Anda di halaman 1dari 12

SINTESIS SENYAWA 3-(4-METILBENZOIL)-1-FENILTIOUREA SEBAGAI KANDIDAT ANTIKANKER ( Studi Interaksi dan Toksisitas Secara In Silico )

Anisa Pebiansyah, Ruswanto, E. Muharam Priatna Program Studi S1 Farmasi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bakti Tunas Husada Tasikmalaya

ABSTRAK Sintesis senyawa 3-(4-metilbenzoil)-1-feniltiourea telah dibuat dari reaksi asilasi antara 1-feniltiourea dengan 4-metilbenzoil klorida di dalam pelarut tetrahidrofuran menggunakan refluks selama 7 jam. Persentase perolehan kembali hasil sintesis adalah 46,23%. Kemurnian dari hasil sintesis telah diuji dengan uji jarak lebur dan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) menggunakan beberapa eluen menunjukan jarak lebur dengan rentang yang kecil dan noda tunggal. Identifikasi struktur senyawa hasil sintesis dilakukan dengan menggunakan spektrofotometri Ultraviolet, spektrofotometri Infra merah, spektrometri 1HNMR, spektrometri 13C-NMR dan spektrometri Massa menandakan bahwa senyawa hasil sintesis merupakan senyawa 3-(4-metilbenzoil)-1-feniltiourea sesuai dengan perkiraan. Studi interaksi secara in silico telah dilakukan dengan software AutoDock Vina dan divisualisasi dengan MMV menunjukan senyawa 3-(4-metilbenzoil)-1-feniltiourea berinteraksi lebih baik dengan reseptor kanker payudara (2IOK) daripada dengan reseptor kanker lainnya dengan Binding Affinity -7,0 Kkal/mol. Uji toksisitas menggunakan sofware Toxtree dengan beberapa parameter menunjukan senyawa 3-(4-metilbenzoil)-1-feniltiourea masih dalam batas aman tetapi berpotensi toksik. Kata kunci : Sintesis, 3-(4-metilbenzoil)-1-feniltiourea, in silico, toksisitas.

ABSTRACT

Synthesis of 3-(4-methylbenzoyl)-1-phenylthiourea has been made by reacting between 1-phenylthiourea and 4-methylbenzoyl chloride in Tetrahydrofuran as solvent modification from Schotten Baumann method with using reflux for 7 hours based on acylation. The percentage of yield was 46,23%. The purity of synthesis result was tested by melting point test and Thin Layer Chromatography (TLC) using differents eluent show narrow range of melting point and the single spot on the TLC. The structure of identification shyntesis result carried out by Ultraviolet spectrophotometry, Infra red spectrophotometry, mass spectrometry, 1H-NMR spectrometry and 13C-NMR spectrometry show result of synthesis product is 3-(4-methylbenzoyl)-1-phenylthiourea was appropriate to the prediction. In silico studies with software Autodock Vina and visualizated with MMV show that 3-(4methylbenzoyl)-1-phenylthiourea has the better interaction with breast cancer receptor (2IOK) than other cancer receptor with binding affinty -7.0 Kcal/mol. Toxicity test use software toxtree with differents toxicity parameter show that 3-(4-methylbenzoyl)-1phenylthiourea still in safety limit but has toxic potential. Key words : Synthesis, 3-(4-methylbenzoyl)-1-phenylthiourea, in silico, toxicity
1
Anisa Pebiansyah STIKes Bakti Tunas Husada Tasikmalaya

PENDAHULUAN Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan semakin pesat, didapatkan bahwa struktur kimia obat ternyata dapat menjelaskan sifat-sifat obat dan terlihat bahwa gugus-gugus molekul obat berkaitan dengan aktivitas biologisnya. Modifikasi molekul merupakan metode yang digunakan untuk mengembangkan obat baru dengan aktivitas yang dikehendaki, antara lain meningkatkan aktivitas obat, menurunkan efek samping atau toksisitas, meningkatkan selektivitas obat, memperpanjang masa kerja obat dan meningkatkan kenyamanan penggunaan obat. Modifikasi molekul pada umumnya dapat dilakukan dengan cara seleksi atau sintesis obat dan modifikasi obat yang telah diketahui aktivitas biologisnya (Siswandono, 2000). Salah satu penyakit yang masih dikembangkan pengobatannya adalah penyakit kanker. Kanker merupakan masalah kesehatan utama dalam masyarakat. Di negara-negara Industri, sekitar satu dari lima orang meninggal karena kanker. Saat ini kanker merupakan salah satu penyebab kematian yang paling sering terjadi dan kasus penderita kanker senantiasa bertambah. Kanker ini terutama terjadi pada usia lanjut (Mutschler, 1991). Penyakit keganasan kanker dapat diatasi dengan pembedahan, penyinaran atau kemoterapi. Kemoterapi dilakukan dengan menggunakan obat-obat kanker yang disebut Sitostatika. Umumnya kerja antikanker kurang spesifik sehingga pada saat yang sama akan menimbulkan kerusakan parah pada sel sehat dan efek toksik yang berat (Tjay, 2010). Pengembangan senyawa baru antikanker dengan modifikasi molekul telah banyak dilakukan sampai sekarang. Salah satu diantaranya yaitu senyawa turunan tiourea. Tiourea adalah senyawa yang mempunyai gugus fungsional yaitu amin dan thiol. (WHO, 2003). Pada berbagai penelitian yang telah dilakukan,
Anisa Pebiansyah STIKes Bakti Tunas Husada Tasikmalaya

