Anda di halaman 1dari 26

KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan hidayah-Nya, sehingga

laporan praktikum Anatomi dan Fisiologi Hewan yang berjudul Indera Perasa dan Indera Pembau ini dapat diselesaikan dengan baik. Penyelesaian laporan praktikum ini, tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak. Oleh karena itu, kami menyampaikan terima kasih kepada: 1. Asisten-asisten praktikum yang telah membimbing selama praktikum berlangsung 2. Probandus Tyas, Febby, dan Lidia beserta seluruh asisten probandus karena telah bersedia mengikuti serangkaian uji dalam praktikum ini 3. Rekan-rekan jurusan Biologi dan pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu Sesuai dengan kata pepatah Tiada Gading yang Tak Retak maka saya menyadari bahwa masih banyak yang perlu diperbaiki dari laporan ini. Oleh karena itu, saran dan kritik senantiasa diharapkan dari pembaca demi kesempurnaan laporan ini. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya.

18 Oktober 2013

Penulis

3. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Tabel Hasil Pengamatan 3.1.1. Bintik Buta No. 1. 2. 3. Jenis Probandus Mata Normal Mata Minus Mata Silinder Jarak bintik buta 28 cm 45 cm 47 cm

3.1.2. Batas Konvergensi No. 1. 2. 3. Jenis Probandus Mata Normal Mata Minus Mata Silinder Jarak ketika gambar terlihat bersentuhan 50 cm 7 cm 2 cm

3.1.3. Astigmatisme Pertanyaan 1 2 3 4 5 6 Normal Tidak Lebar dan gelap tidak sama Ya Berbeda Memutar Garis tidak sama terang Probandus Minus tidak Gelap sama lebar sama Ya Sama Memutar Sama lebar sama terang Silinder Tidak Lebar beda, gelap sama Ya Sama Memutar Sama lebar. Sama terang

3.1.4. Persepsi terang No. 1. Jenis Probandus Mata Normal Persepsi Terang FM FB M: tidak warna M: hitam B: hitam B: biru muda Ber: hitam Ber: hitam

2 3.

Mata Minus Mata Silinder

M: tdk berwarna B: hitam Ber: abu-abu M: putih B: biru Ber: hitam

M: tetap B: t. berwarna Ber: merah M: pink B: putih Ber: merah

3.1.5. Entoptic Pupil No. 1. 2. 3. Jenis Probandus Mata Normal Mata Minus Mata Silinder Entoptic Pupil MT : besar MB: kecil MT : besar MB: kecil MT : besar MB: kecil

3.1.6. Buta Warna dan Fenomena Purkinje No. 1. 2. 3. Probandus Mata Normal Mata Minus Mata Silinder Buta warna Salah: 4 Benar: 17 Salah: 1 Benar: 20 Salah : 2 Benar : 19 Fenomena Purkinje Filter : 3 Bisa melihat warna Filter: 4 Bisa melihat warna Filter : 3 Bisa melihat warna

3.1.7. Efek Setelah Melihat Warna No. 1. Jenis Probandus Mata Normal Entoptic Pupil Biru >> Kuning Hijau>>Merah Kuning>>Merah Merah>>Hijau Biru >> biru Hijau>>biru Kuning>>kuning Merah>>merah Biru >> biru

2.

Mata Minus

3.

Mata Silinder

Hijau>> hijau Kuning>>kuning Merah>>kuning 3.1.8. Pola Akibat Getaran Warna No. 1. Jenis Probandus Mata Normal Entoptic Pupil Sama : abu-abu D. biru : Pink D. merah: pink D. kuning: hijau muda Sama : kuning D. biru : biru D. merah: ungu D. kuning: orange/jingga Sama : abu-abu D. biru : abu-abu D. merah: coklat D. kuning: putih tulang

2.

Mata Minus

3.

Mata Silinder

3.1.9. Getaran Akibat Hasil Kerja No. 1. 2. 3. Jenis Probandus Mata Normal Mata Minus Mata Silinder Entoptic Pupil Searah : keluar-kedalam Berlawanan : kedalam Searah : keluar Berlawanan : keluar Searah : keluar Berlawanan : keluar

Keterangan : Normal : Tyas Dila R. Minus : Febby Nurdiya Silinder : Lidia Anggraeni.

3.2. Tabel Perlakuan 3.2.1. Bintik Buta No. Perlakuan 1. Mata kiri probandus ditutup dengan tangan 2. Gambar peraga diletakkan dihadapan probandus dengan jarak yang agak jauh 3. Probandus melihat focus pada bintang yang diatas dan gambar peraga semakin didekatkan 4. Dicatat jarak ketika probandus tidak dapat melihat bulan yang ada di sebelah bintang 3.2.2. Uji Mengetahui Waktu Sensasi No. Perlakuan 1. Gambar peraga di letakkan di hadapan probandus pada jarak tertentu 2. Gambar perlahan didekatkan kea rah mata (probandus focus melihat gambar) 3. Diperhatikan jarak ketika gambar tersebut tampak saling bersentuhan 3.2.3. Astigmatisme No. 1. 2. Perlakuan Gambar peraga diletakkan dihadapan probandus pada jarak tertentu Probandus mengamati gambar dengan seksama Fungsi Perlakuan Untuk memberi jarak antara gambar peraga dengan probandus Untuk mengetahui pengamatan probandus Fungsi Perlakuan Untuk memberi jarak tertentu Untuk mengetahui jarak ketika gambar saling bersentuhan Untuk mendokumentasikan pada jarak berapa cm gambar saling bersentuhan Fungsi Perlakuan Agar hanya mata kanan yang bekerja dengan fokus Untuk menyiapkan jarak ketika gambar didekatkan Untuk mencari bintik buta

Untuk mendokumentasikan jarak bintik buta

3. 4.

