Anda di halaman 1dari 12

PERTANYAAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. Jelaskan pengertian, dasar, dan tujuan ilmu pendidikan Islam?

Jelaskan pengertian pendidik dan peserta didik dalam ilmu pendidikan Islam? Apa yang kamu ketahui tentang kurikulum dan metode dalam pendidikan Islam? Jelaskan evaluasi dan lingkungan dalam pendidikan Islam? Jelaskan periodesasi atau perkembangan pendidikan Islam? Sebutkan dan jelaskan: a) Lembaga dalam pendidikan Islam b) Manajemen dalam pendidikan Islam c) Aliran-aliran dalm pendidikan Islam

JAWABAN 1. PENGERTIAN Ilmu pendidikan Islam ialah pengetahuan yang menjelaskan secara sistem dan ilmiah tentang bimbingan atau tuntunan kepada anak dalam perkembangannya agar tumbuh menjadi pribadi muslim sebagai anggota masyarakat yang hidup selaras dan seimbang dalam memenuhi kebutuhan hidup di dunia dan akhirat. DASAR-DASAR ILMU PENDIDIKAN ISLAM Dasar religius ilmu pendidikan Islam adalah Al-Quran, As-Sunnah dan Ijtihad. 1. Al-Quran Ayat Al-Quran yang pertama kali turun adalah berkenaan masalah pendidikan di samping juga masalah keimanan. Allah berfirman yang artinya: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-Alaq : 1-5). 2. As-Sunnah

As Sunnah adalah dasar kedua sesudah Al-Quran terhadap segala aktivitas umat Islam terhamsuk aktivitas dalam pendidikan. Banyak hadits yang berhubungan dengan pendidikan di antaranya Rasulullah SAW. Bersabda : Artinya : Barang siapa yang menyembunyikan ilmunya maka Tuhan akan mengekangnya dengan kekang berapi. (HR. Ibnu Majah) 3. Al Ijtihad Yang dimaksud Ijtihad dengan kaitannya sebagai dasar pendidikan Islam adalah usaha sungguh-sungguh yang dilakukan ulama Islam di dalam memahami nasnas Al Quran dan Sunnah Nabi yang berhubungan dengan penjelasan dan dalil tentang dasar pendidikan Islam, sistem dan arah pendidikan Islam. TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM Tujuan adalah suatu yang diharapakan tercapai setelah sesuatu kegiatan selesai atau tujuan adalah cita, yakni suasana ideal itu nampak yang ingin diwujudkan. Dalam tujuan pendidikan, suasana ideal itu tampak pada tujuan akhir (ultimate aims of education) Adapun tujuan pendidikan adalah perubahan yang diharapkan pada subjek didik setelah mengalamai proses pendidikan, baik pada tingkah laku individu dan kehidupan pribadinya maupun kehidupan masyarakat dan alam sekitarnya dimana individu hidup, selain sebagai arah atau petunjuk dalam pelaksanaan pendidikan, juga berfungsi sebagai pengontrol maupun mengevaluasi keberhasilan proses pendidikan. Tujuan pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang sehat jasmani dan rohani serta moral yang tinggi, untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akherat, baik sebagai makhluk individu maupun sebagai anggota masyarakat. 2. PENGERTIAN PENDIDIK dan PESRTA DIDIK Menurut Jusuf Mudzakkir dalam bukunya yang berjudul Ilmu Pendidikan Islam, pendidik adalah orang dewasa yang bertanggung jawab memberi pertolongan pada peserta didik nya dalam perkembangan jasmani dan rohaninya, agar mencapai tingkat kedewasaan, mampu berdiri sendiri dan memenuhi tingkat kedewasaannya, mampu mandiri dalam memenuhi tugasnya sebagai hamba dan khalifah Allah SWT. Dan mampu melakukan tugas sebagai makhluk sosial dan sebagai makhluk individu yang mandiri.

