Anda di halaman 1dari 8

POTENSI CINCAU HIJAU (Cylea barbata L. , Miers.

) SEBAGAI PANGAN FUNGSIONAL


HENY HERAWATI DAN DIAN HISTIFARINA1 Abstrak Tanaman cincau mempunyai nama latin Cyclea barbata dan termasuk dalam suku sirawan-sirawanan (Menispermaceae). Tumbuhan ini berkembang subur di dataran rendah hingga daerah dengan ketinggian 800 meter di atas permukaan laut dengan tingkat keasaman 5,5 sampai 6,5. Cara pengembangbiakan tanaman rambat ini bisa dilakukan dengan cara generatif yaitu dengan biji, bisa pula dengan cara vegetatif yaitu dengan stek batang maupun tunas akar. Ada empat jenis cincau yang dikenal masyarakat, yaitu cincau hijau, cincau hitam, cincau minyak dan cincau perdu. Secara umum dalam 100 gram daun cincau mengandung komponen nutrisi protein 6 g, lemak 1 g, karbohidrat 26 g, kalsium 100 mg, fosfor 100 mg, besi 3,3 mg, vit A 10750 SI, vit B1 80 mg, Vit C 17 mg, dengan total kalori sebesar 122 kkal. Beberapa komponen aktif cincau yang memiliki nilai fungsional diantaranya dari golongan polifenol, saponin, flavonoid maupun alkaloid lainnya. Berdasarkan hasil penelitian, cincau memiliki nilai fungsional diantaranya: dapat menurunkan tekanan darah tinggi dari 215mm/120mm menjadi 160mm/100mm dalam waktu satu bulan. Disamping itu terdapat 6,23 gram per 100 gram kandungan serat kasar dalam gel cincau yang dapat membantu memerangi penyakit degeneratif seperti jantung koroner. Cincau hijau juga mempunyai aktivitas anti-oksidan yang mampu mematikan sel tumor dan kanker. Kata kunci: cincau, komponen aktif, nilai fungsional

PENDAHULUAN Tanaman cincau mempunyai nama latin Cyclea barbata dan termasuk dalam suku sirawan-sirawanan (Menispermaceae). Tanaman cincau termasuk tanaman asli Indonesia dan mempunyai nama lain diantaranya Camcao, Juju, Kepleng (Jawa); Camcauh, Tahulu (Sunda). Tanaman ini tumbuh menyebar di daerah Jawa Barat (sekitar Gunung Salak, Batujajar, Ciampea, dan Ciomas), Jawa Tengah (Gunung Ungaran, Gunung Ijen), Sulawesi, Bali, Lombok, dan Sumbawa (Astawan, 2002). Ada 4 jenis cincau yang dikenal oleh masyarakat, yaitu cincau hijau, cincau hitam, cincau minyak dan cincau perdu. Bentuk fisik keempat jenis tanaman tersebut sangat berbeda satu sama lain. Umumnya dari keempat jenis tanaman cincau tersebut, yang paling digemari oleh masyarakat adalah cincau hijau. Hal ini disebabkan daun cincau hijau bersifat tipis dan lemas sehingga lebih mudah diremas untuk dijadikan gelatin atau agar-agar. Terdapat 2 jenis cincau hijau yaitu cincau hijau spesies Cyclea barbata L. Miers dan cincau hijau spesies Premna oblongifolia Merr. Secara tradisional tanaman cincau mempunyai efektifitas sebagi obat penurun panas, obat radang lambung, penurun tekanan darah tinggi, disamping dapat memberikan efek psikologis kesehatan lainnya. Berdasarkan hasil penelitian cincau hijau yang meliputi gel cincau hijau, batang dan akar mempunyai kemampuan menghambat proliferasi sel kanker (Ananta, 2000), anti alergi (Rachmini, 2000), anti

Masing-masing adalah peneliti pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Barat.
Seminar Nasional Pangan Fungsional

142

inflamasi (Handayani, 2000) dan imunosupresan (Pandoyo, 2000). Disamping itu cincau hijau merupakan makanan rendah kalori dengan kandungan serat dan kandungan bioaktif lain sehingga cincau hijau berpotensi sebagai pangan fungsional. Adapun salah satu keistimewaan cincau hijau dari segi teknologi pengolahan adalah mudah membentuk gel meskipun hanya diekstrak menggunakan air dingin. Secara lebih terperinci mengenai tanaman cincau ini dapat terlihat sebagaimana uraian dibawah ini.

