Anda di halaman 1dari 49

BAB 1 PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Salah satu masalah kesehatan yang akan banyak dihadapi adalah gangguan kognitif yang bermanifestasi secara akut berupa konfusio (gagal otak akut) dan kronis berupa demensia atau yang disebut gagal otak kronis (Nasution, 2003). Masalah demensia sering terjadi pada pasien lansia yang berumur di atas 60 tahun dan sampai saat ini diperkirakan kurang lebih 500.000 penduduk lanjut usia di Indonesia mengalami demensia dengan berbagai penyebab (Harumwati, 2006). Prevalensi demensia di Indonesia akan bertambah pesat seiring dengan meningkatnya usia harapan hidup dan bertambahnya populasi usia lanjut. Pada tahun 2025 sebagian besar kasus demensia akan berada di negara berkembang (70%) yaitu sebanyak 34 juta orang. Peningkatan ini mencapai hampir dua kali lipat jumlah kasus di tahun 2000 (18 juta orang). (Harumwati, 2006). Gangguan kognitif pada pasien akan mempengaruhi pada kemampuan berpikir dan rasional seseorang. Respon kognitif yang ditimbulkan berbeda dan tergantung pada bagian yang mengalami gangguan. Perubahan dalam perilaku juga akan terjadi. Pada kasus delirium akan terjadi gangguan pada proses pikir, sedangkan pada demensia akan mengalami respon kognitif yang maladaptif (Nasution, 2003). Untuk meningkatkan kualitas hidup dari pasien dengan gangguan kognitif dan psikologis dapat dilakukan intervensi yang tidak hanya berfokus pada pasien tetapi juga pada keluarga dan lingkungan sekitar pasien untuk memenuhi semua kebutuhan dasar dari pasien. Pemberian asuhan keperawatan yang maksimal dapat membantu pasien untuk menghadapi masalahnya dan meminimalkan resiko yang akan terjadi. Hal inilah yang melatarbelakangi penulisan makalah gangguan kognitif dan psikologis yaitu dengan pemberian asuhan keperawatan komprehensif dalam menangani masalah tersebut. Penulisan makalah ini

diharapkan mampu memberikan gambaran secara umum tentang asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien dengan gangguan kognitif dan psikologis sehingga dapat membantu perawat dalam menerapkan asuhan keperawatan. 1.2 Rumusan Masalah a. Bagaimana asuhan keperawatan pada lansia demensia? b. Bagaimana asuhan keperawatan pada lansia delirium? c. Bagaimana asuhan keperawatan pada lansia depresi? 1.3 Tujuan 1. Menjelaskan asuhan keperawatan pada lansia demensia. 2. Menjelaskan asuhan keperawatan pada lansia delirium. 3. Menjelaskan asuhan keperawatan pada lansia depresi. 1.4 Manfaat a. Bagi mahasiswa : untuk menambah wawasan serta menambah referensi tentang asuhan keperawatan pada lansia demensia, delirium, dan depresi. b. Bagi perawat : dapat meningkatkan kualitas asuhan keperawatan pada lansia demensia, delirium, dan depresi di pelayanan kesehatan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Demensia 2.1.1 Konsep Demensia Dimensia adalah sindrom gangguan daya ingat disertai dua atau lebih domain kognitif lainnya (atensi, fungsi bahasa, fungsi visual spasial, fungsi eksekutif, emosi) yang sudah mengganggu aktifitas kehidupan sehari-hari dan tidak disebabkan oleh gangguan pada fisik. Dimensia atau pikun bukanlah hal yang alamiah tapi merupakan suatu kondisi sakit (medicall illness) yang disebabkan oleh kematian atau rusaknya sel-sel otak. Dimensia adalah gangguan yang terdiri dari penurunan kemampuan mengingat hal-hal baru terjadi maupun mempelajari hal-hal baru. Demensia atau pikun adalah suatu sindroma penurunan kemampuan intelektual progresif yang menyebabkan deteriorasi kognisi dan fungsional sehingga mengakibatkan gangguan fungsi sosial, pekerjaan dan aktifitas sehar-hari (Smeltzer, 2001). 2.1.2 Epidemiologi Demensia Di Indonesia pada tahun 2000, usia harapan hidup adalah 67 tahun, dan sekitar 7,28 persen atau 17 juta penduduk adalah lansia. Usia harapan hidup tahun 2020 diperkirakan 71 tahun dengan jumlah lansia 28 juta orang (asosiasi Alzheimer Indonesia, 2010) Pada tahun 2025 sebagian besar kasus demensia akan berada di negara berkembang (70%) yaitu sebanyak 34 juta orang. Peningkatan ini mencapai hampir dua kali lipat jumlah kasus di tahun 2000 (18 juta orang). (Harumwati, 2006) Epidemiologi Laporan Departemen Kesehatan tahun 1998, populasi usia lanjut diatas 60 tahun adalah 7,2% (populasi usia lanjut kurang lebih 15 juta).Peningkatan angka kejadian kasus demensia berbanding lurus dengan meningkatnya harapan hidup suatu populasi . Kira-kira 5 % usia lanjut 65 70 tahun menderita demensia dan meningkat dua kali lipat

setiap 5 tahun mencapai lebih 45% pada usia diatas 85 tahun. Pada negara industri kasus demensia 0,5 1,0% dan di Amerika jumlah demensia pada usia lanjut 10 15% atau sekitar 3 4 juta orang. demensia terbagi menjadi dua yakni demensia Alzheimer dan demensia Vaskuler. demensia Alzheimer merupakan kasus demensia terbanyak di negara maju Amerika dan Eropa sekitar 50-70%. Demensia vaskuler penyebab kedua sekitar 15-20% sisanya 15- 35% disebabkan demensia lainnya. Di Jepang dan Cina demnsia vaskuler 50 60 % dan 30 40 % demensia akibat penyakit Alzheimer. 2.1.3 Etiologi Demensia Dimensia dapat disebabkan oleh penyakit alzheimer (60%) dan gangguan pembuluh darah otak atau stroke. Dimensia yang masih mungkin disembuhkan (reversible) adalah yang disebabkan oleh gangguan kelebihan atau kekurangan hormon tiroid, vitamin B12, ketidakseimbangan kadar kalsium atau besi desakan didalam kepala (Depkes, 2001). Faktor faktor yang berkaitan dengan demensia : a. Kondisi akut yang tidak diobati atau tidak dapat disembuhkan. Bila kondisi akut yang menyebabkan delirium tidak atau tidak dapat diobati, terdapat kemungkinan bahwa kondisi ini akan menjadi kronik dan karenanya dapat diangap sebagai demensia. b. c. d. e. f. Penyakit vascular, seperti hipertensi, arteriosclerosis, dan aterosklerosis dapat menyebabkan stroke. Penyakit Parkinson, demensia menyerang 40% dari pasien pasien ini. Gangguan genetika, penyakit kore Huntington atau penyakit Pick Penyakit Prion (protein yang terdapat dalam proses infeksi penyakit Creutzfeldt-Jakob) Infeksi HIV dapat menyerang system saraf pusat, menyebabkan enselofati HIV atau kompleks demensia AIDS

g.

Gangguan struktur

jaringan

otak,

seperti

tekanan

normal

hidrosefalus dan cedera akibat trauma kepala. Demensia bukanlah hal yang alamiah tetapi merupakan suatu kondisi yang disebabkan oleh kematian atau rusaknya sel-sel otak. Proses menua tidak dengan sendirinya menyebabkan terjadinya demensia. Penuaan menyebabkan terjadinya perubahan anatomi dan biokimiawi di susunan saraf pusat. Pada beberapa penderita tua terjadi penurunan daya ingat dan gangguan psikomotor yang masih wajar. Keadaan ini tidak menyebabkan gangguan pada aktifitas sehari-hari. Gejala demensia adalah melakukan penurunan ketrampilan kemampuan berbahasa, dan ketidakmampuan yang dimilikinya,

ketidakmampuan mengartikan persepsi sensori. Beberapa penderita demensia sering mengalami depresi dan konfusia, sehingga gambaran kliniknya seringkali membingungkan (Nugroho, 2002). 2.1.4 Tanda dan Gejala Dimensia Terdapat beberapa tanda dan gejala dimensia yaitu sering lupa kejadian yang baru dialami, kesulitan berfikir abstrak, kesulitan melakukan pekerjaan sehari-hari, ialah menaruh barang, kesulitan dalam berbahasa, terjadi perubahan suasana perasaan dan perilaku, disorientasi waktu dan tempat, perubahan kepribadian serta tidak mampu membuat keputusan, kehilangan inisiatif. Gejala gejala umum demensia : a. Afasia : kehilangan kemampuan berbahasa; kemampuan berbicara meburuk dank lien sulit menemukan kata kata. b. Apraksia : rusaknya sensoriknya kerusakan. kemampuan tidak melakukan mengalami aktivitas motorik sekalipun fungsi

Menurut Depkes, 2001

c. Agnosia

: kegagalan

mengenali

atau

mengidentifikasikan objek atau benda umum walaupun fungsi sensoriknya tidak mengalami kerusakan. d. Konfabulasi : mengisi celah celah ingatannya dengan fantasi yang diyakini oleh individu yang terkena. e. Sundown syndrome f. Reaksi katastrofik : memburuknya disorientasi di malam hari. : respons takut atau panic dengan potensi kuat menyakiti diri sendiri atau orang lain. g. Perseveration phenomenon : perilaku h. Hiperoralitas : kebutuhan berulang, untuk meliputi dan mengulangi kata kata orang lain. mencicipi mengunyah benda benda yang cukup kecil untuk dimasukkan ke mulut. i. Kehilangan memori : awalnya hanya kehilangan memori tentang hal hal yang baru terjadi, dan akhirnya gangguan ingatan masa lalu. j. Disorientasi waktu, tempat, dan orang. k. Berkurangnya kemampuan berkonsentrasi atau mempelajari materi baru. l. Sulit mengambil keputusan m. Penilaian buruk : individu ini mungkin tidak mempunyai kewaspadaan lingkungan tentang keamanan dan keselamatan. 2.1.5 Klasifikasi Demensia Menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III (PPDGJ III), demensia dapat diklasifikasikan berdasarkan umur, perjalanan penyakit, kerusakan struktur otak, dan sifat klinisnya.

