Anda di halaman 1dari 23

USULAN PENELITIAN

Analisis Genetic Gain dan Differensial Selection Induk Nila Putih Janti (SS) F3, F4 dan F5 Umur 6 Bulan

OLEH : YULIANA SANTI RAHAYU 08/269637/PN/11341 PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERIKANAN JURUSAN PERIKANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA

2012 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Ikan nila merupakan salah satu jenis ikan hasil introduksi yang memiliki sifat-sifat yang menguntungkan, yaitu cepat pertumbuhannya, mudah beradaptasi baik di air tawar, payau, atupun laut, dan efisien dalam penggunaan pakan. Ikan nila banyak dibudidayakan di berbagai daerah di Indonesia. Di daerah Yogyakarta, banyak terdapat usaha pembesaran ikan nila yang dilakukan oleh masyarakat. Produktivitasnya yang tinggi mampu mencapai 1015 ton/ha/musim (Suyanto, 2010). Seiring berjalannya waktu, kualitas benih dan ikan usia konsumsi semakin menurun karena kecenderungan ikan nila yang sering melakukan pemijahan liar, baik di alam maupun di kolam budidaya. Terlebih lagi pemijahan liar yang terjadi berasal dari keturunan yang sama (inbreeding). Indikasi dari penurunan kualitas genetik ini identik dengan ikan nila, yaitu ditandai dengan sifat-sifat pertumbuhan lambat, tingkat kematian tinggi akibat daya tahan terhadap penyakit menurun, dan matang kelamin pada usia dini atau muda (Gustiano, 1994; Maskur, 2004). Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu dilakukan perbaikan genetik ikan nila (Imron, 2000). Salah satu cara melakukan perbaikan genetik adalah dengan pemuliaan yang dapat dilakukan dengan berbagai metode seperti selective breeding, crossbreeding, seks reversal, manipulasi kromosom, dan rekayasa gen. Selective breeding merupakan metode yang digunakan untuk memperbaiki produksi dan kualitas ikan nila, dengan melakukan seleksi individu atau seleksi familia terhadap calon induk yang nantinya akan menghasilkan induk ikan yang superior. Induk ikan nila superior ini yang akan digunakan dalam proses budidaya sehingga akan menghasilkan benih yang unggul.

Untuk menguji performa agar menghasilkan indukan yang unggul maka digunakan seleksi individu/massa pada induk Nila Putih Janti (SS) F5 pada umur 6 bulan. Peningkatan keunggulan induk ini dapat dilihat dari nilai genetic gain dan differensial selection F3, F4, dan F5 induk Nila Putih Janti (SS). Diharapkan dengan kedua uji ini akan didapatkan indukan Nila Putih Janti (SS) F5 yang unggul sehingga dapat menghasilkan benih yang unggul pula. B. Tujuan Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui : 1. Mengetahui peningkatan keunggulan induk dari keturunan sebelumnya dengan melihat nilai genetic gain F3, F4, dan F5. 2. Mengetahui rata-rata ukuran top 100 ekor dengan rata-rata ukuran populasi sebagai induk unggul.

C. Manfaat Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan mengenai perbandingan nilai genetic gain dan nilai differential selection induk Nila Putih Janti keturunan sekarang dengan keturunan sebelumnya.

TINJAUAN PUSTAKA

A. Biologi Ikan Nila (Oreochromis sp.) Ikan nila merah atau yang dikenal dengan nama ilmiah Oreochromis sp. adalah ikan konsumsi air tawar introduksi. Ikan nila merah (Oreochromis sp.) adalah hasil hibridisasi antara ikan mujair (O. mossambicus) warna orange kemerahan dengan ikan nila (O. niloticus) (Behrends, 1982). Ikan ini diintroduksi ke Indonesia dari Afrika, tepatnya Afrika bagian timur pada tahun 1969, didatangkan dari Taiwan oleh Balai Penelitian Perikanan Air Tawar. Menurut Lester (1983), ikan nila merah Taiwan ini dihasilkan dari hibridisasi tiga spesies di samping dua spesies tadi juga dengan O. aureus. Menurut Trewavas, E (1982), nila merah termasuk dalam genus Oreochromis karena mengerami telurnya dan mengasuh anaknya di dalam rongga mulut induk betina (mathernal mouth brooders). Klasifikasi nila merah adalah sebagai berikut: Filum Subfilum Kelas Subkelas Ordo Subordo Famili Genus Spesies : Chordata : Vertebrata : Osteichtyes : Achanthopterygii : Percomorphi : Percoidea : Chiclidae : Oreochromis : Oreochromis sp.