ANATOMI TANAMAN Tanaman cincau mempunyai nama latin Cyclea barbata dan termasuk dalam suku sirawan-sirawanan (Menispermaceae). Menurut Syamsuhidayat dan Hutapea (1991), klasifikasi tanaman cincau hijau (Cyclea barbata L. Miers) meliputi, kingdom platae, divisi spermatophyta, subdivisi angiospermae, klas dicotilediae, ordo ronales, famili menispermaceae, genus cyclea spesies Cyclea barbata L. Miers. Tanaman cincau sering ditemukan tumbuh sebagai tanaman liar, tetapi ada juga yang sengaja dibudidayakan di pekarangan rumah. Tumbuhan ini berkembang subur di dataran rendah sampai daerah dengan ketinggian 800 meter di atas permukaan laut, tanah yang gembur dengan kadar keasaman 5,5 sampai 6,5 dan lingkungan teduh, lembab dan berair tanah dangkal. Tanaman cincau memiliki batang yang berdiameter sekitar 1 cm dan merambat ke arah kanan pada pohon inang dengan panjang 5 sampai 16 meter. Daun Cyclea barbata L. Miers berbentuk perisai, bagian tengahnya melebar berbentuk bulat telur, sehingga keseluruhan bentuknya menyerupai jantung. Permukaan bawah daun berbulu halus dan permukaan atasnya berbulu kasar serta jarang. Panjang daun bervariasi antara 60-150 mm dan mempunyai tulang daun menjaring (Pitojo, 1998). Bunga tanaman ini tumbuh dari ketiak daun atau kadang-kadang dari batangnya. Bunga jantan berwarna hijau muda yang panjangnya 30-40 mm dan memiliki kelopak 4-5 buah, sedangkan bunga betina lebih kecil dengan panjang 0,71,0 mm dan mempunyai daun kelopak 1-2 buah dan memiliki 1-2 helai mahkota bunga. Benang sari terdiri dari satu tangkai sari dengan kepala bergerombol di ujungnya. Buah tanaman Cyclea berbata L. Miers berbentuk bulat seperti kopi dan agak berbulu, setiap buah mengandung 1-2 biji yang keras berbentuk bulat telur (Sunanto, 1995). Cara pengembangbiakan tanaman cincau dapat dilakukan dengan cara generatif yaitu dengan biji, bisa pula dengan cara vegetatif yaitu dengan stek batang maupun tunas akar. Kelemahan perkembangbiakan dengan biji adalah dibutuhkan waktu sekitar 3 bulan untuk memperoleh bibit. Sedangkan kelemahan cara vegetatif adalah merusak batang, cabang, ranting atau akar tanaman. Kerusakan bagianbagian tersebut bisa mempengaruhi produksi daun cincau. Daun cincau yang dapat dipanen adalah daun yang tidak terlalu tua tetapi tidak terlalu muda. Pemetikan tanaman sebaiknya dilakukan dengan memperhatikan kondisi tanaman bersangkutan. Bila tanaman cincau itu rimbun dan subur, daunnya dapat dipanen dalam jumlah banyak. Namun bila tanaman itu tampak kurus dan tidak sehat maka pemetikan dapat merusak tanaman. Pemanenan dapat dilakukan setelah tanaman berumur 3-4 bulan dari saat tanam. Pemanenan pertama dilakukan dengan
Seminar Nasional Pangan Fungsional

143

cara memotong sebagian tanaman menggunakan sabit sehingga bagian yang tertinggal dapat tumbuh kembali. Sedangkan pada pemanenan yang kedua, semua tanaman dicabut sampai ke akar-akarnya. Panen terbaik dapat dilakukan pada bulan ketujuh setelah tanam. (Astawan, 2002).

KANDUNGAN NUTRISI Daun cincau hijau Cyclea barbata L. Miers mengandung nilai gizi yang cukup baik per 100 gramnya (Tabel 1). Tabel 1. Komposisi Gizi Daun Cincau per 100 gr Bahan Mentah
Komponen Gizi Energi (kkal) Protein (%) Air (%) Lemak (%) Karbohidrat (%) Serat kasar (%) Kalsium (%) Fosfor (%) Besi (%) Vitamin A (SI) Vitamin B1 (mg) Vitamin C (mg)
Sumber: Direktorat Gizi, DepKes (1972)

