Anda di halaman 1dari 16

Semikonverter Satu Fasa Semikonverter adalah penyearah terkendali yang bekerja pada satu kuadran sehingga tegangan dan

arus keluarannya hanya berharga positif. Semikonvereter satu fasa adalah penyearah terkontrol yang merupakan penggabungan antara penyearah terkontrol dan penyearah tak terkontrol. Penyearah ini juga disebut half control rectifier seperti terlihat pada gambar 2.10

Gambar 2.10 Semikonverter satu fasa (Rashid,1999) Jembatan semikonverter paling banyak digunakan karena alasan ekonomi Jembatan ini digunakan pada kondisi tertentu yang tidak memerlukan penyearah gelombang penuh terkendali. Hal ini akan menghemat biaya karena harga dioda yang lebih murah dari SCR. Konfigurasi jembatan memerlukan jumlah elemen saklar dua kali dari konfigurasi mid point (hanya satu terminal yang menuju ke output DC). Jembatan ini terdiri dari common katoda (katoda SCR yang dihubung bersama) dan common anoda (anoda dioda yang dihubung bersama) terlihat pada gambar 2.10. Pada konfigurasi jembatan, arus DC mengalir secara bersama melewati dua elemen pensaklaran; satu pada common katoda dan lainnya pada common anoda. Hal ini tidak menguntungkan dibanding konfigurasi mid point. Tetapi keuntungan lainnya dari konfigurasi ini adalah tidak memerlukan transformator, yang berarti penghematan bentuk dan ukurannya. Tetapi transformator mungkin masih diperlukan jika isolasi antara sisi AC dan DC dibutuhkan. Transformator ini digunakan untuk menaikkan dan menurunkan tegangan AC, yang berarti menyediakan tegangan AC yang berbeda-beda sesuai kebutuhan tegangan Dcnya[7].

A. PENDAHULUAN Penyearah terkendali (controlled rectifier) atau sering juga disebut dengan konverter merupakan rangkaian elektronika daya yang berfungsi untuk mengubah tegangan sumber masukan arus bolak-balik dalam bentuk sinusoida menjadi tegangan luaran dalam bentuk tegangan searah yang dapat diatur/ dikendalikan. Komponen semikonduktor daya yang digunakan umumnya berupa SCR yang beroperasi sebagai sakelar, pengubah, dan pengatur. Jenis sumber tegangan masukan untuk mencatu rangkaian konverter dapat digunakan tegangan bolak-balik satu fasa maupun tiga fasa. Konverter satu fasa merupakan rangkaian penyearah daya dengan sumber masukan tegangan bolakbalik satu fasa, sedangkan konverter tiga fasa rangkaian penyearah daya dengan

sumber masukan tegangan bolak-balik tiga fasa. Berbeda dengan penyearah daya, dalam rangkaian konverter dapat dilakukan dalam bentuk penyearahan terkendali setengah gelombang (halfwave), penyearah gelombang-penuh (fullwave), dan semikonverter. Pembebanan pada rangkaian penyearah terkendali juga dipasang beban resistif atau beban resistif-induktif.

Untuk setengah siklus positif dari tegangan sumber thyristor T mengalami tegangan arah maju yang menyebabkan thyristor konduksi (on state), dan akan aktif mulai dari menyebabkan mengalirnya arus pada beban,

t = dan
sekaligus

menyebabkan tegangan pada sisi beban R. masukan berubah arah ke negative pada

Bila tegangan

t = , thyristor

mengalami tegangan arah balik dan menyebabkan thyristor berubah dari keadaan on ke keadaan off (off state). Sudut perlambatan penyalaan

,didefinisikan sebagai waktu yang

dibutuhkan oleh tegangan masukan berubah menjadi negatife dimana pada saat tersebut thyristor dinyalakan.

