Anda di halaman 1dari 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

3.1 3.1.1

Tanaman Arachis hypogea L Klasifikasi Tanaman Arachis hypogaea L diklasifikasi sebagai berikut :

Kingdom Divisi Kelas Ordo Famili Tribe Genus Spesies

: Plantae : Tracheophyta : Magnoliophyta : Fabales : Fabaceae : Aeschynomeneae : Arachis : Arachis hypogaea

3.1.2

Morfologi Tanaman kacang tanah berbatang jenis perdu tidak berkayu, tipe

pertumbuhan tegak mendatar. Tipe pertumbuhan tegak dengan tinggi rata-rata 3350 cm. Dari batang utama timbul cabang 3-6 cabang primer. Mempunyai akar tunggang, akar-akar cabang terletak tegak lurus pada akar primer, akar cabang mempunyai akar-akar yang bersifat sementara, akar tumbuh sedalam 40 cm, pada akar terdapat bintil-bintil atau nodul yang berisi bakteri Rizobium japonicum. Daun berupa daun majemuk bersirip genap, setiap helai daun terdiri 4 helai anak daun dan permukaan daun sedikit berbulu. Bunga berbentuk kupu-kupu, berwarna kuning atau kuning kemerahan, bunga muncul pada ketiak daun, setiap bunga mempunyai tangkai panjang berwarna putih, yang merupakan tabung kelopak, bagian mahkota bunga berwarna kuning, standar mahkota bunga pada bagian pangkal bergaris merah atau merah tua, sedangkan benang sari setukal (monodelphus). Bakal buah terletak didalam (interior) tepatnya pada pangkal kelopak bunga disetiap daun. Buah disebut polong, besar kecil polong bervariasi ukurannya dari 1 x 0,5 cm sampai 6 x 0,5 cm, disetiap polong berisi 1-5 biji, umumnya 2-3 biji perpolong,

bentuk polong berujung tumpul dan ada yang runcing, bagian polong antar dua biji dapat berbentuk pinggang atau tanpa pinggang, rata-rata polong perpohon pada pertumbuhan normal 15 polong perpohon ( Kanisius, 1997; Sumarno, 1986).

3.2

Kulit Kacang Berdasarkan luas pertanaman, kacang tanah menempati urutan keempat

setelah padi, jagung dan kedelai. Dewasa ini pertanaman kacang tanah sudah tersebar hampir di seluruh pelosok dunia dengan total luas panen sekitar 21 juta ha/tahun dan produktivitas rata-rata 1,10ton/ha polong kering. Di kawasan Asia, Indonesia menempati urutan ketiga terbesar menurut luas arealnya (650.000ha) setelah India (9,0 juta ha) dan Cina (2,2 juta ha). Selain itu, Indonesia pun dikenal sebagai negara ketujuh terbesar penghasil kacang tanah di dunia setelah India, Cina, Nigeria, Senegal, USA dan Brazil (Adisarwanto 2005). Kulit polong merupakan produk hasil sampingan dari polong kacang tanah. Kulit polong ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar, bahan pembenah tanah, atau diproses sebagai bahan campuran pembuatan hardboard. Kandungan selulose kulit polong mencapai 65%, karbohidrat 21%, lemak 1% dan protein sekitar 8% (Adisarwanto 2005). Sekitar 20%-30% dari buah kacang tanah adalah berupa kulit. Limbah ini sering digunakan sebagai litter kandang ternak unggas tetapi untuk ternak ruminansia dapat digunakan sebagai bahan pakan. Komposisi kimia kulit kacang tanah adalah bahan kering 90,5%, protein kasar 8,4%, lemak kasar 1,8%, serat kasar 63,5%, abu 3,6%, ADF 68,3%, NDF 77,2% dan lignin 29,9% (Murni et al. 2008)

3.3

Briket dan Biobriket Briket arang merupakan bahan bakar padat yang mengandung karbon,

mempunyai nilai kalori yang tinggi, dan dapat menyala dalam waktu yang lama. Bioarang adalah arang yang diperoleh dengan membakar biomassa kering tanpa udara. Sedangkan biomassa adalah bahan organik yang berasal dari jasad hidup. Biomassa sebenarnya dapat digunakan secara langsung sebagai sumber energi

panas untuk bahan bakar, tetapi kurang efisien. Nilai bakar biomassa hanya sekitar 3000 kal, sedangkan bioarang mampu menghasilkan 5000 kal. Biobriket mempunyai temperatur penyalaan (ignition temperature) yang lebih rendah dan burn out time yang lebih pendek dibandingkan dengan briket batubara. Ketika briket dipanasi temperaturnya naik, setelah mencapai temperatur tertentu, volatile matter keluar dan terbakar disekitar briket. Temperatur ini disebut temperatur nyala. Temperatur nyala turun jika campuran biomasa lebih banyak (Naruse, 2001). Huff et al 1998 dalam (Himawanto,2003) melakukan penelitian mengenai pengaruh ukuran, bentuk, densitas, kadar air dan temperature dinding tungku terhadap waktu pembakaran kayu. Ukuran bahan bakar dan temperature dinding tungku memberikan pengaruh besar terhadap waktu pembakaran. Kadar air memberikan pengaruh yang lebih kecil dan temperatur udara tidak memberikan pengaruh yang signifikan pada waktu pembakaran total.

