Anda di halaman 1dari 9

ARIF PRASETYO 03101003003 KELOMPOK 2

Mengatasi Korosi pada Cooling Tower 1. Korosi Di dalam dunia industri, korosi merupakan salah satu hal yang sering menimbulkan kendala bagi jalannya proses kerja di lingkungan industri. Korosi banyak menyerang semua peralatan-peralatan pabrik terutama mesin-mesin dan bangunan dari logam. Korosi dapat terjadi pada semua logam , terutama yang berhubungan dengan udara atau cairan yang korosif. Mesin-mesin yang bersinggungan langsung dengan air atau cairan lain yang korosif akan mudah terserang korosi lebih-lebih jika mesin tersebut berhubungan langsung dengan air secara terus menerus. Seperi halnya pada sistem pendingin yang mana berfungsi sebagai penyuplai air dingin ke mesin-mesin industri seperti kompresor, kondensor dan chiller, air bersirkulasi di dalam sistem pendingin dan terjadi kontak langsung dengan semua komponennya. Akibatnya komponenkomponen tersebut akan mudah terserang korosi. Masalah korosi yang terjadi di sistem pendingin sebelumnya kurang mendapat perhatian serius dari pihak-pihak perusahaan, hingga sampai suatu ketika banyak ditemukan kerusakan-kerusakan signifikan yang ditimbulkan oleh adanya produk korosi tersebut.. Pipa pipa masuk ke penukar kalor kompresor ( aftercooler) ditemukan telah mengalami kebocoran , disamping itu impeller pompa banyak mengalami rongga-rongga ( lubang) dan tidak sedikit yang hancur terutama pada bagian sudu-sudu impellernya, serta packing pada cooling tower juga mengalami korosi . Dengan adanya kerusakan-kerusakan ini , sistem pendingin tidak bisa bekerja secara optimal. Akhirnya pihak perusahaan mengambil kebijakan untuk mengganti impelar pompa dan menutup kebocoran pipa penukar kalor. Dari sinilah masalah korosi mulai mendapat perhatian serius dari semua pihak perusahaaan . Upaya pencegahan korosi mulai dijalankan dengan penggunaan senyawa-senyawa yang dapat memperlambat laju korosi pada semua bagian-bagian pada cooling tower tersebut.

Tugas Khusus

ARIF PRASETYO 03101003003 KELOMPOK 2

2. Cooling Tower Cooling tower adalah suatu menara atau bangunan sirkulasi udara yang digunakan untuk mendinginkan air proses atau cooling tower dengan cara mengoyak air tersebut dengan udara. Dengan kata lain, cooling tower adalah alat yang digunakan untuk memindahkan sejumlah panas dari suatu fluida ke fluida lain. Fungsi cooling tower adalah memproses air atau cooling water yang panas menjadi air dingin, sehingga dapat digunakan kembali dan untuk mengatasi polusi lingkungan. Bila zat cair panas dikontakkan dengan gas tak jenuh, sebagian dari zat cair itu akan menguap dan suhu zat cair akan turun. Penurunan suhu zat cair demikian biasanya merupakan tujuan dari berbagai operasi kontak gas dan zat cair, terutama kontak udara-air. Pendinginan air dalam jumlah besar dilakukan dalam kolam-kolam semprot (spray pond) atau lebih umum lagi dalam menara-menara tinggi di mana udara dialirkan dengan jujutan alamiah (natural draft) atau dengan bantuan kipas. Sehingga dengan adanya aliran air tersebut akan memicu terjadinya faktor-faktor korosi pada bagian-bagian cooling tower itu sendiri. Beberapa efek yang ditimbulkan oleh adanya korosi adalah a. b. c. d. e. Merusak logam dari cooling system. Korosi menghasilkan deposit dalam penukar kalor. Efisiensi perpindahan panas berkurang oleh adanya deposit. Kebocoran pada perlengkapan maupun peralatan. Terjadi kontaminasi pada proses dan airnya sendiri.

