Anda di halaman 1dari 4

Mayoritas Hotel Bali Belum Adopsi Keseimbangan Alam

Mayoritas Hotel Bali Belum Adopsi Keseimbangan Alam DENPASAR - Sebagian besar hotel di Pulau Bali belum

DENPASAR - Sebagian besar hotel di Pulau Bali belum sepenuhnya melaksanakan konsep keseimbangan hubungan alam, manusia, dan Tuhan. Bagi masyarakat Bali, konsep ini dikenal dengan Tri Hita Karana. Mengacu Undang-undang No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan Indonesia, ditetapkan delapan prinsip pengelolaan kepariwisataan. Di antaranya disebutkan bahwa kepariwisataan diselenggarakan dengan prinsip “menjunjung tinggi norma agama dan nilai budaya atau Tri Hita Karana yang selanjutnya disebut dengan THK ". Prinsip itu merupakan implementasi konsep hidup dalam keseimbangan hubungan antara manusia dan Tuhan. Juga, hubungan antara manusia dan sesama manusia, dan hubungan antara manusia dengan lingkungan. Sayangnya, Bali yang melandaskan kepariwisataannya pada konsep Tri Hita, dalam prakteknya masih jauh dari harapan. "Sejak tahun 2000 sampai sekarang, dukungan pihak hotel untuk melaksanakan konsep Tri Hita Karana sebagaimana penilaian yang kami lakukan tidak lebih dari lima persen," kata Ketua Yayasan Tri Hita Karana I Gusti Ngurah Wisnu Wardhana saat jumpa pers di Denpasar, baru-baru ini. Wisnu mengungkapkan, sesungguhnya konsep THK telah diterima sejak 2004 oleh Badan Dunia bidang pariwisata (United Nations World Tourism Organization/UNWTO) yang bermarkas di Madrid, Spanyol. UNWTO yakin bahwa konsep THK memiliki kesamaan dengan konsep dasar The Global Code of Ethics for Tourism (Kode Etik Pariwisata Dunia) yang menjadi landasan kepariwisataan dunia. Pihaknya telah melakukan akreditasi terhadap implementasi THK di lingkungan Hotel dan DTW (Daya Tarik Wisata). Namun, kepesertaan hotel dan DTW untuk melakukan akreditasi THK masih sangat rendah. "Dari 2.000 lebih hotel di Bali, yang ikut akreditasi THK kurang dari 100 hotel setiap tahunnya," imbuhnya. Dengan kata lain, kurang dari lima persen yang ikut akreditasi THK. Tahun ini, yang ikut THK Tourism Awards hanya 89 hotel dan 9 DTW.

"Kami terus berusaha mendorong pemerintah, khususnya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, untuk secepatnya menyusun Peraturan Pemerintah terhadap pengelolaan pariwisata yang memiliki prinsip THK tadi," ucapnya. Dengan demikian, ke depan diharapkan seluruh hotel wajid terakreditasi THK. Pentingnya akreditasi THK di Bali, tandasnya, mempertimbangkan rusaknya tatanan pembangunan diakibatkan kian dilupakannya semangat Bali, yaitu filsafat Tri Hita Karana. "Kita lihat banyak pembangunan hotel yang tidak menerapkan konsep Sanga Mandala, yaitu pembagian ruang menjadi sembilan sesuai fungsinya," tegasnya. Sebagai bentuk apresiasi, ada penghargaan kepada hotel-hotel dan DTW di Bali yang mengimplementasikan konsep THK. "Awards ini kami serahkan setiap tahun dan berlangsung sejak tahun 2000, dimana tahun ini merupakan Penganugrahan Awards yang ke-12," tutup Wisnu.

  • 1. Rumusan masalah : Pariwisata bali jauh dari harapan konsep kearifan lokal tri hita karana yang diharapkan.

  • 2. Pembahasan :

Pariwisata Bali seharusnya memenuhi konsep keseimbangan hubungan alam, manusia, dan Tuhan atau yang lebih dikenal dengan konsep tri hita karana. Konsep ini telah direkomendasi oleh badan dunia bidang pariwisata karena memiliki kesamaan dengan kode etik pariwisata dunia. Namun dari sekitar 2000 hotel di bali, kurang dari 5% yang mengikuti akreditasi implementasi Tri Hita Karana tersebut. Disamping itu sebagian besar hotel – hotel tersebut pembangunannya tidak berdasarkan konsep sanga mandala.

