Anda di halaman 1dari 52

KIMIA ANALISIS

Cabang Ilmu Kimia yang Concern pada Identifikasi


materi secara kimia
Materi tersusun dari konstituen-konstituen : Komponen
Apa (Identitas) Kimia Analisis Kualitatif
Berapa (Kuantitas) Kimia Analisis Kuantitatif
Kimia analisis memegang peran yang sangat penting
dalam berbagai bidang spt : Kimia, Pertanian,Klinik,
Peternakan, Kesehatan , Lingkungan , Biologi,
Geologi, Farmasi,
Kimia analisis
adalah bagian dari ilmu kimia yang mempelajari dan
mengembangkan metode-metode analisis kimia, yang
menyangkut teknik sampling dan penanganan sampel,
pengukuran, dan analisa data.
Analisis Kimia
menekankan pada penerapan metode analisis
Analisis kimia kualitatif
analisis kimia untuk mengetahui identitas suatu analit (gugus
fungsi, ion, unsur, atau senyawa atau species dalam suatu
sampel)
Analisis Kimia Kuantitatif
Analisis kimia untuk mengetahui jumlah absolut maupun relatif
suatu analit dalam sampel.
Analit
adalah zat yang dianalisis, dapat berupa unsur, senyawa, ion,
gugus fungsi, atau species.
Matriks : bagian keseluruhan dari sampel selain analit
Sampel
Bagian kecil dari suatu materi yang akan dianalisis, harus mewakili
/ refresentatif dari materi.
Teknik :
Analisis Konvensional : berdasarkan reaksi-reaksi kimia, Reaksi
Asam-basa, Pengendapan, Kompleks, redoks. (analisis
kuantitatif : metode Volumetri dan Gravimetri)
Instrumental : berdasarkan sifat Fisika-kimia (Spektroskopi,
Kromatografi, X-RD (dapat digunakan untuk analisis Kualitatif,
kuantitatif atau keduanya
Tujuan adan Kegunaan :
Mengumpulkan dan menyampaikan informasi data kualitatif,
kuantitatif, maupun keduanya yang dibutuhkan oleh masyarakat
pada berbagai aspek kehidupan.
Data yang dihasilkan harus mempunyai akurasi dan
presisi yang sangat baik dan dapat dipercaya
Pemilihan metode analisis harus tepat, sesuai dengan
informasi apa yang mau dicari atau diperoleh dari suatu
analisis
Pemilihan Suatu Metode Analisis Sangat ditentukan
Oleh beberapa faktor :
Tujuan analisis
Informasi / data yang diinginkan (validitas data)
Sumber dan Wujud Sampel
Prasarana dan Sarana Laboratorium
Waktu
Cost
Keamanan / keselamatan

Tahapan Prosedur Analisis :
1. Merumuskan / Mendefinisikan Masalah
Harus tahu informasi apa yang diinginkan, sumber & jenis sampel
yang akan dianalisis. Ini akan menentukan: Bagaimana cara
memperoleh sampel, jumlah sampel yang diperlukan, Kepekaan
metode, Akurasi dan presisi metode, apakah perlu pretreatment /
pemisahan kimia untuk mengatasi gangguan.
2. Memilih Teknik dan Metode Analisis
Beberapa Metode dan teknik analisis yang telah dikenal:
TEKNIK YANG DIUKUR PENERAPAN
GRAVIMETRI Berat komponen yang
diendapkan secara stokiometri
Analisis Kuantitatif
komponen mayor atau minor
VOLUMETRI /
TITRIMETRI
Volume titran yang dibutuhkan Analisis Kuantitatif
komponen mayor atau minor
SPEKTROSKOPI ATOM /
MOLEKULAR
Intensitas energi radiasi
Elektromagnetik yang
dipancarkan / diserap oleh
analit pd tertentu
Kualitatif, Kuantitatif dalam
jumlah sangat kecil (traces)
SPEKTROSKOPI MASSA Massa setiap fragmen yang
dihasilkan
Kualitatif, Struktur zat
dengan berbagai isotop
KROMATOGRAFI &
ELEKTROFORESIS
Noda komponen yang
bergerak antara fase diam dan
fase gerak
Kualitatif dan Kuantitatif
dalam rentang mayor-trace
THERMAL ANALISIS Perubahan fisik atau kimia
bahan setelah dipanaskan
Karakterisasi zat tunggal
atau Campuran
ELEKTROKIMIA ANALISIS

RADIOKIMIA
Berdasarkan sifat kelistrikan
Zat
Radiasi yg diemisikan oleh inti
Kualitatif dan Kuantitatif

