Anda di halaman 1dari 18

I.

LAPORAN KASUS a. Identitas Pasien Nama Alamat Umur Agama Pekerjaan : Ny. Supariati : Ndangkel Ngluwar : 63 tahun : Islam : Buruh tani

Tangal Pemeriksaan : 21 April No. RM b. Anamnesis KU RPS : Nyeri perut dan mual : Nyeri sejak 2 hari lalu dan disertai mual. Nyeri dirasa sebelum makan dan setelah makan. Pasien juga merasakan sering lelah dan mengantuk. Pasien juga mengeluh sakit gigi, sakit leher yang baru diperiksakan ke dokter. Keadaan ini sangat mengganggu aktivitas pasien. Anamnesis Sistem : Cerebrospinal Kardiovaskuler Respirasi Digestive : Pusing (+), demam (-) : tidak ada keluhan : tidak ada keluhan : mual (+), muntah (-), nyeri sebelum dan sesudah makan, BAB normal Uropoetika Integumentum Muskuloskeletal : tidak ada keluhan : dalam batas normal : pegal-pegal nyeri tengkuk dan punggung atas RPD : :-

Pasien pernah mengalami sakit serupa dan sudah diobati namun sering kambuh lagi

Pernah dirawat di rumah sakit karena penyakit paru-paru dan menurut pasien sudah pulih

HPT (-) , DM (-) :

RPK -

Keluarga pasien maupun kerabat dekat tidak ada yang mengalami hal serupa

Kebiasaan dan lingkungan -

Pasien mengaku bahwa lingkungan sekitarnya kotor dan tetangga terdekatnya ada yang memelihara kerbau

Sebelum sakit, pasien sering makan makanan yang pedas Pasien makan saat lapar dan bisa sampai 5x dalam sehari dan tidak teratur

Pasien tidak merokok apalagi minum alkohol

c. Pemeriksaan Fisik Keadaan Umum Vital Sign TD Nadi Respirasi Suhu Kepala Leher Thorax Abdomen Inspeksi rata Auskultasi : Arteri normal, peristaltic usus sangat terdengar sebanyak 17x dalam 1 menit Perkusi Palpasi : suara tymphany di semua region : nyeri tekan (-), Nyeri lepas tekan (-), Palpasi hepar tidak : Baik, kesadaran Compos Mentis : : 140/80 : 82x/menit : 17x/menit : 36,4 C : konjungtiva anemis (-), Lidah berwarna putih pucat : JVP +2 : (pasien menolak untuk membuka pakaian) : :Tidak ada bekas operasi, kemerahan, edem. Dada dan perut

teraba, Palpasi Lien tidak teraba. Ekstremitas : t.a.k.

Pemeriksaan Khusus : tidak dilakukan

d. Pemeriksaan Penunjang Rencana : Uji nafas (curiga H. Pylori) Endoskopi untuk Gastritis Cek Gula darah (sering ngantuk atau poli dipsi curiga terdapat DM)

e. Diagnosis Banding Ulkus Peptikum Ulkus Gaster GERD

f. Diagnosis Kerja Gastritis g. Terapi Untuk first line memakai rantitidine dan antaside Anti nyeri memakai obat analgetik yang non-NSAID Sebagai profilaksis menggunakan antibiotic spectrum luas terutama jika ditemukan bakteri H. Pylori pada pemeriksaan penunjang. h. Rencana tindakan Melakukan serangkaian pemeriksaan penunjang yang sudah kami cantumkan diatas Memberikan pengobatan yang kami cantumkan di atas Memberikan edukasi berupa menjaga pola makan yang aman bagi saluran pencernaan i. Edukasi Perbaiki pola hidup seperti : memperbaiki pola makan, menghindari factor resiko,dan tetap menjaga diri untuk hidup bersih Hindari stressor pemicu penyakit, jika kemungkinan gastritis yang psikosomatik. Istirahat yang cukup

II.

