Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH KEPERAWATAN ANAK ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI BARU LAHIR RENDAH

Disusun oleh : 1. 2. 3. 4. 5. Ririn Cahyani Rizki Fatmawati Rizky Ardiana Rofiatul Fitriyah Setiyawan (8933161380) (8933161381) (8933161382) (8933161383) (8933161385)

Pembimbing : Ns. Nopi Nur Khasanah, S.Kep

PRODI DIII KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG 2013

KATA PENGANTAR Assalamualaikum Wr.Wb Alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan hidayahnya penulis dapat menyelesaikan makalah keperawatan anak yang berjudul Asuhan Keperawatan Pada Bayi Baru Lahir Rendah. Shalawat serta salam marilah senantiasa kita haturkan kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabatnya. Dalam makalah ini akan memaparkan tentang segala hal terkait dengan materi keperawatan anak yang bertujuan untuk memberikan wawasan dan pengetahuan kepada para mahasiswa tentang definisi, etiologi, manifestasi klinis, penatalaksanaan dan asuhan keperawatan pada bayi bru lahir yang memiliki barat badan rendah. Penyusun mengakui dan menyadari bahwa makalah ini tidak akan selesai tanpa bantuan dari semua pihak. Untuk itu kami mengucapkan terimakasih kepada: 1. 2. 3. 4. 5. Ns. Retno Setyowati, M.Kep., Sp. KMb Selaku dekan fakultas ilmu keperawatan Universitas islam sultan agung semarang. Ns. Indra Tri Astuti,M.Kep,Sp.Kep.An Selaku Kaprodi keperawatan Universitas islam sultan agung semarang. Ns. Nopi Nur Khasanah, S.Kep selaku coordinator mata ajar dan dosen pembimbing. Orang tua yang telah memberi doa dan dukungan. Staf Perpustakaan Fakultas Ilmu Keperawatan dan perpustakaan Universitas Islam Sultan Agung Semarang yang telah menyediakan buku sumber. 6. Semua pihak yang membantu penulis dalam penyelesaian makalah ini. Dengan kerendahan hati, penyusun menyadari bahwa pembuatan makalah ini masih jauh dari sempuna. Maka dari itu kritik dan saran yang membangun sangatlah penulis harapkan demi kesempurnaan makalah selanjutnya. Wassalamualaikum Wr.Wb Semarang, Maret 2013 Penyusun fakultas ilmu

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam beberapa dasawarsa ini perhatian terhadap janin yang mengalami gangguan pertumbuhan dalam kandungan sangat meningkat. Hal ini disebabkan karena masih tingginya angka kematian prenatal neonatal karena masih banyak bayi yang dilahirkan dengan berat badan bayi rendah. (Mochtar, 1998) Sejak tahun 1961 WHO telah mengganti istilah premature baby dengan low birth weight baby ( bayi dengan berat blahir rendah = BBLR ), karena disadari tidak semua bayi berat badan kurang dari 2500 gram pada waktu bayi lahir bukan premature. Melihat dari kejadian terdahulu BBLR sudah seharusnya menjadi perhatian yang mutlak pada ibu yang mengalami kehamilan yang berisiko karena dilihat dari frekuensi BBLR di Negara maju berkisar antara 3,6 % - 10,8 % , di Negara berkembang adalah 1 : 4 ( Mochtar 1998 ) . Kematian perinatal pada bayi berat badan bayi rendah 8 kali lebih besar dibandingkan dengan bayi normal pada umur kehamilan yang sama. Kalaupun bayi menjadi dewasa ia akan mengalami gangguan pertumbuhan, baik fisik maupun mental. Prognosis akan lebih buruk lagi bila berat badan lebih rendah. Angka kematian yang tinggi terutama disebabkan oleh sering dijumpai kelaina komplikasi neonatal seperti asfiksia, aspirasi pneumonia, perdarahan intracranial, dan hipoglokemia. Bila bayi ini selamat kadang kadang dijumpai pada kerusakan syaraf dan akan terjadi gangguan bicara, IQ yang rendah dan gangguan yang lain. B. Tujuan Untuk mengetahui pengertian BBLR Untuk mengetahui penyebab BBLR Untuk mengetahui komplikasi yang tibul pada BBLR

C. Manfaat Bahan informasi bagi mahasiswa pada penatalaksanaan BBLR Sebagai sumber referensi untuk perkembangan Ilmu Keperawatan, khususnya pada Bayi Baru Lahir Rendah.