Namun dalam makalah ini akan dibahas klasifikasi demensia secara umum, yaitu: 1. Demensia primer (demensia yang progresif) : disebabkan oleh adanya kelainan atau penyakit pada otak. Seperti: alzhaemer (50-60%), Diffuse Lewy Body Dementia/ DLBD (15-25%), demensia Vaskuler (10%), penyakit Huntington, penyakit Creutzfeldt-jakob. 2. Demensia sekunder : demensia yang terjadi karena kelainan otak yang disebabkan oleh sebab lain. Seperti: demensia karena alkohol, penyakit Parkinson, demensia HIV. Dimensia vaskuler merupakan dimensia yang terjadi akibat penyakit ateroskleros pada pembuluh darah sehingga resiko dimensia sama dengan penyakit aterosklerose lainnya, seperti hipertensi, Diabetes Mellitus dan hiperlipidemia. Dimensia vaskuler yaitu dimensia yang timbul akibat keadaan atau penyakit lain seperti stroke, hipertensi kronik, gangguan metabolik, toksik, trauma otak, infeksi, tumor dan lain-lain. Dimana demensia vaskuler dapat terjadi apabila lansia memiliki penyakit diatas, sehingga kejadian demensia dapat terjadi dengan cepat. 3. Demensia campuran : demensia yang timbul akibat pencampuran penyebab demensia primer dan sekunder. 2.1.6 1. 2. 3. 4. Pemeriksaan Diagnostik Perburukan (gangguan berbahasa) ADL terganggu dan perubahan pola tingkah laku Adanya riwayat keluarga, khususnya kalau dikonfirmasikan dengan neuropatologi Pada gambaran EEG memberikan gambaran normal atau perubahan non spesifik seperti peningkatan aktivitas gelombang lambat 5. Pada pemeriksaan CT Scan didapatkan atropi serebri

2.1.7

Penatalaksanaan Demensia Beberapa terapi untuk penanganan demensia didasarkan pada

penyebab dasar demensia tersebut. Misalnya, perkembangan demensia vaskular, jenis demensia kedua yang paling sering terjadi, dapat dihentikan pada terapi yang tepat pada kondisi vaskular yang mendasar (misalnya perubahan diet, olahraga, kontrol hipertensi, atau diabetes). Perbaikan aliran darah serebral dapat menghentikan perkembangan demensia vaskular pada beberapa individu (Caine& lyness,2000) Beberapa terapi yang dapat diberikan bertujuan untuk jangka panjang yaitu mempertahankan kualitas hidup penderita, diantaranya: 1. Non farmakologi a. Fokus Individu a). Orientasi Meliputi orang, waktu dan tempat, dapat dilakukan hal-hal seperti: 1). Anjurkan pasien untuk menyimpan barang milik pribadi di dalam kamarnya 2). Gunakan lampu tidur 3). Sediakan jam besar b). Komunikasi 1). 2). 3). 4). 5). Perkenalkan diri dan tunjukkan sikap positif pada pasien Gunakan komunikasi verbal yang jelas dan singkat Hindari penggunaan kata ganti Gunakan pertanyaan ya / tidak Pastikan komunikasi verbal selaras dengan non verbal

c). Kurangi keluar dari area yang pasien kuasai. Lakukan pemetaan perilaku pasien untuk mengidentifikasi kondisi terjadinya perilaku dan lakukan tindakan pencegahan. b. Fokus keluarga Pada tahap ini keluarga disiapkan untuk merawat pasien. Statistik menunjukkan 7 dari 10 orang dengan demensia jenis alzhaimer tinggal

dirumah, dan 75% diantara mereka diurus oleh keluarga dan temanteman. Maka dari itu diperlukan adanya health education terhadap keluarga sehingga keluarga diaharapkan dapat berperan aktif dalam pengobatan dan penatalaksanaan lansia demensia. Penyuluhan yang dapat diberikan kepada keluarga antara lain: 1). 2). Ajarkan pada keluarga tentang demensia: gejala dan sifat progresifnya. Ajarkan pada keluarga tentang mempertahankan nutrisi yang baik: makan sedikit, tetapi sering untuk pasien dengan nafsu makan buruk. 3). Ajarkan pada keluarga tentang rutinitas menjelang tidur untuk meningkatkan tidur, ciptakan lingkungan yang tenang, gunakan lampu tidur, pergi ke kamar kecil sebelum berangkat tidur. 4). Ajarkan pada keluarga tentang cara memberikan arahan dan instruksi dengan kata-kata sederhana, gunakan sikap tubuh bila membantu. 5). Anjurkan keluarga untuk menempatkan pasien pada kamar yang terdapat jendela, sehingga pasien dapat membedakan waktu siang dan malam. 6). Anjurkan keluarga untuk menyeting tempat secara permanen (tidak diubah-ubah) serta meletakkan barang-barang pasien di tempat yang mudah dijangkau dan tidak dipindahpindahkan. 2. Farmakologi Obat-obatan yang digunakan untuk mengobati demensia Nama Takrin (cognex) Donepezil Rentang dosis dan cara Pertimbangan khusus pemberian 40-160 mg per oral setiap Pantau enzim hati untuk hari yang dibagi dalam 4 mengetahui adanya efek dosis hepatotoksik 5-10 mg per oral setiap Pantau adanya mual, diare,

(aricept)

hari

insomnia Lakukan pemeriksaan fisik secara periodik untuk adanya mengetahui perdarahan GI

2.2 Dellirium 2.2.1 Definisi Delirium menunjuk kepada sindrom otak organik karena gangguan fungsi atau metabolisme otak secara umum atau karena keracunan yang menghambat metabolisme otak. Gejala utama ialah kesadaran yang menurun. Gejala-gejala lain ialah: penderita tidak mampu mengenal orang dan berkomunikasi dengan baik, ada yang bingung atau cemas, gelisah dan panik, ada pasien yang terutama berhalusinasi dan yang hanya berbicara komat-kamit dan inkoheren.(Maramis, 2009) Delirium adalah suatu sindroma otak organik karena fungsi atau metabolisme otak secara umum atau karena keracunan yang menghambat metabolisme otak yang mencakup gangguan kesadaran yang disertai dengan perubahan kognisi yang ditandai oleh ilusi, halusinasi, ketegangan otak, dan kegelisahan fisik yang bersifat sementara dan biasanya terjadi secara mendadak, dimana penderita mengalami penurunan kemampuan dalam memusatkan perhatiannya dan menjadi linglung, mengalami disorientasi dan tidak mampu berfikir secara jernih. Delirium juga disebut sebagai kondisi bingung akut (acute confusional state). Sindrom klinis akut dan sejenak dengan ciri penurunan taraf kesadaran, gangguan kognitif, gangguan persepsi, termasuk halusinasi dan ilusi, khas adalah visual juga di pancaindera yang lain, dan gangguan perilaku, seperti agitasi, serta berkurangnya tingkat orientasi (misal, kemampuan berkaitan dengan waktu, tempat dan orang).

10

Delirium

biasanya

hilang

bila

penyakit

badaniah

yang

menyebabkannya sudah sembuh, mungkin sampai kira-kira satu bulan setelahnya. Jika disebabkan oleh proses yang langsung menyerang otak, bila proses itu sembuh maka gejala-gejalanya tergantung pada besarnya kerusakan yang ditinggalkan gejala-gejala neurologis atau gangguan mental dengan gejala utama gangguan intelegensi. Prognosisnya tergantung pada dapat atau tidak dapat kembalinya penyakit yang menyebabkannya dan kemampuan otak untuk menahan pengaruh penyakit itu.

2.2.2 Etiologi Delirium hampir selalu diakibatkan oleh gangguan atau penyakit fisiologis, metabolic, atau serebral yang dapat diidentifikasikan, intoksikasi obat, atau putus obat. Delirium sering kali diakibatkan oleh penyebab multipel yang memerlukan pemeriksaan fisik yang cermat dan menyeluruh serta pemeriksaan laboratorium untuk menentukan penyebab yang tepat. Keadaan ini paling sering terjadi pada usia lanjut dan penderita yang otaknya telah mengalami gangguan, termasuk orang yang sakit berat, orang yang mengkonsumsi obat yang menyebabkan perubahan fikiran atau perilaku dan orang yang mengalami demensia. Penyebab delirium: 1. 2. 3. Alkohol, obat-obatan dan bahan beracun Efek toksik dari pengobatan Kadar elektrolit, garam dan mineral (misalnya kalsium, natrium atau magnesium) yang tidak normal akibat pengobatan, dehidrasi atau penyakit tertentu 4. 5. Infeksi akut disertai demam Hidrosefalus bertekanan normal, yaitu suatu keadaan dimana cairan yang membantali otak tidak diserap sebagaimana mestinya dan menekan otak

11

6. 7. 8. 9. 10. 11. 12.

Hematoma subdural, yaitu pengumpulan darah di bawah tengkorak yang dapat menekan otak. Meningitis, ensefalitis, sifilis (penyakit infeksi yang menyerang otak) Kekurangan tiamin dan vitamin B12 Hipotiroidisme maupun hipotiroidisme Tumor otak (beberapa diantaranya kadang menyebabkan linglung dan gangguan ingatan) Patah tulang panggul dan tulang-tulang panjang Fungsi jantung atau paru-paru yang buruk dan menyebabkan rendahnya kadar oksigen atau tingginya kadar karbon dioksida di dalam darah

13.

Stroke.

