Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN PENENTUAN POTENSIAL AIR JARINGAN TUMBUHAN

NAMA :

NANING DWI LESTARI 113244205

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN BIOLOGI 2012

KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang atas rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan penyusunan laporan praktikum dengan materi Difusi dan Osmosis dengan judul penelitian Penentuan Potensial Air Jaringan Tumbuhan Penulisan laporan ini adalah tugas setelah kami melakukan percobaan tentang Penentuan Potensial Air Jaringan Tumbuhan Dalam penulisan laporan praktikum ini kami merasa masih banyak kekurangankekurangan, baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat kemampuan yang kami miliki. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan pembuatan laporan ini. Dalam penulisan laporan praktikum ini, kami menyampaikan ucapan terima kasih yang tidak terhingga kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan percobaan ini, khususnya kepada Dosen pengajar Fisiologi Tumbuhan dan para koordinator dosen Fisiologi Tumbuhan yang telah memberikan pengarahan dan dorongan dalam laporan ini. Semoga materi ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak yang membutuhkan, khususnya bagi penulis sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai.

Daftar Isi Halaman Judul Kata Pengantar .. Daftar Isi . ii iii

Bab I Pendahuluan 1. Latar Belakang 2. Rumusan Masalah 3. Tujuan Bab II Kajian Teori..

1 1 1

Bab III Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian 2. Variable Penelitian 3. Alat dan Bahan 4. Prosedur Kerja 5. Rancangan Percobaan Bab IV Hasil, Analisis dan Pembahasan 1. Hasil Penelitian 2. Analisis Data 3. Pembahasan 4. Diskusi

4 4 4 5 6

7 8 9 11

Bab V Penutup 1. Simpulan Daftar Pustaka

12

13

BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Proses fisiologi dalam jaringan tanaman terjadi dengan adanya air yang memiliki peran penting dalam proses tersebut. Peran penting air bagi pertumbuhan air antara lain sebagai pelarut bahan organic, untu proses fotosintesis dan lain-lain. Air masuk dalam sel tumbuhan melalui suatu proses difusi yang terjadi karena perbedaan konsentrasi yaitu konsentrasi di dalam sel lebih rendah dari pada konsentrasi yang ada di luar sel. Proses osmosis terjadi pada sel hidup. Perubahan bentuk sel terjadi apabila terdapat pada larutan yang berbeda. Sel yang terletak pada larutan isotonic, volumenya akan konstan. Hal tersebut terjadi karena sel mendapat dan kehilangan jumlah air yang sama. Jika sel terdapat pada larutan hipotonik, maka sel akan mendapatkan banyak air sehingga tumbuhan akan mengalami turgiditas. Pada praktikum kali ini dilakukan pengamatan dan mempelajari proses osmosis yang terjadi pada sel yang mengakibatkan perubahan bentuk sel dengan cara merendam potongan jaringan dalam larutan yang telah diketahui konsentrasinya. Dari hal tersebut dapat diketahui apakah bengkuang atau larutan sukrosa yang memiliki nilai potensial air yang tinggi. 1.2.Rumusan Masalah 1. Bagaimanakah pengaruh konsentrasi larutan sukrosa terhadap perubahan panjang potongan kentang ? 2. Pada konsentrasi larutan sukrosa berapakah yang tidak menyebabkan perubahan panjang irisan potongan kentang ? 3. Berapakah nilai potensial air jaringan tumbuhan?

1.3.Tujuan Penelitian 1. Menjelaskan pengaruh konsentrasi larutan sukrosa terhadap perubahan panjang potongan jaringan tumbuhan 2. Mengidentifikasi konsentrasi larutan sukrosa yang tidak menyebabkan perubahan panjang irisan jaringan umbi 3. Menghitung nilai potensial air jaringan tumbuhan