(dalam mata terbuka keduanya) Probandus ditanyai beberapa pertanyaan tentang gambar Probandus mengamati gambar namun dengan mata salah satu tertutup Probandus kembali ditanyai dengan beberapa pertanyaan

terhadap gambar Untuk mengetahui pengamatan probandus terhadap gambar Untuk mengetahui pengamatan probandus terhadap gambar dengan mata satu tertutup Untuk mengetahui pengamatan probandus terhadap gambar

5.

3.2.4. Persepsi Terang No. 1. 2. Perlakuan Probandus memakai kacamata berfilter merah di kanan dan filter baru Filter merah ditutup dan probandus mengamati gambar yang ada di hadapannya Probandus ditanyai warna apa garis yang ditunjuk oleh asisten filter biru ditutup dan filter merah dibuka Probandus kembali mengamati gambar yang ada dan ditanyai warna apa garis yang ditunjuk Fungsi Perlakuan Sebagai variabel warna filter Agar probandus mengamati gambar dengan filter biru Untuk mengetahui persepsi probandus Agar probandus mengamati dengan filter biru Untuk mengetahui persepsi probandus jika melihat dengan filter merah

3. 4. 5.

3.2.5. Entoptic Pupil No. Perlakuan 1. Probandus memakai kacamata dengan bagian sebelah kanan terbuka dan bagian kiri ada Fungsi Perlakuan Sebagai variabel manipulasi untuk membandingkan efek

2. 3.

filter namun berlubang kecil Probandus focus melihat melalui lubang, sedangkan bagian sebelah kanan ditutup Kemudian bagian sebelah kanan dibuka. Dibandingkan perbedaan efeknya

Mengamati efek jika sumber cahaya sedikit Mengamati efek jika sumber cahaya banyak

3.2.6. Buta Warna dan Fenomena Purkinje No. Perlakuan 1. Probandus diperlihatkan lembar demi lembar tes buta warna dan menjawab bentuk yang dilihat 2. Menghitung kesalahan jawaban probandus. Jika jawaban yang salah lebih dari 30%, maka dinyatakan buta warna 3. Probandus memakai kacamata dengan filter berlapis 4. Lapis demi lapis filter dikurangi hingga probandus dapat melihat perbedaan warna gambar 3.2.7. Efek Setelah Melihat Warna No. Perlakuan 1. Probandus diberikan gambar peraga dengan warna merahkuning dan putih 2. Probandus focus mengamati warna merah dan kuning selama 30 kemudian berpindah megamati bagian warna putih 3. Diamati apa yang terjadi pada Fungsi Perlakuan Menunjukkan gambar peraga dan menjelaskan mekanisme uji Mengkondisikan probandus agar melihat warna Menguji warna apa yang Fungsi Perlakuan Untuk menguji apakah probandus mengalami buta warna atau tidak Untuk memastikan bahwa probandus menderita buta warna atau tidak Untuk menguji efek purkinje Untuk menguji efek purkinje

warna putih, warna apa yang terlihat ketika beralih melihat warna putih 3.2.8. Pola Akbat Getaran Warna No. Perlakuan 1. Rotor dengan 3 warna disiapkan dan dinyalakan dengan keadaan komposisi 3 warna seimbang) 2. Probandus mengamati warna apa yang nampak 3. Komposisi warna diubah menjadi dominan merah, lalu diamati warna yang terjadi ketika rotor berputar 4. perlakuan 3 diulangi kembali namun dengan komposisi warna yang dominan diganti warna kuning, lalu warna biru 3.2.9. Getaran Akibat Hasil Kerja No. Perlakuan 1. Rotor dengan gambar pola dinyalakan (digerakkan dengan arah searah jarum jam) 2. Probandus mengamati pola yang bergerak 3. Langah 1 dan 2 diulangi namun dengan arah rotor bergerak melawan arah jarum jam

terjadi ketika probandus mengalihkan pandangan

Fungsi Perlakuan Menyiapkan alat agar siap diamati Mengetahui warna persepsi probandus Menguji warna yang dihasilkan jika komposisi warna dirubah Menguji warna yang dihasilkan jika komposisi warna dirubah

Fungsi Perlakuan Menunjukkan gambar peraga dan menjelaskan mekanisme uji Mengkondisikan probandus agar melihat warna Menguji warna apa yang terjadi ketika probandus mengalihkan pandangan