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Berat badan lahir rendah adalah bayi baru lahir rendah pada saat kelahiran kurang dari 2500 gram atau lebih rendah. ( WHO, 1961 ) Berat badan lahir rendah adalah bayi baru lahir yang berat badannya pada saat kelahiran kurang dari 2500 gr sampai dengan 2499 gr. Menurut Hanifa Wiknjosastro (2002) asfiksia neonatorum didefinisikan sebagai keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas secara spontan dan teratur setelah lahir. Asfiksia Neonatus adalah suatu keadaan dimana saat bayi lahir mengalami gangguan pertukaran gas dan transport O2 dan kesulitan mengeluarkan CO2 (Markum, 2000). Asfiksia adalah kurangnya oksigen dalam darah dan meningkatnya kadar karbon dioksida dalam darah serta jaringan (Kamus saku kep. Edisi 22). Asfiksia Neonatorum adalah suatu keadaan bayi baru lahir yang gagal bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir, sehingga dapat menurunkan O2 dan mungkin meningkatkan C02 yang menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan lebih lanjut (Medicine and linux.com). B. Etiologi

C. Patofisiologis Pernafasan spontan bayi baru lahir bergantung kepada kondisi janin pada masa kehamilan dan persalinan. Proses kelahiran sendiri selalu menimbulkankan asfiksia ringan yang bersifat sementara pada bayi (asfiksia transien), proses ini dianggap sangat perlu untuk merangsang kemoreseptor pusat pernafasan agar lerjadi Primary gasping yang kemudian akan berlanjut dengan pernafasan. Bila terdapat gangguaan pertukaran gas/pengangkutan O2 selama kehamilan persalinan akan terjadi asfiksia yang lebih berat. Keadaan ini akan mempengaruhi fugsi sel tubuh dan bila tidak teratasi akan menyebabkan kematian. Kerusakan dan gangguan fungsi ini dapat reversibel/tidak tergantung kepada berat dan lamanya asfiksia. Asfiksia yang terjadi dimulai dengan suatu periode apnu (Primany apnea) disertai dengan penurunan frekuensi jantung selanjutnya bayi akan memperlihatkan usaha bernafas (gasping) yang kemudian diikuti oleh pernafasan teratur. Pada penderita asfiksia berat, usaha bernafas ini tidak tampak dan bayi selanjutnya berada dalam periode apnu kedua (Secondary apnea). Pada tingkat ini ditemukan bradikardi dan penurunan tekanan darah. Disamping adanya perubahan klinis, akan terjadi pula G3 metabolisme dan pemeriksaan keseimbangan asam basa pada tubuh bayi. Pada tingkat pertama dan pertukaran gas mungkin hanya menimbulkan asidoris respiratorik, bila G3 berlanjut dalam tubuh bayi akan terjadi metabolisme anaerobik yang berupa glikolisis glikogen tubuh , sehingga glikogen tubuh terutama pada jantung dan hati akan berkuang.asam organik terjadi akibat metabolisme ini akan menyebabkan tumbuhnya asidosis metabolik. Pada tingkat selanjutnya akan terjadi perubahan kardiovaskuler yang disebabkan oleh beberapa keadaan diantaranya hilangnya sumber glikogen dalam jantung akan mempengaruhi fungsi jantung terjadinya asidosis metabolik akan mengakibatkan menurunnya sel jaringan termasuk otot jantung sehinga menimbulkan kelemahan jantung dan pengisian udara alveolus yang kurang adekuat akan menyebabkan akan tingginya resistensinya pembuluh darah paru sehingga sirkulasi darah ke paru dan kesistem tubuh lain akan mengalami gangguan. Asidosis dan gangguan kardiovaskuler yang terjadi dalam tubuh berakibat buruk terhadap sel otak. Kerusakan sel otak yang terjadi menimbulkan kematian atau gejala sisa pada kehidupan bayi selanjutnya (Medicine and linux.com)

