Anda di halaman 1dari 14

Transaksi komplementer Transaksi komplementer dideskripsikan oleh Berne sebagai the natural order of healthy human relationships yaitu

bentuk nyata hubungan antar manusia yang sehat, ketika stimulus dan respon datang dari ego state yang diinginkan. Transakasi ini terjadi ketika pesan disampaikan dari suatu ego state dan mendapatkan respons dari ego states spesifik seperti yang diharapkan dari orang lain (Thompson, et.al.,2004, p. 269; Corey, 1986, p. 162).

Contoh: Sue : Billy, kamu lihat sepeda saya ? Billy : ya, ada dihalaman belakang Atau Rini Budi : mengapa kamu terlambat? : saya berangkat seperti biasa, tapi dijalan terjadi kecelakaan sehingga sebagian jalan ditutup dan menyebabkan lalu lintas terhambat sehingga saya tidak dapat.

Parent

Parent

Parent

Parent

Adult

Adult

Adult

Adult

Child

Child

Child

Child

Agent

Respondent

Agent

Respondent

Transaksi Bersilang (crossed transaction) Transaksi terjadi ketika pesan disampaikan dari suatu ego satate dan mendapatkan respons dari ego state yang tidak diharapkan.

Contoh: Sue : Billy, kamu mau tidak membantu aku menacari sepeda ? Billy : Kamu tidak lihat, saya sedang onton acara TV favorit saya (Thompson, et.al.,2004, p. 269; Corey, 1986, p. 162). Atau Ani Roni : Mengapa kamu terlambat ? : Kenapa harus Tanya-tanya. Biasanya saya datang tepat waktu, jadi

kalau saya terlambat pasti terjadi sesuatu dijalan.

Transakasi komplementer dan bersilang dapat terlihat pada gambar dibawah ini :

Complementary

Compl. Cossed

Transaksi terselubung Transakasi yang kompleks yang melibatkan dua atau lebih ego states dan pesan yang disampaikan tidak jelas. Contoh: Sue : Billy, mengapa kamu tidak membantu saya menemukan sepeda saya supaya kita bisa bermain bersama-sama. Billy : Ok, cuaca hari ini cocok sekali untuk bersepeda. Atau Sue : Seandainya kamu mau jadi pacarku. teman yang lain (Thompson, et.al.,2004, p. 269; Corey, 1986, p. 162). Billy : Saya berharap kamu menyukai saya lebih baik daripada teman-

Atau Saya dengan senang hati membantu Anda, tetapi sebaiknya kita membuat janji terlebih dahulu sebelum bertemu. (disampaikan dengan nada suara tinggi dan ekspresi wajah yang berkerut). Atau Seseorang mengirimkan pesan dengan ego state dewasa tapi diinterpretasikan sebagai ego state orangtua.

Contoh: Maya : Saya dengan senang hati membantu Anda, tapi sebaiknya kita membuat janji terlebih dahulu sebelum bertemu. Heri : (interpretasi) Maya sibuk tidak mau diganggu.

Transakasi terselubung dapat terlihat pada gambar berikut :

----------------

ANALISIS NASKAH (SCRIPT ANALYSIS)


Naskah psikologis (psychological script) adalah program yang terjadi pada individu yang berkelanjutan seperti drama kehidupan, dan hal ini mendikre perjalanan hidup individu. Manusia secara sadar atau tidak sadar- bertingkah laku kompulsif tergantung program tersebut. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa individu lahir pada dasarnya OK, kesulitan yang dialaminya disebabkan naskah hidup yang jelek (bad script) yang dipelajarinya selama anak-anak (Thompson, et.al., 2004, p.270).