3.3. Analisa Prosedur Dalam praktikum topik Indera Penglihatan dan Persepsi ini, terdapat beragam alat dan bahan yang digunakan. Alat dan bahan tersebut antara lain penggaris, gambar peraga bintik buta, kacamata berdiafragma, sampel cetakan, kacamata, filter merah dan biru, gambar sampel, kacamata berfilter abu-abu, sampel 2 warna, dua gambar peraga (warna merah-kuning-putih dan biruhijau-putih), rotor, 3 gambar peraga diskus, gambar peraga cakram spiral. Masing-masing bahan memiliki peran tersendiri. Sebagian besar uji membutuhkan gambar peraga untuk menguji penglihatan, karena gambar peraga merupakan rangsangan bagi indera penglihatan. Kacamata digunakan untuk mengkondisikan mata ketika melihat dalam keadaan terhalangin oleh benda tertentu. Rotor merupakan mesin penggerak untuk menggerakan gambar diskus sehingga perubahan warna yang terjadi dapat diamati oleh praktikan. Penggaris digunakan untuk mengukur jarak pada beberapa uji. Ada 9 macam uji yang dilakukan, yakni bintik buta, perimbangan entoptik pada pupil, astigmatisma, batas konvergensi, persepsi terang, buta warna dan fenomena purkinje,efek setelah melihat warna, pola akibat getaran warna, dan gerakan akibat hasil kerja. Tiap uji memiliki perlakuan yang berbeda-beda. Perlakuan-perlakuan tersebut memiliki fungsi masing-masing. Perlakuan dari tiap uji dan fungsinya dapat dilihat di tabel Perlakuan diatas. Berdasarkan pada tabel perlakuan, dapat diketahui bahwa ada beberapa perlakuan yang memiliki fungsi tertentu. Pada uji bintik buta, probandus diminta untuk melihat dengan satu mata saja. Hal tersebut dilakukan agar probandus hanya fokus melihat pada satu titik dengan satu mata. Dalam uji penglihatan, terkadang memang hanya butuh satu mata saja. Perlakuan paling mendasar yang ada di tiap uji, probandus diharuskan focus pada satu titik objek terlebih dahulu. Perlakuan ini bertujuan untuk menguji perubahan penglihatan dan persepsi. Pada uji buta warna, tiap probandus harus menjawab tes isilhara. Jika diakhir setelah probandus menjawab dan setelah

dihitung prosentase kesalahan menunjukkan lebih dari 30%, dinyatakan bahwa probandus tersebut mengalami buta warna. Dalam setiap uji, apapun hasil yang dikatakan oleh probandus, harus dicatat dengan benar. Tidak boleh ada data yang dimanipulasi karena data tersebut menunjukkan faktor persepsi tiap probandus. Pada praktikum ini, dipilih 3 jenis probandus, yakni wanita bermata normal, wanita bermata minus, dan wanita bermata silinder. Pemilihan 5 jenis probandus ini didasarkan pada faktor-faktor yang diduga mempengaruhi kemampuan penglihatan. Sehingga dengan menguji pada 3 jenis probandus, praktikan dapat mengetahui apakah ada hubungan antara kemampuan melihat dengan keadaan mata. 3.4. Analisa Hasil Dalam uji bintik buta, probandus dengan mata normal memiliki jarak bintik buta paling kecil. Yang perlu diketahui adalah bahwa bintik buta merupakan efek dari pembiasan cahaya dari suatu benda jatuh tidak tepat di bintik kuning, namun di bintik buta. Hal ini disebabkan oleh sudut pembiasaan yang dibentuk terlalu besar sehingga bayangan jatuh di bintik buta, dimana tidak terdapat sel batang dan sel kerucut yang menerima impuls. Pada umumnya jarak bintik buta tiap orang sama, namun ada beberapa faktor yang mungkin mempengaruhi jarak bintik buta. Faktor-faktor tersebut seperti kelainan yang terjadi pada mata, dimana bayangan tidak jatuh di daerah yang tepat (Hecht, 2002) Semakin jauh batas bintik buta pada seseorang maka semakin sehat mata orang tersebut. Hal ini berkaitan dengan kenyataan bahwa bintik buta merupakan tempat dimana jatuhnya bayangan yang dibuat oleh retina. Sehingga semakin jauh batas bintik buta seseorang menunjukkan semakin sehat mata seseorang tersebut (Dispopoulus, 2003). Berdasarkan pada tabel hasil pengamatan, diketahui pada probandus bermata normal, batas konvergensinya paling jauh dibandingkan dengan probandus lainnya. Batas konvergensi merupakan jarak terdekat dimana seseorang melihat pada suatu benda dengan focus. Sensasi atau persepsi yang muncul ketika benda tersebut terlihat menyatu pada jarak tertentu (terdekat