D. Pathways

E. Penatalaksanaan 1. Tindakan Umum a. Bersihkan jalan nafas. Kepala bayi dileakkan lebih rendah agar lendir mudah mengalir, bila perlu digunakan larinyoskop untuk membantu penghisapan lendir dari saluran nafas yang lebih dalam.Saluran nafas atas dibersihkan dari lendir dan cairan amnion dengan pengisap lendir, tindakan ini dilakukan dengan hati- hati tidak perlu tergesa- gesa atau kasar. Penghisapan yang dilakukan dengan ceroboh akan timbul penyulit seperti: spasme laring, kolap paru, kerusakan sel mukosa jalan nafas. Pada asfiksia berat dilakukan resusitasi kardiopulmonal. b. Rangsang reflek pernafasan. Dilakukan setelah 20 detik bayi tidak memperlihatkan bernafas dengan cara memukul kedua telapak kaki menekan tanda achiles. Bayi yang tidak memperlihatkan usaha bernafas selama 20 detik setelah lahir dianggap telah menderita depresi pernafasan. Dalam hal ini rangsangan terhadap bayi harus segera dilakukan. Pengaliran O2 yang cepat kedalam mukosa hidung dapat pula merangsang reflek pernafasan yang sensitive dalam mukosa hidung dan faring. Bila cara ini tidak berhasil dapat dilakukan dengan memberikan rangsangan nyeri dengan memukul kedua telapak kaki bayi. c. Mempertahankan suhu tubuh. Pertahankan suhu tubuh agar bayi tidak kedinginan, karena hal ini akan memperburuk keadaan asfiksia.Bayi baru lahir secara relative banyak kehilangan panas yang diikuti oleh penurunan suhu tubuh. Penurunan suhu tubuh akan mempertinggi metabolisme sel sehingga kebutuhabn oksigen meningkat. Perlu diperhatikan agar bayi mendapat lingkungan yang hangat segera setelah lahir. Jangan biarkan bayi kedinginan (membungkus bayi dengan kain kering dan hangat), Badan bayi harus dalam keadaan kering, jangan memandikan bayi dengan air dingin, gunakan minyak atau baby oil untuk membersihkan tubuh bayi. Kepala ditutup dengan kain atau topi kepala yang terbuat dari plastik (Medicine and linux.com DAN Pediatric.com). 2. Tindakan khusus a. Asfiksia berat Berikan O2 dengan tekanan positif dan intermiten melalui pipa endotrakeal. dapat dilakukan dengan tiupan udara yang telah diperkaya dengan O2. Tekanan O2 yang

diberikan tidak 30 cm H 20. Bila pernafasan spontan tidak timbul lakukan message jantung dengan ibu jari yang menekan pertengahan sternum 80 100 x/menit. b. Asfiksia sedang/ringan Pasang relkiek pernafasan (hisap lendir, rangsang nyeri) selama 30-60 detik. Bila gagal lakukan pernafasan kodok (Frog breathing) 1-2 menit yaitu : kepala bayi ektensi maksimal beri O2 1-2 1/mnt melalui kateter dalam hidung, buka tutup mulut dan hidung serta gerakkan dagu ke atas-bawah secara teratur 20 x/menit Penghisapan cairan lambung untuk mencegah regurgitasi (Medicine and linux.com).

F. Konsep Dasar Keperawatan 1. Pengkajian Data Subyektif

a. Identitas bayi : didasarkan pada informasi dari ibu / pengasuhnya. b. Riwayat kehamilan, proses persalinan dan umur kehamilan. c. Faktor sosial : alamat rumah, pekerjaan oramg tua, orang-orang yang tinggal serumah, saudara kandung dan sumber/faktor pendukung lain, penyalah gunaan obat/ napza dilingkungan dekat. Data Obyektif

a. Nilai Apgar : lima unsur yang dinilai : frekuensi denyut jantung, usaha nifas, tonus otot, reflek dan warna. Penilaian satu menit setelah lahir : untuk menilai derajat aspiksi. Penilaian lima menit setelah lahir : untuk menentukan prognosa.

b. Pemeriksaan fisik untuk mendeteksi adanya kelainan bawaan, bayi diperiksa secara sistematis dari : kepala, mata, hidung, muka, mulut, teling, leher, dada, abdomen, punggung extemetis, kulit, genitalia dan anus. Pemeriksaan jantung dan paru-paru dilakukan dengan stetoskop untuk memeriksa adanya suatu kelainan. Kelainan pada salah satu dari organ ini juga bisa terlihat melalui warna kulit bayi dan keadaannya secara umum.