Ikan nila merah merupakan salah satu ikan tropis yang suka hidup di air dangkal. Ikan nila merupakan pemakan segala (omnivora) yang memakan fitoplankton, periphyton, tumbuhan air, invertebrata kecil, fauna bentik, dentritus, dan bakteri film yang berasosiasi dengan dentritus. Ikan nila yang masih kecil
4

belum tampak perbedaan alat kelaminnya. Setelah berat badannya mencapai 50 gram, dapat diketahui perbedaan antara jantan dan betina (FAO, 2011). Suhu atau temperatur air sangat berpengaruh terhadap metabolisme dan pertumbuhan organisme serta mempengaruhi jumlah pakan yang dikonsumsi organisme perairan. Suhu juga mempengaruhi oksigen terlarut dalam perairan. Suhu tinggi dan rendah yang menjadi kisaran kematian dari ikan nila ini adalah 1112 oC dan 42 oC, sedangkan kisaran suhu optimal pemeliharaannya 3136
o

C (FAO, 2011).

B. Perbedaan Jantan Betina Perbedaan antara ikan jantan dan betina dapat dilihat pada

lubang genitalnya dan juga ciri-ciri kelamin sekundernya. Pada ikan jantan, di samping lubang anus terdapat lubang genital yang berupa tonjolan kecil meruncing sebagai saluran pengeluaran kencing dan sperma. Tubuh ikan nila jantan berwarna lebih gelap, dengan tulang rahang melebar ke belakang yang memberi kesan kokoh (Kordi, 2009). Jenis kelamin individu ditentukan oleh faktor genetik dan faktor lingkungan. Secara genetik, jenis kelamin ditentukan oleh kromosom dan sudah ditentukan sejak terjadinya proses pembuahan (Maty, 1985). Kematangan seksual pada ikan nila dipengaruhi oleh umur, ukuran, dan kondisi lingkungan.

Tabel.1 Ciri-ciri Induk Jantan dan Betina Ciri ciri Bentuk tubuh Warna tubuh Jumlah lubang kelamin Bentuk alat kelamin Ketika matang Induk jantan Induk Betina Lebih tinggi dan membulat, Lebih rendah

dan

relatif besar memanjang Lebih cerah Lebih gelap 2, lubang anus dan lubang 3, lubang anus, ureter, dan urogenital Tonjolan agak meruncing lubang genital Tidak menonjol dan bulat

Perut distiping mengelurkan Tidak mengeluarkan cairan.

gonad cairan sperma Sumber: Anonim, 2011


5

Ciri kelamin sekunder biasanya ditunjukkan dengan ukuran ikan jantan yang lebih besar dibandingkan ikan betina karena nila jantan pertumbuhannya dua kali lebih cepat dibanding nila betina (FAO, 2011). Selain tumbuh lebih cepat, nilai rasio konversi pakan ikan nila jantan juga lebih baik dibandingkan ikan nila batina. Beberapa penelitian juga melaporkan bahwa budidaya ikan tunggal kelamin jantan menghasilkan produksi yang lebih baik dengan waktu panen yang lebih cepat (Rakocy dan McGinty, 1989; Tave, 1993; Mair, 1995; Chapman, 2006; Dunham, 2004; Gustiano, 2006). Perbedaan sifat pertumbuhan ikan nila jantan dan nila betina diduga karena faktor tingkah laku dalam perkembangbiakkan. Ikan nila jantan lebih cepat dewasa (matang kelamin) daripada ikan nila betina. Oleh karena itu, nila jantan memiliki kecepatan tumbuh lebih tinggi daripada ikan nila betina (Rukmana,1997). Secara umum, pertumbuhan nila jantan 40% lebih capat dari nila betina.

C. Strain Ikan Nila Strain nila di Indonesia sudah beraneka ragam dan banyak sekali jumlahnya. Kegiatan pemuliaan sudah lama dilakukan dan menghasilkan strain baru yang lebih unggul, baik dalam segi pertumbuhan, ketahanan tubuh, dan toleransi terhadap kualitas air yang kurang memadai. Beberapa contoh strain ikan nila yang dinilai unggul dan banyak dibudidayakan di Indonesia antara lain : 1. Ikan nila merah Singapura Ciri-ciri ikan jenis ini antara lain terdapat garis warna ke arah vertikal pada badan, ekor, sirip ekor, dan sirip anus. Tubuhnya memanjang dan ramping, memiliki 3 jenis warna yaitu kemerah-merahan, kekuning-kuningan, dan keputihputihan (albino). Nila merah Singapura ini pada umur 5 6 bulan dapat mencapai berat badan 400 600 gram per ekor (Amri, K dan Khairuman, 2005). Menurut Yulianto (2006), ikan nila merah Singapura memiliki warna tubuh dominan merah dengan dasar albino dan dagingnya tebal.
6