Kandungan 122 6 66 1 26 6,23 0,1 0,1 0,0033 107,50 80 17

Daun cincau juga mengandung klorofil yang dapat berfungsi sebagai zat antioksidan, antiperadangan, dan antikanker. Komponen alkaolid yang terkandung pada cincau hijau lebih banyak daripada yang terdapat pada cincau hitam. Disamping itu daun cincau hijau juga mengandung komponen polifenol, saponin dan flavonoid. Menurut Ananta (2000), tanaman cincau memiliki kandungan fenol sebesar 0,17% bk pada daun, 1,15% bk pada batang dan 1,64 bk pada akar. Selain daun cincau, akar cincau juga memiliki khasiat. Akar cincau mengandung pati, lemak dan alkaloid cycleine yang dapat dimanfaatkan untuk mengobati penyakit demam dan sakit perut (Pandoyo, 2000). Disamping itu akar cincau mengandung 1-curine dan isochondrodendrine yang dapat dimanfaatkan sebagai antitumor, mengandung homoaromaline, isotarandrine dan terandrine. Pada pengambilan akar tanaman ini harus mempertimbangkan umur tanaman. Sebaiknya akar diambil dari tanaman yang sudah berumur lebih dari 5 tahun dan perakarannya sudah cukup luas, agar tanaman tidak mati. Batang cincau hijau mengandung komponen alkaloid quenine (C20H24N2O2) yang berfungsi sebagai antipiretik dan penurun demam. Quenine juga dapat menekan pertumbuhan plasmodium falsifarum yang menyebabkan penyakit malaria (Pandoyo, 2000).
Seminar Nasional Pangan Fungsional

144

NILAI FUNGSIONAL Anti Kanker/Tumor Alkaloid adalah senyawa yang digunakan sebagai bahan obat dan antikanker. Zakaria (2003) telah melakukan penelitian tentang efektifitas cincau terhadap kanker, dengan menumbuhkan sel kanker payudara di laboratorium, kemudian menyuntikkan ekstrak cairan cincau hijau kedalamnya. Ada 2 jenis cincau yang dipakai yaitu Cyclea barbata L. Miers dan Premna oblongifolia. Berdasarkan hasil penelitian, semua kanker mati. Penelitian kemudian dilanjutkan dengan menggunakan 15 mencit (tikus putih) C3H yang diberi ekstrak cairan cincau. Mencit jenis ini dipilih lantaran gampang ditumbuhi tumor. Mencit dibagi 3 kelompok: pertama diberi makanan biasa, ekstrak cairan Premna, dan ekstrak cairan Cyclea. Mencit tersebut diberi ekstrak cairan cincau dengan dosis 7,25 gr/l dan 5,3 gr/l per hari selama 4 pekan. Setelah itu, sel-sel kanker disuntikkan. Setelah diamati selama 57 pekan, tikus dibunuh. Berdasarkan hasil penelitian, ternyata tingkat kematian sel tumor mencit yang diberi cincau cukup tinggi. Pada kelompok yang diberi Cyclea, sel tumor yang mati sebanyak 33,04%, yang diberi ekstrak Premna, sebanyak 37,86% dan pada mencit yang diberi pakan standar sebanyak 24,32%. Sedangkan hasil penelitian Koessitoresmi (2002) mengenai kemampuan antioksidan ekstrak batang, daun dan sineresis gel tanaman cincau hijau (Cyclea barbata L. Miers) secara in vitro dalam melindungi sel limfosit terhadap serangan oksidan, seperti pada Tabel 2 dibawah ini. Tabel 2. Jumlah Sel Limfosit Hidup yang Dikultur dengan Penambahan H2O2 10 M dan Ekstrak Selama 24 Jam.
Perlakuan Ekstrak Tanaman Cincau Sineresis gel Batang Kombinasi ekstrak batang dan sineresis gel
Sumber: Koessitoresmi (2002)
-3

1,6x10 g/ml 129 114 152

-5

Jumlah Sel Limfosit Yang Hidup (x 103 sel/ml) -5 -4 -4 6,4x10 1,2x10 2,5x10 g/ml g/ml g/ml 112 182 137 77 132 137 62 90 70