senyawa turunan tiourea diketahui memiliki efek farmakologi yang luas seperti penekan sistem syaraf pusat (Kesuma, 2009), tuberkulostika, hipnotiksedatif, antivirus,antifungi dan antitiroid (Roma, 2007) dan Antikanker (Jian Li,2006; Prajanata, 2009; Nakisah, 2011). Salah satu pengembangan senyawa turunan tiourea sebagai antikanker diantaranya, Jian Li et all (2006) telah mendesain, mensintesis dan mengevaluasi senyawa baru dari derivat tiourea N-(2oxo-1,2-dihydroquinolin-3-yl-methyl)thiourea sebagai antikanker dengan penghambatan protein tirosin kinase. Idenifikasi senyawa dilakukan dengan screening virtual dengan molecular docking. Dari 40 senyawa baru yang didesain, disintesis diperoleh 6 senyawa yang menunjukan aktivitas menghambat sel kanker tapi hanya satu senyawa yang aktivitas penghambatannya meningkat sekitar 10 kali lebih baik daripada senyawa awalnya. Perbedaan aktivitas penghambatan sel kanker ini dipengaruhi oleh gugus samping pada senyawa N-(2oxo-1,2-dihydroquinolin-3-yl-methyl) thiourea . I Gde Mahendra 2009, telah melakukan uji aktivitas sitotoksik 3,4 diklorobenzoiltiourea dengan metode Brine Shrimp Lethality Test. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa senyawa 3,4 diklorobenzoiltiourea mempunyai LC50 rata-rata sebesar 69 ppm kurang dari 200 ppm sehingga senyawa tersebut mempunyai aktivitas sitotoksik. Berdasarkan latar belakang diatas telah dilakukan sintesis senyawa turunan tiourea lainnya yaitu 3-(4-metilbenzoil)-1feniltiourea dari senyawa 1-feniltiourea dengan 4-metil benzoil klorida. Dipilihnya 1-feniltiourea karena 1-feniltiourea merupakan senyawa turunan tiourea yang diperkirakan sama mempunyai aktivitas antikanker. 1-feniltiourea direaksikan dengan 4-metilbenzoil klorida berdasarkan reaksi asilasi dimana 4-metilbenzoil klorida merupakan senyawa asil yang
2

mempunyai gugus Cl yang mudah lepas sehingga menghasilkan turunan tiourea lainnya yaitu senyawa 3-(4-metilbenzoil)1-feniltiourea. Selain itu, penulis juga secara in silico telah mempelajari interaksi antara senyawa 3-(4-metilbenzoil)-1feniltiourea dengan beberapa reseptor kanker dan mempelajari toksisitasnya.

Collaboratory for Structural Bioinformatics (RSCB) dengan alamat web http://www.rscb.org/pdb/ dan struktur senyawa 3-(4-metilbenzoil)-1-feniltiourea. PROSEDUR PENELITIAN Sintesis Senyawa 3-(4-Metilbenzoil)-1Feniltiourea Senyawa 1-feniltiourea ditimbang sebanyak 1,522 gram (0,01 mol) pada timbangan analitik kemudian dimasukan ke dalam labu alas datar yang kering lalu ditambah 15 ml tetrahidrofuran dan 3 ml trietilamin ke dalam labu alas datar tersebut. Sementara itu pada corong pisah kering masukan 1,06 ml (0,008 mol) 4metilbenzoil klorida dan 18 ml tetrahidrofuran kocok pelan-pelan. Setelah itu 4-metilbenzoil klorida dalam tetrahidrofuran yang berada dalam corong pisah diteteskan sedikit demi sedikit ke dalam labu sambil diputar dengan menggunakan magnetic stirrer pada suhu kamar. Setelah diteteskan semua, campuran direfluks pada suhu 90-100oC dan diputar dengan magnetic stirrer selama 7 jam. Setiap jam campuran di dalam labu diuji KLT dengan menggunakan eluen metanol : kloroform 9 : 1 dan 2 : 1. Selanjutnya hasil refluks diuapkan pelarutnya dengan menggunakan rotary evaporator sampai semua pelarutnya menguap dan kental. Setelah itu ditambah natrium bikarbonat jenuh secukupknya sambil diaduk-aduk sampai tidak keluar buih lagi. Lalu dicuci dengan aquadest secukupnya kemudian disaring dengan corong Buchner (Suzzana, 2010). Rekristalisasi Senyawa 3-(4Metilbenzoil)-1-Feniltiourea Etanol sebanyak 50 ml dimasukan ke dalan gelas kimia 100 ml kemudian dipanaskan pada hot plate. Setelah panas senyawa hasil sintesis dimasukan sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga senyawa larut semua ke dalam gelas kimia berisi etanol. Larutan yang diperoleh didiamkan
3