PEMBAHASAN a. Interpretasi Hasil Anamnesis

Keluhan Utama Keluhan utama yang diderita oleh pasien adalah nyeri perut. Nyeri perut itu sendiri bisa mengarah pada banyak diagnosis tergantung dari letak, sifat dan onset nyeri itu sendiri. Banyak sekali penderita yang mengeluh sakit perut. Rasa sakit perut banyak macamnya. Walaupun demikian perlu ditanyakan timbulnya rasa nyeri di perut apakah ada hubungannya dengan makanan, apakah timbulnya terus menerus, adakah penjalaran ke lain tempat, nyeri seperti diperas peras, merasa sakit perut sewaktu atau setelah buang air besar, waktu buang air kecil dan masih banyak macamnya. Nyeri Epigastrium Rasa nyeri di perut bagian atas dapat disebabkan oleh kelainan organ dalam rongga perut dan organ dalam rongga dada. Organ di dalam perut yang sering memberikan keluhan nyeri perut atas, antara lain saluran makan. Sedangkan organ dalam rongga dada yang sering memberikan nyeri perut bagian atas adalah esophagus dan jantung.

1. Esofagus Bila keluhan nyeri disebabkan oleh kelainan dari esophagus biasanya tempat nyeri di substernal. Kelainan di esophagus di bagian atas akan menyebabkan rasa nyeri di daerah tengkuk, sedangkan kelainan pada esophagus sepertiga bawah, tempat nyeri biasanya di sekitar proccesus xyphoideus. Bila timbul rangsangan yang berat maka timbul penjalaran ke punggung. 2. Lambung dan Duodenum Timbulnya nyeri yang berhubungan dengan makanan dan berpusat di garis tengah epigastrium disebabkan oleh kelainan lambung dan duodenum. Bila tempat nyeri di hipokondrium kanan biasanya disebabkan oleh kelainan bulbus duodeni atau diantrum lambung.

Beberapa kelainan di lambung yang dapat menyebabkan nyeri epigastrium biasanya penyakit GERD, gastritis akut dan kronis, tukak di lambung dan kanker lambung.

Riwayat Penyakit Sekarang Pasien merasakan nyeri perut saat sebelum dan setelah makan, hal ini menunjukan bahwa nyeri perut yang dialami berhubungan erat dengan faktor makan dan penyakit yang mengakibatkan hal ini kemungkinan besar kelainan terjadi pada lambung misalnya gastritis atau ulkus gaster (Sujono, 2002). Rasa nyeri pada tengkuk leher bisa mengarah kepada beberapa kemungkinan, misalnya dari segi pekerjaan dan keadaan hipertensi yang dialami pasien. Pekerjaan buruh tani biasanya membuat pasien untuk

membungkuk dan melihat ke bawah (yang tentu saja mebuat kepala melakukan fleksi). Hal ini menyebabkan tumpuan untuk menahan kepala ada di tengkuk leher khususnya otot trapezium, lama kelamaan, otot ini akan mengalami pegal (rasa nyeri tipe lambat). Selain itu, saat panen tiba, biasanya buruh tani juga harus mengankut hasil panennya dengan cara dipanggul yang akan membebani punggung, leher dan kepala bagian belakang.

Anamnesis System 1. Cerebrospinal Pasien tidak menderita demam, kemungkinan tidak ada infeksi sistemik maupun reaksi peradangan yang berat. Pasien mengalami pusing dan mudah mengantuk ( yang kemungkinan lelah), kemungkinan bisa terdapat anemia, defisiensi zat besi, defisiensi B12 atau bisa juga pasien terkena gejala Diabetes Melitus ( Polidipsy, Poliphagi, Poliuri ). 2. Kardiovaskuler

