Anda di halaman 1dari 46

FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TERJADINYA FLOUR ALBUS PADA REMAJA PUTRI DI SMA N 1 BUNGARAYA SIAK TAHUN 2013

PROPOSAL
Diajukan Sebagai Persyaratan Untuk Mendapatkan Gelar Sarjana Keperawatan

RIKA VIA JULIANA 11.3.1.1.0036

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ( STIKes ) PAYUNG NEGERI PEKANBARU 2013

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang Kesehatan merupakan hak dasar yang dimiliki manusia dan menentukan salah satu faktor yang sangat menentukan kualitas Sumber Daya Manusia,disamping itu juga merupakan karunia Tuhan yang perlu dipelihara dan ditingkatkan kualitasnya serta dilindungi dari ancaman yang

merugikannya. Derajat kesehatan dipengaruhi oleh banyak faktor : lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan keturunan. Perilaku sehat adalah perilaku proaktif untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah resiko terjadinya penyakit, melindungi diri dari ancaman penyakit, serta berperan aktif dalam gerakan masyarakat (Depkes, 2002). Kesehatan reproduksi di kalangan wanita perlu memperoleh perhatian yang serius. Beberapa penyakit-penyakit infeksi organ reproduksi wanita adalah trikomoniasis, veginosis bakterial, kandidiasisvulvovaginitis, gonore,

klamida, sifilis, ulkus mote/ chncroid. Salah satu gejala dan tanda-tanda penyakit infeksi organ reproduksi wanita adalah terjadinya flour albus. Flour albus merupakan salah satu masalah yang sejak lama menjadi persoalan bagi kaum wanita. Flour albus adalah cairan berlebih yang keluar dari vagina (Dwiana, 2008).
1

Flour albus adalah gejala awal dari kanker mulut rahim. Di seluruh dunia, kini terdapat sekitar 2,2 juta penderita kanker serviks. Kanker serviks atau kanker leher rahim adalah tumor ganas yang menyerang leher rahim yang disebabkan virus (HPV) Human Papilonia Virus, pada awalnya kanker serviks tidak menimbulkan gejala, namun bila sudah berkembang menjadi kanker serviks barulah muncul gejala-gejala klinis, seperti flour albus yang berbau dan bercampur darah, pendarahan diluar haid, sakit saat buang air kecil dan rasa sakit yang luar biasa pada panggul (Dwiana, 2008). Banyak wanita di Indonesia yang tidak tahu tentang flour albus

sehingga mereka menggangap flour albus sebagai hal yang umum dan sepele, disamping itu rasa malu ketika mengalami flour albus kerap membuat remaja enggan berkonsultasi ke dokter. Padahal flour albus tidak bisa dianggap sepele, karena akibat dari fluor albus ini sangat fatal bila lambat ditangani, tidak hanya bisa mengakibatkan kemandulan dan hamil diluar kandungan, flour albus juga bisa merupakan gejala awal dari kanker leher yang bisa berujung pada kematian (Sugi, 2009). Data keputihan tentang kesehatan reproduksi menunjukkan bahwa 75% wanita di dunia pasti mengalami keputihan paling tidak sekali seumur hidup dan 45% diantaranya mengalami keputihan sebanyak 2 kali atau lebih. Di Indonesia kejadian keputihan semakin meningkat. Berdasarkan hasil penelitian menyebutkan bahwa pada tahun 2002 sebanyak 50% wanita Indonesia pernah mengalami keputihan, kemudian pada tahun 2003 meningkat

menjadi 60% dan pada tahun 2004 meningkat lagi menjadi hamper 70% wanta Indonesia pernah mengalami keputihan setidaknya sekali dalam hidupnya (Katharini, 2009). Masalah keputihan adalah masalah yang sejak lama menjadi persoalan bagi kaum wanita. Remaja merupakan salah satu bagian dari populasi beresiko terkena keputihan yang perlu mendapat perhatian khusus. Remaja mengalami pubertas yang ditandai dengan datangnya menstruasi. Pada sebagian orang saat menjelang menstruasi akan mengalami keputihan. Keputihan ini normal (fisiologis) selama jernih dan tidak berbau, tidak terasa gatal dan dalam jumlah yang tidak berlebihan. Bila cairan berubah menjadi berwarna kuning, bau dan isertai gatal maka telah terjadi keputihan patologis. Akibat keputihan ini sangat fatal bila lambat ditangani. tidak hanya bisa mengakibatkan

kemandulan dan hamil diluar kandungan dikarenakan terjadi penyumbatan pada saluran tuba, keputihan juga bisa merupakan gejala awal dari kanker rahim yang merupakan pembunuh nomor satu bagi wanita dengan angka insiden kanker servik diperkirakan mencapai 100 per 100.000 penduduk per tahun, yang bisa berujung pada kematian (Katharini, 2009). Dua hal yang menjadi faktor pendorong flour albus yaitu faktor endogen dari dalam tubuh dan faktor eksogen dari luar tubuh, yang keduanya saling mempengaruhi. Faktor endogen yaitu kelainan pada lubang kemaluan, faktor eksogen dibedakan menjadi dua yakni karena infeksi dan non infeksi. Faktor infeksi yaitu bakteri, jamur, parasit, virus, sedangkan faktor non infeksi

adalah masuknya benda asing ke vagina baik sengaja maupun tidak, cebok tidak bersih, daerah sekitar kemaluan lembab, kondisi tubuh, kelainan endokrin atau hormon, menopause (Susi, 2009). Bagi seorang remaja menjaga kebersihan dan keindahan tubuh merupakan hal yang wajib dilakukan akan tetapi masih terdapat wanita yang kurang memperhatikan kebersihan alat reproduksinya. Umumnya terdapat beberapa keluhan dan penyakit yang mengganggu aktivitas keseharian dari wanita salah satunya adalah keputihan, terkadang remaja yang terserang keputihan mengalami reaksi kejiwaan, ketakutan dan juga kecemasan yang berlebih. Keadaan ini membuat wanita merasa kurang percaya diri sehingga menarik diri dari pergaulan sehingga keadaan seperti ini membahayakan dirinya sendiri (Rozanah,2003). Untuk mengatasi masalah keputihan dapat dicegah dengan cara selalu jaga kebersihan diri, terutama kebersihan alat kelamin Biasakan membasuh vagina dengan cara yang benar, yaitu dengan gerakan dari depan kebelakang, cuci dengan air bersih setiap buang air dan mandi. Selalu gunakan panty liner dan gantilah pada waktunya. Jangan terlalu lama agar bakteri tidak terkumpul, hindari terlalu sering memakai bedak talk disekitar vagina, tissue harum, atau tissue toilet ini akan membuat vagina kerap teriritasi, hindari suasana vagina lembab misalnya dengan menggunakan celana dengan bahan yang menyerap keringat, hindari pemakaian celana terlalu ketat, penggunaan cairan pembersih vagina sebaiknya tidak berlebihan karena dapat mematikan flora normal

