Anda di halaman 1dari 115

UPAYA PENINGKATAN PARTISIPASI PEREMPUAN DALAM PROGRAM PENGEMBANGAN MASYARAKAT NELAYAN

(Studi Kasus di Desa Meskom, Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, Riau)

T. NAZLAH KHAIRATI

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2005

ABSTRAK

T. NAZLAH KHAIRATI. Upaya Peningkatan Partisipasi Perempuan Dalam Program Pengembangan Masyarakat Nelayan (Studi Kasus di Desa Meskom, Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, Riau). Dibimbing oleh TITIK SUMARTI dan DJUARA P. LUBIS. Rencana Aksi Pembangunan Berkelanjutan Sumberdaya Pesisir dan Lautan Indonesia (1998) dinyatakan bahwa perempuan memainkan peranan penting dalam pembangunan pesisir dan lautan. Kegiatan-kegiatan mereka meliputi urusan yang berkaitan dengan sandang dan pangan keluarga, serta menambah pendapatan keluarga melalui kegiatan-kegiatan antara lain (1) penangkapan di daerah intertidal dan perairan dangkal; (2) pembuatan dan perbaikan jaring penangkapan ikan; (3) budidaya ikan; (4) pengolahan ikan; (5) penjualan dan (6) kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pemasaran hasil tangkapan. Di daerah pedesaan Indonesia, perempuan pada keluarga miskin, terbiasa melakukan kerja produktif dan tetap bertanggungjawab pada kerja reproduktif serta kegiatan sosial (antara lain PKK dan Posyandu), sedangkan pria bergerak dikegiatan atau bidang ekonomi (KUD dan Kelompok Nelayan). Hal ini mengesankan bahwa intervensi instansi sektoral yang bermuatan ekonomi tampaknya lebih memilih pria sebagai golongan sasaran, sementara perempuan hanya akses terhadap lembaga-lembaga ekonomi informal seperti kegiatan arisan. Hal ini terlihat dari banyaknya aktivitas perempuan yang melakukan kegiatankegiatan sosial yang tidak berorientasi ekonomi. Masalah utama dalam kajian ini adalah bagaimanakah partisipasi perempuan dalam program pengembangan masyarakat nelayan di Desa Meskom Kecamatan Bengkalis Kabupaten Bengkalis, Riau yang merupakan salah satu desa pantai potensial dengan keberagaman etnik dan pola penguasaan asset dengan tingkat ketergantungan yang tinggi pada tauke serta pola pemukiman yang erat kaitannya dengan faktor ekologi,sosial, budaya maupun ekonomi. Tujuan spesifik dari kajian ini adalah : a) Untuk memberi gambaran komprehensif situasi sosial Desa Meskom Kabupaten Bengkalis (peta sosial Desa Meskom); b) Untuk dapat memberikan gambaran yang bersifat evaluatif terhadap berbagai kegiatan dalam program pengembangan masyarakat yang sudah pernah diintrodusir di Desa Meskom; c) Untuk dapat mengetahui bagaimana partisipasi perempuan dalam program pengembangan masyarakat nelayan Desa Meskom, Bengkalis Riau; d) Untuk menyusun program partisipasi perempuan dalam pengembangan masyarakat nelayan Desa Meskom. Partisipasi sosial formal dan informal bagi perempuan di Desa Meskom, Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, Riau cukup baik karena kaum perempuan banyak yang masuk menjadi pengurus pada lembaga informal dan formal seperti organisasi kemasyarakatan dan pemerintahan, hal ini juga berlaku dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh desa baik merupakan kegiatan yang dilakukan oleh lembaga maupun sosial kemasyarakatan dan perkumpulanperkumpulan. Solidaritas golongan perempuan dalam program pengembangan masyarakat nelayan di Desa Meskom, Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, Riau memiliki ciri-ciri khusus karena adanya perbedaan tujuan dan

kepentingan. Bagi golongan perempuan muda dan remaja memiliki norma-norma maupun nilai-nilai yang mengutamakan kepentingan aspek ekonomi dari aspekaspek lainnya sehingga melahirkan rasa solidaritas yang memperhitungkan untung atau rugi. Secara umum, perempuan dalam masyarakat nelayan memiliki karakteristik yang secara eksplisit menunjukkan suatu ketimpangan gender. Hal ini tampak dari beberapa aspek meliputi pekerjaan, tingkat pendidikan, akses kelembagaan dan kepemilikan aset produksi dan kegiatan pemasaran hasil. Kondisi tersebut terkait dengan kultu sosial budaya setempat dimana kultur Budaya Melayu menempatkan posisi laki-laki diatas perempuan, sehingga golongan laki-laki tampak mendominasi berbagai pengambilan keputusan baik dalam sektor domestik maupun publik. Pada dasarnya, program pengembangan masyarakat di Desa Meskom yang telah dilaksanakan tidak berperspektif gender, sama sekali tidak secara spesifik ditujukan untuk mengembangkan potensi golongan perempuan di Desa Meskom. Peserta program secara dominan adalah para laki-laki nelayan dalam posisi mereka sebagai kepala rumah tangga (sebagai suami), sehingga istri-istri mereka tidak dilibatkan secara aktif dalam program. Golongan perempuan cukup diharapkan dalam membantu suaminya dalam melaksanakan program. Hal ini dikarenakan program pengembangan masyarakat nelayan di Desa Meskom secara dominan ditujukan untuk para laki-laki sebagai pencari nafkah utama yang bekerja melaut. Untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam program pengembangan masyarakat di Desa Meskom, Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, Riau harus dilakukan pola pendekatan dari arus bawah bottom-up atau inisiatif yang berasal dari masyarakat sendiri ditambah dengan input dari pemerintah atau swasta melalui bantuan teknis. Perbaikan terhadap pola pengembangan masyarakat nelayan juga dapat dilakukan melalui partisipasi Perempuan dengan melakukan perbaikan melalui peningkatan peran stakeholder baik di sektor publik maupun privat serta sektor komunitas. Secara operasional, upaya peningkatan perempuan dalam pengembangan masyarakat nelayan di Desa Meskom di tempuh dengan cara (1) Program pengembangan masyarakat nelayan di Desa Meskom meliputi penyelenggaraaan pertemuan rutin dan pembentukan kelompok usaha mikro; (2) Program peningkatan partisipasi Perempuan meliputi pendampingan dan pelatihan keterampilan pengelolaan hasil laut dan pendampingan peningkatan partisipasi sosial perempuan. Penyelenggaraan program pengembangan masyarakat tersebut diharapkan lebih berorientasi gender dan dapat mewadahi partisipasi aktif dari perempuan di Desa Meskom. Adanya titik berat orientasi gender dalam programprogram tersebut merupakan suatu langkah strategis untuk meningkatkan potensi lokal dan potensi sumber daya manusia di Desa Meskom khususnya golongan perempuan.

Hak cipta milik T.Nazlah Khairati, tahun 2005 Hak cipta dilindungi Dilarang mengutip dan memperbanyak tanpa izin tertulis dari Institut Pertanian Bogor, sebagian atau seluruhnya dalam bentuk apapun, baik cetak, fotocopi, mikrofilm dan sebagainya

UPAYA PENINGKATAN PARTISIPASI PEREMPUAN


DALAM PROGRAM PENGEMBANGAN MASYARAKAT NELAYAN
(Studi Kasus di Desa Meskom, Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, Riau)

T. NAZLAH KHAIRATI

Tugas Akhir Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Profesional pada Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2005

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Tugas Akhir

: Upaya Peningkatan Partisipasi Perempuan Dalam Program Pengembangan Masyarakat Nelayan (Studi Kasus di Desa Meskom, Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, Riau) : T. Nazlah Khairati : A 015010305 : Pengembangan Masyarakat

Nama NIM Program Studi

Disetujui, Komisi Pembimbing

Dr. Ir. Titik Sumarti, MC, MS Ketua

Dr. Ir. Djuara P. Lubis, MS Anggota

Diketahui,

Ketua Program Studi Pengembangan Masyarakat

Dekan Sekolah Pascasarjana

Dr. Ir. Djuara P. Lubis, MS

Prof. Dr. I r. Syafrida Manuwoto, M.Sc

Tanggal Ujian : 22 November 2005

Tanggal Lulus :

DAFTAR RIWAYAT HIDUP Penulis lahir di Selatpanjang, salah satu kota kecamatan yang terdapat di Kabupaten Bengkalis, Propinsi Riau, pada tanggal 5 Mei 1964. Merupakan anak keempat dari lima bersaudara. Ebah bernama T. A. Rahman (almarhum) dan Emak bernama T. Fakhriah yang juga telah berpulang kerahmatullah. Pendidikan dasar diselesaikan di SDN 002 Selatpanjang tahun 1977. Begitu juga dengan pendidikan menengah pertama ditamatkan pada tahun 1980 di MTsN Selatpanjang. Sedangkan untuk pendidikan menengah atas, penulis memasuki Lembaga Formal Pendidikan Islam (MAN Selatpanjang) tahun 1980 hingga berakhir tahun 1983. Dari tahun 1983 sampai dengan tahun 1988, penulis kuliah di Universitas Riau, pada jurusan Ilmu Administrasi Pendidikan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP UNRI) Pekanbaru Riau tersebut. Setelah tamat, alhamdulillah, pada tahun 1988-1989 penulis diterima sebagai tenaga guru honor di SMEA Negeri Selatpanjang, kemudian mengabdi di tanah kelahiran sendiri sebagai guru Aliyah Selatpanjang (1990-1997), Wakil Kepala Aliyah Selatpanjang (1997-1998) hingga dapat menduduki jabatan Kepala Sekolah Aliyah Selatpanjang dari tahun 1998 sampai dengan tahun 1999. Sedangkan pengalaman dalam berorganisasi berturut-turut menduduki jabatan sebagai : Wakil Ketua Aisyah Selatpanjang tahun 1980-1985, Ketua Nasyiatul Aisyah Selatpanjang (1988-1990), Wakil Ketua IMM Riau (19851988), Wakil Bendahara DPW PPP Riau (1985-1990), Wakil Ketua WPP Riau (1990-1995), Bendahara DPC PPP Bengkalis (1995-1998), Wakil Ketua DPC PPP Bengkalis (1999-2003), Ketua IKBD DPRD Bengkalis (1999-2003), Ketua PD Parmusi Kabupaten Bengkalis (2003-sekarang) dan terakhir sebagai Ketua DPC PPP Kabupaten Bengkalis mulai tahun 2003 hingga tahun 2006. Pada hari Sabtu, tanggal 10 Syawal 1411 H, bertepatan dengan tanggal 5 Mei 1990 M, penulis menikah dengan H. T. Effendi, BA bin T. Syarif (Mak Mertua bernama T. Thalha-almarhum) di Selatpanjang. Baru pada tanggal 13 Februari 1991 di Selatpanjang, penulis dianugerahi oleh Allah SWT seorang putri yang diberi nama dengan T. Natasya Ilma. Sedangkan anak yang kedua seorang putra, yang lahir pada tanggal 6 Juli 1994 M di kota Selatpanjang, diberi nama
ii

dengan T. Fariqul Haq. Sekarang penulis berdomisili Jalan Gatot Subroto Gang Budiman Kelurahan Rimba Sekampung, Bengkalis, Riau. Demikian riwayat hidup singkat ini dibuat yang sesungguhnya.

iii

PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan kekuatan, rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulisan kajian pengembangan masyarakat dengan judul : Upaya Peningkatan Perempuan dalam Pengembangan Masyarakat Nelayan (Studi Kasus di Desa Meskom, Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, Riau) dapat dirampungkan dengan sebaikbaiknya. Kajian pengembangan masyarakat ini merupakan kelanjutan dan sari dari Praktek Lapang I (Peta Sosial Desa Meskom) dan Praktek Lapang II (dua) yang lebih memfokuskan kegiatan ilmiah ke arah interpretasi, analisis dan evaluasi program pengembangan masyarakat di Desa Meskom tersebut, yang dilakukan pada tanggal 14 September sampai dengan 29 Oktober 2002 yang lalu. Sebenarnya amat berat bagi penulis dalam menyelesaikan kajian ilmiah ini, karena berhubungan dengan waktu, keadaan dan pekerjaan penulis sebagai Wakil Ketua DPRD Bengkalis yang sangat menyita waktu panjang dan harus rutinitas melakukan pekerjaan. Akan tetapi berkat dorongan, bantuan dan bimbingan yang luar biasa yang diberikan oleh ketua dan anggota komisi pembimbing yang memang telah ditunjuk untuk itu, partisipasi keluarga dan teman-teman pada penulis, maka kajian ini dapat terealisasi sebagaimana mestinya. Untuk itu penulis ingin menyampaikan penghargaan dan ucapan terimakasih kepada : 1. Dr. Ir. Titik Sumarti, MC, MS selaku ketua komisi pembimbing. 2. Dr. Ir. Djuara P. Lubis MS selaku anggota komisi pembimbing. Ucapan terimakasih juga penulis ukirkan setulus-tulusnya dan rasa hormat setinggi-tingginya, pada kesempatan yang paling bergengsi dan penuh bersejarah ini, kepada : 1. Ibunda tercinta T. Fakhriah (almarhumah) dan Ayahanda tersayang T. A. Rahman (almarhum) yang telah rela, ikhlas dan bersusah payah membesarkan anakmu ini. Bersama ini juga iringan doa penulis anugerahkan kepada Ibunda dan Ayahanda berdua yang telah kembali

iv

kepangkuan Allah SWT, semoga Allah menerima mereka berdua disisiNya, amin. 2. Suamiku H. T. Effendi, BA, anakku T. Natasya Ilma dan T. Fariqul Haq, Ayah dan Mak Mertuaku T. Syarif dan T. Thalha (almarhumah) yang tak dapat ku lupakan kebaikan dan perhatiannya. Semuanya sebagai motivasi dan memberi inpirasi kuat pada penulis dalam menyelesaikan kajian agung ini. 3. Teramat khusus penulis sampaikan buat sahabat/teman seperjuangan dan para dosen yang telah sudi menitip, menanam dan menstransferkan ilmu pengetahuannya kepada penulis, yang tak dapat penulis sebutkan namanya satu persatu pada kesempatan ini, semoga kebajikan ilmiah ini berbuah, berguna dan dapat penulis terapkan untuk pengembangan dan

kemasylahatan masyarakat. Akhirnya, penulis sangat menyadari bahwa meskipun diupayakan semaksimal mungkin, kajian ilmiah ini masih jauh dari harapan banyak orang dan kalangan. Disana-sini masih kelihatan kelemahan dan kekurangannya, olehkarena itu, kritik dan saran sangat diharapkan.