3. Korosi pada Cooling Tower Pada sistem sirkulasi pendinginan cooling tower, air secara berkesinambungan bersikulasi melewati peralatan yang akan didinginkan dan menyambung secara seri. Transfer panas dari peralatan ke air, dan menyebabkan terjadinya penguapan ke udara. Penguapan menambah konsentrasi dan padatan mineral dalam air dan ini adalah efek kombinasi dari penguapan dan endapan, yang merupakan konstribusi dari

Tugas Khusus

ARIF PRASETYO 03101003003 KELOMPOK 2

banyak masalah dalam pengolahan dengan sistem sirkulasi terbuka. Pada peristiwa sirkulasi air ini, akan terjadi proses proses sebagai berikut : a. Pendinginan air cooling tower adakah atas dasar penguapan ( Evaporasi ). Pada peristiwa fisika dikenal prinsip jumlah kalor yang diterima = jumlah kalor yang dilepaskan . Kalor untuk melakukan pendinginan dari T2 menjadi T1 sama dengan kalor penguapan atau dengan kata lain air tersebut menjadi dingin dikarenakan sebagian dari air tersebut menguap. Untuk cooling tower, besarnya penguapan dapat dihitung bila diketahui kapasitas pompa sirkulasi ( m3/jam ) b. Pada air Cooling tower terjadi pemekatan Garam. Dengan adanya penguapan maka lama kelamaan seluruh mineral yang tidak dapat menguap akan berkumpul sehingga terjadi pemekatan. Dengan banyaknya mineral yang terkandung pada air Cooling tower perlu dilakukan proses Bleed Off dan penambahan air make up. Air yang menguap adalah air yang murni bebas dari garam garam mineral dengan konsentrasi = 0. Pada cooling tower dapat diketahui siklus air pada unit cooling tower. Siklus dapat diketahui dengan membaca konduktivifitasnya, yaitu dengan membandingkan konduktifitas air tower dengan konduktifitas air make up. Masalah korosi yang sering timbul dalam pada seluruh sistem air cooling adalah akibat faktor-faktor berikut : a. Derajat Keasaman Pada pH yang rendah menyebabkan terjadinya korosi pada logam. Begitu juga nitrifying. Penyebab lain adalah dengan adanya bakteri yang dapat menghasilkan asam sulfat. Bakteri yang memiliki kemampuan untuk mengubah hydrogen sulfide menjadi sulfur kemudian mengubah menjadi asam sulfat. Bakteri ini menyerang logam besi, logam lunak dan stainless steel, hidup sebagai anaerobik b. Kerak Pembentukan kerak diakibatkan oleh kandungan padatan terlarut dan material anorganik yang mencapai limit control. Metode yang digunakan untuk mencegah terjadinya pembentukan kerak antara lain :

Tugas Khusus

ARIF PRASETYO 03101003003 KELOMPOK 2

a) Menghambat kerak dengan mengontrol pH Dalam keadaan asam lemah ( kira kira pH 6,5 ). Asam sulfat yang paling sering digunakan untuk ini, memiliki dua efek dengan memelihara pH dalam daerah yang benar dan mengubah kalsium karbonat, ini memperkecil resiko terbentuknya kerak kalsium sulfat. Ini memperkecil resiko terbentuknya kerak kalsium karbonat dan membiarkan cycle yang tinggi dari konsentrasi dalam sistem.

Mengontrol kerak dengan bleed off. Bleed off pada sirkulasi air cooling terbuka sangat penting untuk memastikan bahwa air tidak pekat sebagai perbandingan untuk mengurangi kelarutan dari garam mineral yang kritis. Jika kelarutan ini berkurang kerak akan terbentuk pada penukar panas. Mengontrol kerak dengan bahan kimia penghambat kerak. Bahan kimia umumnya berasal dari organik polimer, yaitu poliakrilik dan poliakrilik buatan. b) Masalah mikrobiologi Mikroorganisme juga mampu membentuk deposit pada sembarangan permukaan. Hampir semua jasad renik ini menjadi kolektor bagi debu dan kotoran lainnya. Hal ini dapat menyebabkan efektivitas kerja cooling tower menjadi terganggu. c) Masalah kontaminasi Keadaan cooling tower yang terbuka dengan udara bebas memungkinkan organisme renik untuk tumbuh dan berkembang pada sistem, belum lagi kualitas air make up yang digunakan. Di sistem pendingin ini karena permukaan logam selalu kontak dengan air maka korosi di sistem pendingin ini sering dikatakan sebagai korosi dalam air. Semua air dapat jadi penyebab korosi karena air dapat berfungsi sebagai pereaksi, katalisator, sebagai pelarut , maupun sebagai elektrolit untuk terjadinya korosi padsa logam. Tetapi korosivitas dari masing-masing air ini akan berlainan terhadap logam yang sama karena agresivitas berbeda disebabkan mempunyai kom posisi zat terlarut yang tidak sama. Komponen-komponen dari cooling system yang biasa terserang korosi adalah sebagai berikut : i. Pompa dan pipa pompa.