Menurut pengakuan pasien tidak ada keluhan pada sistem ini, baik berdebar debar maupun sakit dada. 3. Respirasi Menurut pengakuan pasien tdak ada keluhan pada sistem ini dari segi sesak nafas. 4. Digestive Ada mual yang tidak disertai muntah kemungkinan ada rasa tidak nyaman pada saluran cerna atau terjadi peningkatan asam lambung. BAB normal, tidak harus mengejan, frekuensi <3x sehari, tidak cair dan warna feces biasa berarti tidak ada gangguan dari sistem hepatobillier dan saluran cerna bagian bawah. 5. Uropoetika Menurut pengakuan pasien tidak ada keluhan pada sistem ini dari segi warna. 6. Integumentum Tidak ada keluhan dari pasien mengenai keadaan integumentum. 7. Muskuloskeletal Pegal-pegal yang dirasakan kemungkinan berhubungan dengan pekerjaan pasien seperti yang dijelaskan di atas

Riwayat Penyakit Dahulu Pasien mengeluhkan pernah mengidap penyakit serupa namun hanya diobati seadanya dan sembuh namun masih kambuh-kambuhan. Pasien pernah dirawat di rumah sakit karena sakit paru paru dan menurut pasien sudah sembuh. Menurut hipertensi dan DM pengakuannya, pasien tidak mempunyai riwayat

Riwayat Penyakit Keluarga Keluarga dan kerabat pasien yang terdekat tidak ada yang mengalami penyakit yang sama. Hal ini menunjukan penyakit yang

diderita pasien bukan karena factor metabolic-kongenital maupun herediter, dan bukan merupakan penyakit yang ditularkan oelh anggota keluarga.

Lingkungan dan Kebiasaan Lingkungan pasien yang kotor bisa menjadi factor resiko pasien terkena invasi kuman. Kebiasaan makan pasien yang suka pedas bisa menjadi bahan iritatif pada saluran cerna yang lama-kelamaan akan menyebabkan kerusakan pada mukosa saluran cerna.

b. Interpretasi Hasil Pemeriksaan Fisik Keadaan Umum Masih baik, responsive (kesadaran compos mentis) Tanda Vital Tekanan darah pasien 140/80 mmHg air raksa yang masuk ke dalam kategori hipertensi grade I (. Nadi, suhu dan respirasi masih dalam batas normal. Sehingga tidak menunjukkan adanya tanda-tanda terkena infeksi. Kepala Tidak terdapat tanda anemis namun lidah pucat. Leher JVP masih dalam batas normal tidak ada kelainan kardiovaskuler. Abdomen 1. Inspeksi :

Tidak ditemukan adanya bekas operasi, berarti kemungkinan tidak ada penyakit yang disebabkan pasca operasi. Tidak ditemukan adanya kemerahan dan oedem, berarti tidak ada inflamasi dari luar dan tidak ada keterkaitan dengan trauma yang disebabkan benda tumpul.

Tinggi dada dan tinggi perut sejajar, berarti tidak ada kelainan pada morfologi paru-paru maupun ascites.

2. Auskultasi : Aorta abdominalis, arteri renalin dan arteri iliaca tidak terdengar adanya bruit. Peristaltic usus normal, berarti tidak ada gangguan pada saluran pencernaan bagian bawah. 3. Perkusi Perkusi area abdomen timpani, berarti tidak ada kecurigaan yang mengarah ke ascites. 4. Palpasi Tidak terdapat nyeri tekan disemua regio abdomen Tidak terdapat nyeri tekan lepas di semua region abdomen. Nyeri tekan lepas itu sendiri biasanya terdapat pada apendisitis, peritonitis, maupun perforasi dari organ saluran cerna. Berarti kita masih bisa mengarahkan diagnosis pada kelainan lambung. Pada palpasi atau perabaan tidak teraba hepar ataupun lien, berarti tidak terdapat perbesaran pada kedua organ ini.

c. Interpretasi Hasil Pemeriksaan Penunjang Tes uji napas. Tes ini digunakan untuk mengetahui apakah kecurigaan gastritis ini disebabkan karena infeksi H. phylori atau karena penyebab yang lainnya. Jika terdapat infeksi H. phylori, maka tes uji napas ini akan menunjukkan napas yang berbau urea. Endoskopi. Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat morfologi lapisan mukosa dari esophagus sampai duodenum. Jika pasien ini mengalami penyakit gastritis, maka pada endoskopi ini akan menunjukkan hasil berupa inflamasi pada lapisan mukosa (Yamada, 2003). Cek gula darah. Pada pasien didapatkan keluhan berupa sering mengantuk dan cepat lelah. Gejala ini kemungkinan mengaah pada

