Anda di halaman 1dari 4

Judul : Kebijakan Modal Kerja dalam kaitannya dengan Profitabilitas dan risiko perusahaan

Modal kerja dibutuhkan setiap perusahaan untuk membiyai kegiatan operasionalnya, dimana modal kerja yang telah dikeluarkan itu diharapkan akan dapat kembali lagi masuk dalam perusahaan melalui hasil penjualan produksinya. Selanjutnya modal kerja yang berasal dari penjualan produk tersebut akan segera dikeluarkan untuk membiayai kegiatan oprasional selanjutnya Pengelolaan modal kerja secara efektif sangatlah krusial bagi setiap usaha, karena kalau salah dalam pengelolaannya dapat berakibat operasional perusahaan menjadi tidak lancar dan juga dapat menimbulkan kebangkrutan. Mengingat pentingnya modal kerja bagi kelancaran operasi perusahaan, maka peran manajemen dalam menerapkan kebijakan modal sangatlah diperlukan, seperti kebijakan penetapan besarnya modal kerja atau aktiva lancar yang harus dipertahankan agar mencukupi operasi. Atau kebijakan mengenai kebutuhan yang menyangkut hubungan antara berbagai jenis aktiva dan cara pembayarannya, sehingga dapat menjaga profitabilitas dan meminimumkan risiko perusahaan

Memaksimalkan penggunaan modal kerja sudah lama menjadi fokus perhatian perusahaan, hal ini disebabkan karena dewasa ini karena kondisi ekonomi yang tidak stabil, maka keharusan membuat peramalan permintaan lebih penting dibandingkan masa lalu. Perusahaan yang membeli bahan baku dengan perkiraan yang tidak reliabel akan dapat menimbulkan kerugian operasi dan keterbatasan modal kerja. akibat tidak lakunya persediaan tersebut. Selain itu beberapa tahun terakhir harga input bahan baku tidak dapat diprediksi. Tanpa kontrol yang memadai, teknik manajemen risiko dan kebijakan kerja permodalan yang sehat, perusahaan dapat mengalami kerugian yang sig . Jelas-untuk bisnis yang sehat dan tertekan sama-penggunaan yang efisien dan efektif dari aset jangka pendek lebih penting daripada sebelumnya.

Efektif penggunaan modal kerja adalah alat yang ampuh dimana perusahaan dapat: 1 . meningkatkan margin operasi; 2 . memaksimalkan posisi likuiditasnya melalui efektif manajemen kas dan fungsi treasury , serta pembentukan fasilitas kredit modal kerja , jika sesuai . Hal ini dapat mengakibatkan fleksibilitas operasi maksimum ; 3 . meminimalkan risiko operasional dengan membentuk prosedur yang tepat dan kontrol sekitar operasi dan leverage aset dan kewajiban jangka pendek ; 4 . meminimalkan biaya pinjaman , hasil terkait dan struktur modal ;

5 . meningkatkan hubungan dan arus informasi dengan counterpartiesthroughout rantai pasokan , mengarah ke manajemen yang lebih baik dari piutang dan persediaan , serta mengidentifikasi peluang bisnis baru , dan 6 . meminimalkan limbah dan inefisiensi seluruh siklus bisnis Bagimana Mengelola Modal Kerja Secara Efektif? Bagaimana mengelola modal kerja (kas, piutang, surat berharga dan persediaan) yang efektif? Tidak semudah yang diayangkan kebanyakan orang: 1. Pengelolaan Kas Basic-nya, perusahaan jangan sampai kekurangan kas. Premise dasar ini sering kali membuat pengelola (entah itu manajer atau pemilik usaha) menyimpan kas sebanyakbanyaknyasemata-mata karena takut kekurangan kas. Sehingga manajemen selalu bertanya apakah kita cukup kas?. Sesunggunya kecukupan kas saja belum mencerminkan pengelolaan kas efektif. Ada titik dimana persediaan kas menjadi terlalu tinggi sehingga menimbulkan apa yang disebut dengan excess-cash atau idle-cash (kas menganggur)yang sesungguhnya dapat dikaryakan untuk menghasilkan pendapatan yang lebih besar. Kuncinya: bagaimana caranya mengelola kas agar di satu sisi tidak sampai kekurangan tetapi di sisi lainnya juga tidak menimbulkan excess-cash yang berlebihan? 2. Piutang Basic-nya, semua piutang bisa ditagih (minimalkan bad debt). Premise dasar ini sering kali membuat pengelola menerapkan kebijakan kredit yang ekstra ketatsemata-mata karena takut jika piutang menjadi tak tertagih. Sehingga pertanyaan yang sering muncul adalah berapa piutang yang belum tertagih?. Padahal tingkat ketertagihan sesungguhnya belum mencerminkan efektifitas pengelolaan piutang. Ada titik dimana kebijakan kredit yang ketat bisa menggerus penjualan. Tantangan utamanya ada pada: menentukan kebijakan kredit yang di satu sisi membuat tingkat ketertagihan lancar tetapi tidak menganggu penjualan? Dan, seringkali setiap pelanggan (customer) membutuhkan pendekatan yang berbeda. 3. Surat Berharga Basicnya, surat berharga yang dibeli dapat dicairkan tepat pada waktunya. Premise dasar ini seringkali membuat pengelola hanya peduli terhadap waktu pencairan, tanpa pernah berpikir untuk memilih-milih jenis surat berharga (dari perusahaan tertentu) yang paling menguntungkan. Bahkan tidak mempertimbangkan pilihan untuk memutar dana tersebut untuk ekspansi usaha. Diperlukan pengelolaan yang sungguh cermat. 4. Persediaan Barang Dagangan Basic-nya, jangan sampai kekurangan persediaan barangsemua permintaan harus bisa terpenuhi secepatnya. Premise dasar ini seringkali membuat pengelola memutuskan untuk menyimpan persediaan sebanyak-banyaknya. Sesungguhnya persediaan barang berlebihan berpotensi menimbulkan cost bahkan kehilangan. Semakin besar persediaan semakin besar beban yang harus ditanggung oleh perusahaanmulai dari gaji pegawai gudang, perawatan, hingga persediaan usang/rusak (obsolete inventory) yang membengkak. Tak jarang juga terjadi kehilangan. Tantangannya: bagaimana mengelola persediaan sehingga di satu sisi cukup untuk mensuplai permintaan, di sisi lainnya beban dan potensi risiko seminimal mungkin? Sebagian besar sumber daya yang dimiliki perusahaan tertanam dalam modal kerja (working capital) sehingga masalah modal kerja merupakan suatu hal penting yang memerlukan perhatian besar dan tindakan hati-hati dalam pengelolaannya. Modal kerja digunakan untuk membelanjai sebagian besar