2. Ikan nila GIFT Ikan nila GIFT merupakan ikan nila unggul dari Filipina dan hasil dari perbaikan genetika yang dihasilkan oleh ICLARM. Pada tahun 1994, Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar (BRPBAT) Bogor yang mendatangkan ikan nila GIFT ke Indonesia. Pada tahun 1997, pemerintah Indonesia mendatangkan lagi bibit nila GIFT generasi ke-6 yang lebih unggul dari generasi sebelumnya (Suyanto, 2010). Nila GIFT memiliki warna tubuh hitam agak keputih-putihan. Bagian bawah tutup insang (operculum) berwarna putih. Kepala nila GIFT relatif lebih kecil sehingga mata nampak menonjol dan besar (Djarijah, 2002). 3. Ikan nila hitam Taiwan Bibit ikan nila hitam Taiwan didatangkan pada tahun 1969 setelah melalui serangkaian uji coba (Suyanto, 2010). Nila hitam Taiwan memiliki warna tubuh abu-abu atau hitam, terutama pada tubuh bagian atas. Tubuh bagian bawah (perut dan dada) berwarna agak putih kehitaman atau kekuningan (Amri, K dan Khairuman, 2005). Menurut Santoso (1996), nila hitam Taiwan memiliki warna sirip dada lebih hitam. 4. Ikan nila Red NIFI Ikan nila Red NIFI ini merupakan nila hibrida dari Filipina yang masuk ke Indonesia pada tahun 1981 dan telah disebarluaskan di seluruh Indonesia (Suyanto, 2010). Selain strain tersebut, di Indonesia juga berkembang strain ikan nila lokal unggulan yang telah dirilis dan merupakan hasil pemuliaan, yaitu : 1. Ikan nila JICA Ikan nila JICA merupakan hasil pengembangan riset oleh Balai Besar Budidaya Air Tawar Jambi, dengan merekayasa genetik ikan nila yang didatangkan dari lembaga riset Kagoshima Fisheries Research Station di Jepang. Oleh karena penelitian ikan ini dibantu sepenuhnya oleh JICA ( Japan for International Cooperation Agency) sebuah lembaga donor Pemerintah Jepang, maka ikan nila hasil penelitian ini dinamakan Nila JICA. Ikan nila hasil
7

pengembangan BBAT Jambi ini sangat disukai oleh pembudidaya karena pertumbuhannya yang cepat dan disukai oleh masyarakat (Anonim, 2012). 2. Ikan nila GESIT (Genetically Enhanced Supermale Indonesian Tilapia) Ikan nila GESIT adalah hasil pemuliaan yang dilakukan oleh Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar Sukabumi, Jawa Barat. Karakteristik ikan nila GESIT yaitu : a. benih yang dihasilkan 90% adalah nila jantan b. pertumbuhannya 30% lebih cepat c. suhu optimum pertumbuhan adalah 25oC d. kebal terhadap penyakit e. lebih aman dikonsumsi dibandingkan ikan nila yang menggunakan hormon (Anonim, 2012). 3. Ikan nila BEST ( Bogor Enhanced Strain Tilapia) Ikan nila BEST adalah hasil pemuliaan yang dilakukan oleh Balai Budidaya Air Tawar, Sukamandi. Nila BEST merupakan pengembangan lanjut dari nila GIFT generasi ke-6. Karakteristik ikan nila BEST yaitu : a. Menghasilkan anakan 3 -5 kali lebih banyak dalam sekali memijah b. Konversi pakan (FCR) berkisar 1,1 2 c. Ukuran telur dan larvanya lebih besar d. Pertumbuhannya lebih cepat e. 140% lebih tahan terhadap penyakit (Suyanto, 2010). 4. Ikan nila Larasati Larasati merupakan singkatan dari Nila Merah Strain Janti. Ikan nila Larasati merupakan hasil rekayasa genetika yang dilakukan oleh Satuan Kerja Pembenihan dan Budidaya Ikan Air Tawar Janti, Klaten. Nila Larasati yang dirilis tahun 2009 merupakan benih hibrida F3 hasil persilangan dari induk betina Nila Hitam strain GIFT dan induk jantan Nila Merah strain Singapura. Karakteristik ikan nila Larasati yaitu :

a.

mampu dipelihara di kolam air tenang maupun air deras serta dalam keramba jaring apung (KJA) pertumbuhannya cepat dagingnya tebal pertumbuhannya seragam kemampuan untuk bertahan hidupnya mencampai >90% konversi pakan (FCR) berkisar 1,1 1,3 tahan terhadap perubahan lingkungan secara laboratoris terbukti tahan terhadap bakteri Streptococcus agalactiae (SATKER PBIAT Janti, 2005).

b. c. d. e. f. g. h.

