Anda di halaman 1dari 3

BEM FISIP UNIVERSITAS AIRLANGGA

DEPARTEMEN SOSIAL DAN POLITIK


JL.Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya

ADVOKASI PKL
Juli 2009
Kamis, 16 Dalam perjalanannya, konflik PKL ada di Surabaya dengan Satpol PP sebagai
alat Pemerintah kota dalam menjalankan Peraturan Daerah no 10 tahun 2000 tentang
jalan. Peraturan tersebut mengutarakan bahwa tempat umum atau jalan dilarang
digunakan untuk transaksi perdagangan. Dalam hal ini Pemerintah mempunyai
antitesis terhadap permasalahan sosial PKL melalui Peraturan Daerah no 3 tahun 2003
yang berbunyi penempatan PKL harus dipindahkan dalam sebuah lahan yang dimiliki
oleh pemerintah kota. Akan tetapi Peraturan Daerah ini memiliki kejanggalan
terhadap aplikasi di lapangannya, hal ini dikarenakan jika Pemerintah kota ingin
menggunakan lahan tersebut untuk kepentingan lain maka para PKL yang terkoordinir
harus mau untuk direlokasi di tempat yang lain. Perda ini sudah tidak berlaku lagi,
terakhir kali perda ini berlaku dalam advokasi PKL yang ada di sekitar lapangan
Softball Dhamawangsa dan untuk selajutnya perda ini sudah tidak berlaku lagi karena
sudah dicabut kembali pada November 2007.
Hal inilah yang kemudian melatarbelakangi perjuanagan para PKL yang ada
disekitar Universitas Airlangga. Diawali dengan penggusuran PKL yang terjadi setiap
harinya ditambah adanya beberapa elemen masyarakat dalam hal ini mahasiswa yang
mebutuhkan PKL untuk konsumsi sehari-hari, para PKL ini memutuskan untuk
membuat organisasi PKL yang berbentuk Paguyuban. Dan tepat pada 15 Desember
2007 Paguyuban tersebut berdiri dan kemudian dinamai Paguyuban PKL Gotong
royong.
Menurut beberapa mahasiswa yang telah dimintai keterangan untuk tugas
Sosiologi oflik ini, mahasiswa mempunyai kebutuhan tersendiri mngenai PKL.
Mahasiswa yang tergabung dalam beberapa organisasi kampus seperti BEM Hukum
UA, BEM FISIP UA, GMNI FISIP UA, GMNI Hukum UA,PMII UA, FORSAMM,
dan SKMR ini sepakat untuk mengadvokasi PKL ini. Kebutuhan mahasiswa kepada
PKL ini adalah kebutuhan mahasiswa untuk mencari makanan dan minuman dengan
harga yang murah. Hal ini dilengkapi dengan adanya anggota PKL yang menjual jasa
Tambal Ban. Kebetulan mamahasiswa yang berkuliah di Unversitas Airlanggga ini
adalah Mahasiswa kos yang uang sakunya dirasa pas-pasan untuk mencukupi
kebutuhan kehidupan sehari-harinya.
Selain dari mahasiswa advokasi PKL ini juga didukung oleh LKHI Surabaya
yang memang mempunyai dasar Hukum yang jelas mengingat alat yang digunakan
untuk melawan PKL ini adalah Perda atau yang biasa kita kenal Peraturan Daerah
yang dilakukan oleh Satpol PP yang terkadang melampaui batas-batas kemanusiaan
dalam menegakkan Perda ini.
Sementara itu dalam perjalanannya para PKL ini mempunyai kebutuhan
tersendiri dalam permasalahannya. Dalam satu sisi para PKL dituntut untuk Hidup
dan memenuhi kebutuhan keluarganya akan tetapi disisi yang lain PKL menghadapi
permasalahan yang rumit karena mereka menyalahi Peraturan Daerah yang telah
disebutkan diatas.
Konflik yang terjadi ini memiliki tingkat kerumitan dalam penyelesaianya. Hal
ini dikarenakan tempat yang mereka gunakan untuk berjualan merupakan wilayah
politik Universitas Airlangga. Sehingga Universitas Airlangga sendiri mempunyai
wewenang terhadap penyelesaian konflik ini. Terbukti sudah dua periode Camat
Wilayah Gubeng menjadi Satpol PP Surabaya, terakhir pada awal Juni 2009.