Kualitatif dan Kuantitatif
3. Sampling
Untuk mendapatkan sampel yang refresentatif, karena
analisis kimia dilakukan pada hanya sebagian kecil bahan
yang diidentifikasi (sampel analisis). Ber dasarkan
jumlahnya sampel dibedakan menjadi : a. Sampel Gros,
yaitu sampel yang dikumpulkan dari tempat sampling
dengan teknik tertentu. b. Sampel Laboratorium, yaitu
sebagian dari sampel gros yang diperkirakan cukup untuk
analisis laboratorium. c. Sampel Analisis, yaitu bagian
dari sampel laboratorium yang akan diukur analitnya.
Pemilihan metode sampling ditentukan oleh : tujuan analisis,
wujud dan sumber sampel. Untuk sampel homogen lebih
mudah pengambilannya dibandingkan sampel heterogen
yang harus memperhatikan keterwakilannya.
Sampling adalah upaya pengambilan sebagian kecil dari
keseluruhan sampel.
Metode sampling : Composite, Grabb, atau gabungan
keduanya
4. Penanganan dan dan Pretreatment sampel
Penangan dan treatment sampel sering diperlukan jika analisis tidak
bisa dilakukan secara insitu, jarak antara tempat pengambilan
sampel dan laboratorium jauh, analisis tidak dapat dilakukan
secepatnya sehingga perlu penyimpanan dan pengawetan sampel.
Teknik penyimpanan dan pengawetan sampel tergantung pada jenis
analitnya dan ada batas maksimum penyimpanan.
Pemisahan kimia sering diperlukan untuk analit yang kadarnya
sangat rendah, analit yang gangguan matriksnya sangat kuat. Tenik
pemisahan : Distilasi : pemisahan suatu komponen dari komponen
lainnya berdasarkan perbedaan titik didih, biasanya untuk cairan.
Pengendapan, pemisahan analit dari matriks dengan menggunakan
reagent pengendap. Prinsip pemisahannya berdasarkan perbedaan
Ksp. Ekstraksi, penarikan analit berdasarkan perbedaan
distribusinya diantara dua fase yaitu fase sampel dan fase solven.
Ekstraksi padat-cair, ekstraksi cair-cair. Kromatografi, pemisahan
satu atau lebih komponen berdasarkan perbedaan distribusi analit
pada fase diam dan fase gerak.
Preparasi sampel adalah proses perlakuan terhadap sampel sampai
sampel siap untuk diukur.
5. Pengukuran
Menerapkan metode analisis yang telah dipilih berdasarkan beberapa
pertimbangan, sensitivitas, selektivitas, akurasi, presisi, waktu, biaya
dan prasarana lab.
6. Analisa Data
Menghitung jumlah analit dalam sampel baik sebagai jumlah absolut
maupun jumlah realatif
Analisa data paling sederhana adalah menghitung harga rata-
ratanya.
Laporan hasil analisis
7. Review Permasalahan yang telah dirumuskan, apakah sudah
terpecahkan atau belum. Jika belum perlu analisis ulang dengan
mengevaluasi semua langkah-langkah analisis di atas dimana
letak kesalahannya, bila perlu gunakan metode analisis yang lain
yang lebih tepat. Suatu metode analisis untuk suatu analit
dalam sampel tertentu, belum tentu tepat diterapkan untuk
analisis analit yang sama dalam sampel dengan sumber yang
berbeda
METODE PEMISAHAN DAN
DASAR-DASAR KROMATOGRAFI
Metode Pemisahan :
Dalam analisis kimia, matriks sampel sering menyulitkan proses analisis
Upaya Meminimalkan / menghilangkan gangguan : salah satu cara
Pemisahan Analit dari matriks, cara lain : Penopengan (masking),
Kompleksasi analit atau pengganggunya.
Pemisahan dilakukan berdasarkan sifat fisika, kimia, maupun
fisikokimianya, seperti : distilasi, penguapan, pengendapan, adsorpsi,
ekstraksi maupun kromatografi.
Prinsip Dasar Pemisahan Secara Ekstraksi
Ekstraksi atau penyarian : proses pemisahan dimana dua zat atau lebih
dipisahkan satu dengan yang lainnya menggunakan dua pelarut/solven
yang tidak saling bercampur satu sama yang lain
Prinsip pemisahan : perbedaan kecenderungan zat-zat tersebut
terdistribusi ke dalam kedua pelarut tersebut (ditentukan oleh nilai rasio
distribusinya (D) / koefisien distribusi (Kd) / koefisien partisi)
Pemisahan dapat dilakukan jika perbedaannya cukup signifikan
Koefisien distribusi atau koefisien partisi (Kd) : tetapan keseimbangan yang
menunjukkan besarnya distribusi suatu zat terlarut dalam dua pelarut yang
tidak bercampur
Misal larutan Zat A dalam air ditambah Benzena, dikocok
Zat atau senyawa polar akan terdistribusi ke dalam air, sedangkan zat non
polar terdistribusi ke dalam pelarut organik (Benzena), fenomena ini disebut
: Like dissolves like
Pd keadaan setimbang: A(Aq) A(Org), Umum :
X
A
y
(Aq)
y
A
x
(Org)
| |
| |
x
y
Aq Ay
org Ax
Kd
aq Ay
org Ax
Kd
)] ( [
] ( [
,
) (
) (
= =
A
Fase Organik
Fase Air
Koefisien distribusi (Kd) tidak sama dengan Rasio Distribusi (D), yaitu rasio
konsentrasi semua species solut dalam setiap fase.
Misal asam lemak HA pada campuran Air dan dietileter
HA (aq) HA (org)
H
2
O
H
3
O
+
Caq
Corg
D =
Corg dan Caq adalah konsentrasi molar analitik
HA. Pada medium air, konsentrasi analitik HA
adalah gabungan dari konsentrasi kesetimbangan
asam lemah dan konjugat basanya.
C
aq
= [ HA
aq
] + [ A
-

aq
]
Sementara pada pelarut non polar tidak terjadi dissosiasi yang
berarti, C
org
= [HA
org
], sehingga :
] [ ] [
] [
aq
aq
org
A HA
HA
D