D. Pemuliaan Genetik Induk Ikan Nila Pemuliaan ikan nila di Indonesia merupakan kegiatan perekayasaan yang sangat penting dilakukan untuk meningkatkan mutu genetik ikan nila yang ada di masyarakat. Metode yang biasa dilakukan antara lain adalah selective breeding, crossbreeding, seks reversal, manipulasi kromosom, dan rekayasa gen (Tabel 1). Tabel 1. Berbagai macam metode peningkatan mutu ikan budidaya dan tujuannya Metode 1. Selective Breeding a. Seleksi Individu Tujuan Membuat induk ikan yang superior

b. Seleksi Famili 2. Cross Breeding (Hybridization) a. Intraspecific b. Interspecific 3. Sex Reversal a. Androgene b. Estrogene

Mengeksplorasi Hybrid vigour

Mengeksplorasi pertumbuhan populasi monoseks yang lebih baik

4. Chromosomal Manipulation a. Gynogenesis b. Androgenesis c. Polyploidization 5. Gene Engineering a. Transgenesis b. Recombination Sumber: (Anonim, 2012)

Membuat ikan klon, homozygote, monoseks dan steril

Membuat superior

ikan

transgenik

yang

Untuk meningkatkan mutu induk yang akan digunakan dalam proses budidaya, maka induk yang akan digunakan harus dilakukan seleksi. Seleksi dilakukan terhadap karakter penting untuk memperbaiki sifat yang terukur (quantitative trait). Prinsip dasar seleksi adalah mengeksploitasi sifat additive dari alela-alela pada semua lokus yang mengontrol sifat terukur untuk memperbaiki suatu populasi (Kirpichnikov, 1980; Falconer, 1989; Tave, 1993; Gjedrem, 2005. Gustiano, 2008). Selective breeding adalah suatu program breeding yang mencoba untuk memperbaiki nilai pemuliabiakan (breeding value) dari suatu populasi dengan melakukan seleksi dan perkawinan hanya pada ikan-ikan yang terbaik. Hasil yang akan diperoleh adalah induk yang terseleksi yang mempunyai karakteristik lebih baik dari populasi sebelumnya. Menurut FAO (2012), selective breeding dapat digunakan untuk memperbaiki produksi kuantitatif fenotip seperti panjang, berat, konversi pakan, dan tingkat pertumbuhan. Program ini dirancang untuk meningkatkan perbaikan populasi secara bertahap dari beberapa generasi. Peningkatan besar mungkin terjadi pada satu atau dua generasi pertama, tetapi itu akan mengurangi ukuran dari populasi pembiakan sehingga menyebabkan depresi inbreeding dan meniadakan keuntungan dari seleksi yang telah dilakukan. Selective breeding dapat dilakukan dengan dua cara yaitu seleksi individu/massa dan seleksi famili. Seleksi individu adalah seleksi yang dilakukan dengan memilih individu-individu dengan performa terbaik dan hubungan kekerabatannya diabaikan. Individu-individu diurutkan berdasarkan kriteria/ukuran dan yang terbaik akan diambil sebagai calon induk. Seleksi ini
10