operasional perusahaan terutama membiayai pengeluaran-pengeluaran operasional rutin seperti pembayaran upah dan gaji pegawai,pembelian bahan baku, dan lain-lain. Tersedianya modal kerja yang cukup juga dapat menjaga perusahaan terhadap kemungkinan terjadinya krisis modal kerja akibat turunnya aktiva lancar dan dari bahaya-bahaya atau kesulitan keuangan yang mungkin akan timbul. Mengingat pentingnya modal kerja bagi kelancaran operasi perusahaan, maka peran manajemen dalam menerapkan kebijakan-kebijakan sehubungan dengan pengelolaan modal kerja yang tersedia sangat diperlukan, seperti kebijakan penetapan besarnya modal kerja atau aktiva lancar yang harus dipertahankan agar mencukupi operasi. Atau kebijakan mengenai kebutuhan yang menyangkut hubungan antara berbagai jenis aktiva dan cara pembayarannya, hal tersebut dilakukan melalui kebijakan manajemen yang terkendali dan hati-hati terhadap modal kerja yang tersedia.. Agus Sartono (2001 : 385), mengatakan bahwa manajemen modal kerja berkepentingan terhadap manajemen keputusan investasi pada aktiva lancar dan utang lancar terutama mengenai bagaimana penggunaan dan komposisi keduanya akan mempengaruhi resiko. Modal kerja diperlukan perusahaan untuk membiayai kegiatan operasional perusahaan. Efektivitas merupakan suatu ukuran yang memberikan gambaran seberapa jauh target dapat tercapai. Pengertian efektivitas ini lebih berorientasi kepada keluaran sedangkan masalah masukan kurang menjadi perhatian. Efektivitas selalu berhubungan dengan tujuan perusahaan, kegiatan suatu pusat pertanggung jawaban atau unit organisasi dapat dikatakan efektif sejalan dengan kontribusi yang diberikan dalam mencapai tujuan perusahaan. Artinya semakin besar kontribusi yang diberikan dalam mencapai tujuan perusahaan maka semakin efektif kegiatan unit tersebut. Maman Ukas (1999:85) mengemukakan bahwa efektivitas merupakan suatu ukuran tentang pencapaian tujuan. Kemudian Muchdarsyah Sinungan (2000:15) mengemukakan bahwa efektivitas adalah dimana tujuan tercapai. Bambang Riyanto (1991:64) mengatakan bahwa Efektivitas modal kerja yaitu tingkat keberhasilan suatu perusahaan dalam menggunakan modal kerja yang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan, sehingga tidak menimbulkan kelebihan atau kekurangan dan dapat memberikan rasio yang memuaskan. Agus Sartono (2001:385) menyatakan bahwa Tindakan yang diambil dalam pencapaian produktivitas adalah dalam pemanfaatan modal kerja secara efektif dan efisien, seluruh penggunaan modal kerja dipergunakan secara optimal sehingga tidak terjadi kemubadziran. Manajemen modal kerja yang efektif menjadi sangat penting untuk pertumbuhan keberlangsungan perusahaan dalam jangka panjang. Apabila perusahaan kekurangan modal kerja untuk memperluas penjualan dan meningkatkan produksinya, maka besar kemungkinan akan kehilangan pendapatan dan keuntungan serta mempengaruhi produktivitas Agus Sartono (2001 : 386) bahwa Apabila perusahaan kekurangan modal kerja untuk memperluas penjualan dan meningkatkan produksinya, maka besar kemungkinannya akan kehilangan pendapatan dan keuntungan. Perusahaan yang tidak memiliki modal kerja yang cukup, tidak dapat membayar kewajiban jangka pendek tepat pada waktunya dan akan menghadapi masalah likuiditas.