Anda di halaman 1dari 11

JENIS JENIS MASALAH SISWA DI SEKOLAH MENENGAH

Disusun Oleh : 1. Gagat Dwi Anggara 2. Khana Fitri Pratiwi 3. Noor Malikhah Muazizah 4. Mita Rosyda Attaqiana 5. Adinda Yulia Anggraini 6. Muharam Yuli P 7. Yuris Bahadur W 8. Aji Nur Samsi 9. Iustitia Idea Citra 10.Putri Andinah 2501410026 4301411047 4301411075 4301411107 5401410187 5201411037 5201411043 5202411007 6101410027 7101408127

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2011 / 2012

BAB IV JENIS-JENIS MASALAH SISWA DI SEKOLAH MENENGAH


TUJUAN Setelah mempelajari bab ini diharapkan mahasiswa mempunyai pemahaman tentang masalah siswa di sekolah menengah. DESKRIPSI Untuk mewujudkan tujuan pembelajaran tersebut di atas, pada awal bab ini akan dibahas tentang pengertian masalah beserta ciri-cirinya. Pada bagian ke dua pada bab ini akan dibahas tentang jenis-jenis permasalahan yang biasanya dihadapi oleh siswa usia sekolah lanjutan, baik lanjutan pertama (SLTP) maupun sekolah lanjutan atas (SLTA). Untuk memperoleh gambaran secara rinci tentang berbagai permasalahan siswa usia SLTP dan SLTA ini, perlu dikaitkan dengan ciri-ciri perkembangan yang terjadi pada remaja awal hingga remaja akhir. A. Pengertian dan Ciri-Ciri Masalah Dalam perkembangan dan proses kehidupannya, manusia sangat mungkin menemui berbagai permasalahan, baik oleh individu secara perorangan maupun kelompok. Permasalahan yang dihadapi oleh setiap individu sangat dimungkinkan selain berpengaruh pada dirinya sendiri juga berpengaruh kepada orang lain atau lingkungan sekitarnya. Pada hakekatnya proses pengembangan manusia seutuhnya hendaknya mencapai pribadi-pribadi yang pendiriannya matang, dengan kemampuan sosial yang baik, kesusilaan yang tinggi, serta keimanan dan ketakwaan yang dalam. Namun pada kenyataannya yang sering dijumpai adalah keadaan pribadi yang kurang berkembang dan rapuh, tingkat kesosialan dan kesusilaan yang rendah, serta tingkat keimanan dan ketakwaan yang dangkal. Ketidak mampuan setiap individu untuk mewujudkan perkembangan yang optimal pada keempat dimensi (individualitas, sosialitas, moralitas, dan relegiusitas) tersebut dikarenakan oleh berbagai permasalahan yang dialami

selama proses perkembangannya. Keadaan tersebut di atas juga banyak dijumpai siswa yang berada pada tingkat sekolah menengah pertama (SLTP) maupun tingkat menengah atas (SLTA) di mana mereka sedang berada dalam fase masa remaja. Masalah merupakan sesuatu atau persoalan yang harus diselesaikan atau dipecahkan. Masalah yang menimpa seseorang bila dibiarkan berkembang dan tidak segera dipecahkan dapat mengganggu kehidupan, baik dirinya sendiri maupun orang lain. Adapun ciri-ciri masalah dapat dikemukakan sebagai berikut: 1. Masalah muncul karena ada kesenjangan antara harapan (das Sollen) dan kenyataan (das sein). 2. Semakin besar kesenjangan, maka masalah semakin berat. 3. Tiap kesenjangan yang terjadi dapat menimbulkan persepsi yang berbeda-beda. 4. Masalah muncul sebagai perilaku yang tidak dikehendaki oleh individu itu sendiri maupun oleh lingkungan. 5. Masalah timbul akibat dari proses belajar yang keliru. 6. Masalah memerlukan berbagai pertanyaan dasar (basic Question) yang perlu dijawab. 7. Masalah dapat bersifat individual maupun kelompok. B. Jenis-Jenis Masalah. Ada pendapat yang mengatakan bahwa hidup dan berkembang itu mengandung resiko. Perjalanan kehidupan dan proses perkembangan sering kali ternyata tidak mulus, banyak mengalami berbagai hambatan dan rintangan. Lebih-lebih bagi siswa sekolah menengah yang berada dalam fase perkembangan remaja, masa di mana individu mengalami berbagai perubahan baik secara fisik maupun secara psikis. Seperti yang telah dikemukakan di atas bahwa siswa sekolah menengah berada dalam fase masa remaja. Pada fase ini individu mengalami perubahan yang besar, yang dimulai sejak datangnya fase masa puber. Datangnya masa puber ditandai dengan kematangan seksualitas. Kematangan seksualitas pada perempuan ditandai dengan datangnya menstruasi sebagai akibat matangnya sel telur yang tidak dibuahi, mulai tumbuhnya kelenjar susu, terjadinya perubahan suara, tumbuhnya