3,2x10 g/ml 222 270 164

-3

Pada konsentrasi ekstrak batang 3,2 x 10 g/ml memberikan efek perlindungan yang terbaik pada kultur limfosit. Dengan kemampuan cincau sebagai antioksidan ini, berarti cincau memiliki kemampuan juga melindungi komponen tubuh akibat adanya radikal bebas. Namun demikian, untuk ekstrak batang pada umumnya memiliki aroma yang langu dan terasa pahit, sehingga tidak umum dikonsumsi layaknya pada ekstrak daun. Zakaria (2003), juga melakukan penelitian tentang tingkat kekebalan sel limfosit, menggunakan indikator H2O2 sebagai oksidator dengan tujuan untuk melihat apakah efek terapi cincau bisa mematikan sel-sel normal. Berdasarkan hasil penelitian, sel limfosit tersebut banyak yang bertahan hidup pada mencit yang diberi ekstrak cincau. Hal ini menunjukkan bahwa daun cincau tidak mempunyai efek yang mematikan sel normal lainnya. Akan tetapi pada kasus sel-sel kanker yang sudah menyebar ke organ lain, ekstrak cincau hanya bersifat memperlambat pertumbuhan sel tumor. Selain faktor genetik, pertumbuhan kanker juga dirangsang oleh faktor 145 Seminar Nasional Pangan Fungsional

polutan yang bisa mempercepat proses kematian sel-sel normal. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, pemberian ekstrak daun cincau hijau (Cyclea barbata dan Premna oblongifora) pada tikus percobaan terbukti dapat membunuh sel tumor. Hal ini menunjukkan cincau hijau mengandung komponen bioaktif pembunuh sel kanker. Selain itu, ternyata cincau hijau juga mampu menyingkirkan senyawa-senyawa berbahaya pemicu kanker. Potensi cincau juga diuji dengan cara pemberian beberapa bagian tanaman cincau pada empat jenis sel kanker, yaitu sel kanker darah (leukemia), kanker mulut rahim, paru, dan payudara. Berdasarkan hasil penelitian, ekstrak dari berbagai bagian tanaman cincau itu mampu mematikan 55-90% sel leukemia. Kemampuan tertinggi (90%) ditunjukkan oleh ekstrak akar. Namun, sebagai pangan fungsional, akar cincau tidak tepat. Selain rasanya pahit, kemampuannya hanya dua sampai tiga kali dari ekstrak daun. Sementara kemampuan cincau membunuh sel kanker lain sekitar 60% (Anonimous, 2003). Menurunkan Tekanan Darah Tinggi Berdasarkan hasil penelitian Prof. Dr. Sardjito, Dr. Rajiman dan Dr. Bambang Suwitho dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada pada tahun 1966, cincau dapat mengobati penyakit tekanan darah tinggi. Pada penelitian tersebut, pasien diberi daun cincau segar sebanyak 5 gram yang diekstrak dengan 150 cc air matang kemudian diperas. Air perasan itu diberikan kepada pasien untuk diminum dua kali sehari. Uji coba itu dilakukan kepada pasien tekanan darah tinggi dengan usia di atas 40 tahun. Berdasarkan hasil penelitian, pasien mengalami penurunan tekanan darah secara signifikan dari 215mm/120mm menjadi 160mm/100mm dalam satu bulan setelah mengkonsumsi cincau (Anonimous, 2002). Mencegah Penyakit Degeneratif Daun cincau hijau memiliki kandungan air terbesar yaitu 66 %. Dengan demikian banyak orang yang menggunakan cincau hijau sebagai makanan rendah energi untuk tujuan diet, baik karena alasan kesehatan maupun untuk keperluan melangsingkan tubuh. Disamping itu, cincau dapat dimakan dalam jumlah banyak tanpa perlu khawatir menjadi gemuk (Astawan, 2002). Selain itu kandungan serat di dalam cincau juga tinggi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Direktorat Gizi Departemen Kesehatan terhadap cincau, terdapat 6,23 gram per 100 gram kandungan serat kasar dalam gel cincau. Hal ini menunjukkan bahwa cincau dapat dikonsumsi bersama dengan buah dan sayur mayur untuk memenuhi kebutuhan serat harian sebesar 30 gram. Seperti diketahui, komponen serat telah terbukti dapat membantu memerangi penyakit degeneratif seperti jantung koroner. Menyembuhkan Penyakit Lainnya Disamping itu cincau secara tradisional juga terkenal mempunyai khasiat dapat mengobati disentri, sariawan, demam, bisul, penurun panas dan obat radang lambung, serta beberapa penyakit lainnya. Sedangkan berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh IPB, cincau terbukti memiliki nilai fungsional diantaranya yaitu anti alergi (Rachmini, 2000), anti inflamasi (Handayani, 2000) dan imunosupresan (Pandoyo, 2000).