dengan mata) disebut binocular fusion. Hal tersebut merupakan hasil perimbangan dari kedua mata yang membentuk susut tertentu ketika melihat focus pada satu benda. Semakin didekatkan, dua benda tersebut akan terlihat menyatu. Normalnya batas konvergensi mencapai 5 cm. faktor umur sangat mempengaruhi batas konvergensi seseorang. Semakin berumur, batas konvergensinya semakin jauh (Dragoi, 2013) Batas konvergensi seseorang juga dipengaruhi oleh daya akomodasi. Daya akomodasi akan membentuk suatu bulatan. Daya akomodasi merupakan hasil kontraksi dari otot ciliary. Saat otot ciliary relaksasi maka akan terjadi pelebaran pada bulatan tersebut. Relaksasi akan menyebabkan tensi pada benang zonular di ligamen suspensor dan akhirnya lensa akan lebih datar. Jika objek mendekati mata makan otot ciliary akan berkontraksi sehingga bulatan pada ciliary body akan menyempit dan mereduksi tensi pada benang zonular makan lensa pun akan membulat dan convex (Fox,2004). Berdasarkan pada hasil uji astigmatisme, ada kejanggalan pada data. Astigmatisme merupakan kelainan mata yang disebabkan oleh kelainan lengkung kornea dimana mata tidak dapat melihat sesuatu tidak focus dan terjadi kelainan refraksi. Penderita astigmatisme biasanya tidak bisa membedakan garis lurus. Pada ketiga probandus, seharusnya yang menunjukkan hasil positif terhadap astigatisme adalah probandus bermata silinder. Namun dalam beberapa poin, probandus tersebut tidak menunjukkan hasil positif. Sedangkan pada probandus bermata normal dalam beberapa poin, menunjukkan hasil positif terhadap astigmatisme, seperti melihat garis yang gelapnya tidak sama (Soewolo, 2005) Pada uji persepsi terang, sebagian besar hasil menunjukkan, persepsi terang pada probandus silinder yang paling berbeda dengan probandus lainnya. Yang paling menonjol perbedaannya ialah pada uji dengan filter merah. Selsel batang dan sel-sel kerucut merupakan suatu bagian pada retina dimana sel batang sangat sensitif terhadap cahaya dan dapat menangkap cahaya yang lemah seperti cahaya dari bintang di malam hari, tetapi sel itu tidak dapat membedakan warna. Berkat sel batang kita dapat melihat hal-hal di sekitar kita di malam hari, tetapi hanya dalam

nuansa hitam, abu-abu, dan putih. Sel kerucut dapat melihat detail obyek lebih rinci dan membedakan warna tetapi hanya bereaksi terhadap cahaya terang. Kedua jenis sel tersebut berfungsi saling melengkapi sehingga kita bisa memiliki penglihatan yang tajam, rinci, dan beraneka warna (Sherwood, 2008). Pada uji entoptic pupil, semua probandus mengalami hal yang sama. Hal tersebut sangat normal karena ketika cahaya sedikit, pupil akan membesar dan jika cahaya dalam intensitas banyak, makan pupil akan menyempit (Montgomery, 2013) Entoptic sendiri merupakan efek visual yang berasal dari dalam mata itu sendiri. Sesuai dengan kondisi cahaya yang jatuh pada mata dapat yang membuat obyek tertentu dapat terlihat oleh mata. Gambar entoptic memiliki dasar fisik di cor gambar pada retina. Oleh karena itu, efek persepsi muncul dari interpretasi gambar yang dihasilkan oleh otak. Karena dalam gambar entoptic disebabkan oleh fenomena dalam mata pengamat sendiri, yang berbagi satu fitur dengan ilusioptic dan halusinasi. Pengamat tidak dapat berbagi pandangan langsung dan spesifik dari fenomena dengan orang lain (Brown, 2000). Pada uji buta warna, probandus 1 (mata normal) memiliki prosntase kesalahan sebesar 19,05 %, sedangkan pada probandus 2 (mata minus) kesalahan sebesar 4,76 % dan pada probandus 3 (mata silinder) kesalahan sebesar 9,5%. Bedasarkan prosentase kesalahan tersebut, ketiganya tidak ada yang mengalami buta warna karena seseorang divonis buta warna jika kesalahannya lebih dari 30%. Jika dibandingkan dengan hasil uji buta warna pada pria, rata-rata pria tidak bisa membedakan antara warna hijau dan merah. Hal ini ditemukan hampir di setiap laki-laki karena gen yang mengkodekan opsin (transmembran protein) penyerapan merah dan hijau terletak di kromosom X. Normalnya kromosom X membawa cluster dari gen opsin 2 ke 9. Karena adanya multiple mutasi sehingga gen red-absorbing dan green-absorbing tidak ada. Laki-laki memiliki 9 salinan gen opsin red-encoding dan green-encoding. Sekuens dari green-gene dan red-gene terdapat pada nukleutida sekitar 98%. Karena prosentasenya yang tinggi ini maka akan terjadi mutasi yang riskan saat meiosis melalui crossing over (Sherwood, 2008)