METODOLOGI PENELITIAN Alat Peralatan yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari peralatan untuk penelitian di laboratorium dan uji in sillico. Peralatan untuk sintesis di laboratorium diantaranya alat-alat gelas yang digunakan di laboratorium, magnetic stirrer, hot plate, rotary evaporator, corong buchner, lampu UV 254 nm, chamber, oven, kertas saring, timbangan analitik, Electrothermal Melting Point 9100, Spektrofotometer UV-Vis, Spektrofotometer Massa, Spektrofotometer Infra merah, spektrofotometer 1H-NMR dan spektrofotometer 13C-NMR. Sedangkan peralatan yang digunakan untuk uji in silico diantaranya komputer dengan processor Intel(R) Core (TM) i3-2328M 2,2 GHz dengan kapasitas memori 2,00 GB dan software yang dignakan adalah Marvin Sketch 5.2, Autodock Tools, Autodock Vina 1.0, MMV (Molegro Molecular Viewer) dan ToxTree. Bahan Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari bahan-bahan untuk penelitian di laboratorium dan uji in sillico. Bahan-bahan yang digunakan untuk penelitian di laboratorium diantaranya 1feniltiourea p.a, 4-metilbenzoil klorida p.a, tetrahidrofuran p.a, trietilamin p.a, etanol p.a, Natrium Bikarbonat p.a, metanol p.a, aquabidestillata, kloroform p.a, etil asetat p.a, Silika gel 60 GF254. Sedangkan bahanbahan yang digunakan untuk uji in silico diantaranya beberapa reseptor kanker yang didownload dari Protein Data Bank (PDB) yang dikeluarkan oleh Research
Anisa Pebiansyah STIKes Bakti Tunas Husada Tasikmalaya

pada suhu kamar sampai terbentuk kristal. Setelah itu kristal yang terbentuk disaring dengan corong buchner lalu kristal atau residu dipindahkan ke cawan uap dan dioven pada suhu 60C selama 30-60 menit kemudian kristal ditimbang. Uji Kemurnian Hasil Sintesis Analisis dengan Kromatografi Lapis Tipis Uji kemurnian dengan KLT dengan menggunakan fase gerak methanol : kloroform 2:1, methanol:kloroform 9:1, metanol:etil asetat 9:1, metanol:etil asetat 3:1 dan etanol:n-heksan 3:1 sedangkan fasa diamnya digunakan silika gel 60 GF254. Senyawa dielusi, kemudian dikeringkan lalu dilihat pada lampu UV 254 nm kemudian ditentukan Rfnya dan dibandingkan dengan Rf pembanding yaitu Rf 1-feniltiourea standar. Penentuan Jarak Lebur Sedikit senyawa hasil reaksi digerus halus lalu dimasukkan ke dalam pipa kapiler tapi salah satu ujungnya tertutup sampai terisi 2 mm. Setelah itu pipa kapiler dimasukkan ke dalam alat Electrothermal Melting Point 9100 lalu diamati suhunya pada saat senyawa tersebut mulai melebur sampai seluruh senyawa tersebut melebur (Silverstein , 1998). Identifikasi Struktur Senyawa Hasil Sintesis 1. Identifikasi dengan Spektrofotometer Ultra Violet 2. Identifikasi dengan Spektrofotometer Infra merah 3. Identifikasi dengan Spektrometer 1 Resonansi Magnit Inti ( H-NMR) 4. Identifikasi dengan Spektrometer 13 Resonansi Magnit Inti ( C-NMR) 5. Identifikasi dengan Spektrometer Massa

Studi In Silico Docking Senyawa 3-(4-Metilbenzoil)-1Feniltiourea pada Reseptor-Reseptor Kanker dengan Menggunakan Autodock Vina Senyawa 3-(4-metilbenzoil)-1feniltiourea didockingkan pada beberapa reseptor kanker diantaranya reseptor kanker payudara (2IOK), reseptor kanker otak (1QH4), reseptor kanker lambung (3CF9), reseptor kanker paru -paru (2ITO) dan reseptor kanker kulit (2VCJ). Proses docking dilakukan dengan menggunakan AutoDock Vina melalui beberapa tahapan. Persiapan Ligan (Senyawa 3-(4Metilbenzoil)-1-Feniltiourea ) Ligan digambar dengan menggunakan software marvin sketch 5.2 lalu dioptimasi geometri. Setelah itu dilakukan preparasi dan diubah file ligan menjadi file pdbqt menggunakan program AutoDock Tools(Wardani, 2012). Persiapan Protein (Reseptor-Reseptor Kanker) Reseptor kanker di download dari Protein Data Bank (PDB). Setelah itu dilakukan preparasi, penghapusan ligan alaminya dan pengubahan file protein menjadi file pdbqt menggunakan program AutoDock Tools. Tahap ini dilakukan pada semua reseptor kanker (Wardani, 2012). Persiapan Parameter Grid Penentuan Grid box dilakukan dengan mengatur ukuran grid box dan center grid box menggunakan program Autodock Tools. (Wardani, 2012). Docking dengan AutoDock Vina Ligan dan protein yang telah dilakukan preparasi kemudian dilakukan docking mengunakan AutoDock vina dengan bantuan command prompt dan notepad (Wardani, 2012). Analisis Hasil Docking Hasil docking antara reseptor dan ligan yang telah kemudian dianalisis menggunakan software Molegro Molecular Viewer (MMV) dengan dilihat interaksinya
4

Anisa Pebiansyah STIKes Bakti Tunas Husada Tasikmalaya

dalam bentuk 2 Dimensi dan 3 Dimensi (Wardani, 2012). Uji Toksisitas Uji toksisitas dilakukan terhadap senyawa 3-(4-metilbenzoil)-1-feniltiourea dengan menggunakan software ToxTree. Parameter yang dilihat pada uji toksisitas ini adalah prediksi parameter Cramer Rules, Kroes TTC decision tree dan Benigni / Bossa rulebase (Harganingtiyas, 2012). HASIL DAN PEMBAHASAN Sintesis Senyawa 3-(4-Metilbenzoil)-1Feniltiourea Proses Refluks Sintesis senyawa 3-(4metilbenzoil)-1-feniltiourea berasal dari reaksi antara 1-feniltiourea dengan 4metilbenzoil klorida.
O S O S

Cl

H2 N

N H

N H H3 C

N H

H3 C 4-metilbenzoil klorida 1-feniltiourea

3-(4-metil benzoil)-1-feniltiourea

Gambar 1. Reaksi antara 1-feniltiourea dengan 4metilbenzoil klorida.