Menurut Berne, naskah hidup (life script) adalah rencana hidup yang dipilih oleh anak pada masa awal kehidupannya berdasarkan pesan yang diterima oleh anak dari orang tua. Contohnya, anak yang mendapat pesan untuk menyelamatkan ibunya darin ayahnya yang alkoholik. Naskah hidup ini akan muncul kembali ketika ia mencoba menyelamatkan suaminya yang alkoholik untuk mendapatkan payoff dari pengalaman masa lalunya. Contoh lainnya, anak yang mendapat pesan dari bu untuk sukses tapi mendapat injungsi

(injuction) bahwa ia tidak akan dapat mencapainya (Thompson, et.al., 2004, p.271). Berne percaya bahwa naskah hidup memiliki lima komponen yaitu : (1) Arahan dari orang tua, (2) Perkembangan kepribadian yang berhubungan dengan individu, (3) Keputusan masa kanak-kanak yang disesuaikan dengan diri dan kehidupannya, (4) Ketertarikan pada kesuksesan atau kegagalan, dan (5) Bentuk tingkah laku (Thompson, et.al., 2004, p.271). Pembentukan naskah hidup pada awalnya terjadi dari pesan nonverbal orangtua kepada anak saat masa bayi. Ketika masa awal pertumbuhan, individu balajar keberhargaan dirinya sebagai individu dan posisi hidupnya (Corey, 1986, p. 165). Analisis naskah hidup (script analysis) adalah bagian dari proses terapi dimana pola-pola hidup yang diyakini individu diidentifikasi. Konseli dibantu untuk mengidentifikasi naskah hidup, dan menyadari naskah hidup serta posisi hidupnya kemudian diminta untuk mengubah programnya. Analisis naskah hidup (script analysis) dapat dilakukan dengan menggunakan daftar cek naskah hidup (script checklist) yang berisi item-item yang berhubungan dengan posisi hidup, rackets, games sebagaia keseluruhan fungsi kunci dari naskah hidup seseorang (Corey, 1986, p. 165).

ANALISIS GAME (GAME ANALYSIS)


Menurut analisis transaksional individu dapat memahami dialog internal antara ego state Orangtua dan Anak-anak. Mereka dapat mendengan dan memahami hubungan mereka dengan orang lain. Individu dapat menyadari ketika mereka terbuka atau tidak jujur pada orang lain. Dengan menggunakan prinsip-prinsip analisis transaksional, individu dapat menyadari bentuk stroke

yang mereka terima, mereka dapat mengganti respon stroke dari negative kepositif (Corey, 1986, p. 155). Seperti transaksi terselubung, semua games pada dasarnya tidak jujur dan bukan sebagai sarana untuk bersenang-senang. Terdapat tiga peran dalam games, yaitun : persecutor, victim, dan rescuer. Dalam permainan tidak ada pemenang, semua pemain kalah (Thompson, et.al., 2004, p.272). Analisis transaksional berpandangan bahwa games

adalah pertukaran stokes yang mengganti perasaan yang tidak menyenangkan dan meningkatkan naskah hidup. Games dapat memberikan bentuk intimasi, tetapi individu yang terlibat dalam transaksi games menciptakan jarak diantara mereka. Games yang bisa dimainkan antara lain : Kasihan saya (poor me); (martyr); Iya, tapi (yes, but); Bila ini bukan untuk kamu (if it werent for you); (look what you made me do! Harried); (uproar), dan (wooden leg) (Corey, 1986, p. 155).

Dalam melakukan analisis games, konselor memperhatikan rackets. Rackets adalah perasaan tidak menyenangkan yang dialami individu setelah bermain games. Hal ini berupa perasaan kronis yang dipertahankan oleh individu, karena perasaan ini kerap kali dirasakan bersama dengan orangtua karena perasaan yang individu dapat (dari stroke yang diterima) ketika masa kecil. Seperti games, racket mendukung keputusan awal dan merupakan bagian dari naskah hidup. Individu dapat mengembangkan rackets kemarahan (anger racket), racket bersalah (guilt racket), atau racket depresi (depression racket). Racket ini dipertahankan dengan secara sadar memilih situasi yang mendukung perasaan yang tidak menyenangkan dan kronis. Contohnya, bila seorang wanita mendapat injuction dont be close dan membuat keputusan untuk