rambut pada bagian-bagian tubuh tertentu, dan mulai mekarnya pinggul. Adapun kematangan seksualitas pada laki-laki ditandai dengan mulai tumbuhnya jakun, kumis, dada bidang, suara serak, tumbuhnya rambut pada bagian-bagian tubuh tertentu, perubahan suara menjadi lebih berat dan besar, dan sudah mulai mimpi basah. Hurlock (1980:192) menuliskan berbagai perubahan sikap dan perilaku sebagai akibat dari perubahan yang terjadi pada masa puber. Sikap dan perilaku yang dimasudkan adalah: 1. Ingin menyendiri. Kalau perubahan pada masa puber sudah mulai terjadi, anak-anak biasanya mulai menarik diri dari teman-teman dan dari berbagai kegiatan keluarga, sering bertengkar dengan sesama teman bermain. Anak puber lebih sering malamun, Mulai berekperimen seks melalui masturbasi. 2. Bosan. Dengan datangnya masa puber, anak mulai bosan terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan atau hobi yang dilakukan pada masa sebelumnya. Pada masa puber ini biasanya terjadi penurunan prestasi belajar. 3. Inkoordinasi. Anak akan mengalami ketidak seimbangan gerakan. 4. Antagonisme Sosial. Anak puber sering tidak mau kerja sama, sering membantah dan menentang. Permusuhan terbuka antara dua seks yang berlainan. Pada umumnya diungkapkan dengan kritik dan komentarkomentar yang cenderung merendahkan. 5. Emosi yang meninggi. Kemurungan, merajukl, ledakan marah yang berlebihan hanya dikarenakan oleh hal-hal sepele. Pada masa ini anak merasa khawatir, gelisah, sedih, cepat tersinggung, dan cepat marah. 6. Hilangnya kepercayaan diri. Sebagai akibat terjadinya perubahan fisik pada diri anak pada masa puber ini mengakibatkan anak merasa rendah diri, lebih-lebih bagi anak yang sering mendapat kritik yang bertubi-tubi tentang dirinya. Sikap dan perilaku anak yang berada dalam masa puber tersebut sering mengganggu tugas-tugas perkembangan anak pada fase berikutrtya yaitu fase masa remaja, dan sebagai akibatnya anak akan mengalami gangguan dalam menjalani kehidupan pada fase masa remaja. Beberapa masalah yang dialami oleh remaja :

1. Masalah Emosi 2. Masalh Penyesuaian diri 3. Masalah Perilaku Seksual 4. Masalah Perilaku Sosial 5. Masalah Keluarga 1. Masalah Emosi

Secara tradisional masa remaja dianggap sebagai periode "badai dan tekanan" suatu masa di mana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Emosi remaja seringkali sangat kuat, tidak terkendali, dan kadang tampak irasional. Hal ini dapat dilihat dari gejala yang nampak pada mereka, misalnya mudah marah, mudah dirangsang, emosinya cenderung "meledak-ledak" dan tidak mampu mengendalikan perasaannya. Keadaan ini sering menimbulkan berbagai permasalahan khususnya dalam kaitannya dengan penyesuaian diri di lingkungannya. Maraknya kasus perkelaian antar pelajar akhir-akhir ini adalah contoh nyata dari ketidakmampuan remaja mengolah dan mengendalikan emosi. Sekolah sebagai lembaga formal yang diberi tugas dan tanggung jawab untuk membantu subjek didik menuju kearah kedewaaan yang optimal harus mempunyai langkah-langkah konkrit untuk mencegah dan mengatasi masalah emosional ini. Misalnya dengan memberikan pelayanan khusus bagi siswa melalui program layanan inforrnasi, layanan konseling, layanan bimbingan dan konseling kelompok. Dalam layanan bimbingan dan konseling kelompok anak dapat berlatih bagaimana cara menjadi pendengar yang baik, bagaimana cara mengemukakan masalah, bagaimana cara mengendalikan diri baik dalam menanggapai masalah sesama anggota maupun mengemukakan masalahnya sendiri. Melalui wahana kelompok, siswa dapat berlatih mengendalikan diri. 2. Masalah Penyesuaian Diri