+
=
] /[ ] [ ] [
] [
3
aq
aq aq
org
O H Ka HA HA
HA
D
+
+
=
Dimana,
] [ ] /[ ] [
3
aq aq
aq
A O H HA Ka
+
=
] [
] ][ [
3
aq
aq aq
HA
A O H
Ka
+
=
Sehingga,
] /[ 1
3
aq O H Ka
Kd
D
+
+
=
| |
| |
] [ ] [ ,
) (
) (
org aq
HA HA Kd
aq HA
org HA
Kd = =
] /[ ] [ ] [
] [
3
aq
aq aq
aq
O H Ka HA HA
HA Kd
D
+
+
=
Jika [H
3
O
+
] >>> Ka, maka D = Kd
Jika Kd besar maka asam lemak (analit) akan terekstraksi
ke dalam lapisan dietileter (lapisan organik)
Sebaliknya Jika [H
3
O
+
] <<< Ka, maka D > Kd
Efisiensi Ekstraksi dipengaruhi oleh konsentrasi analit dan pH
Sebaiknya ekstraksi dilakukan pada suasana asam
Persen Ekstraksi
Rasio distribusi,D, adalsh suatu konstanta yang tidak
bergantung pada rasio volume.
Fraksi solut yang terekstraksi bergantung pada rasio volume
kedua pelarut (fase).
Jika volume solven organik yang digunakan lebih besar maka
jumlah solut yang terekstraksi akan lebih besar pula untuk
mempertahankan rasio konsentrasi konstan dan untuk
memenuhi rasio distribusi.
Fraksi solut terekstraksi adalah sama dengan jumlah mol solut
dalam lapisan organik dibagi dengan jumlah total mol solut.
Jumlah mol = Molaritas x Volume
% 100
] [ ] [
] [
% x
V S V S
V S
E
aq aq org org
org org
+
=
[S]
org
dan [S]
aq
adalah konsentrasi solut dalam lapisan organik dan air
V
org
dan V
aq
adalah volume lapisan organik dan lapisan air.
Vorg V D
D
E
aq
/
100
%
+
=
% 100
] [ ] [
] [
% x
V S V S
V S
E
aq aq org org
org org
+
=
Ruas kanan dibagi dengan [S]
aq
. V
org
1
100
%
+
=
D
D
E
Jika Vorg = Vaq,

Contoh Soal:
1. Koefisien distribusi suatu asam lemah HA dalam air dan
dietileter adalah 800, dan konstanta dissosiasinya = 1,5x10
-5
.
Hitung konsentrasi analitik HA yang tersisa dalam larutan air,
bila 50 mL 0,0500 HA diekstraksi dengan 25 mL eter. Larutan
air dibuffer pada pH 2,00.
2. 20 mL larutan asam butirat 0,001M dalam air diekstrak
dengan 10 mL eter. Setelah kedua lapisan terpisah, dengan
titasi asam butirat yang tertinggal pada lapisan air adalah 0,5.
Berapakah rasio distribusi dan persen ekstraksi
Jawab:
1. Kd = 800, Ka =1,5x 10
-5
, [HA] = 0.0500 M, pH = 2 sehingga
[H
3
O
+
] = 1 x 10
-2
M, Vaq = 50 mL, Vorg = 25 mL
] [ ] [
] [
] /[ 1 ] [
] [
Ka H
H Kd
H Ka
Kd
aq HA
org HA
D
aq
+
=
+
= =
+
+
+
799
10 50 , 1 10 0 , 1
10 0 , 1 . 800
5 2
2
=
+
=

x x
x
D
Jumlah mol total HA = jumlah mol HA mula-mula dalam air = 50,0 x
0,005 = 2,50 mmol, setelah ekstraksi 2,50 mmol HA terdistribusi
diantara dua fase, 50,0 mL air dan 25 mL eter.
Corg = D x Caq = 799 Caq
Mol total = mol pada fase air

+ mol pada fase organik
2,50 mmol = 50,0 x Caq + 25,0 x Corg
2,50 = 50,0 Caq + 25,0 x 799 Caq
2,50 = Caq (50,0 + 799x25,0)
Caq = 1,25 x 10
-4
M
2. Diketahui : 20 mL 0,10 M asam butirat = 2 mmol, Vorg = 10 mL, setelah
ekstraksi 0,5 mmol asam butirat tersisa dalam lapisan air
Jawab :
asam butirat yang terekstrak ke dalam eter adalah 2 - 0,5 = 1,5 mmol
Konsentrasi asam butirat dalam eter = 1,5 mmol / 10 mL = 0,15 M
Konsentrasi dalam lapisan air = 0,5 mmol / 20 mL = 0,025 M
Rasio distribusi, D = Cog / Caq = 0,15 M / 0,025 m = 6,0
% 75 % 100
20
1,5
100% x
total Mol
terekstrak Mol
E % = = = x
% 75
8
600