Metode Schotten-Baumann merupakan metode umum yang digunakan untuk sintesis senyawa amida dimana nukleofil amina direaksikan dengan benzoil klorida dalam Natrium Hidroksida berair. Natrium hidroksida digunakan untuk mengikat HCl sebagai hasil samping dari proses reaksi tetapi dapat juga bereaksi dengan benzoil klorida membentuk natrium benzoat sebagai hasil samping, sehingga mengurangi rendemen senyawa hasil sintesis. Oleh karena itu pada sintesis ini dilakukan modifikasi metode Schotten-Baumann tetapi tidak menggunakan Natrium hidroksida. Sintesis senyawa 3-(4metilbenzoil)-1-feniltiourea dilakukan dengan menggunakan refluks. Pelarut yang digunakan adalah tetrahidrofuran.
Anisa Pebiansyah STIKes Bakti Tunas Husada Tasikmalaya

Tetrahidrofuran termasuk ke dalam pelarut aprotik. Pelarut aprotik merupakan pelarut yang tidak mengandung proton. Dipol negatif pelarut aprotik dapat mengikat kation tetapi dipol positifnya tidak mempunyai kemampuan mengikat anion sehingga tidak dapat membentuk ikatan hidrogen dan dapat meningkatkan reaksi (Sastrohamidjojo, 2009). Selain itu digunakan juga katalis trietilamin untuk membuat suasana sintesis menjadi basa pH 10 sehingga dapat mempercepat reaksi. Pada proses sintesis digunakan 1feniltiourea sebanyak 0,01 mol dan 4-metil benzoil klorida sebanyak 0,008 mol lebih kecil dari mol 1-feniltiourea. Hal ini dilakukan supaya 4-metilbenzoil klorida bereaksi seluruhnya dengan 1-feniltiourea tidak ada peluang bereaksi dengan zat lain karena 4-metilbenzoil klorida merupakan senyawa yang reaktif dimana terdapat gugus Cl sebagai gugus pergi sehingga mudah bereaksi dengan zat yang tidak diharapkan. Proses pemanasan pada suhu 90-100C dan pengadukan juga dilakukan saat refluks untuk mempercepat reaksi dan reaksi dapat berjalan sempurna. Reaksi yang terjadi pada proses sintesis ini adalah reaksi substitusi nukleofilik asil 2 (SN2) antara 1feniltiourea dengan 4-metilbenzoil klorida dimana reaksi substitusi nukleofilik asil 2 (SN2) hanya terjadi satu tahap yaitu terjadinya penyerangan amina yang mempunyai elektron bebas sebagai nukleofil dari senyawa 3-(4-metilbenzoil)1-feniltiourea terhadap atom C dari senyawa 4-metilbenzoil klorida yang menyebabkan eliminasi gugus Cl dari senyawa 4-metilbenzoil klorida. Proses refluks dilakukan selama 7 jam dimana tiap jam diuji dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dengan eluen metanol:kloroform 9:1 untuk memantau sudah terbentuk senyawa baru atau belum. Berdasarkan hasil KLT, pada jam ke 1 sampai jam ke 5 diperoleh dua noda yang diperkirakan senyawa baru belum terbentuk. Pada jam ke 6 dan 7
5

terbentuk noda tunggal dengan Rf yang berbeda dengan 1-feniltiourea dan 4metilbenzoil klorida yaitu 0,70. Selain itu dilakukan KLT dengan menggunakan fase gerak metanol : kloroform 2 : 1 pada jam ke 6 dan jam ke 7 diperoleh noda tunggal juga dengan Rf 0,85. Dilihat dari hasil KLT tersebut diperkirakan telah terbentuk senyawa baru turunan 1-feniltiourea. Rekristalisasi Rekristalisasi dilakukan dengan menggunakan etanol panas karena hasil sintesis larut pada etanol panas dan tidak larut dalam air atau etanol dingin. Pada suhu pemanasan hasil sintesis larut tetapi setelah didinginkan membentuk kristal. Berdasarkan proses rekristalisasi diperoleh hasil sintesis sebanyak 1 g dengan persentase perolehan kembali sebesar 46,23%. Senyawa hasil sintesis berupa kristal jarum ringan, berwarna putih, tidak berbau, tidak larut dalam air, etanol dingin dan metanol dingin tapi larut dalam etanol panas dan metanol panas. Uji Kemurnian Uji kemurnian senyawa hasil sintesis dilakukan dengan uji KLT dan uji jarak lebur. Uji KLT dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui nodanya tunggal atau tidak.
Tabel 1. Hasil Uji Kemurnian dengan KLT Rf Rf Fase gerak Replikasi Dimensi 1ke 1 Feniltiourea 1 0,70 0,80 Metanol : kloroform 2 0,70 0,80 9:1 3 0,70 0,80 1 0,85 0,90 Metanol : kloroform 2 0,85 0,90 2:1 3 0,85 0,90 1 0,80 0,78 Metanol:etil asetat 2 0,80 0,78 9:1 3 0,80 0,78 1 0,78 0,75 Metanol:etil asetat 2 0,78 0,75 3:1 3 0,78 0,75 1 0,88 0,85 Etanol : Nheksan 2 0,88 0,85 3:1 3 0,88 0,85
Anisa Pebiansyah STIKes Bakti Tunas Husada Tasikmalaya