vagina. Jika perlu, lakukan konsultasi medis dahulu sebelum menggunakan cairan pembersih vagina, hindari pemakaian barang-barang yang memudahkan penularan seperti meminjam perlengkapan mandi, pola hidup yang sehat yaitu diet seimbang, olahraga yang rutin, istirahat cukup, hindari rokok dan alkohol serta hindari stres berkepanjangan (Hendrawan, 2008). Otak mempengaruhi kerja semua organ tubuh, jadi jika reseptor otak mengalami stress maka hormonal di dalam tubuh mengalami perubahan keseimbangan dan dapat menyebabkan timbulnya keputihan. Hal ini sesuai dengan pendapat Purwantyastuti (2004) yang mengatakan bahwa wanita bisa mengalami gangguan siklus menstruasi / keputihan yang disebabkan oleh stres (Suryana, 2009). Berdasarkan survey awal yang peneliti lakukan, peneliti melihat bahwa kemungkinan flour albus yang terjadi pada remaja di SMA N 1 Bungaraya bisa disebabkan oleh faktor cuaca dan banjir yang memungkinkan air sumur atau air yang digunakan tercemar oleh bakteri, keadaan toilet yang kotor dan ada juga kebiasaan remaja putri setelah habis buang air kecil tidak

dikeringkan dengan tisu sehingga dibiarkan lembab, ditambah kegiatan belajar mengajar di mulai dari pukul 08.00 WIB sampai dengan pukul 14.00 WIB dan kurang mengetahui cara membersihkan vagina dengan baik dan benar. Berdasarkan dari uraian diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara factor - faktor yang mempengaruhi terjadinya Flour albus di SMA N 1

Bungaraya .

Rumusan Masalah Dari uraian latar belakang dan data yang diperoleh, penulis merumuskan masalah yang akan di teliti Apakah Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Flour Albus Pada Remaja Putri Di SMA N 1 Bungaraya Tahun 2013.

C 1

Tujuan Tujuan Umum Untuk mengetahui faktor - faktor apa saja yang mempengaruhi terjadinya flour albus pada Remaja Putri di SMA N 1 Bungaraya Tahun 2013. 2 a Tujuan Khusus Untuk mengetahui distribusi frekuensi kebersihan alat genetalia pada remaja putri dengan terjadinya fluor albus pada Remaja Putri di SMA N 1 Bungaraya Tahun 2013. b Untuk mengetahui distribusi frekuensi kondisi tubuh (stress) pada remaja putri pada Remaja Putri di SMA N 1 Bungaraya Tahun 2013. c Untuk mengetahui frekuensi terjadinya fluor albus pada remaja putri di SMA N 1 Bungaraya Tahun 2013. d Untuk mengetahui pengaruh antara kebersihan alat genetalia pada

remaja putri dengan terjadinya fluor albus pada Remaja Putri di SMA N 1 Bungaraya Tahun 2013. e Untuk mengetahui pengaruh antara kondisi tubuh (stres) pada remaja putri dengan terjadinya fluor albus pada Remaja Putri di SMA N 1 Bungaraya Tahun 2013.

D 1

Manfaat Bagi Mahasiswi Jurusan Keperawatan Hasil penelitian ini di harapkan dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan mahasiswi tentang Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya fluor albus pada remaja putri di SMA N 1 Bungaraya Tahun 2013. 2 Bagi Institusi Diharapkan hasil penelitian ini dapat di jadikan latihan dan referensi kepustakaan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. 3 Bagi Peneliti Hasil penelitian ini sebagai data dasar dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan menambah wawasan penulis mengenai faktorfaktor yang mempengaruhi terjadinya fluor albus pada remaja putri di SMA N 1 Bungaraya Tahun 2013.

10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A 1

Definisi Fluor albus Fluor albus adalah semacam silim yang keluar terlalu banyak, warnanya putih seperti sagu kental dan agak kekuning-kuningan. Jika silim atau lendir ini tidak terlalu banyak, tidak menjadi persoalan (Handayani, 2008). Keputihan atau dalam istilah medisnya disebut fluor albus (fluor=cairan kental, albus = putih) atau leukorhoe secara umum adalah keluarnya cairan kental dari vagina yang bisa saja terasa gatal, rasa panas atau perih, kadang berbau atau malah tidak merasa apa-apa. Kondisi ini terjadi karena terganggunya keseimbangan flora normal dalam vagina, dengan berbagai penyebab (Sianturi, 2001). Fluor albus adalah semua pengeluaran cairan alat genetalia yang bukan darah. Fluor albus bukan penyakit tersendiri, tetapi merupakan manifestasi gejala dari hampir semua penyakit kandungan (Manuaba, 2005).

11

Etiologi Menurut Clayton, 2005. faktor-faktor penyebab terjadinya

keputihan terbagi menjadi lima faktor yaitu : a Infeksi Adanya jasad renik berupa kuman,jamur,parasit,dan virus dapat menyebabkan terjadinya gangguan dalam kehidupan sel-sel alat kelamin normal dan jasad renik ini menghasilkan zat kimia tertentu yang sering kali bersifat asam dan dapat menghasilkan bau yang tidak sedap. b Kelainan alat kelamin di dapat atau bawaan Kadang-kadang pada wanita di temukan cairan dari liang senggama yang bercampur dengan air seni atau kotoran dari usus(feses).Hal ini dapat terjadi karena akibat adanya lubang kecil(fistel) dari kandung kemih atau usus ke liang senggama akibat adanya cacat bawaan dan cidera persalinan c Benda Asing Adanya benda asing seperti kotoran tanah atau biji-bijian pada anak-anak atau tertinggalnya kondom atau benda tertentu yang di pakai pada waktu senggama,cincin besarium,yang di gunakan pada wanita yang menderita hernia atau turunnya alat kandungan dapat merangsang pengeluaran cairan liang senggama yang berlebihan.

12

Kanker Pada kanker leher rahim yang merupakan pembunuh wanita terbanyak terjadi pengeluaran cairan yang banyak di sertai oleh bau busuk.Terjadinya pembusukan tadi sering kali di sertai oleh adanya darah tidak segar.

Menopause Pada keadaan haid berhenti sel-sel pada leher rahim dan liang senggama mengalami hambatan dalam pematangan sel akibat tidak adanya hormon pemicu yaitu estrogen.Liang senggama menjadi kering pada keadaan menopause ini dan sering timbul rasa gatal karena tipisnya lapisan sel sehingga mudah menimbulkan luka dan akibatnya infeksi.