Tugas Khusus

ARIF PRASETYO 03101003003 KELOMPOK 2

ii. Pipa masuk after cooler kompresor. iii. Katup-katup ,elbow , dan sambungan-sambungan iv. Pencegahan korosi pada cooling tower

4.

Pencegahan Korosi pada Cooling Tower Pencegahan korosi pada cooling tower dapat menggunakan zat inhibitor.

Inhibitor adalah suatu zat kimia yang apabila ditambahkan / dimasukkan dalam jumlah sedikit kedalam suatu zat karoden ( lingkungan yang korosif), dapat secara efektif memperlambat atau mengurangi laju pengkaratan yang ada. Terdapat beberapa jenis zat inhibitor : a. Passivating inhibitor Passivating inhibitor adalah jenis inhibitor yang paling efektif dari seluruh jenis inhibitor lainnya karena dapat melumpuhkan pengkaratan hampir secara menyeluruh , namun jenis inhibitor ini disebut sebagai inhibitor yang berbahaya, karena dalam kondisi tertentu justru akan mempercepat pengkaratan. b. Inhibitor katodik Ialah zat-zat yang dapat menghambat terjadinya reaksi di katoda. Pelambatan karat ( inhibition ) dengan mempolarisasi reaksi katodik. Berpengaruh terhadap kedua reaksi katodik yang biasa. Dalam reaksi pertama: 2H2O + O2 + 4e 4OHInhibitor bereaksi dengan ion hidroksil untuk mengendapkan senyawa-senyawa tidak dapat larut ke permukaan katoda, sehingga akibat reaksi tersebut akan menyelimuti katoda dari elektrolit dan mencegah masuknya oksigen. Sehingga pada reaksi katodik kedua terjadi reaksi: 2H+ + 2e- 2H H2 Inhibitor katodik ada kecenderungan tidak efisien walaupun tidak berbahaya pada logam , tapi jelas kurang memperbaiki ketahanan bagian-bagian atau komponen cooling tower terhadap korosi.

Tugas Khusus

ARIF PRASETYO 03101003003 KELOMPOK 2

c.

Inhibitor anodik Inhibitor ini akan diadsorbsi pada bagian yang anodik dan akan menahan

terjadinya korosi pada yang anodik. Karena korosi terjadinya pada anoda, maka penggunaan inhibitor anoda ini sangat efisien. Hanya ada bahayanya yaitu bila inhibitor tidak menutupiu seluruh anoda, akan memperluas daerah katoda. Yang termasuk inhibitor anodik adalah zat-zat yang membentuk zat tidak laruit seperti NaOH, PO43-, CO32-, karena akan membentuk Fe(OH)3, FePO4, Fe(CO3)3 yang jadi lapis lindung pada besi d. Inhibitor Adsorpsi Jenis inhibitor adsorpsi adalah merupakan kelompok yang terbesar. Terutama zat organik dan koloid-koloid yang dapat membentuk lapisan film pada permukaan logam. e. Inhibitor organik Senyawa organik banyak yang bersifat menghambat proses pengkaratan yang tidak dapat digolongkan sebagai bersifat katodik atau anodik. Secara umum dapat dikatakan bahwa zat ini mempengaruhi seluruh permukaan metal yang sedang berkarat apabila diberikan dalam konsentrasi secukupnya. ( Rachmat Supardi, 1997 ) Penggunaan inhibitor dimaksudkan untuk melindungi permukaan metal dari serangan korosi dengan tujuan untuk : a) Memperpanjang usia pakai peralatan. b) Mencegah penghentian pabrik ( shut down ) c) Mencegah kecelakaan karena rusaknya peralatan. d) Mencegah kehilangan pertukaran panas ( heat transfer ) e) Mempertahankan rupa permukaan yang menarik 5. Cara Penggunaan Inhibitor Untuk menambahkan inhibitor ke sistem pendingin bisa dilakukan dengan : Injeksi terus menerus