Berdasarkan hasil KLT pada Tabel 1 diperoleh senyawa yang tunggal. Setelah dilakukan replikasi masing-masing eluen sebanyak dua kali diperoleh Rf yang sama antara Rf replikasi ke 1 sampai ke 3 dan berbeda dengan Rf 1-feniltiourea yang menandakan bahwa senyawa baru hasil sintesis terbentuk dan murni. Uji jarak lebur dilakukan dengan menggunakan Electrothermal 9100. Berdasarkan hasil pengujian sebanyak 3 kali, senyawa hasil sintesis dikatakan murni karena rentang jarak leburnya kurang dari 2C. Terjadinya rentang jarak lebur kurang dari 2C karena pada zat tersebut tidak terdapat zat lain ataupun pengotor yang tercampur didalamnya. Selain itu itu jarak leburnya berbeda dengan 1-feniltiourea teoritis yaitu148-150C dan 4-metilbenzoil klorida 117-118C yang menandakan senyawa hasil sintesis telah terbentuk.
Tabel 2. Hasil Uji Kemurnian Jarak Lebur Jarak lebur (C) Replikasi Senyawa hasil sintesis 1 138-139 2 138-139 3 139-140

Identifikasi Senyawa Hasil Sintesis

Gambar 2. Hasil Spektrum Spektrofotometri Senyawa Hasil Sintesis

Dari Gambar 2 diperoleh 2 puncak pada panjang gelombang 307,5 nm dan 270,5 nm. Panjang gelombang tersebut berbeda dengan zat awal yaitu 1feniltiourea yang mempunyai panjang gelombang 266,5 dan 207,5 serta 4metilbenzoil klorida dengan panjang
6

gelombang 236 nm. Panjang gelombang senyawa hasil sintesis 307,5 nm merupakan panjang gelombang yang berasal dari serapan gugus kromofor C=O yang berikatan dengan gugus ausokrom nitrogen sehingga gugus ausokrom tersebut menggeser serapan panjang gelombang menjadi lebih besar. Selain itu juga pergeseran dipengaruhi oleh gugus aromatik sebagai gugus kromofor yang mempunyai ikatan konjugasi. Sedangkan panjang gelombang 270,5 merupakan panjang gelombang yang diperoleh dari serapan gugus kromofor C=S. Dengan demikian diperkirakan berdasarkan proses sintesis terbentuk senyawa baru karena panjang gelombangnya berbeda dengan senyawa 1-feniltiourea. Pembuktian terbentuknya senyawa baru dapat dibantu dengan data spektrofotometri Infra merah. Berdasarkan hasil identifikasi dengan spektrofotometri Infra merah diperoleh gugus-gugus fungsi penyusun senyawa hasil sintesis yang dapat dilihat dari bilangan gelombang (cm-1) pada spektrum (Sitorus, 2009).

utama yang terdapat pada senyawa 3-(4metilbenzoil)-1-feniltiourea. Gugus fungsional yang teridentifikasi pada senyawa tersebut diantaranya gugus NH, C=O dan C=S yang terbukti ada pada senyawa hasil sintesis. Dengan demikian diperkirakan 3-(4-metilbenzoil)-1feniltiourea terbentuk dari hasil sintesis. Identifikasi lainnya dilakukan menggunakan Spektrofotometri Resonansi Magnet Proton (H-NMR).

Gambar 4. Hasil Spektrum Spektrofotometri 1 H-NMR Senyawa Hasil Sintesis Tabel 4. Hasil Analisis Spektrofotometri 1H-NMR Senyawa Hasil Sintesis Pergeseran Multipli kimia Atom H dari gugus sitas (ppm) 3 atom H dari gugus 2,5 Singlet CH3 yang berikatan dengan cincin aromatik 7,2561 atom H dari cincin Multiplet 7,296 aromatik monosubstitusi 7,3282 atom H dari cincin Duplet 7,344 aromatik monosubstitusi 7,4052 atom H dari cincin Triplet 7,435 aromatik monosubstitusi 7,7072 atom H dari cincin Duplet 7,723 aromatik disubstitusi 7,7812 atom H dari cincin Duplet 7,797 aromatik disubstitusi 1 atom H dari gugus 9,079 Singlet NH 1 atom H dari gugus 12,629 Singlet NH

Gambar 3. Hasil Spektrum Infra merah Senyawa Hasil Sintesis Tabel 3. Bilangan Gelombang Spektrun Infra Merah Senyawa Hasil Sintesis Bilangan Gelombang Gugus fungsi Hasil sintesis (cm-1) 3370,96 Ulur NH 3313,11 Ulur C=O 1673,91 Ulur C=S 1153,2