3 a

Klasifikasi Fluor albus Fluor albus Normal atau fisiologis Adalah jika cairan yang keluar encer, berwarna bening atau jernih tidak berbau, tidak gatal dan jumlahnya sedikit. Fluor albus ini biasanya terjadi menjelang haid, saat observasi, saat hamil, badan lelah atau kecapaian atau akibat rangsangan seksual. Fluor albus jenis ini jika kering akan melekat pada pakaian atau celana dalam dan biasanya berwarna kuning kecoklatan. b Fluor albus tidak normal atau penyakit

13

Adalah jika cairan yang keluar bersifat kental, berwarna putih susu, kuning atau hijau, terasa gatal, berbau tidak sedap dan biasanya akan menyesesuaikan bercak pada pakaian dalam Menurut (Clayton, 2005). 4 Tanda dan gejala klinis Tanda dan gejala klinis dari fluor albus adalah gatal pada organ intim, rasa terbakar atau panas, kemerahan daerah organ intim bagian luar, nyeri saat berkemih, nyeri saat berhubunhan intim (Clayton, 2005). 5 Patofosiologi Proses infeksi dimulai dengan perlekatan candida pada sel epitel vagina. Kemampuan melekat ini lebih baik pada candida albizans dari pada spesies kandida lainnya. Kemudian candida, mensekresikan enzim proteolitik yang mengakibatkan kerusakan ikatan, ikatan protein sel penjamu sehingga memudahkan proses invasi. Selain itu candida juga mengeluarkan mikrotoksin diantaranya gliotoksin yang mampu

menghambat aktivitas fagositosis dan menekan sistem imunlokal. Terbentuknya kolonisasi candida memudahkan proses imunisasi tersebut berlangsung sehingga menimbulkan gejala pada pejamu (Clayton, 2005). 6 Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjang pada wanita yang menderita fluor albus akan dilihat dulu dengan seksama mulai dari bibir kemaluannya dan juga kandung kemih (ureter) sampai anus. Bila didapat cairan yang mengalir

14

perlu ditentukan konsistensinya, warna, bau dan juga pada daerah sekitarnya apakah ada luka atau kutil dan tumor (Clayton, 2005). 7 a b Penatalaksanaan Jangan terlalu sering menggunakan produk pembersih vagina. Biasakan membasuh dari arah depan kebelakang sesudah buang air kecil atau besar. Ini mencegah vagina tercemar dari organism yang berasal dari anus. c Jagalah kebersihan dengan selalu membasuh daerah kemaluan menggunakan air bersih. d Hindari pemakaian celana dalam yang ketat terlalur

sering,terutama yang terkuat dari bahan nilon. Memakai pakaian dalam yang tidak menghambat sirkulasi udara. Hindari pakaian dari bahan spandex atau sinteks. Pilih yang terkuat dari bahan katun dan bahan lain yang membuat kulit bernafas bebas. e Hindari terlalu sering menggunakan tissue toilet ( khususnya yang wangi) setiap buang air kecil atau besar. f Jagalah kesehatan tubuh dengan mengkonsumsi makanan sehat dan bervariasi (Clayton, 2005). 8 Pengobatan Pada fluor albus yang dikategorikan normal tidak perlu ada terapi khusus, yang penting adalah membersihkan organ intim secara benar dan teratur. Umumnya cukup dengan sabun khusus vagina dan air bersih serta

15

menjaga agar pakaian dalam tetap kering dan bersih setiap saat. Sedangkan pada fluor albus yang tidak normal sesuai dengan penyebabnya harus segera penyebabnya harus segera mendapatkan pengobatan medis (Dwiana, 2008). 9 Komplikasi Komplikasi fluor albus bisa menimbulkan infertilitas atau masalah kesuburan atau gangguan haid dan penyakit radang panggul (Clayton, 2005). 10 Pencegahan Menurut Clayton (2005), tindakan pencegahan sekaligus mencegah berulangnya fluor albus yaitu dengan: a Pola hidup sehat yaitu diet yang seimbang, olahraga rutin, istirahat cukup, hindari rokok, dan alkohol serta di hindari stress

berkepanjangan. b Setia pada pasangan, hindari promiskuitas atau gunakan kondom untuk mencegah penularan penyakit menular seksual. c Selalu menjaga kebersihan daerah pribadi, dengan menjaganya agar tetap kering dan tidak lembab, misalnya dengan menggunakan celana dengan bahan yang menyerap keringat, hindari pemakaian celana terlalu ketat, biasakan untuk mengganti pembalut pantyliner pada waktunya untuk mencegah bakteri berkembang biak. d Biasakan membasuh dengan cara yang benar tiap kali buang air yaitu dari arah depan ke belakang.

16

Penggunaan cairan pembersih vagina sebaiknya tidak berlebihan, karena dapat mematikan flora normal vagina.

Hindari penggunaan bedak facum, tisue atau sabun dengan pewangi pada daerah vagina. Hindari pemakaian barang-barang yang

memudahkan penularan, seperti meminjam perlengkapan mandi.

Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Fluor albus Menurut Susi (2009), faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya fluor albus adalah: 1 Faktor Dari Dalam (Endogen) Pada bayi dan anak, yang menjadi penyebab fluor albus adalah kelainan pada lubang kemaluan, di antaranya. a b c Bibir kemaluan belum berkembang Kemaluan belum di tumbuhi rambut. Letak lubang kemaluan pada bayi dan anak masih sangat dekat dengan anus. d PH atau keasaman vagina cenderung netral dan basa (Alkalis) Hingga usia 2 bulan, kadar hormon estrogen yang terbawa dari ibu masih tinggi. 2 Faktor Dari Luar (eksogen) Fluor albus yang di sebabkan faktor eksogen di bedakan menjadi 2 yaitu :

17

Infeksi Infeksi ini dapat di sebabkan oleh : 1 Bakteri yaitu Neissetia gonorhoe Cairan yang keluar agak kental, berbau, berwarna putih atau kuning kehijauan, bahkan ada yang hingga berwarna kehijauan banyaknya dahak. 2 Jamur yaitu Candida Mempunyai air berupa cairan berwarna putih susu, kental dan gatal luar biasa. 91,6 % penyebab fluor albus adalah jamur candida albicans. 3 Parasit yaitu Trichomonas Vaginalis Cairan banyak, seperti air sabun dan bau. Tidak terlalu gatal, vulva kemerahan, nyeri bila ditekan atau perih pada buang air kecil. 4 Virus, yaitu Human Papillonia virus (HPV) dan Herpes simpleks HPV sering di tandai dengan kondiloma akuminato atau tumbuhan seperti jengger ayam, cairan berbau, tanpa rasa gatal.

Non Infeksi 1 Masuknya benda asing ke vagina baik sengaja maupun tidak yang dapat melukai epitel vagina, misal: tampon kondom dan benang AKDR.

18

Cebok tidak bersih: Cebok yang tidak benar, bisa menyebabkan fluor albus. Cebok yang benar adalah dari arah depan ke arah belakang.

Daerah sekitar kemaluan lembab: Misalnya setelah buang air kecil, daerah kemaluan tidak dikeringkan sehingga celana dalamnya basah dan menimbulkan kelembaban di sekitarnya.

