Anda di halaman 1dari 2

PEMBAHASAN Pada praktikum kali ini, praktikan melakukan percobaan pemeriksaan kadar asam urat dalam darah.

Penentuan kadar asam urat ini bermanfaat untuk mempelajari ketepatan mendiagnosa penyakit, sehingga perlakuan pengobatan/terapi farmakologis maupun nonfarmakologis, pencegahan, dan skrining kesehatan dapat dilakukan dengan tepat. Pengukuran kadar urat perlu dilakukan karena peningkatan kadar urat dalam darah berarti meningkatnya resiko terakumulasinya kristal urat dalam jaringan dan menjadi gejala awal arthritis gout. Penentuan kadar asam urat dapat dilakukan dengan metode kolorimetri dan enzimatik. Dalam percobaan ini metode yang digunakan adalah menggunakan metode enzimatik. Pemilihan metode enzimatik dikarenakan metode ini memiliki berbagai macam kelebihan dibandingkan metode kolorimetri. Pada metode kolorimetri reaksinya kurang spesifik karena dapat terganggu oleh senyawa lain misalnya bilirubin. Adanya billirubin dapat mengganggu pembacaan absorbansi pada spektrofotometri karena billirubin merupakan senyawa yang memiliki pigmen warna kuning, sehingga apabila dalam sampel terdapat billirubin maka warna yang dihasilkan akan berbeda dan absorbansi yang terbaca juga akan berbeda. Pemeriksaan kadar asam urat dilakukan secara triplo. Fungsi dilakukan secara triplo yaitu untuk mempersempit kesalahan data dengan cara membandingkan hasil pengulangan, dimana pengulangan yang satu dan yang lain hasil yang diperoleh tidak boleh berbeda signifikan. Absorban yang diukur yaitu absorbansi spesimen, standar, dan blanko. Pelarut yang digunakan aquadest, larutan standar, dan reagen warna yang digunakan 4-aminiantipirin, DHBS serta menggunakan enzim urikase dan hidrogen peroksidase. Setelah campuran dibuat sesuai dengan prosedur, campuran dibiarkan selama 10 menit di suhu ruang yang bertujuan agar agar enzim-enzim yang digunakan dalam reaksi dapat bekerja secara optimal seperti berada pada kondisi dalam tubuh. Kemudian setelah 10 menit di ukur absorbansinya, semakin tinggi absorbansi maka semakin banyak asam urat yang terkandung dalam darah. Setelah diukur dengan spektrofotometri, pada larutan standar 1 didapat absorbansi sebesar 0,257, larutan standar 2 didapat absorbansi sebesar 0,221 dan larutan standar 3 didapat absorbansi sebesar 0,224. Pada larutan uji 1 diperoleh absorbansi sebesar 0,205, pada larutan uji 2 diperoleh absorbansi 0,295 dan pada larutan uji 3 diperoleh absorbansi sebesar 0,460. Dilihat

dari nilai absorbansi yang diperoleh dari ketiga pengujian, nilainya memenuhi persyaratan dimana nilai yang didapat berada pada rentang 0,2 sampai 0,8. Namun nilai absorbansi yang didapat pada larutan uji 3 berbeda jauh dengan nilai absorbansi larutan uji 1 dan larutan uji 2, hal tersebut dapat disebabkan oleh terlalu pekatnya pengambilan serum pada saat percobaan. Berdasarkan hasil percobaan dan setelah dibandingkannya absorbansi larutan uji dan larutan standar, didapatkan kadar asam urat dari rata-rata seluruh pengujian adalah 6,639 mg/dL, standar deviasinya 2,683 mg/dL. Standar deviasi merupakan salah satu teknik statistik yg digunakan untuk menjelaskan homogenitas kelompok. Standar deviasi merupakan variasi sebaran data, semakin kecil nilai standar deviasi maka semakin homogen data yang didapatkan dan semakin besar nilai standar deviasi, maka data yang dihasilkan kurang homogen atau bervariasi. Dari standar deviasi tersebut maka didapat nilai simpangan baku relatif (SBR) sebesar 40,4%. Sehingga dapat disimpulkan data yang didapat pada percobaan tidak presisi karena SBR <2%.

KESIMPULAN Nilai absorbansi yang didapat pada larutan uji 3 berbeda jauh dengan nilai absorbansi larutan uji 1 dan larutan uji 2, hal tersebut dapat disebabkan oleh terlalu pekatnya pengambilan serum pada saat percobaan. Berdasarkan hasil percobaan dan setelah dibandingkannya absorbansi larutan uji dan larutan standar, didapatkan kadar asam urat dari rata-rata seluruh pengujian adalah 6,639 mg/dL, standar deviasinya 2,683 mg/Dl dan simpangan baku relatif 40,4% Data yang didapat pada percobaan tidak presisi karena SBR <2%.