Dikutip dari Buku Praktik Keperawatan Untuk Gangguan Jiwa, Sheila L. Videbeck, 2008 menuliskan bahwa penyebab delirium yang paling umum adalah: 1. Fisiologis atau metabolit Yang termasuk adalah hypoksemia, gangguan elektrolit, gagal ginjal atau hati, hypoglikemia atau hyperglikemia, dehidrasi, deprivasi tidur, gangguan tiroid atau glukokortikoid, defisiensi tiamin atau vitamin B12, vitamin C, niasin atau defisiensi protein, syock kardiovaskular, tumor otak, cidera kepala, pajanan terhadap bensin, pelarut cat, insektisida dan zat terkait. 2. a. Infeksi Infeksi sistemik Termasuk sepsis, infeksi saluran kemih, penumonia b. Infeksi cerebral Termasuk meningitis, ensefalitis, HIV, sifilis

12

3 . Terkait obat a. b. c. Intoksikasi: antikolinergik, litium, alcohol, sedative dan hipnotik Putus obat: alcohol, sedative dan hipnotik Reaksi terhadap anastesi, obat yang diresepkan atau obat terlarang.

2.2.3 Epidemiologi Delirium terdapat 14-56% pasien rawat dengan 30% darinya mengalami 'sindroma parsial' (memenuhi gambaran delirium tanpa memenuhi kriteria diagnosis DSM-IV). Rata-rata pasien mengalami delirium pada umur 75 tahun, dengan sebagian sedang memerlukan perawatan rumah sakit dan timbul banyak tanda (sign) lagi setelah tiga hari atau lebih perawatan atau pembedahan. Levkoff dkk. pada studi 325 usila di RS melaporkan hanya 10% delirium dengan 31%nya timbul selama perawatan. Juga pada studi 225 pasien rawat di unit geriatri akut dilaporkan oleh O'Keeffe dan Lavan 18% delirium selama perawatan dengan 29% terjadi kemudian. Lama rata-rata gejala , yang memenuhi kriteria DSM-III adalah 7 hari, meskipun 5% menetap lebih dari 4 minggu setelah didiagnosis. 38% nya dengan perburukan yang baru dari orientasi dan daya ingat yang masih tetap buruk selama sebulan, pada saat 32% mengalami perbaikan gejala.

2.2.4 Klasifikasi Delirium Delirium dapat dibagi menjadi subtype hiperaktif dan hipoaktif, tergantung dari aktifitas psikomotornya. Keduanya dapat terjadi bersamaan pada satu individu. 1. Delirium Hyperaktif

13

Delirium hiperaktif merupakan delirium yang paling sering terjadi. Pada pasien, terjadi agitasi, psikosis, labilitas mood, penolakan untuk terapi medis, dan tindakan dispruptif lainnya. Terkadang diperlukan adanya pengawas karena pasien mungkin mencabut selang infus atau kateter, atau mencoba pergi dari tempat tidur. Pasien delirium karena intoksikasi, obat antikolinergik, dan alkohol withdrawal biasanya menunjukkan perilaku tersebut. 2. Delirium Hipoaktif Delirium hipoaktif adalah bentuk delirium yang paling sering terjadi, tetapi sedikit dikenali oleh klinisi. Pasien tampak bingung, lethargia dan malas. Hal tersebut mungkin sulit dibedakan dengan keadaan fatigue dan somnolen, bedanya pasien akan mudah dibangunkan dan berada dalam tingkat kesadaran yang normal. Rangsang yang kuat diperlukan untuk membangunkan, biasanya bangun tidak komplit dan transient. Penyakit yang mendasari adalah metabolit dan enchepalophaty. 3. Delirium campuran Tipe ini biasanya terjadi pada pasien dengan gangguan tidur, pada siang hari mengantuk tapi pada malam hari terjadi agitasi dan gangguan sikap.Mekanisme penyebab delirium masih belum dipahami secara seutuhnya. Delirium menyebabkan variasi yang luas terhadap gangguan structural dan fisiologik. Neuropatologi dari delirium telah dipelajari pada pasien dengan hepatic encephalopathy dan pada pasien dengan putus alcohol.

2.2.5 Manifestasi Klinis Delirium dapat diawali dengan berbagai gejala, dan kasus yang ringan mungkin sulit untuk dikenali. Tingkah laku seseorang yang mengalami delirium bervariasi, tetapi kira-kira sama seperti orang yang

14

sedang mengalami mabuk berat. Ciri utama dari delirium adalah tidak mampu memusatkan perhatian. Penderita tidak dapat berkonsentrasi, sehingga mereka memiliki kesulitan dalam mengolah informasi yang baru dan tidak dapat mengingat peristiwa yang baru saja terjadi. Hampir semua penderita mengalami disorientasi waktu dan bingung dengan tempat dimana mereka berada. Pikiran mereka kacau, mengigau dan terjadi inkoherensia. Pada kasus yang berat, penderita tidak mengetahui diri mereka sendiri. Beberapa penderita mengalami paranoia dan delusi (percaya bahwa sedang terjadi hal-hal yang aneh). Respon penderita terhadap kesulitan yang dihadapinya berbeda-beda; ada yang sangat tenang dan menarik diri, sedangkan yang lainnya menjadi hiperaktif dan mencoba melawan halusinasi maupun delusi yang dialaminya. Jika penyebabnya adalah obat-obatan, maka sering terjadi perubahan perilaku. Keracunan obat tidur menyebabkan penderita sangat pendiam dan menarik diri, sedangkan keracunan amfetamin menyebabkan penderita menjadi agresif dan hiperaktif. Delirium bisa berlangsung selama berjam-jam, berhari-hari atau bahkan lebih lama lagi, tergantung kepada beratnya gejala dan lingkungan medis penderita. Delirium sering bertambah parah pada malam hari (suatu fenomena yang dikenal sebagai matahari terbenam). Pada akhirnya, penderita akan tidur gelisah dan bisa berkembang menjadi koma (tergantung kepada penyebabnya).

Membedakan Delirium Dengan Psikosa Gejala Umum Delirium Gejala mental) waktu, Biasanya sadar akan waktu, tempat & identitas Umum Psikosa (kelainan

(penyakit fisik) Bingung tentang

tanggal, tempat atau identitas

15

Sulit memusatkan perhatian

Mampu memusatkan perhatian

Lupa akan peristiwa yg baru Berfikir tidak logis tetapi ingat akan saja terjadi peristiwa yg baru saja terjadi melakukan perhitungan

Tidak mampu berfikir secara Mampu logis atau melakukan sederhana perhitungan sederhana

Demam atau pertanda infeksi Riwayat kelainan psikis sebelumnya lainnya Halusinasi (lihat) Terdapat bukti pemakaian obat Tremor Halusinasi (dengar) -

2.2.6 Patofisiologi Banyak kondisi sistemik dan obat bisa menyebabkan delirium, contoh antikolinergika, psikotropika, dan opioida. Mekanisme tidak jelas, tetapi mungkin terkait dengan gangguan reversibilitas dan metabolisma oxidatif otak, abnormalitas neurotransmiter multipel, dan pembentukan sitokines (cytokines). Stress dari penyebab apapun bisa meningkatkan kerja saraf simpatikus sehingga mengganggu fungsi kolinergik dan menyebabkan delirium. Usia lanjut memang dasarnya rentan terhadap penurunan transmisi kolinergik sehingga lebih mudah terjadi delirium. Apapun sebabnya, yang jelas hemisfer otak dan mekanisma siaga (arousal mechanism) dari talamus dan sistem aktivasi retikular batang otak jadi terganggu. Terdapat faktor predisposisi gangguan otak organik: seperti demensia, stroke. Penyakit parkinson, umur lanjut, gangguan sensorik, dan gangguan multipel. Faktor presipitasi termasuk penggunaan obat baru lebih dari tiga macam, infeksi, dehidrasi, imobilisasi, malagizi, dan pemakaian kateter buli-buli. Penggunaan anestesia juga meningkatkan resiko delirium,

16

terutama pada pembedahan yang lama. Demikian pula pasien lanjut usia yang dirawatdi bagian ICU beresiko lebih tinggi.

2.2.7 Penatalaksanaan 1. Pengobatan etiologik harus sedini mungkin dan di samping faal otak dibantu agar tidak terjadi kerusakan otak yang menetap. 2. Peredaran darah harus diperhatikan (nadi, jantung dan tekanan darah), bila perlu diberi stimulansia. 3. Pemberian cairan harus cukup, sebab tidak jarang terjadi dehidrasi. Hati-hati dengan sedativa dan narkotika (barbiturat, morfin) sebab kadang-kadang tidak menolong, tetapi dapat menimbulkan efek paradoksal, yaitu klien tidak menjadi tenang, tetapi bertambah gelisah. 4. Klien harus dijaga terus, lebih-lebih bila ia sangat gelisah, sebab berbahaya untuk dirinya sendiri (jatuh, lari dan loncat keluar dari jendela dan sebagainya) ataupun untuk orang lain. 5. Dicoba menenangkan klien dengan kata-kata (biarpun kesadarannya menurun) atau dengan kompres es. Klien mungkin lebih tenang bila ia dapat melihat orang atau barang yang ia kenal dari rumah. Sebaiknya kamar jangan terlalu gelap , klien tidak tahan terlalu diisolasi. 6. Terdapat gejala psikiatrik bila sangat mengganggu dapat diberikan neroleptika, terutama yang mempunyai dosis efektif tinggi. 2.3 Depresi 2.3.1 Definisi Depresi adalah suatu jenis alam perasaan atau emosi yang disertai komponen psikologik : rasa susah, murung, sedih, putus asa dan tidak bahagia, serta komponen somatik: anoreksia, konstipasi, kulit lembab (rasa dingin), tekanan darah dan denyut nadi sedikit menurun. Depresi juga sebagai suatu gangguan alam perasaan, ditandai oleh kesedihan, harga diri rendah, rasa bersalah, putus asa dan perasaan kosong. (Stuart & Sundeen, 1987)