Seminar Nasional Pangan Fungsional

146

TEKNOLOGI PENGOLAHAN Teknologi pengolahan cincau telah lama dikenal oleh masyarakat. Dengan diketahuinya nilai fungsional yang terdapat pada bagian tanaman cincau tersebut, perlu didukung adanya sifat organoleptik yang lebih baik agar dapat meningkatkan nilai produk di mata masyarakat. Salah satu cara yang dapat dilakukan yaitu dengan modifikasi teknologi pengolahan. Cincau sendiri biasa dikonsumsi sebagai makanan dalam bentuk jeli. Berdasarkan teknologi pengolahan, kita mengenal 2 jenis cincau, yaitu cincau hijau dan cincau hitam. Keduanya berbeda dalam hal warna, cita-rasa, penampakan, bahan baku, dan cara pembuatan. Cincau hijau dibuat dari daun cincau (Cyclea barbata L. Miers) tanpa proses pemanasan. Sedangkan cincau hitam dibuat dari seluruh bagian tanaman janggelan dengan bantuan proses pemanasan dan penambahan pati serta abu "Qi". Kedua cincau tersebut memiliki rasa yang enak, kenyal, dan hampir menyerupai agar-agar. Tanaman cincau hijau dapat diekstrak dengan menggunakan air dingin menghasilkan komponen pembentuk gel berupa hidrokoloid. Sedangkan pada cincau hitam, gel bersama-sama dengan sejumlah pati dan abu "Qi" mampu membentuk gel yang kokoh dan kuat. Tingkat kekerasan gel cincau hitam pada umumnya lebih baik dibandingkan cincau hijau. Dengan demikian cincau hitam lebih tahan terhadap proses "sineresis", yaitu keluarnya cairan dari gel, sehingga gel menjadi mudah hancur dan kehilangan sifat kenyalnya. Untuk memperbaiki sifat fisik dari gel cincau hijau, telah dilakukan beberapa penelitian diantaranya yang telah dilakukan oleh Setyaningtyas et al. (2000), yaitu dengan mengkombinasikannya dengan alginat dengan tujuan untuk memperbaiki karakteristik gel yang dihasilkan, baik dari segi tekstur, penurunan mutu karena sineresis maupun penerimaan konsumen terhadap produk. Dalam penentuan formulasi, dilakukan beberapa kombinasi konsentrasi penggunaan ekstrak cincau hijau dan alginat disamping bahan penyusun lainnya seperti CMC, pewarna dan sukrosa. Penggunaan CMC ditujukan untuk membantu mengentalkan formula gel yang akan dicetak sehingga menghasilkan produk gel yang lebih besar. Selain itu dengan adanya penembahan CMC diharapkan dapat mengurangi terjadinya sineresis dan membantu sifat fungsional alginat dalam pembentukan gelnya (Fardiaz, 1989). Sedangkan penambahan sukrosa dimaksudkan untuk menghasilkan rasa manis dan meningkatkan kekentalan formula gel. Menurut Angalett (1986), kekuatan pecah adalah besarnya kekuatan 2 (g/cm ) yang dibutuhkan untuk memecahkan gel sedangkan titik pecah merupakan dalamnya penetrasi saat gel pecah. Menurut Fry dan Hudson (1983), rigiditas adalah besarnya kemiringan kurva pertama yang terbentuk atau dapat pula dinyatakan sebagai perbandingan antara beban pada saat gel pecah (g) dengan dalamnya penetrasi (cm). Berdasarkan hasil penelitian terhadap kombinasi konsentrasi ekstrak cincau dan alginat yang digunakan menghasilkan nilai rigiditas seperti pada Gambar 1.

Seminar Nasional Pangan Fungsional

147

200 Rigiditas (g/cm) 160 120 80 40 0


alginat 1 ,5% cincau 2% alginat 1 ,75% cincau 2% alginat 1 ,5% cincau 3% alginat 1 ,75% cincau 2%

tidak aerasi aerasi

Form ula Gel

Gambar 1. Histogram Pengaruh Formula Gel dan Aerasi Terhadap Rigiditas Produk Gel.