Stres Otak mempengaruhi kerja semua organ tubuh, jadi jika reseptor otak mengalami stress maka hormonal di dalam tubuh mengalami perubahan keseimbangan dan dapat menyebabkan timbulnya keputihan. Hal ini sesuai dengan pendapat

Purwantyastuti (2004) yang mengatakan bahwa wanita bisa mengalami gangguan siklus menstruasi / keputihan yang disebabkan oleh stres. Penyebab lain keputihan adalah alergi akibat benda-benda yang dimasukkan secara sengaja atau tidak sengaja ke dalam vagina, seperti tampon, obat atau alat kontrasepsi, rambut kemaluan, benang yang berasal dari selimut, celana dan lainnya. Bisa juga karena luka seperti tusukan, benturan, tekanan atau iritasi yang berlangsung lama. Karena keputihan, seorang ibu bahkan bisa kehilangan bayinya (Suryana, 2009). 5 Menahan buang air kecil: Pada anak, air kencing yang menetes sedikit-sedikit akan membuat daerah itu rawan iritasi, lembab dan gatal.

19

Duduk dan jongkok sembarangan ditanah atau di lantai: Karena vagina belum menutup sempurna, maka mudah saja jamur, bakteri dan benda asing ke daerah itu.

Mengaruk daerah vagina dengan tangan yang kotor : ini terjadi kalau anak merasa gatal didaerah itu, akibatnya bibit penyakit ditangan pindah ke vagina dan menyebabkan fluor albus.

C 1

Stress Defenisi Stress Stress adalah ketidakmampuan mengatasai ancaman yang dihadapi oleh mental, fisik, emosional dan spiritual manusia yang pada suatu saat dapat mempengaruhi kesehatan fisik manusia (Council, 2003). Sedangkan menurut Rosenthal (2002), stress diartikan sebagai sebuah pengalaman emosional negatif yang dihubungkan dengan perubahan perubahan biologis yang menggerakkan tubuh untuk melakukan penyesuian terhadap rangsangan rangsangan dari luar (eksternal trigger). 2 Tanda dan Gejala Menjadi mudah tersinggung dan marah terhadap teman dan keluarga. a b c d e Bertindak secara agresif dan defensif Merasa selalu lelah. Sukar konsentrasi atau menjadi pelupa. Palpitasi atau jantung berdebar-debar. Otot-otot tegang.

20

f 3

Sakit kepala, perut dan diare. Penyebab Stress

Kejadian hidup sehari-hari baik gembira dan sedih seperti: a Menikah/mempunyai anak. 1 2 3 b Mulai tempat kerja baru/pindah rumah/emigrasi. Kehilangan orang yang dicintai baik karena meninggal atau cerai. Masalah hubungan pribadi. Pelajaran sekolah maupun pekerjaan yang membutuhkan jadwal waktu yang ketat, dan atau bekerja dengan atasan yang keras dan kurang pengertian. c d Tidak sehat. Lingkungan seperti terlalu ramai, terlalu banyak orang atau terlalu panas dalam rumah atau tempat kerja. e f g h Masalah keuangan seperti hutang dan pengeluaran di luar kemampuan. Kurang percaya diri, pemalu Terlalu ambisi dan bercita-cita terlalu tinggi. Perasaan negatif seperti rasa bersalah dan tidak tahu cara pemecahannya, frustasi. i j Tidak dapat bergaul, kurang dukungan kawan. Membuat keputusan masalah yang bisa merubah jalan hidupnya atau dipaksa untuk merubah nilai-nilai/prinsip hidup pribadi. Yang dapat anda lakukan (Saryono, 2009).

21

4 a b c d e f g h i j

Tingkat Stress Banyak masalah keluarga Banyak perubahan dalam pekerjaan Tidak olahraga Mudah tertekan Mudah lelah Terpengaruh masalah - masalah kecil Kehilangan selera makan, penurunan berat badan Perut kembung, sembelit, diare Nyeri dada, Sulit bernafas Sering berkeringat, telapak tangan dan kaki terasa dingin Skor : ( setiap tanda diberi nilai 1) 3 atau kurang = normal 4-6 = mengalami beberapa tingkatan stress 7-10 = Anda Stress Berat (Viani L, 2009)

Rentang respon stress Gangguan stres, biasanya timbul secara lamban. Tidak jelas kapan mulai datangnya stres dan seringkali kita tidak menyadarinya. Meski demikian, para ahli membagi stres menjadi enam tingkatan. a Stres Tingkat I Tingkatan stres yang paling ringan. Biasanya disertai dengan perasaan seperti semangat yang besar, penglihatan yang lebih tajam dari

22

biasanya, selalu kelebihan energi dan gugup yang berlebihan serta kemampuan menyelesaikan pekerjaan yang lebih dari biasanya. Pada tahap ini, biasanya penderita kelihatan menyenangkan karena itu orang lain pun makin bertambah semangat, namun tanpa disadari bahwa sebetulnya cadangan energinya sedang menipis. b Stres Tingkat II Tahan ini merupakan tahap stres yang "menyenangkan" mulai menghilang dan timbul berbagai keluhan karena cadangan energi tidak lagi cukup sepanjang hari. Dari sini mulai muncul keluhan seperti merasa letih setelah makan siang, juga merasa lelah menjelang sore hari. Selain itu, terkadang muncul pula gangguan pada sistem pencernaan (gangguan usus dan perut kembung). Jantung pun terkadang berdebar - debar. Muncul perasaan tegang pada otot pinggang dan tengkuk (belakang leher), serta perasaan yang tidak santai. c Stres Tingkat III Keluhan keletihan makin tampak, disertai gejala-gejala makin terasanya gangguan usus (sakit perut, mulas, sering ingin buang air besar). Otot-otot pun terasa lebih kaku, dan perasaan tegang yang makin meningkat.Tidur pun mulai terganggu, biasaya sukar untuk tidur, sering terbangun malam hari dan sukar untuk tidur kembali, serta selalu bangun terlalu pagi. Selain itu, badan pun terasa bergoyang, dan merasakan akan pingsan (kendati tidak sampai jatuh pingsan).Pada tahap ini, penderita stres mesti berkonsultasi pada dokter, kecuali jika beban stres atau

23

tuntutannya

dikurangi,

dan

tubuh

mendapat

kesempatan

untuk

beristirahat atau relaksasi untuk memulihkan suplai energi. d Stres Tingkat IV Pada tingkatan ini, keadaan penderita akan terlihat lebih buruk lagi dan ditandai dengan ciri-ciri seperti sulitnya untuk bertahan sepanjang hari, juga berbagai kegiatan yang semula menyenangkan kini makin terasa sulit. Selain itu kemampuannya untuk menanggapi situasi mulai menghilang, dan pergaulan sosial serta kegiatan rutin lainnya terasa berat.Pada tahapan ini, penderita semakin sulit untuk tidur, selalu muncul mimpi-mimpi yang menegangkan dan seringkali terbangun pada dini hari. Muncul pula perasaan-perasaan negatif, serta kemampuan konsentrasinya makin menurun tajam. Pada tahapan ini pula seringkali muncul perasaan takut yang tidak bisa dijelaskan dan tidak dimengerti oleh si penderita. e Stres Tingkat V Pada tahap ini penderita akan merasakan lebih parah lagi. Ia akan merasakan keletihan yang amat sangat, baik secara fisik maupun psikis. Ia pun semakin sulit mengerjakan kegiatan yang amat sederhana.Di tingkat ini pun sistem pencernaan masih tetap terganggu, terasa sakit maag atau gangguan usus yang terasa lebih sering. Kendati sering merasa ingin buang air besar, namun sukar saat akan dikeluarkan. Perasaan takut yang pada tahap sebelumnya pernah muncul kini makin menjadi-jadi bahkan mirip kepanikan.