Secara etimologi peserta didik adalah anak didik yang mendapat pengajaran ilmu. Secara terminologi peserta didik adalah anak didik atau individu yang mengalami perubahan, perkembangan sehingga masih memerlukan bimbingan dan arahan dalam membentuk kepribadian serta sebagai bagian dari struktural proses pendidikan. Dengan kata lain peserta didik adalah seorang individu yang tengah mengalami fase perkembangan atau pertumbuhan baik dari segi fisik dan mental maupun pikiran. 3. KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM Kurikulum pendidikan Islam adalah bahan-bahan pendidikan Islam berupa kegiatan, pengetahuan dan pengalaman yang dengan sengaja dan sistematis diberikan kepada anak didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan Islam. Atau dengan kata lain kurikulum pendidikan Islam adalah semua aktiviti, pengetahuan dan pengalaman yang dengan sengaja dan secara sistematis diberikan oleh pendidik kepada anak didik dalam rangka tujuan pendidikan Islam (H.syamsul Bahri Tanrere, 1993). Berdasarkan keterangan di atas, maka kurikulum pendidikan Islam itu merupakan satu komponen pendidikan agama berupa alat untuk mencapai tujuan. Ini bermakna untuk mencapai tujuan pendidikan agama (pendidikan Islam) diperlukan adanya kurikulum yang sesuai dengan tujuan pendidikan Islam dan bersesuaian pula dengan tingkat usia, tingkat perkembangan kejiwaan anak dan kemampuan pelajar. Kurikulum pendidikan Islam meliputi tiga perkara iaitu masalah keimanan (aqidah), masalah keislaman (syariah) dan masalah ihsan (akhlak). Bahagian aqidah menyentuh hal-hal yang bersifat iktikad (kepercayaan). Termasuklah mengenai iman setiap manusia dengan Allah,Malaikat,Kitab-kitab, Rasul-rasul, Hari Qiamat dan Qada dan Qadar Allah swt. Menurut Dr. Hj. Maimun Aqsa, perkara yang perlu didahulukan dalam kurikulum pendidikan Islam ialah al-Quran, Hadis dan juga Bahasa Arab. Kedua ialah bidang ilmu yang meliputi kajian tentang manusia sebagai individu dan juga sebagai anggota masyarakat. Menurut istilah moden hari ini, bidang ini dikenali sebagai kemanusiaan (al-ulum al-insaniyyah). Bidang-bidangnya termasuklah psikologi, sosiologi, sejarah, ekonomi dan lain-lain. Ketiga bidang ilmu mengenai alam tabie atau sains natural ( al-ulum al-Kauniyyah), yang meliputi bidang-bidang seperti astronomi, biologi dan lain-lain. Ruang lingkup materi pendidikan Islam sebenarnya ada terkandung di dalam al-Quran seperti yang pernah dicontohkan oleh Luqman ketika mendidik anaknya.

Penyusunan kurikulum yang tepat akan membawa manusia semakin hampir kepada Allah. Seterusnya akan melahirkan genarasi manusia para sahabat yang intelek, berilmu, beriman dan baramal. Kurikulum yang disusun hendaklah berkesinambungan dari peringkat rendah hinggalah ke peringkat menengah berterusan ke peringkat universiti bersesuai dengan kehendak dan keperluanNegara. METODE PENDIDIKAN ISLAM Menurut terminologi (istilah) para ahli memberikan definisi yang beragam tentang metode, terlebih jika metode itu sudah disandingkan dengan kata pendidikan atau pengajaran diantaranya: 1. Winarno Surakhmad mendefinisikan bahwa metode adalah cara yang di dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan. 2. Abu Ahmadi mendefinisikan bahwa metode adalah suatu pengetahuan tentang cara-cara mengajar yang dipergunakan oleh seorang guru atau instruktur. 3. Ramayulis mendefinisikan bahwa metode mengajar adalah cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan peserta didik pada saat berlangsungnya proses pembelajaran. Dengan demikian metode mengajar merupaka alat untuk menciptakan proses pembelajaran. 4. Omar Mohammad mendefinisikan bahwa metode mengajar bermakna segala kegiatan yang terarah yang dikerjakan oleh guru dalam rangka kemestiankemestian mata pelajaran yang diajarkannya, cirri-ciri perkembangan muridnya, dan suasana alam sekitarnya dan tujuan menolong murid-muridnya untuk mencapai proses belajar yang diinginkan dan perubahan yang dikehendaki pada tingkah laku mereka. Berdasarkan definisi yang dikemukakan para ahli mengenai pengertian metode di atas, beberapa hal yang harus ada dalam metode adalah : 1. 2. 3. 4. Adanya tujuan yang hendak dicapai Adanya aktivitas untuk mencapai tujuan Aktivitas itu terjadi saat proses pembelaran berlangsung Adanya perubahan tingkah laku setelah aktivitas itu dilakukan.