Tahapan dalam pembakaran bahan bakar padat adalah sebagai berikut : 1. Pengeringan Dalam proses ini bahan bakar pengalami proses kenaikan temperatur yang akan mengakibatkan menguapnya kadar air yang berada pada permukaan bahan bakar tersebut, sedangkan untuk kadar air yang berada di dalam akan menguap melalui pori-pori bahan bakar padat tersebut. 2. Devolatilisasi Yaitu proses bahan bakar mulai mengalami dekomposisi setelah terjadi pengeringan. 3. Pembakaran Arang Sisa dari pirolisis adalah arang (fix carbon) dan sedikit abu, kemudian partikel bahan bakar mengalami tahapan oksidasi arang yang memerlukan 70%-80% dari total waktu pembakaran.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pembakaran bahan bakar padat, antara lain : 1. Ukuran partikel Partikel yang lebih kecil ukurannya akan lebih cepat terbakar.

2. Kecepatan aliran udara Laju pembakaran biobriket akan naik dengan adanya kenaikan kecepatan aliran udara dan kenaikan temperatur 3. Jenis bahan bakar Jenis bahan bakar akan menentukan karakteristik bahan bakar. Karakteristik tersebut antara lain kandungan volatile matter dan kandungan moisture. 4. Temperatur udara pembakaran Kenaikan temperatur udara pembakaran menyebabkan semakin pendeknya waktu pembakaran. MacamMacam Bahan Bakar Minyak Tanah Minyak tanah adalah produk hasil destilasi sederhana dari minyak mentah, yang dikenal dalam bahasa Inggris kerosene. Di Jerman kerosene ini tidak digunakan untuk memasak tapi untuk industri pesawat terbang. Nama kerosene berasal dari seorang dokter dan ahli geologi Abraham Gesner, yang tahun 1854 mendapatkan cairan mudah terbakar ini dari batubara. Keros berasal dari bahasa Yunani yang artinya lilin, karena produk sampingan yang terbentuk seperti lilin. Harga minyak tanah yang saat ini dipasaran mencapai Rp 9.000,-/liter itupun keberadaannya kadang langka. Dari hasil tanya dan cari sana sini, tampaknya dengan 1 liter minyak tanah kurang lebih bisa dipakai memasak sampai 2 jam-an. 3.4.2 Gas Khusus untuk gas ada 3 jenis gas yang biasanya dikenal bisa digunakan untuk memasak, yaitu LPG (elpiji), biogas dan gas kota. Dibandingkan dengan kompor listrik, kompor gas lebih irit energi dan memiliki kelebihan diantaranya :
A.

3.4 3.4.1

waktu panasnya tidak lama mudah meregulasi pijar panas, berpijar cepat dan sesuai kebutuhan sumber panas terlihat LPG Seperti banyak ditemui di Indonesia, elpiji ini sangat digemari dan

menjadi pilihan utama keluarga kelas menengah ke atas di Indonesia. Elpiji diperkenalkan oleh Pertamina sejak tahun 1968, merupakan gas yang dicairkan

untuk mempermudah dan memperkecil volume penampungan. Bila dibandingkan dengan minyak tanah dan kayu bakar, daya pemanasan elpiji lebih tinggi sehingga memasak lebih cepat matang dan tentu lebih cepat dihidangkan. Namun seperti nasib minyak tanah, tiba-tiba sekarang ini elpiji sulit didapat dan naik harganya. Harga per tabung untuk massa 12 kg di daerah bisa mencapai Rp 110.000,- / tabung. Tabung dengan massa 12 kg ini bila digunakan untuk masak selama kurang lebih 2 jam per harinya maka dapat dipakai untuk 710 hari.
B.