Salah satu tugas yang paling sulit pada masa remaja adalah yang berhubungan dengan penyesuain sosial. Remaja harus menyesuaikan diri dengan lawan jenis baik dengan sesama remaja maupun dengan orang-orang dewasa di luar

lingkungan keluarga dan sekolah. Untuk mencapai tujuan dari pola sosialisasi dewasa, remaja harus membuat banyak penyesuaian baru. Pada fase ini remaja lebih banyak di luar rumah bersama-sama teman-temannya sebagai kelompok, maka dapatlah dimengerti kalau pengaruh teman sebaya dalam segala pola perilaku, sikap, minat, dan gaya hidupnya lebih besar dari pada pengaruh dari keluarga. Perilaku remaja sangat tergantung dari pola-pola perilaku kelompok. Yang menjadi masalah apabila mereka salah dalam bergaul, misalnya berada dalam kelompok pemakai obat-obatan terlarang, minuman keras, merokok, dan perilaku-perilaku negatif lainnya. Dalam keadaan demikian, remaja cenderung akan mengikutinya tanpa memperdulikan berbagai akibat yang akan menimpa dirinya. Kebutuhan akan penerimaan dirinya dalam kelompok sebaya merupakan kebutuhan yang dianggap paling penting. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, remaja mau melakukan apa saja dengan tanpa melihat berbagai efek negatif yang akan menimpa atas perilaku mereka tersebut. Untuk itulah maka sekolah harus ikut membantu tugas-tugas perkembangan remaja tersebut agar mereka tidak mengalami kesalahan dalam penyesuaian dirinya. Melalui penyediaan sarana dan prasarana serta fasilitas pembinaan bakat dan minat baik, lewat kegiatan kurikuler maupun kokurikuler di sekolah, diharapkan dapat mencegah dan mengatasi kesalahan pergaulan tersebut. 3. Masalah Perilaku Seksual

Tugas perkembangan yang harus dilakukan oleh remaja sehubungan dengan kematangan seksualitasnya adalah pembentukan hubungan yang lebih matang dengan lawan jenis dan belajar memerankan peran seks yang diakuinya. Pada masa ini remaja sudah mulai tertarik pada lawan jenis, mulai bersifat romantis, yang diikuti oleh keinginan yang kuat untuk memperoleh dukungan dan perhatian dari lawan jenis, sebagai akibatnya, remaja mempunyai minat yang tinggi pada seks. Seharusnya mereka mencari dan atau memperoleh informasi tentang seluk beluk seks dari orang tua, tetapi kenyataannya mereka lebih banyak mencari informasi dari sumber-sumber yang kadang tidak dapat dipertanggungjawabkan, misalnya teman sebaya yang sama-sama kurang memahami arti pentingmya seks, internet, media elektronik, dan media cetak yang kadang-kadang lebih menjurus

pornografi. Sebagai akibat dari informasi yang tidak tepat tersebut dapat menimbulkan perilaku seks remaja yang apabila ditinjau dari segi moral dan kesehatan tidak layak untuk dilakukan, misalnya berciuman, bercumbu, masturbasi, dan bersenggama. Bagi generasi yang lalu, perilaku seksual seperti itu adalah tabu dan mertimbulkan rasa bersalah dan rasa malu pada dirinya, namun pada generasi sekarang hal-hal seperti dianggap benar dan normal, atau paling tidak diperbolehkan. Bahkan hubungan seks di luar nikah dianggap "benar" apabila orang-orang yang terlibat salirtg mencintai dan saling merasa terikat. (Hurlock, 1980:229). Untuk menanggulangi dan mengatasi permasalah itu, sekolah hendaknya melakukan tindakan-tindakan nyata, rnisalnya pendidikan seks (seks education). 4. Masalah Perilaku Sosial