Dasar metode pendidikan Islam itu adalah dasar agamis, biologis, psikologis, dan sosiologis. Keempat dasar di atas merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan harus diperhatikan oleh para pengguna metode pendidikan Islam agar dalam

mencapai tujuan tidak mengunakan metode yang tidak tepat dan tidak cocok kondisi agamis, kondisi biologis, kondisi psikologis, dan kondisi sosiologis peserta didik. Macam-macam metode pendidikan Islam: a. Metode Ceramah Metode ceramah adalah cara penyampaian inforemasi melalui secara lisan oleh pendidik kepada peserta didik. b. Metode Tanya jawab Metode Tanya jawab adalah suatu cara mengajar dimana seorang guru mengajukan beberapa pertanyaan kepada murid tentang bahan pelajaran yang telah diajarkan atau bacaan yang telah mereka baca. c. Metode diskusi Metode diskusi adalah suatu cara penyajian/ penyampaian bahan pelajaran dimana pendidik memberikan kesempatan kepada peserta didik/ membicarakan dan menganalisis secara ilmiyah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai alternative pemecahan atas sesuatu masalah. d. Metode Pemberian Tugas Metode pemberian tugas adalah suatu cara mengajar dimana seorang guru memberikan tugas-tugas tertentu kepada murid-murid, sedangkan hasil tersebut diperiksa oleh gur dan murid harus mempertanggung jawabkannya. e. Metode Demontrasi Metode demontrasi adalah suatu cara mengajar dimana guru mempertunjukan tentang proses sesuatu, atau pelaksanaan sesuatu sedangkan murid memperhatikannya. f. Metode eksperimen Suatu cara mengajar dengan menyuruh murid melakukan suatu percobaan, dan setiap proses dan hasil percobaan itu diamati oleh setiap murid, sedangkan guru memperhatikan yang dilakukan oleh murid sambil memberikan arahan. penuturan

g. Metode Amsal/perumpamaan Yaitu cara mengajar dimana guru menyampaikan materi pembelajaran melalui contoh atau perumpamaan. h. Metode Targhib dan Tarhib Yaitu cara mengajar dimana guru memberikan materi pembelajaran dengan menggunakan ganjaran terhadap kebaikan dan hukuman terhadap keburukan agar peserta didik melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan. i. Metode pengulangan (tikror) Yaitu cara mengajar dimana guru memberikan materi ajar dengan cara mengulang-ngulang materi tersebut dengan harapan siswa bisa mengingat lebih lama materi yang disampaikan.

