Anda di halaman 1dari 36

1

Dasar-dasar Kristalisasi
II
MEKANISME KRISTALISASI
2
Tujuan
Memahami mekanisme pembentukan
dan pertumbuhan kristal.
Memahami teori-teori untuk
menganalisis kondisi proses yang
menentukan kesuksesan kristalisasi.
3
Outline

Kelarutan dan kejenuhan
Kondisi lewat jenuh
Mekanisme pembentukan kristal
4
Kelarutan (1)
Larutan: campuran homogen dari dua
atau lebih senyawa.
Larutan terdiri atas pelarut (solven)
dan zat terlarut (solut).
Komposisi larutan (konsentrasi)
dinyatakan sebagai:
(gram solut)/(gram solven)x100%
(gram solut)/(gram larutan)x100%
5
Kelarutan (2)
Penting untuk memperhatikan satuan
konsentrasi.
Contoh:
Larutan Na
2
SO
4
dalam air 10% berat
berarti:
Na
2
SO
4
= 10 g,
total larutan (Na
2
SO
4
+air) = 100 g
6
Kelarutan (3)
Larutan Na
2
SO
4
dalam air 10% g
Na
2
SO
4
/g air berarti:
Na
2
SO
4
= 10 g
Air = 100 g
Total = 110 g
Jika dinyatakan dalam % berat total:
(10/110)x100% = 9 % berat
7
Kejenuhan (1)
Jika solut ditambahkan ke dalam
solven, akan tercapai suatu
konsentrasi di mana solut yang
ditambahkan tidak bisa larut lagi.
Konsentrasi maksimum ini disebut
konsentrasi jenuh (sering disebut
juga kelarutan).
8
Kejenuhan (2)
Pada kondisi jenuh, jumlah senyawa
yang larut sama dengan jumlah
senyawa yang mengkristal.
Secara netto tidak ada perubahan
jumlah senyawa dalam larutan dan
padatan.
Hal ini disebut kesetimbangan
termodinamis.
9
Kesetimbangan termodinamis
Fasa 1
Fasa 2
Jumlah perpindahan dari fasa 1 ke fasa 2 sama dengan perpindahan
dari fasa 2 ke fasa 1 sehingga jumlah senyawa di fasa 1 maupun
fasa 2 tetap walaupun ada perpindahan antar fasa.
10
Kejenuhan (3)
Biasanya, kelarutan akan lebih besar pada
suhu yang lebih tinggi.

11
Kejenuhan (4)
Perlu diperhatikan bahwa ada
perkecualian untuk beberapa
senyawa: kelarutan justru turun pada
suhu yang makin tinggi.
Efek suhu terhadap kelarutan perlu
diperhitungkan pada operasi heat
exchanger untuk larutan senyawa
yang dapat mengkristal.
12
Kondisi lewat jenuh
Disebut juga supersaturasi.
Mutlak diperlukan untuk
memungkinkan terbentuknya kristal.
13
Interpretasi supersaturasi (1)
Misalkan suatu
larutan A dalam air
bersuhu T
A
adalah
larutan tidak
jenuh.
Kristalisasi baru
bisa terjadi di
daerah
supersaturasi (di
atas daerah jenuh)

K
o
n
s
e
n
t
r
a
s
i

Suhu
A
B
C
T
A
Daerah
supersaturasi
Tidak
jenuh
14
Interpretasi supersaturasi (2)
Ada dua kemungkinan
mencapai
supersaturasi:
1) Menaikkan
konsentrasi pada
suhu tetap T
A
(untuk
mencapai titik C).
2) Menurunkan suhu
pada konsentrasi
yang sama (untuk
mencapai titik B).

K
o
n
s
e
n
t
r
a
s
i

Suhu
A
B
C
T
A
Daerah
supersaturasi
Tidak
jenuh
15
Menyatakan supersaturasi
Konsentrasi jenuh = C*
Konsentrasi larutan = C (C > C*)
Supersaturasi dapat dinyatakan
sebagai:
Driving force (AC) = C C*
Rasio supersaturasi (S) = C/C*
16
Pengukuran supersaturasi
Diperlukan untuk mengontrol proses
kristalisasi.
Cara pengukuran:
- mengukur densitas (makin tinggi
supersaturasi, densitas makin besar).
- mengukur refractive index (makin tinggi
supersaturasi, refractive index makin
besar).
- mengukur titik didih normal larutan
(makin banyak zat terlarut, titik didih
normal akan makin tinggi).
17
Cara mencapai supersaturasi
Penguapan
Pendinginan
Kombinasi antara penguapan dan
pendinginan
Reaksi kimia
18
Kombinasi penguapan dan
pendinginan
Contoh:
Pabrik gula pasir
Dengan penguapan
(A-B) : diperoleh
larutan jenuh pada
suhu T
1
.
B-C : Suhu diturunkan
sampai T
2
(< T
1
)
sehingga diperoleh
supersaturasi dan
terjadi kristalisasi.