merupakan teknik seleksi yang paling sederhana, mensyaratkan penyimpanan yang kurang terekam, dan lebih murah. Seleksi famili di mana hubungan famili merupakan faktor yang terpenting dan rata-rata family akan dibandingkan untuk mengambil keputusan selanjutnya. Dalam seleksi famili, pengambilan keputusan dapat dikelompokkan menjadi antar famili/between family atau dalam famili/within family. Gabungan antara antar dan dalam famili disebut kombinasi antar dan dalam famili (Kapuskinski, 1986; Tave, 1995; Gjedrem, 2005; Gustiano, 2008). Seleksi famili berbeda dari seleksi individu, yaitu keputusan untuk menyimpan atau menyisihkan ikan dilakukan pada tingkat keluarga dan nilainilai fenotip individu penting hanya karena berhubungan dengan rata-rata famili. Seleksi famili sering digunakan ketika seleksi individu tidak efisien karena nilai heritabilitas fenotipnya kecil (umumnya <0,15), karena komponen varian fenotip yang diwariskan kecil sehingga sebagian besar perbedaan terukur antar individu. Seleksi famili juga digunakan ketika sumber varian lingkungan yang tidak terkendali, yang mengakibatkan perbaikan dengan seleksi individu sulit dilakukan (FAO, 2012). Seleksi individu harus digunakan untuk meningkatkan laju pertumbuhan. Laju pertumbuhan merupakan nilai fenotip yang paling penting. Dalam seleksi individu, semua individu diukur dan pemilihan atau penyisihan ikan didasarkan pada nilai kuantitatif fenotipnya. Setiap ikan yang dibandingkan akan menghasilkan nilai yang disebut nilai cut-off. Nilai fenotip ikan yang sama atau lebih besar dari nilai cut-off yang akan dipilih, sedangkan ikan yang nilai fenotipnya lebih kecil dari cut-off yang akan disisihkan. Nilai cut-off adalah nilai fenotip yang telah ditentukan sebelumnya, sering dinyatakan sebagai top 10% atau top 5% atau sesuai yang diinginkan. Ikan yang dipilih akan menjadi induk ikan pilihan generasi pertama (F1) yang menghasilkan generasi pertama ikan pilihan disebut generasi F1. Keturunan berikutnya akan disebut generasi F2 dan seterusnya. Variabel lingkungan juga mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap nilai kuantitatif fenotip. Banyak sumber varian lingkungan memiliki efek yang berbeda tiap individu atau famili ikan pada saat seleksi dilakukan.
11

Variabel-variabel lingkungan ini haruslah dikontrol agar saat induk ikan pilihan diseleksi memang secara genetik lebih unggul bukan karena pengaruh variabel tersebut (FAO, 2012).

Gambar. 1. Diagram perbaikan induk ikan menggunakan metode seleksi individu untuk meningkatkan laju pertumbuhan dengan memilih pertambahan panjang. Gambar ini menunjukkan empat generasi seleksi dan menunjukkan bagaimana panjang dapat ditingkatkan dari waktu ke waktu (FAO, 2012)

Genetic gain didefinisikan sebagai peningkatan proporsional nilai fenotip yang dicapai oleh seleksi. Perbaikan kuantitatif fenotip induk ikan pilihan yang
12

telah diseleksi secara genetik, akan dapat dibandingkan pada tiap keturunannya dengan melihat hasil seleksi individu tersebut (Qingheng, 2011).

Gambar. 2. Skema diagram yang menggambarkan cara perbaikan genetik dapat ditransfer dari program perkembangbiakkan selektif terhadap produksi ikan. Jika induk ikan pilihan dapat memproduksi cukup untuk kedua populasi, maka transfer dan populasi akan sama (jalur 1). Jika proses seleksi terjadi dua tahap, ikan yang disisihkan dari tahap kedua dapat digunakan sebagai induk untuk menghasilkan produksi ikan (jalur 2). Jika pendekatan ini digunakan, beberapa perbaikan genetik akan segera ditransfer, tetapi ratarata produksi akan selalu menurun akhirnya. Jika seleksi dilakukan hanya pada saat panen, ikan tidak dipilih harus digunakan untuk menghasilkan produksi ikan generasi pertama, dan sisa-sisa dari program pemuliaan atau induk ikan pilihan generasi sebelumnya dapat digunakan sesudahnya (jalur 3). Pendekatan ini akan mentransfer perbaikan dengan penundaan satu generasi jika induk ikan pilihan generasi sebelumnya digunakan, jika sisasisa dari program pemuliaan digunakan untuk menghasilkan produksi ikan, rata-rata produksi akan sedikit lebih baik daripada rata-rata generasi sebelumnya. Semua asumsi tentang nilai rata-rata yang dihasilkan dengan menggunakan premis bahwa tidak ada pengaruh lingkungan pada fenotipe dan sifat tersebut memiliki heritabilitas yang besar. Differensial selection digunakan untuk mengetahui selisih antara bobot rata-rata terseleksi dengan bobot rata-rata populasi. Dalam pengambilan sampel bobot rata-rata terseleksi tergantung keinginan. Ukuran Top 100 ekor dari nilai
13

cut-off bisa dijadikan alternatif untuk mengetahui diferensial seleksinya (SATKER Janti, 2012). Menurut Doyle (1980), diferensial seleksi adalah perbedaan antara rata-rata hewan yang telah terpilih sebagai keturunan, dan ratarata dari populasi umum. Dengan kata lain, ukuran keunggulan induk atas hewan lain pada generasi yang sama. Besarnya S tergantung pada dua faktor, yaitu proporsi populasi yang terpilih sebagai keturunan dan jumlah variasi dalam populasi. Penjelasannya bisa dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar. 3. Sekitar 30% dari populasi ditampilkan sebagai terpilih. Perbedaan seleksi adalah sekitar 7 gram. E. Hipotesis Berdasarkan tujuan penelitian dan tinjauan rujukan, dapat disimpulkan, semakin ke generasi selanjutnya maka indukan ikan nila merah yang dihasilkan akan semakin baik dengan dilakukannya perkembangbiakan selektif.