Sedangkan pada uji fenomena purkinje didapatkan hasil bahwa, dari semua probandus didapatkaan rata-rata fenomena purkinje terjadi pada filter keempat. Efek purkinje adalah berkurangnya sensitivitas retina terhadap cahaya dengan gelombang cahaya yang pendek (Ungu, biru, hijau) atau berkurangnya korespodensi penurunan sensitivitas untuk cahaya yang memiliki panjang gelombang panjang (kuning,Jingga dan merah). Contoh efeknya adalah pada saat senja, bunga merah dan biru memiliki kecerahan yang sama tetapi melalui efek purkinje keduanya akan terlihat tidak sama (visualillusion, 2011). Berdasarkan pada hasil uji, sebagian besar ketika probandus melihat warna kemudian berpindah ke layar berwarna putih, akan terlihat warna pada saat melihat warna putih. Hal ini menunjukkan bahwa melihat warna akan memberikan efek pada penglihatan selanjutnya, dimana ini dapat terjadi karena sebuah ilusi dari aktivitas melihat warna sebelumnya. Ilusi optis adalah ilusi yang terjadi karena kesalahan penangkapan mata manusia. Salah satu ilusi optis adalah ilusi fisiologis. Ilusi fisiologis terjadi pada kesan gambar setelah melihat cahaya yang sangat terang atau melihat pola gambar tertentu dalam waktu lama. Hal ini diduga merupakan efek yang terjadi pada mata atau otak setelah mendapat rangsangan tertentu secara berlebihan (Lydia, 2011). Bedasarkan hasil uji pola akibat getaran warna, didapatkan hasil yang berbeda-beda dari tiap probandus. Hal tersebut bergantung pada persepsi tiap probandus akan warna yang dihasilkan oleh gabungan dari komposisi warna. Hal tersebut merupakan efek halusinasi ketika mata melihat benda yang bergerak cepat. Mata manusia tidak mampu untuk melihat benda bergerak cepat namun mampu menginterpretasikan lajurnya. Benda yang bergerak cepat tersebut akan terlihat menyatu jika telah diinterpretasikan oleh otak kita. Warna yang dihasilkan merupakan hasil penyatuan dari komposisi warna yang ada pada cakram (Wisnu,2010). Berdasarkan pada hasil uji getaran akaibat hasil kerja, didapatkan hasil diantara ketiga probandus, dua diantaranya menunjukkan hasil sama. Sedangkan pada probandus bermata normal, hasilnya paling beda. Fakta ini dapat terjadi kemungkinan karena faktor persepsi penglihatan tiap orang yang berbeda. Selain

itu juga faktor konsentrasi tiap orang ketika melihat gambar yang berputar. 3.5. Pembahasan Tambahan 3.5.1. Macam-Macam Kelainan pada Mata

Ada beberapa kelainan mata yang sudah sering kita kenal. Diantaranya adalah mata miopi (rabun jauh), yaitu cacat mata yang disebabkan oleh bola mata terlalu panjang sehingga bayang-bayang dari benda yang jaraknya jauh akan jatuh di depan retina. Mata miopi hanya mampu melihat jelas jarak dekat, sedangkan benda-benda jauh tidak tampak jelas. Miopi sering juga disebut rabun jauh. Hal ini terjadi karena ukuran biji mata dari belakang sampai ke depan melebihi ukuran yang normal, sehingga lensa akan memfokuskan bayangan di depan retina mata. Miopi disebabkan jarak titik api lensa mata terlalu pendek atau lensa mata terlalu cembung atau garis tengah mata panjang. Titik api adalah pusat pertemuan sinar yang sudah dipecah oleh lensa. Jadi, sinar yang masuk jatuh di depan retina sehingga mata tidak dapat melihat benda jauh. Untuk menolong penderita miopi (rabun jauh) harus menggunakan kacamata dengan lensa cekung (negatif). Lensa cekung ini akan menempatkan bayangan tepat pada retina. Miopi biasa terjadi pada anak-anak.

Gambar 1. Myopi

(Medisiana, 2013)
Mata hipermetropi (rabun dekat), yaitu kelainan mata dimana bayangan yang dibentuk oleh lensa jatuh dibelakang retina. Kelainan ini terjadi karena lensa mata terlalu pipih atau garis tengah mata pendek. Kelainan ini hanya mampu melihat jelas jarak jauh, sedangkan benda-benda dekat tidak tampak jelas. Hipermetropi atau rabun jauh terjadi karena ukuran biji mata dari belakang sampai ke depan adalah pendek atau kecil, sehingga lensa memfokuskan bayangan di belakang retina. Titik api lensa berada di belakang retina sehingga mata tidak dapat melihat benda-benda yang dekat. Sehingga, penderita hipermetropi harus menggunakan kacamata berlensa cembung (positif). Dengan lensa cembung, sinar yang jatuh di belakang retina akan dikembalikan tepat pada retina. Presbiopi (mata tua), yaitu kesalahan akomodasi yang terjadi pada orang tua atau orang yang sudah menginjak usia lanjut. Lensa mata kehilangan elastisitasnya, daya lenting berkurang, sehingga tidak dapat memfokuskan bayangan sebuah benda yang berada dekat dengan mata. Penderita ini tidak dapat melihat benda dekat dan tidak dapat melihat benda jauh dengan jelas. Penderita ini harus menggunakan kacamata berlensa cekung dan cembung sekaligus. Astigmatisma, yaitu kesalahan refraksi yang terjadi karena berkas-berkas cahaya jatuh pada garis-garis diatas retina, bukan pada titik-titik tajam. Hal ini disebabkan adanya perubahan bentuk lekungan lensa/permukaan lensa mata mempunyai kelengkungan yang tidak sama, sehingga fokusnya tidak sama, akibatnya bayang-bayang jatuh tidak pada tempat yang sama. Mata astigmatisme hanya mampu melihat baris-baris tertentu. Disini, garis-garis vertikal lebih jelas daripada garis-garis horizontal. Keadaan ini dapat ditolong dengan menggunakan kacamata silindris, yaitu yang mempunyai beberapa fokus (jika bukan astigmatisme sejak lahir), untuk menambahkan bagian yang kurang cembung pada lensa mata yang abnormal tersebut.