BAB II KAJIAN TEORI Osmosis adalah suatu proses difusi yang melalui suatu membrane semipermeabel karena perbedaan konsentrasi satu dengan konsentrasi yang lainnya. Dengan demikian osmosis akan berlangsung sampai adanya keseimbangan antara kepekatan cairan. Komponen potensial air pada tumbuhan terdiri dari potensial osmosis dan potensial turgor. Dengan adanya potensial osmosis cairan sel, air murni cenderung memasuki sel. Sebaliknya potensial turgor di dalam sel mengakibatkan air meninggalkan sel. Pengaturan potensial osmosis dapat dilakukan jika potensial turgornya sama dengan nol yang terjadi saat sel mengalami plasmolisis (Meyer and Anderson, 1952). Potensial air merupakan suatu alat yang memungkinkan penentuan secara tepat keadaan status air dalam sel atau jaringan. Semakin rendah potensial dari suatu sel atau jaringan tumbuhan, maka semakin besar kemampuan tanaman untuk menyerap air dari dalam tanah. Sebaliknya, semakin tinggi potensial air, semakin besar kemampuan jaringan untuk memberikan air kepada sel yang mempunyai kandungan air lebih rendah. Komponen potensial air pada tumbuhan terdiri atas potensial osmosis (solute) dan potensial turgor (tekanan). Dengan adanya potensial osmosis cairan sel, air murni cenderung memasuki sel. Sebaliknya potensial turgor di dalam sel mengakibatkan air meninggalkan sel. Pengaturan potensial osmosis dapat dilakukan jika potensial turgornya sama dengan nol yang terjadi saat sel mengalami plasmolisis (Meyer and Anderson, 1952). Nilai potensial air di dalam sel dan nilainya di sekitar sel akan mempengaruhi difusi air dari dan ke dalam sel tumbuhan. Dalam sel tumbuhan ada tiga faktor yang menentukan nilai potensial airnya, yaitu matriks sel, larutan dalam vakuola dan tekanan hidrostatik dalam isi sel. Hal ini menyebabkan potensial air dalam sel tumbuhan dapat dibagi menjadi 3 komponen yaitu potensial matriks, potensial osmotic dan potensial tekanan (Wilkins, 1992). Nilai potensial air dapat dihitung dengan menggunakan rumus : PA = PO + PT dan PA = - TO Dimana : PO = Potensial osmotik

PA= Potensial Air Untuk mencari nilai tekanan osmotik (TO) menggunakan rumus : TO sel = Dimana : TO = Tekanan Osmotik M = Molaritas T = Temperatur mutlak (273+ t )

BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen, karena penelitian ini menggunakan beberapa variabel, antara lain variabel kontrol, variabel bebas dan variabel respon. 3.2. Variabel Penelitian Variabel kontrol Potongan bengkuang dengan panjang 2 cm Jumlah potongan bengkuang yaitu masing-masing cawan 4 potong Waktu perendaman dalam larutan sukrosa

Variabel bebas Konsentrasi larutan sukrosa yaitu 0 M; 0,2 M; 0,4 M; 0,6 M; 0,8 M; dan 1 M Variabel respon Pertambahan panjang potongan bengkuang Jumlah rata-rata pertambahan panjang potongan bengkuang Nilai potensial air

3.3. Alat dan Bahan Alat Bahan Umbi Bengkuang Gelas kimia 100 ml sebanyak 6 buah Gelas ukur 50 ml, 1 buah Alat penggebor gabus Penggaris Pisau/silet Pinset Plastik Cawan petri 3 buah Karet gelang

Larutan sukrosa dengan molaritas 0 M; 0,2 M; 0,4 M; 0,6 M; 0,8 M; dan 1 M

3.4. Prosedur Penelitian 1. Menyiapkan larutan sukrosa dengan molaritas 0 M; 0,2 M; 0,4 M; 0,6 M; 0,8 M; dan 1M 2. Menyiapkan 6 buah cawan petri dengan masing-masing cawan petri diisi dengan 25 ml larutan sukrosa yang telah disediakan, kemudian masing-masing cawan petri diberi label berdasarkan konsentrasinya. 3. Mengambil bengkuang, lalu bengkuang tersebut dibentuk silinder dengan menggunakan alat penggebor gabus, kemudian potongan bengkuang dipotong sepanjang 2 cm 4. Potongan bengkuang tersebut dimasukkan ke dalam cawan petri yang masing-masing telah diisi dengan larutan sukrosa pada berbagai konsentrasi , masing-masing cawan petri berisi 4 potong bengkuang. 5. Cawan petri yang sudah berisi larutan sukrosa dan potongan bengkuang ditutup rapat dengan plastik 6. Setelah 90 menit, potongan bengkuang tersebut dikeluarkan dan diukur kembali panjangnya 7. Mencatat pertambahan panjang masing-masing potongan bengkuang 8. Menghitung nilai rata-rata pertambahan panjang bengkuang untuk setiap masingmasing konsentrasi larutan sukrosa

3.5. Rancangan Penelitian

Menyiapkan larutan sukrosa sesuai dengan konsentrasi yang telah ditentukan

Cawan petri diisi dengan larutan sukrosa, masing-masing cawan petri diisi dengan 25 ml

Setelah 90 menit, potongan bengkuang tersebut diambil dan diukur kembali panjangnya

Membuat potongan silinder bengkuang dengan panjang 2 cm, lalu potongan tersebut direndam dalam larutan sukrosa selama 90 menit ( satu cawan petri diisi dengan 4 potongan bengkuang)

