Anda di halaman 1dari 5

RESUME SISTEM PENGENDALIAN INTERNAL PEMERINTAH 7. BAGAIMANA INTERNAL CONTROL DIREVIEW? 8.

KETERBATASAN PENGENDALIAN INTERNAL Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, pengendalian intern hanya dapat memberikan keyakinan yang memadai kepada manajemen instansi pemerintahan berkenaan dengan pencapaian tujuan-tujuan organisasi. Alasan-alasan mengapa hanya dapat memberikan keyakinan memadai karena pengendalian intern memiliki kelemahan melekat pada sistem informasi dan pengendalian intern entitas karena hal-hal berikut: 1. Biaya versus manfaat Biaya untuk menyelenggarakan sisteminformasi dan pengendalian intern entitas tidak boleh melebihi manfaat-manfaat yang diharapkan dari sistem tersebut. Karena pengukuran yang akurat atas biaya dan manfaat tidak selalu memungkinkan, manajemen harus membuat estimasi-estimasi dan pertimbangan-pertimbangan kuantitatif dan kualitatif dalam mengevaluasi hubungan antara manfaat dan biaya. 2. Pengabaian oleh manajemen Manajemen dapat mengabaikan kebijakan-kebijakan atau prosedur-prosedur untuk tujuantujuan yang tidak sah, seperti untuk keuntungan pribadi atau memperindah penyajian kinerja organisasi. Praktik-praktik pengabaian ini mencakup memberikan penyajian yang salah dengan sengaja kepada auditor dan pihak lain dengan menerbitkan dokumendokumen palsu untuk mendukung pencatatan transaksi-transaksi fiktif. 3. Kesalahan-kesalahan dalam melakukan pertimbangan. Kadang-kadang, manajemen dan pegawai melakukan pertimbangan yang buruk dalam mengambil keputusan-keputusan atau dalam melakukan tugas rutin karena keterbatasan informasi, waktu atau tekanan-tekanan lain. 4. Kolusi Para pegawai yang secara bersama-sama (seperti pegawai yang melakukan pengendalian yang penting bersama-sama dengan pegawai atau rekanan lain) dapat menembus dan menutupi ketidakberesan sehingga tidak dapat dideteksi dengan sistem informasi dan pengendalian intern.

5. Kegagalan sistem Kegagalan dalam pengendalian-pengendalian yang telah ditetapkan dapat terjadi karena pegawai tidak memahami instruksi atau membuat kesalahan karena kecerobohan, kealpaan atau kelelahan. Perubahan pegawai atau sistem atau prosedur dapat pula menyebabkan kegagalan sistem.

CONTOH KASUS Studi Kasus Review Sistem Pengendalian Internal Oleh BPK atas Lima BUMN PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), PT Timah, PT Energy Manajemen Indonesia (EMI), PT Perusahaan Gas Negara (PGN), dan PT Sarana Karya (SK). Objek Pemeriksaan Objek pemeriksaan BPK adalah masing-masing Sistem Pengendalian Internal (SPI) tahun 2010 meliputi siklus atau aktivitas utama (core business) dari lima BUMN diatas. Tujuan Pemeriksaan Apakah SPI perusahaan sudah dirancang sesuai KepMen BUMN Nomor KEP-117/MMBU/2002 tentang Penerapan Praktik Good Corporate Governance pada BUMN Pasal 22 dan Integrated Framework of Internal Control oleh Committee of Sponsoring Organization of the Treadway Commission (COSO). Temuan Pemeriksaan dan Dampaknya

Sesuai dengan COSO Framework, pengendalian internal entitas diperiksa berdasarkan lima unsur lingkungan pengendalian, penaksiran resiko, aktivitas pengendalian, informasi dan komunikasi, serta pemantauan. 1. Lingkungan Pengendalian Penerapan Sistem Manajemen SDM berbasis Kompetensi belum sepenuhnya dilakukan. Dampaknya pengembangan SDM tidak jelas arahnya. Perputaran pegawai di fungsi pemasaran dan operasional cukup tinggi. Dampaknya gagal pencapaian kinerja dan penurunan pendapatan di masa depan. Pembagian tugas direksi didistribusikan secara tidak benar. Dampaknya adanya tumpang tindih tugas pokok dan fungsi direksi. 2. Penaksiran Resiko Manajemen resiko tidak diterapkan secara benar. Dampaknya perusahaan kesulitan mengidentifikasi, analisis, dan mengelola resiko internal dan eksternal. Tidak ada rencana jangka panjang. Dampaknya perusahaan tidak punya dasar pengambilan keputusan dan kesulitan mengambil langkah strategis. Penilaian resiko tidak dilakukan dengan memadai. Dampaknya pencapaian tujuan perusahaan terganggu oleh resiko yang belum diidentifikasi, Belum ada key performance indicator, hasil kinerja belum diukur. Pengawasan tenaga kerja outsourcing lemah. Dampaknya penyalahgunaan wewenang pihak penyelenggara outsourcing yang mengakibatkan menurunya citra perusahaan. Pengendalian atas rumah dinas belum memadai. Dampaknya pegawai yang memenuhi syarat tidak mendapatkan hak atas rumah dinas, sebagai ganti perusahaan mengeluarkan uang untuk biaya tempat tinggal. Pemasaran tidak dilakukan berdasarkan ISO 9001. Dampaknya pemasaran tidak optimal dan berpotensi mengganggu pencapaian kinerja perusahaan 4. Informasi dan Komunikasi Informasi pelayanan pelanggan belum memadai. Dampaknya pelanggan tidak mendapat informasi yang jelas dan lengkap. Penggunaan teknologi informasi atas keadaan darurat belum ditetapkan. Dampaknya apabila terjadi gangguan layanan tidak mampu diatasi dengan cepat. 3. Aktivitas Pengendalian

Rencana strategis pengembangan sistem teknologi informasi tidak ada. Dampaknya pengembangan sistem tidak jelas arahnya. Data pembayaran pelanggan melalui transfer bank belum terhubung dengan data billing. Dampaknya pelanggan tidak bisa akses informasi yang akurat dan terbaru tentang pelunasan piutang

5. Pemantauan Pengawas internal tidak bekerja dengan optimal. Dampaknya penyelesaian temuan sangat rumit dan fungi pengawasan menjadi tidak efektif. Komite audit tidak berjalan sesuai tata pengelolaan perusahaan. Dampaknya komite audit menjadi tidak berguna. Tindak lanjut atas temuan lambat. Dampaknya temuan tidak segera dieksekusi. Sebab Utama Temuan Pemeriksaan Manajemen, Direksi, dan Pelaksana tidak mematuhi ketentuan yang berlaku dan kurang cermat dalam menjalankan tugas. Rekomendasi Atas Temuan 1. Manajemen dan Direksi Menyusun dan menerapkan SOP, Meningkatkan fungsi pengendalian, dan Melakukan pemisahan fungsi Harus lebih cermat dalam menjalankan tugas.

2. Pelaksana Simpulan BPK terhadap Lima BUMN 1. Sesuai Kriteria Tujuan Pemeriksaan : PT Timah. 2. Sesuai Kriteria Tujuan Pemeriksaan Dengan Pengecualian : PT PLN dan PT PGN. 3. Tidak Sesuai Kriteria Tujuan Pemeriksaan : PT EMI dan PT SK