17

Depresi adalah suatu perasaan sedih dan pesimis yang berhubungan dengan suatu penderitaan, dapat berupa serangan yang ditujukan pada diri sendiri atau perasaan marah yang dalam. (Wahyudi Nugroho, 1995) Depresi di kalangan lansia seringkali terjadi bersamaan dengan penyakit ketuaan lainnya yaitu arthritis, jantung, Parkinson, Alzheimer dan stroke dan seringkali dianggap sebagai bagian dai penyakit ketuaan itu. Banyak orang, termasuk lansia merasa bahwa depresi merupakan kelemahan dari kepribadian/ keimanan. Pandangan ini salah, karena depresi merupakan suatu penyakit medis yang dapat diobati. Terjadinya depresi secara biologik dipacu dengan perubahan neurotransmitter, penyakit sistemik dan penyakit degenetif. Sedangkan secara psikologik gejalanya kehilangan harga diri/martabat, kehilangan secara fisik orang dan benda yang disayangi serta gejala sosial ditandai oleh kesulitan ekonomi seperti tak punya tempat tinggal. Penyebab depresi adalah zat-zat kimia didalam otak (neurotransmitter) tidak seimbang. Neurotransmitter sendiri adalah zat kimia yang membantu komunikasi antar sel-sel otak. (Martina, 2002) 2.3.2 Epidemiologi depresi Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat depresi adalah gangguan mental yang umum terjadi diantara populasi. Diperkirakan 121 juta manusia dimuka bumi ini depresi. Dari jumlah itu 5,8% Laki laki dan 9,5% Perempuan, dan hanya sekitar 30% penderita depresi yang benarbenar mendapat pengobatan yang cukup, sekalipun telah tersedia teknologi pengobatan depresi yang efektif, ironisnya, mereka yang menderita depresi berada dalam usia produktif, yakni cenderung pada usia kurang dari 45 tahun tidaklah mengherankan, bila diperkirakan 60 % dari seluruh kejadian Bunuh Diri terkait dengan depresi (Ahmad Djojosugito, 2002). Menurut Sebuah penelitian di amerika, hampir 10 juta orang amerika menderita depresi dari semua kelompok usia, kelas sosial ekonomi, ras dan budaya. Angka depresi meningkat secara drastic diantara Lansia yang

18

berada di instiitusi, dengan sekitar 50% sampai 75% menghuni perawatan jangka panjang memiliki gejala depresi ringan sampai sedang. Dari jumlah itu, angka yang signifikan dari orang dewasa dan tidak terganggu secara kognitif (10 20%) mengalami gejala- geajla yang cukup parah untuk memenuhi criteria diagnostic depresi klinis. Oleh karena itu, depresi merupakan masalah kesehatan masyarakat yang disignifikan merupakan gangguan psikiatri yang paling banyak terjadi pada lansia, tetapi untungnya dapat diobati dan kembali sehat (Hermana, 2006). 2.3.3 Faktor predisposisi Depresi disebabkan oleh banyak faktor antara lain : faktor heriditer dan genetik, faktor konstitusi, faktor kepribadian pramorbid, faktor fisik, faktor psikobiologi, faktor neurologik, faktor biokimia dalam tubuh, faktor keseimbangan elektrolit dan sebagainya. Depresi biasanya dicetuskan oleh trauma fisik seperti penyakit infeksi, pembedahan, kecelakaan, persalinan dan sebagainya, serta faktor psikik seperti kehilangan kasih sayang atau harga diri dan akibat kerja keras. Depresi merupakan reaksi yang normal bila berlangsung dalam waktu yang pendek dengan adanya faktor pencetus yang jelas, lama dan dalamnya depresi sesuai dengan faktor pencetusnya. Depresi merupakan gejala psikotik bila keluhan yang bersangkutan tidak sesuai lagi dengan realitas, tidak dapat menilai realitas dan tidak dapat dimengerti oleh orang lain 2.3.4 Klasifikasi Depresi dibagi menurut derajat: 1. ringan --> 2 gejala A dan 2 gejala B 2. sedang --> 2 gejala A dan 3 gejala B 3. berat --> 3 gejala A dan 4 gejala B 2.3.5 Tanda dan Gejala Tanda dan gejala depresi antara lain:

19

1. Sering mengalami gangguan tidur ( insomnia atau hipersomnia) , gangguan ini serinng disertai mimpi yang tidak menyenangkan. 2. Sering kelelahan, lemas, kurang dapat menikmati kehidupan seharihari 3. Kebersihan dan kerapihan diri sendiri diabaikan 4. Cepat sekali menjadi marah dan tersinggung 5. Daya konsentrasi rendah dan daya ingat menurun 6. Pada pembicaraan sering sekali disertai dengan rasa pesismis atau perasaan putus asa (tidak ada gairah hidup) 7. Berkurang atau hilangnya napsu makan sehingga berat badan menurun secara cepat 8. Kadang dalam pembicaraannya ada kecenderungan untuk bunuh diri, adanya pikiran tentang kematian 9. Hilangnya rasa senang, semangat dan minat, tidak suka lagi melakukan hobi kreatifitas menurun, produktifitas juga menurun. (Abi, 2007) Sedangkan Tanda dan gejala depresi menurut Frank J. Bruno 1. secara umum tidak pernah merasa senang dalam hidup ini. Tantangan yang ada, proyek, hobi, atau rekreasi tidak memberi kesenangan 2. Distorsi dalam perilaku makan. Orang yang mengalami depresi tingkat sedang cenderung untuk makan secara berlebihan, namun berbeda jika kondisinya telah parah seseorang cenderung akan kehilangan gairah makan. 3. Gangguan tidur. Tergantung pada tiap orang dan berbagi macam faktor penentu, sebagian orang mengalami depresi sulit tidur tetapi di lain pihak banyak orang yang mengalami depresi justru terlalu banyak tidur 4. Gangguan dalam aktivitas normal seseorang. Seseorang yang mengalami depresi mungkin akan mencoba melakukan lebih dari kemampuannya dalam setiap usaha untuk mengkomunikasikan idenya. Di lain pihak sesorang yang mengalami depresi mungkin akan mengalami letih dan lemah

20

5. Kurang energi. Orang yang mengalami depresi cenderung untuk mengatakan saya merasa lelah. Ada anggapan bahwa gejala itu disebabkan oleh faktor-faktor emosional, bukan faktor biologis 6. Keyakinan bahwa seseorang mempunyai hidup yang tidak berguna dan tidak efektif. 7. Kapasitas menurun untuk bisa berfikir dengan jernih dan untuk memecahkan masalah secara efektif 8. perilaku merusak diri secara tidak langsung contohnya penyalahgunaan alkhohol, narkoba dan obat-obat lainnya 9. Mempunyai pemikiran ingin bunuh diri ( Frank J. Bruno, 1997) Sedangkan keluhan fisik biasanya terwujud pada perasaan fisik seperti nyeri, merasa putus asa dan tidak berarti, berat badan berubah drastic serta mengalami sulit tidur dan sulit berkonsentrasi. Gejala fisik pada lansia penderita depresi juga terlihat pada keluarnya keringat yang berlebihan, sesak napas, nyeri kepala, nyeri otot, kejang usus atau kolik, muntah, diare serta berdebar-debar.(Martina, 2002) 2.3.6 Pencegahan 1. Pencegahan primer yaitu dengan pemberian health education 2. Pencegahan sekunder a. skrining status mental (MMSE, BDI) b. memodifikasi lingkungan fisik dan sosial 3. Pencegahan tersier yaitu modalitas kelompok 2.3.7 Penatalaksanaan Penanganan depresi lebih dini akan lebih baik serta menghasilkan gejala perbaikan yang lebih cepat. Depresi yang lambat ditangani akan menjadi lebih parah, menetap serta menimbulkan resiko kekambuhan. Depresi yang dapat ditangani dengan baik juga dapat menghilangkan keinginan pasien untuk melukai dirinya sendiri termasuk upaya bunuh diri. Terapi depresi untuk mencapai kondisi revitalitas adalah depresi untuk mengatasi diabetes atau hipertensi. Untuk itu pertolongan dari dokter perlu

21

dilakukan segera. Tujuan terapi adalah mengatasi gejala depresi sehingga pasien dapat hidup normal lagi dalam kehangatan keluarga, teman-teman dan komunitasnya. Terdapat beberapa pilihan terapi yang dapat diambil yaitu obat anti depresi, psikoterapi, terapi elektrrokonvulsi (shock theraphy), perubahan gaya hidup, tatalaksana kecemasan dan terapi keluarga. Terdapat beberapa pilihan obat anti depresi yaitu jenis selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs): Prozac (fluoxetine), Zoloft (setraine), Cipram (citalopram) dan Paxil (paroxetine). Jenis NASSA: Remeron (mirtazapine). Jenis Tricylic antidepresan: Tofranil (imipramine) dan Norpramin (desipramine). Reversible inhibitor Mono Amine Oxidase (RIMA) Inhibitors : Aurorix. Stablon (Tianeptine). Sedangkan terapi psikoterapi diupayakan dapat mengatasi perasaan negatif dan rasa takut. Terapi ini dapat membentu pasien untuk mengenali dan mengubah cara pikir dan perilaku negatif. Psikoterapi juga diharapkan untuk membantu pasien agar lebih mampu berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain. Psikoterapi yang dapat ditempuh dengan sesi pembicaraan dengan psikiater dan psikolog dapat membantu pasien melihat bahwa perasaan yang dialaminya juga dapat terjadi pada orang lain namun karena menderita depresi ia mengalami kondisi yang berlebihan atas perasaannya sendiri. Selain itu, pasien juga disarankan untuk mengubah pola hidup misalnya dengan membiasakan berolah raga untuk meningkatkan gairah hidup. Pasien dibiasakan berjalan kaki setiap pagi atau sore sehingga energi dapat ditingkatkan serta mengurangi stress karena kadar norepinefrin meningkat. Selain itu, pasien juga dapat diperkenalkan pada kebiasaan meditasi serta yoga untuk menenangkan pikirannya. Diet sehat untuk mengurangi asupan gizi yang menambah kadar stress juga perlu dilakukan. Pengobatan depresi pada lansia harus dilakukan secara sabar karena reaksi dari masing-masing pasien akan bereaksi secara berbeda. Selain menggunakan terapi obat, tenaga medis juga dapat menempuh penggunaan Electroconvulsive Therapy (ECT) dengan cara shock therapy