(20/10) 6
6 x 100

(Vaq/Vorg) D
D 100
E % = =
+
=
+
=
Ekstraksi berulangkali dan Ekstraksi Craig
Koefisien distribusi danrasio distribusi sangat berguna untuk
memperkirakan seberapa banyak zat ada dalam setiap
pelarut sehingga dapat diketahui apakah ekstraksi sudah
sempurna atau tidak.
Bila V
aq
mL air mengandung a
0
mmol HA diekstraks dengan
V
org
mL eter, maka pd kesetimbangan a
1
mmol HA tersisa
dalam air dan (a
0
- a
1
) mmol HA terekstrak ke dalam eter.
Konsentrasi analitik HA pada kedua Cairan,
C
aq
= a
1
/ V
aq
C
org
= (a
0
-a
1
) / V
org
0
org
aq
1
1
org 1 0
aq
org
a
Vaq .D V
V
a
Vaq / a
V / ) a (a
D
C
C
D
|
|
.
|

\
|
+
=

= =
Untuk n kali ekstraksi :
0
n
org
aq
n
a
Vaq .D V
V
a
|
|
.
|

\
|
+
=
0
2
aq org
aq
2 1
aq org
aq
2
a
V D . V
V
a a
V D . V
V
a
|
|
.
|

\
|
+
=
|
|
.
|

\
|
+
=
Untuk dua kali ekstraksi :
0 aq
n
aq org
aq
n aq
) (C
V D . V
V
) (C
|
|
.
|

\
|
+
=
Atau dapat dinyatakan dalam konsentrasi :
Contoh :
Rasio distribusi I
2
antara CCl
4
dan H
2
O adalah 85. Hitung
konsentrasi I
2
sisa bila 50,0 mL larutan 1,00 x 10
-3
M I
2
diekstraksi
dengan CCl
4
: a. 1 x 50 mL, b. 2 x 25 mL, c. 5 x 10 mL
Jawab :
V
aq
= 50,0 mL, (C
aq
)
0
=1x10
-3
M
0
) (
.
) (
aq
n
aq org
aq
n aq
C
V D V
V
C
|
|
.
|

\
|
+
=
M 10 x 28 , 5 1x10 x
50 85 . 25
50
) (C
7 3
2
2 aq

=
|
|
.
|

\
|
+
=
M 10 x 1,16 1x10 x
50 85 . 50
50
) (C
5 3
1
1 aq

=
|
|
.
|

\
|
+
=
M 10 x 29 , 5 1x10 x
50 85 . 10
50
) (C
10 3
5
5 aq

=
|
|
.
|

\
|
+
=
a. V
org
= 50 mL,
n = 1
b. V
org
= 25 mL,
n = 2
c. V
org
= 10 mL,
n = 5
Ekstraksi berulang bertujuan untuk meminimalkan
penggunaan pelarut (ekstraktan) dengan hasil yang
efisien.
Untuk melakukan ekstraksi berulang yang sangat banyak,
(>50 kali), pemakaian corong pisah tentu tidak efisien
lagi. Craig mengembangkan model alat ekstraksi
kontinyu, yand mudah, cepat dan efisien.
Desain alat ekstraksi Craig :




Dengan alat ini pemisahan yang sulit dengan perbedaan
rasio distribusi / koefisien distribusi yang kecil dapat
dikerjakan.
DASAR-DASAR KROMATOGRAFI
Kromatografi : metode pemisahan yang sangat
baik yang dapat digunakan untuk memisahkan
suatu komponen dari komponen lainnya atau
memisahkan suatu komponen dari sekumpulan
komponen lainnya.
Metode kromatografi merupakan teknik yang
efektif dan dapat digunakan untuk memisahkan
komponen yang sulit dipisahkan dgn metode lain.
Kromatografi diperkenalkan pertama kali oleh
Michael Tsweet, ahli botani Rusia, th 1906.
Klorofil
(hijau)
Kalsium
karbonat
Petroleum Eter
Warna 1
Warna 2
Warna 3
Warna 4
Proses di atas yg melahirkan cikal bakal kromatografi, yg
diambil dari bahasa Yunani yaitu Chroma (warna) dan Grafein
(menulis), karena terlihat adanya warna-warni yg muncul.
Selanjutnya tidak hanya komponen yang berwarna saja dapat
dipisahkan dengan kromatografi.
Proses kromatografi adalah proses pemisahan yang didasarkan
atas perbedaan affinitas / interaksi dua atau lebih zat (komponen)
diantara dua fase yaitu fase diam dan fase gerak

Ada 4 tipe interaksi / affinitas yang dapat menyebabkan terjadinya
pemisahan, yaitu:
1. Kecenderungan zat untuk melarut dalam pelarut (kelarutan) /
koefisien partisi
2. Kecenderungan Zat untuk membentuk ikatan adesi dengan
padatan polar pada permukaan fase diam(koefisien adsorpsi)
3. Kecenderungan molekul utk menguap atau berubah ke keadaan
uap (keatsirian / volatilitas)
4. Kecenderungan zat masuk dalam pori-pori permukaan fase diam
(tergantung ukuran / besar molekul / exlution).