Gambar 5.1 Penyearah Terkendali 1 fasa Gelombang beban Resistor (R) Tegangan rata-rata keluaran Vdc ditentukan dengan persamaan berikut: The average output voltage Vdc is given by

Tegangan keluaran Vdc dapat divariasikan dari Vm/ to nol volt dengan cara memvariasikan sudut perlambatan penyalaan dari nol sampai dengan

Selanjutnya persamaan:

besarnya

tegangan

rms

diberikan

melalui

Konverter Daya 1 phasa tak terkendali berbeban R,L Seperti telah dijelaskan diatas bahwa, bila sumber energy masukkannya adalah 1 phasa maka konverter daya ini disebut sebagai konverter 1 phasa, yang berarti bahwa konverter daya ini merubah arus listrik bolak-balik 1 phasa menjadi arus searah. Pembebanan R,L pada rangkaian ini dimaksudkan agar mahasiswa mengerti dan memahami bahwa kedua beban tersebut dapat mewakili kondisi yang sebenarnya yaitu di Industri. Pada Kenyataannya beban R dan L ini adalah dapat diasumsikan sebagai beban Motor Listrik DC. Untuk jelasnya lihat gambar rangkaian converter daya 1 phasa berbeban R murni dan L (Induktor)

R L

Gambar.2.2. Rangkaian Konverter Daya 1 phasa berbeban R dan L Rangkaian pada gambar tersebut diatas adalah menggunakan diode semikonduktor 1 buah, sehingga bila tegangan inputnya adalah berbentuk sinusoidal maka keluaran dari converter daya ini adalah setengah gelombang sinus dan biasa disebut sebagai setengah gelombang tak terkendali (Half Wave Uncontrolled). V(t)

Gambar.2.3. Bentuk tegangan masukan Sinusoidal

Analisis rangkaian secara matematis dimana : ( ) Maka : [ ] = ..(2.1) ( )

Untuk beban R, maka akan diperoleh besarnya arus dc adalah : (2.2) Untuk beban L, maka akan diperoleh besarnya arus dc adalah :

....(2.3) Dan untuk beban campuran R dan L maka : (2.4) Hal ini dapat dilihat dari sinyal keluaran konverter daya 1 phasa setengah gelombang tak terkendali V(t) : Jadi besar arus dc-nya adalah

Gambar.2.4. Keluaran dari Konverter daya setengah gel. tak terkendali beban R Gambar diatas adalah keluaran dari konverter daya 1 phasa setengah gelombang tak terkendali dengan beban R murni, hal ini nampak bahwa diode ini hanya konduksi pada daerah 0 s/d , karena daerah /s/d 2 adalah dimana diode berada pada inverse bias, sehingga tidak ada arus listrik yang dapat lewat sampai pada beban R. V(t)

Gambar.2.5. Keluaran dari Konverter daya setengah gel. tak terkendali beban L Gambar ini adalah keluaran dari konverter daya 1 phasa tak terkendali dengan beban L dan bila diperhatikan diode konduksi pada daerah 0 s/d ( +), hal ini terjadi karena sifat dari L (inductor) yang dapat membuat besaran arus dapat berubah-ubah sebesar di/dt. Sebenarnya diode ini konduksi pada 0 s/d tetapi karena adanya perubahan arus sebesar di/dt maka hasilnya dapat dilihat pada gambar diatas. Selanjutnya untuk konverter daya 1 phasa tak terkendali gelombang penuh, bila daerah konduksi dari diode adalah dari 0 s/d dan dari s/d 2. Hal ini dapat terjadi bila diode yang digunakan lebih dari 1 buah dan dirangkai sedemikian rupa sehingga daerah-daerah tersebut dapat dipenuhi

D1

D2 Beban

D3

D4

Gambar.2.6. Rangkaian Konverter daya 1 phasa berbeban Gambar.2.6 adalah gambar rangkaian converter daya 1 phasa gelombang penuh dengan membuat rangkaian seperti ini maka akan terpenuhi daerah-daerah konduksi yang tersebut diatas tadi. Bila D1 dan D4 konduksi berarti daerah konduksi dari diode-diode ini adalah dari 0 s/d dan bila D2 dan D3 konduksi daerah konduksi dari diode-diode ini adalah dari s/d 2. Tetapi bila D1 dan D3 konduksi maka kondisi tersebut diatas tidak dapat dipenuhi atau juga bila D2 dan D1 konduksi. Hal seperti ini tidak akan

pernah terjadi selama semua diode semikonduktor ini berkerja dengan normal. Analisis rangkaian secara matematis dimana : ( ) Maka : [ ] = (2.5) ( )