4. EVALUASI dan LINGKUNGAN PENDIDIKAN ISLAM Evaluasi pendidikan Islam adalah suatu kegiatan untuk menentukan taraf kemajuan suatu aktivitas di dalam pendidikan Islam. Program evaluasi ini diterapkan dalam rangka mengetahui tingkat keberhasilan seorang pendidik dalam menyampaikan materi pelajaran, menemukan kelemahan-kelemahan yang dilakukan, baik berkaitan dengan materi, metode, fasilitas dan sebagainya. Oleh karena itu, yang dimaksud evaluasi dalam pendidikan Islam adalah pengambilan sejumlah keputusan yang berkaitan dengan pendidikan Islam guna melihat sejauhmana keberhasilan pendidikan yang selaras dengan nilai-nilai Islam sebagai tujuan dari pendidikan Islam itu sendiri. Tujuan Evaluasi yaitu mengetahui kadar pemahaman peserta didik, mengetahui siapa diantara peserta didik yang cerdas dan yang lemah, mengumpulkan informasi, untuk mengetahui penguasaan peserta didik dalam kompetensi/subkompetensi tertentu, untuk mengetahui kesulitan belajar peserta didik (diagnostic test) dan untuk memberikan arah dan lingkup pengembangan evaluasi selanjutnya.

Jenis-jenis Evaluasi yaitu evaluasi formatif, evaluasi sumatif, evaluasi penempatan (placement), dan evaluasi diagnostik. Yang dimaksud lingkungan meliputi kondisi dan alam dunia ini yang dengan cara-cara tertentu mempengaruhi tingkah laku kita, pertumbuhan, perkembangan atau life processes. begitu juga dalam pendidikan islam, karena tidak ada dikotomik antar pendidikan. Berbicara lingkungan dalam konteks pendidikan maka tidak akan terlepas dari apa yang dinamakan ki hajar dewantara dengan penamaan tripusat pendidikan. ki hajar dewantara mengatakan bahwa pendidikan berlangsung dalam tripusat pendidikan yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. jika dikaitkan dengan lingkungan pendidikan dalam perspektif islam, maka ada beberapa konsep yang dilahirkan baik itu dari Al-Quran itu sendiri, Nabi Muhammad maupun dari para cendikiawan muslim. Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam keluarga akan terjadi proses pendidikan, bahkan lingkungan keluarga sebagimana disebutkan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional ( SISDIKNAS) No 20 tahun 2003 merupakan lembaga pendidikan informal. Dari sini nampak secara yuridis maka keluarga memilki tanggung jawab dan peran yang besar dalam pendidikan anak-anaknya. orang tua pada lingkungan ini menjadi pendidik dan anak menjadi peserta didik. Dalam ajaran-ajaran Al-Quran, banyak sekali ayat-ayat yang berhubungan dengan lingkungan khusunya lingkungan kelaurga ini. Al- Quran telah mewanti-wanti agar keluarga memperhatikan pendidikan bagi anaknya supaya anaknya terhindar dari kelemahan baik lemah jasmani maupun rohani baik fisik maupun psikis sebagimana intisari dari Al-Quran surat ayat. demikian pula Al-Quran memerintahkan agar menjaga keluarga dari api neraka sebagaimana yang di sebutkan dalam Al-Quran surat ayat At-Tahrim (66) ayat 6. Dalam membentuk lingkungan keluarga yang kondusif, al-Quran menyebutkan agar keluarga membina segala sesuatunya dengan penuh rasa kasih sayang dan ketenangan. Lingkungan sekolah merupakan lingkungan dimana peserta didik menyerap nilainilai akademik termasuk bersosialisasi dengan guru dan teman sekolah. mengenai hal ini Zarnuzi penulis buku talimul mutaallim memberikan arahan tentang guru dan teman. menurut Zarnuzi, Idealnya seorang guru memiliki sifat alim wara dan lebih tua. Demikian pula anak di sekolah tidak akan lepas dari pergaulan dengan teman sebayanya. dalam hal ini Zarnuzi menyarankan agar memilih teman tidak sembarangan. hendaknya teman itu memiliki sifat yang tekun belajar, wara dan berwatak istiqomah karena hal itu secara langsung maupun tidak langsung akan saling mempengaruhi. teman yang satu akan terpengaruh dengan teman yang lainnya.