Gambar 2. Astigmatisme (sbrgafatar, 2012) Katarak, yaitu buramnya dan berkurang alastisitasnya lensa mata, dapat menyerang sebagian atau keseluruhan lensa mata. Hal ini terjadi karena adanya pengapuran pada lensa. Pada orang yang terkena katarak pandangan menjadi kabur dan daya akomodasi berkurang. Dapat disebabkan oleh kekurangan vitamin B atau juga faktor usia.

Gambar 3. Katarak mata (Mediacastore, 2013) Buta warna, yaitu penyakit keturunan yang tidak dapat membedakan macam-macam warna. Hal ini dapat terjadi ada yang buta warna total, hanya mengetahui warna hitam dan putih

(black and white). Selain itu ada juga buta warna sebagian, yaitu hanya mengetahui warna merah dan biru. Konjungtivitis, yaitu peradangan pada konjungtiva (selaput lendir yang melapisi sisi dalam kelopak mata). Gejalanya adalah salah sebuah atau kedua mata terasa panas dan seolah-olah terasa ada pasir, sehingga kelopak mata membengkak, konjungtiva berwarna merah, mata berair dan tidak tahan cahaya. Hemeralopia, yaitu rabun ayam (kurang awas di waktu senja). Hal ini terjadi akibat kekurangan vitamin A (avitaminosis A). 3.5.2. Mekanisme Astigmatisme Astigmatisma merupakan suatu kelainan refraksi di mana sinar sejajar dengan garis pandang oleh mata tanpa akomodasi dibiaskan tidak pada satu titik tetapi lebih dari satu titik (Dispopoulus, 2003). Patofisiologi kelainan astigmatisma adalah sebagai berikut (Dispopoulus, 2003): 1. 2. 3. 4. 5. Adanya kelainan kornea di mana permukaan luar kornea tidak teratur Adanya kelainan pada lensa di mana terjadi kekeruhan pada lensa Intoleransi lensa postkeratoplasty Trauma pada kornea Tumor atau lensa kontak pada

Astigmatisma mempunyai gejala klinis sebagai berikut (Sherwood, 2008): 1. Penglihatan kabur atau terjadidistorsi 2. Penglihatan mendua atau berbayang-bayang 3. Nyeri kepala 4. Nyeri pada mata

Berdasarkan posisi garis fokus dalam retina, Astigmatisme dibagi sebagai berikut (Sherwood, 2008): 1. Astigmatisme Reguler Dimana didapatkan dua titik bias pada sumbu mata karena adanya dua bidang yang saling tegak lurus pada bidang yang lain sehingga pada salah satu bidang memiliki daya bias yang lebih kuat dari pada bidang yang lain. a. Astigmatisme With the Rule : Bila pada bidang vertical mempunyai daya bias yang lebih kuat dari pada bidang horizontal. b. Astigmatisme Against the Rule : Bila pada bidang horizontal mempunyai daya bias yang lebih kuat dari pada bidang vertikal. 2. Astigmatisme Irreguler Dimana titik bias didapatkan tidak teratur. 3.5.3. Mekanisme Purkinje Peralihan penglihatan dari terang ke gelap memerlukan proses adaptasi gelap yang mekanisme kerjanya melibatkan proses biokimia, fisikal, dan neural. Kedua sel reseptor mengandung fotopigmen yang disebut rodopsin pada sel batang dan iodosin pada sel kerucut. Paparan sinar memicu reaksi kimia pada fotopigmen yang mengubah energi sinar menjadi aktivitas listrik, memunculkan rangsang visual pada retina dan dihantarkan oleh serabut saraf menuju otak. Sinar yang terang akan mendekomposisi fotopigmen sehingga mengurangi kepekaan retina terhadap keremangan. Regenerasi fotopigmen terjadi kembali pada saat adaptasi gelap. Mata yang telah beradaptasi sepenuhnya pada kegelapan dimana fotopigmen telah sepenuhnya teregenerasi mengembalikan kepekaan retina pada tingkat maksimal. Masa adaptasi sel kerucut berbeda dengan sel batang. Sel kerucut mencapai kepekaan maksimal dalam 5-7 menit, sedangkan sel batang membutuhkan 30-45 menit atau lebih (Fox, 2004). 3.5.4. Anatomi Mata