Dalam proses pemisahan sering disebabkan oleh gabungan dari
beberapa faktor di atas, namun demikian pemberian istilah
kromatografi didasarkan atas interaksi mayoritas (dominan)
Walaupun kromatografi melibatkan proses
saling mempengaruhi antara bbrp sifat scr
dinamis, sebagai pendekatan pertama2 kita
perhatikan keadaan statis.
Eter
Air
Cair
Padat
Sedikit zat cair
yg tdk atsiri
Senyawa (linarut) dimasukkan ke (a), (b), dan (c).
(a)
(b)
(c)
(a) Senyawa (solut) cenderung terdistribusi atau terpartisi
di antara kedua cairan (fase) itu tergantung pada
kelarutannya.
(b) Senyawa (solut) akan terdistribusi antara cairan (dlm
hal ini linarut menunjukkn sifat kelarutannya) dan
permuk zat padat (dlm hal ini linarut menunjukkan sifat
kejerapannya.
(c) Seny (linarut) terdistribusi diantara keadaan uap dan
keadaan larut di dalm cairan, jadi menunjukkan sifat
keatsirian dan kelarutan.

Gagasan dasar dlm kromatografi adalah mengubah
keadaan distribusi statis menjadi sistem
keseimbangan yg dinamis dan mengalir. Dilakukan
dgn menggerakkan satu fase secara mekanis (fase yg
berpindah/bergerak) terhadap fase yg lain (fase diam)
dan sementara itu tetap berada dlm keseimbangan.

Fase gerak (mobile)
Fase diam (stationer)
Antar muka
Fase gerak (mobile)
Fase diam (stationer)
Antar muka
A + B
2 linarut pd awal pemisahan
Fase gerak (mobile)
Fase diam (stationer)
Antar muka
A B
Dua linarut setelah pemisahan
(a)
(b)
(c)
Fase gerak: cairan atau gas
Fase diam: padatan, cairan yg melekat pda
permukaan padatan yg berfingsi sbg
penyangga.
Campuran yg akan dipisahkan (A dan B)
dimasukkan ke dalam sistem (gmbr b), kedua
seny terdistribusi diantara kedua fase menurut
sifat seny masing2. Karena salah satu bergerak,
seny dlm campr jg bergerak. Seny yg
mempunyai afinitas yg lebih besar thd fase
gerak (afinitas kecil thd f. diam) akan bergerak
lebih cepat dari seny yg sifatnya sebaliknya.
Setelah wkt tertentu keadaannya spt gambar (c).
Jika seny A dan B sifatnya sangat
berbeda, pemishanya mudah. Hal yg
umum dijumpai adalah A dan B sifatnya
hampir sama dan keduanya bergerak.
Perbedaan laju perpindahan ini
merupakan dasar dari semua pemishn
kromatografi. Mencari kondisi yg
menyebabkan perbedaan laju yg paling
besar merupkan tantangan dlm
pemisahan dgn kromatografi.
Secra umum kromatografi dpt didefiniskan
sbg:
Suatu proses pemisahan komp yg
berdsrkan kepada distribusi yg bersifat
diffrensial dari komp sampel diantara 2
fase. Salah satu fase disebut sbg fase
diam/stasioner/tetap yg bertugas menahan
gerakan komp dan f. yg satu disebut f.
gerak/mobil yg bertugas mengerakkan
komp diantara fase diam.
Klasifikasi kromatografi

FASE GERAK
ZAT CAIR GAS
ZAT PADAT KCP KGP FASE
DIAM
ZAT CAIR KCC KGC

Berdasarkan fase gerak :
-Kromatografi cair (KC)
-Kromatografi gas (KG)
Berdasarkan fase diam:
Kromatografi partisi (f. diam cair).
Kromatografi jerap/adsorpsi (f. diam padatan
adsorben)
Kromatografi filtrasi gel (ekslusi)
Kromatografi pertukaran ion.

Berdsrkan konfigurasi fisik fase diam:
Kromatografi planar: f diam disangga oleh suatu
bahan yg berbentuk segi empat datar.
(kromatografi kertas, kromatografi lapis tipis).
Kromatografi kolom: fase diam disangga oleh
suatu bahan berbentuk kolom. (kromatografi
kolom klasik, K G, HPLC).
ISTILAH YG PERLU DIPAHAMI
eluen, elusi/dielusi, eluat, adsorben/penjerap,
penyangga, fase diam, fase gerak, pengembang,
pengembangan, kromatogram.