Mencatat hasil pengamatan pada tabel

BAB IV HASIL, ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Penelitian Tabel Pengaruh Konsentrasi Larutan Sukrosa Terhadap Pertambahan Panjang Umbi Bengkoang Konsentrasi larutan sukrosa (M) 0 Panjang Awal (Cm) Panjang Akhir (Cm) 1. 2. 3. 4. 1. 2. 3. 4. 1. 2. 3. 4. 1. 2. 3. 4. 1. 2. 3. 4. 1. 2. 3. 4. 2,3 2,2 2,1 2,2 2,2 2,3 2,3 2,2 2,1 2,1 2,1 2,1 2,1 2,0 2,0 2,1 1,9 1,9 2,0 2,0 1,9 1,9 2,0 1,8 Pertambaha n Panjang (Cm) 1. 0,3 2. 0,2 3. 0,1 4. 0,2 1. 0,2 2. 0,3 3. 0,3 4. 0,2 1. 0,1 2. 0,1 3. 0,1 4. 0,1 1. 0,1 2. 0 3. 0 4. 0,1 1. - 0,1 2. - 0,1 3. 0 4. 0 1. - 0,1 2. 0 3. - 0,1 4. - 0,2 Rata-rata (Cm)

0,2

0,2

0,25

0,4

0,1

0,6

0,05

0,8

0,05

0,1

Rata-rata pertambahan panjang bengkuang (Cm)

0.3 0.25 0.2 0.15 0.1 0.05 0 -0.05 -0.1 -0.15 Konsentrasi Larutan Sukrosa (M) 0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2

Grafik. Pengaruh Konsentrasi Larutan Sukrosa terhadap Pertambahan Panjang Jaringan Umbi Bengkoang 4.2. Analisis Data Pada konsentrasi larutan sukrosa 0 M, panjang awal bengkuang 2 cm, setelah direndam keempat potongan bengkuang tersebut mengalami perubahan panjang, panjang bengkuang ke-1 menjadi 2,3 karena mengalami pertambahan panjang sebesar 0,3 cm, panjang bengkuang ke-2 menjadi 2,2 cm karena mengalami pertambahan panjang sebesar 0,2 cm, panjang bengkuang ke-3 menjadi 2,1 cm mengalami pertambahan panjang sebesar 0,1 cm, panjang bengkuang ke-4 menjadi 2,2 cm mengalami pertambahan panjang sebesar 0,2 cm sehingga di dapat rata-rata pertambahan panjang sebesar 0,2 cm. Pada konsentrasi larutan sukrosa 0,2 M, panjang awal bengkuang 2 cm, setelah direndam keempat potongan bengkuang tersebut mengalami perubahan panjang, panjang bengkuang ke-1 menjadi 2,2 karena mengalami pertambahan panjang sebesar 0,2 cm, panjang bengkuang ke-2 menjadi 2,3 cm karena mengalami pertambahan panjang sebesar 0,3 cm, panjang bengkuang ke-3 menjadi 2,3 cm mengalami pertambahan panjang sebesar 0,3 cm, panjang bengkuang ke-4 menjadi 2,2 cm mengalami pertambahan panjang sebesar 0,2 cm sehingga di dapat rata-rata pertambahan panjang sebesar 0,25 cm.

Pada konsentrasi larutan sukrosa 0,4 M, panjang awal bengkuang 2 cm, setelah direndam keempat potongan bengkuang tersebut mengalami perubahan panjang yang sama yaitu menjadi 2,1 cm, karena mengalami pertambahan panjang sebesar 0,1 cm, sehingga didapat rata-rata pertambahan panjang sebesar 0,1 cm

Pada konsentrasi larutan sukrosa 0,6 M, panjang awal bengkuang 2 cm, setelah direndam keempat potongan bengkuang tersebut mengalami perubahan panjang, panjang bengkuang ke-1 menjadi 2,1 karena mengalami pertambahan panjang sebesar 0,1 cm, panjang bengkuang ke-2 dan ke-3 tidak mengalami pertambahan panjang, panjang bengkuang ke-4 menjadi 2,1 cm karena mengalami pertambahan panjang sebesar 0,1cm sehingga di dapat rata-rata pertambahan panjang sebesar 0,05 cm.

Pada konsentrasi larutan sukrosa 0,8 M, panjang awal bengkuang 2 cm, setelah direndam keempat potongan bengkuang tersebut mengalami perubahan panjang., Panjang bengkuang ke-1 dan ke-2 mengalami penyusutan panjang yang sama yaitu menjadi 1,9 cm karena mengalami penyusutan sebesar 0,1 cm, sedangkan panjang bengkuang ke-3 dan ke-4 tidak mengalami pertambahan panjang, sehingga didapat rata-rata penyusutan panjang sebesar 0,05 cm..