DM, oleh karena itu kita menyarankan untuk melakukan tes gula darah sewaktu. d. Alasan Diagnosis Banding dan Diagnosis Akhir

Dari anamnesis di atas ada beberapa diagnosis banding kami mengarah ke GERD, ulkus gastric, ulkus duodeni, dan gastritis. Keluhan utama pasien adalah nyeri epigastrium, dan setelah kami melakukan anamnesis lebih lanjut, ditemukan pula adanya keluhan mual, setelah itu kami bedakan nyeri dan mual ini berdasarkan onset waktu makan. Jika nyeri dan mual ini timbul setelah makan, maka kami arahkan diagnosis pada GERD dan ulkus gastric. Namun pada GERD khas terdapat heart burn atau perasaan terbaar pada dada yang disebabkan oleh refluk hasil cerna dan gastric juice dari lambung ke esophagus, selain itu terdapat disfagia atau rasa tidak nyaman saat menelan dan rasa pahit di lidah (Sujono, 2002).

Jika nyeri dan mual ini timbul sebelum makan maka kami mngarahkan diagnosis pada ulkus duodeni. Pada penyakit ulkus duodeni, biasanya pasien mengeluhkan nyeri yang tak terlokalisas dan menjalar hingga ke punggung. Selain itu, keluhan penyakit ini iasanya membaik jika diberi makan atau minum antasida. Pada referensi buku yang kami temukan, ulkus duodeni juga mempunyai nyeri khas pada malam hari yang nanti akan bersifat intermiten dan eksaserbasi (yang juga bisa disebabkan karena ulkus gastric) yang lama kelamaan akan menyebabkan melena dan hematemesis. Yang terakhir, jika keluhan ini terjadi sebelum dan setelah makan maka diagnosis kami leih mengarah pada gastritis. Penyakit gastritis ini juga disertai dengan keluhan-keluhan berupa anoreksia, dan bersendawa. Gastritis ini biasanya disebabkan karena beberapa factor pencetus seperti, riwayat pengobatan NSAID, stressor, makanan dan minuman yang bersifat iritatif bagi lambung, dan infeksi H. phylori. Dapat kami simpulkan diagnosis kerja kami lebih mengarah pada gastritis, yang kemungkinan disebabkan karena stressor, pola makan, dan makanan yang bersifat iritatif bagi lambung.

e. Alasan dan Tujuan Pemilihan Terapi Sebelum diagnosis akhir ditegakkan dengan pemeriksaan Gold Standar, kami akan mengusulkan terapi awal berupa : 1. Antasida, digunakan untuk menetralkan asam lambung sehingga mengurangi iritasi asam lambung terhadap mukosa. 2. Ranitidine, ranitidine merupakan obat penghambat reseptor H2,yang nantinya akan menghamat pengeluaran HCl. 3. Edukasi untuk menghindari stressor dan menjaga pola makan, serta menghindari makanan yang dapat memperburuk keadaan, misalnya makanan yang pedas dan asam. Setelah diagnosis gastritis ditegakkan, maka berdasarkan literature kami akan melakukan terapi berupa :

10

III.

TINJAUAN EVIDENCE BASED MEDICINE 1. Terapi untuk gastritis Judul : Troxipide in the Management of Gastritis: A Randomized Comparative Trial in General Practice Tahun Penulis : 2010 : B. Dewan dan A. Balasubramanian Hindawi Publishing Corporation Resume :