Biogas Biogas berasal dari campuran air dan kotoran sapi. Di dalam suatu berat

kotoran sapi hampir 60%nya mengandung gas metan, yang juga terkandung dalam gas bumi. Kotoran sapi, diaduk-aduk dengan air dalam rasio 1:1, lalu dimasukkan ke dalam tabung reaktor biogas yang ditanam dalam lubang berukuran 1,1 m x 5 m. Melalui proses fermentasi oleh bakteri metanogenesis, dilepaskan dari campuran ini gas metan. Gas metan kemudian disimpan dalam tabung pengumpul, yang digantungkan pada ketinggian di atas 2 meter, gas metana disalurkan menggunakan selang atau pipa paralon ke kompor gas di dapur. Gas metan berwarna biru tak berbau itulah yang digunakan untuk memasak. Keuntungan biogas dari minyak tanah adalah :

bersih

Harga satuan kompor biogas Rp. 1,5 juta, 2 liter minyak tanah sama dengan 40 kg kotoran sapi.

3.5

Karbonisasi Fungsi utama karbonisasi adalah meningkatkan nilai kalor, karena

pelepasan kandungan air, juga pembentukan tar yang bis berfungsi sebagai coating film yang mencegah penyerapan kembali kandungan air. Cara lain yang lazim digunakan adalah high pressure pneumatic grinding, yang konon katanya

bias mereduce sampai dengan 75% kandungan air dari jumlah semula. Untuk batu bara tiadanya komponen pengikat/bending akan membuat pressure yang dibutuhkan semakin besar, karena itulah ditambahkan komponen pengikat untuk menurunkan tekanan. Beberapa pengujian untuk karbonisasi adalah sebagai berikut: 1. Free Swelling Index Tes ini dilakukan untuk menentukan angka pelebuaran dengan cara memanaskan sejumlah sampel pada temperatur peleburan normal (kira-kira 800o C). Lalu setelah pemanasan atau sampai volatile dikeluarkan, sejumlah coke tersisa dari peleburan. Swelling number dipengaruhi oleh distribusi ukuran partikel dan kecepatan pemanasan. 2. Tes karbonisasi Gray-king dan tipe coke Tes Gray king menentukan jumlah padatan, larutan dan gas yang diproduksikan akibat karbonisasi. Tes dilakukan dengan memanaskan sampel di dalam tabung tertutup dari temperatur 300o C menjadi 600oC selama 1 jam untuk karbonisasi. Temperatur rendah dan dari 300o menjadi 900oC selama 2 jam untuk karbonisasi temperatur tinggi. 3. Tes Karbonisasi Fischer Prinsipnya sama dengan metode Gray-king, perbedaan terletak pada peralatan dan kecepatan pemanasan. Pemanasan dilakukan di dalam tabung alumanium selama 80 menit. Tar dan liquor dikondensasikan kedalam air dingin. Akhirnya didapatkan persentase coke, tar, dan air. Sedangkan jumlah gas didapat dengan cara mengurangkannya. Tes fischer umum digunakan untuk batubara range rendah (Brown coal lignite ) untuk karbonisasi temperatur rendah. 4. Plastometer gieseler Plastometer gieseler adalah viskometer yang memantau viscositas sampel batubara yang lebih telah dileburkan. Briket batubara yang dikarbonisasi lebih sehat, higienis dan mudah digunakan. Selain itu, harganya relative murah. Keuntungan dari briket terletak pada penggunaan batubaranya. Batubara yang digunakan untuk briket justru batubara yang berkualitas rendah. Proses karbonisasi akan memengaruhi karakteristik pembakaran.

3.5

Kadar Air Kadar air mempengaruhi kualitas dari briket. Besarnya persentase nilai

kadar air berbanding terbalik dengan jumlah nilai kalor yang dihasilkan. Semakin tinggi kadar air semakin rendah nilai kalor dan daya pembakarannya sebaliknya semakin rendah kadar air semakin tinggi nilai kalor dan daya pembakarannya. Kadar air yang tinggi pada briket arang menyebabkan kesulitan proses penyalaan briket. Obernberger dan Thek (2004) dalam Listiyanawati et al. (2008) menjelaskan bahwa kadar air sangat mempengaruhi nilai kalori dan efisiensi pembakaran suatu briket. Keberadaan air di dalam karbon berkaitan dengan sifat higroskopis dari karbon itu sendiri, dimana karbon mempunyai sifat afinitas yang besar terhadap air. Semakin besar dan banyaknya pori-pori yang terbentuk maka luas permukaan karbon aktif akan semakin bertambah. Bertambahnya luas permukaan karbon aktif tersebut akan meningkatkan sifat higroskopis, sehingga penyerapan air dari udara oleh karbon aktif itu sendiri menjadi semakin meningkat, akibatnya kadar air pada karbon aktif tersebut juga meningkat (Subadra et al. 2005). Pengukuran kadar air pada briket arang ditujukan untuk mengetahui sifat higroskopis dari bahan baku briket arang tersebut. Analisis terhadap kadar air suatu produk briket digunakan untuk merencanakan alternatif proses yang akan dilakukan terhadap produk tersebut. Hal ini dikarenakan kadar air yang tinggi akan menyebabkan menurunnya nilai kalori dan efisiensi pembakaran (Obernberger dan Thek 2004 dalam Listiyanawati et al. 2008). Menurut Budhi (2003) dalam Listiyanawati et al. (2008), ukuran partikel lignoselulosa berpengaruh pada nilai kadar air, yaitu semakin kecil ukuran partikel lignoselulosa menunjukkan nilai kadar air yang semakin tinggi. Kemampuan penyerapan air (adsorpsi) dipengaruhi oleh faktor suhu dan kelembaban atmosfir di sekeliling briket. Kadar air yang tinggi dapat menyulitkan penyalaan dan mengurangi temperatur pembakaran (Sulistyanto 2007). 3.6 Kadar Abu Abu merupakan sisa dari material yang tidak terbakar setelah terjadinya pembakaran sempurna yang erat kaitannya dengan bahan anorganik didalamnya