Berdasarkan hasil penelitian, kombinasi konsentrasi terbaik diperoleh dari produk gel tidak aerasi dengan formula campuran alginat 1,75% dan cincau 2% dengan nilai kekuatan pecah, titik pecah dan rigiditas secara berturut-turut yaitu 2 482,32 g/cm , 0,22 cm dan 155,86 g/cm. Dengan adanya penambahan alginat akan meningkatkan jumlah polimer khususnya blok guluronat yang akan diikat oleh ion kalsium sehingga menghasilkan gel yang lebih kuat. Menurut Onsoyen (1992), kapasitas pembentukan gel dan kekuatan gel berkaitan dengan jumlah blok guluronat dan panjangnya rata-rata blok guluronat. Kandungan blok guluronat yang tinggi dan panjang akan memberikan alginat yang bersifat reaktif terhadap ion kalsium dan memiliki sifat pembentukan gel yang kuat.

KESIMPULAN DAN SARAN Tanaman cincau merupakan salah satu tanaman asli Indonesia yang telah banyak diteliti baik dari segi anatomi tanaman, teknologi pengolahan, nilai nutrisi maupun komponen bioaktif yang terkandung didalamnya yang ternyata memiliki nilai fungsional yang sangat tinggi. Dalam rangka menaikkan nilai jual cincau, dapat dilakukan dengan cara meningkatkan nilai tambah produk baik dari segi organoleptik maupun nilai fungsional serta melakukan derivatisasi produk dari ekstrak cincau itu sendiri.

DAFTAR PUSTAKA Ananta, E. 2000. Pengaruh Ekstrak Cincau Hijau (Cyclea barbata L. Miers) terhadap Poliferasi Alur Sel Kanker K-562 dan Hela. Skripsi. IPB, Bogor. Angalett, S. A. 1986. Evaluation of the Voland-Stevens LFRA Texture Analyzer for Measuring the Strenght of Pectin Sugar Jellies. J. Texture Studies 17:8796. Anonimous, 2003. Cincau Hijau Baik Bagi Penderita Kanker. www.Kompas.com.

Seminar Nasional Pangan Fungsional

148

2002. Cincau Hijau: Kendalikan Tekanan Darah Tinggi. www.Kompas.com. Astawan, M. 2002. Cincau Hitam, Pelepas Dahaga. Majalah Sedap Sekejap, Jakarta. DepKes. 1972. Komponen Gizi Daun Cincau. Dir Gizi-Dep Kes. Fardiaz, D. 1989. Laboratorium Kimia dan Biokimia Pangan. PAU Pangan dan Gizi IPB, Bogor. Fry, J. C. dan J. B. Hudson. 1983. Development of Penetrometer Test of The Gel of Jam. Research Report. The British Food Manufacturing Industries Research Association. Handayani, D. M. 2000. Pengaruh Ekstrak Cincau Hijau Terhadap Produksi Radikal Bebas Makrofag Mencit Secara in Vitro. Skripsi IPB, Bogor. Koessitoresmi, A. 2002. Kapasitas Antioksidan Ekstrak Batang dan Daun Cincau Hijau (Cyclea Barbata L. Miers) pada Sel Limfosit Manusia Secara in Vitro. Skripsi Fakultas Teknologi Pertanian IPB, Bogor. Onsoyen, I. 1992. Alginates. Di dalam Imeson, A. (ed). Thickening and Gelling Agents for Food, Blackie Academic and Professional, London. Pandoyo, A. S. 2000. Pengaruh Aktivitas Ekstrak Tanaman Cincau Hijau (Cyclea barbata L. Miers) Terhadap Proliferasi Sel Limfosit Darah Tepi Manusia Secara in Vitro. Skripsi IPB, Bogor. Pitojo, S. 1998. Aneka Tanaman Bahan Camcau. Penerbit Kanisius, Yogyakarta. Rachmini, M. 2000. Mempelajari Efek Penghambatan Ekstrak Tanaman Cincau Hijau (Cyclea barbata L. Miers) Terhadap Alergi. Skripsi IPB, Bogor. Setyaningtyas, W. N. Andarwulan, dan D. Fardiaz, 2000. Karakteristik Pembentukan Gel Campuran Hidrokoloid Cincau Hijau Dan Alginat. Prosiding Seminar Nasional Industri Pangan. Sunanto, H. 1995. Budidaya Cincau. Penerbit Kanisius, Yogyakarta. Syamsuhidayat, S. S. dan J. R Hutapea. 1991. Inventaris Tanaman Obat Indonesia. Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan R. I. Bogor. Zakaria, F. 2003. Tak Sekedar Minuman Segar. www.Gatra.com.

Anonimous,

Seminar Nasional Pangan Fungsional

149