METODOLOGI PENELITIAN

14

A. Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan metode seleksi individu terhadap 400 ekor calon induk ikan nila merah jantan dan 400 ekor calon induk ikan nila merah betina generasi kelima F5 umur 6 bulan. B. Bahan dan Alat Penelitian Bahan yang akan digunakan dalam penelitian yaitu : 1. Calon induk ikan nila merah Janti (SS) generasi kelima (F5) umur 6 bulan 2. Pelet Alat yang akan digunakan dalam penelitian yaitu : 1. Kolam pebesaran ukuran ha 2. Hapa ukuran 2 x 2 x 2 3. Timbangan digital 4. Millimeter blok 5. Jangka sorong dengan ketelitian 0,01 mm 6. Sarung tangan 7. Water Quality Checker (WQC) 8. Kamera 9. Alat tulis 10. Ember 11. Seser 12. Jaring

C. Tata Laksana Penelitian 1. Lokasi dan Waktu Penelitian


15

Penelitian dilakukan di SATKER PBIAT Janti, Klaten. Waktu penelitian adalah 30 hari terhitung dari bulan Oktober 2012 sampai November 2012. 2. Penelitian Awal Penelitian awal dilakukan selama 1 bulan dengan pemeliharaan populasi ikan sebanyak 460 ekor ikan nila merah jantan dan 460 ekor ikan nila merah betina yang telah di seleksi kelamin pada umur 5 bulan. Pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari dengan dosis 3% dari biomassa. 3. Penelitian lanjutan Populasi ikan nila merah generasi kelima (F5) yang telah berumur 6 bulan diambil secara acak untuk dilakukan seleksi individu sebanyak 400 ekor ikan jantan dan 400 ekor ikan betina. Pengukuran panjang dan berat dilakukan hanya saat tebar pertama dan akhir pemeliharaan saat pengambilan data untuk seleksi individu. Perkembangan genetik dari generasi kelima (F5) ini nanti akan dibandingkan dengan generasi ketiga dan keempat. Selain itu, dari data seleksi individu tersebut dicari pula rata-rata ukuran Top 100 ekor baik dari jantan maupun betina yang nantinya akan dibandingkan dengan rata-rata ukuran populasi untuk mengetahui diferensial seleksi. 4. Pengukuran Variabel Pengukuran variabel yang akan diamati dalam penelitian ini yaitu : a. Genetic Gain Berdasarkan protokol P.1.01 mengenai metode seleksi individu yang dikeluarkan oleh Pusat Pengembangan Induk Ikan Nila Nasional Direktorat Jendral Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan, secara sederhana nilai genetic gain dapat dirumuskan sebagai berikut :

Genetic gain

16

Keterangan : Gt = nilai rata-rata bobot populasi ikan generasi sekarang Gt-1 = nilai rata-rata bobot populasi ikan generasi sebelumnya

b. Differensial Selection Differensial Selection bertujuan untuk mengetahui selisih antara bobot rata-rata terseleksi dengan bobot rata-rata populasi, secara sederhana nilai differensial selection dapat dirumuskan sebagai berikut :

Differensial Selection =

x 100%

Keterangan : terseleksi = nilai rata-rata bobot ikan terseleksi populasi = nilai rata-rata bobot populasi ikan c. Laju Pertumbuhan Spesifik Untuk mengetahui laju pertumbuhan benih ikan digunakan persamaan sebagai berikut (Weatherley, 1972) :

Keterangan : G WT Wo YT Yt T-t

= Laju pertumbuhan spesifik (%/hari) = Bobot ikan pada akhir penelitian (g) = Bobot ikan pada awal penelitian (g) = Panjang ikan pada akhir penelitian (cm) = Panjang ikan pada awal penelitian (cm) = Selisih waktu pengamatan (hari)

d. Sintasan (Survival Rate) Derajat kelangsungan hidup (SR) adalah perbandingan jumlah ikan yang hidup hingga akhir pemeliharaan dengan jumlah ikan pada awal pemeliharaan. Untuk menghitung kelangsungan hidup (SR) digunakan rumus :