Dari spektrum pada Gambar 3 teridentifikasi gugus-gugus fungsional


Anisa Pebiansyah STIKes Bakti Tunas Husada Tasikmalaya

Analisis Spektrum spektrofotometri H-NMR dilakukan untuk mengetahui posisi atom H, jumlah atom H dan lingkungan sekitar atom H. Dilihat dari hasil analisis pada tabel 4, senyawa hasil sintesis mempunyai 14 atom H dengan posisi berbeda-beda yang ditandai dengan
1

pergeseran kimia yang berbeda dan multipisitas yang berbeda juga. Jumlah atom H tersebut sama dengan jumlah atom H yang berada pada struktur senyawa 3-(4metilbenzoil)-1-feniltiourea. Identifikasi selanjutnya dilakukan identifikasi 13C-NMR untuk mengetahui jumlah atom C dari hasil sintesis. Dari Hasil 13 Spektrum Spektrofotometri C-NMR diperoleh beberapa puncak yang dapat dilihat pada gambar.

pergeseran kimia. Jumlah atom C tersebut sama dengan jumlah atom C pada struktur senyawa 3-(4-metilbenzoil)-1-feniltiourea Selain itu untuk memperkuat dugaan senyawa hasil sintesis maka dilakukan juga identifikasi struktur dengan menggunakan spektrofotometri massa untuk mengetahui berat molekul sesungguhnya.

Gambar 6. Hasil Spektrum Spektrofotometri Massa Gambar 5. Hasil Spektrum Spektrofotometri 13 C-NMR Senyawa Hasil Sintesis Tabel 5. Hasil Analisis Spektrofotometri 13C-NMR Senyawa Hasil Sintesis Pergeseran kimia Atom C dari gugus (ppm) 1 atom C dari gugus CH3 yang 21,7 berikatan dengan cincin aromatik monosubstitusi (k) 1 atom C dari cincin aromatik 124,1 monosubstitusi (a) 2 atom C dari cincin aromatik 126,9 monosubstitusi (c) 2 atom C dari cincin aromatik 127,6 disubstitusi (h) 2 atom C dari cincin aromatik 128,7 monosubstitusi (b) 2 atom C dari cincin aromatik 128,9 disubstitusi (i) 1 atom C dari cincin aromatik 129,9 disubstitusi (g) 1 atom C dari cincin aromatik 137,7 monosubstitusi (d) 1 atom C dari cincin aromatik 144,8 disubstitusi (j) 166,9 1 atom C dari gugus karbonil (f) 1 atom C dari gugus tiokarbonil 178,5 (e)

Berdasarkan hasil spektrum diatas diperoleh satu berat molekul dengan puncak teringgi yaitu 271.0910. Pembacaan hasil spektrofotometri massa dilakukan dengan menjumlahkan M+1 yaitu 270,08( BM hasil perhitungan) + 1 sehingga diperoleh 271,08 mendekati 271,0910. Dengan demikian terbukti bahwa senyawa hasil sintesis yaitu senyawa 3-(4-metilbenzoil)-1-feniltiourea telah terbentuk dari proses sintesis jika dilihat dari beberapa identifikasi menggunakan beberapa macam spektrofotometer. Analisis Hasil Docking Senyawa 3-(4Metilbenzoil)-1-Feniltiourea pada Reseptor-Reseptor Kanker dengan Menggunakan AutoDock Vina Berdasarkan hasil docking antara ligan dengan satu reseptor diperoleh 9 konformasi ligan dengan nilai binding affinity. Dari 9 konformasi ligan dipilih 1 konformasi ligan dengan energi terkecil. Nilai binding affinity dapat dilihat pada Tabel 7. Binding affinity merupakan parameter docking dengan menggunakan AutoDock Vina. Semakin kecil nilai binding Affinity maka afinitas antara reseptor dengan ligan semakin tinggi
8

Berdasarkan hasil analisis pada Tabel 5 menunjukan terdapat 15 atom C dengan posisi yang berbeda-beda dari hasil
Anisa Pebiansyah STIKes Bakti Tunas Husada Tasikmalaya

begitu pula sebaliknya semakin besar nilai binding Affinity maka afinitas antara reseptor dengan ligan semakin rendah.
Tabel 6. Nilai Binding Affinity senyawa 3-(4metilbenzoil)-1-feniltiourea dan Ligan Alami Binding Affinity Binding 3-(4Reseptor Affinity metilbenzoil)1kanker Ligan Alami feniltiourea (Kkal/mol) (Kkal/mol) Kanker Kulit -7,3 -9,6 (2VCJ) Kanker Otak -6,0 -2,9 (1QH4) Kanker Paru-7,0 -8,2 paru (2ITO) Kanker Lambung -5,7 -5,8 (3CF9) Kanker Payudara -7,0 -6,7 (2IOK)

