,7 8,4 15,5 6,3 7,5 6,9

5,3 4,3 6,7 8,4 15,5 6,3 7,5 6,9

4,5 5,3 7 8,7 13,5 5,7 6 6,1

4,3-4,8 6,2-6,7 7,3-7,8 8,4-8,9 12,3-12,8 5,8-6,3 5,9-6,4 6,0-6,5

Sektor industri pengolahan diperkirakan tumbuh 4,3%-4,8% pada tahun 2011. sector industri pengolahan telah menunjukan geliat aktivitas yang lebih tinggi sejak triwulan IV 2009, seiring dengan membaiknya kondisi ekonomi baik domestic Sektor industri pengelolaan diprakiraan tumbuh 4,3%-4,8% pada tahun 2011. sektor industri pengelolaan telah menunjukan geliat aktivitas yang lebih tinggi sejak triwulan 1V 2009, seiring dengan membaiknya kondisi ekonomi baik domestik maupun external. Optimisme membaiknya kinerja sektor industri pengelolaan didukung oleh dari Industrial Production Index (IPI) yang menunjukan tren meningkat. Selain itu, impor bahan baku yang cenderung meningkat mengindikasikan adanya peningkatan kegiatan disektor industri pengelolaan. Sementara itu, pemulihan kondisi ekonomi domestik dan global yang terus berlangsung memberikan optimisme akan meningkatnya permintaan baik dari dalam negri, maupun luar negri. Sektor perdagangan, hotel dan restoran diprakirakan tumbuh tinggi sekitar 8,4%- 8,95% pada tahun 2011. perkembangan kinerja sektor PHR sangat dipengaruhi oleh aktivitas kegiatan ekonomi masyarakat dan perkembangan daya beli masyarakat. Hasil survey konsumen Bank Indonesia menunjukan bahwa ekspektasi penghasilan masyarakat berada pada level optimis dengan indeks diatas 100. kondisi tersebut mengindikasikan kuatnya daya belii masyarakat. Indikator lain yaitu indeks perdagangan eceran yang berada di atas level 100 dengan tren yang meningkat. Hal tersebut mencerminkan optimisme dalam kegiatan perdagangan dan perkembangan prospek ekonoomi Indonesia ke depan. Berbagai perkembangan tersebut memberikan indikasi yang meningkatnya kegiatan di sektor PHR. 3.3 Kondisi Perhotelan Indonesia Usaha hotel berbintang di Indonesia selam tahun 2009 sampai tahun 2011 tumbuh rata-rata sebesar 2,3 persen dimana pada tahun 2009 usaha perhotelan di seluruh Indonesia berjumlah 12,692 menjadi 13.281

hotel pada pada tahun 2011. jumlah kamar meningkat sebesar 2,8 persen pertahun dari 216.101 kamar pada tahun 2011 menjadi 228.349 kamar pada tahun 2011. Dari sisi permintaan, bisnis perhotelan Indonesia juga mengalami pertumbuhan. Jumlah tamu per hari pada tahun 2009 sebanyak 92.548 tamu, tumbuh sebesar 5,5 persen pertahun menjadi 102.204 tamu pada tahun 2011. tamu dari luar mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan dari 6.040 tamu asing pada tahun 2009 menjadi 7.561 tamu asing pada tahun 2011 dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 13 persen. Dari tabel 2 terlihat bahwa pertumbuhan signifikan terjadi pada tahun 2010 dan melemah pada tahun 2011. Hal tersebut disebabkan pengaruh perekonomian global yang melemah khususnya di Eropa dan Amerika sehingga sangat berpengaruh terhadap stabilitas ekonomi yang menyebabkan turunya jumlah pengunjung hotel di Indonesia.

Tabel 2. Perkembangan Perhotelan di Indonesia Uraian Banyaknya Usaha Kamar Tempat Tidur 8,60 Usaha 1,00 Kamar 86.508 Indonesia 6.040 Asing 7.879 7.561 13,2% 98.758 94.643 5,% 0,50 0,50 8,40 8,40 2009 12.692 216.101 335.461 Tahun 2010 13.281 228.349 350.692 2011 13.281 228.349 350.692 Rerata Yield % 2.3% 2,8% 2,3%

Tamu per hari

Pekerja Per

92.548 Jumlah Sumber : BPS RI; 2012

106.637

102.204

5,5%

Tingkat hunian kamar pada hotel berbintang juga menunjukan peningkatan yang cukup baik. Sempat menurun sebesar 4 persen pada tahun 2009, tingkat hunian hotel kembali menunjukan peningkatan pada tahun 2010 an 2011. Rata-rata peningkatan tingkata hunian hotel berbintang di Indonesia setiap tahunnya sebesar 2 persen per tahun. Tingkat hunian tertinggi terjadi di Provinsi Bali dimana pada saat ini hunian hotel berbintang di Bali mencapai 64,5 % pada tahun 2011, dan Provinsi Sulawesi Tengah dimana pada tahun 2011 tingkat hunian hotelnya mencapai 65.1 persen informasi lengkap disajikan. Pada tabel 3. Provinsi Sumatera Utara Sumatera Barat DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah Di Yogyakarta Jawa Timur Bali Sulawesi Utara Sulawesi Selatan Kalimantan Timur Riau Nusa Tenggara Barat Kepulauan Riau Lampung Tahun 2008 39.8 45.5 51.7 41.1 38.6 53.0 48.3 63.8 54.2 39.9 47.9 48.7 42.9 47.8 2009 36.6 45.6 57.0 45.8 39.6 49.9 47.4 59.4 45.8 40.9 45.7 42.3 43.3 38.9 2010 42.8 47.8 54.9 49.3 41.2 49.2 49.0 44.1 44.5 46.7 45.2 46.2 40.7 49.1 45.8 2011 42.9 48.5 56.9 49.1 43.3 50.7 49.7 64.5 48.2 45.2 57.5 48.9 50.1 44.1 54.9

Jambi Sulawesi Tengah Kepulauan Bangka Belitung Kalimantan Selatan Kalimantan Barat Rerata Sumber : BPS RI; 2012 47.4 45.6

66.1

45.6 65.1 47.8 56.3 45.9

48.4

50.8