Bengkalis, Desember 2005

T. Nazlah Khairati Penulis

DAFTAR ISI

Halaman PRAKATA .................................................................................................. iv

DAFTAR ISI ................................................................................................. vi DAFTAR TABEL .......................................................................................... ix DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... x

BAB I. PENDAHULUAN ............................................................................. 1 1.1 Latar Belakang ................................................................................. 1 1.2 Perumusan Masalah ......................................................................... 4 1.3 Tujuan Kajian .................................................................................. 5

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ................................................................. 6 2.1 Konsep Partisipasi............................................................................. 6 2.2 Konsep Partisipasi Perempuan dalam Pembangunan Pedesaan ...... 7 2.3 Konsep Masyarakat Nelayan ........................................................... 11 2.4 Stratifikasi Masyarakat Nelayan ....................................................... 12 2.5 Program Pengembangan Masyarakat .............................................. 15 2.6 Kerangka Pemikiran ......................................................................... 28

BAB III. METODOLOGI KAJIAN ........................................................... 30 3.1 Waktu dan Lokasi ........................................................................... 30 3.2 Teknik Pengumpulan Data ............................................................... 31 3.3 Pengolahan Data .............................................................................. 32 3.4 Penyusunan Program........................................................................ 32

BAB IV. PETA SOSIAL DESA MESKOM ............................................... 35 4.1 Lokasi ............................................................................................... 35 4.2 Pendidikan ........................................................................................ 35 4.3 Kependudukan ................................................................................. 37 4.4 Sistem Ekonomi ............................................................................... 40

vi

4.5 Struktur Komunitas ........................................................................... 47 4.6 Organisasi dan Kelembagaan ............................................................ 48 4.7 Pengelolaan Sumber Daya Lokal ...................................................... 50 4.8 Kedudukan Perempuan di Desa Meskom ......................................... 52 4.9 Ikhtisar .............................................................................................. 53

BAB V. TINJAUAN PROGRAM PENGEMBANGAN MASYARAKAT DESA MESKOM ......................................................................... 55 5.1 Program Bantuan Jaring ................................................................... 55 5.2 Bantuan Peningkatan dan Pengembangan Tambak Udang.............. 60 5.3 Ikhtisar ............................................................................................. 65

BAB VI. ANALISIS PARTISIPASI PEREMPUAN DALAM PROGRAM PENGEMBANGAN MASYARAKAT ................. 67 Karakteristik Perempuan dalam Masyarakat Nelayan Desa Meskom................................................................................... 68 Potensi Partisipasi Komunitas Perempuan dalam Pengembangan Masyarakat ....................................................................................... 70 Partisipasi dalam Kelembagaan Sosial Informal...................................... 72 6.4 Penyesuaian Diri Perempuan Nelayan ............................................. 73 6.5 Keikutsertaan dalam Perkumpulan Sukarela ................................... 74 6.6 Kontak Informal dan Pertemuan ...................................................... 77 6.7 Solidaritas Komunitas ...................................................................... 78 6.8 Kepuasan Komunitas ....................................................................... 79 6.9 Ikhtisar ............................................................................................. 80

BAB VII. PROGRAM PENINGKATAN PARTISIPASI PEREMPUAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT NELAYAN .................. 82 7.1 Identifikasi Potensi, Permasalahan dan Kebutuhan Pengembangan Partisipasi Perempuan ...................................................................... 83 7.2 Program Pengembangan Masyarakat Nelayan Desa Meskom ....... 86

vii

7.3 Program Peningkatan Partisipasi Perempuan dalam Pengembangan Masyarakat Nelayan Desa Meskom ................................................. 88 7.4 Ikhtisar .............................................................................................. 90

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ..................................................... 93 DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 99

viii

DAFTAR TABEL

Nomor 1

Judul

Halaman

Distribusi Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan Desa Meskom Tahun 2002............................................................. 36 Jumlah Penduduk Desa Meskom menurut kelompok Umur dan Jenis Kelamin Tahun 2002. ............................................................ 37 Jumlah Penduduk Berumur 15 Tahun Ke atas menurut jenis Kelamin Tahun 2002. ..................................................................... 39 Jumlah Penduduk Desa Meskom menurut Mata Pencaharian Kelamin Tahun 2002. ..................................................................... 39 Luas Areal Perkebunan dan Jumlah Petani serta Produksi Desa Meskom Tahun 2002............................................................ 41 Jumlah Rumahtangga Menurut Status Pekerjaan Nelayan di Desa Meskom Kelamin Tahun 2002.......................................... 41 Jenis dan Alat Tangkap Yang Dimiliki oleh Nelayan Desa Meskom Tahun 2002. .................................................................... 42 Jumlah Dan Jenis Armada Penangkap Ikan Desa Meskom Menurut Perahu .............................................................................. 43 Produksi Perikanan Kecamatan Bengkalis Tahun 1998-2004 ....... 43 Jumlah Pendapatan Rumah Tangga Nelayan Desa Meskom per Tingkat Pendapatan ................................................................. 46 Organisasi dan Kelembagaan yang ada di Desa Meskom ............. 49 Sistem Pembagian Kerja Pada Aktivitas Masyarakat Nelayan Desa Meskom .................................................................. 52 Identifikasi Masalah Kaum Perempuan di Desa Meskom ............. 85 Penyusunan Program Upaya Peningkatan Partisipasi Perempuan dalam Program Pengembangan Masyarakat Nelayan .................... 91 Stakeholder pada Program Upaya Peningkatan Partisipasi Perempuan dalam Pengembangan Masyarakat Nelayan .............. 92

9 10

11 12

13 14

15

ix

DAFTAR GAMBAR

Nomor 1 2

Teks

Halaman

Alur Kerja Analisis Gender (Gender Analysis Pathway) .............. 10 Kerangka Pemikiran Kajian Mengenai Upaya Peningkatan Partisipasi Perempuan dalam Program Pengembangan Masyarakat Nelayan ....................................................................... 29 Alur Kerja Analisis Gender (Gender Analysis Pathway) dalam Kajian Upaya Peningkatan Partisipasi Perempuan dalam Program Pengembangan Masyarakat Nelayan............................... 69

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Crawford (1998) mengemukakan bahwa program perencanaan,

pengelolaan dan pengembangan masyarakat pesisir (nelayan) secara sistematis dan terpadu masih merupakan hal baru dalam pembangunan di Indonesia, mengingat program pengembangan masyarakat nelayan ini baru tercantum dalam GBHN 1993. Seiring dengan program pengembangan masyarakat nelayan, dirasakan perlu adanya desentralisasi dan partisipasi masyarakat. Diharapkan program perencanaan lebih dititikberatkan pada bottom up planning atau proses dari bawah yang dikombinasikan dengan top down planning atau program perencanaan dari atas kebawah, dan disesuaikan kepentingan masyarakat khususnya perempuan. Dalam Rencana Aksi Pembangunan Berkelanjutan Sumberdaya Pesisir dan Kelautan Indonesia (1998), dinyatakan bahwa perempuan memainkan peranan penting dalam sektor pesisir dan lautan. Kegiatan-kegiatan mereka meliputi urusan yang berkaitan dengan sandang dan pangan keluarga dan menambah pendapatan keluarga melalui kegiatan-kegiatan antara lain : pengolahan ikan, penjualan, budidaya ikan, penangkapan di daerah intertidal dan perairan dangkal, pembuatan dan perbaikan jaring penangkapan ikan dan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pemasaran hasil tangkapan. Di daerah pedesaan Indonesia, perempuan pada keluarga miskin, terbiasa melakukan kerja produktif dan tetap bertanggungjawab pada kerja reproduktif serta kegiatan sosial (antara lain PKK dan Posyandu), sedangkan pria bergerak

dikegiatan atau bidang ekonomi (KUD dan Kelompok Nelayan). Hal ini mengesankan bahwa intervensi instansi sektoral yang bermuatan ekonomi tampaknya lebih memilih pria sebagai golongan sasaran, sementara perempuan hanya akses terhadap lembaga-lembaga ekonomi informal seperti kegiatan arisan. Hal ini terlihat dari banyaknya aktivitas perempuan yang melakukan kegiatankegiatan sosial yang tidak berorientasi ekonomi. Dari berbagai analisis dan

penelitian yang dilakukan oleh para ahli menunjukkan peranan dan partisipasi perempuan pada program pengembangan masyarakat nelayan dan pertanian lahan kering sangat mendominasi. Sondakh (1985), yang mempelajari peranan dan partisipasi perempuan dari beragam lapisan masyarakat dengan menggunakan analisis struktural fungsional, juga menunjukkan data yang mendukung peran strategis perempuan dalam meningkatkan taraf ekonomi keluarga. Wohongan-Kosakoy (1986) dalam penelitian di beberapa kawasan pesisir menelaah peranan perempuan dalam pembangunan masyarakat nelayan pada beragam lapisan sosial dengan menggunakan analisis keikutsertaan perempuan dalam kelembagaan. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa peranan perempuan pada lembaga lokal sosial ekonomi pesisir cukup berarti. Penelitian yang dilakukan pada masyarakat nelayan oleh Manginsela (1990) di Pulau Tagulandang Kabupaten, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara mempelajari bagaimana gejala matriofokal mempengaruhi status sosial

perempuan nelayan dengan menggunakan analisis struktural fungsional. Hasil penelitiannya menunjukkan peran perempuan dalam membantu pekerjaan suami sebelum melaut seperti menjahit jaring dan mengatur administrasi lembaga perikanan yang ada dapat meningkatkan hasil kerja suami nelayan.

Selanjutnya, berdasarkan hasil wawancara dengan salah seorang responden, Sayogjo (1985) dalam Women and industrialization Examming the Female Marginalitation Thesis terdapat variabel ketidakadilan jender, baik dalam hal konsep pembagian kerja, proses produktif dan reproduktif, akses dan kontrol terhadap berbagai macam keputusan serta partisipasi perempuan terhadap berbagai macam kelembagaan. Dari beberapa hasil studi tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa keberhasilan program pengembangan masyarakat nelayan sebenarnya tidak dapat lepas dari adanya nilai-nilai jender dan partisipasi perempuan yang terkandung di dalamnya. Hanya saja terdapat kendala yang dihadapi bagi perempuan nelayan yaitu alat bantu dalam mengolah bahan mentah (ikan, udang, dst). Selama ini perempuan nelayan menggunakan tangan (manual) dalam mengolah hasil tangkapan, sehingga hasil yang diharapkan kurang memuaskan dan menghabiskan waktu yang lama. Desa Meskom merupakan desa nelayan yang potensial dan terpenting di Kabupaten Bengkalis serta telah pernah diintrodusir program-program

pengembangan masyarakat nelayan di sana. Kenyataan tersebut penulis dapatkan setelah melakukan Praktek Lapangan I dan II pada tahun 2002 yang lalu. Di desa tersebut ditemukan kerjasama yang menguntungkan antara pihak suami nelayan dan istri nelayan dalam usaha perikanan. Jenis usaha perikanan yang dilakukan ialah perikanan tangkap yang telah dilakukan turun temurun dari generasi ke generasi. Sifat usahanya berskala kecil, dengan alat tangkap yang sederhana. Oleh karena itu, peran perempuan dalam membantu menaikkan skala usaha sangat menguntungkan. Tugas perempuan nelayan terbatas dalam penyiapan sarana

sebelum melaut, kemudian turut mengolah ikan hasil tangkapan suami nelayan baik untuk pengasinan udang, dan pengolahan lainnya. Introduksi program pengembangan masyarakat dalam usaha nelayan di Desa Meskom bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat nelayan secara keseluruhan. Langkah penyusunan program dimulai dari menginventarisasi kebutuhan-kebutuhan masyarakat nelayan, mendata jenis sarana angkut untuk melaut dan selanjutnya menyediakan sarana dan prasarana tersebut. Merujuk pada hasil inventarisasi tersebut lebih lanjut para stakeholder yang terkait dalam program pengembangan masyarakat nelayan duduk bersama untuk merumuskan langkah-langkah strategis perumusan pelaksanaan dan evaluasi program yang akan diselenggarakan.

1.2

Perumusan Masalah Dengan berdasarkan pada latarbelakang masalah di atas, praktek

lapangan I dan II yang telah dilakukan beberapa bulan yang lalu yang terkonsentrasi pada program pengembangan masyarakat, maka permasalahan utama yang menjadi sentral pertanyaan dalam kajian ini adalah sejauhmana program-program pengembangan masyarakat nelayan Desa Meskom melibatkan partisipasi perempuan dalam penerapannya, dan bagaimana langkah strategis peningkatan partisipasi perempuan dalam program pengembangan masyarakat. Kedua pertanyaan tersebut lebih lanjut diuraikan dalam beberapa poin sebagai berikut

1. Bagaimana peta sosial Desa Meskom ? 2. Bagaimana partisipasi perempuan dalam program pengembangan masyarakat nelayan Desa Meskom, Kabupaten Bengkalis, Riau ? 3. Bagaimana penyusunan program peningkatan partisipasi perempuan dalam program pengembangan masyarakat nelayan Desa Meskom ?

1.3 Tujuan Kajian Tujuan kajian pengembangan masyarakat, yang merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Profesional Pengembangan Masyarakat pada Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB), ini adalah : 1. Untuk memberi gambaran komprehensif situasi sosial Desa Meskom, Kabupaten Bengkalis (peta sosial Desa Meskom). 2. Untuk dapat memberikan gambaran evaluatif terhadap berbagai kegiatan dalam program pengembangan masyarakat yang sudah pernah diintrodusir di Desa Meskom. 3. Untuk dapat mengetahui bagaimana partisipasi perempuan dalam program pengembangan masyarakat nelayan Desa Meskom, Bengkalis, Riau. 4. Untuk menyusun program partisipasi perempuan dalam pengembangan masyarakat nelayan Desa Meskom, Bengkalis, Riau.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Konsep Partisipasi Partisipasi mempunyai pengertian yang luas yang dapat dipandang sebagai

suatu proses yang dinamis dan berdimensi jamak. Partisipasi berarti peranserta seorang atau kelompok masyarakat dalam suatu kegiatan dalam bentuk pernyataan maupun kegiatan dengan memberikan masukan berupa fikiran, tenaga, waktu, keahlian, modal atau materi, serta ikut memanfaatkan dan menikmatinya (Anwar, 1986; Sastropoetro, 1988; Slamet, 1992 dan Wardoyo, 1992). Menurut Oppenheim (1973), partisipasi merupakan bentuk perilaku yang didukung oleh dua hal : 1) ada unsur yang mendukung untuk berperilaku tertentu pada diri seseorang (person inner determinant), dan 2) terdapat iklim atau lingkungan (environmental factors) yang memungkinkan terjadinya perilaku tertentu. Menurut Bertrand (1958), tipe-tipe partisipasi sosial dalam masyarakat pedesan adalah : 1) partisipasi sosial formal, yaitu partisipasi sebagai anggota dalam institusi formal; 2) partisipasi semi formal, yaitu partisipasi dalam institusi sosial yang tidak terorganisir seperti mendatangi perlombaan yang diadakan di desa, saat pemasaran hasil tangkapan dan lain-lain, dan 3) partisipasi sosial informal, yaitu partisipasi dalam hubungan sosial informal atau kelompok yang tidak terorganisir. Dalam proses partisipasi dikenal pula tahapan-tahapan, dimana tidak semua individu atau kelompok mengikuti semua tahapan. Stephen (1988) serta

Chen dan Uphoff (1977) membedakan tahapan partisipasi atas : 1) partisipasi pada tahap perencanaan, 2) partisipasi pada tahap pelaksanaan, 3) partisipasi pada tahap pemanfaatan, dan 4) partisipasi pada tahap penilaian. Pentingnya partisipasi dalam masyarakat dan perencanaan pengambilan keputusan, yaitu : 1) sebagai langkah awal mempersiapkan masyarakat untuk berpartisipasi dan merupakan salah satu cara untuk menumbuhkembangkan rasa memiliki dan rasa tanggungjawab masyarakat setempat terhadap setiap kegiatan yang dilakukan, 2) sebagai alat untuk memperoleh informasi mengenai kebutuhan, kondisi, dan sikap masyarakat setempat dan, 3) masyarakat mempunyai hak untuk urunrembung dalam menentukan program yang ada di tengah kehidupan mereka (Suharjo, 1986; Conyers, 1991; Uphoff, 1998). Menurut Goldsmith dan Blustain dalam jahi (1988), apabila dengan berpartisipasi memberikan manfaat dan dapat memenuhi keperluan-keperluan masyarakat setempat, maka hal itu akan menjadi pendorong timbulnya kemauan masyarakat untuk berpartisipasi. Berkaitan dengan hal ini Mc Clelland (1987), menyebutkan bahwa motivasi merupakan motor pengerak perilaku manusia dan olehkarenanya peningkatan motivasi akan mendorong peningkatan partisipasi masyarakat, dan n Ach (need for achievement) merupakan kunci perubahan dari tradisional menjadi modern.