payudara yaitu 5-fluoroasil, Melftalan dan siklofosfamid. Berdasarkan hasil docking diperoleh nilai binding affinity senyawa 3(4-metilbenzoil)-1-feniltiourea lebih kecil dibandingkan obat kanker payudara yang berada di pasaran. Hal ini menandakan bahwa Senyawa 3-(4-metilbenzoil)-1feniltiourea mempunyai interaksi yang lebih baik terhadap reseptor kanker payudara dan berpotensi dapat digunakan untuk calon obat kanker payudara. Visualisasi Hasil Docking Visualisasi hasil docking dilakukan dengan menggunakan software Molegro Molecular Viewer (MMV). Visualisasi dilakukan terhadap semua ligan senyawa 3-(4-metilbenzoil)-1-feniltiourea yang telah didokingkan dengan beberapa reseptor kanker. Hal ini dilakukan untuk mengetahui interaksi antara ligan dengan residu asam amino dari reseptor kanker.
Tabel 8. Interaksi Antara Ligan dengan Residu Asam Amino yang Berupa Ikatan Hidrogen Binding Affinity Reseptor 3-(4-metilbenzoil)1Kontak kanker feniltiourea residu (Kkal/mol) Kanker Kulit -7,3 Asn 51 (2VCJ) Kanker Otak Asn 286, -6,0 (1QH4) Arg 341 Kanker Asn 842, Paru-paru -7,0 Ile 853 (2ITO) Kanker Ser 77, Lambung -5,7 Gly 73, (3CF9) Gly 78 Kanker Ala 382, Payudara -7,0 Leu 387, (2IOK) Ile 386

Dari tabel diatas, nilai binding affinity senyawa 3-(4-metilbenzoil)-1-feniltiourea terkecil adalah -7,0 hasil dari docking senyawa 3-(4-metilbenzoil)-1-feniltiourea dengan reseptor kanker payudara (2IOK) sedangkan yang berikatan dengan reseptor lainnya tidak memenuhi syarat karena mempunyai nilai binding affinity lebih besar dari ligan alaminya.
Tabel 7. Perbandingan Nilai Binding Affinity Senyawa 3-(4-metilbenzoil)-1-feniltiourea dengan Obat Kanker Payudara Di Pasaran Binding Ligan Affinity (kkal/mol) Senyawa 3-(4-metilbenzoil)-1-7,0 feniltiourea 5-fluorourasil -4,4 Melftalan -5,7 Siklofosfamid -4,8

Berdasarkan tabel diatas, nilai binding affinity senyawa 3-(4metilbenzoil)-1-feniltiourea dibandingkan dengan nilai binding affinity hasil docking obat pembanding yang telah beredar di pasaran. Obat pembanding yang digunakan yaitu obat yang digunakan untuk kanker
Anisa Pebiansyah STIKes Bakti Tunas Husada Tasikmalaya

Dilihat dari data diatas terdapat interaksi antara senyawa 3-(4metilbenzoil)-1-feniltiourea dengan residuresidu asam amino melalui ikatan hidrogen. Ikatan hidrogen merupakan ikatan antara atom H yang mempunyai muatan positif dengan atom lain yang bersifat elektronegatif seperti O, N, F.
9

Ikatan hidrogen dapat mempengaruhi sifat kimia fisika senyawa (Siswandono, 2000). Ikatan hidrogen pada proses docking ini merupakan ikatan hidrogen intermolekular karena terjadi antara senyawa 3-(4-metilbenzoil)-1-feniltiourea dengan residu asam amino dari reseptor. Dilihat dari tabel diatas senyawa 3-(4metilbenzoil)-1-feniltiourea yang berinteraksi dengan reseptor kanker payudara dengan nilai binding affinity terbesar membentuk 3 ikatan hydrogen yaitu diperkirakan antara atom H pada amida dari senyawa 3-(4-metilbenzoil)-1feniltiourea dengan Ala 382, atom O dari senyawa 3-(4-metilbenzoil)-1-feniltiourea dengan Leu 387 dan Ile 386.

Uji toksisitas Uji toksisitas dilakukan dengan menggunakan software toxtree untuk memprediksi efek yang merugikan dari obat terhadap tubuh. Pada uji toksisitas dengan toxtree digunakan 3 parameter diantaranya parameter Cramer Rules untuk melihat tingkatan toksisitas dilihat dari gugus fungsinya, Kroes TTC decision tree untuk memperkirakan ambang batas paparan senyawa obat pada manusia dan Benigni / Bossa rulebase untuk mengetahui apa senyawa tersebut dapat menebabkan karsinogenisitas dan mutagenisitas.
Tabel 4.10. Hasil Prediksi toksisitas Toxtree Parameter Toksisitas dengan Toxtree Cramer Rules Kroes TTC decision tree Benigni / Bossa rulebase (for mutagenicity and carcinogenicity) Hasil Prediksi senyawa 3(4-metilbenzoil)-1feniltiourea 3. High (Class III) 1. Substance would not be expected to be a safety concern 2. Structural Alert for nongenotoxic carcinogenicity 3. Potential S. typhimurium TA100 mutagen based on QSAR 8. Negative for genotoxic carcinogenicity

Gambar 7. Visualisasi 3D Hasil Docking senyawa 3-(4-metilbenzoil)-1-feniltiourea dengan Reseptor Kanker Payudara (2IOK)

Gambar 8. Visualisasi 2D Ikatan Hidrogen Senyawa 3-(4-metilbenzoil)-1feniltiourea dengan Reseptor Kanker Payudara (2IOK)

Berdasarkan hasil prediksi uji toksisitas, menurut parameter Cramer Rules senyawa 3-(4-metilbenzoil)-1feniltiourea termasuk ke dalam kelas toksisitas High (Class IIII) yang disebabkan karena adanya gugus aromatik lebih dari satu dan ada gugus karbonil terikat pada gugus aromatiknya tapi masih dapat digunakan sebagai calon obat dengan dosis yang sesuai supaya tidak menyebabkan toksik. Menurut parameter Kroes TTC decision tree, senyawa 3-(4-metilbenzoil)1-feniltiourea dapat diabaikan sebagai perhatian keamananya atau masih dalam ambang batas keamanan pada tubuh manusia. Selain itu berdasarkan parameter Benigni/Bossa rulebase senyawa 3-(4metilbenzoil)-1-feniltiourea tidak
10