22

untuk pasien yang tidak memberi respon positif terhadap obat antidepresan dan psikoterapi. ECT bekerja untuk menyeimbangkan unsur kimia pada otak, dirasa cukup aman dan efektif serta dapat diulang 3 kali seminggu sampai pasien menunjukan perbaikan. Efek samping ECT adalah kehilangan kesadaran semenara pada pasien namun cyukup efektif untuk mengurangi resiko bunuh diri pada pasien tertentu. Peranan pasien untuk menumbuhkan kepercayaan pada diri sendiri bahwa dirinya dapat pulih sangat diperlukan. Pasien dihjarapakan dapat berkomunikasi dengan dokter untuk mendapat informasi yang cukup serta menceritakan gejala yang dialaminya, obat yang diminum serta mengetahui efek samping obat yang dikonsumsinya. (Martina, 2002 ) Seseorang yang mengalami depresi perlu diberikan aktivitas fisik terutama olahraga. Setidaknya ada dua alasan penting mengapa olahraga perlu untuk penderita depresi. Pertama, olahraga meningkatkankesadaran sistem syaraf sentral. Denyut nadi meningkat dan anda menjadi sadar. Anda membangkitkan semua sistem anda. Hal ini berlawanan dengan penurunan kesadran sistem syaraf sentral akibat adanya depresi. Kedua, olahraga bisa memacu sistem syaraf sentral. Endorphin adalah molekul organik yang seperti halnya norepinephrin dan serotonin berfungsi sebagai kurir kimiawi. Kadang endorphin dianggap sebagai candu (opium) alami yang berfungsi untuk meningkatkan proses biologis untuk mengatasi depresi. Karenanya kita doiharapkan bisa mengidentifikasi olahraga yang disenangi oleh klien yang terindikasi depresi dan mendesainnya menjadi sebuah program yang kontinyu dan rutin. Depresi berhubungan dengan tingkat kesadaran yang rendah. Kesadaran mengacu pada proses psikologis yang meliputi hal-hal seperti misalnya kemampuan untuk memusatkan perhatian seseorang dan kemampuan untuk bekerja secara efekti. Makanan berat secara otomatis akan memicu tindakan bagian syaraf parasimpatik yakni cabang dari sistem syaraf otonom yang menurunkan kesadaran. Darah dialirkan ke proses pencernaan untuk membantu seseorang mencerna makanan yang dimakan. Sewaktu darah meninggalkan otak dan tangan serta kaki, tubuh akan

23

merasa lemas dan mengantuk, karena itu makan-makanan berat cenderung memicu depresi. Karena itu dianjurkan untuk makan-makanan ringan, ketika lapar diantara jam-jam makan akan tetapi sebaiknya menghindari makanan yang mengandung kadar gula tinggi. Sementara kudapan yang rendah kalori dan berprotei tinggi akan membuat seseorang tetap segar, memuaskan rasa lapar, dan tidak mengganggu kesadaran optimal seseorang. Perawat bisa menjadi teman sharing yang mendengarkan segala keluh kesah pada klien yang mengalami depresi. Karena penyebab depresi pada lansia perlu digali dan dikeluarkan, salah satu medianya dengan percakapan. Menurut para ahli psikoterapi percakapan efektif untuk menyembuhkan kepribadian yang terluka, jika dirancang dan di desain secara tepat, kontinyu, dilaksanakn dengan perhatian yang tulus, dimulai dengan hubungan baik, serta mampu menumbuhkan harapan klien.( Frank J. Bruno, 1997)

24

BAB 3 ASUHAN KEPERAWATAN Asuhan Keperawatan Pada Lansia dengan Demensia 3.1.1 Pengkajian Perilaku pasien yang perlu diobservasi seperti: Penurunan tingkat kognitif MK : Gangguan proses pikir Orientasi terhadap orang, waktu dan tempat MK : Gangguan orientasi realita Penurunan kemampuan dalam komunikasi/ berbicara, sering mengulang kata-kata MK : Gangguan komunikasi verbal Penurunan kemampuan ADL MK : Defisit perawatan diri Kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan Penurunan penampilan secara keseluruhan MK : Defisit perawatan diri Perubahan pola tidur MK : Gangguan pola tidur Dari aspek sosial, apakah lansia mengalami kebingungan, kecemasan, menunjukkan afek yang labil, datar atau tidak sesuai. MK : Gangguan interaksi sosial 3.1.2 Analisa Data Data DO: penurunan tingkat kognitif, kehilangan memori, degenerasi struktur otak DS: pasien sulit mengenal orang dan lingkungan sekitar DO: pasien terlihat cemas, pasien Resiko terhadap trauma Masalah Keperawatan Perubahan Proses Pikir

25

mengalami agitasi DS: pasien mengatakan beberapa kali hampir terjatuh 3.1.3 Diagnosa Keperawatan Berdasarkan tanda dan gejala yang ditemukan pada saat pengkajian, maka ditetapkan diagnosa keperawatan: 1. 2. Gangguan proses pikir berhubungan dengan degenerasi neuron ireverssible, kehilangan memori, deprivasi tidur, konfliik psikologis. Resiko terhadap trauma berhubungan dengan ketidak mampuan untuk mengenali/ mengidentifikasi bahaya dalam lingkungan 3.1.4 Perencanaan Identifikasi hasil: Pasien dapat mencapai fungsi kognitif yang optimal Prioritas : 1. Menjaga keselamatan hidup 2. Pemenuhan kebutuhan bio-psiko-sosial 3. Libatkan keluarga 4. Pendidikan kesehatan mental Usaha perawatan : Memfungsikan pasien seoptimal mungkin sesuai kemempuan pasien 3.1.5 Intervensi Keperawatan 1. Gangguan proses pikir berhubungan dengan degenerasi neuron irreverssible, kehilangan memori, deprivasi tidur, konflik psikologis. Tujuan: a. Mengenal/ berorientasi terhadap waktu orang dan temapat b. Meklakukan aktiftas sehari-hari secara optimal.

Kriteri hasil:

26

Pasien dapat mengenali anggota keluarganya, mampu membedakan waktu, dan mampu melakukan ADL mandiri setelah dilakukan intervensi selama 7x24 jam. Intervensi: 1. Lakukan pendekatan dengan cara yang tenang R/ pendekatan yang terburu-buru dapat mengancam pasien bingung yang mengalami kesalahan persepsi atau perasaan terancam oleh imajinasi orang dan/ atau situasi tertentu 2. Gunakan hal-hal yang humoris saat berinteraksi pada pasien R/ Tertawa dapat membantu dalam komunikasi dan membantu meningkatkan kestabilan emosi. 3. 4. Bersama pasien membuat jadwal kegiatan sehari-hari R/ Membantu pasien mengkoordinasikan kegiatan sehari-hari Beri kesempatan bagi pasien untuk mengenal barang milik pribadinya misalnya tempat tidur, lemari, pakaian dll. R/ membantu pasien meningkatkan daya ingat secara progresif 5. Beri kesempatan kepada pasien untuk mengenal waktu dengan menggunakan jam besar dan memberi jendela pada kamar. R/ membantu pasien mengatasi disorientasi waktu 6. Beri kesempatan kepada pasien untuk menyebutkan namanya dan anggota keluarga terdekat R/ agar pasien tetap dapat mengenali anggota keluarganya 7. Observasi kemampuan pasien untuk melakukan aktifitas sehari-hari R/ memantau apakah pasien masih dapat melakukan ADL secara mandiri 8. Beri kesempatan kepada pasien untuk memilih aktifitas yang dapat dilakukannya. R/ sebagai terapi pengisi waktu luang pasien 9. Kolaborasikan dengan dokter dalam pemberian obat-obatan demensia seperti takrin dan donepezil R/ sebagai terapi farmakologi dalam pengobatan demensia

27

2. Resiko terhadap trauma berhubungan dengan ketidak mampuan untuk mengenali/ mengidentifikasi bahaya dalam lingkungan Tujuan: a. Pasien terhindar dari cedera b. Pasien mampu mengontrol aktifitas yang dapat mencegah cedera. Kriteria hasil: a. Pasien tidak mengalami cedera b. Keluarga Intervensi: 1. Hilangkan/ minimalkan sumber bahaya dalam lingkungan R/ seseorang dengan gangguan kognitif dan gangguan persepsi merupakan awal untuk mengalami trauma sebagai akibat ketidakmampuan untuk bertanggungjawab terhadap kebutuhan keamanan yang dasar atau mengevaluasi keadaan tertentu. 2. Jelaskan faktor-faktor risiko yang dapa menimbulkan cedera dengan bahasa yang sederhana terhadap pasien dan keluarga R/ menghindarkan pasien dari jatuh dan cidera 3. Ajarkan cara-cara untuk mencegah cedera: bila jatuh jangan panik tetapi berteriak minta tolong R/ meminimalisir tingkat kecemasan lansia dan mengurangi tingkat cedera yang lebih parah 4. Berikan gelang identifikasi yang memperlihatkan nama, nomor telepon rumah, dan diagnosa. R/ memfasilitasi keamanan untuk kembali jika hilang. Karena penurunan kemampuan verbal dan kebingungan , pasien mungkin tidak dapat menyebutkan, nama, alamat, nomor telepon, dsb. 3.1.6 Evaluasi 1.Gangguan proses pikir berhubungan dengan degenerasi neuron irreverssible, kehilangan memori, deprivasi tidur, konflik psikologis. S : pasien mengatakan kegelisahannya berkurang, dapat tidur nyenyak. mengenali resiko potensial di lingkungan dan mengidentifikasi tahap-tahap untuk memperbaikinya.