2.2

Konsep Partisipasi Perempuan dalam Pembangunan Desa Menurut Ester Bosterup (1970) mengemukakan bahwa seringkali

perempuan dilupakan dalam pembangunan, sejak awal (tahun 1950-an) proyekproyek pembangunan telah memberikan perhatian pada perempuan (dengan

pendekatan kesejahteraan). Pendekatan ini didasarkan atas tiga asumsi, yaitu : 1) perempuan sebagai penerima pasif pembangunan, (2) peran keibuan yang merupakan peranan penting bagi perempuan dalam masyarakat, (3) mengasuh anak yang merupakan peranan perempuan yang paling efektif dalam semua aspek pembangunan ekonomi. Sedangkan pendekatan kedua yaitu Pendekatan Kesamaan (Equity Approach). Pendekatan ini mengakui bahwa perempuan merupakan partisipasi aktif dalam proses pembangunan yang mempunyai sumbangan terhadap pertumbuhan ekonomi melalui kerja produktif dan reproduktif mereka walaupun sumbangan tersebut seringkali tidak diakui. Melihat dari dua pendekatan teori diatas, perempuan nelayan Desa Meskom menganut kedua-duanya. Beberapa istri nelayan ada yang diizinkan membantu suami dalam mengelola usaha perikanan (Equity Approach) tetapi ada pula kelompok nelayan yang melarang istri turut bekerja di luar rumah. Dari sini dapat dilihat ketidakadilan jender yang berlaku. Pendekatan tersebut seluruhnya dititikberatkan pada peran reproduktif perempuan dan menempatkan perempuan di arena pribadi, sementara lelaki dipandang sebagai kelompok masyarakat yang aktif dalam arena publik. Keadaan ini menempatkan perempuan nelayan hanya sebatas mengurusi anak dan urusan rumah tangga, sehingga hak perempuan untuk mengembangkan bakat dan keahlian yang dimilikinya hilang. Merujuk pada kedua pendekatan di atas, secara eksplisit tampak bahwa terdapat adanya suatu ketimpangan gender dimana perempuan dengan peran keibuannya memainkan peranan utama dalam mewujudkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat. Padahal laki-laki pun dengan segenap kewajibannya

tidak kalah pentingnya menyokong kesejahteraan keluarga dan masyarakat. Sehubungan dengan itu, pendekatan kesamaan tampak lebih menempatkan adanya kesetaraan perempuan dan laki-laki dalam pembangunan melalui partisipasi aktif dalam kerja produktif dan reproduktif. Lebih lanjut, untuk menganalisis masalah gender dapat dipergunakan alur kerja analisis gender (Gender Analysis Pathway -GAP-). Analisis tersebut ditujukan untuk melihat komponen faktor kesenjangan yang dianalisis baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Alur kerja analisis gender tersebut diawali dengan : (1) Merumuskan sasaran umum tujuan analisis yang dilakukan; (2) pengumpulan data pembuka wawasan diperlukan baik berupa data kualitatif maupun kuantitatif dengan menguraikan indikator menurut jenis kelamin; (3) menguraikan faktorfaktor kesenjangan meliputi kewenangan akses, peran serta, penguasaan dan pemanfaatan. Merujuk pada data dan faktor tersebut maka (4) masalah gender dapat ditelaah lebih lanjut. Setelah masalah gender tersebut dirumuskan, maka (5) sasaran kebijakan gender dapat disusun melalui rancangan penyelenggaraan program-program pengembangan masyarakat setempat. Kebijakan yang

dirumuskan merupakan sasaran terpilih yang menjadi prioritas utama yang harus mencakup semua faktor kesenjangan yang telah diuraikan. Adapun untuk mengukur tingkat keberhasilan dari rumusan sasaran kebijakan gender tersebut maka (7) diperlukan adanya rumusan indikator gender secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis gender tersebut lebih tepat ditujukan untuk mengkaji, menggali, memahami dan meningkatkan partisipasi perempuan dalam pembangunan meliputi akses dan kontrol perempuan dalam berbagai aspek pembangunan. Alur kerja analisis gender tersebut tampak dalam Gambar 1.

2. Data pembuka wawasan Indikator menurut Jenis Kelamin 1. Sasaran Umum

Memilih sasaran-sasaran

4. Masalah Gender Kesenjangan apa ?

5. Sasaran Kebijakan Gender Kuantitatif dan Kualitatif

7. Indikator Gender

3. Faktor-faktor Kesenjangan Kewenangan Akses Peran Serta Penguasaan Pemanfaatan

Mengapa terjadi kesenjangan ?

Apa yang harus dilakukan untuk mengurangi kesenjangan ?

Pengurangan kesenjangan ditunjukkan dengan apa ?

Periksa kembali : Apakah semua faktor kesenjangan telah tercakup ?

Gambar 1. Alur Kerja Analisis Gender (Gender Analysis Pathway (GAP))

10

2.3

Konsep Masyarakat Nelayan Dalam ilmu-ilmu sosial, masyarakat nelayan termasuk dalam konsep

peasant. Memang ada juga peneliti yang mengartikan peasant terbatas dalam mata pencaharian yang khas. Misalnya, Wolf mendefenisikan peasant sebagai petani yang hidup dari mengolah tanah dan tinggal di pedesaan (Wolf, 1982 ). Kalau defenisi ini dijadikan acuan maka nelayan, buruh, pengrajin tidak masuk dalam konsep peasant. Agar masyarakat nelayan mencakup dalam konsep peasant, konteks pengertiannya lebih cocok dikaitkan dengan kelompok orang desa dengan ciri-ciri sosial kultural, ekonomi yang khas. Firth mengartikan peasant mengacu kepada seluruh masyarakat pedesaan beserta sistem ekonominya. Meskipun mata pencaharian hidup utama petani peasant menggarap tanah, namun kategori pekerjaan petani tersebut, hanya dipisahkan secara teoritis. Di Kampung Perupak Kelantan Malaysia, Firth melihat bahwa penduduk desa yang bekerja sebagai petani sawah juga bekerja sebagai nelayan. Mereka semua hidup dalam sebuah desa dimana anggotanya tidak hanya saling terlibat dalam hubungan kerabat dan keagamaan tapi juga dalam bidang ekonomi. Kehidupan pedesaan dimana berbagai kegiatan penduduk saling terkait dan khas disebut peasantry. Seorang penduduk desa apakah petani, perajin, nelayan akan disebut sebagai peasant (Firth dalam Marjali 1993). Dari keterangan diatas terlihat perbedaan titik pandang antara Wolf dan Firth. Berbicara tentang peasant, bagi Firth adalah sistem ekonomi yang khas. sedangkan bagi Wolf mengacu kepada jenis mata pencaharian.

11

2.4

Stratifikasi Masyarakat Nelayan Masyarakat nelayan yang hidup dari hasil menangkap ikan dan bermukim

di sepanjang pantai mempunyai dinamika sosial yang khas sesuai dengan lingkungannya (local specific). Tidak berbeda dengan masyarakat desa agraris, masyarakat nelayan juga sudah mengenal sistem pelapisan sosial. Karenanya programprogram pengembangan masyarakat pedesaan akan lebih mencapai sasaran dengan pemahaman bentuk-bentuk stratifikasi sosial pada masyarakat nelayan. Dengan demikian, manfaat program dapat merata ke seluruh lapisan bukan hanya bermanfaat pada lapisan atas tapi dilain pihak lapisan bawah mengalami pemiskinan. Istilah stratifikasi berkaitan dengan penilaian-penilaian sosial dalam arti sepanjang dalam masyarakat ada sesuatu yang dihargai apakah nilai-nilai, kekayaan, kekuasaan maka dalam masyarakat terbentuk stratifikasi. Dimana-mana ada sistem pelapisan sosial dan ukuran yang digunakan juga bermacam-macam antara lain berupa kekuasaan, kehormatan, kekayaan, ilmu pengetahuan. Menurut teori surplus, timbulnya stratifikasi dalam masyarakat karena adanya surplus ekonomi. Orang berlomba-lomba menguasai surplus tersebut sehingga muncul pemenang. Teori kelangkaan menjelaskan bahwa timbulnya stratifikasi karena adanya kelangkaan sumberdaya alam dan individu (Lenski dan Harner dalam Sanderson, 1993). Individu yang sama kedudukannya menurut penilaian sosial akan berada dalam suatu lapisan. Masuknya program-program pengembangan masyarakat nelayan yang membawa nilai-nilai dapat menimbulkan perubahan stratifikasi sosial. Artinya dasar pelapisan sosial mengalami pergeseran sehingga bentuk

12

stratifikasi yang ada dalam masyarakat berbeda dengan keadaan sebelumnya, bahkan tidak jarang program pengembangan masyarakat nelayan mempertajam jarak antara lapisan atas dan lapisan bawah. Misalnya program motorisasi membuat posisi lapisan atas ditempati pemilik kekayaan bukan kekuasaan. Ponsioen (1969) menyebutkan terjadinya perubahan lapisan sosial merupakan salah satu prime mover terhadap perubahan sosial. Sebagai suatu community, masyarakat desa membentuk suatu sistem pelapisan sosial yang kompleksitasnya tergantung kepada taraf perkembangan kebudayaan apakah tahap gathering, huntering and herdering, masyarakat agraris atau masyarakat industri. Artinya dalam masyarakat yang masih berada dalam tahap meramu dan berburu, dasar pelapisan masih sederhana misalnya

berdasarkan usia dan jenis kelamin. Sedangkan masyarakat industri sudah mengalami stratifikasi yang lebih kompleks. Beberapa hasil penelitian melaporkan bahwa pola pelapisan dalam masyarakat nelayan mengalami perubahan dalam arti terjadi perubahan nilai-nilai yang mendasari siapa yang menjadi lapisan atas. Di Desa Nenasi Malaysia, sistem pelapisan sosial masyarakat nelayan menempatkan orang berkuasa sebagai lapisan atas. Lapisan sosial tersusun mulai dari : Penghulu-Ketua Kampung, TowkayGuru-Nelayan atau petani berpendapatan di atas 100 dollar-nelayan atau petani berpendapatan di bawah 100 dollar (Hoch, 1982). Di Riau, masyarakat nelayan terbagi atas lapisan sosial yakni : Nelayan non tradisionil yang memiliki perahu motor dan modal. Nelayan non tradisionil yang memiliki perahu motor dan modal karena kredit yang diberikan pemerintah.

13

Nelayan tradisionil yang memiliki perahu tanpa motor dan modal. Nelayan tradisionil yang mempunyai status sebagai buruh nelayan dan bekerja pada nelayan non tradisional. Nelayan tradisionil yang mempunyai status sebagai buruh nelayan dan

bekerja pada nelayan tradisionil pemilik perahu (juragan) (P3K UGM-Bapeda Riau, 1988). Tampaknya sistem pelapisan sosial masyarakat dominan atas dasar penguasaan faktor produksi. Ada kalanya dasar pelapisan tersebut mengalami perubahan seiring masuknya program-program pengembangan masyarakat di desa pantai dan berkembangnya usaha-usaha non perikanan. Lapisan sosial dapat merefleksikan hak dan kewajiban dalam pola-pola hubungan sosial. Biasanya, lapisan atas yang terdiri dari rumah tangga yang memiliki alat produksi dan modal berfungsi sebagai patron dan lapisan bawah (terdiri dari rumahtangga nelayan buruh dan nelayan pemilik perahu tidak bermotor sebagai klien). Hubungan yang terjadi seiring berlangsung tidak seimbang karena pinjaman yang diberikan patron kepada klien baik untuk modal, biaya turun ke laut atau keperluan rumah tangga harus diimbangi dengan penjualan hasil tangkap kepada patron dengan harga di bawah pasar. Terbaginya masyarakat nelayan ke dalam lapisan sosial membuat program pengembangan masyarakat nelayan tidak merata menjangkau lapisan sosial yang ada. Perbedaan jangkauan program dapat disebabkan adanya perbedaan kemampuan antara lapisan atas dan lapisan bawah dalam memanfaatkan program-program pengambangan masyarakat nelayan tersebut. Karena lapisan kurang mampu bersaing dengan lapisan atas dalam memanfaatkan fasilitas kredit usaha motorisasi alat penangkap ikan, maka dalam rumahtangga

14

masyarakat

nelayan

timbul

kesenjangan.