1
BEM FISIP UNIVERSITAS AIRLANGGA
DEPARTEMEN SOSIAL DAN POLITIK
JL.Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya

Re-Solusi Permasalahan
Juli 2009
Kamis, 16 Pada perjalanan berdirinya Paguyuban PKL Gotong Royong ini tak sedikit
masalah yang dihadapi. Banyak permasalahan yang kemudian sangat berpengaruh
terhadap peta politik yang ada di universitas Airlangga pada Khususnya dan Kota
Surabaya pada Umumnya. Pada lima bulan pertama aktifitas Paguyuban PKL Gotong
Royong yang diketuai oleh Pedagang Batagor, Abidin, berjalan sesuai apa yang
diinginkan oleh Organisasi Paguyuban. Hal ini terbukti dengan adanya pembuatan
Kartu Tanda Anggota Paguyuban PKL Gotong Royong, Pembuatan jadwal kerja bakti
selama 2 minggu sekali, iuran anggota, ditambah dengan rapat Koordinasi ditiap awal
Bulan.
Akan tetapi pasca itu anggota payuban yang awalnya mencapa 69 anggota ini
mengahadapi permasalahan yang sangat rumit. Permasalahan-permasalahan tersebut
antara lain :
1. Adanya Pungutan Liar (Pungli) Satpol PP,
2. Penggusuran dikarenakan Perda,
3. Penggusuran yang dikarenakan Surabaya akan mengikuti Lomba kebersihan
Kota yang kita kenal dengan Adipura,
4. Penggusuran yang diakibatkan oleh proyek Kota Surabaya, yaitu Sparkling
Surabaya,
5. Penggusuran yang dikarenakan tempat PKL berjualan banyak digunakan untuk
kegiatan negative seperti balapan liar atau konsumsi Miras,
6. Penggusuran yang dulakukan oleh pihak Rektorat dalam hal ini yang
berwenag adalah Manager Kampus B, Joko.

Hal inilah yang mengurungkan niat beberapa anggita PKL untuk berjuang
bersama sehingga hingga saat ini anggota Paguyuban PKL Gotong Royong hanya
berjumlah 49 anggota. Minimnya koordinasi karena setiap hari mereka harus
menyelamatkan dagangan mereka yang terus menerus terkena obrakan menjadikan
banyak anggota menjadi terpecah belah karena merasa iri karena ada beberapa dari
para anggota yang tidak mau untuk berjuang secara bersama-sama.
Akan tetapi dengan kesadaran para pengurus paguyuban yang dengan rela hati
mampu memperjuangkan hak anggotanya dan dengan dibantu para advokator yang
mengawal paguyuban kemudian permasalahan ini dapat diatasi walaupun sudah
mengorbankan banyak anggota yang keluar dari paguyuban ini.
Permasalahan semakin memuncak ketika dalam konflik intern yang terjadi,
terdapat penggusuran PKL besar-besaran yang dilakukan oleh segenap jajaran Petugas
keamanan dan ketertiban seperti Polisi, Petugas Linmas, dan Satpol PP. Hal yang
jarang perjadi selama kurun waktu 1 tahun terbentuknya paguyuban. Hal ini
dikarenakan adanya proyek lingkungan yang telah dikerjakan oleh Pemerintah kota
dan bekerjasama dengan pihak Luar Negeri. Hal ini telah merembet ke Paguyuban
PKL yang lain seperti Paguyuban PKL jalan Semarang, Paguyuban PKL Gembong,
PKL di Jalan Nias, PKL di Jagir dan Para Korban penertiban yang merupakan salah
satu bagian Proyek tersebut seperti Penertiban yang dilakukan di Sepanjang Sungai
Jagir seperti Warga Kompleks Jagir dab Barata Jaya serta warga Kampung baru yang
terletakdi Kecamatan Wonokromo.
Kembali ke permasalahan yang di alami oleh Paguyuban PKL Gotong Royong,
konflik yang dihadapi semakin meluas ke arah tim advokator yang kemudian hari