KROMATOGRAFI PLANAR
KROMATOGRAFI KERTAS
Kromatografi kertas merupakan merupakan suatu
teknik pemisahan suatu campuran solut (komponen-
komponen) yang mana pemisahan terjadi karena
adanya perbedaan affinitas masing-masing komponen
terhadap fase diam dan fase gerak. Jenis interaksi
yang terjadi pada pemisahan dengan kromatografi
kertas umumnya adalah partisi.
KROMATOGRAFI KERTAS

Dalam Partisi, fase diam (stationary phase) biasanya berupa
cairan yang teradsorpsi atau terikat secara kimia pada suatu
padatan pendukung innert ( innert solids support).
Fase gerak (mobile phase) berupa pelarut atau campuran
pelarut yang membawa komponen-komponen melalui fase
diam.
Dengan demikian komponen-komponen akan terdistribusi
diantara dua fase dan pemisahannya tergantung pada
koefisien distribusi (partisi) masing-masing komponen atau
affinitasnya terhadap dua fase tersebut.
Komponen-komponen yang lebih larut dalam fase diam tidak
akan bergerak jauh dibandingkan dengan komponen-
komponen yang lebih larut dalam fase gerak.
Serat-serat Cellulosa yang terdapat pada kertas
kromatografi bertindak sebagai padatan
pendukung, yang dapat mengadsorpsi air
sebagai fase diam.
Partisi komponen-komponen terjadi diantara air
pada padatan pendukung dan pelarut-pelarut
yang membawa komponen-komponen
campuran yang bergerak melalui kertas yang
secara nyata menghasilkan suatu pemisahan
komponen-komponen.
Jadi, Air merupakan fase diam dan pelarut-
pelarut atau campuran pelarut merupakan fase
gerak (moving or mobile phase).

Pemisahan komponen pda kromatografi kertas tergantung
pd:
pengaruh partisi komponen dlm air sbg fase diam dan
pelarut sbg fase gerak.

Kelemahan kromatografi kertas:
1. Kromatogram yg dihasilkan berekor. Hal ini
disebabkan oleh tekstur kertas yg relatif tidak
homogen, shg sulit menandai dua komp yg tidak
terpisah nyata.
2. Pemanfaatannya terbatas akibat penggunaannya yg
hanya pada satu jenis medium (serat selulosa).
Disamping itu hanya pelarut dan penampak noda
tertentu saja yang dpat digunakan yg tidak bereaksi
dgn kertas.
KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS (KLT)

Merupakan merupakan suatu teknik pemisahan
suatu campuran solut (komponen-komponen)
yang mana pemisahan terjadi karena adanya
perbedaan affinitas masing-masing komponen
terhadap fase diam dan fase gerak. Jenis
interaksi yang terjadi pada pemisahan dengan
kromatografi lapis tipis utamanya adalah adsorpsi.
KLT mempy kelebihan yg nyata dibandingkan
kromatografi kertas krn nyaman dan cepatnya,
ketajaman pemisahan yg lebih besar dan
kepekaan yg tinggi.


Utk jenis interaksi Adsorpsi, fase diam
(stationary phase) berupa padatan.
Fase gerak (mobile phase) berupa cairan
pelarut atau campuran pelarut yang membawa
komponen-komponen melalui fase diam.
Dengan demikian komponen-komponen akan
terdistribusi diantara dua fase dan
pemisahannya tergantung pada koefisien
distribusi masing-masing komponen atau
affinitasnya terhadap dua fase tersebut.
Komponen-komponen yang teradsorpsi lebih
kuat dalam fase diam tidak akan bergerak jauh
dibandingkan dengan komponen-komponen
yang teradsorpsi lebih lemah.
Pengotor-pengotor mempengaruhi sifat adsorptif
fase diam karena utamanya disebabkan oleh
situs-situs adsorpsi pada fase diam telah terisi
penuh oleh pengotor-pengotor, dan adsorben
sperti ini disebut mengalami deaktivasi.
Aktivasi dapat dilakukan dengan jalan
pemanasan plat dalam oven pada suhu 100-120
o
C sehingga pengotor-pengotor dan air yang
teradsorpsi lepas.
Dalam bentuk aktifnya biasanya digunakan
untuk pemisahan senyawa-senyawa yang tidak
larut dalam air dgn adsorpsi. Tetapi dalam
bentuk tidak aktifnya dapat digunakan untuk
pemisahan senyawa-senyawa yang larut dalam
air melalui partisi.
Plat KLT dibuat dengan cara melapiskan secara tipis pasta
uniform suatu adsorben dengan suatu aplikator di atas plat
kaca, plastik atau logam ( biasanya aluminium) bersih. Lapisan
kemudian dikeringkan pada 110-120
o
C selama 20-30 menit.
Pada umumnya plat KLT yg sudah siap pakai cukup mudah
didapatkan di pasaran.