Untuk beban R, maka akan diperoleh besarnya arus dc adalah : .(2.6) Untuk beban L, maka akan diperoleh besarnya arus dc adalah : .(2.7) Dan untuk beban campuran R dan L maka : : Jadi besar arus dc-nya adalah ..(2.8)

Hal ini dapat dilihat dari sinyal keluaran converter daya 1 phasa gelombang penuh tak terkendali. V(t)

Gambar.2.7. Keluaran Konverter Daya 1 phasa gel. penuh tak terkendali beban R

V(t)

Gambar.2.8. Keluaran Konverter Daya 1 phasa gel. penuh tak terkendali beban L II.2.2 Konverter Daya 1 phasa terkendali berbeban R,L Pada prinsip kerja dasarnya adalah sama saja antara konverter daya tak terkendali dengan yang terkendali, hanya komponen utamanya yang berbeda yaitu Thyristor. Pada jenis ini konverter daya dapat dikelompokan menjadi bila komponen utama yang digunakan untuk membangunnya adalah kombinasi diode semikonduktor dan Thyristor maka disebut sebagai converter daya semi terkendali dan bila komponen utamanya adalah semuanya Thyristor maka disebut sebagai converter daya terkendali penuh. Seperti yang telah dibahas terdahulu cara kerja Thyristor dan diode semikonduktor itu tidak jauh berbeda. Sebenarnya kedua komponen ini adalah memiliki sifat sebagai saklar elektronik. Jadi sekali konduksi akan tetap konduksi, hanya pada thyristor waktu

konduksinya dapat diatur-atur tergantung dari pemberian besarnya sudut triggernya.

Th1

D1 Beban

Th2

D2

Gambar .2.9. Rangkaian Konverter Daya 1 phasa semi terkendali berbeban

Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa dalam rangkaian ini terdiri dari dua macam komponen yaitu Diode semikonduktor dan Thyristor. Dan bila Th1 dan D2 konduksi Th2 tidak konduksi hal ini terjadi karena polaritas katode dari Th2 adalah positip dan daerah konduksinya adalah dari 0 s/d dan demikian juga bila Th2 dan D1konduksi D2 tidak dapat konduksi karena polaritas katode dari diode ini adalah positip dan daerahnya adalah dari a/d 2. Untuk rangkaian converter daya 1 phasa semi terkendali analisis secara matematisnya adalah sama dengan pada rangkaian converter daya 1 phasa gelombang penuh terkendali. Dan pada gambar berikut ini adalah gambar dari rangkaian Konverter Daya 1 phasa yang komponen utamanya adalah Thyristor dan rangkaian ini disebut sebagai Konverter Daya 1phasa terkendali penuh. Konverter daya jenis ini pada prisipnya adalah sama dengan pada gambar.2.9.

Th1

Th2 Beban

Th3

Th4

Gambar.2.10. Rangkaian Konv Daya 1 phasa terkendali penuh berbeban Analisis rangkaian secara matematis dimana : ( ) Maka : [ ..(2.9) Untuk beban R, maka akan diperoleh besarnya arus dc adalah : ] ( )

.(2.10) Untuk beban L, maka akan diperoleh besarnya arus dc adalah :

(2.11) Dan untuk beban campuran R dan L maka : ..(2.12) : Jadi besar arus dc-nya adalah

Hal ini dapat dilihat dari sinyal keluaran konverter daya 1 phasa gelombang penuh terkendali.

Bila Thyristor Th1 di-trigger pada = 00 V(t)

Bila Thyristor Th1 di-trigger pada = 900 V(t)

/2

3/2

Bila Thyristor Th1 di-trigger pada = atau 1800 V(t)

/2

3/2

Gambar.2.11. Keluaran Konverter Daya 1 phasa terkendali