24

Stres Tingkat VI Merupakan tahap puncak dan dikategorikan gawat darurat. Kerapkali orang yang telah mencapai ini harus dilarikan ke bagian gawat darurat, karena pada tahapan ini gejalanya amat mengerikan. Gejala pada tahap ini, debaran jantung terasa amat keras, karena zat adrenalin yang dikeluarkan lantaran stres tadi cukup tinggi dalam peredaran darah. Selain itu napasnya terlihat sesak dan megap-megap, badan gemetar, suhu badannya dingin, keringat bercucuran. Ia akan merasa kekurangan tenaga untuk ke pekerjaan yang amat ringan sekalipun. Penderita pun akan pingsan atau colaps. Jika diperhatikan, setiap tahapan stres tadi, menunjukkan manifestasi fisik dan psikis. Pada fisik terjadi kelelahan, sedangkan pada psikis muncul berupa kecemasan dan depresi. Ini terjadi karena persediaan energi fisik maupun mental yang terus mengalami defisit secara terus menerus. Stres dalam kehidupan adalah sesuatu hal yang tidak dapat dihindari. Masalahnya adalah bagaimana manusia hidup dengan stres tanpa harus mengalami distres.

Insidensi stress terhadap flour albus Keputihan adalah satu kondisi yang seringkali dialami oleh wanita. Ada banyak penyebab yang membuat keputihan itu muncul. Namun, biasanya keputihan ini tidak membuat khawatir wanita jika kondisinya masih normal dan tidak menimbulkan bau serta warna yang berbeda. Keputihan akibat stress sering terjadi pada anak remaja maupun

25

wanita dewasa. Stres adalah pemicu dari berbagai kondisi yang tidak menyenangkan pada manusia ( Ierlita, 2003). 6 Pengukuran tingkatan stress menurut beberapa teori Cara mengukur stress menurut beberapa teori : Menurut Holmes Untuk mengetahui derajat stres pada diri seseorang, dipakai alat pengukur yang dikenal dengan sebutan Skala Holmes. Dalam skala ini terdapat 36 butir berbagai pengalaman dalam kehidupan seseorang, yang masing-masing diberi nilai (score). kalau jumlah nilai berbagai pengalaman seseorang itu melebihi angka 300 dalam kurun waktu 1 tahun masa kehidupan, maka yang bersangkutan sudah menujukan gejala-gejala stres. Alat ukur ini dapat dilakukan oleh diri yang bersangkutan ( self assessment) dan tentunya tidak semua ke 36 butir tersebut akan dialami oleh seseorang. Pengalaman-pengalaman kehidupan seseorang yang dimaksudkan itu adalah: Tabel 2.1 Skala Penelitian Penyesuaian Sosial No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Peristiwa Yang Terjadi Dalam Hidup Kematian suami / istri Kematian keluarga dekat Perkawinan Kehilangan jabatan Pensiunan / pengasingan diri Kehilangan istri Kesulitan seks Tambah anggota keluarga baru Kematian kawan dekat Konflik suami / istri Menggadaikan rumah Nilai Rata Rata 100 63 50 47 45 40 39 39 37 35 31

26

12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 7

perubahan dalam tanggung jawab pekerjaan konflik dengan ipar, mertua, menantu perasaan tersinggung atau penyakit rujuk dalam perkawinan perubahan kesehatan seseorang anggota perbuahan dalam status keuangan perceraian peralihan jenis pekerjaan mencegah terjadinya penggadaian / pinjaman anak laki-laki / perempuan meninggalkan rumah prestasi pribadi yang luar biasa istri mulai atau berhenti bekerja kesulitan dengan atasan .tukar tempat tinggal perubahan dalam hiburan perubahan dalam jumlah pertemuan keluarga perbahan dalam jumlah pertemuan keluarga pelanggaran ringan menukar kebiasaan pribadi perbahan jam kerja tukar sekolah tukar kegiatan sekolah tukar kebiasaan tidur perubahan dalam kebiasaan makan Berlibur Alat ukur kekebalan stress menurut Miller dan Smith

29 29 53 45 44 38 65 36 30 29 28 29 23 20 19 17 15 11 24 20 20 18 16 15 13

Untuk memperoleh nilai sejauh mana derajat kekebalan seseorang terhadap krisis hidup, maksimal score dari ke 20 butir aktivitas harian di atas dijumlahkan, dari perjumlahan tadi lalu dikurangi dengan angka 20. Jumlah score kurang atau sama dengan 40, orang tersebut kebal, score di atas 40, orang tersebut kebal dari krisis hidup. Untuk mengetahu taraf kekebalan terhadap stres dari seseorang telah dikembangkan semacam alat ukur yang dikenal dengan sebuatan Skala Miller & Smith. Pada alat ukur ini terdapat 20 aktivitas kehidupan sehari-

27

hari yang dilakukan oleh orang, yang masing-masing jenis aktivitas diberi nilai (score) dari 1 hinga 5. Nilai angka (score) 1 artinya hempir selalu dikerjakan, sedangkan nilai angka (score) 5 artinya tidak pernah dikerjakan. Pengukuran kkebalan ini dapat dilakukan oleh diri yang bersangkutan. Ke 20 butir aktivitas kehiudpan sehari-hari yang dimaksud berikut.
Tabel 2.2 Skala Miller and Smith

No 1. 2 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16.

Aktivitas Kehidupan Sehari hari Setiap hari saya sedikitnya sesekali menghadapi makanan hangat dan berimbang Sedikitnya empat malam dalam seminggu saya tidur 7 8 jam Saya secara teratur menrima dan memberi kasih sayang Sedikitnya saya mempunyai seorang saudara dalam jarak 75 km yang bisa saya andalkan Sedikitnya dua kali dua kali dalam seminggu saya gerak badan sampai berkeringat Saya tidak merokok, walaupun merokok kurang dari 10 batang sehari Saya tidak minum alkohol , walaupun minum kurang dari 5 kali dalam seminggu Berat badan saya sesuai dengan tinggi Saya mempunyai penghasilan cukup untuk menutupi pengeluaran rokok Saya memperoleh kekuatan dari agama saya Saya secara teratur menghindari kegiatan kegiatan sosial yang ada dimasyarakat Saya mempunyai lingkungan sahabat dan kenalan Saya mempunyai sahabat / pasangan satu atau lebih kepada siapa saya dapat percayakan soal soal pribadi saya Kesehatan saya baik (termasuk mata,telinga,gigi) Saya bicara terus terang mengutarakan perasaan hati waktu marah atau gelisah Saya secara teratur bercakap cakap dengan orang orang dengan siapa saya tinggal, soal

Nilai (score) 1- 5 12345 12345 12345 12345 12345 12345 12345 12345 12345 12345 12345 12345 12345 12345 12345 12345

28

17. 18. 19. 20.

urusan domestik misalnya kebersihan rumah dan kehidupan sehari hari Setidaknya seminggu sekali saya melakukan sesuatu untuk hiburan Saya tidak mengatur hidup saya secara efektif Sehari _ hari saya minum air putih dan tidak minum kopi, teh atau cola. Walaupun minum kurang dari tiga gelas sehari Saya setiap hari mencari waktu untuk menenangkan diri Penangan stress

12345 12345 12345 12345 (Warrioro, 2007).