28

O : pasien terlihat lebih focus saat diajak berbicara A : intervensi berhasil sebagian P : lanjutkan intervensi sampai batas waktu yang telah direncanakan 2.Resiko terhadap trauma berhubungan dengan ketidak mampuan untuk mengenali/ mengidentifikasi bahaya dalam lingkungan S : pasien mengatakan merasa tenang ketika ingin jalan-jalan keluar O : pasien terlihat lebih meniikmati aktivitas seahari-harinya, selama intervensi pasien tidak pernah mengalami jatuh ataupun cidera A : intervensi berhasil P: lanjutkan intervensi 3.2 Asuhan Keperawatan Pada Lansia dengan Delirium 3.2.1 Pengkajian 1 Pengkajian 1. Identitas Umur : pada umumnya Delirium dideruta oleh Lansia sekitar umur >70 tahun Jenis Kelamin : Delirium pada umumnya terjadi pada wanita lanjut usia 2. Keluhan Utama Keluhan utama atau sebab utama yang menyebabkan klien datang berobat (menurut klien dan/atau keluarga). Gejala utama adalah kesadaran menurun. 3. Faktor Predisposisi Menemukan gangguan jiwa yang ada sebagai dasar menentukan tingkat gangguan serta menggambarkan struktur kepribadian yang mungkin dapat menerangkan riwayat dan perkembangan gangguan jiwa yang terdapat. Dari gejala-gejala psikiatrik tidak dapat diketahui etiologi penyakit badaniah itu, tetapi perlu dilakukaninterndan neurologic yang teliti. Gejala tersebut lebih ditentukan oleh keadaan jiwa premorbidnya, mekanisme pembelaan pskologiknya, keadaan

29

psikososial, sifat bantuan dari keluarga, teman, dan petugas kesehatan, struktur social, serta ciri-ciri kebudayaan sekelilingnya. Gangguan jiwa yang psikotik atau non psikotik yang disebabkan oleh gangguan jaringan fungsi otak. Gangguan fungsi jaringan otak ini dapat disebabkan oleh penyakit badaniah terutama mengenai otak(meningoensephalitis, gangguan pembuluh darah otak, tumor otak, dan sebagainya) atau yang terutama di luar otak atau tengkorak(tifus, endometriasis, payah jantung, toxemia kehamilan, intoksikasi, dan sebagainya). 4. Pemeriksaan Fisik Kesadaran yang menurun dan sesudahnya terdapat amnesia. Tensi menurun, takikardia, febris, berat badan menurun, dan tidak mau makan. 5. Psikososial a. Genogram dari hasil Penelitian ditemukan kembar monozigot member pengaruh lebih tinggi dari kembar dizigot. b. Konsep diri Gambaran diri, stressor yang menyebabkan berubahnya gambaran dri karena proses patologik penyakit. Identitas, bervariasi sesuai dengan tingkat perkembangan individu. Peran, transisi peran dapat dari sehat ke sakit, ketidaksesuaian antara satu peran dengan peran yang lain dan peran yang ragu dimana individu tidak tahu dengan jelas perannya, serta peran berlebihan sementara tidak mempunyai kemampuan dan sumber yang cukup. Ideal diri, keinginan yang tidak sesuai dengan kenyataan dan kemampuan yang ada. Harga diri, ketidakmampuan dalam mencapai tujuan sehingga klien merasa harga dirinya rendah karena kegagalannya. c. Hubungan social Berbagai factor di masyarakat yang membuat seseorang disingkirkan atau kesepian, yang selanjutnya tidak dapat diatasi sehingga timbul akibat berat seperti delusi dan halusinasi. Konsep

30

diri dibentuk oleh pola hubungan social khususnya dengan orang yang penting dalam kehidupan individu. Jika hubungan ini tidak sehat maka individu dalam kekosongan internal. Perkembangan hubungan social yang tidak adekuat menyebabkan kegagalan individu untuk belajar mempertahankan komunikasi dengan orang lain, akibatnya klien cenderung memisahkan diri dari orang lain dan hanya terlibat dengan pikirannya sendiri yang tidak memerlukan control orang lain. Keadaan ini menimbulkan kesepian, isolasi social, hubungan yang dangkal, dan tergantung. d. Spiritual Keyakinan klien terhadap agama dan keyakinannya masih kuat, tetapi tidak/kurang mampu dalam melaksanakan ibadatnya sesuai dengan agama dan kepercayaannya. 6. Status mental a. Penampilan klien tidak rapid an tidak mampu untuk merawat dirinya sendiri MK : Defisit Perawatan Diri b. Pembicaraan keras, cepat, dan inoheren c. Aktivitas motorik, perubahan motorik dapat dimanifestasikan adanya peningkatan kegiatan motorik, gelisah, impulsive, manerisme, otomatis, steriotip d. Alam perasaan Klien Nampak ketakutan dan putus asa e. Afek dan emosi Perubahan afek terjadi karena jika langsung mengalami perasaan tersebut dapat menimbulkan perubahan afek yang digunkan klien untuk melindungi dirinya, karena afek yang telah berubah memampukan klien mengingkari dampak emosional yang menyakitkan dari lingkungan eksternal. Respon emosional klien mengkin tampak bizar dan tidak sesuai karena dating dari kerangka piker yang telah berubah. Perubahan afek adalah tumpul, datar, tidak sesuai, berlebihan, dan ambivalen.

31

f. Interaksi selama wawancara Sikap klien terhadap pemeriksaan kurang kooperatif dan kontak mata kurang. g. Persepsi Persepsi melibatkan proses berpikir dan pemahaman emosional terhadap suatu obyek. Perubahan persepsi dapat terjadi pada satu atau lebih panca indera yaitu penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman,dan pengecapan. Perubahan persepsi dapat ringan, sedang, dan berat atau berkepanjangan. Perubahan persepsi yang paling sering ditemukan adalah halusinasi. h. Proses berpikir Klien yang terganggu pikirannya sukar berperilaku kohern, tindakannya cenderung berdasarkan penilaiannya pribadi oleh klien merupakan penilaian subyektif yang dikaitkan dengan orang, benda, atau kejadian yang tidak logis (pemikiran autistik). Klien tidak menelaah ulang kebenaran realitas. Pemikiran autistic dasar perubahan proses piker yang dapat dimanifestasikan dengan pemikiran primitive, pemikkran magis, delusi(waham), perubahan ligustik(memperlihatkan gangguan pola piker abstrak sehingga tampak klien regresi dan pola pikir yang sempit misalnya ekholali,clang asosiasi dan neologisme) i. Tingkat kesadaran Kesadaran yang menurun, bingung, disorientasi waktu, tempat, dan orang. j. Memori Gangguan daya ingat yang baru saja terjadi )kejadian pada beberapa jam atau hari yang lampau) dan yang sudah lama berselang terjadi (kejadian beberapa tahun yang lalu). k. Tingkat konsentrasi Klien tidak mampu berkonsentrasi l. Kemampuan penilaian Gangguan ringan dalam penilaian atau keputusan.

32

7. Kebutuhan klien sehari-hari a. Tidur, klien sukar tidur karena cemas, gelisah, berbaring atau duduk dan gelisah . Kadang-kadang terbangun tengah malam dan sukar tidur kembali. Tidurnya mungkin terganggu sepanjang malam, sehingga tidak merasa segar di pagi hari. MK : gangguan Pola tidur b. Selera makan, klien tidak mempunyai selera makan atau makannya hanya sedikit, karea putus asa, merasa tidak berharga, aktivitas terbatas sehingga bisa terjadi penurunan berat badan. MK : perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan c. Eliminasi Klien mungkin terganggu buang air kecilnya, kadang-kadang lebih sering dari biasanya, karena sukar tidur dan stres. Kadang-kadang dapat terjadi konstipasi, akibat terganggu pola makan. MK : Perubahan Eliminasi Urin 8. Mekanisme koping Apabila klien merasa tidak berhasil, kegagalan maka ia akan menetralisir, mengingkari atau meniadakannya dengan mengembangkan berbagai pola koping mekanisme. Ketidakmampuan mengatasi secara konstruktif merupakan faktor penyebab primer terbentuknya pola tingkah laku patologis. Koping mekanisme yang digunakan seseorang dalam keadaan delirium adalah mengurangi kontak mata, memakai kata-kata yang cepat dan keras (ngomelngomel) dan menutup diri. 9. Dampak masalah a. Perilaku, klien mungkin mengabaikan atau mendapat kesulitan dalam melakukan kegiatan sehari-hari seperti kebersihan diri misalnya tidak mau mandi, tidak mau menyisir atau mengganti pakaian. b. Kesejahateraan dan konsep diri, klien merasa kehilangan harga diri, harga diri rendah, merasa tidak berarti, tidak berguna dan putus asa sehingga klien perlu diisolasi.

33

c. Kemandirian,

klien

kehilangan

kemandirian

dan

hidup

ketergantungan pada keluarga atau oorang yang merawat cukup tinggi, sehingga menimbulkan stres fisik.

3.2.2

Diagnosa dan intervensi Keperawatan

1. Risiko terhadap menciderai diri sendiri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan delirium DS : Pasien mengalami agitasi, bingung atau cemas, gelisah dan panik DO : Pasien mengatakan tidak tenang Tujuan : Dalam 2 minggu klien dapat mengenal tanda-tanda peningkatan kegelisahan dan melaporkan pada perawat agar dapat diberikan intervensi sesuai kebutuhan. Klien tidak akan membahayakan diri, orang lain dan lingkungan selama di rumah sakit. INTERVENSI 1. Pertahankan agar lingkungan klien pada tingkat stimulus yang rendah (penyinaran rendah, sedikit orang, dekorasi yang sederhana dan tingakat kebisingan yang rendah) 2. Ciptakan lingkungan psikososial :

RASIONAL 1. Tingkat ansietas atau gelisah akan meningkat dalam lingkungan yang penuh stimulus.