Tiga lapisan jaringan atau selaput yang membungkus bola mata dari luar ke dalam berturut-turut yaitu : Sklera, tersusun oleh jaringan ikat yang kuat dan brwarna putih serta melengkung. Sklera berfungsi membantu melindungi bagian-bagian dalam dan mempertahankan kekakuan bola mata. Bagian depan sklera membentuk struktur tembus cahaya yang disebut kornea. Kornea dilindungi oleh suatu selaput yang di sebut konjungtiva. Pada kornea tidak di temukan pembuluh darah

Gambar 4. Anantomi Mata (Biographixmedia, 2013) seperti hal nya pada aqueus humor ,vitreous humor, dan lensa mata. Koroid, selaput ini dari dalam dilapisi oleh selaput jala yang mengandung sel-sel indra yang amat rentan terhadap cahaya yang semuanya berguna untuk indra penglihatan dalam arti khusus. Pada lapisan koroid banyak mengandung pembuluh darah dan pigmen berwarna hitam. Lapisan koroid dapat menyerap cahaya yang masuk ke dalam mata. Dengan adanya pembuluh darah pada lapisan ini sekaligus menyuplai makanan ke lapisan retina bagian depan lapisan koroid berubah membentuk struktur terpisah yaitu : corpus siliaris , ligamentum suspensor, dan iris . Corpus siliaris terletak diantara tepi depan retina dengan tepi belakang iris. Ligamentum suspensor

berfungsi untuk mengatur proses akomodasi lensa mata untuk mendapatkan gambar benda yang jelas pada retina. Iris berfungsi sebagai diagfragma yang dapat mengatur lebar sempit nya lubang cahaya ( pupil ) menyesuaikan intensitas cahaya yang masuk. Jumlah dan sifat dari pigmen di dalam nya menentukan warna iris, ada yang berwarna kehitaman, kebiruan, kecoklatan, atau kehijauan. Retina ,merupakan lapisan terdalam yang tersusun oleh sel-sel reseptor batang (bacillus) dan sel-sel reseptor kerucut (konus). Retina merupakan bagian mata yang paling peka terhadap cahaya, sel-sel yang peka ini terletak di bagian belakang retina dan arahnya membelakangi sumber cahaya yang datang. Otot mata, ada 6 otot mata yang berfungsi mempertahankan kedudukan sclera,empat diantaranya disebut otot rektus (rektus inferior, rektus superior, rektus eksternal, dan rektus internal). Otot rektus berfungsi menggerak kan bola mata kekanan, kekiri, keatas, dan kebawah, sedangkan dua lainnya adalah otot obliq atas (superior) dan otot obliq bawah (Bullock, 2001). 3.5.5. Mekanisme Melihat dan Menimbulkan Persepsi Pada dasarnya cahaya tampak merupakan sebagian gelombang elektromagnetik yang dapat dilihat oleh manusia. Cahaya matahari misalnya, memancarkan gelombang elektromagnetik dan manusia hanya dapat melihat pada bagian gelombang cahaya atau spektrum tampaknya saja. Spektrum yang dapat dilihat manusia merupakan spektrum tampak dari gelombang yang dipancarkan matahari (putih) yang kemudian dapat diurai menjadi merah, hijau, biru, ungu dengan prisma (Fox, 2004). Spektrum gelombang elektromagnetik memiliki range yang sangat lebar. Namun hanya sebagian kecil saja yang dapat ditangkap oleh mata manusia. Hanya sebatas spectrum 0,4-0,7 mikron yang dapat dilihat oleh sensor alami manusia (mata), yaitu spektrum tampak. Spektrum tampak yang dapat dilihat manusia dapat dirinci menjadi spektrum biru (0,4-0,5 mikron), spektrum hijau (0,5-0,6 mikron), dan spektrum merah (0,6-0,7 mikron). Sensor pada mata manusia dapat menangkap sinyal dari ketiga spektrum ini dan kemudian dikirim ke otak sehingga manusia dapat melihat (Fox, 2004).

