Anda di halaman 1dari 11

Kelompok sekian

Anggota: Muhlisin (I21110007) Sri Amalia (I21110023) Wendy(I21110038) Riswanda Yulianti (I21110041) Melda Mery A. (I21110043)

Ibu Julia (56 tahun) pergi ke klinik untuk melakukan General check up tahunan. Ibu Julia merasa baik-baik saja, tidak ada keluhan apapun. Tidak merokok maupun konsumsi alkohol.Adapun riwayat pengobatannya adalah sebagai berikut: -Hipertensi selama kurang lebih 24 tahun -Osteoartritis pada lutut -Rhinitis alergi musiman -Kaki sering keram -Morbid obesity (BMI 35.6 kg/m2) Pengobatan yang sedang/ pernah dijalani : Enalapril 10 mg BID ; OTC potassium gluconate 595 mg sprn ;Difenhidramin 25-50 mg sprn; Ibuprofen 200 mg sprn

Misal diasumsikan tinggi badan ibu Julia = 160 cm. Maka dengan BMI index 35,6 bobot badan ibu Julia adalah 92,5 kg.

Finding (Masalah/Keluhan pasien, termasuk data laboratorium)

Assessment (Terapi yg sudah diberikan, masalah efek samping yang mungkin terjadi, kesesuaian atau ketidaksesuaian dg gejala/masalah)

Recommendation (Hal-hal yg direkomendasikan utk mengatasi masalah, mengoptimalkan terapi baik farmakologi dan non farmakologi) - Diberi obat anti obesitas, yaitu Orlistat (Xenical) dosis 120 mg 1x sehari diberikan segera sebelum, saat, hingga 1 jam setiap makan besar (maks 360mg/hari)

Monitoring (Hal-hal yang perlu dipantau selama menjalankan terapi yang direkomendasikan)

Ibu Julia (56 tahun) Keluhan : tidak ada Diagnosis: Obesitas Riwayat pengobatan: -Hipertensi selama kurang lebih 24 tahun -Osteoartritis pada lutut -Rhinitis alergi musiman -Kaki sering keram --Morbid obesity (BMI 35.6 kg/m2) Pengobatan: Enalapril 10 mg BID ; OTC potassium gluconate 595 mg sprn ;Difenhidramin 25-50 mg sprn; Ibuprofen 200 mg sprn

Menurut CDC (2011) dan WHO (2011) batas ambang untuk orang dewasa yang dikatakan overweight, apabila memiliki IMT 25-29,9. Sedangkan orang dewasa yang dikatakan obesitas apabila ia memiliki IMT lebih dari atau sama dengan 30. Untuk menentukan berat badan normal, WHO membagi batas ambang laki-laki berbeda dengan perempuan. IMT bernilai 20,125,0 adalah ambang batas berat badan normal untuk laki-laki dan 18,7-23,8 untuk berat badan normal perempuan.

Hubungan Obesitas Rinitis Alergi


Pada orang dengan kelebihan berat badan atau obesitas memiliki kadar leptin dalam serum lebih tinggi daripada orang yang kurus. Keadaan ini disebabkan karena kadar leptin serum meningkat sesuai dengan peningkatan masa lemak tubuh. Subjek penelitian dengan kelebihan berat badan atau obesitas memiliki derajat rinitis alergi lebih berat 6 kali lipat dibandingkan berat badan normal. Leptin, hormon yang diproduksi sel adiposit, diduga berpengaruh pada rinitis alergi. Leptin mampu meningkatkan sel B dan IgE. Selain itu, leptin juga berperan pada proses inflamasi saluran napas termasuk memperpanjang masa hidup eosinofil.

Jaringan lemak pada orang yang mengalami obesitas merupakan sumber mediator inflamasi dan diperkirakan memiliki pengaruh pada patofisiologi alergi. Leptin merupakan hormon yang disekresi terutama oleh jaringan lemak.

Hubungan Obesitas Hipertensi


Walaupun sebagian besar data tentang patofisiologi hipertensi diperoleh dari penelitian hewan dan dari penelitian orang dewasa, mekanisme hipertensi pada anak obes telah diteliti dengan baik. Kebanyakan penelitian pada anak dipusatkan pada 3 mekanisme utama patofisiologi yaitu gangguan dalam fungsi autonomik, resistensi insulin, dan adanya kelainan struktur dan fungsi vaskular. Hubungan obesitas dan tekanan darah mungkin diperantarai oleh hiperaktivitas sistem saraf simpatetik.

Hiperaktivitas sistem saraf simpatetik termasuk manifestasi kardiovaskular seperti peningkatan denyut jantung dan tekanan darah yang bervariasi, manifestasi neurohumoral seperti peningkatan kadar plasma katekolamin, dan manifestasi neural berupa peningkatan saraf simpatik perifer. Penelitian jantung di Bogalusa menyatakan denyut jantung pada waktu istirahat secara positif berhubungan dengan tekanan darah dan ketebalan lipatan kulit. Keadaan hiperdinamik kardiovaskular berhubungan dengan beratnya keadaan obesitas.

Hubungan Obesitas Osteoarthritis


Berat badan sering dikaitkan sebagai faktor yang memperparah OA pasien. Pada sendi lutut, dampak buruk dari berat badan berlebih dapat mencapai empat hingga lima kali lebih besar sehingga mempercepat kerusakan struktur tulang rawan sendi. Studi lain dari peneliti kesehatan masyarakat University College London menyimpulkan bahwa obesitas meningkatkan risiko terjadinya OA lutut hingga tujuh kali pada wanita. Kemungkinan terjadinya OA pada salah satu lutut pasien obese malah mencapai 5 kali lipat dibandingkan dengan pasien yang Non Obese. Fakta tersebut menyimpulkan bahwa obesitas merupakan suatu faktor risiko terjadinya OA, terutama pada sendi lutut (Arthritis Research Campaign, 2007).

Keram Otot
Keram otot disebabkan oleh efek samping dari pengobatan sebelumnya, yang menggunakan Enalapril sebagai terapi hipertensi yang diderita ibu Julia.