Latar Belakang Kelainan gastrointestinal seperti gastritis merupakan

penyakit dengan nilai prevalensi yang tinggi pada populasi di Asia dengan pasien yang kebanyakan pasien tersebut memeriksakan diri kepada tenaga medis setelah penyakit ini menimbulkan gejala yang muncul lebih sering dan lebih parah. Agent anti-sekret Gastrik seperti histamine-2-receptor antagonist, PPI dan agen sitoprotektif seperti antacid dan sukralfat, telah sukses selama bertahun-tahun dalam pengobatan kelainan pada gastrointestinal seperti gastritis. Sekarang ini, kinerja dari agen sitoprotektif untuk memperkuat jaringan mukosa sebagai pertahanan menjadi sangat penting. Selain itu, bisa diasumsikan, obat yang bisa diandalkan adalah obat yang bisa menyeimbangkan faktor agresif atau faktor yang bersifat menyerang dan faktor defensive atau faktor pertahanan. Troxipide adalah sebuah agen sitoprotektif gastric yang baru, yang bukan hanya dapat menghambat sekresi asam atau menetralisir asam, akan tetapi terbukti secara klinis juga dapat menyembuhkan gastritis bahkan ulkus gaster. Troxipide ini terbukti mampu menginhibisi mediator inflamasi seperti neutrofil dan stress oksidatif. Dalam penelitian

11

lebih lanjut, Troxipide ini juga dapat meningkatkan sekresi dari prostaglandin. Hampir 60% penderita Ulkus Gaster dapat sembuh total kurang dari 8 minggu setelah mengkonsumsi Troxipide 300mg/hari. Walaupun data preklinik menunjukan bahwa Troxipide mempunyai tingat efikasi yang tinggi, namun masih ada data yang kurang memenuhi mengenai perbandingan efikasi dari Troxipide dengan obat penekan asam seperti Pamotidine dan Ranitidine. Tujuan Jurnal tipe clinical study ini bertujuan untuk

membandingkan efikasi relative dari agen sitoprotektif, yaitu Troxipide, dengan suppresan asam, yaitu Ranitidine. Metodologi Perbandingan efikasi ini akan didukung dengan pembuktian melalui Endoskopi Pasien Pasien yang diikut sertakan adalah pasien yang berumur 18 65 tahun yang direkrut dari 5 rumah sakit di India. Faktor Inklusi primer yang dipakai adalah keberadaan gastritis yang diperiksa dengan cara endoskopi oleh Sydney Classification. Faktor ekslusi yang dipakai adalah adanya perforasi, stenosis yang diakibatkan Pylori, striktur esophagus, obstruksi usus dan riwayat penyakit gastrointestinal lain seperti inflamasi Bowel, sindroma malabsorbsi dan keganasan GI. Study Design Setelah melakukan inform consent, seluruh pasien harus melewati pemeriksaan fisik total dan gambaran-gambaran

pemeriksaan lain yang relevan seperti pemeriksaan darah rutin, Hemoglobin, ELISA untuk bakteri H.Pylori dan Endoskopi Gastrointestinal bagian atas.

12

Semua pasien diacak berdasarkan software computer dan dikelompokan menjadi kelompok dengan pengobatan Troxipide dengan dosis 100mg peroral sebanyak 3 kali sehari selama 28 hari dan kelompok dengan pengobatan Ranitidine dengan dosis 150 mg peroral 2 kali sehari selama 28 hari. Assessments Topografi dan keparahan endoskopi gastritis dikelompokan berdasarkan Sydney System of Endoscopic Classification. Pada pemakaian Endoskopi, topografi yang diawasi adalah bagian antrum, corpus atau keduanya atau Pangantritis. Keparahannya yang ditemukan pada endoskopi saluran GI bagian atas dapat dinilai dengan menggunakan skala berikut : 1) Tidak ada erosi. 2) Ada 1 sampai 3 erosi atau ringan. 3) Ada 4-6 erosi atau sedang. 4) Terdapat lebih dari 6 erosi atau parah. Penilaian keparahan juga dapat menggunakan VAS atau visual analog scale dengan skor 0 (Gejala yang ditimbulkan belum berarti) sampai 100 (keparahan tingkat tinggi). Skor dari VAS ini menggunakan dasar dari 7 gejala yang ditimbulkan dari Gastritis, yaitu Nyeri Abdomen, bloating, belching, mual, muntah, penurunan nafsu makan dan heartburn). Adapun derajat penilaian VAS ini adalah sebagai berikut : 1) None atau tidak ada, dengan skor 0. 2) Mild atau ringan, dengan skor 1-30. 3) Moderate atau sedang, dengan skor 31-60. 4) Severe atau parah, dengan skor 61 sampai 100. Outcome pengukuran Ada 2 outcome primer yang diharapkan dari penelitan ini, yang pertama yaitu proporsi dari pasien yang mendapatkan resolusi lengkap dari endoskopi gastritis ( penurunan skor menjadi 0 dengan dasar penggunaan skala skor 4 poin ) dan yang kedua adalah adanya pengurangan gejala.