2
BEM FISIP UNIVERSITAS AIRLANGGA
DEPARTEMEN SOSIAL DAN POLITIK
JL.Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya

banyak dari mereka yang mengundurkan diri dan hanya tinggal 3 organisasi saja
Juli 2009 antara lain BEM FISIP UA, SKMR, dan LKHI. Konflik tim advokator-pun semakin
Kamis, 16 hari semakin parah. Hal ini dikarenakan perbedaan pendapat yang terjadi antara
mereka.
BEM FISIP UA menginginkan untuk mengusulkan re-solusi konflik ini sampai ke
tahap penyelesainnya dilakukan oleh pihak rektorat. Alasannya Paguyuban PKL ini
terletak dalam wilayah politik Universita Airlangga sehingga penyelesaiannya harus
melalui tahap tersebut karena jika melalui Pemkot maupun DPRD Surabaya akan
terlalu jauh melibatkan mereka dan lawan yang kita hadapi adalah Perda yang
merupakan Produk Hukum dari mereka.
Sementara itu SKMR menginginkan re-solusi konflik ini dilakukan oleh pihak
DPRD Kota. Alasannya adalah para PKL yang langsung berhadapan dengan perda
yang moment serta waktunya tepat yaitu moment Pemilu Legislatif yang momentnya
pada waktu itu para anggota Legislatif bisa membawa PKL tersebut dalam program
kerja mereka.
Konflik tersebut mengakibatkan BEM FISIP akan keluar dari Aliansi tersebut.
Akan tetapi peran LKHI yang cenderung menengahi konflik ini mengeluarkan
statetemen agar Aliansi ini tidak kehilangan anggota aliansi yang menjadi tim
advokator seperti yang telah terjadi di masa lalu.
Dan jalan tengah yang diambil adalah kedua cara tersebut akan dilakukan oleh
aliansi, walaupun memang yang akan melaksanakan tugas-tugas tersebut adalah
masing-masing organisasi. Sampai pada tahapan re-solusi ini para PKL lebih sepakat
menjalankan cara yang diusulkan oleh BEM FISIP Universitas Airlangga yang
diwakili oleh Amanu Raharjo, koordinator sosial BEM FISIP pada waktu itu.

Solusi dan Penyelesaian Konflik


Akhirnya mereka sepakat membentuk team yang akan berangkat ke rektorat
untuk menyelesaikan konflik ini. Team ini terdiri dari wakil-wakil organisasi serta
anggota Paguyuban PKL Gotong Royong. LHKI diwakili oleh Agus “Mbah”
Wibowo, BEM FISIP diwakili oleh Amanu Raharjo, SKMR diwakili oleh Hendrik
Kecenk, dan Paguyuban PKL Gotong Royong diwakili oleh Ketua Paguyuban Pak
Abidin dan Sekjend Paguyuban Ibu Sulasih. Team ini akan merumuskan akan dibawa
ke mana Paguyuban PKL ini.
Pada awalnya rektorat tidak setuju jika PKL tetap berjualan di sekitar
Universitas terutama di Kampus B. Akan tetapi tahapan negosiasi terus berlanjut
sampai negosiasi politik diangkat dalam beberapa rapat yang dilakukan antara
mahasiswa dan rektorat, salah satunya adalah saat melakukan aksi waktu kenaikan
SPP pada April 2009 yang lalu.
Pada akhir dari Konflik ini bulan Mei direktur PSDM UniversitasAirlangga
Prof. dr. Fendi mau menerima mereka dan akan merelokasi mereka ke dalam kampus
jika Parkir tingkat antara Fakultas Ilmu Budaya dan FISIP telah jadi dan akan
menempatkan mereka di lantai Pertama. Dan sembari proses ini berlangsung gerakan
Paguyuban Gotong Royong ini akan tetap berlangsung untuk menghadapi Satpol PP
yang terus menerus melaksanakan Perda dan beberapa dari mereka yang melakukan
kecurangan praktek seperti operasi penertiban yang mereka gunakan untuk pungutan
liar. Karena pihak rektorat tidak menjamin penuh Paguyuban PKL Gotong Royong ini
dalam tahapan pra-relokasi di dalam kampus.