Pemeriksaan daerah perut dilakukan dengan menilai bentuknya, dan memeriksa ukuran, bentuk dan posisi alat-alat dalam seperti ginjal, hati dan limpa. Pembesaran ginjal bisa menunjukkan adanya sumbatan pada aliran keluar dari air kemih. Pemeriksaan lengan, tungkai dan pinggul dilakukan dengan menilai kelenturan dan kemampuan geraknya. Masalah yang sering dijumpai pada bayi baru lahir adalah dislokasi panggul. Keadaan ini bisa diatasi dengan memasang atau menyimpan dua atau tiga lapis popok pada bayi untuk menahan panggul pada posisi normalnya, sampai sembuh. Jika perlu, bisa dipasang bidai oleh seorang ahli tulang. Pemeriksaan alat kelamin pada anak laki-laki salah satunya untuk memastikan bahwa kedua buah pelirnya lengkap dalam kantong buah zakar. Meskipun jarang dan tidak menimbulkan rasa nyeri pada bayi baru lahir, buah pelir bisa terpelintir (torsio testis), yang perlu diatasi dengan tindakan pembedahan darurat. Pada bayi perempuan, bibir vaginanya menonjol. Sisa hormon ibu yang didapat selama dalam kandungan akan menyebabkan bibir vagina ini membengkak selama beberapa minggu pertama. c. Anteropometri : 1) Berat badan ditimbang dalam gram. Rata-rata bayi baru lahir beratnya adalah 3,5 kg 2) Panjang badan dalm cm, melalui ukuran fronto occipito. Rata-rata panjang bayi baru lahir adalah 50 cm 3) Lingkar perut dalam cm, ukuran melaui pusat 4) Mengukur lingkar kepala. d. Refleks: moro, rooting, isap, menggenggam, babinski. 1) Refleks Moro: bila bayi baru lahir dikejutkan, tangan dan kakinya akan terentang ke depan tubuhnya seperti mencari pegangan, dengan jari-jari terbuka. 2) Refleks Mencucur : bila salah satu sudut mulut bayi disentuh, bayi akan memalingkan kepalanya ke sisi tersebut. Refleks ini membantu bayi baru lahir untuk menemukan putting.

3) Refleks Menghisap : bila suatu benda diletakkan dalam mulut bayi, maka bayi akan segera menghisapnya. e.Keadaan umum : 1) Suhu 2) Pernapasan 3) Denyut nadi. Pemeriksaan terhadap denyut nadi di lipat paha. 4) Warna kulit f. Data Laboratorium Kalau perlu sesuai kebijakan setempat 1) Gula darah sewaktu 2) Bilirubin dan golongan darah : ABO dan Rhesus faktor 3) Hb, Ht, Lekosit dan Trombosit. g. Potensial komplikasi 1) Berat badn lahir rendah. 2) Aspirasi air ketuban. 3) Aspiksia. 4) Infeksi 5) Hipoglikemia. 6) Hiperbilirubinemi. 2. DIAGNOSA KEPERAWATAN Gangguan pertukaran O2 berhubungan dengan Imaturitas sistem pernafasan. Gangguan Thermoregulasi Hipertermi berhubungan dengan cairan yang diperoleh/sediaan cairan dalam tubuh bayi. Gangguan pemenuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan Imaturitas sistem pencernaan

3. INTERVENSI Gangguan pertukaran O2 berhubungan dengan Imaturitas sistem pernafasan. Intervensi : Atur posisi kepala bayi sedikit ekstensi Therapi O2 sesuai kebutuhan Monitor irama, kedalaman frekuensi pernafasan bayi Monitor saturasi O2 tiap 2 jam Kolaborasi pemberian obat bronchodilator sesuai kebutuhan

Gangguan Thermoregulasi Hipertermi berhubungan dengan cairan yang diperoleh/sediaan cairan dalam tubuh bayi. Intervensi : Atur suhu inkubator sesuai dengan keadaan bayi Observasi TTV. Kompres bayi dengan kasa yang telah dibasahi dengan air hangat. Kolaborasi pemberian obat antipiretik.