FASE DIAM
Fase diam KLT : adsorben dgn partikel halus yg dilapiskan pd
lempeng penyangga kaca, plastik atau logam.
Fase diam yg bnyk digunakan: silika gel yg dicampur dgn
CaSO
4
utk menambh lengket silika gel pd plat.
Adsorben lain yg bnyk digunakan: alumina, kielselguhr (tanah
diatome), serbuk sellulosa, serbuk poliamida, dan kanji.

SILIKA GEL
Silika gel bersifat sedikit asam krn yg digunakan
adlh asam silikat. Karenanya asam sering agak
mudah dipisahkan. Jadi minimumkan reaksi
asam basa antara penjerap dgn komp yg
dipisahkan.
Silika gel G adlh silika gel dgn perekat gibsum
(CaSO
4
)

Silika gel GF adlh silika gel dgn perekat gipsum
dan indikator fluoresensi.
Silika gel GF
254
adlh silika gel dgn perekat
gipsum dan indikator fluoresensi pd pj
gelombang 254 nm.
ALUMINA (alumina oksida)
Berbeda dgn silika gel, alumina bersifat sedikit
basa, shg sering dipakai utk pemisahan basa.
Plat alumina juga ada alumina G dan alumina
GF.

KIESELGUHR DAN SELULOSA
Merupakan penyangga lapisan zat cair yg dipakai
pada KLT sistem cair cair (partisi). Lapisan tipis
selulosa pada plat KLT mrpkn pengembangan
kromatografi kertas. KLT partisi ini dipakai utk
pemisahan seny polar spt asam amino,
karbohidrat, dan berbagai seny hidrofil alam
lainnya. Lapisan kieselguhr atau selulosa yg
dipakai pada KCC harus mengandung lapisan
zat cair, yg biasanya air.

Penanganan Plat/Kertas kromatografi:
Plat / kertas kromatografi tdk boleh
disentuh dgn jari-jari tangan, gunakan
sarung tangan, gunting dan pinset bersih
dalam menanganinya dan hanya ditangani
pd bagian tepi. Plat / kertas kromatografi
tdk boleh tergores.
Preparasi sampel
Sampel selalu dlm btk larutan, jika dlm
bentuk padatan dilarutkan terlebih dahulu,
utk bahan dari alam diekstrak dlm pelarut
yg sesuai kemudian pekatkan.
Penotolan
Pd umumnya yg dipakai larutan 0,1-1%. Bbrp kali
penotolan dpt dilakukan pd tmpt yg sama asal saja
lapisan kering dahulu br penotolan berikutnya.
Pelarut yg dipakai utk penotolan hrs betul2
dihilangkan sblm dikembangkan, jika perlu dengan
penyemprot udara panas atau pengering rambut
(hair dyer).
Memilih pelarut pengembang
Sistem pelarut utk KLT dpt dipilih dr pustaka, ttp lebih
sering kita dgn mencoba-coba saja krn wkt yg
dperlukan tidak lama. Biasanya dicobakan pelarut dr
yg non polar sampai ke yang paling polar. Dalam
bebrp kasus pelarut polar tidk memberikan hasil yg
memuaskan. Shg digunakan campuran bbrp pelarut.

Bejana kromatografi dan penjenuhan bejana
Pelarut atau camp pelarut disiapkan terlebih dahulu
dalam bejana kromatografi. Pelarut atau camp
pelarut ini dijenuhkan dlm bejana utk mendapatkan
kondisi yg sama pada setiap bagian dari bejana shg
pengembangan sampel akan sama pada semua
bagian plat dan juga utk mendapt kondisi yg sama pd
setiap pengulangan. Utk mempercepat penjenuhan
dinding chamber dpat dilapisi dgn kertas saring.
Cara pengembangan
Plat yg telah ditotolkan cuplikan ditaruh di dlm bejana
yg tlh berisi pelarut atau camp pelarut yg telah
dijenuhkan, kemudian bejana ditutup kembali. Noda
yg ditotolkan harus berada sedikit diatas pelarut
(tidak boleh tercelup). Pengembangan dilakukan
sampai batas tertentu (biasanya 0,5- 1 cm dari tepi
atas plat).


Ada bbrp teknik pengembangan:
1. Pengembangan menaik (ascending)
Yg umum digunakan. Digunakan utk memisahkan
komp2 yg gampang terpisah.
2. Pengembangan menurun (descending)
Jika pemisahannya sulit maka teknik descending
yg dipilih. Dalam hal ini adanya bantuan gaya berat
akan membantu proses pemisahan.
3. Pengembangan ganda
Teknik pengembangan ganda dilakukan jika
pemisahan blm sempurna dgn pengembangan
tunggal dan senyawa bergerak lambat. Plat
dikeluarkan dari bejana setelah pengembangan
pertama selesai, dikeringkan pelarutnya, kemudian
dikembangkan kembali dgn pelarut yg sama.
4. Pengembangan bertahap
Teknik ini dilakukan jika suatu camp
mengandung komponen2 yg polaritasnya
berbeda, dpt dilakukan pengembangan
secara bertahap dgn pelarut pengembang yg
berbeda. Pelarut pengembang pertama,
kedua, ketiga dstnya kepolaran semakin
meningkat.
5. Pengembangan dua dimensi
Dalam hal ini sampel ditotokan pada satu sisi,
kemudian dikembangkan dan dikeringkan;
kemudian dikembangkan lagi dgn sistem
pelarut pengembang yg lain pada posisi 90
o