Tanda-tanda masalah perilaku sosial pada remaja dapat dilihat dari adanya diskriminasi terhadap mereka yang berlatar belakang ras, agama, atau sosial ekonomi yang berbeda. Dengan pola-pola perilaku sosial seperti ini, maka dapat melahirkan geng-geng atau kelompok-kelompok remaja, yang pembentukannya berdasarkan atas kesamaan latar belakang, agama, suku, dan sosial ekonomi. Pembentukan kelompok atau geng pada remaja tersebut dapat memicu terjadinya permusahan antar kelompok atau geng. Untuk mencegah dan mengatasi masalahmasalah tersebut di atas, sekolah dapat menyelenggarakan kegiatan-kegiatan kelompok (baik kurikuler maupun kokurikuler) dengan tidak memperhatikan latar belakang suku, agama, ras, dan sosial ekonomi. Sekolah harus memperlakukan siswa secara sama, tidak membeda-bedakan siswa yang satu dengan yang lain. 5. Masalah Moral

Masalah moral yang terjadi pada para remaja ditandai oleh adanya ketidakmampuan remaja membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Hal ini dapat disebabkan oleh ketidakkonsistenan dalam konsep benar dan salah yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya antar sekolah, keluarga, dan kelompok remaja. Ketidakmampuan membedakan mana yang benar dan mana

yang salah dapat membawa mala petaka bagi kehidupan remaja pada khususnya dan pada semua orang pada umumnya. Untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah yang demikian, maka sekolah sebaiknya menyenggarakan berbagai kegiatan keagamaan, meningkatkan pendidikan budi pekerti. 6. Masalah Keluarga

Sering ditemukan berbagai permasalah remaja yang penyebab utamanya adalah terjadinya kesalahpahaman antara anak dengan orang tua. Seperti yang dikemukakan oleh Hurlock (1980, 233) sebab-sebab umum pertentangan keluarga selama masa remaja adalah: standar perilaku, metode disiplin, hubungan dengan saudara kandung, sikap yang sangat kritis pada remaja, dan masalah palang pintu. Remaja sering menganggap standar perilaku orang tua yang kuno dan yang modern berbeda. Menurut remaja, orang tua yang mempunyai standar kuno harus mengikuti standar modern, sedangkan orang tua tetap pada pendiriannya semula. Keadaan inilah yang sering menjadi sumber perselisihan di antara mereka. Metode disiplin yang diterapkan oleh orang tua yang terlalu kaku dan cenderung otoriter akan dapat menimbulkan permasalahan dan pertentangan di antara remaja dan orang tua. Salah satu ciri remaja adalah dimilikinya sikap kritis terhadap segala sesuatu, namun bagi keluarga tertentu sering tidak menyukai sikap remaja yang terlalu kritis terhadap pola perilaku orang tua dan terhadap pola perilaku keluarga pada umumnya. Yang dimaksud dengan masalah palang pintu adalah peraturan keluarga tentang penetapan jam atau waktu pulang dan mengenai teman-teman dengan siapa remaja dapat berhubungan, terutama teman-teman lawan jenis. Untuk mencegah dan mengatasi permasalah tersebut, maka sekolah harus meningkatkan kerjasama dengan orang tua. Prayitno (1994:42) mengelompokkan masalah siswa di sekolah menengah menjadi empat kelompok besar, yaitu masalah yang berhubungan dengan dimensi keindividualan, masalah yang berhubungan dengan dimensi kesosialan, masalah yang berhubungan dengan dimensi kesusilaan, dan masalah yang berhubungan dengan dimensi keberagamaan.