  • 3. Solusi :

Dalam konteks ini, pemerintah dituntut tegas dalam pengaturan konsep tri hita karana serta sanga mandala dalam pembangunan pariwisata di Bali. Tri Hita Karana yang berarti Tiga penyebab terciptanya kebahagiaan, menekankan tiga hubungan manusia dalam kehidupan di dunia ini. Ketiga hubungan itu meliputi hubungan dengan sesama manusia, hubungan dengan alam sekitar, dan hubungan dengan Tuhan yang saling terkait satu sama lain. Dan Sanga

Mandala merupakan acuan dalam arsitektur tradisional Bali, dimana Sanga Mandala membagi area bangunan menjadi sembilan bagian. Oleh karena itu, sangatlah penting mendasari pembangunan kepariwisataan di bali berdasarkan dua konsep tersebut. Maka dari itu undang – undang kepariwisataan yang telah ada yaitu undang-undang no 10 tahun 2009 hendaknya lebih direalisasikan lagi. Dan semua obyek pariwisata di bali bisa mendukung dan berpartisipasi dalam melaksanakan konsep Tri Hita Karana serta sanga mandala ini.

Sumber :

keseimbangan-alam (diakses tanggal 8 Desember 2012) http://id.wikipedia.org/wiki/Arsitektur_Bali (diakses tanggal 8 Desember 2012)

http://id.wikipedia.org/wiki/Tri_Hita_Karana (diakses tanggal 8 Desember 2012)

2012)

http://www.kalselprov.go.id/start-download/uu-tahun-2009/105-uu-ri-no-10-tahun-2009-tentang-

kepariwisataan

Note

  • 1. Delapan prinsip pengelolaan kepariwisataan yang dimaksud tercantum dalam bab III pasal 5 undang-undang no 10 tahun 2009 adalah sebagai berikut : (uu no 10 tersusun atas 17 bab dan 70 pasal.)

    • a. menjunjung tinggi norma agama dan nilai budayasebagai pengejawantahan dari konsep hidup dalamkeseimbangan hubungan antara manusia dan TuhanYang Maha Esa, hubungan antara manusia dansesama manusia, dan hubungan antara manusia dan lingkungan

    • b. menjunjung tinggi hak asasi manusia, keragamanbudaya, dan kearifan lokal

  • c. memberi manfaat untuk kesejahteraan rakyat,keadilan, kesetaraan, dan proporsionalitas;

  • d. memelihara kelestarian alam dan lingkungan hidup;

  • e. memberdayakan masyarakat setempat;

  • f. menjamin keterpaduan antarsektor, antardaerah,antara pusat dan daerah yang merupakan satukesatuan sistemik dalam kerangka otonomi daerah,serta keterpaduan antarpemangku kepentingan

  • g. mematuhi kode etik kepariwisataan dunia dan kesepakatan internasional dalam bidang pariwisata;

  • h. memperkukuh keutuhan Negara Kesatuan RepublikIndonesia.

  • 2. Sanga mandala

Konsep ruang ini membagi area bangunan menjadi sembilan bagian. Kesembilan bagian tersebut merangkum semua kegiatan sosial, ekonomi, spiritual, budaya dan keamanan, yang menjadi satu-kesatuan utuh dan saling berhubungan. Artinya seluruh kegiatan dapat dilakukan

dalam satu lingkungan di dalam penyengker yang cukup luas. Konsep ruang Sanga mandala adalah konsep ruang yang dibagi menjadi sembilan bagian, artinya ruang dibagi sembilan . Bagian ini dikelompokkan menjadi 3 bagian besar, yaitu: Nista, Madya dan Utama.

  • a. Nista, merupakan area tiga kelompok ruang yang berada di sebelah kiri, meliputi bangunan kandang dan angkul-angkul, serta dapur.

  • b. Madya merupakan area ruang untuk melakukan kegiatan sehari-hari, seperti untuk melakukan upacara adat dan keagamaan. Kelompok ruang madya yang merupakan ruang bagian tengah, meliputi bangunan tempat suci Penunggun Karang, halaman, lumbung (jineng) dan pintu keluar masuk halaman.

  • c. Utama merupakan area ruang tempat suci (sanggah/ merajan).

Gambar ini memperlihatkan pembagian area berdasarkan tata nilai ruang: Nista, Madya, Utama. Area utama terletak pada tiga area di pojok kanan atas area mandya berada di tengah dan area

nista berada pada pojok kiri bawah. Sesa 1, 2, 3, dst berada pada area paling kiri.