Dalam pandangan islam, masyarakat hendaknya di desain agar menjadi masyarakat yang madani yang terhindar dari kejahiliyahan. Madani dapat diartikan maju dalam peradaban, memilki tata nilai islami dan tidak tertinggal sedangkan jahiliyah identik dengan kebodohan, kegelapan dan penuh dengan hidup paganism dan kemusyrikan. oleh karena itu masyarakat islam harus dapat menunjukan identitasnya yang dilandasi dengan nilai rahmatan lil alamin. 5. PERIODESASI PENDIDIKAN ISLAM Dra. Zuhairini, MA. mengemukakan bahwa sejarah pendidikan Islam tidak bisa dilepaskan hubungannya dengan sejarah Islam sendiri, karena sejarah pendidikan Islam memang berada dalam sejarah Islam itu sendiri. Dia sendiri membagi sejarah pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam ke dalam lima periode, yaitu sebagai berikut: 1. Periode pembinan pendidikan Islam yang berlangsung pada zaman Nabi Muhammad Saw. 2. Periode pertumbuhan pendidikan Islam, yang berlangsung sejah Nabi Muhammad Saw wafat sampai masa akhir Bani Umayyah, yang diwarnai dengan berkembangnya ilmu-ilmu naqliyah. 3. Periode kejayaan (puncak perkembangan) pendidikan Islam, yang berlangsung sejak permulaan daulah Abbasiyah sampai dengan jatuhnya Baghdad, yang diwarnai dengan berkembangnya ilmu akliyah dan timbulnya madrasah, serta memuncaknya perkembangan kebudayaan Islam. 4. Periode kemunduran pendidikan Islam, yaitu sejak jatuhnya Baghdad sampai jatuhnya Mesir ke tangan Napoleon, yang ditandai dengan runtuhnya sendi-sendi kebudayaan Islam dan berpindahnya pusat-pusat pengembangan kebudayaan ke dunia Barat. 5. Periode pembaharuan pendidikan Islam, yang berlangsung sejak pendudukan Mesir oleh Napoleon sampai masa kini, yang ditandai dengan gejala-gejala kebangkitan kembali umat dan kebudayaan Islam. Sementara itu Prof. Dr. Hasan Langgulung dalam bukunya Manusia dan Pendidikan menyebutkan ada empat periode dalam sejarah pendidikan Islam. Periodisasi tersebut adalah sebagai berikut: 1. Zaman Pembinaan Awal 1. Zaman Rasul dan sahabat-sahabat yaitu antara 571 M dan 661 M 2. Zaman Kerajaan Umaiyah, yaitu antara 661 M sampai 705 M. Ciri-ciri utama pendidikan Islam pada zaman awalan ini adalah:

a) b) c) d) e) f)

Pendidikan Islam murni berdasarkan Alquran dan Hadis. Bertujuan meneguhkan dasar-dasar agama baru. Pada prinsipnya berdasar pada ilmu-ilmu Alquran/naqliyah. Menggunakan bahan tertulis sebagai alat komunikasi. Membuka peluang untuk mempelajari bahan asing. Menggunakan Kuttab, mesjid dan perpustakaan sebagai pusat pendidikan.

2. Zaman Keemasan 1. Di Timur, bermula dengan berdirinya kerajaan Abbasiyah di Baghdad (750 M1258 M) 2. Di Barat, bermula pada tahun 711 M, dan berakhir dengan jatuhnya Granada pada tahun 1492 M. Kerajaan Islam terakhir di Spanyol. 3. Zaman Kemerosotan. Bermula dengan berdirinya kerajaan Usmaniyah pada tahun 1517 M, sampai tahun 1917 M, yaitu kalahnya Turki pada perang dunia pertama dan bebasny negaranegara Arab dari kerajaan Utsmaniyah dengan kerjasama penjajah penjajah Inggris, Perancis dan Misionary Kristen. 4. Zaman Baru. Zaman Baru yaitu semenjak permulaan abad kedua puluh sampai sekarang. 6. MANAJEMEN DALAM PENDIDIKAN ISLAM Manajemen merupkan sebuah proses pemanfaatan semua sumber daya melalui bantuan orang lain dan bekerjasama dengannya, agar tujuan bersama bisa dicapai secara efektif, efesien, dan produktip. Sedangkan Pendidikan Islam merupakan proses transinternalisasi nilai-nilai Islam kepada peserta didik sebagai bekal untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan di dunia dan di akhirat. Dengan demikian maka yang disebut dengan manajemen pendidikan Islam sebagaimana dinyatakan Ramayulis (2008:260) adalah proses pemanfaatan semua sumber daya yang dimiliki (ummat Islam, lembaga pendidikan atau lainnya) baik perangkat keras maupun lunak. Pemanfaatan tersebut dilakukan melalui kerjasama dengan orang lain secara efektif, efisien, dan produktif untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan baik di dunia maupun di akhirat. Fungsi manajemen pendidikan Islam sesuai dengan pendapat yang dikemukan oleh Robbin dan Coulter yang pendapatnya senada dengan Mahdi bin Ibrahim yaitu : Perencanaan, pengorganisasian, pengarahan/kepemimpinan, dan pengawasan.