Beberapa

hasil

penelitian

mengungkapkan bahwa kesenjangan ekonomi yang timbul dalam masyarakat nelayan yang disebabkan program-program pengembangan masyarakat nelayan, tidak dengan sendirinya menimbulkan kesejahteraan sosial. Keadaan ini terjadi karena dalam masyarakat masih berfungsi hubungan sosial yang bersifat ketetanggaan, hubungan kerabat dan hubungan kepercayaan (Amaluddin, 1987)

2.5

Program Pengembangan Masyarakat Nelayan Konsep pengembangan masyarakat nelayan adalah suatu proses yang

menyatukan pemerintah dan masyarakat, ilmu pengetahuan dan manajemen, kepentingan sektor dan kepentingan publik dalam menyiapkan dan melaksanakan suatu rencana terpadu untuk perlindungan dan pembangunan ekosistem dan sumberdaya pesisir serta potensi sosial ekonomi budaya masyarakat nelayan. Proses penyatuan antara pemerintah dengan program perberdayaan dan pengembangannya tidaklah dapat berlangsung dengan mudah. Hal demikian disebabkan sosialisasi dari pemerintah ke masyarakat bawah (nelayan) memerlukan penyesuaian dengan situasi dan sosiologi masyarakat tempatan. Keinginan modernisasi terhadap masyarakat hendaklah dilakukan dengan pendekatan yang tepat guna, tepat sasaran dan dapat dicerna dengan baik. Modernisasi pertama kali muncul di Inggris tatkala berlangsung revolusi industri yang ditandai dengan pergantian cara berproduksi tradisionil ke modern dan selanjutnya merembes ke seluruh penjuru dunia. Karena itu dalam perspektif sejarah modernisasi sering ditafsirkan sebagai suatu proses perubahan sosial

15

ekonomi dan politik yang berlangsung di negara pendahulu dan diikuti oleh Negara pengikut (Belling dan Totten, 1982). Schoorl (1984) menegaskan bahwa modernisasi sebagai proses perubahan sosial dapat diamati dari beberapa fenomena perubahan masyarakat seperti di bidang ekonomi, politik dan struktur sosial. Dalam bidang ekomomi terlihat berkembangnya industri dengan produk mesin, di bidang politik terlihat tumbuhnya birokrasi dengan ciri-ciri rasionalisasi organisasi. Sementara dalam struktur sosial terjadi pergeseran konsentrasi penduduk dari desa ke kota, pergeseran kelas-kelas sosial dalam arti kelas petani penyewa tanah, buruh tani miskin berkurang dan muncul kelas buruh industri, kelas intelektual dan

manajer. Dalam konteks modernisasi sebagai suatu bentuk perubahan sosial maka Ponsioen (1969) menyebutkan suatu masyarakat dikatakan mengalami perubahan sosial apabila dalam kelompok masyarakat sudah terjadi perubahan nilai-nilai, sikap dan perilaku. Program pengembangan masyarakat juga pada dasarnya adalah

perubahan sosial berencana yang menyangkut perubahan pola-pola hubungan masyarakat. Menurut Siagian (1982), program pengembangan masyarakat adalah rangkaian usaha pertumbuhan dan perubahan yang berencana yang dilakukan Negara suatu bangsa menuju modernitas di dalam rangka pembinaan bangsa. Dari penjelasan di atas pernyataan sulit membedakan pengertian antara konsep modernisasi dan program pengembangan masyarakat, karena kedua konsep tersebut berkembang dari ilmu-ilmu perilaku. Perbedaannya hanya sering ditekankan kepada aspek ruang lingkupnya saja yakni program pengembangan adalah arti yang lebih luas dari modernisasi.

16

Program pengembangan masyarakat bertujuan untuk meningkatkan tingkat hidup dan kesejahteraan masyarakat atau menaikkan mutu hidup rakyat dimana mutu hidup mempunyai arti derajat terpenuhinya kebutuhan dasar yang menjadi kebutuhan esensial bagi kehidupan manusia. Kebutuhan tersebut meliputi pangan, air bersih, pendidikan, perumahan (Soermarwoto, 1991). Dalam melaksanakan program pengembangan masyarakat, masingmasing Negara mempunyai strategi. Misalnya Philipina mengembangkan konsep kebutuhan dasar dalam perencanaan program pengembangan masyarakat sehingga lapisan miskin dapat memperoleh akses terhadap sandang, pangan, perumahan, kesehatan dan lain-lain. Sedangkan India melaksanakan strategi pengembangan lapangan kerja dengan asumsi peningkatan pendapatan dengan sendirinya meningkatkan kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan dasarnya (Mirsa dan Paratilla, 1980). Indonesia mengembangkan prinsip yang sama dengan India. Walaupun pemerintah membuat kebijaksanaan selalu berorientasi dengan pemenuhan kebutuhan dasar, tapi yang ditekankan adalah meningkatkan kemandirian masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasarnya. Sehubungan dengan modernisasi, di Indonesia sangat popular dengan istilah program-program pengembangan masyarakat khususnya dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Menurut Randabough dalam Frutchei (1973), program secara sederhana mencakup dua komponen utama yakni komponen perencanaan program dan komponen pelaksanaan program. Setiap program bertujuan merubah seperangkat sumberdaya untuk mencapai suatu hasil yang diinginkan melalui suatu rangkaian kegiatan (proses).

17

Mengingat sasaran program adalah manusia, maka berkembang konsep program pengembangan masyarakat yang diartikan sebagai suatu proses dimana semua usaha swadaya masyarakat digabungkan dengan usaha-usaha pemerintah atau swasta guna meningkatkan kondisi masyarakat di bidang ekonomi, sosial dan kultural dan mengintegrasikan masyarakat yang ada ke dalam kehidupan bangsa. Program pengembangan masyarakat yang idealnya adalah bersifat bottom up, atau inisiatif berasal dari masyarakat sendiri, namun diperlukan juga input dari pemerintah atau swasta. Masukan yang bersifat top down, diupayakan agar merangsang inisiatif dan usaha lokal melalui bantuan teknis, keuangan dan bantuan lainnya. Artinya kalaupun input program bersifat top down, namun

dalam pelaksanaannya diupayakan agar tidak menimbulkan ketergantungan masyarakat sasaran terhadap pihak luar (Bunc, 1991). Secara sosiologis, respon terhadap program pengembangan masyarakat dapat diartikan sebagai suatu bentuk perubahan sosial, karena bagaimana anggota masyarakat menanggapi ide-ide yang terkandung dalam program pengembangan merupakan suatu proses adaptasi. Dalam masyarakat sendiri terdapat perbedaan kemampuan menanggapi ide-ide program pengembangan sehingga bermanfaat untuk perbaikan tingkat kehidupan. Berbicara tentang respon dalam konteks program pengembangan masyarakat, maka pembahasannya tidak terlepas dari konsep sikap. Dikatakan demikian karena dalam program pengembangan masyarakat biasanya terkandung ide-ide baru, cara-cara baru atau sarana-sarana baru yang disebarkan ke dalam suatu masyarakat dengan harapan dapat mengubah cara berpikir dan cara bertindak masyarakat yang bersangkutan. Perubahan-perubahan tersebut

18

berlangsung dalam proses dan dapat diamati dalam perubahan sikap yaitu keadaan mental yang mendahului terjadinya tindakan-tindakan atau tanggapan (respon). Perubahan sikap dapat menggambarkan bagaimana respon seseorang terhadap obyek-obyek tertentu seperti pesan atau situasi-situasi lain (Gerungan, 1987). Dengan kata lain, bagaimana respon seseorang terhadap sesuatu dapat terobservasi dalam sikapnya. Sikap seseorang merujuk pada tingkat partisipasinya dalam suatu situasi, dalam hal ini yakni program pengembangan masyarakat. Sikap positif mengarahkan seseorang pada partisipasi aktifnya dalam program tersebut, sedangkan sikap negatif cenderung mengarahkan seseorang untuk berpartisipasi pasif atau tidak berkeinginan untuk berpartisipasi dalam program yang diselenggarakan. Sikap-sikap tersebut mencerminkan perbedaan tingkat partisipasi seseorang dalam suatu program. Lebih lanjut, diperlukan suatu

pemberdayaan untuk menindaklanjuti adanya tingkat partisipasi yang berbeda dari seseorang. Demikian juga bagaimana respon masyarakat nelayan terhadap programprogram pengembangan baik yang datang dari pemerintah maupun swasta akan terlihat dalam perubahan sikap. Biasanya suatu program yang berorientasi kepada aspirasi masyarakat akan menghasilkan respon positif yang terwujud dalam perubahan sikap yakni meninggalkan cara-cara lama dan menggunakan cara-cara baru. Individu yang memiliki respon positif dapat dikategorikan sebagai individu yang mampu memanfaatkan program pengembangan sehingga pada gilirannya berpengaruh terhadap kehidupan. Sebagian besar masyarakat nelayan di Indonesia masih menggunakan teknologi tradisional dalam hal menangkap ikan sehingga tingkat pendapatan dan

19

mutu kehidupan mereka masih rendah. Karena itu, Sejak Pelita I pemerintah sudah berusaha mengintrodusir program-program pengembangan masyarakat nelayan. Secara umum program-program pengembangan terbagi atas program ekonomi dan program kesejahteraan rakyat (Kesra). Program bidang ekonomi terkait kepada upaya peningkatan pendapatan masyarakat seperti pemberian kredit, penyuluhan pengembangan usaha, pengadaan fasilitas pemasaran produksi. Sedangkan program Kesra antara lain program kependudukan, pendidikan, kesehatan dan lingkungan. Kedua program diarahkan kepada peningkatan kualitas masyarakat semua lapisan bukan hanya lapisan atas. Demikian pula masyarakat nelayan yang relatif masih miskin dan

terbelakang, sudah diperkenalkan program-program dari pemerintah maupun swasta. Misalnya di bidang ekonomi, antara lain program pemberian kredit usaha penangkapan ikan (motorisasi), Pembangunan Pusat Pendaratan Ikan (PPI), Tempat Pelelangan Ikan (TPI), pengembangan organisasi koperasi (KUD Mina). Di bidang Kesra, pemerintah berusaha meningkatkan mutu kehidupan masyarakat dengan program perumahan nelayan, fasilitas pendidikan, kesehatan dan KB. Memang program tersebut bersifat top down, namun potensi dan aspirasi masyarakat lokal diharapkan dapat berkembang dengan program yang pada mulanya berasal dari atas. Dalam kenyataan, tidak jarang program-program tersebut masih hanya meningkatkan pendapatan dan mutu hidup hidup lapisan atas. Jangkauan program pembangunan yang belum ke seluruh lapisan masyarakat antara lain dapat disebabkan karena dalam pelaksanaan modernisasi di negara-negara berkembang, aspek teknis selalu lebih ditonjolkan sehingga tidak

20

jarang nilai-nilai baru yang terkandung dalam teknologi kurang sesuai dengan kondisi sosial budaya masyarakat dan anggapan masyarakat desa adalah homogen. Demikian juga kebiasaan-kebiasaan dan pola berpikir yang diharapkan dari masyarakat sebagai faktor pendukung modernisasi, tidak jarang diabaikan begitu saja. Sajogyo (1974) menyebutkan modernisasi teknologi pertanian dengan program Bismas ke pedesaan akan berhadapan dengan masalah perkembangan lembaga-lembaga sosial dan struktur pemilikan lahan yang timpang. Demikian juga program KB tidak mampu mengurangi rata-rata jumlah anak jika dalam memasyarakatkan norma-norma keluarga berencana kurang memperhatikan nilainilai sosial budaya masyarakat (Ginting, 1986). Berlangsungnya modernisasi melalui program pembangunan pedesaan, tidak terlepas dengan struktur sosial ekonomi masyarakat. Dalam beberapa kasus di negara berkembang, modernisasi terlalu menekankan aspek fisik, sedangkan aspek mental masih terabaikan (Dube, 1985) sehingga kalaupun program modernisasi berhasil meningkatkan pendapatan, namun yang paling menikmati adalah lapisan atas desa. Karena terlalu menekankan aspek teknis dalam pelaksanaan modernisasi, banyak proyek-proyek pembangunan di negara-negara berkembang tidak mencapai sasaran kepentingan lapisan miskin. Hal ini disebabkan, programprogram yang dilaksanakan kurang memperhitungkan partisipasi masyarakat baik dalam tingkat perencanaan maupun pelaksanaan (Chambers, 1988). Hal yang sama terjadi pada pengalaman pelaksanaan program pembangunan di Negara berkembang dimana kondisi sosial budaya masyarakat miskin luput dari program (Cernea, 1988).

21

Fakta-fakta di negara berkembang menunjukkan kurangnya pemahaman terhadap struktur sosial yang mendalam akibat strategi pembangunan yang mengejar pertumbuhan maka pembangunan desa kurang berhasil menyentuh kepentingan lapisan miskin pedesaan. Dalam perkembangan selanjutnya, pengertian pembangunan desa makin diperluas bukan terbatas pada arti sempit yakni proses penyebaran teknologi pertanian saja atau memodernkan struktur sosial tradisionil menjadi struktur sosial modern melalui hubungannya dengan unsur-unsur dari luar sehingga silkap-sikapbaru dan keterampilan-keterampilan baru dapat disebarkan. Di samping itu, pengembangan pedesaan harus ditinjau pada cakupan yang lebih luas bukan hanya aspek teknis, sosial dan kultural, tapi juga aspek politik dan kebijaksanaan lainnya. Karenanya ia mengartikan dinamika pedesaan merupakan proses yang membawa peningkatan kemampuan penduduk pedesaan untuk menguasai lingkungan sosialnya disertai peningkatan taraf hidup sebagai akibat penguasaan lingkungan sosial tersebut. Dinamika pedesaan dapat dilihat dari indikator proses pengembangan kemandirian masyarakat dan peningkatan pendapatan bukan hanya terbatas pada kelompok kuat, tapi merata diantara penduduk. Dalam hubungannya dengan program modernisasi alat penangkap ikan nelayan, dimensi sosial budaya sangat besar peranannya. Artinya masyarakat sebagai kelompok intervensi harus ditempatkan sebagai sumber informasi penyusunan rencana program dan pelaksana program. Dengan keterlibatan masyarakat dari tahap awal perencanaan, akan mendorong partisipasi dan tanggung jawab terhadap program (Conyer, 1990).

22

Richard

B. Polnac dalam Cernea, 1988 melaporkan, pola tempat

tinggal, keterasingan sosial, tingkat pendidikan, pembagian tenaga kerja merupakan aspek sosial budaya yang harus diperhitungkan dalam merancang suatu program pada masyarakat nelayan. Dengan demikian rekayasa sosial dan perubahan-perubahan yang diharapkan dari suatu program, sesuai dengan kondisi sosial budaya nelayan Beberapa faktor sosial budaya yang berkaitan erat dengan program perbaikan sosial ekonomi lapisan miskin antara lain ; 1. Pola budaya yakni bagaimana sistem kekerabatan masyarakat yang menjadi sasaran program seperti garis keturunan apakah patrilinial, matrilineal atau bilinial. Pola ini memberikan gambaran siapa yang mengambil keputusan dalam tingkat rumah tangga dan bagaimana keterlibatan perempuan dalam ekonomi rumah tangga. Dalam tanggapan terhadap buku Penny, Kemiskinan dan Sistem Pasar, Mangkuprawira (1986) menyebutkan, kaum Perempuan paling menderita dalam situasi keluarga yang miskin. 2. Kebutuhan masyarakat berdasarkan prioritas masyarakat itu sendiri karena suatu program akan lebih berhasil pelaksanaannya jika mampu menangkap kebutuhan masyarakat yang paling mendesak dan pelaksanaannya

diadaptasikan dengan kebiasaan-kebiasaan lokal. Misalnya, sikap terhadap terhadap teknologi penangkap ikan yang baru sangat ditentukan pola hubungan kerja antara awak perahu. Karena teknologi baru menghilangkan kesempatan kerja kaum kerabat, maka nelayan enggan mengikuti program motorisasi (Polnac dalam Cernea, 1988). Penyaluran kredit yang hanya mempertimbangkan kelayakan ekonomis mengakibatkan fasilitas kredit