Pada konsentrasi larutan sukrosa 1 M, panjang awal bengkuang 2 cm, setelah direndam keempat potongan bengkuang tersebut mengalami perubahan panjang., Panjang bengkuang ke-1 dan ke-2 mengalami penyusutan panjang yang sama yaitu menjadi 1,9 cm karena mengalami penyusutan sebesar 0,1 cm, sedangkan panjang bengkuang ke-3 tidak mengalami pertambahan panjang dan panjang bengkuang ke-4 mengalami penyusutan sebesar 0,2 cm, sehingga didapat rata-rata penyusutan panjang sebesar 0,1 cm. Dari grafik diatas dapat diketahui bahwa konsentrasi larutan sukrosa yang tidak menyebabkan pertambahan panjang potongan silinder bengkuang terjadi pada konsentrasi 0,7 M. Dari data tersebut juga dapat didapat bahwa semakin besar konsentrasi larutan, maka akan semakin kecil pertambahan panjang potongan kentang.

4.3. Pembahasan Pada pengamatan kali ini, potongan bengkuang yang direndam dalam larutan sukrosa 0,2 M memiliki rata-rata pertambahan panjang tertinggi yaitu 0,25 cm . Hal ini disebabkan karena adanya kemungkinan pada saat perendaman potongan bengkuang memiliki potensial

air yang cukup rendah sehingga larutan sukrosa dapat berdifusi ke dalam potongan bengkuang tidak mengalami hambatan, sehingga potensi air dalam bengkuang meningkat. Sedangkan potongan bengkuang yang direndam didalam larutan sukrosa 0,8 M dan 1 M mengalami penurunan panjang, hal ini disebabkan karena larutan sukrosa mampu menyerap air secara osmosis dari dalam sel potongan bengkuang itu sendiri. Konsentrasi larutan sukrosa yang tidak menyebabkan pertambahan panjang potongan umbi bengkuang adalah 0,7 M. Hal ini terjadi karena jumlah air yang ada di dalam dan diluar sel sama atau isotonik. Pada saat sudah diketahui bahwa konsentrasi larutan sukrosa yang tidak menyebabkan pertambahan panjang potongan umbi bengkuang adalah 0,7 M, sehingga dapat dihitung nilai potensial air yang ada pada kentang tersebut, sebagai berikut : PA = P0 + PT = PO + 0 = PO PA = - TO TO = TO = = = = 17,3 PA = - TO = - 17,3

Berdasarkan hitungan diatas, maka nilai potensial air (PA) yang didapat adalah -17,3

4.4. Diskusi 1. Mengapa perlu dicari nilai konsentrasi larutan sukrosa yang tidak menyebabkan pertambahan panjang potongan silinder bengkuang dalam menentukan nilai potensial air 2. Mengapa nilai potensial air potongan silinder bengkuang yang tidak berubah panjangnya sama dengan nilai potensial osmosis larutan sukrosa yang tidak menyebabkan pertambahan panjang potongan silinder bengkuang tersebut.

Jawab : 1. Karena dalam menetukan potensial air (PA) perlu diketahui potensial tekanan (PT) dan potensial osmosis (PO). Potensial tekanan yang diperoleh adalah 0, sehingga tidak terjadi pertambahan panjang potongan umbi bengkuang, dan potensial air sama dengan potensial osmotic. PO = PA , jadi panjang bengkuang tetap, karena tidak ada air yang masuk maupun keluar sel. 2. Karena PA = PO sehingga didapat PT = 0, hal ini terjadi karena potensial air pada umbi bengkuang sama dengan potensial osmotik dari larutan sukrosa, sehingga larutan bersifat isotonic, yaitu air yang ada di dalam sel sama dengan air yang ada di luar sel.

BAB V PENUTUP 5.1. Simpulan 1. Semakin besar konsentrasi larutan, maka semakin kecil pula pertambahan panjang suatu sel 2. Suatu sel tumbuhan jika direndam dalam suatu larutan, maka potensial air dalam sel tumbuhan akan berubah tergantung pada konsentrasi larutan. 3. Konsentrasi larutan yang tidak menyebabkan pertambahan panjang adalah pada konsentrasi 0,7 M 4. Nilai Potensial Air yang didapat sebesar -17,3

Daftar Pustaka Mujahidah. 2012. Tekanan Osmotik. Diakses pada tanggal 23 Februari dari

http://www.scribd.com/doc/84979138/tugas-Fistum01 mujahidah 2012. Basahona.2010. Laporan praktikum fisiologi tumbuhan pengukuran potensial air jaringan tumbuhan. Diakses pada tanggal 22 Februari 2013 dari

http://basahona.blogspot.com/2010/12/laporan-praktikum-fisiologi-tumbuhan.html. nochfendrespasumain. Laporan praktikum fisiologi. Diakses pada tanggal 22 Februari 2013 dari http://nochfendrespasumain.blogspot.com/2011/02/laporan-praktikum-fisiologi-

tumbuhan_12.html.