Anisa Pebiansyah STIKes Bakti Tunas Husada Tasikmalaya

menyebabkan kanker yang diturunkan tetapi ada kemungkinan dapat menyebabkan kanker yang tidak diturunkan jika digunakan jangka panjang karena terdapat gugus tiokarbonil pada strukturnya. Selain itu 3-(4-metilbenzoil)1-feniltiourea berpotensi sebagai mutasi gen pada S. typhimurium TA100. KESIMPULAN Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, senyawa 3-(4-metilbenzoil)-1feniltiourea dapat disintesis dari 1feniltiourea dengan 4-metilbenzoil klorida melalui reaksi asilasi menggunakan refluks selama 7 jam dengan modifikasi pelarut metode Schotten Baumann sehingga diperoleh senyawa 3-(4-metilbenzoil)-1feniltiourea dengan persen perolehan kembali sebanyak 46,23%. Terbentuknya senyawa 3-(4-metilbenzoil)-1-feniltiourea telah dibuktikan dengan proses uji kemurnian dan identifikasi struktur senyawa. Dari studi docking secara in sillico dengan AutoDock Vina diketahui terjadi interaksi antara senyawa 3-(4metilbenzoil)-1-feniltiourea dengan beberapa reseptor kanker dan interaksi yang paling baik adalah interaksi antara senyawa 3-(4-metilbenzoil)-1-feniltiourea dengan kanker payudara (2IOK) dengan nilai binding affinity -7.0. Berdasarkan uji toksisitas menggunakan software Toxtree dapat disimpulkan bahwa senyawa 3-(4metilbenzoil)-1- feniltiourea masih dalam ambang batas keamanan berdasarkan gugus-gugus fungsinya tetapi berpotensi menyebabkan toksik. SARAN Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap senyawa 3-(4metilbenzoil)-1-feniltiourea secara in vitro terhadap sel kanker payudara dan sel sehat untuk mengetahui aktivitas dan toksisitasnya secara in vitro sehingga dapat digunakan sebagai calon obat kanker payudara.
Anisa Pebiansyah STIKes Bakti Tunas Husada Tasikmalaya

DAFTAR PUSTAKA Harganingtiyas, Rahayu. 2011. Modifikasi (1R,2R,3R,5R)-(-)Isopinocampheylamine sebagai inhibitor M2 proton channel pada Virus Influenza A Subtipe H1N1 Secara In Silico [Skripsi]. Jakarta : Universitas Indonesia. Kesuma, Dini., Harry Santosa. 2009. Sintesis Senyawa 2,4diklorobenzoiltiourea dari 2,4diklorobenzoil klorida dan Tiourea Sebagai Calon Obat Central Nervous System Depressant Melalui Proses Refluks. Seminar Nasional Teknik Kimia Indonesia, SNTKI 2009. LI, Jian et all. 2006. Design, synthesis and antitumor evaluation of a new series of N-substituted-thiourea derivatives. Acta Pharmacologica Sinica. Hal 1259 1265. Mutschler, Ernest. 1991. Dinamika obat : Farmakologi dan Tksikologi edisi kelima. Bandung : Penerbit ITB. Hal 700. Nakisah, J. W. Tan, and Y.Mohd Shukri. 2011. Anti-Cancer Activities of Several Synthetic Carbonylthiourea Compounds on MCF-7 Cells. Malaysia : Universiti Malaysia Terengganu, Vol. LSO16 : 67-73. Prajanata, I Gde Mahendra. 2009. Uji aktivitas sitotoksik 3,4 diklorobenzoiltiourea dengan metode Brine Shrimp Lethality Test [Skripsi]. Surabaya : Fakultas Farmasi Universitas Airlangga Departemen Kimia Farmasi. Sastrohamidjo, Hardjono dan Harno Dwi Pranowo. 2009. Sintesis Senyawa Organik. Jakarta : Erlangga. Hal 89; 30. Silverstein, R.M., Bassler, G.C., and Morrill, T.C. 1981. Spectrometric Identification of Organic Compound, 4th Ed. New York: John Wiley and Sons Inc. Hal 95, 181189,305.
11

Sitorus, Marham. 2009. Spektroskopi Elusidasi Struktur Molekul Organik. Yogyakarta : Graha Ilmu. Hal 35-36. Siswandono, dan Bambang Soekardjo. 2000. Kimia Medisina edisi 1. Surabaya : Airlangga University. Hal 190. Suzzana, Tutuk Budiati. 2010. Pengaruh Gugus Nitro dengan Posisi Para (p) pada Sintesis N-(4Nitrobenzoil)tiourea. Majalah Farmasi Airlangga Vol.8 No.1. Hal 16. .

Tjay, T.H. dan Rahardja, K. 2010. Obatobat Penting Edisi Keenam. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Hal 197; 205; 212. Wardani, Firmansyah. 2012. Study Derivat Ribavirin dan GTP sebagai Inhibitor Untuk NS5 Metiltransferase Virus Denger [Skripsi]. Jakarta : Universitas Indonesia. World Health Organization. 2003. Thiourea. Geneva : World Health Organization

12
Anisa Pebiansyah STIKes Bakti Tunas Husada Tasikmalaya