K
o
n
s
e
n
t
r
a
s
i

Suhu
A
B
C
T
2
T
1
19
Pertanyaan
Apa yang terjadi
jika penguapan
dilakukan sampai
tercapai
supersaturasi di
titik B ?

K
o
n
s
e
n
t
r
a
s
i

Suhu
A
B
C
T
2
T
1
B
20
Reaksi kimia (reactive crystallization)
Contoh:
Pabrik amonium sulfat (ZA)
Reaktor
Kristalisasi
(sudah jenuh
(NH
4
)
2
SO
4
)
H
2
SO
4

(l)
NH
3(g)
Separator
Mother liquor
Kristal
ZA
Suspensi
kristal
Reaksi:
H
2
SO
4
+ NH
3
(NH
4
)
2
SO
4
21
Mekanisme pembentukan kristal
PENDINGINAN
Pembentukan
Inti Kristal
(Nukleasi)
Pertumbuhan Kristal
22
Pembentukan inti
Nukleasi
Primer Sekunder
Homogen/
Spontan
Heterogen/
Induksi
23
Nukleasi Primer
Atom/molekul mulai bergabung, dan
tercapai partikel berukuran tertentu, jari-
jari R
c
(ukuran kritis), dalam waktu sangat
singkat.
Partikel yang ukurannya R < Rc sifatnya
tidak stabil dan segera melarut kembali.
Partikel yang berukuran R
c
akan mengalami
fase kristalisasi yang kedua, yaitu
pertumbuhan kristal.
24
Nukleasi Primer Homogen
Terjadi secara spontan (sangat
cepat).
Mekanisme yang mendorong
terkumpulnya molekul-molekul belum
diketahui dengan pasti.
Tetapi kecepatan pembentukan inti
kristal dapat diprediksi berdasarkan
prinsip termodinamika.
25
Kecepatan Nukleasi Homogen
(
(

v t
=
2 3 3
2 3
) S (ln T k 3
16
exp A J
J = kecepatan nukleasi (jumlah inti/waktu)
A, k = konstanta
v = volume satu molekul
T = suhu
= tegangan muka
S = rasio supersaturasi
26
Estimasi waktu
Rasio supersaturasi Waktu yang
diperlukan
1 Tak terhingga
2 10
62
tahun
3 10
3
tahun
4 0,1 detik
5 10
-13
detik
27
Kondisi aktual (1)
Setelah melewati nilai
supersaturasi tertentu,
kecepatan nukleasi
ternyata malah
menurun.
Hal ini disebabkan
pada nilai
supersaturasi terlalu
tinggi, viskositas
cairan sangat besar
sehingga menghambat
gerakan molekul.
28
Kondisi aktual (2)
Data eksperimen
kristalisasi asam
sitrat.
A = konsentrasi
asam sitrat 5 kg/kg
air.
B = konsentrasi
asam sitrat 7 kg/kg
air.
29
Nukleasi Primer Heterogen
Pembentukan inti kristal yang dipicu
oleh ketidakmurnian larutan atau
permukaan kasar yang dapat memicu
supersaturasi lokal.
30
Nukleasi Sekunder
Pembentukan inti kristal dipicu oleh
sejumlah kristal-kristal kecil yang
sudah ada.
Sumber kristal-kristal kecil:
- pecahan kristal akibat pengadukan.
- kristal-kristal kecil yang berada
dalam mother liquor (sengaja
direcycle ke crystallizer). Sering
disebut intentional seeding.
31
Mother liquor
Crystallizer
Separator
Mother liquor
Produk
Kristal

Suspensi
kristal
Umpan
32
Pertumbuhan Kristal
Merupakan proses difusi.
Difusi: perpindahan massa akibat beda
konsentrasi.
Pertumbuhan kristal akan terus terjadi
sampai konsentrasi larutan (yang mulanya
lewat jenuh) mencapai konsentrasi jenuh.
33
Difusi ke permukaan kristal
Kristal
Daerah permukaan kristal:
konsentrasi larutan C*
(jenuh)
Bulk larutan:
Konsentrasi C > C*
(lewat jenuh)
Difusi berhenti
pada saat
C ~ C*
34
Kecepatan
Kecepatan difusi (mol/waktu/luas):


Kecepatan pertumbuhan kristal
(panjang/waktu):

*) C C ( k N
c A
=
M
*) C C ( K 2
G


=
35
AL Law
Kondisi aktual: G = f(L).
Idealisasi (cukup baik untuk
estimasi):
dianggap G = f(L).
Asumsi ini disebut AL Law dan banyak
digunakan dalam perancangan dan
evaluasi unjuk kerja crystallizer.
36
Bagaimana mengatur ukuran
kristal?
Apa yang harus dilakukan jika
diinginkan ukuran kristal halus
(kategori fine crystal)?

Apa yang harus dilakukan jika
diinginkan ukuran kristal berukuran
besar (kategori coarse crystal)?