Komplikasi menurut suparno (2003), ada beberapa penanganan stress yang dapat dilakukan yaitu: a Temukan penyebab perasaan negatif dan belajar untuk

menanggulanginya. b c d Rencanakan waktu dengan baik. Biarkan orang lain ikut memikirkan masalah anda. Bangun suatu sistem pendorong yang baik dengan cara banyak berteman dan mempunyai keluarga yang bahagia. e f Rencanakan waktu untuk rekreasi. Tekhnik relaksasi seperti nafas dalam, meditasi atau pijatan mungkin bisa membantu menghilangkan stress. g 9 Dengarkan suara musik atau gamelan. Komplikasi Menurut Almara (2009), komplikasi dari stress adalah yaitu: Tekanan darah tinggi dan serangan jantung.

29

a b makan. c d e f

Sakit mental, histeris. Gangguan makan seperti hilang nafsu makan atau terlalu banyak

Tidak bisa tidur (insomia). Migren atau pusing kepala. Sakit magh. Serangan asma yang tambah parah dan Ruam kulit.

D 1

Remaja Pengertian Remaja Menurut Sarasvati (2010), remaja adalah masa peralihan, dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa, yang ditandai dengan adanya perkembangan fisik yang cepat, mental, emosi dan sosial. Umumnya usia remaja berkisar antara 12-20 tahun. Masa remaja merupakan saat terjadinya perubahan-perubahan cepat dalam proses pertumbuhan fisik, kognitif dan psikologi/tingkah laku. Khusus pada remaja puteri, masa ini juga merupakan masa persiapan menjadi calon ibu. Keadaan gizi pada masa masa remaja puteri dapat berpengaruh terhadap kehamilannya kelak, juga terhadap keadaan bayi yang akan dilahirkannya (Sarasvati, 2010). Menurut Sarwono, (2002) remaja adalah suatu masa: a Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tandatanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan

30

seksual. b Individu mengalami perkembangan psikologik dan pola

identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa. c Terjadi perubahan dari ketergantungan sosial ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relatif lebih mandiri. 2 Tahap Perkembangan Remaja Menurut Soetjiningsih (2007), dalam tumbuh kembangnya menuju dewasa, berdasarkan kematangan psikososial dan seksual, semua remaja akan melewati tahapan berikut: a b Masa remaja awal/dini (early adolescence), umur 11-13 tahun. Masa remaja pertengahan (middle adolescence), Umur 14-16 tahun. c 3 Masa remaja lanjut (late adolescence), Umur 17-20 tahun. Tumbuh Kembang Remaja Menurut Sarwono (2002), antara usia 10 dan 15 tahun tubuh anakanak mulai berubah menjadi tubuh seorang dewasa bukan hanya perubahan psikologis tetapi perubahan fisik, bahkan perubahan-perubahan fisik yang terjadi itulah yang merupakan gejala primer dalam pertumbuhan remaja, sedangkan perubahan-perubahan psikologis muncul antara lain sebagai akhibat dari perubahan-perubahan fisik itu. Antara perubahan-perubahan fisik itu yang terbesar pengaruhnya pada perkembangan jiwa remaja adalah pertumbuhan tubuh (badan menjadi makin panjang dan tinggi), mulai berfungsinya alat-alat

31

reproduksi (ditandai dengan haid pada wanita dan mimpi basah pada lakilaki) dan tanda-tanda seksual sekunder yang tumbuh. Tanda-tanda seksual sekunder pada perempuan, misalnya:

pertumbuhan tulang-tulang (badan menjadi tinggi, anggota-anggota badan menjadi panjang, pertumbuhan payudara kadang disertai rasa nyeri atau tidak sama besar tumbuhnya, tumbuh bulu halus dan lurus berwarna gelap dikemaluan, mencapai pertumbuhan ketinggian badan yang maksimal setiap tahunnya, bulu kemaluan menjadi keriting, menstruasi pada setiap bulan, tumbuh bulu pada ketiak dan panggul mulai melebar). Sedangkan pada laki-laki pertumbuhan tulang-tulang, testis (buah pelir) membesar, tumbuh bulu kemaluan yang halus, lurus`dan berwarna gelap, terjadi perubahan suara, ejakulasi (keluarnya air mani), bulu kemaluan menjadi keriting, pertumbuhan tinggi badan mencapai tingkat maksimal setiap tahunnya, tumbuh rambut-rambut halus diwajah (kumis, jenggot), tumbuh bulu ketiak dan bulu dada. Beberapa proses faktor (fisiologis) yang mempengaruhi

pertumbuhan tubuh remaja, khususnya pertumbuhan seksual yaitu hormon-hormon seksual, dari kelenjar bawah otak (pituitary) hormonhormon yang dikeluarkan meliputi: a b Hormon pertumbuhan yang mempengaruhi pertumbuhan badan. Hormon perangsang pada pria, yaitu hormon yang

mempengaruhi testis. c Hormon pengendali pada wanita yang mempengaruhi indung telur

32

(ovarium) untuk memproduksi sel-sel telur (ovum) dan hormon estrogen dan progesteron, serta. d Hormon air susu yang mempengaruhi kelenjar wanita (Sarwono, 2002). 4 Ciri-Ciri Remaja Masa remaja Masa remaja adalah suatu masa perubahan. Pada masa remaja terjadi perubahan yang cepat baik secara fisik, maupun psikologis. Ada beberapa perubahan yang terjadi selama masa remaja ( Hidayat, 2005). a Peningkatan emosional yang terjadi secara cepat pada masa remaja awal yang dikenal dengan sebagai masa strom & stress. b Peningkatan emosional ini merupakan hasil dari perubahan fisik terutama hormon yang terjadi pada masa remaja. Dari segi kondisi sosial peningkatan emosi ini merupakan tanda bahwa remaja berada dalam kondisi baru yang berbeda dari masa sebelumnya. Pada masa ini banyak tuntutan dan tekanan yang ditunjukan pada remaja, misalnya mereka diharapkan untuk tidak lagi bertingkah seperti anak anak, mereka harus lebih mandiri dan bertanggung jawab. Kemandirian dan tanggung jawab ini akan berbentuk seiring berjalannya waktu, dan akan nampak jelas pada remaja akhir yang duduk diawal awal masa kuliah. c Perubahan yang cepat secara fisik yang juga disertai kematangan seksual. Terkadang perubahan ini membuat remaja merasa tidak yakin