Jenis masalah yang (mungkin) diderita oleh individu amat bervariasi. Roos L. Mooney (dalam Prayitno, 1994:238) mengidentifikasi 330 masalah yang digolongkan ke dalam 11 (sebelas) masalah, yaitu kelompok masalah yang berkenaan dengan : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Perkembangan jasmani dan kesehatan Keuangan, keadaan lingkungan, dan pekerjaan Kegiatan sosial dan rekreasi Hubungan muda-muda, pacaran dan perkawinan Hubungan sosial kejiwaan Keadaan pribadi kejiwaan Moral dan agama Keadaan rumah tangga Masa depan pendidikan dan pekerjaan Penyesuaian terhadap tugas-tugas sekolah Kurikulum sekolah dan prosedur pengajaran (PJK) (KLP) (KSR) (HPP) (HSK) (KPK) (MDA) (KRK) (MPP) (PTS) (KPP)

Frekuensi dialaminya masalah-masalah tersebut juga bervariasi. Satu jenis masalah barangkali banyak dialami, sedangkan jenis masalah lain lebih jarang muncul. Frekuensi munculnya masalah-masalah itu diwarnai oleh berbagai kondisi pribadi dan lingkungan. Untuk siswa di sekolah, frekuensi dialaminya masalah-masalah tersebut terlihat pada tabel berikut (Prayitno, 1994: 239).

Frekuensi Dialaminya Masalah-Masalah oleh Siswa SMA Negeri Sumatra Barat (N = 405) No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Kelompok Masalah PJK KLP KSR HPP HSK KPK MDK KRK MPP PTS KPP Frekuensi 91,4 97,5 95,6 88,6 94,6 95,6 94,1 97,9 98,0 94,1 86,7 Peringkat ( dlm % ) 8 2 3,5 9 6 3,5 5 5 1 7 11

KESIMPULAN Pada hakekatnya, setiap manusia senantiasa ingin mewujudkan kebahagiaan dalam hidupnya. Pada kenyataannya, manusia sangat mungkin menemui berbagai permasalahan yang dapat menghambat dan mengganggu tercapainya kebahagiaan tersebut. Demikian juga bagi subjek didik yang berada pada tingkat pendidikan sekolah menengah, (baik menengah pertama mapun menengah atas) yang sedang berada dalam fase masa perkembangan remaja juga mengalami berbagai permasalahan hidup, yang apabila dibiarkan akan mengganggu dan menghambat tercapainya tujuan pendidikan yang sedang dilaluinya. Terdapat berbagai jenis masalah yang dialami oleh siswa sekolah menengah, diantaranya adalah masalah yang berhubungan dengan dimensi-dimensi kehidupan remaja, yaitu masalah yang bersifat individualitas, sosialitas moraritas, dan keagamaan dan ketakwaan.

PERTANYAAN DAN TUGAS 1. 2. Sesuai dengan fase perkembangannya, masalah-masalah apa saja yang muncul pada siswa usia SLTP dan SLTA a. Identifikasi masalah-masalah apa saja yang pernah anda alami pada saat

anda duduk di bangku sekolah menengah (SLTP/SLTA). b. Jelaskan apa Tatar belakang penyebab terjadinya masalah tersebut. c. Jelaskan bagaimana cara mengatasinya. DAFTAR PUSTAKA Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan menengah, 1995, Pelayanan Bimbingan dan Konseling di SMU (Seri Pemandu Bimbingan dan Konseling di Sekolah), Jakarta Hurlock E.B., 1980, Psikologi perkembangan, Erlangga, Jakarta Moh. Surya dan Rohman Natawijaya, 1985, Konsep Dasar Bimbingan dan Penyuluhan (Buku Materi 1), Jakarta, Universitas Terbuka Mohamad Surya, 1994, Dasar-Dasar Konseling Pendidikan (Konsep dan Teori), Bandung, Bhakti Winaya. Prayitno dan Erman Amti, 1999, Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling, Jakarta, Rineka Cipta. Erman Amti & Marjohan, 1992/1993, Bimbingan dan Konseling, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan Prayitno & Erman Amti, 1994, Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling, Proyek Pembinaan dan Peningkatan Mutu Tenaga Kependidikan Direktorat Jendral Pendidikan Menengah Umum, Departemen Pendidikan, Jakarta. Prayitno dkk, 1995, Pelayanan Bimbingan dan Konseling di SMU Buku IV, Seri Pemandu Pelaksanaan BK di Sekolah, Penerbit Departemen Pendidikan -dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Menengah Umum, Jakarta. Prayitno & Erman Amti, 1999, Edisi Revisi, Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling, diterbitkan kerjasama Departemen Pendidikan & Kebudayaan dengan Penerbit Rineka Cipta, Jakarta. W.S. Winkel, 1991, Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan, Penerbit PT Grasindo, Jakarta.