13

Outcome sekunder yang diharapkan adalah proporsi dari pasien yang memperlihatkan perkembangan dalam endoskopi gastritis (adanya pengurangan keparahan dengan dasar penggunaan skala skor 4 poin pada saat minggu ke-4) Statistical Analysis Pengukuran sample ini dihuitung berdasarkan asumsi adanya perbedaan sebanyak 20% dalam control group yang bisa terdeteksi dengan nilai responder sebanyak 80% dalam test group dan nilai dropout sebanyak 25%. Result 144 pasien degan gejala gastritis atau dyspepsia diacak atau dirandomisasi menjadi 2 grup, yaitu : 1) 72 pasien yang menggunakan pengobatan Troxipide. 2) 72 pasien yang

menggunakan pengobatan Ranitidine. 2 pasien, masing-masing 1 pasien dari masing-masing grup, keluar dari percobaan setelah dilakukan evaluasi. Profil Pasien Setelah pasien dikelompokan, dilakukan juga pemeriksaan fisik untuk seluruh pasien dan hasilnya normal. Tetapi walaupun hasilnya normal, pada pemeriksaan fisik GI ditemukan adanya 8,45% yang abnormal dari seluruh pasien pada kedua grup, atau 12 orang dalam 142 pasien. Riwayat gastritis atau GERD dilaporkan sebanyak 13,38% atau 19 orang dari 142 pasien ( 10 orang dari grup pasien yang menggunakan Troxipide dan 9 orang dari grup pasien yang menggunakan Ranitidine) dengan terapi NSAID jangka panjang pada 1 orang pasien dalam grup yang menggunakan Troxipide. Sebanyak 9,86% atau 14 dari orang dari 142 pasien menggunakan pengobatan concomitant seperti domperidone, lactulose dan nisatin. Penemuan pada Gastroendoscopic

14

Dengan penggunaan Endoskopi sebagai alat diagnosis pada penelitian ini, tanda-tanda gastritis yang hanya terdapat pada bagian Antrum yaitu sebanyak 34,51% dari seluruh pasien, yang hanya terdapat pada Corpus yaitu 9,15% dari seluruh pasien, sedangkan tanda gastritis yang ditemukan pada bagian Antrum dan Corpus atau Pangastritis yaitu sebanyak 54,93% dari seluruh pasien. Pemeriksaan endoskopi ini juga menunjukkan adanya gastritis yang idiopatik atau belum jelas penyebabnya sebanyak 84,5%, gastritis yang disebabkan karena adanya keterkaitan dengan H.Pylori sebanyak 7,75%, penggunaan obat-obatan sebesar 4,23% dan penyebab iritan lain bagi lambung sebanyak 3,25%. Dari seluruh pasien yang dicrigai adanya keterkaitan dengan H.Pylori, ternyata hanya 2 pasien saja (dari Grup pengobatan Troxipide) yang memilii hasil Positif pada

pemeriksaan serologi. Penyembuhan Total (dilihat dari tanda Endoskopi) Dari 142 pasien, proporsi yang lebih besar dari pasien yang menerima Troxipide memperlihatkan penyembuhan total terhadap erosi mukosa sebesar 88,14% sedangkan Ranitidine menunjukan penyembuhan sebesar 56,36%. Dari segi kemerahan, Troxipide menunjukan penyembuhan sebesar 96,77% sedangkan Ranitidine menunjukkan 78,95%. Dari segi edema, Troxipide menunjukkan penyembuhan sebesar 93,88% sedangkan Ranitidine sebesar 46,51%. Penyembuhan Total yang dilihat dari endoskopi lebih banyak ditemukan pada grup pasien yang menggunakan

pengobatan Troxipide daripada Ranitidine pada pasien yang menunjukan gejala atau tanda dengan tingkat sedang sampai berat, yaitu sebesar 85,71% berbanding 41,66% untuk erosi, 71,43%