33

akan diri dan kemampuan mereka sendiri. Perubahan fisik yang terjadi secara cepat, baik perubahan internal seperti sistem sirkulasi, pencernaan. Dan sistem respirasi maupun perubahan eksternal seperti tinggi badan, berat badan, dan proporsi tubuh sangat berpengaruh terhadap konsepdiri remaja. d Perubahan dalam yang menarik bagi dirinya dan hubungan dengan orang lain. Selama masa remaja banyak hal hal yang menarik bagi dirinya dibawa dari masa kanak kanak digantikan dengan hal menarik yang baru dan lebih matang. Hal ini juga di karenakan adanya tanggung jawab yang lebih besar pada masa remaja, maka remaja harapkan untuk dapat mengarahkan ketertarikan mereka pada hal hal yang lebih penting. Perubahan juga terjadi dalam hubungan dengan orang lain, remaja tidak lagi berhubungan hanya dengan individu dari jenis kelamin yang sama, tetapi juga dengan lawan jenis, dan dengan orang dewasa. e Perubahan nilai, dimana apa yang mereka anggap pada masa kanak kanak menjadi kurang penting karena sudah mendekati dewasa. f Kebanyakan remaja berssikap ambivalen dalam menanggapi

perubahan yang terjadi. Di satu sisi mereka menginginkan kebebasan, tetapi disisi lain mereka takut akan tanggung jawab yang menyertai kebebasan tersebut, serta meragukan kemampuan mereka sendiri untuk memikul tanngung jawab tersebut.

34

35

E 1

Penelitian Terkait Menurut penelitian yang di lakukan oleh Ayuningtyas (2011) dalam penelitiannya berjudul Hubungan Antara Pengetahuan Dan Perilaku Menjaga Kebersihan Genetalia Eksterna Dengan Kejadia Fluor albus Pada Siswi Sma Negeri 4 Semarang didapatkan bahwa Angka kejadian fluor albus di SMA Negeri 4 Semarang sangat tinggi karena sebanyak 96,9% responden mengalami fluor albus. Tingkat pengetahuan siswi SMA

Negeri 4 Semarang dalam hal menjaga kebersihan genitalia eksterna masih kurang (82,8%). Sebagian besar siswi SMA Negeri 4 Semarang memiliki perilaku menjaga kebersihan genitalia yang baik (95,3%). 2 Menurut penelitian yang dilakukan oleh Yatul (2009) dalam penelitiannya berjudul Gambaran Faktor - Faktor Yang Melatar belakangi Kejadian Fluor albus Di Smp Negeri 1 Tambakboyo Tuban didapatkan bahwa Sebagian basar remaja putri di SMP Negeri 1 Tambakboyo Tuban yang mengalami fluor albus normal tidak

melakukan personal hygiene dengan benar, yang mengalami fluor albus normal tidak melakukan perawatan saat menstruasi dengan benar, dan yang mengalami fluor albus normal jenis bahan pakaian dalamnya terbuat dari bahan campuran (katun/nylon). 3 Menurut penelitian yang dilakukan oleh Julikah (2011) dalam penelitiannya berjudul Hubungan Personal Hygiene Dengan Keputihan Pada Mahasiswi Kebidanan Tingkat 1 Di Asrama Nguli Waluyo Desain

36

penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian deskriptif korelasional dengan pendekatan cross sectional populasi semua mahasiswi tingkat satu sejumlah 255 pengambilan sampel menggunakan teknik random sampling yaitu sejumlah 156. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden dengan personal hygiene tidak baik dan mengalami keputihan patologi sebanyak 17 responden (73,9%) dan yang personal hygiene baik dan mengalami keputihan fisiologis sejumlah 118 responden (88,7%). Analisis data mengunakan Uji chi square menunjukkan ada hubungan antara personal hygiene dengan keputihan, dengan nilai p value = 0,000. Diharapkan untuk remaja putri dapat menjaga kesehatan reproduksinya, yaitu dengan merawat organ genetalia dengan baik, sehingga tidak terjadi masalah dalam organ reproduksinya.

Kerangka Konsep Kerangka konsep adalah suatu hubungan atau kaitan antara konsep satu terhadap konsep lainnya dari masalah-masalah yang ingin diteliti (Notoatmodjo, 2005). Skema 2.3 Kerangka Konsep Penelitian

Variabel Independent
Fluor albus

Variabel Dependent

Terjadi

37

Tidak Terjadi

Faktor faktor yang mempengaruhi terjadinya Fluor albus Faktor Stress Faktor Kebersihan alat genetalia

Hipotesis Hipotesis adalah sebuah pernyataan tentang hubungan yang

diharapkan antara dua variabel atau lebih yang dapat diuji secara empiris, biasanya hipotesis terdiri dari pernyataan terhadap adanya variabel independent dan dependent (Hidayat, 2007). Ha : Ada pengaruh antara kebersihan alat genetalia dan kondisi tubuh (stress) dengan terjadinya Fluor albus pada remaja putri di SMA N 1 Bungaraya. Ho : Tidak ada pengaruh antara kebersihan alat genetalia dan kondisi tubuh (stress) dengan terjadinya Fluor albus pada remaja putri di SMA N 1 Bungaraya.

38

BAB III METODE PENELITIAN

Jenis dan Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain korelasi melalui pendekatan cross sectional. Pada studi cross sectional di mana subjek diobservasi satu kali saja melalui pengukuran atau pengamatan pada saat yang bersamaan dengan tujuan untuk melihat variabel bebas (Independent) dan variabel (Dependent) yang dilakukan pada saat pengolahan data (Hidayat, 2007).

Definisi Operasional Definisi Operasional berfungsi untuk menyederhanakan arti kata atau pemikiran tentang ide dan kata yang digunakan agar orang lain memahami maksudnya sesuai dengan keinginan penulis (Notoatmodjo, 2002)
35

39

Tabel 3.1 Definisi Operasional


Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Hasil ukur Skala

Independ ent Faktor faktor yang mempen Tindakan membersihkan Kuesioner garuhi. (membasuh) dubur atau kemaluan setelah buang air. a Keber sihan alat geneta lia Stres merupakan persepsi yang Kuesioner dinilai seseorang dari sebuah situasi atau peristiwa b K ondisi Tubuh (stress ) Semacam silim yang keluar Kuesioner terlalu banyak, warnanya putih seperti sagu kental dan agak kekuning-kuningan. Jika silim atau lendir ini tidak terlalu banyak, tidak menjadi persoalan

Y jika nilai Ordinal responden > dari median / mean T jika nilai responden < dari median / mean Jika < 30 = Ordinal kebal terhadap stress Jika nilai 3150 kurang kebal terhadap stress Jika nilai 51-80 tidak kebal terhadap stress Y Jika tanda Nominal tanda fluor albus > 3 T Jika tanda tanda fluor albus < 3

b c

Depende nt Terjadiny a fluor albus

C 1

Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi Penelitian

40

Lokasi penelitian dilakukan di SMA N 1 Bungaraya waktu penelitian dilakukan bulan maret 2013. 2 Waktu Penelitian Tabel 3.2 Jadwal Kegiatan Penelitian NO 1 2 3 4 5 6 Uraian kegiatan Pengajuan judul Pembuatan proposal Ujian proposal Perbaikan proposal Pelaksanaan riset Persentasi hasil Okt 2013 Nov 2013 Bulan ke Des Jan 2013 2013 Feb 201 3 Mar 201 3