Gangguan pemenuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan Imaturitas sistem pencernaan. Intervensi : Kaji reflek hisap dan menelan bayi Timbang BB / hari dengan timbangan yang sama Beri ASI atau PASI tiap 2 jam jika tidak terjadi retensi Kolaborasi pemberian cairan sesuai kebutuhan

BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN Berat badan lahir rendah adalah bayi baru lahir yang berat badannya pada saat kelahiran kurang dari 2500 gr sampai dengan 2499 gr. Menurut Hanifa Wiknjosastro (2002) asfiksia neonatorum didefinisikan sebagai keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas secara spontan dan teratur setelah lahir. Asfiksia Neonatus adalah suatu keadaan dimana saat bayi lahir mengalami gangguan pertukaran gas dan transport O2 dan kesulitan mengeluarkan CO2 (Markum, 2000). Kematian perinatal pada bayi berat badan lahir rendah 8 kali lebih besar dari bayi normal pada umur kehamilan yang sama. Kalaupun bayi menjadi dewasa ia akan mengalami gangguan pertumbuhan, baik fisik maupun mental. Prognosis akan lebih buruk lagi bila berat badan makin rendah. Angka kematian yang tinggi terutama disebabkan oleh seringnya dijumpai kelainan komplikasi neonatal seperti asfiksia, aspirasi pneumonia, perdarahan intrakranial, dan hipoglikemia. Bila bayi ini selamat kadang-kadang dijumpai kerusakan pada syaraf dan akan terjadi gangguan bicara, IQ yang rendah. B. SARAN Dalam pembuatan makalah ini tentunya masih sangat banyak kekurangan baik dari segi materi maupun pemaparannya. Untuk itu, segala kritik dan saran yang membangun sangatlah kami butuhkan demi kesempurnaan makalah selanjutnya. Tidak lupa pula tentunya kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan bermanfaat bagi kita semua sehingga semakin bertambahlah ilmu pengetahuan serta wawasan yang kita punya.

Daftar Pustaka Betz, L C dan Sowden, L A. 2002. Keperawatan Pediatri Edisi 3. Jakarta : EGC. Friedman, 1998. Keperawatan Keluarga. Jakarta : EGC. Gaffar, Jumadi. L.O. 1999. Pengantar Keperawatan Profesional. Jakarta : EGC. Garna, Heri.dkk. 2000. Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Kesehatan Anak Edisi Ke dua.Bandung : FKU Padjadjaran. Irianto, Kus. Drs. 2004. Struktur Dan Fungsi Tubuh Manusia Untuk Paramedis. Bandung : Yrama Widya. Laksman, Hendra, T. Dr. 2003. Kamus Kedokteran. Jakarta : Djambaran. Mansjoer, Arif, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Edisi ketiga Jilid 1. Jakarta : EGC. Markum. 1998. Ilmu Kesehatan Anak, Buku Ajar Jilid 1, Bagian Kesehatan Anak , Fakultas UI, Jakarta. Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EGC. Prawirohardjo, Sarwono, DR. dr. SpOG 2005, ILMU KEBIDANAN. Jakarta YBP-SP Shelov, Steven P dan Hannemann, Robert E. 2004. Panduan Lengkap Perawatan Bayi Dan Balita. The American Academy Of Pediatrics. Jakarta : ARCAN. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak. 2002. Ilmu Kesehatan Anak 1. Jakarta : FKUI. Supartini, Yupi, S.Kep, MSc. 2004. Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta : EGC. Tambayong, Jan. Dr. 2000. Patofisiologi Untuk Keperawatan. Jakarta : EGC. WWW.Medicine and linux.com WWW. Pediatric.com