dari atau thd pengembang pertama.
Deteksi Noda
Setlh dikembangkan plat dikeringkan kemudian
dideteksi nodanya.
Metoda deteksi noda dpt dilakukan melalui bebrp cara:
1. Pengamatan langsung.
Hal ini dpt dilakukan utk komp zat warna atau lainnya
yg nodanya dpt diamati langsung dgn mata.
2. Deteksi fisika
Deteksi ini menggunakan sinar UV gelombang pendek
(pj gel 254 nm) atau gelombang pajang (pj gel 366).
Digunakan utk senyawa yg mempunyai cincin aromatik
atau mempunyai ikatan rangkap terkonjugasi. Plat yg
mengandung indikator fluoresensi akan bersinar (spt
layar TV) jika disinari pada pj gel yg tepat. Jika senya
pada bercak yg akan ditampakkan mengandung cincin
aromatik atau memp ikatan rangkap terkonjugasi, sinar
UV yg mengeksitasi tidak dapat mencapai indikator
fluorensi, dan tidak ada cahaya yg dipancarkan.
Hasilnya ialah vercak gelap dgn latar belakang yg
bersinar. Cara ini sangat peka dan tidak merusak
senyawa yg ditampakkan.


3. Deteksi kimia
Deteksi ini dgn menggunakan pereaksi
penampak noda. Pereaksi yg digunakan
hendaknya tidak melarutkan senyawa yg
bersangkutan. Pereaksi disemprotkan pada
noda shg membtk turunan senyawa yg
berwarna dan dapat diamati langsung.
Contoh ninhidrin utk penampak noda asam2
amino, memberikan warna ungu. Asam sulfat
pekat disemprotkan pda plat kemudian plat
dipanaskan pada 100-110
o
C bbrp menit, seny
organik tambak berupa bercak hitam (arang).
Uap iodin utk menampakkan seny organik
dapt berupa bercak coklat jika mengandung
atom oksigen, atau lembayung jika tidak
mengandung atom tsb.
Perhitungan nilai Rf.
Rf (retarduction faktor)
Pergerakan relatif suatu senyawa atau
komponen terhadap solven dalam suatu sistem
KLT atau kromatografi kertas adalah konstan
dan merupakan sifat karakteristik dari
komponen/senyawa tersebut. Rf merupakan
perbandingan anatara jarak pergerakan suatu
komonen dengan jarak tepi depan pelarut.


Identitas suatu komponen dapat diketahui
dengan membandingkan harga Rf-nya dengan
harga Rf senyawa standar.

pelarut pergerakan jarak
komponen pergerakan Jarak
Rf =
KROMATOGRAFI KOLOM
KROMATOGRAFI SERAPAN
PEMISAHAN KOMPONEN KARENA ADANYA
PERBEDAAN SERAPAN MSNG-MSNG KOMP PADA
ZAT PADAT FASE DIAM
KOLOM PARTISI
FASE DIAM BERUPA CAIRAN YANG DISERAPKAN
PADA PADATAN PENDUKUNG YANG INERT.
PEMISAHAN KOMPONEN KARENA PERBEDAAN
AFINITAS THD FASE DIAM DAN FASE GERAKNYA
ATAU PERBEDAAN KOEFESIEN PARTISI DARI
KOMP2 YG DIPISAHKAN.
KROMATOGRAFI FILTRASI GEL

FASE DIAMNYA ADALAH GEL, SUATU JARINGAN 3
DIMENSI YANG BERFUNGSI SBG PENYARING.
PEMISAHAN KOMPONEN BERDASARKAN
PERBEDAAN UKRN MOLEKUL. MOLEKUL UKURN
KECIL DPT MASUK JARINGAN PORI SHG
TERTAHAN, MOLEKUL UKRN BESAR AKAN
MELEWATI KOLOM TANPA TERTAHAN.

KROMATOGRAFI PERTUKARAN ION
FASE DIAMNYA ADALAH PADATAN YANG
MERUPAKAN POLIMER YG MEMILIKI GGS FUNGSI
PENUKAR ION. AKAN TERJADI PERTUKARAN ION
YANG REVERSIBEL ANTARA ION YANG MENGALIR
BERSAMA FASE GERAK DNGN PADATAN FASE
DIAM YANG MEMILIKI GGS FUNGSI YG DPT
DIPERTUKARKAN.

kertas
saring
zat padat
penyerap
Gelas
wool
Masukkan gelas wool utk menyangga
zat penyerap yg digunkan.
zat padat penyerap dibuat slurry
dengan pelarut, masukan ke dlm kolom.
Kolom harus uniform, ukuran partikel
penyusun kolom hrs sama.
Tidak boleh ada gelembung udara dlm
kolom.
Kolom jg diisi pelarut yg sm dgn yg
dipakai utk membuat slurry.
1. Kromatografi serapan