Anda di halaman 1dari 22

Pediatric Acute and Chronic Rhinosinusitis: Comparison of Clinical Charateristic and Outcome of Treatment

Poachanukoon O, Nanthapisal S, Chaumrattanakul U Asian Pac J Allergy Immunol 2012;30:146-51

Nabila Zaneta 030.09.164 FK Trisakti Pembimbing: dr. Agus, SpTHT

Rhinosinusitis akut dan kronik pada anak: perbandingan dari karateristik klinis dan hasil penatalaksanaan

Pendahuluan
Rhinosinusitis adalah masalah yang sering terjadi pada anak dengan infeksi saluran pernafasan atas Studi pada anak usia 1 5 tahun dengan gejala saluran pernafasan atas menetap, 9.3% sesuai dengan kriteria klinis dari rhinosinusitis akut ( 10 hari hidung tersumbat, ingus atau batuk), sementara rhinosinusitis kronik ditemukan pada 19% anak dengan lebih dari 12 minggu dari gejala pernafasan atas. Terdapat perbedaan manifestasi klinis antara: - dewasa dan anak-anak - rhinosinustis akut dan kronik

Pendahuluan
Diagnosis yang tidak tepat atau penatalaksanaan yang telambat dapat menyebabkan perburukan dari akut menjadi kronik yang dapat mengakibatkan komplikasi seperti infeksi intrakranial, trombophlebitis, osteomielitis, dan komplikasi orbita. Faktor resiko terdapat pada pasien dengan masalah alergi (rhinitis alergi, asma dan inhalasi alergen) , faktor genetik, defisiensi imun dan refluks gaster (GERD).

Permasalahan
Rhinosinusitis (RS) adalah permasalahan yang umum pada anak. Sangat sedikit studi yang dipublikasikan mengenai perbandingan rhinosinusitis akut (ARS) dan rhinosinusitis kronik (CRS) pada anak dengan melihat gejala klinis dan hasil dari tatalaksana

Pertanyaan penelitian
1. Adakah perbedaan gejala klinis antara rhinosinusitis akut dan rhinosinusitis kronik? 2. Adakah perbedaan hasil dari tatalaksana rhinosinusitis akut dan rhinosinusitis kronik?

Hipotesis
Terdapat perbedaan antara gejala klinis dan hasil penatalaksanaan dari rhinosinusitis akut dan rhinosinusitis kronik Tidak terdapat perbedaan antara gejala klinis dan hasil penatalaksanaan dari rhinosinusitis akut dan rhinosinusitis kronik

Bahan dan Cara (Methodologi)


Kriteria Inklusi: Anak-anak umur 1-15 tahun dengan diagnosis klinis rhinosinusitis berdasarkan tanda dan gejala klinis alergi dari pasien poli pediatrik RS Universitas Thammasat (Jan-Des 2010)

Kriteria Eksklusi:
Tidak bersedia ikut dalam subjek penelitian Pasien yang alergi terhadap obat-obatan yang diberikan

Methodologi- Kriteria Diagnosis dari peneliti


Diagnosis Rhinitis akut didefinisikan peneliti berupa gejala saluran pernafasan atas yang menetap lebih dari 10 hari namun kurang dari 4 minggu Diagnosis Rhinitis kronik didefinisikan peneliti berupa gejala saluran pernafasan atas yang menetap lebih dari 8 minggu Pemeriksaan fisik dan rhinoskopi anterior menggunakan otoskop

Konfirmasi diagnosis menggunakan foto polos sinus paranasal, yang dievaluasi oleh radiologis dengan sistem blind
Kriteria diagnosis radiologi berupa penebalan mucoperiosteum lebih dari 4mm dan adanya air fluid level atau perubahan densitas ke opak pada sinus

Hipertrofi adenoid dievaluasi dengan foto tengkorak lateral, kriteria hipertrofi adenoid dikatakan jika ada penyempitan lebih dari 50% saluran nafas nasofaring
Pada pasien dengan Rhinitis alergi dilakukan uji prick tes kulit

Bahan dan Cara (Methodologi)