23

pedesaan hanya menjangkau rumahtangga pedagang, sedangkan rumah tangga miskin sulit dijangkau oleh lembaga perkreditan formal, semi formal dan non formal (Tim Program Kredit Pedesaan Yayasan Indonesia Sejahtera, 1988 dan Mubiarto (ed), 1990). 3. Pandangan masyarakat tentang kehidupan yakni apakah dalam masyarakat terdapat sifat fatalistik, kurang kerja keras, sifat hemat dan tradisi-tradisi lain yang menghambat atau mendukung program yang direncanakan. 4. Organisasi sosial seperti koperasi dikelola dengan kondisi sosial budaya lokal. Masyarakat nelayan tidak terbiasa menyisihkan pendapatan dalam ukuran setiap bulan (Polnac dalam Cernea, 1988). Faktor-faktor tersebut di atas akan mempengaruhi integrasi suatu program kepada masyarakat nelayan. Suatu program dikatakan telah terintegrasi ke dalam masyarakat jika perubahan-perubahan yang direncanakan dalam kenyataan dapat berhasil dan tidak menimbulkan masalah baru (Niehoff, 1976). Artinya program tersebut dapat dinikmati seluruh lapisan masyarakat yang terkena program dan bukan menimbulkan proses kemiskinan pada sebagian lapisan masyarakat. Dari beberapa hasil penelitian yang diuraikan dalam tinjauan teoritis di atas, terungkap bahwa masuknya program pembangunan di bidang ekonomi dan Kesra, ternyata mendapat respon (kemampuan memanfaatkan) yang berbeda antara rumahtangga nelayan lapisan atas (SEE Tinggi) dan lapisan bahwa (SEE rendah). Hal ini berhubungan dengan beberapa faktor yakni pelaksanaan program penyaluran kredit dan motorisasi alat penangkapan ikan belum merata, serta perbedaan kemampuan meningkatkan pendidikan anak dan kemauan

24

mengendalian jumlah anggota keluarga. Berbagai faktor tersebut terkait erat dengan aspek sosial budaya yang terdapat dalam setiap rumah tangga. Misalnya kredit dari pemerintah dianggap bantuan cuma-cuma, anak dianggap sebagai jaminan hari tua, kegiatan seremonial dengan mengkonsumsi barang dan makanan yang menjurus kepada pola hidup konsumtif. Faktor sosial budaya tersebut juga mempengaruhui respon terhadap rumah tangga nelayan terhadap program-program yang ada sehingga pada gilirannya rumah tangga yang memiliki faktor sosial budaya yang mendukung, akan mampu meningkatkan pendapatan sehingga tidak tergolong ke dalam rumah tangga miskin yang diukur secara absolut. Namun ukuran kemiskinan menurut perspektif lokal juga akan dilakukan sebagai pembandingan ukuran absolut tersebut. Kemiskinan absolut maupun relatif dapat disebabkan berbagai macam faktor, namun dalam penelitian ini dibatasi pada faktor struktur kegiatan produksi dan pemasaran serta faktor mental atau budaya lokal. Struktur kegiatan produksi dan pemasaran yang menyebabkan kemiskinan tampak dari munculnya pola hubungan patron klien yang bersifat eksploitatif. Misalnya pinjaman yang diberikan tauke kepada nelayan. Hanya sebatas keperluan melaut, sedangkan proteksi tauke terhadap kebutuhan rumahtangga yang mendesak semakin berkurang sehingga nelayan terpaksa berhubungan dengan rentenir. Aspek sosial budaya yang menyebabkan kemiskinan, tampak pada pola-pola hidup rumah tangga yang konsumtif pada musim ikan, belum menggunakan waktu luang untuk kegiatan produktif dan terbatasnya sumber pendapatan di luar perikanan.

25

Untuk

mengoperasionalisasikan

faktor-faktor

yang

ingin

dilihat

hubungannya secara kualitatif maka perlu dibuat ukuran operasional sebagai berikut : Status Sosial Ekonomi adalah kedudukan yang membedakan nelayan atas pemilikan alat produksi, sawah, warung, rumah (permanen, semi permanen, darurat), status isteri (bekerja atau tidak bekerja) kedudukan dalam kegiatan menangkap ikan (juragan, pelempar jaring). Berdasarkan ukuran itu dapat ditentukan mana rumah tangga nelayan yang dikategorikan memiliki status sosial ekonomi (SSE) rendah dan rumahtangga nelayan yang mempunyai SSE tinggi. Ukuran SSE itu adalah : memiliki perahu motor dengan usaha sendiri, memiliki perahu motor karena kredit, memiliki perahu dayung, mengoperasikan perahu milik tauke, tidak memiliki perahu, memiliki sawah di luar dusun, memiliki warung, tidak memiliki warung, rumah permanen, rumah semi permanen, rumah darurat, isteri bekerja menambah nafkah keluarga, isteri tidak bekerja, juragan, pelempar jaring. Sedangkan Program-Program Pembangunan adalah program di bidang ekonomi dan Kesra yang ada di lokasi penelitian. Program di bidang ekonomi adalah program yang berupaya meningkatkan pendapatan rumah tangga masyarakat nelayan. Dalam hal ini, program yang dimaksud adalah : kredit usaha dari KUD dan BRI . Program di bidang Kesra adalah program pemerintah yang berhubungan dengan peningkatan mutu kehidupan masyarakat nelayan yakni pembangunan fasilitas pendidikan, kesehatan dan Keluarga Berencana (KB). Tingkat respon terhadap program pembangunan bidang ekonomi dan Kesra menunjukkan kepada kemampuan rumah tangga nelayan mengambil

26

manfaat dari program pembangunan. Ukuran yang digunakan untuk mengukur respon terhadap program pembangunan bidang ekonomi dan Kesra adalah pemanfaatan Puskesmas (berobat ke Puskesmas, berobat di luar Puskesmas), pemanfaatan fasilitas Sekolah Dasar yang di bangun pemerintah (menyekolahkan anak di SD desa, tidak menyekolahkan anak), pengetahuan dan sikap terhadap program KB (pernah mendengar program KB, setuju dan menggunakan alat kontrasepsi, pernah mendengar program KB, tidak setuju, frekuensi mendapat kredit (pernah mendapat kredit dan tidak pernah mendapat kredit). Ukurannya adalah : berobat ke Puskesmas, berobat di luar Puskesmas, menyekolahkan anak di SD Desa, tidak menyekolahkan anak, pernah dengar KB, setuju dan menggunakan alat kontrasepsi, pernah dengar KB, setuju, tidak menggunakan alat Kontrasepsi, pernah dengar KB, tidak setuju, tidak pernah dengar KB, pernah mendapat kredit, tidak pernah mendapatkan kredit, pernah mohon kredit dan berhasil, pernah memohon kredit dan tidak berhasil, tidak pernah memohon kredit. Tingkat Kesenjangan Sosial adalah perbedaan sosial antara nelayan lapisan atas dan nelayan lapisan bawah berdasarkan jarak sosial (sikap tolongmenolong dan sikap bermusuhan dengan tetangga). Ukuran yang digunakan untuk menentukan sikap tolong-menolong adalah sikap yang dilakukan pada saat tetangga mengalami kesusahan (membantu dalam bentuk : uang, tenaga, kesempatan kerja atau tidak menolong). Ukuran sikap bermusuhan adalah pengalaman bertengkar dengan tetangga (bertengkar karena pinjaman tidak dikembalikan atau tidak mengembalikan pinjaman dan tidak pernah bertengkar).

27

2.6

Kerangka Pemikiran Partisipasi perempuan dalam pembangunan diwujudkan dengan adanya

pemberian kesempatan kepada perempuan untuk terlibat secara aktif (akses) dan memiliki kesempatan juga untuk mengemukakan sekaligus mengambil keputusan atau kebijakan (kontrol) yang cukup prioritas menjadi program pembangunan. Pada dasarnya, perempuan selama ini sudah berpartisipasi dalam programprogram pembangunan yang sebelumnya diselenggarakan. Akan tetapi, berdasarkan hasil analisis masalah gender menunjukkan adanya berbagai kesenjangan. Hal ini diketahui melalui uraian hasil identifikasi kondisi akses dan kontrol perempuan khususnya pada program pembangunan terdahulu. Lebih lanjut, untuk mendukung hasil identifikasi tersebut, maka diperlukan adanya suatu evaluasi terhadap program yang telah diselenggarakan dan pengkajian kembali karakteristik perempuan pada masyarakat setempat. Merujuk pada ketiga hasil analisis di atas, maka program yang akan diselenggarakan dapat disusun dengan lebih prosedural dan tepat sasaran melalui berbagai tahapan metode. Dengan serangkaian proses penyusunan program tersebut lebih lanjut dapat dirumuskan suatu penyelenggaraan program yang ditujukan dalam upaya peningkatan partisipasi perempuan dalam pemberdayaan masyarakat nelayan. Kerangka pemikiran tersebut tertuang dalam Gambar 2 dibawah ini.

28

Evaluasi Program (bantuan jaring dan tambak udang) Top down Kurang memperhatikan potensi lokal Kurang melibatkan partisipasi Perempuan

Identifikasi kondisi akses dan kontrol perempuan Peran sebagai pendukung suami Suami sebagai pengambil kebijakan Kurang produktif pada waktu luang

Proses penyusunan Program Metode analisis stakeholder Identifikasi potensi, permasalahan dan kebutuhan perempuan Penyusunan program kerja Evaluasi dan pelaporan

Penyusunan Program upaya peningkatan partisipasi perempuan dalam pemberdayaan masyarakat nelayan

Karakteristik perempuan dalam masyarakat nelayan Jenis pekerjaan Tingkat pendidikan Akses kelembagaan Pengsuasaan aset produksi Pemasaran hasil

Gambar 2. Kerangka Pemikiran Kajian Mengenai Upaya Peningkatan Partisipasi Perempuan Dalam Program Pengembangan Masyarakat Nelayan

BAB III METODOLOGI KAJIAN

3.1

Waktu dan Lokasi Kajian pengembangan masyarakat melalui Praktek Kerja Lapangan I

maupun II ini berlangsung sejak bulan Mei-Oktober 2002 di Desa Meskom Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, Propinsi Riau. Pengumpulan data dilakukan terutama dengan cara observasi, wawancara mendalam dan dilengkapi dengan studi kasus. Alasan Desa Meskom yang dipilih sebagai lokasi kajian adalah : 1. Desa Meskom tersebut merupakan desa nelayan yang potensial dan terpenting di Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, Propinsi Riau, yang letaknya tidak berapa jauh dari ibukota Kabupaten dan Kecamatan, sehingga berdasarkan pertimbangan dana dan waktu, kajian ini dapat dilaksanakan. Disamping itu memang pernah dilakukan praktek kerja lapangan I dan II penulis di sana beberapa bulan yang lalu, secara berulang-ulang, sehingga menambah akuratnya data kajian. 2. Desa Meskom yang merupakan desa pantai sudah pernah mendapat program pengembangan masyarakat nelayan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Bengkalis. 3. Walaupun dekat dengan pusat pemerintahan Kabupaten, perekonomian masyarakat nelayan desa Meskom masih dapat dikategorikan relatif

rendah atau miskin, terutama dilihat dari kondisi perumahan, pendidikan anak, tingkat gizi masyarakatnya dan teknologi alat tangkap yang masih sederhana.

30

3.2

Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data primer dilakukan melalui teknik-teknik sebagai

berikut : 1. Partisipasi observasi yaitu bertempat tinggal di lokasi kajian selama

beberapa hari dari target waktu lima (5) bulan yang telah ditetapkan sehingga dapat memperoleh data-data mengenai : peta sosial Desa Meskom, programprogram pengembangan masyarakat nelayan yang telah diintrodusir ke Desa Meskom dan partisipasi perempuan dalam program pengembangan

masyarakat nelayan Desa Meskom, sebanyak-banyaknya. 2. Melakukan wawancara mendalam terhadap masyarakat dan ibu rumah tangga nelayan Desa Meskom yang telah ditetapkan sebagai kasus. Masyarakat dan ibu rumah tangga nelayan yang dijadikan kasus dipilih berdasarkan pertimbangan umur dan pengalaman terhadap program

pengembangan masyarakat nelayan di Desa Meskom, misalnya program motorisasi dan pengorganisasian penerimaan bantuan. Selain itu, perempuan nelayan yang dipilih berdasarkan kemampuan berkomunikasi dengan peneliti sehingga dapat menyampaikan informasi yang relevan. Informasi yang digali sebagai penguat dan tambahan dari ketiga unsur pokok kajian di atas, yaitu : peta sosial, program pengembangan masyarakat dan partisipasi perempuan dalam program pengembangan masyarakat nelayan Desa Meskom. 3. Instrumen yaitu melakukan kajian dengan memakai alat-alat yang berhubungan erat dengan masalah yang akan diteliti dan untuk sebagai

31

pembuktian secara fisik, misalnya dengan memakai kamera dan alat rekaman yang memadai. Sedangkan data sekunder dikumpulkan dengan cara : 1. Studi Kepustakaan yaitu membaca literatur, laporan penelitian atau jurnal ilmiah yang relevan dengan masalah yang akan dikaji. 2. Dokumentasi yaitu mempelajari data-data sekunder di kantor instansi pemerintah yang terkait seperti : PMD, KUD, Dinas Perikanan, TPI dan lainlain sebagainya.

3.3

Pengolahan Data Data yang telah dikumpulkan, baik yang berasal dari data primer

maupun data sekunder, dipilah-pilah, dikategorikan dan dikelompokkan sesuai dengan keterkaitan masing-masing data yang dibutuhkan, selanjutnya dilakukan analisis secara deskriptif. Dalam analisis data-data tersebut dihubungkan dengan landasan teoritis yang telah dikemukakan, kemudian dihubungkan pula dengan pokok permasalahan yang akan dianalisis. Selanjutnya dilakukan analisis secara mendalam terhadap hal menjadi pokok permasalahan.

3.4

Metode Penyusunan Program Metode penyusunan program dalam kajian ini dilakukan dengan cara

sebagai berikut: a. Metode menggali aspirasi berbagai pihak berkepentingan, untuk menggali informasi dan aspirasi dari berbagai pihak berkepentingan, digunakan metode analisis stakeholder. Metode ini melibatkan beragam stakeholder, pejabat

32

pemerintah lokal, instansi terkait dan pengusaha tambak udang. Analisis stakeholder tersebut dilakukan sebagai tahap awal pengenalan terhadap lokasi kajian serta untuk memahami keadaan sosial masyarakat Desa Meskom. Diharapkan dengan informasi awal dari beragam stakeholder ini mampu memberikan kemudahan dalam melakukan kajian berikutnya sehingga dapat melakukan check and recheck dengan masyarakat langsung. b. Terdapat 3 tahapan penting dalam penyusunan program yaitu : (1) Identifikasi potensi, permasalahan dan kebutuhan pembangunan masyarakat. Identifikasi potensi, permasalahan dan kebutuhan pembangunan masyarakat meliputi kuantitas dan kualitas potensi sosial, permasalahan sosial dalam pembangunan masyarakat, kondisi-kondisi yang

menyebabkan terjadinya permasalahan sosial, tingkat kebutuhan dasar masyarakat. (2) Penyusunan Program Kerja. Penyusunan program dilakukan dengan menerapkan Participatory Rural Appraisal (PRA) yang berbasiskan pada potensi, permasalahan dan kebutuhan masyarakat yang memuat hal-hal seperti masalah, tujuan, kegiatan, pelaksana, penanggung jawab, pendukung, waktu, bahan, sarana dan peralatan, perkiraan biaya, serta keterangan. Penyusunan program ini dilaksanakan dengan melibatkan semua pihak. Tahap pertama setelah identifikasi permasalahan dan mengenali potensi daerah Desa Meskom dilakukan brainstorming dengan seluruh lapisan masyarakat mulai dari tokoh-toko masyarakat dari pemerintahan desa ataupun tokoh non-formal, pihak lain yaitu masyarakat sendiri yang berkepentingan termasuk para pengusaha tambak udang. Pada pertemuan

33

ini dikumpulkan sebanyak mungkin ide-ide dan keinginan masyarakat kemudian dilakukan penyaringan tentang keinginan-keinginan dari masyarakat tersebut dengan skala prioritas. Setelah mempertimbangkan beberapa hal barulah diputuskan program-program yang akan

dilaksanakan di Desa Meskom, diharapkan dengan partisipasi aktif masyarakat seperti ini maka kebutuhan-kebutuhan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan dapat terwujud. (3) Evaluasi dan pelaporan Evaluasi dapat mencakup 2 aspek yaitu evaluasi penerapan rencana kegiatan bersama masyarakat dan evaluasi penerapan kegiatan

antara fasilitator dengan lembaga pengembang.