2. Lingkungan psikososial yang terapeutik akan menstimulasi kemampuan perasaan kenyataan.

sikap perawat yang bersahabat, penuh perhatian, lembuh dan hangat) Bina hubungan saling percaya (menyapa klien dengan rama memanggil nama klien, jujur , tepat janji, empati dan menghargai.

Tunjukkan perwat yang bertanggung

34

jawab 3. Observasi secara ketat perilaku klien (setiap 15 menit) 3. Observasi ketat merupakan hal yang penting, karena dengan demikian intervensi yang tepat dapat diberikan segera dan untuk selalu memastikan bahwa klien berada dalam keadaan aman 4. Kembangkan orientasi kenyataan :

4. Klien perlu dikembangkan kemampuannya untuk menilai realita secara adequat agar klien dapat beradaptasi dengan lingkungan. Klien yang berada dalam keadaan gelisah, bingung, klien tidak menggunakan benda-benda tersebut untuk membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

Bantu kien untuk mengenal persepsinya Beri umpan balik tentang perilaku klien tanpa menyokong atau membantah kondoisinya

Beri kesempatan untuk mengungkapkan persepsi an daya orientasi

5. Lindungi klien dan keluarga dari bahaya halusinasi :


5. Klien halusinasi pada fase berat tidak dapat mengontrol perilakunya. Lingkungan yang aman dan pengawasan yang tepat dapat mencegah cedera.

Kajiu halusinasi klien Lakukan tindakan pengawasan ketat, upayakan tidak melakukan pengikatan

6. Tingkatkan peran serta keluarga pada tiap tahap perawatan dan jelaskan prinsip-prinsip tindakan pada halusinasi.

6. Klien yang sudah dapat mengontrol halusinasinya perlu sokongan keluarga untuk mempertahnkannya.

35

7. Berikan obat-obatan antipsikotik sesuai dengan program terapi (pantau keefektifan dan efek samping obat). Evaluasi

7. Obat ini dipakai untuk mengendalikan psikosis dan mengurangi tanda-tanda agitasi.

S= Pasien menyatakan merasa lebih tenang dari sebelumnya Pasien menyatakan tidak ada keinginan untuk menyijksa diri sendiri dan orang lain O= Pasien terlihat lebih tenang Pasien dapar berkomunikasi dengan baik A= Masalah teratasi P= Intervensi berhasil 2.Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan delirium DO : - Penurunan berat badan, konjunctiva dan membran mukosa pucat, turgor kulit jelek, ketidakseimbangan elktrolit dan kelemahan) DS : - Pasien mengatakan pikirannya tidak tenang, malas makan dan sedikit minum serta tubuhnya terasa lemas Tujuan : Klien dapat mencapai pertambahan 0,9 kg setelah intervensi dilakukan Hasil laboratorium elektrolit serum klien akan kembali dalam batas normal dalam 1 minggu Klien tidak memperlihatkan tanda-tanda /gejala malnutrisi saat pulang.

INTERVENSI 1. Monitor masukan, haluaran dan jumlah kalori sesuai kebutuhan.

RASIONAL 1. Informasi ini penting untuk membuat pengkajian nutrisi yang akurat dan mempertahankan keamanan klien.

36

2. timbang berat badan setiap pagi sebelum bangun

2. Kehilangan berat badan merupakan informasi penting untuk mengethui perkembangan status nutrisi klien.

3. Jelaskan pentingnya nutrisi yang cukup bagi kesehatan dan proses penyembuhan.

3.Klien mungkin tidak memiliki pengetahuan yang cukup atau akurat berkenaan dengan kontribusi nutrisi yang baik untuk kesehatan.

4. Kolaborasi
o

4. Kolaborasi :

Dengan ahli gizi untuk menyediakan makanan dalam porsi yang cukup sesuai dengan kebutuhan Pemberian cairan perparenteral (IVline) Pantau hasil laboraotirum (serum elektrolit)

Klien lebih suka menghabiskan makan yang disukai oleh klien.

Cairan infus diberikan pada klien yang tidak, kurang dalam mengintake makanan.

Serrum elektrolit yang normal menunjukkan adanya homestasis dalam tubuh.

5. Sertakan keluarga dalam memnuhi kebutuhan sehari-hari (makan dan kebutuhan fisiologis lainnya)

5. Perawat bersama keluarga harus memperhatikan pemenuhan kebutuhan secara adekuat.

Evaluasi S= Pasien menyatakan keadaan tubuhnya lebih segar Pasien menyatakan makan minum banyak

37

Pasien menyatakan pikrannya sudah tenang O= Porsi makan klien habis Pasien terlihat lebih santai Hb normal Pasien tidak mengalami dehidrasi Turgor normal A= Masalah teratasi P= Intervensi berhasil 3.3. Asuhan Keperawatan Pada Lansia dengan Depresi 1. Keamanan Pikiran untuk bunuh diri. MK: Resiko Mencederai Diri 2. Interaksi Sosial Penurunan partisipasi, kesulitan memulai aktivitas, menarik diri. MK : Isolasi sosial 3. Aktivitas/Istirahat Letih, malaise, penurunan tingkat energi, ganguan tidur. MK : Gangguan Pola Tidur 4. Integritas Ego Perasaan tidak berharga, kesedihan yang tidak wajar, perasaan tidak berdaya MK : Gangguan alam perasaan 5. Eliminasi Konstipasi, retensi urine. MK : Gangguan eliminasi urin 3.3.2. Analisa Data Data Masalah Keperawatan DO: Pasien Gelisah, merasa tidak Resiko Menciderai Diri aman, pasien membuang benda miliknya DS: Pasien merasa tidak

3.3.1. Pengkajian

38

tenang,pasien

mengungkapkan

ide bunuh diri DO: Berbicara pelan, penurunan Isolasi Sosial jumlah bicara, diam DS: pasien menyatakan menolak untuk diajak berpartisipasi dalam sejumlah kativitas 3.3.3 1. depresi. 2. Isolasi Sosial berhubungan dengan perasaan tidak berharga dan konsep diri yang rendah. 3.3.4 Rencana Keperawatan Diagnosa Keperawatan Resiko mencederai diri berhubungan dengan

1.Resiko mencederai diri berhubungan dengan depresi 1. Tujuan umum: 1.Klien tidak mencederai diri 2.Dalam 2 minggu klien dapat mengenal tanda-tanda peningkatan kegelisahan dan melaporkan pada perawat agar dapat diberikan intervensi sesuai kebutuhan. 3.Klien tidak akan membahayakan diri, orang lain dan lingkungan selama di rumah sakit. 2. Tujuan khusus a. Klien dapat membina hubungan saling percaya Criteria hasil : lansia dapat mengunkapkan permasalahan yang sedang terjadi. Tindakan: 1). 2). Perkenalkan diri dengan klien Lakukan interaksi dengan pasien sesering mungkin dengan sikap empati

39

3).

Dengarkan pemyataan pasien dengan sikap sabar empati dan lebih banyak memakai bahasa non verbal. Misalnya: memberikan sentuhan, anggukan.

4). 5). 6). Rasional

Perhatikan pembicaraan pasien serta beri respons sesuai dengan keinginannya Bicara dengan nada suara yang rendah, jelas, singkat, sederhana dan mudah dimengerti Terima pasien apa adanya tanpa membandingkan dengan orang lain.

1) Perkenalan akan menjadikan hubungan saling percaya 2) Dengan sikap empati berarti menandakan kita perhatian dengan lansia 3) Sikap sabar akan membuat lansia mau membuka dirinya untuk menceritakan permasalahan yang sedang di hadapi. 4) Lansia akan merasa dirinya di hargai dan di hormati 5) Berbicara dengan singkat dan jelas akan memudahkan lansia untuk memahami pembicaraan kita. 6) Tidak boleh kita membedakan lansia satu dengan yang lain agar terhindar dari kecemburuan sosial b. Klien dapat menggunakan koping adaptif Kriteria hasil : lansia dapat menggunakan solusi yang terbaik untuk mengatasi masalahnya 1). Beri dorongan untuk mengungkapkan perasaannya dan mengatakan bahwa perawat memahami apa yang dirasakan pasien. 2). Tanyakan kepada pasien cara yang biasa dilakukan mengatasi perasaan sedih/menyakitkan 3). Diskusikan dengan pasien manfaat dari koping yang biasa digunakan 4). Bersama pasien mencari berbagai alternatif koping.

40

5). Beri dorongan kepada pasien untuk memilih koping yang paling tepat dan dapat diterima 6). Beri dorongan kepada pasien untuk mencoba koping yang telah dipilih 7). Anjurkan pasien untuk mencoba alternatif lain dalam menyelesaikan masalah. Rasional 1) Pemberian motivasi membuat lansia berani mengungkapkan permasalahan yang sedang dialami. 2) Untuk mengidentifikasi permasalahan yang dialami lansia sehingga memudahkan kita memberikan solusi yang baik 3) Mengidentifikasi manfaat koping yang selama ini digunakan lansia. 4) Bertukar pikiran untuk mendapatkan koping yang lebih baik dari sebelumnya. 5) Pemberian motivasi lansia untuk menggunakan solusi yang paling tepat 6) Pemberian motivasi akan meningkatkan kepercayaan diri lansia untuk menggunakan solusi yang terbaik. 7) Pemberian motivasi untuk tetap mencari solusi yang terbaik dari solusi sebelumnya c. Klien terlindung dari perilaku mencederai diri Criteria hasil lansia dapat berperilaku positif Tindakan: 1). Pantau dengan seksama resiko bunuh diri/melukai diri sendiri. 2). Jauhkan dan simpan alat-alat yang dapat digunakan olch pasien untuk mencederai dirinya/orang lain, ditempat yang aman dan terkunci. 3). Jauhkan bahan alat yang membahayakan pasien. 4). Awasi dan tempatkan pasien di ruang yang mudah dipantau oleh peramat/petugas.