D 1

Populasi, Sampel dan Sampling Populasi Populasi adalah jumlah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2002). Populasi pada penelitian ini adalah siswi SMA N 1 Bungaraya berjumlah 155 orang. 2 Sampel

Sampel adalah bagian dari populasi yang diambil melalui cara-cara tertentu yang juga karakteristik tertentu, jelas, dan lengkap yang dianggap bisa mewakili populasi (Hasan, 2008). Sampel penelitian ini

menggunakan rumus sebagai berikut :

41

Keterangan : n = Jumlah sampel N = Jumlah populasi d = Tingkat kesalahan yang diinginkan (0,1). (Notoadmodjo, 2005)

n = 61 orang 3 Sampling Samping adalah suatu cara yang ditempuh dengan pengambilan sampel yang benar - benar sesuai dengan keseluruhan objek penelitian (Nursalam, 2008). Pada penelitian ini sampel yang digunakan adalah sistematik random sampling yaitu pengambilan sampel secara acak. Teknik ini digunakan apabila setiap unit atau anggota populasi itu bersifat homogeny, hal ini berarti setiap anggota populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk diambil sebagai sampel (Notoadmodjo, 2002).

42

Etika Penelitian Dalam melakukan penelitian ini peneliti juga memperhatikan masalah yang meliputi: 1 Informed Consent Responden menandatangani lembar persetujuan setelah peneliti memberikan penjalasan tentang tujuan penelitian dan sifat keikutsertaan dalam penelitian. 2 Anonymity (Tanpa Nama) Hal ini berguna untuk menjaga kerahasiaan responden, peneliti tidak mencantumkan nama responden, tetepi hanya memberikan kode pada lembar kuisioner. 3 Confidentiality Peneliti menjamin kerahasiaan dari hasil penelitian baik informasi maupun masalah masalah penelitian lainnya.

Instrumen Penelitian Data dikumpulkan dengan menggunakan instrument penelitian berupa kuesioner yang diisi oleh responden yang terdiri dari 13 pertanyaan tentang kebersihan alat genetalia. Skala pengukuran menggunakan skala guttman dimana alternatif jawaban ya dan tidak. Untuk menjawab sesuai pilihan, responden cukup memberikan tanda berupa check list () atas jawaban yang telah disediakan. Jawaban yang benar akan diberikan bobot nilai 1 (satu) dan jawaban yang salah 0 (nol) (Arikunto, 2002). Untuk tingkat stres

43

menggunakan alat ukur (instrument) yang dikenal dengan nama alat ukur kekebalan stres yang berjumlah 20 soal (Hidayat, 2007). Kemudian 5 pertanyaan tentang kejadian fluor albus. Uji validitas adalah tingkat keandalan dan kesahihan alat ukur yang digunakan. Intrumen dikatakan valid berarti menunjukkan alat ukur yang dipergunakan untuk mendapatkan data itu valid atau dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Uji validitas berguna untuk mengetahui apakah ada pernyataan-pernyataan pada kuesioner yang harus dibuang/diganti karena dianggap tidak relevan. Uji reliabilitas berguna untuk menetapkan apakah instrumen dapat digunakan lebih dari satu kali, paling tidak oleh responden yang sama akan menghasilkan data yang konsisten (Sugiyono, 2007). Variabel yang diuji adalah variabel dependen dan variabel independen untuk menentukan apakah ada atau tidaknya hubungan antar variabel tersebut. Dalam pengisian kuesioner, peneliti mengadakan wawancara langsung yang berpedoman pada pertanyaan kuesioner dan setiap jawaban di tandai dengan pilihan yang tersedia.

44

Tabel 3.3 Kisi-Kisi Soal


No

1. 2. 3.

Variabel Kebersihan alat genetalia Stress Terjadinya fluor albus Jumlah

No.soal 1 - 13 1 - 20 1-5

Jumlah Soal 13 20 5 38

G 1 2

Prosedur Pengumpulan Data Menetapkan waktu dan tempat penelitian. Mengurus surat izin penelitian yang dibuat oleh kampus STIKes Payung Negeri. 3 Meminta izin kepada kepala sekolah SMA N 1 Bungaraya dan mendatangi siswa/i SMA N 1 Bungaraya. 4 Meminta responden untuk menandatangani lembaran persetujuan sebagai responden.

H 1

Teknik Pengolahan dan Analisa Data Pengolahan Data Data yang telah dikumpulkan perlu diolah, yang bertujuan untuk menyerderhanakan seluruh data yang dikumpulkan kemudian

menyajikannya dalam bentuk tabel dan diagram yang baik, kemudian dilakukan analisa data. Dalam penelitian ini, peneliti menyatukan pengolahan data dengan langkah sebagai berikut:

45

Editing Setelah selesai kuisioner diisi, peneliti mengumpulkan kembali kemudian di periksa kembali kelengkapan data dan jawaban. Data yang tidak lengkap dalam pengisian, peneliti langsung meminta responding untuk melengkapi saat itu juga.

Coding Untuk mempermudah peneliti dalam pengumpulan data, peneliti memberikan kode di atas kanan kuisioner.

Entry Setelah seluruh data selesai dikumpulkan selanjutnya peneliti memasukkan dan mengolah data dalam analisa data.

Cleaning Data yang sudah ada diperiksa kelengkapanya, jika data yang sudah dimasukkan ternyata tidak lengkap, maka sampel dianggap gugur dan diambil sampel yang baru.

Prossing Data selanjutnya diproses dengan mengelompokkan data ke dalam variabel yang sesuai.

Analizing Dalam penelitian ini menggunakan data secara akurat.

Analisa Data a Analisis Univariat Analisis univariate yaitu analisa yang digunakan untuk mengetahui

46

gambaran persentase dari masing-masing variabel penelitian dengan menggunakan distribusi frekuensi (Stevens, 2005). b Analisis Bivariat Analisa di lakukan untuk melihat hubungan antara kebersihan alat genetalia dan kondisi tubuh (stres) dengan terjadinya fluor albus pada remaja putri di square. Tabel 3.4 Hubungan Faktor Kebersihan Alat Genetalia Dengan Terjadinya Fluor albus di SMA N 1 Bungaraya 2013 Fluor albus Kebersihan Bersih Tidak Bersih N Fluor Albus a c a+c Tidak Fluor Albus b d b+d N a+b c+d a+b+c+d SMA N 1 Bungaraya, dengan menggunakan uji chi

Tabel 3.5 Hubungan Faktor Kondisi Tuhuh (Stress) Dengan Terjadinya Fluor albus di SMA N 1 Bungaraya 2013 Fluor albus Faktor faktor Yang mempengaruhi Stress Tidak Stress N Fluor albus a c a+c Tidak Fluor albus b d b+d N a+b c+d a+b+c+d