tidak mempercayai orang lain dan tidak berhubungan dekat dengan orang lain. Bila wanita ini menjalin hubungan dekat dengan orang lain, ia mencari karakteristik dan tingkah laku yang mebuat orang lain tersebut marah, sehingga hubungan mereka menjadi renggang.kemudian ia membuktikan bahwa benar dan berhubungan dengan orang lain adalah berbahaya (Corey, 1986, p. 156-157). Racket terdiri atas calling up dan koleksi perasaan yang digunakan individu untuk menjustifikasi naskah hidup (life script) dan keputusan (decision). Contohnya, Jane menyimpan perasaan depresi, games yang dimainkan dengan orang lain sering kali memiliki depresi sebagai payoff. Ketika ia mengumpulkan cukup perasaan depresi, dia menjustifikasikan perasaan ingin bunuh diri yang ia simpulkan dalam naslah hidupnya (Corey, 1986, p. 165). Racket melibatkan collection of stamp yang pada akhirnya ditukar dengan hadiah psikologis. Individu yang mengumpulkan perasaan kuno dengan mengalahakan atau menyelematkan orang lain untuk merasa ditolak, marah, tertekan, ditelantarkan, bersalah dan sebagainya. Konseli mengundang orang lain untuk bermain peran tertentu (Corey, 1986, p. 165). Analisis games dan racket adalah aspek penting dalam memahami transaksi dengan orang lain (p. 48 dalam Corey, 1986, p. 165). Payoff dalam banyak game adalah perasaan tidak senang yang dialami oleh pemain. Hal ini penting untuk diobservasi dan dipahami mengapa games dimainkan, apa hasil payoff, apa stroke yang diterima, dan bagaimana games ini mempertahankan jarak dan mengintervensi intimasi (Corey, 1986, p. 165). Dalam melakukan analisis games, dapat digunakan dua cara yaitu formula G dan Segitiga Drama Karpman (The Karpman Drama Triangle). Analisis dengan Formula Game (Formula G) dilakukan dengan enam langkah, yaitu : Con Gimmick Respon sosial = stimulus yang memancing orang lain untuk ikut main = tanggapan dari orang lain untuk ikut main game = rangkaian transaksi psikologis terselubung dan transaksi

Switch Cross up

= perjungkirbalikan sikap dari kedua pihak = saat kebingungan kedua pihak akibat switch

Pay off = merupakan racket feeling (perasaan tidak enak) kedua pihak diakhir game

Cara yang kedua adalah Segitiga Drama Karpman (The Karpman Drama Triangle) adalah alat yang berguna untuk membantu individu memahami games. Metode ini dikembangkan oleh Stephan Karpman. Dalam segitiga terdiri dari penuduh atau orang yang menyakiti (persecutor), penolong (rescuer), dan korban (victim) (Corey, 1986, p. 155-156). Persecutor memiliki posisi hidup Im OK, youre not OK, rescuer Im OK, youre not OK, dan victim, Im not OK, youre OK.

Persecutor

Rescuer

Victim

MENSTRUKTUR WAKTU (STRUCTURING TIMES)

Individu memiliki enam pilihan dalam mencari stroke melalui pengisian waktu, yaitu : 1. Menarik diri (withdrawing), dimana tidak terjadi transaksi. Ini melibatkan risiko yang sedikit dan tidak terjadi stroke.