41

Rasional 1) 2) 3) 4) bunuh diri. d. Klien dapat meningkatkan harga diri Kriteria hasil lansia dapat meningkatkan aktualisasi diri Tindakan: 1). Bantu untuk memahami bahwa klien dapat mengatasi keputusasaannya. 2). Kaji dan kerahkan sumber-sumber internal individu. 3). Bantu mengidentifikasi sumber-sumber harapan (misal: hubungan antar sesama, keyakinan, hal-hal untuk diselesaikan). 1) Rasional. 2) Pemberian bantuan meningkatkan harga diri lansia 3) Mengidentifikasi factor internal penyebab permasalahan lansia. 4) Pemberian bantuan akan meningkatkan harga diri lansia dan perasaan diperhatikan sehingga lansia beranni mengungkapkan harapan yang selama ini diinginkan e.Klien dapat menggunakan dukungan sosial Kriteria hasil : lansia dapat meningkatkan pemahamannnya untuk menggunakan solusi permasalahan dengan bantuan kerabat dan tum kesehatan. Tindakan: 1). Kaji dan manfaatkan sumber-sumber ekstemal individu (orang-orang terdekat, tim pelayanan kesehatan, kelompok pendukung, agama yang dianut). Mengidentifikasi perilaku yang mungkin dilakukan lansia ke arah percobaan bunuh diri Memberikan suasana yang aman bagi lansia agar tidak Memberikan suasana aman bagi lansia Memberikan kemudahan bagi kita untuk terjadi niat bunuh diri.

mengidentifikasi gerak gerik lansia agar tidak terjadi percobaan

42

2). Kaji sistem pendukung keyakinan (nilai, pengalaman masa lalu, aktivitas keagamaan, kepercayaan agama). 3). Lakukan rujukan sesuai indikasi (misal : konseling pemuka agama). Rasional 1) 2) 3) Mengidentifikasi dan pemberian motivasi untuk menggunakan sumber eksternal lansia Mengidentifikasi keyakinan lansia Melakukan kerja sama dengan pihak lain untuk mengatasi masalah lansia f. Klien dapat menggunakan obat dengan benar dan tepat Kriteria hasil lansia dapat menggunakan obat secara tepat Tindakan: 1). Diskusikan tentang obat (nama, dosis, frekuensi, efek dan efek samping minum obat). 2). Bantu menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (benar pasien, obat, dosis, cara, waktu). 3). Anjurkan membicarakan efek dan efek samping yang dirasakan. 4). Beri reinforcement positif bila menggunakan obat dengan benar. Rasional 1) Bertukar pikiran tentang obat akan membuat lansia menanmbah pengetahuan tentang obat dan bisa memanfaatkan obat secara benar. 2) 3) Pemberian bantuan akan memudahkan lansia dalam menggunakan obat. Mengidentifikasi efek samping obat pada lansia sehingga memudahkan untuk pemberian obat lain yang lebih tepat untuk lansia. 4) Pemberian pujian pada lansia akan mendorong motivasi lansia untuk tetap memanfaatkan obat dengan benar.

43

Evaluasi S=Pasien menyatakan merasa lebih tenang dari sebelumnya Pasien menyatakan tidak ada keinginan untuk menyiksa diri sendiri dan orang lain O=Pasien terlihat lebih tenang Pasien dapar berkomunikasi dengan baik A=Masalah teratasi P=Intervensi berhasil 2.Isolasi Sosial berhubungan dengan perasaan tidak berharga dan konsep diri yang rendah Tujuan: Meningkatkan harga Diri Pasien Kriteri hasil: 1. Mengungkapkan Pasien dapat berpartisipasi dalam sejumlah aktivitas khusus selama minimal sehari dalam seminggu. 2. peningkatan kepuasan dengan interaksi sosial Intervensi 1. Rencanakan pertemuan dengan klien secara konsisten dan tepat waktu R/ Dalam membangun kepercayaan klien harus tahu bahwa perawat akan mengikuti selama pertemuan / komitmen yang telah disepakati sebelumnya. 2. Sapa klien dengan rutin R/ Menguatkan individualitas dan memberikan perhatian 3. Meningkatkan keikutsertaan pada aktivitas rutin serta aktivitas yang tidak menuntut R/ Meningkatkan harga diri pasien 4. Menganjurkan kunjungan teman, kerabat dan hubungan sosial R/ Membantu mengenal kembali perasaan diabaikan yang sebelumnya merupakan hubungan yang berharga.

44

5. Libatkan keluaraga dan teman untuk mengantar atau mengawal sewaktu pergi keluar dan menjalankan fungsinya. R/ Kejadian seperti ini sedikit melibatkan pasien, tetapi meningkatkan keikutsertaan pasien secara sosial. Evaluasi S=Pasien menyatakan sudah dapat berkomunikasi dengan teman sebayanya O=Pasien dapat mengekspresikan perasaannya. Pasien dapar berkomunikasi dengan baik. A=Masalah teratasi P=Intervensi berhasil

45

BAB 4 PENUTUP 4.1 Kesimpulan 1. Asuhan keperawatan pada pasien Dimensia diprioritaskan dalam hal menjaga keselamatan hidup, pemenuhan kebutuhan bio-psiko-sosial, libatkan keluarga, serta pemberian pendidikan kesehatan mental. Intervensi yang diberikan untuk menjaga keselamatan hidup dalam hal ini dapat dilakukan dengan mencegah adanya trauma atau cidera. Perawatan yang dilakukan pada pasien demensia dengan memfungsikan pasien seoptimal mungkin sesuai kemampuan pasien. 2. Pada penyakit Delirium, diagnosa keperawatan yang dapat diangkat adalah Risiko terhadap menciderai diri sendiri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan delirium dan Perubahan nutrisi kebutuhan tubuh berhubungan dengan delirium. 3. Penatalaksanaan depresi pada lansia mencakup terapi biologik dan psikososial. Asuhan Keperawatan pada pasien Depresi dipioritaskan dalam hal menjaga keselamatan hidup karena pasien depresi mempunyai resiko tinggi untuk menciderai diri sendiri dan pemberian asuhan keperawatan meningkatkan harga diri pasien agar terhindar dari isolasi sosial. 4.2 Saran 1. Keluarga diharapkan dapat berperan aktif dalam penatalaksanaan pada lansia dengan gangguan kognitif dan psikologis. 2. Perawat diharapkan dapat meningkatkan kualitas dalam pemberian asuhan keperawatan pada lansia dengan gangguan kognitif dan psikologis. 3. Bagi pembaca yang mempunyai faktor resiko delirium sebaiknya tetap menjaga kesehatan mental karena pabila telah menderita akan mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan karena telah mengalami disorientasi orang, tempat, dan waktu. 4. Untuk perawat mampu memahami dan mengerti asuhan keperawatan depresi pada lansia, sehingga bisa membantu klie dalam proses pengobatan kurang dari

46

depresi dan mampu memberikan dorongan kepada pasien untuk memilih koping yang paling tepat dan diterima. 5. Untuk keluarga yang mempunyai anggota keluarga lanjut usia, dapat mendeteksi dini potensial ancaman depresi pada anggota keluarga lansia tersebut, dan apabila sudah terdeteksi depresi maka keterlibatan anggota keluarga dalam terapi merupakan langkah yang harus ditempuh untuk memberi dukungan pada pasien dan akan berdampak positif

47

BAB 5 DAFTAR PUSTAKA Anonymous. 2008 Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Delirium . Dikutip dari: http://kemenanganhati.wordpess.com diakses tanggal 25 Oktober 2009 Chandra, Mujian. 2009. Depresi dan Bunuh Diri pada Lansia. Disadur dari http://stikeskabmalang.wordpress.com/2009/10/03/depresi-dan-bunuh-diripada-lansia-2/. Diakses tanggal 13 oktober 2010 jam 09.33 WIB. Carpenito. 2000. Diagnosis keperawatan. Jakarta : EGC. Dr. Rusdi Maslim Sp. KJ Bag.i. Kedokteran Jiwa FK-UNIKA Atmajaya. 2001. Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PPDGJ 3 Frank J. Bruno, Ph.D (diterjemahkan oleh Yosep Bambang). 1997. Mengatasi Depresi. Jakarta: Gramedia. Isaacs, ann.2005. Keperawatan kesehatan jiwa dan psikiatrik edisi ketiga . Jakarta: EGC. Nugroho, Wahyudi. 2000. Usia Lanjut. Keperawatan Gerontik. Ed. 2. Jakarta, EGC. Maramis,Willy.2009. catatan Ilmu Kedokteran Jiwa, edisi 2.Surabaya : Airlangga University Press.
Martina. 2002. Lansia Depresi Rawan Aksi Bunuh Diri. Disadur dari

http://www.pdpersi.co.id/?show=detailnews&kode=1416&tbl=cakrawala. Diakses tanggal 13 Oktober 2010 jam 9.17 WIB.

Roan M, Witjaksana. 2007 Delirium dan Demensia. Dikutip dari: http://id.org diakses tanggal 27 Agustus 2009 Samsul Huda, Ika. Mz, MD, dkk. 2001. Delirium Pada Pasien yang dirawat. Dikutip dari: syamsul_vigo@hotmail.com Sheila L. Videbeck , 2008. Praktik Keperawatan Untuk Gangguan Jiwa,
Smeltzer, Suzanne C, 2001, Buku ajar keperawatan medical-bedah Brunner & Suddarth. Vol. 3. ed. 8, EGC, Jakarta

48

Stuart, Gail W. 2006. Buku Saku Keperawatan Jiwa edisi 5. Jakarta: EGC.
Towsend, M.C. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Psikiatri edisi ketiga.Jakarta :EGC Wilson, H.S, and Kneils, C.R . (1992). Psychiatric Nursing . California : Addison Wesley Nursing

49