17

Keterangan : SR Nt No

= Survival Rate/Kelangsungan Hidup = Jumlah benih di akhir pemeliharaan (ekor) = Jumlah benih di awal pemliharaan (ekor)

e. FCR (food convention rate) Penghitungan FCR atau rasio konversi pakan menggunakan rumus berdasarkan kombinasi NRC dan Zonneveld (1991), yaitu :

FCR =

Keterangan : FCR = food convertion ratio Wt = Bobot biomassa ikan pada akhir pemeliharaan D = Bobot boimassa ikan yang mati Wo = Bobot biomassa ikan pada awal pemeliharaan f. Kualitas air Pengukuran parameter kualitas air seperti suhu air, DO, turbiditas, dan salinitas dilakukan dengan alat Water Quality Control (WQC). Pengukuran dengan alat ini lebih praktis yaitu hanya tinggal mencelupkan sebagian alat ke dalam air dan menunggu hingga angka konstan. g. Edible portion (tebal daging) Ikan memiliki struktur tulang atau tulang rawan yang memberikan dukungan bagi tubuh. Sebagian besar tubuh ikan didominasi oleh otototot yang bisa dimakan. Kulit membentuk penutup dengan lapisan luar berupa sisik dan mengeluarkan lendir yang melumasi ikan dan menutup permukaan. Insang adalah bagian utama dari mekanisme pernapasan untuk mengambil oksigen dari air. Organ dalam rongga tubuh, termasuk perut, usus dan hati dikenal sebagai isi perut. Komponen-komponen utama dari otot ikan yaitu air, lemak dan protein. Kandungan protein
18

biasanya sekitar 15 20%, sedangkan kadar lemak bervariasi dari spesies ke spesies dan dari musim ke musim. Pada ikan kurus yang tidak pernah diberi pakan kandungan lemaknya rendah sekitar 0,5% dan dapat mencapai 20% pada beberapa spesies. Lemak ikan yang kurus biasanya tidak terdapat dalam otot melainkan di hati. Air adalah konstituen utama, dengan variasi yang cukup besar, biasanya 80% pada ikan berlemak dan 70% pada lemak ikan. Karbohidrat, mineral, vitamin merupakan zat minor lainnya hadir (FAO, 2012). 5. Analisis Data Analisis data penelitian akan menggunakan metode non-statistik dengan membandingkan data hasil penelitian sekarang dengan data hasil penelitian sebelumnya. Pengambilan data dilakukan secara seleksi individu disebut juga dengan sensus dari populasi yang ada. Dengan memakai metode non-statistik, penelitian ini tidak memerlukan kontrol dan manipulasi variabel penelitian sehingga untuk menghubungkan antar variabel, menguji hipotesis, dan mengembangkan teori akan lebih mudah dan sesuai keadaan di lapangan.

19

DAFTAR PUSTAKA Amri, Khairul dan Khairuman. 2005. Budidaya Ikan Nila secara Intensif (Cetakan Keempat). PT Agromedia Pustaka. Jakarta Selatan. Anonim. 2011. Ikan nila. http://ikannila.com/Pemijahan%20Ikan%20Nila.html. Diakses 23 November 2011. ______. 2012. Benih Nila Merah Strain Baru LARASATI. http://memajukanperikananjawatengah.wordpress.com/2011/12/06/ benih-nila-merah-strain-baru-larasati/. Diakses pada 10 November 2012. 2012. Mengenal Jenis Ikan Nila Unggulan. http://lintasaninfo.blogspot.com/2012/06/mengenal-jenis-ikan-nilaunggulan.html. Diakses pada 10 November 2012. 2012. Menggemukkan si Nila GESIT. http://isacrohan.blogspot.com/2007/10/menggemukkan-si-nilagesit.html. Diakses pada 10 November 2012. 2012. Nila Merah Larasati. http://drkurnia.wordpress.com/2011/11/27/nila-merah-larasati/. Diakses pada 10 November 2012.