2. Melakukan ritual (rituals), melibatkan transaksi sosial yang telah ditentuksn seperti halo dan apa kabar? merupakan transaksi yang tidak personal. 3. Mengisi waktu luang (pastimes), memberikan stroke yang dapat diterima oleh kedua belah pihak (mutually acceptable). Pastimes adalah cara untuk mengekspresikan diri (self expression) tetapi melibatkan transaksi atau percakapan yang superfisial. Contohnya, topic pembicaraan tentang olahraga, otomotif, belanja dan sebagainya. 4. Melakukan aktivitas (activities), adalah dimana waktu distruktur dengan berbagai tugas. Melakukan aktivitas (activities) adalah cara untuk mengatasi realitas eksternal dan mungkin melibatkan interaksi yang dalam dengan orang lain. 5. Bermain games, dimana kebutuhan untuk mendapatkan stroke dipenuhi dengan cara yang tidak jujur. Dengan games individu mendapatkan stroke akan tetapi dengan cara yang tidak menyenangkan. Games juga disebut dengan sebagai transaksi yang destruktif. 6. Menjalin intimasi (intimacy), memberikan stroke tanpa syarat

(unconditional stroking). Intimacy (intimacy) bebas dari games dan eksploitasi (Thompson, et.al., 2004, p.277).

TUJUAN KONSELING
Tujuan utama konseling analisis transaksional adalah membantu konseli untuk membuat keputusan baru tentang tingkah laku sekarang dan arah hidupnya. Individu meperoleh kesadaran tentang bagaimana kebebasannya terkekang karena keputusan awal tentang posisi hidup, dan belajar untuk menentukan arah hidup yang lebih baik. Inti terapi ini adalah mengganti kearah gaya hidup yang otonom yang memiliki cirriciri : Kesadaran,

Spontan, Intim, Dengan menggunakan game dan naskah hidup.

Individu juga belajar menulis kembali naskah hidup mereka sehingga mereka memiliki control atas hidup mereka (Corey, 1986, p. 158). Adapun tujuan-tujuan khusus pendekatan ini adalah : Konselor membantu konseli untuk memprogram pribadinya agar membuat ego state berfungsi pada saat yang tepat Konseli dibantu untuk menganalisis transaksi dirinya sendiri. Konseli dibatu untuk menjadi bebas dalam berbuat, bermain menjadi orang yang mandiri dalam memilih apa yang diinginkan Konseli dibantu untuk mengkaji keputusan salah yang telah dibuat dan membuat keputusan baru atas dsasar kesadaran.

PERAN DAN FUNGSI KONSELOR Konseling analisis transaksional didesain untuk mendapatkan insight emosional dan intelektual, tetapi focus pada bagian rasional. Hal ini berimplikasi pada peran konselor dalam proseskmonseling yang lebih banyak didaktik dan focus pada pemikiran konseling. Menurut Harris (1967) peran konselor adalah sebagai guru, pelatih dan penyelamat dengan terlibat secara penuh dengan konseli (p. 239 dalam Corey, 1986, p.159). sebagai guru, konselor menjelaskan teknik-teknik seperti analisis struktur (structural analysis), analisis transaksional (transactional analysis), analisis nasakah hidup (script analysis), dan analisis game (game analysis). Konselor juga membantu konseli menemukan kondisi-kondisi yang tidak menguntungkan dimasa lalu dan mengembangkan strategi untuk mengatsinya (Corey, 1986, p. 159).

Claude steiner menekankan bahwa penting hubungan bahwa penting hubungan yang egaliter antara konselor dan konseli. Konselor dan konseli bekerja seperti partner dalam konseling. Walaupun konselor memiliki pengetahuan dan keterampilan konseling yang digunakan untuk membantu konseli, pengetahuan dan keterampilan tersebut tidak akan efektif tanpa ada inisiatif dari konseli (Corey, 1986, p. 157). Konselor membantu konseli menemukan kekuatan internalnya untuk berubah dengan membuat keputusan yang sesuai sekarang (Gouling dan Goulding, 1978 dalam Corey, 1986, p. 159)

TEKNIK-TEKNIK KONSELING Teknik-teknik konseling analisis transaksional banyak menggunakan teknikteknik pendekatan Gestalt. James dan Jongeward (1971) mengkombinasikan konsep dan proses analisis transaksional dengan eksperimentasi Gestalt dan kombinasi ini menberikan hasil yang menjanjikan pada self-awareness dan autonomy (Corey, 1986, p. 161).
Beberapa teknik konseling diantaranya yaitu : 1. Metode Didaktik (Didactic Methods)

Karena analisis transaksional menekankan pada domain kognitif, prosedur mengajar dan belajar dasar dari pendekatan ini.