34

BAB IV PETA KOMUNITAS SOSIAL DESA MESKOM

4.1 Lokasi Desa Meskom merupakan sebuah desa yang terdapat dalam Kecamatan Bengkalis Propinsi Riau, dengan batas wilayah sebelah utara berbatasan dengan Selat Malaka, sebelah selatan berbatasan dengan Selat Bengkalis, sebelah barat berbatasan dengan Perairan Dumai dan sebelah timur berbatasan dengan Desa Teluk Latak. Secara geografis Desa Meskom merupakan daerah pesisir dengan topografinya merupakan tanah datar, terletak pada ketinggian dua meter dari permukaan laut, dengan suhu udara rata-rata 33 derajat celcius sampai 36 derajat celcius. Desa Meskom terdiri dari empat dusun, yaitu Dusun Perapat, Dusun Meskom Tengah dan Dusun Simpang Merpati. Jarak pusat pemerintahan desa dengan Ibukota Kecamatan adalah 10 kilometer dan Ibukota Kabupaten adalah 11 kilometer. Warga Masyarakat Desa Meskom yang pergi ke kota Bengkalis untuk berbelanja, berdagang, atau bekerja umumnya menggunakan kendaraan sepeda motor dan sebagian lagi menggunakan sepeda.

4.2

Pendidikan Berdasarkan data yang diolah dari monografi desa diperoleh gambaran

tingkat pendidikan penduduk Desa Meskom yang pada umumnya relatif rendah.

35

Sebagian besar penduduk adalah tidak tamat Sekolah Dasar/tamat Sekolah Dasar (68,15 persen). Rendahnya tingkat pendidikan penduduk tampaknya oleh karena masih relatif rendahnya apresiasi orang tua terhadap pendidikan formal bagi anakanak mereka. Bagi orang tua, pendidikan tidak begitu diperlukan bila hanya bekerja sebagai nelayan, yang terpenting adalah kekuatan fisik dan keterampilan untuk menangkap ikan. Di samping itu faktor tidak tersedianya sekolah,

terutama sekolah lanjutan pertama di Desa Meskom menyebabkan banyaknya anak-anak tidak dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan lanjutan. Secara rinci gambaran keadaan pendidikan penduduk Desa Meskom dari setiap Dusun dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Distribusi Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan Desa Meskom Tahun 2002
Tingkat Pendidikan Belum sekolah TT.SD/TSD SLTP SLTA AKADEMI/PT Jumlah P. Tunggal 254 677 24 19 9 983 Dusun M. Tengah 195 469 27 18 8 717 S. Merpati 204 422 26 19 12) 683 S. Ayam 193 514 28 20 2 757 Jumlah (jiwa) Persentase

846 2082 105 83 31 3140

26.94 64.59 4.84 2.64 0.99 100

Sumber : Data olahan dari monografi Desa Meskom 2002

Dari empat Dusun yang diteliti berdasarkan Tabel 1 ternyata hampir semua penduduk di setiap Dusun mempunyai tingkat pendidikan penduduk yang relatif sangat rendah. Hampir sebagian besar penduduk hanya tamat SD/tidak tamat SD. Berturut-turut Dusun Perepat Tunggal (68,77 persen), Simpang Ayam (67,89 persen) Meskom Tengah (65,41 persen) dan Simpang Merpati (61,78 persen).

36

Kemauan atau minat anak-anak nelayan serta kemampuan keluarga nelayan melanjutkan sekolah jenjang pendidikan yang lebih tinggi dapat dikatakan masih kurang. Terlihat persentase anak-anak nelayan yang sedang sekolah ditingkat SMU sangat kecil, yakni hanya sebesar 2,64 persen. Di samping itu terdapat persentase anak-anak yang putus sekolah (drop out) yakni sebesar 5,33 persen.

4.3

Kependudukan Secara umum penduduk Desa Meskom dijabarkan dalam Tabel 3.

Penduduk dibagi berdasarkan kelompok umur dan jenis kelamin.


Tabel 2. Jumlah Penduduk Desa Meskom menurut kelompok Umur dan Jenis Kelamin Tahun 2002.
Kelompok Umur Laki laki Jiwa 04 59 0 14 15 19 20 24 25 29 30 34 35 39 40 44 45 49 50 54 55 59 60 64 65 69 70 74 75 + Total 79 77 99 76 100 88 59 114 117 46 39 30 24 12 13 3 1613 persen 4.16 4.05 5.21 4.00 5.27 4.63 3.10 6.00 6.16 2.42 2.05 1.58 1.26 0.63 0.68 0.02 100 Perempuan Jiwa 62 97 63 102 98 113 102 107 95 27 11 19 6 13 5 3 1517 persen 3.26 5.10 3.31 5.37 5.16 5.95 5.37 5.63 5.00 1.42 0.58 1.00 0.03 0.68 0.26 0.16 100 Jiwa 141 174 162 178 198 201 161 221 212 73 50 49 30 25 18 6 3140 Jumlah persen 7,43 9,17 8,53 9,38 10,43 10,59 8,48 11,64 11,17 3,85 2,64 2,58 1,58 1,32 0,95 0,32 100

37

Tabel 2 menunjukkan bahwa jumlah penduduk yang tergolong kelompok umur kurang dari 15 tahun berjumlah 25,12 persen, 15 64 tahun 72,31 persen dan 65 keatas 2,58 persen. Besarnya persentase penduduk pada usia produktif diperkirakan karena faktor migrasi masuk. Keadaan struktur umur penduduk tersebut akan mempengaruhi perkembangan kehidupan para nelayan khususnya dalam hal jumlah nelayan. Jumlah rumah tangga di Desa Meskom pada tahun 2002 adalah sebanyak 365 KK dengan jumlah penduduk 3140 orang. Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk tahun 2001 sebanyak 2082 orang, maka terjadi penambahan penduduk sebanyak 128 orang, dengan demikian laju perkembangan penduduk adalah 6,77 persen per tahun. Sebagian besar penambahan penduduk tersebut disebabkan oleh migrasi masuk. Ditinjau dari komposisi penduduk, penduduk laki-laki lebih banyak dibandingkan dengan penduduk perempuan. Penduduk laki-laki 1613 orang dan penduduk perempuan berjumlah 1571 orang. Rasio jenis kelamin relatif agak tinggi yaitu 106 yang artinya di Desa Meskom setiap 100 orang perempuan terdapat 106 orang laki-laki Dilihat dari etnis, masyarakat Desa Meskom sebagian besar merupakan masyarakat melayu, namun ada sebagian masyarakat yang merupakan masyarakat pendatang seperti misalnya pendatang dari Cina atau dari daerah-daerah lain di luar Riau. Keberadaan masyarakat pendatang ini sudah lama, sehingga sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat asli, namun kondisi sosial masyarakat pendatang umumnya lebih baik dibandingkan dengan masyarakat pribumi. Para tauke umumnya merupakan masyarakat golongan Cina atau

38

masyarakat pendatang lain. Dari sisi agama, masyarakat Desa Meskom sebagian besar (lebih dari 90 persen) beragama Islam dan sisanya beragama Kristen, Budha. Konflik sosial atas perbedaan suku dan agama diantara warga masyarakat belum pernah muncul di Desa Meskom. Untuk mengukur angkatan kerja dapat dilihat dengan menggunakan kelompok usia untuk menilai apakah seseorang termasuk angkatan kerja atau bukan angkatan kerja. Reit Partisipasi angkatan kerja adalah 60,94 persen dan Reit pengangguran sebesar 6.34 persen. Angkatan kerja penduduk pada usia 15 tahun ke atas di Desa Meskom terlihat pada Tabel 3. Pada bagian berikut akan diuraikan lebih rinci tentang mata pencaharian penduduk.
Tabel 3. Jumlah Penduduk Berumur 15 Tahun Ke atas menurut jenis Kegiatan di Desa Meskom Tahun 2002 No Jenis Kegiatan Jumlah (jiwa) Persentase (persen) 1. Bekerja 561 57,07 2. Mencari Pekerjaan 38 3,87 3. Sekolah 113 11,50 4. Lainnya 271 27,57 983 100,00 Jumlah Sumber Data : BPS Kabupaten Bengkalis, Tahun 2002.

Tabel 4. Jumlah Penduduk Desa Meskom menurut Mata Pencaharian Tahun 2002 No Mata Pencaharian Jumlah (jiwa) Persentase (persen) 1. Pertanian 220 39,21 2. Nelayan 128 22,82 3. Wiraswasta 88 15,69 4. Karyawan Perusahaan 24 4,28 5. Keterampilan Kayu 43 7,66 6. Keterampilan Batu 21 3,74 7. Keterampilan Elektro 7 1,25 8. Keterampilan Las 6 1,07 9. PNS 13 2,32 10. Lain-lain 11 1,96 561 100,00 Jumlah Sumber Data : Monografi Desa Meskom

39

Penduduk Desa Meskom sebagian besar bermata pencaharian sebagai nelayan dan petani (tanaman pangan dan perkebunan). Disamping itu terdapat juga sebagai buruh bangunan, pedagang dan lainnya. Komposisi penduduk berdasarkan mata pencaharian secara umum dapat dilihat pada Tabel 4.

4.4

Sistem Ekonomi

a. Pertanian Masyarakat yang bekerja sebagai petani mengusahakan lahan yang dikuasainya berupa kebun karet, kelapa dan tanaman palawija. Lahan ini dapat berupa tanah milik sendiri maupun yang dipinjam pakai dari pihak lain. Di samping itu terdapat pula sejumlah warga masyarakat yang memiliki tanah yang luasnya sangat kecil dan bahkan ada yang tidak memiliki lahan. Usaha perkebunan karet yang merupakan usaha yang dikelola oleh sebagian besar warga masyarakat, dilakukan secara tradisional baik menyangkut pengelolaan tanah, pola tanam dan pemeliharaan, serta sistem pengelolaan hasil dan pemasarannya. Pada daerah kajian, mayoritas petani yang melaksanakan kegiatan usaha tani adalah laki-laki, sedangkan perempuan hanya membantu dalam penanaman, penyiangan dan pemanenan. Hal ini disebabkan laki-laki menganggap pekerjaan menanam tersebut memerlukan keterampilan dan ketelitian yang tinggi, sehingga kebiasaan tersebut hanya sesuai dikerjakan oleh perempuan. Selain itu, juga disebabkan oleh kebiasaan di daerah tersebut bahwa laki-laki lebih banyak bekerja di kebun dari pada perempuan. Komoditi perkebunan yang ada di Desa Meskom yang diminati dan diusahakan oleh masyarakat antara lain adalah kelapa, kopi dan karet. Pemasaran

40

komoditi perkebunan tidak hanya secara lokal tetapi sudah ke luar desa, antar kabupaten, bahkan sudah dibawa ke Negara Malaysia melalui perdagangan lintas batas. Untuk mengetahui luas areal, jumlah petani dan produksi perkebunan di Desa Meskom dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Luas Areal Perkebunan dan Jumlah Petani serta Produksi Desa Meskom Tahun 2002 No Komoditi Luas Areal Jumlah Petani Produksi (Ha) (orang) 1 Karet 486 207 356 ton 2 Kelapa 290 164 1.496 ton 3 Sagu 35 6 180 ton Sumber Data : Monografi Desa Meskom
.

Pada Tabel 5 terlihat bahwa potensi ekonomi lokal di Desa Meskom

adalah perkebunan karet dan kelapa, kerena areal perkebunan yang paling luas adalah lahan perkebunan kelapa dan karet, sedangkan untuk komoditi sagu lahannya lebih sedikit karena tumbuh secara alamiah saja.

b. Perikanan Status nelayan Desa Meskom dapat dikelompokkan menjadi dua kategori, yakni buruh nelayan yang bekerja pada nelayan pengusaha dan nelayan pemilik yakni nelayan yang menangkap ikan menggunakan sarana penangkapan (alat dan armada penangkapan) sendiri. Untuk lebih jelasnya distribusi nelayan menurut status di Desa Meskom dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Jumlah Rumahtangga Menurut Status Pekerjaan Nelayan Di Desa Meskom Tahun 2002 Status Jumlah Rumah Tangga Persentase Nelayan 46 51,69 Juragan (Tauke) 43 48,31 Jumlah 89 100 Sumber : Monografi Desa Meskom.

41

Sebagian besar 51,69 persen termasuk di dalamnya buruh nelayan di Desa Meskom sisanya 48,31 persen merupakan juragan (tauke). Kegiatan nelayan dalam mengoperasikan alat tangkap mereka bersifat rutinitas yang dipengaruhi oleh faktor musim. Dalam satu tahun terdapat musim-musim intensitas pengoperasian yang lebih tinggi dan intensitas yang rendah. Biasanya musim melaut dilakukan pada bulan Oktober hingga Maret karena kondisi alam yang memungkinkan untuk melaut, misalnya angin yang terlalu kencang untuk melaut, sementara untuk bulan-bulan lainnya sebagian besar masyarakat tidak melaut tapi melakukan pekerjaan-pekerjaan lainnya seperti berdagang, buruh, bertani dan lain-lain. Di samping itu kegiatan menangkap ikan tersebut sangat dipengaruhi oleh jenis alat tangkap dan armada penangkapan yang mereka miliki. Jenis alat tangkap yang dimiliki oleh nelayan Meskom adalah jaring

tangsi, jaring udang, sondong/langgai. Untuk lebih jelasnya gambaran jenis alat tangkap yang dimiliki oleh nelayan Meskom dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Jenis dan Alat Tangkap Yang Dimiliki oleh Nelayan Desa Meskom Tahun 2002 Jenis Alat Tangkap Jumlah (Unit) Persentase Jaring Tangsi 1215 94,55 Jaring Udang 60 4,67 Sondong/ Langgai 10 0,78 Jumlah 1285 100 Sumber : Monografi Desa Meskom.