ALIRAN-ALIRAN ILMU PENDIDIKAN ISLAM 1. Aliran Empirisme Tokoh aliran Empirisme adalah John Lock, filosof Inggris yang hidup pada tahun 1632-1704. Teorinya dikenal dengan Tabulae rasae (meja lilin), yang menyebutkan bahwa anak yang lahir ke dunia seperti kertas putih yang bersih. Kertas putih akan mempunyai corak dan tulisan yang digores oleh lingkungan. Faktor bawaan dari orangtua (faktor keturunan) tidak dipentingkan. Pengalaman diperoleh anak melalui hubungan dengan lingkungan (sosial, alam, dan budaya). Pengaruh empiris yang diperoleh dari lingkungan berpengaruh besar terhadap perkembangan anak. Menurut aliran ini, pendidik sebagai faktor luar memegang peranan sangat penting, sebab pendidik menyediakan lingkungan pendidikan bagi anak, dan anak akan menerima pendidikan sebagai pengalaman. Pengalaman tersebut akan membentuk tingkah laku, sikap, serta watak anak sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan.
2. Aliran Nativisme

Tokoh aliran Nativisme adalah Schopenhauer. la adalah filosof Jerman yang hidup pada tahun 1788-1880. Aliran ini berpandangan bahwa perkembangan individu ditentukan oleh faktor bawaan sejak lahir. Faktor lingkungan kurang berpengaruh terhadap pendidikan dan perkembangan anak. Oleh karena itu, hasil pendidikan ditentukan oleh bakat yang dibawa sejak lahir. Dengan demikian, menurut aliran ini, keberhasilan belajar ditentukan oleh individu itu sendiri. Nativisme berpendapat, jika anak memiliki bakat jahat dari lahir, ia akan menjadi jahat, dan sebaliknya jika anak memiliki bakat baik, ia akan menjadi baik. Pendidikan anak yang tidak sesuai dengan bakat yang dibawa tidak akan berguna bagi perkembangan anak itu sendiri. 3. Aliran Naturalisme Tokoh aliran ini adalah J.J. Rousseau. la adalah filosof Prancis yang hidup tahun 1712-1778. Naturalisme mempunyai pandangan bahwa setiap anak yang lahir di dunia mempunyai pembawaan baik, namun pembawaan tersebut akan menjadi rusak karena pengaruh lingkungan, sehingga aliran Naturalisme sering disebut Negativisme.
4. Aliran Progresivisme