2. Kursi Kosong (Empty Chair) Teknik ini merupakan adopsi dari pendekatan Gestalt. Teknik ini biasanya digunakan untuk structural analysis. McNeel (1976) mendeskripsikan bahwa teknik yang menggunakan dua kursi ini merupakan cara yang efektif untuk membantu konseli mengatasi konflik masa lalu dengan orangtua atau orang lain pada masa kecil. Tujuan teknik ini untuk menyelesaikan unfinished business masa lalu (Corey, 1986, p. 164).

3. Bermain Peran (Role Playing) Bermain peran (role play) biasanya digunakan dalam konseling kelompok dimana melibatkan orang lain. Anggota kelompok lain dapat berperan sebagai ego state yang bermasalah dengan konseli. Dalam kegiatan ini konseli berlatih dengan anggota kelompok untuk bertingkah laku sesuai dengan apa yang akan diuji coba didunia nyat. Variasi lain dapat dilakukan dengan melebih-lebihkan karakteristik ego state tertentu untuk melihat reaksi tingkah laku saat ini terhadap ego state tertentu (Corey, 1986, p. 164). 4. Penokohan Keluarga Family modeling adalah pendekatan untuk melakukan structural analysis, yang pada umunya berguna untuk menghadapi constant parent, constant adult, atau constant child. Konseli diminta untuk membayangkan episode yang berisi orang-orang yang penting baginya dimasa lalu. Konseli bertindak sebagai sutradara, produser dan actor. Konseli mendefinisikan situasi dan

menggunakan anggota kelompok sebagai pengganti anggota keluarganya. Konseli menempatkan mereka sehingga ia mengingat situasinya. Berdasarkan hasil drama ini konseli dan konselor mendiskusikan, berinda, dan mengevaluasi sehingga dapat meningkatkan kesadaran tentang siatuasi yang spesifik dan makna personal yang masih dipegang teguh oleh konseli (Corey,
1986, p. 164).

5. Analisis Ritual dan Waktu Luang (Analysis OfRituals and Pastime)

Analisis transaksi termasuk didalamnya adalah identifikasi ritual dan mengisi waktu luang (pastimes) yang digunakan dalam structuring of time. Time structuring adalah materi penting untuk diskusi dan penilaian karena metrefleksikan keputusan tentang naskah hidup tentang bagaimana bertransaksi dengan orang lain dan bagaimana mendapatkan stroke. Individu yang memenuhi sebagian besar waktu nya dengan ritual dan pastimes kemungkinan mengalami kekurangan stroke dan kurang intimasi dalam bertransaksi dengan ornag lain.karena transaksi ritual dan pastimes memiliki nilai stroke yang rendah, orang yang bartransaksi sosial mungkin akan mengeluh merasa kehampaan (emptiness), bosan, tidak memiliki kesenangan, merasa tidak dicintai dan merasa tidak berarti (Corey, 1986, p. 164-165).

Ringkasan Teori analisis transaksional diintegrasikan dengan beberapa konsep, antara lain : anak-anak tumbuh dengan injungsi (injuctions) dan basis dari pesanpesan orangtua dalam membuat pengambilan keputusan awal (early decision). Keputusan awal ini bertujuan untuk menerima stroke dari orang tua (parental stroke) yang berupa penghargaan dan perhatian (recognition dan attention) serta dalam memastikan pertahanan hidup yang mendasar. Rackets adalah perasaan buruk yang familiar yang biasanya disimpan oleh individu yang merupakan hasil dari games.

Anda mungkin juga menyukai