______.

______.

______.

Behrends, L.L., R.G. Nelson, R.O. Smitherman and N.M. Stone. 1982. Breeding and culture of the red-gold color phase of Tilapia . Journal of the World Mariculture. Soc. 13: 210-220. Chapman, F. A. 2006. Culture of Hybrid Tilapia. Institude of Food and Agriculture Science. University of Florida. United States. Doyle, Roger W. 1980. Selection and Inbreeding of Cultivated Macrobrachium rosenbergii in Thailand. Programme for The Expansion of Freshwater Prawn Farming. FAO Corporate Document Respository.
20

Effendi, M. I. 1979. Metode Biologi Perikanan. Yayasan Dewi Sri. Bogor. hlm 112. FAO. 2011. FAO Fisheries & Aquaculture Oreochromis niloticus. FAO Corporate Document Respository. FAO. 2012. Biological Aspects: Composition of Fish. FAO Corporate Document Respository. FAO. 2012. Selection for Quantitative Phenotypes: Chapter 4. FAO Corporate Document Respository. FAO. 2012. Simple Selective Breeding Programmes to Improve Growth Rate and Other Quantitative Phenotypes: Chapter 5. FAO Corporate Document Respository. Gjedrem, T. 2005. Selection and Breeding Programs in Aquaculture Research As. Springer Dordrecht. Netherland. 364pp. Gustiano, R., J. Subagja, dan T.H. Prihadi. 2006. Pengaruh Ikan Introduksi terhadap Keragaan Ikan Lokal: Studi Kasus Budidaya Bawal dan Patin Bangkok dalam Analisis Kebijakan Pembangunan Perikanan Budidaya (Editor: A. Sudrajat et al.). Pusat Riset Perikanan Budidaya. DKP.p. 145 155. Gustiano, R. 2007. Perbaikan Mutu Genetik Ikan Nila dalam Kumpulan Makalah Bidang Riset Perikanan Budidaya. Simposium Kelautan dan Perikanan. Jakarta. 6pp. Gustiano, R., Otong Zaenal Arifin, dan Estu Nugroho. 2008. Perbaikan Pertumbuhan Ikan Nila (Oreochromis niloticus) dengan Seleksi Famili. Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar. Bogor. Media Akuakultur Volum 3: 2. Imron, O.Z. Arifin, dan Subagyo. 2000. Keragaman Truss Morfometrik pada Ikan Mas (Cyprinus carpio) Galur Majalaya, Rajadanu Wildan dan Sutisna. Prosiding Seminar Penelitian Perikanan 1999/2000. Puslitbang Eksplorasi Laut dan Perikanan. Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta. Hal. 188197. Kordi K, M. Ghufran H. 2009. Budidaya Perairan : Buku Kedua. PT. Citra Aditya Bakti. Bandung. Lester, L. J. 1983. Suggestions for Developing Improved Strains of Tilapia. ICLARM Newsletter 6 (2) : 17 18.

21

Mair, G.C., J.S. Abucay, J.A. Beardmore and D.O.F. Skibinski. 1995. Growth Performance Trials of Genetically Male (GMT) Derived from YY Male in Oreochromis niloticus on Station Comparisons with Mixed Sex and Sex Reversed Male Population. Aquaculture. 137: 149 160. Maskur, S. Hanif, A. Sucipto, D. I. Handayani dan T. Yuniarti. 2004. Standar Prosedur Operasional Pemuliaan (Genetik Improvement) Ikan Nila. Pusat Pengembangan Budidaya Air Tawar Sukabumi. Direktorat Jendral Perikanan Budidaya, Departemen Kelautan dan Perikanan. Matty, A.J. 1985. Fish Endocrinology. First published in the USA. Timber Press. Qingheng, Wang., Deng Yuewen, Du Xiaodong, Fu Shao and Lu Yunzhao. 2011. Realized Heritability and Genetic Gains of Three Generation for Superior Growth in The Pearl Oyster Pinctada martensii . Acta Ecologica Sinica 31: 108 111. Rukmana, Rahmat. 1997. Ikan Nila, Budidaya dan Aspek Agribisnis. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. Suyanto, Rachmatun. 2010. Pembenihan dan Pembesaran Nila. Panebar Swadaya. Jakarta. Tave, D. 1986. A quatitative genetic analysis of 19 phenotypes in Tilapia nilotica. Copeia (3): 672-679. Tave, D. 1995. Selective breeding programmes for medium-sized fish farms. Food and Agriculture Organization of the United Nations. 122hal. Trewavas, E. 1982. Tilapias: taxonomy and speciation, p.3-13. In R.S.V. Pullin & R.H. Lowe-McConel (eds) The biology and culture of tilapia. ICLARM Confrence Proceedings. International Center for Living Aquatic Resources Manag Manila. Philippines. Weatherley, A. H. 1972. Growth and Ecology of Fish Population . Academic Press. New York. 293p. Zonneveld, N., E. A. Huisman, and J. H. Boon. 1991. Prinsip-Prinsip Budidaya Ikan. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

22

23