10

Tokoh aliran Progresivisme adalah John Dewey. Aliran ini berpendapat bahwa manusia mempunyai kemampuan-kemampuan yang wajar dan dapat menghadapi serta mengatasi masalah yang bersifat menekan, ataupun masalahmasalah yang bersifat mengancam dirinya. Aliran ini memandang bahwa peserta didik mempunyai akal dan kecerdasan. Hal itu ditunjukkan dengan fakta bahwa manusia mempunyai kelebihan jika dibanding makhluk lain. Manusia memiliki sifat dinamis dan kreatif yang didukung oleh ke-cerdasannya sebagai bekal menghadapi dan memecahkan masalah. 5. Aliran Esensialisme Aliran Esensialisme bersumber dari filsafat idealisme dan realisme. Sumbangan yang diberikan keduanya bersifat eklektik. Artinya, dua aliran tersebut bertemu sebagai pendukung Esensialisme yang berpendapat bahwa pendidikan harus bersendikan nilai-nilai yang dapat mendatangkan kestabilan. Artinya, nilai-nilai itu menjadi sebuah tatanan yang menjadi pedoman hidup, sehingga dapat mencapai kebahagiaan. Nilai-nilai yang dapat memenuhi adalah yang berasal dari kebudayaan dan filsafat yang korelatif selama empat abad yang lalu, yaitu zaman Renaisans. 6. Aliran Perenialisme Tokoh aliran Perenialisme adalah Plato, Aris-toteles, dan Thomas Aquino. Perenialisme memandang bahwa kepercayaan aksiomatis zaman kuno dan abad pertengahan perlu dijadikan dasar pendidikan sekarang. Pandangan aliran ini tentang pendidikan adalah belajar untuk berpikir. Oleh sebab itu, peserta didik harus dibiasakan untuk berlatih berpikir sejak dini. Pada awalnya, peserta didik diberi kecakapan-kecakapan dasar seperti membaca, menulis, dan berhitung. Selanjutnya perlu dilatih pula kemampuan yang lebih tinggi seperti berlogika, retorika, dan bahasa. 7. Aliran Konstruktivisme Aliran ini menegaskan bahwa pengetahuan mutlak diperoleh dari hasil konstruksi kognitif dalam diri seseorang; melalui pengalaman yang diterima lewat pancaindra, yaitu indra penglihatan, pendengaran, peraba, penciuman, dan perasa. Dengan demikian, aliran ini menolak adanya transfer pengetahuan yang dilakukan dari seseorang ke-pada orang lain, dengan alasan pengetahuan bukan barang yang bisa dipindahkan, sehingga jika pembelajaran ditujukan untuk mentransfer ilmu, perbuatan itu akan sia-sia saja. Sebaliknya, kondisi ini akan berbeda jika pembelajaran ini ditujukan untuk menggali pengalaman.

11

8. Aliran Konvergensi Tokoh aliran Konvergensi adalah William Stem. la seorang tokoh pendidikan Jerman yang hidup tahun 1871-1939. Aliran Konvergensi merupakan kompromi atau kombinasi dari aliran Nativisme dan Empirisme. Aliran ini berpendapat bahwa anak lahir di dunia ini telah memiliki bakat baik dan buruk, sedangkan perkembangan anak selanjutnya akan dipengaruhi oleh lingkungan. Jadi, faktor pembawaan dan lingkungan sama-sama berperan penting. LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM Lembaga pendidikan Islam adalah tempat atau organisasi yang menyelenggarakan pendidikan Islam yang mempunyai struktur yang jelas dan bertanggung jawab atas terlaksananya pendidikan Islam. Jenis lembaga pendidikan Islam: Keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama, tempat peserta didik pertama kali menerima pendidikan dan bimbingan dari orang tuanya atau anggota keluarga yang lain. Rumah sebagai lembaga pendidikan dalam islam sudah diisyaratkan oleh Al-Quran seperti yang terkandung dalam Q.S As-Syura, 26:214. Sekolah atau madrasah merupakan lembaga yang melaksanakan pembinaan, pendidikan, dan pengajaran dengan sengaja, teratur dan terencana. Masyarakat merupakan lembaga pendidikan yang ketiga setelah keluarga dan sekolah, dan corak pendidikan yang diterima oleh peserta didik yaitu meliputi segala bidang, baik pembentuk kebiasaan, pembentukan pengetahuan, sikap dan minat, maupun pembentukan kesusilaan dan keagamaan.

12