Tugas Khusus

ARIF PRASETYO 03101003003 KELOMPOK 2

Dilakukan dengan sistem injeksi air pada cooling system.Bentuk inhibitor adalah cair dan diinjeksikan ke dalam sistem dengan pompa injeksi bahan kimia ( dosing Pump ). Dosing pump dapat daatur dengan memutar stroke sehingga inhibitor yang diinjeksikan bisa diatur sesuai kebutuhan.. Inhibitor disimpan di dalam cartridge/ profil tank dan dipasang pada pipa penyalur, sehingga zat tersebut merembes sedikit demi sedikit ( leached out ) berikut air ( soft water ) yang melewati pipa-pipa dari supply header. Pemasokan secara batch ( setakar-setakar ) atau dituang langsung ke sistem. Setakar inhibitor dimasukkan ke dalam sistem pendingin ( basin cooling tower ) untuk melindungi hingga waktu tertentu.Pengunaan ini biasanya pada sistem tertutup ( close loop ). Beberapa inhibitor yang ditambahkan ke cooling system adalah : a. Chemical : N 7359 ( Zinc / Zn & Phospate / PO4 ) Fungsi : Anti korosi Kontrol : i. Zn : 0,3 - 1,5 ppm (cathodic corrosion inhibitor)

ii. PO4 : 4 - 7 ppm (anodic corrosion inhibitor) b. Chemical : N 4661 Fungsi : Anti kerak (mencegah kerak) Cara kerja : i. Membentuk senyawa kompleks ( karena bereaksi dengan N 4661 ) sehingga masih tetap larut di air. ii. Memodifikasi bentuk kristal kerak ( scale ), sehingga daya lekatnya ke permukaan pipa akan jauh berkurang. c. Chemical : N 7348 ( Bio- Dispersant ) Fungsi : Mencegah terjadinya deposit di dalam cooling water system. Cara kerja :

Tugas Khusus

ARIF PRASETYO 03101003003 KELOMPOK 2

Mendispersi ( merusak ) slime / deposit , sehingga mikroorganisme akan keluar dari slime / deposit tersebut dan akan dibunuh dengan Biocid. Ada kontak antara mikroorganisme dengan chemical tersebut. d. Chemical : N 7647 Fungsi : Sebagai Biocide untuk membunuh mikroorganisme. Cara kerja : i. Mendifusi dan menyusup ( penetrasi ) ke dalam sel mikroorganisme. ii. Setelah berhasil melakukan penetrasi, maka akan merusak inti sel

mikroorganisme dan mengganggu metabolisme / menimbulkan penyakit bagi mikroorganisme tersebut. iii. Sebagian dari N 7647 akan menyelubungi sel-sel mikroorganisme sehingga selsel mikro organisme akan terisolasi dan susah / tidak mampu mendapatkan nutrisi.Akibatnya mikroorhanisme akan mati, karena metabolisme terganggu dan tidak mendapatkan nutrisi. e. Asam Sulfat ( H2SO4) Fungsi : Untuk mengontrol PH air pendingin sekitar PH netral ( 7,5 8,5), sehingga tidak terlalu condong korosif, maupun terlalu condong membentuk kerak. Cara Kerja : Di dalam air, H2SO4 akan ter-ionasi menjadi H+ dan SO42-, bersifat asam dan akan menurunkan PH air.

Tugas Khusus

ARIF PRASETYO 03101003003 KELOMPOK 2

Daftar Pustaka Anonim, 2013. Air sebagai bahan utama pada cooling tower dan boiler. http://ahmadharyanto.wordpress.com/category/cooling-tower/ tanggal 19 oktober 2013 pukul 06.30 wib. Anonim, 2013. Media pendingin pada cooling tower. diakses pada

http://kelolaair.blogspot.com/2011/06/cooling-tower-media-pendingin.html, diakses pada tanggal 19 oktober 2013 pukul 06.45 wib. Supardi Rachmat, Korosi, Tarsito 1997 Bandung, Widharto Sri, Karat dan Pencegahannya, PT. Pradnya Paramita.1999 Jakarta

Tugas Khusus