(Listiyanawati et al. 2008). Kadar abu adalah jumlah residu anorganik yang dihasilkan dari pengabuan/pemijaran suatu produk (SNI 01-2354.1 2006). Standar kadar abu untuk briket bio-batubara, sebesar < 10% (Permen ESDM No. 047 Tahun 2006). Abu hasil pembakaran sekam padi, yang pada hakikatnya hanyalah limbah, ternyata merupakan sumber silikat/karbon yang cukup tinggi (Sitompul et al. 1999). Abu (ash), yaitu sisa dari akhir proses pembakaran. Residu tersebut berupa zat-zat mineral yang tidak hilang selama proses pembakaran. Kadar abu setiap arang berbeda-beda tergantung jenis bahan baku arang. Arang yang baik mempunyai kadar abu sekitar 3%. Hasil yang didapatkan dari proses pengujian kadar abu adalah abu yang berupa oksida-oksida logam dalam arang yang terdiri dari mineral yang tidak dapat menguap pada proses pengabuan (Subadra 2005). Unsur yang terdapat dalam abu meliputi SiO2, Al2O3, P2O5, Fe2O3, dan lain-lain (Raharjo 2006). Unsur yang banyak terkandung dalam abu hasil pembakaran briket adalah unsur silikat. Silikat merupakan bahan kimia yang pemanfaatan dan aplikasinya sangat luas mulai bidang elektronik, mekanik, medis, seni hingga bidang-bidang lainnya. Salah satu pemanfaatan serbuk silikat yang cukup luas adalah sebagai penyerap kadar air di udara sehingga memperpanjang masa simpan bahan dan sebagai bahan campuran untuk membuat keramik seni (Harsono 2002). Nilai paling umum kandungan silika dari abu sekam adalah 94%-96% dan apabila nilainya mendekati atau di bawah 90% kemungkinan disebabkan oleh sampel sekam yang telah terkontaminasi dengan zat lain yang kandungan silikatnya rendah. Silikat yang terdapat dalam sekam ada dalam bentuk amorf terhidrat (Houston 1972 dalam Harsono 2002). Tapi jika pembakaran dilakukan secara terus menerus pada suhu di atas 650o C akan menaikkan kristalinitasnya dan akhirnya akan terbentuk fasa kristobalit dan tridimit dari silikat sekam (Hara 1986 dalam Harsono 2002). Kandungan silikat yang tinggi menunjukan kadar abu yang tinggi dalam briket. Kadar abu yang terkandung pada briket akan mempengaruhi nilai kalornya. Semakin tinggi kadar abu yang terkandung dalam briket maka semakin rendah nilai kalornya. Obernberger dan Thek (2004) dalam Listiyanawati et al. (2008)

menjelaskan bahwa kadar abu dalam produk yang tinggi mempersulit proses operasi dan pemeliharaan alat pembakaran serta semakin tinggi kadar abu dalam produk maka nilai kalorinya juga lebih rendah. Besarnya kadar abu sangat dipengaruhi oleh garam-garam karbonat dari kalium, kalsium, magnesium dan kadar silikat (Komarayati et al. 2004). Zat menguap adalah zat yang dapat menguap sebagai hasil dekomposisi senyawa-senyawa didalam arang selain air. Kandungan kadar zat menguap yang tinggi didalam briket arang akan menimbulkan asap yang lebih banyak pada saat briket arang dinyalakan, hal ini disebabkan oleh adanya reaksi antar karbon monoksida (CO) dengan turunan alkohol (Hendra dan Pari 2000) dalam (Hendra dan Winarni 2003). Kadar zat menguap (volatile matter) yang tinggi pada limbah pertanian mengindikasikan bahwa limbah pertanian mudah menyala dan terbakar, pembakaran lebih cepat dan sulit dikontrol. Hal ini ditemui dalam penelitian pembakaran limbah pertanian yang dilakukan oleh Werther (2000) dalam Sulistyanto (2007).