Dari uraian perjalanan cahaya maka ada proses dimana cahaya berinteraksi dengan objek. Interaksi yang terjadi dapat berupa pantulan, serapan, dan terusan (transmisi). Gejala inilah yang dapat menimbulkan persepsi warna pada penglihatan manusia. Spektrum cahaya yang dipantulkan oleh objek mendapat 3 perlakuan tadi sesuai dengan karakter objek. Spektrum-spektrum (merah, hijau, Biru) sebagai warna dasar cahaya tampak inilah yang membentuk persepsi warna dalam penglihatan manusia ketika dipantulkan dan masuk dalam sistem optik mata (Fox, 2004). Cahaya yang masuk pertama-tama akan melewati selaput kornea sebagai lapisan terluar dari mata. Selanjutnya cahaya akan diteruskan ke dalam rongga mata oleh pupil. Pupil adalah lubang di tengah bola mata yang dibentuk oleh iris. Fungsi iris sama seperti diafragma pada kamera, yaitu untuk mengatur banyak dan sedikitnya cahaya yang masuk ke dalam rongga mata. Saat cahaya tersedia banyak, maka iris akan membuat pupil mengecil agar cahaya yang masuk tidak berlebih. Sementara saat cahaya yang tersedia sedikit, maka iris akan membuat pupil melebar sehingga cahaya yang masuk akan semakin banyak. Setelah melalui pupil, cahaya akan menuju lensa mata yang menjadikan bayangan benda menjadi nyata, tegak dan diperkecil. Selanjutnya bayangan benda akan jatuh pada retina tepat di bintik kuning. Bayangan benda kemudian akan diteruskan ke pusat syaraf (otak) dan di otak, bayangan benda dikembalikan ke bentuk semula, sehingga kita mendapat kesan melihat(Fox, 2004). 3.5.6. Metode Isilhara dan Macam-Macam Buta warna Pada umumnya untu mengetahui kita buta warna atau tidak dapat dengan melakukan uji buta warna dengan metode ishihara. Dalam buku ishihara terdapat berbagai macam pola dan warna yang akan membentu suatu angka dan hanya orang yang normal (tidak buta warna) yang dapat melihat angka tersebut.

Berikut contoh pola ishihara :

Gambar 5. Metode Isilhara (Waggoner, 2009) Pada gambar diatas, berturut-turut dari kiri kekanan menunjukkan angka 45, 6,56, 5, 25, dan29.

4. PENUTUP

4.1. Kesimpulan Berdasarkan pada hasil praktikum yang telah dilakukan, praktikan dapat menguji indra penglihatan dan persepsinya baik uji bintik buta, mekanisme kerja pupil, dampak perubahan bentuk lensa (astigmatisme), batas konvergensi, persepsi terang, uji buta warna dan efek purkinje, efek melihat warna, respon mata terhadap benda bergerak, dan daya akomodasi mata. Dengan praktikum ini, praktikan dapat mengerti kemampuan penglihatannya 4.2. Saran Diharapkan dalam praktikum selanjutnya, beberapa faktor tak terduga lebih diperhatikan lagi. Termasuk faktor presepsi tiap probandus. Sehingga didapatkan data yang lebih valid

DAFTAR PUSTAKA Biographixmedia. 2013. Diakses di http://www. Biographixmedia.com/ pada tanggal 15 Oktober 2013 pukul 21.45 Brown, J. C., Kylstra, J. A., Mah, M. L. 2000 : Entoptic perimetry screening for central diabetic scotomas and macular edema. Ophthalmology 107:755759. Bullock, J. 2001. Physiology 4th Edition. Lippincott Williams and Wilkins. USA Dispopoulos, A. dan Sibernagl. 2003. Color Atlas of Physiology 5th Edition. Thieme. New York. Dragoi, Valentin. 2013. Visual Proccessing : Eye and Retina . Diakses di http://neuroscience.uth.tmc.edu pada tanggal 15 Oktober 2013 pukul 22.03. Fox, S. 2004. Human Physiology 8th Edition. Mc Graw Hill. New York. Hecht, E. 2002. Optics. Reading, MA. Addison-Wesley. Kaufman, P.L., and Alm, A. (Eds.). 2003. Adler's Physiology of the Eye (10th ed.). St. Louis. Mosby. Lydia. 2011 . Pemanfaatan Warna untuk Fasade Dinamis. Universitas Sriwijaya. Palembang Mediacastore. 2013. Diakses di http://www.mediacastore.com/ pada tanggal 15 Oktober 2013 pukul 21.50 Medisiana. 2013. Diakses di http://www. Medisiana.com/ pada pada tanggal 15 Oktober 2013 pukul 21.45

Montgomery, Ted. 2013. Anatomy, Physiology and Pathology of the Human Eye. Diakses di http://www.tedmontgomery.com/the_eye/ pada hari Kamis tanggal 3 Oktober 2013 pukul 20.32 WIB Sbrgafatar. 2013. Diakses di http://sbr.gafatar.org/ pada pada pada tanggal 15 Oktober 2013 pukul 21.45 Sherwood, L. 2008. Human Physiology, from Cell to System 7th Edition. Brooks/Cole. Belmont Soewolo, dkk. 2005. Fisiologi Manusia. UM press. Malang Visualillusion.2011. PurkinjeEffect. http://www.visualillusion.n et/ Chap09/Page07.php. Diakses tanggal 15 Oktober 3013 pukul 21.45 Wisnu. 2010. Diagram Warna. http://www.wisnoe.com/ finishing- technology/183-diagram-lingkaran-warnasegitiga-warna-colorwheel-diagram. Diakses tanggal 15 Oktober 2013 pukul 21. 34 Zamora, Antonio. 2013. Anatomy and Structure of Human Sense Organs. Diakses di http://www.scientificpsychic.com/workbook/chapter2. htm pada hari Kamis tanggal 3 Oktober 2013 pukul 20.55 WIB