Jumlah alat tangkap ikan yang terbanyak di Desa Meskom adalah jaring tangsi, yakni sebanyak 1215 unit (94,55 persen) diikuti oleh alat tangkap jaring udang yakni sebanyak 60 unit atau (4,67persen). Armada penangkapan ikan yang umumnya digunakan oleh nelayan berkekuatan 2,5-18 GT (Gross Tonase) dan pompong dengan bobot 1-2 GT dengan menggunakan tenaga penggerak mesin 7-16 PK. Di samping itu juga ada

42

nelayan yang menggunakan sampan dayung untuk mengoperasikan alat tangkapnya. Untuk lebih jelasnya gambaran armada penangkapan di Desa Meskom dapat di lihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Jumlah Dan Jenis Armada Penangkap Ikan Desa Meskom Menurut Perahu Tahun 2002 Jenis Armada Jumlah Persentase Kapal Motor 37 41,57 Pompong 52 58,43 Jumlah 89 100 Sumber : Monografi Desa Meskom, 2002.

Jumlah armada penangkapan ikan yang terbanyak di Desa Meskom adalah pompong sebesar 58.43 persen, lainnya merupakan kapal motor, sebesar 48,43persen. Sedangkan jika dilihat produksi hasil perikanan khusus dari hasil laut mulai tahun 1998 hingga 2004 mengalami fluktuasi dan untuk budidaya di kolam hanya tercatat dua tahun saja yaitu tahun 1998 dan tahun 1999 sedangkan untuk tambak dan keramba jaring apung baru mulai berjalan pada tahun 2000 hingga saat ini. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 9. Produksi Perikanan Kecamatan Bengkalis Tahun 1998 2004 (ton)
Tahun 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 Penangkapan Laut 2.133 2.150 756 900 900 900 3.825 Kolam 358.8 358.8 Budidaya Tambak KJA Jumlah 2,492.4 2.508 818.5 1,166.5 900 996 3,932.20

62.5 135.15 95.60 107.2

131.5 65.75

Sumber : Monografi Desa Meskom 1998-2004

Pada umumnya daerah penangkapan (fishing ground) perikanan tangkap dengan menggunakan alat tangkap jaring (jaring hanyut, jaring kurau/bawal dan jaring Apollo) berada di sekitar perairan selat Malaka, sedangkan alat tangkap lain seperti gombang, pengerih dan rawai terletak di sekitar perairan selat Bengkalis. Data hasil penelitian Tim Peneliti Pusat penelitian Kawasan Pantai dan Perairan Lembaga Penelitian Universitas Riau (Juli 1999), menunjukan angka

43

kelebihan tangkap (over fishing) pada masing-masing spesifikasi alat tangkap. Untuk alat tangkap jaring hanyut dan Maximum Sustainable Yield (MSY) optimal sebesar 1.137,16 kg dengan jumlah penangkapan optimal 16 unit, untuk gombang MSY 2.969,61 kg dengan penangkapan optimal 5 unit, untuk rawai MSY 6.201,16 kg dengan penangkapan optimal 30 unit, dan untuk jaring Apollo (trammel net) MSY 12.091,71 kg dengan penangkapan optimal 16 unit. Eko (1999) mengatakan, dasar pantai Meskom adalah pasir berlumpur sangat cocok untuk budidaya ikan dalam keramba dan jaring apung. Jenis ikan yang sangat cocok dibudidayakan adalah ikan kakap putih. Di samping itu budidaya udang widu dapat dikembangkan di Desa Meskom ini. Sejauh ini potensi budidaya perikanan di Desa Meskom belum menunjukan perkembangan yang baik. Sampai saat ini baru dikembangkan tambak udang seluas satu hektar milik Kho Peng. Aktifitas perekonomian masyarakat Desa Meskom yang berhubungan dengan sektor perikanan sangat minim karena keseluruhan pemasaran hasil tangkapan nelayan dikumpulkan pada beberapa orang tauke yang langsung memasarkan hasil tangkapan tersebut kepada konsumen baik melalui pasar ataupun ekspor. Pola pemasaran perikanan di Desa Meskom mempunyai ciri-ciri yang spesifik, tergantung dari pola penguasaan asset produksi perikanan dan jenis komoditas perikanan yang dihasilkan. Rantai pemasaran hasil perikanan dipengaruhi oleh kepemilikan asset. Asset yang dimiliki sendiri, bentuk pola pemasarannya lebih fleksibel dan dengan demikian harga jual dan mekanisme pasar akan lebih kompetitif. Untuk kepemilikan asset perikanan yang berasal dari pinjaman tauke atau hanya sebagai pihak pengelola, mekanisme pasarnya

44

cenderung monopolistik, harga jual sepenuhnya ditentukan oleh tauke dan tidak berdasarkan harga pasar. Mayoritas tauke berjenis kelamin laki-laki, adapun kegiatan pemasaran ini pada umumnya dilakukan oleh kaum perempuan. Akan tetapi segala bentuk kebijakan transaksi didasarkan atas kebijakan suami, baik pengambilan keputusan, pemilihan tauke maupun harga jual hasil tangkapan. Jenis komoditas yang dihasilkan dapat pula membentuk pola pemasaran hasil perikanan yang berbeda. Jenis-jenis komoditas perikanan kualitas ekspor seperti ikan tenggiri, kurau, bawal (Coloscoma sp), udang putih (Penaus sp) dan beberapa jenis ikan lain, pola pemasaran biasanya dijual pada penampung tunggal khusus untuk ekspor. Jenisjenis ikan dan udang yang berasal dari alat tangkap pengerih yang diolah dalam bentuk asin maupun tawar seperti udang rebon, bulu ayam, gelebei, lomek dan ebi, biasanya dijual kepada pedagang pengumpul untuk dijual di pasar luar seperti Dumai dan Pekanbaru. Dilihat dari rantai pemasaran hasil perikanan di Desa Meskom relatif pendek, namun porsi yang diterima nelayan sangat rendah. Hal ini disebabkan mekanisme harga tidak berdasarkan harga pasar, tetapi lazimnya ditentukan oleh tauke.

c. Perdagangan Bidang perdagangan merupakan salah satu bidang usaha yang mampu meningkatkan aktivitas perekonomian masyarakat Desa Meskom, seperti perdagangan hasil perkebunan kelapa, kopi serta karet yang semuanya diperdagangkan keluar daerah, seperti kelapa dijual di daerah Kabupaten Indragiri

45

Hilir yang merupakan Kabupaten penghasil kelapa yang terbesar di Propinsi Riau. Sedangkan jenis lainnya dibawa ke Negara Malaysia melalui perdagangan lintas batas yang berada di Kecamatan Bantan.

d. Jasa Perorangan dan Kemasyarakatan


Bidang jasa meliputi jasa perorangan dan jasa kemasyarakatan. Jasa perorangan yang berkembang baik adalah usaha transportasi. Sedangkan jasa kemasyarakatan meliputi Pegawai Negeri Sipil, Pegawai Swasta dan lain-lain.

e.

Tingkat Pendapatan Sebagian besar nelayan Desa Meskom berpendapatan rendah. Tingkat

penghasilam masyarakat nelayan dipengaruhi oleh keadaan musim. Hampir 50 persen dari nelayan di Desa Meskom berpendapatan kurang dari Rp. 500.000 per bulan (Tabel 11) yang berpendapatan di atas Rp. 1.000.000 kurang dari 5 persen.
Tabel 11. Jumlah Pendapatan Rumah Tangga Nelayan Desa Meskom per Tingkat Pendapatan Tingkat Pendapatan (Rp) Jumlah Rumah Tangga Persentase <300.000,2 2,25 300.000-399.000,4 4,49 400.000-499.000,8 8,99 500.000-599.000,29 32,53 600.000-699.000,25 28,09 700.000-799.000,13 14,61 800.000-899.000,2 2,25 900.000-999.000,3 3,37 > 1.000.000,3 3,37 Jumlah 89 100 Sumber : Monografi Desa Meskom, 2002

Nelayan yang berpendapatan rendah terutama yang berstatus sebagai buruh nelayan, rendahnya tingkat pendapatan ini dikarenakan fasilitas pendukung yang masih sangat sederhana dan kurang maksimal serta kurangnya penguasaan nelayan dalam mengantisipasi keadaan alam seperti musim yang kurang mendukung.

46

4.5

Struktur Komunitas Struktur masyarakat nelayan Desa Meskom berdasarkan status dalam

usaha perikanan laut melibatkan di satu pihak nelayan yang mempunyai status pemilik (juragan). Nelayan pemilik (juragan) terbagi atas nelayan tradisional yang tidak menggunakan perahu atau hanya menggunakan perahu tanpa motor (PTM) dan nelayan non tradisional, yaitu nelayan pemilik yang dalam melakukan usaha penangkapan ikan menggunakan armada kapal motor (K.M). Golongan nelayan non-tradisional dapat dibedakan atas dua lapisan (nelayan non-tradisional) yang telah berhasil dalam usaha secara mandiri dan nelayan non-tradisional yang memperoleh status baru itu berkat fasilitas kredit dari pemerintah. Dalam suatu komunitas/masyarakat selalu terdapat pelapisan sosial yang menjadi ciri tersendiri bagi struktur komunitas dimaksud. Demikian juga halnya dalam komunitas masyarakat Desa Meskom. Pelapisan sosial dapat dilihat dalam kenyataan kehidupan masyarakat desa sehari-hari, diantaranya terdapat orangorang yang menyandang status sosial yang lebih tinggi dari warga yang lainya. Dasar pembagian status pada masyarakat Desa Meskom umumnya berdasarkan ekonomi, maksudnya masyarakat yang memiliki materi lebih banyak menempati posisi yang lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat yang kurang dalam hal materi. Hal lain yang mendasari pembagian status pada masyarakat Desa Meskom yaitu berdasararkan faktor kekuasaan, artinya golongan masyarakat yang memiliki kekuasaan seperti aparat pemerintahan desa ataupun tokoh masyarakat menempati posisi yang lebih tinggi dari masyarakat biasa.

47

4.6

Organisasi dan Kelembagaan Kelembagaan sosial pada dasarnya menyangkut seperangkat norma atau

tata kelakuan. Konsisten dengan itu, maka fungsi kelembagaan sosial menurut Sajogyo (1991) adalah : (1) memberi pedoman berperilaku pada

individu/masyarakat, bagaimana mereka bertingkah laku atau bersikap di dalam menghadapi masalah-masalah dalam masyarakat, terutama dalam menyangkut kebutuhan-kebutuhan; (2) menjaga keutuhan, dengan adanya pedoman yang diterima bersama, maka kesatuan dalam masyarakat dapat dipelihara; (3)

memberi pegangan kepada masyarakat untuk mengadakan kontrol sosial (social control), artinya, sistem pengawasan masyarakat terhadap tingkah laku anggotanya; dan (4) memenuhi kebutuhan pokok manusia/masyarakat,

(Kolopaking dan Tony, 2002). Adanya lembaga yang tumbuh dan berkembang di masyarakat berfungsi dalam meningkatkan kegiatan usaha produktif, memperbaiki sistem komunitas dan interaksi sosial, kesehatan, pendidikan dan kebersihan lingkungan pedesaan. Selain itu juga mampu menggerakkan dan mengarahkan suatu proses perubahan budaya yang terpadu dalam mengubah bentuk kehidupan sosial dan ekonomi pedesaan, serta pengelolaan sumberdaya pemerintah dan wadah partisipasi masyarakat. Kelembagaan dalam arti organisasi yang timbul mengakar di masyarakat Desa Meskom belum berkembang secara baik. Artinya organisasi yang menggiatkan aktivitas ekonomi kurang mampu menciptakan akses masyarakat ke input sumberdaya ekonomi, berupa permodalan, informasi pasar dan teknologi produksi. Sedangkan dari aspek sosial, permasalahan yang timbul yaitu kurangnya

48

upaya dari dalam maupun luar yang dapat merubah pengaruh lingkungan sosial budaya untuk melepaskan masyarakat dari kondisi kemiskinannya. Ini terlihat dari kurangnya akses masyarakat untuk memperoleh peningkatan pengetahuan dan keterampilan.
Tabel 12. Organisasi dan Kelembagaan yang ada di Desa Meskom Tahun 2002 Organisasi kelembagaan Jumlah pengurus Badan Perwakilan Desa 8 orang Kelompok PKK 22 orang Karang Taruna 25 orang Majelis 140 orang a. Majelis Talim kelompok 80 orang b. Remaja Mesjid kelompok Sumber : Monografi Desa Meskom, 2002

Organisasi dan kelembagaan tersebut secara relatif dapat menjalankan tugas dan fungsinya, namun belum mengoptimalkan fungsinya dalam melakukan pelayanan masyarakat. Artinya aktivitas mereka hingga kini masih dapat terus berjalan dengan partisipasi anggota yang relatif tinggi. Sebagai contoh, kelompok remaja mesjid melakukan aktivitasnya setiap malam Sabtu dengan berlatih kompang dan rebana. Kelompok remaja mesjid ini melakukan aktivitasnya dengan menggunakan lokasi secara bergantian di rumah-rumah. Sedangkan kelompok PKK yang berada di desa tersebut setiap minggu melakukan pertermuan di aula kantor desa dengan acara semacam arisan yang diikuti ibu-ibu rumah tangga. Badan Perwakilan Desa (BPD) merupakan perwakilan dari masyarakat untuk menyerap aspirasi dari keinginan dan kebutuhan masyarakat. Kenyataannya tugas ini sudah cukup baik dilakukan oleh anggota BPD menurut masyarakat. Walaupun peran dari organisasi-organisasi tersebut belum berperan secara maksimal namun menurut masyarakat organisasi-organisasi di atas cukup

49

berperan dalam meningkatkan kekompakan dan keakraban diantara warga komunitas di desa setempat. Pada organisasi tersebut hingga kini belum pernah timbul konflik terbuka antara sesama pendukung organisasi yang bersangkutan. Hal ini disebabkan antara lain adanya rasa saling menghormat di antara sesama anggota, sesama organisasi tersebut dan ini didukung pula oleh adanya bimbingan Kepala Desa.

4.7 Pengelolaan Sumber Daya Lokal Kelangsungan hidup praktek pengelolaan sumber daya laut tradisional dihadapkan pada persoalan semakin terbatasnya akses sumber daya perikanan laut. Keterbatasan akses sumber daya tersebut pada satu sisi disebabkan telah beroperasinya kapal-kapal besar yang mempergunakan alat-alat tangkap yang menguras sumberdaya (over exploitation) yang memasuki wilayah tangkapan tradisional, dan pada sisi yang lain adanya sifat sumberdya perikanan yang dianggap tidak bertuan (open acces). Setiap orang atau kelompok berpeluang untuk memanfaatkan sumberdaya itu yang semakin terkuras, cepat habis dan tidak jelas keberlangsungan pemanfaatannya. Sifat keterbukaan sumber daya perikanan tersebut berkaitan pula dengan ketidakpastian pemilikan sumber daya. Tidak adanya keterbukaan dan ketidakpastian pemilikan sumber daya (property right) merupakan sumber penyebab kehancuran sumber daya yang pada gilirannya mempengaruhi kelangsungan praktek pengelolaan sumber daya. Setiap orang atau kelompok masyarakat tidak memiliki hak apa-apa terhadap sumber daya tersebut kecuali peluang untuk memanfaatkan saja. Oleh karena itu, solusi untuk mengatasi

50

kehancuran sumber daya yang paralel dengan keberlangsungan praktik tradisional pengelolaan sumber daya adalah pemberian hak-hak kepemilikan (property right) melalui aturan main, hukum atau kebijaksanaan publik dan kontrol serta pengawasan dan pengaturan terhadap sumber daya alam tersebut, setidaknya untuk jangka panjang dalam rangka otonomi daerah hal ini perlu

dipertimbangkan. Sebagaimana telah diutarakan pada uraian yang lalu bahwa Desa Meskom adalah salah satu desa penghasil ikan untuk kebutuhan konsumsi masyarakat Kabupaten Bengkalis, bahkan sampai dijual ke kabupaten lain yang berdekatan dengan Kabupaten Bengkalis seperti Kabupaten Karimun, Dumai dan lainnya. Masyarakat nelayan di Desa Meskom telah menekuni pekerjaan ini secara turun temurun. Hal ini mengingat letak desa yang berada di kawasan pantai. Faktor lainnya adalah pekerjaan nelayan merupakan kegiatan yang paling mudah dilakukan bila dibandingkan pekerjaan lain yang ada di Desa Meskom. Selama ini para nelayan masih mengandalkan penangkapan ikan dengan teknik konvensional yakni menggunakan jaring dan belum mengarah pada penggunaan teknologi maju di bidang perikanan.