15

berbanding 34,29% untuk kemerahan dan 92% berbanding 41,8% untuk edema. Perbaikan (dilihat dari Endoskopi) Perbaikan gejala ditemukan lebih besar pada pasien yang menggunakan Troxipide, yaitu perbaikan erosi mukosa sebanyak 98,31% (Ranitidine hanya 78,18%), perbaikan kemerahan

sebanyak 91,04% (Ranitidine hanya 71,43%), dan perbaikan edema sebanyak 97,6% (Ranitidine hanya 69,77%). Perbaikan Gejala Klinis Pada akhir terapi, pasien yang menggunakan Troxipide menunjukan tingkat pengurangan keparahan gejala yang nilainya tidak kurang dari 50 poin dalam penghitungan skor VAS semenjak penghitungan skor VAS pada awal penelitian) Penyembuhan Gejala Klinis Pasien yang menggunakan Troxipide lebih banyak

menunjukkan proporsi penyembuhan gejala klinis yang lebih baik dari pada pasien yang menggunakan Ranitidine. Kesimpulan Pada pasien penderita gastritis yang terdiagnosis

menggunakan endoskopi, Troxipide, yang mempunyai daya perbaikan yang superior, penyembuhan dari tanda maupun gejala klinis yang ditimbulkan, dapat digunakan sebagai alternative untuk pengganti obat yang biasa digunakan sebagai anti-secretory agent.

16

(Jurnal di bawah ini hanya sebagai tambahan untuk mendukung pembahasan) 2. Penggunaan Pemeriksaan Breath-test atau uji napas. Judul : ABC of the upper gastrointestinal tract : Epidemiology and Diagnosis of Helicobacter pylori infection. Tahun Penulis : 2001 : Robert PH. Logan dan Marjorie M Walker British Medical Journal Clinical Review : Non-invasive test Urea breath test Deteksi H. Pylori yang non invasive dengan uji nafas Gurea, didasarkan pada prinsip dasar bahwa senyawa dari urea yang di namakan carbon-13 akan dihidrolisis secara terus-menerus oleh enzim urease yang dihasilkan oleh bakteri H.Pylori. Hasil CO2 dari proses hidrolisis tersebut akan diserap melewati mukosa lambung, melewati sirkulasi sistemik, dan dikeluarkan sebagai CO2 yang digunakan saat ekspirasi. Tes Uji nafas ini bisa mendeteksi infeski yang sedang terjadi dan tidak bersifat radioaktif. Tes ini dapat digunakan sebagai tes skrining untuk menunjukan adanya H.Pylori, yang dapat berperan dalam perncanaan eradikasi , dan juga pendeteksi infeksi pada anak. 3. Efek penggunaan PPI pada gastritis Judul Tahun Penulis : Proton Pump Inhibitor and Gastritis : 2007 : Masayuki Suzuki, Hidekazu Suzuki, Toshifumi Hibi

Serial Review :

17

Proton Pump Inhibitor adalah bahan yang secara kuat dapat menginhibisi H+ atau K+ - ATPase pada sel parietal lambung yang menyebabkan supressi pada sekresi asam. Namun, efikasi dan keamanan dari penggunaan PPI ini belum dapat di simpulkan, sehingga kita harus selalu

memperhatikan efek tambahan dan efek samping dari pemakaian PPI ini. Misalnya pada gastritis yang disebabkan H.Pylori, terapi PPI yang berkepanjangan dapat menyebabkan corpus-predominant gastritis yang seringkali menjadi latar belakang terjadinya kanker lambung.

18