Pasien dan caregiver diwawancara menggunakan kuesioner untuk melengkapi data demografi, anamnesis, gejala klinis, riwayat alergi dan riwayat keluarga. Pemeriksaan fisik dan penatalaksanan antibiotik juga dicatat untuk dibandingkan antara dua kelompok Data dianalisa dengan uji deskriptif menggunakan program STATA. Diperbandingkan gejala, tanda dan hasil radiologis serta hasil dari tata laksana pada 2 kelompok dengan menggunakan Uji Chi-squared dan uji Fisher dimana P<0.05 menunjukkan adanya perbedaan bermakna

Hasil
103 pasien ( 94 laki-laki dan 60 perempuan) dikategorikan mengidap ARS dan 51 orang mengidap CRS.
Standard deviasi ( SD) umur adalah 5.9 3.3 tahun. Rhinitis alergi sering didapatkan pada kelompok kronik rhinosinusitis.

Keluhan utama yang paling sering pada akut dan kronik rhinosinusitis ialah batuk dan rhinorrhea.
Tidak ada perbedaan bermakna dalam hal gejala antara kedua kelompok

Hasil
65% dari ARS dan 58.8% CRS mempunyai hasil foto polos yang abnormal.
Hipertrofi adenoid ditemukan pada kelompok CRS.

Secara menyeluruh didapatkan perbaikan masing-masing kelompok ARS setelah 14.6 3.82 hari dan kelompok CRS setelah 22.3 5.04 hari (mean) dari tatalaksana antibiotik. Antibiotik yang paling sering digunakan ialah amoxicillinclavulanic acid (84/154 pasien = 54.55%) dan cefditoren pivoxil (52/154 pasien = 33.77%).
Tidak ada pasien yang menjalani operasi sinus.

Diskusi
Tidak ada perbedaan bermakna dalam hal keluhan utama dan gejala klinis
Terdapat perbedaan bermakna antara 2 kelompok dalam hal nyeri pada periorbita dan sleep apnea serta limfadenopati leher yang lebih sering ditemukan pada kelompok kronik Gejala umum berupa post-nasal drip, hidung tersumbat, batuk dan rhinorea sesuai dengan studi lampau dari negara barat

Gejala tersebut juga terkadang sering salah terdiagnosis menjadi rhinitis alergi

Diskusi
Dari pemeriksaan radiologis didapatkan gambaran abnormal sebanyak 60%, yang sesuai dengan studi sebelumnya oleh Low et al.

Hanya 40-50% hasil radiologi yang dapat mengkonfirmasi diagnosis. Diagnosis lebih diutamakan berdasarkan tanda dan gejala
Frekuensi yang menderita hipertrofi adenoid pada studi ini mirip dengan studi sebelumnya oleh Poachanukoon et al. lebih sering pada kelompok kronik

Diskusi
Rhinitis alergi lebih sering pada kelompok kronik dan sesuai dengan studi sebelumnya Asma juga ditemukan pada 32,47% dan mirip seperti studi oleh Tantimongkolsuk namun lebih tinggi dari pada studi Nguyen et al.

Etiologi terbanyak ialah S.pneumoniae dan H.influenza. Ditatalaksana menggunakan amoxicillin-clavulanic acid atau cefditoren pivoxil yang dapat mengatasi organisme tersebut.

Diskusi
Kekurangan studi ini ialah jumlah sampel yang sedikit, hanya diambil dari 1 rumah sakit dan sebagian besar didapat dari pasien poli alergi. Tehnik mendiagnosis tidak menggunakan aspirasi sinus karena invasif dan tidak direkomendasikan untuk anak-anak

Kesimpulan
Tidak ada perbedaan bermakna dari gejala antara Rhinosinusitis akut dan rhinosinusitis kronik kecuali nyeri periorbita dan sleep apneu. Gejala paling sering dari rhinosinusitis ialah rhinorrea dan batuk. Tidak ada perbedaan dalam penatalaksanaan Pasien dengan ARS dan CRS berhasil ditatalaksana dengan pengobatan medis.

THANK YOU