4.8

Kedudukan Perempuan di Desa Meskom Sistem pembagian kerja pada aktivitas masyarakat nelayan Desa Meskom

selama ini tampak menunjukkan adanya suatu kesetaraan sebagaimana yang tampak pada Tabel 10 berikut ini.

51

Tabel 10. Sistem Pembagian Kerja Pada Aktivitas Masyarakat Nelayan Desa Meskom
Jenis Pekerjaan A. Subsistensi Mancari ikan Mencari nener Mencari kerang Membuat dan memperbaiki perahu Memperbaiki mesin perahu Membuat jaring Memperbaiki jaring Membuat dan memasang sarang ikan Mengikat kail pada senar Meminggirkan/menengahkan perahu Membeli bahan bakar Mengangkut hasil ikan B. Produksi Memindang ikan Mengeringkan ikan Berdagang ikan Membuat kerupuk ikan Mengadakan arisan Mendirikan atau memperbaiki rumah Membuat perkakas rumah SL BL x x x x x x x x x x x x x x x x x x x L+P BP SP

Keterangan ; SL Selalu Laki-laki, BL Biasanya Laki-laki, L+P Laki-laki dan Perempuan, BP Biasanya Perempuan, SP Selalu Perempuan

Akan tetapi, pada dasarnya Desa Meskom merupakan wilayah yang diwarnai oleh kultur Melayu dan budaya Islam. Kultur Melayu dan kultur Islam secara eksplisit menyatakan bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan. Apabila masih ada laki-laki, maka dipilihlah dia sebagai pemimpin, dan hal itu berlaku dalam berbagai aspek. Kentalnya kedua kultur tersebut

berpengaruh kuat terhadap pengaturan hubungan gender antara laki-laki dan perempuan khususnya dalam pengambilan kebijakan dan penguasaan akses dan kontrol sumber daya, di sektor domestik maupun publik. Pada sektor domestik, perempuan dalam posisinya sebagai istri, harus sepenuhnya tunduk dan patuh pada kebijakan suami. Apapun yang dilakukan istri tidak boleh melebihi batas kewenangan suami. Istri harus sepenuhnya menjalankan peran dan fungsinya sebagai ibu rumah tangga yang mengurus anak dan suami, sedangkan suami pergi melaut untuk mencari nafkah. Kondisi tersebut menyebabkan selama ini perempuan di Desa Meskom hanya dapat beraktivitas di rumah. Oleh karena suami yang mencari nafkah, maka kebijakan dalam rumah tangga maupun dalam hal transaksi penjualan hasil tangkapan ikan harus sesuai dengan kebijakan suami. Padahal, berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan di lapangan, perempuan di Desa Meskom masih

52

memiliki waktu luang yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan produktif setelah mereka menyelesaikan tugas domestik mereka. Selain itu, mereka juga cukup berpotensi untuk dapat membantu suami mereka mengelola hasil tangkapan ikan agar lebih bernilai jual. Namun, kembali hal ini berbenturan dengan kultur sosial budaya setempat yang menyoroti apakah kegiatan tersebut tidak menyebabkan istri melalaikan kewajibannya dalam mengurus anak dan suaminya. Pada sektor publik, perempuan tidak dapat menempati posisi penting sebagai penentu kebijakan. Kaum perempuan hanya dapat akses dan kontrol dalam kelembagaan informal yang beranggotakan kaum perempuan. Kaum perempuan hampir tidak dapat duduk bersama dengan kaum laki-laki untuk dapat menentukan suatu kebijakan khususnya dalam kelembagaan-kelembagaan formal. Kaum laki-laki masih mendominasi kaum perempuan untuk akses dan kontrol dalam kelembagaan sosial di Desa Meskom.

4.8

Ikhtisar Merujuk pada uraian peta sosial Desa Meskom, diketahui secara kondisi

geografis dan administratif pola pemukiman penduduk terkonsentrasi pada posisi 5-500 meter dari garis pinggir pantai sehingga nuansa masyarakat nelayan amat menonjol. Kondisi demografi penduduk laki-laki berjumlah 1613 jiwa dan perempuan berjumlah 1517 jiwa. Mayoritas penduduk bermata pencaharian sebagai nelayan, disamping itu ada juga penduduk yang berkebun, PNS, ABRI, pedagang, tukang, dll. Kondisi Pendidikan 64,59 persen penduduk berada pada kategori tidak tamat sekolah dasar dan tamat sekolah dasar. Rendahnya tingkat pendidikan penduduk tampaknya oleh karena masih relatif rendahnya apresiasi orang tua terhadap pendidikan formal. Kondisi sosial budaya tiga etnis utama adalah Melayu, Jawa, dan Tionghoa. Disamping itu terdapat etnis lain seperti flores, sumbawa dan batak. Etnis Melayu lebih dominan sehingga nuansa keislaman dalam interaksi penduduk tampak dominan. Adanya kultur Melayu dan

53

budaya Islam di Desa Meskom tersebut berpengaruh kuat dalam mengatur hubungan gender dalam masyarakatnya. Hal ini tampak dimana laki-laki menempati posisi dominan daripada perempuan baik dalam sektor domestik maupun publik, dalam pengambilan keputusan maupun penguasaan akses dan kontrol sumber daya. Sebagaimana pernyataan yang diungkapkan oleh Ibu NA (41) salah seorang istri nelayan yang juga aktif dalam kegiatan pengajian Saya sebagai istri lebih mulia kerja di rumah, mengurus anak-anak, mengurus kebutuhan suami daripada kerja di luar rumah sekalipun untuk menambah pendapatan keluarga kami. Cukup tidak cukup, cari nafkah adalah tanggung jawab suami, jadi istri harus terimaa saja apa adanya. Konsep kemuliaan yang dipahami oleh perempuan nelayan di Desa Meskom tampak cukup mengekang potensi golongan perempuan sendiri. Keterbatasan kesempatan golongan perempuan untuk berpartisipasi di luar sektor publik lebih diwarnai oleh batasan aras kultural wilayah setempat. Hal ini menunjukkan adanaya hambatan kultural dalam upaya peningkatan partisipasi perempuan.

54

BAB V TINJAUAN PROGRAM PENGEMBANGAN MASYARAKAT DESA MESKOM

5.1 5.1.1

Program Bantuan Jaring Deskripsi Program Bantuan jaring yang diberikan kepada masyarakat nelayan Desa

Meskom, merupakan program pemberdayaan masyarakat nelayan Kabupaten Bengkalis. Program ini dikelola oleh Dinas Perikanan dan pembiayaanya bersumber dari dana APBD Kabupaten Bengkalis. Bantuan jaring ini diterima masyarakat Desa Meskom pada tahun 1996. Program pemberdayaan masyarakat dalam bentuk bantuan jaring ini lebih bersifat top down. Meskipun dalam penetapan program memperhatikan adanya usulan dari Desa Meskom, akan tetapi substansi bantuan yang diberikan sama sekali tidak memperhatikan usulan masyarakat. Misalnya jaring yang dibutuhkan ukuran 2 sampai dengan 2,25 inchi. Masyarakat penerima bantuan ini adalah nelayan-nelayan kecil, yang selama ini mengelola usahanya dengan menggunakan sampan dan melakukan penangkapan ikan diperairan pantai Selat Bengkalis (disekitar Desa Meskom). Dilihat dari masyarakat penerima bantuan, secara umum dapat disimpulkan bantuan ini diberikan telah tepat sasaran, yaitu para nelayan kecil yang kurang modal usahanya. Hal ini sesuai dengan wawancara penulis langsung dengan masyarakat penerima bantuan, perangkat Desa Meskom dan warga lainnya yang tidak menerima bantuan.

55

5.1.2

Pengembangan Ekonomi Masyarakat Bantuan jaring yang diberikan kepada masyarakat tidak berpengaruh

banyak pada pengembangan ekonomi masyarakat. Hal ini disebabkan oleh tidak seluruhnya masyarakat penerima bantuan dapat memanfaatkannya secara baik. Hanya dua dari dua belas kepala keluarga penerima bantuan yang dapat memanfaatkan bantuan tersebut secara baik. Penyebab utama kondisi tersebut antara lain, pemberian bantuan tidak mempertimbangkan secara matang kebutuhan nelayan tersebut. Nelayan yang pada umumnya hanya menggunakan sarana sampan untuk menangkap ikan, yang jangkauannya hanya sampai pada perairan pantai di sekitar Selat Bengkalis, sesungguhnya membutuhkan alat tanggkap (jaring) ukuran 2 sampai 2.25 inchi sesuai dengan potensi ikan yang ada. Dalam program bantuan diberikan jaring dengan ukuran 2.5 inchi yang tidak dapat dimanfaatkan pada perairan tersebut. Jaring bantuan tersebut hanya cocok untuk kawasan perairan laut yang jauh dari pantai yang membutuhkan sarana pendukung berupa kapal motor yang tidak dimiliki nelayan. Jaring-jaring bantuan tersebut kurang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, akhirnya tidak termanfaatkan dan sebagian dijual pada orang lain. Masyarakat penerima bantuan, karena kurang mampu untuk menekuni usahanya sebagai nelayan, akhirnya banyak yang pindah profesi sebagai buruh. Kenyataan tersebut di atas sesungguhnya banyak disebabkan karena bantuan yang diberikan tidak memperhatikan potensi ekonomi lokal dan kemampuan masyarakat penerima bantuan. Perencanaannya yang hampir dapat dikatakan bersifat top down merupakan salah satu penyebab utama

kekurangberhasilan program.

56

5.1.3

Pengorganisasian dan Pengembangan Modal Sosial Dalam pemberian paket bantuan, masyarakat dihimpun dalam satu

kelompok, yaitu kelompok nelayan Desa Meskom. Dalam perkembangannya pengorganisasian ini tidak bertahan lama, karena ikatan diantara anggota kelompok tidak terlalu kuat dan kelompok tidak dapat mengakomodir kepentingan para anggotanya, akhirnya kelompok ini dibubarkan. Kelompok nelayan ini sebenarnya dapat berkembang bila dapat menjalin kemitraan dengan pihak lainnya, dalam hal ini selain pemerintah, pihak nelayan yang telah mapan perlu dijalin, begitu juga dengan perusahaanperusahaan yang beroperasi di sekitar desanya dan lain-lain sebagainya. Dengan adanya pengembangan kemitraan memungkinkan untuk mencari solusi yang dihadapi para nelayan, yang selama ini sebahagian besar hanya diatasi oleh

pemerintah, sehingga belum semua kebutuhan nelayan dapat teratasi karena keterbatasan anggaran pemerintah itu sendiri. Solusi pengembangan usaha bersama dengan nelayan yang telah mapan ataupun adanya pengembangan

program Community Development (CD) dari perusahaan swasta untuk membantu nelayan dapat merupakan alternatif pemecahan masalah. Untuk itu, ke depan dalam pengembangan program ini atau yang sejenis perlu lebih mengoptimalkan pemanfaatan modal sosial yang ada dalam masyarakat.

5.1.4

Keberlanjutan Program Program bantuan jaring ini pada prinsipnya memperhatikan dan

menerapkan prisip-prinsip pembangunan yang berwawasan lingkungan. Bantuan jaring yang diberikan tidak akan merusak lingkungan ataupun mengancam

57

kepunahan

habitat

laut. Permasalahannya

hanya

terletak kurang

memperhatikan lingkungan sosial dan potensi lokal, sehingga menyebabkan program tidak berkelanjutan dilihat dari aspek kemanfaatannya.

5.1.5

Keragaman Program Dalam konteks kajian ini keragaman program dibandingkan dengan

perencanaannya dapat dilihat dari tiga aspek sebagai berikut : a. Aspek Ekonomi Program pengembangan masyarakat di Desa Meskom dalam bentuk bantuan jaring kepada nelayan, secara prinsip bertujuan untuk pengembangan ekonomi masyarakat dalam kerangka pengembangan ekonomi lokal.

Kekurangberhasilan program ini karena tidak memperhitungkan secara matang potensi ekonomi lokal itu sendiri. Akibatnya bantuan itu tidak dapat dimanfaatkan oleh masyarakat nelayan sebagaimana mestinya karena tidak sesuai dengan fasilitas pendukung yang dimiliki mereka, sedangkan program bantuan tersebut tidak menyiapkan upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan masyarakat yang dimaksudkan. Dilihat dari sasaran yang ingin dicapai oleh program bantuan yang dilaksanakan di Desa Meskom tersebut, perencanaannya dilakukan dalam kerangka pembangunan ekonomi lokal. Untuk jangka panjang pogram ini akan dapat meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan ekonomi masyarakat lokal di tingkat komunitas yang menjadi sasaran. Perbaikan yang perlu dilakukan dalam pengembangan program ini sama dengan program bantuan lainnya, yaitu meningkatkan peran dari berbagai stakeholder pembangunan ekonomi lokal, yaitu sektor publik, sektor privat, sektor

58

komunitas dan sektor partisipasi perempuan. Stakeholder sektor partisipasi perempuan yang dapat dilibatkan dalam menunjang program ini antara lain perempuan-perempuan yang menjadi pendamping hidup (istri) dari nelayan yang menjadi sasaran program.

b.

Aspek Sosial Program bantuan jaring ini belum memanfaatkan modal sosial yang ada

dalam komunitas, diantaranya yang berkaitan dengan pengetahuan komunitas dan tidak diperhatikannya proses pengambilan keputusan yang melibatkan masyarakat (partisipasi). Pengetahuan komunitas nelayan Desa Meskom yang lebih banyak memahami cara menangkap ikan di perairan pantai, tapi tidak diperhatikan, sebaliknya diberi bantuan alat untuk menangkap ikan di perairan laut yang jauh dari pantai. Akibatnya bantuan tidak dimanfaatkan sebagaimana mestinya, setidaknya karena dua alasan, pertama : mereka tidak punya sarana untuk memanfaatkan fasilitas yang diberikan dan kedua : mereka belum berpengalaman menangkap ikan di perairan laut yang jauh dari pantai. Pengambilan keputusan secara partisipatif di dalam perencanaan tidak diperhatikan. Hal ini mengakibatkan bantuan yang diberikan tidak sesuai kebutuhan.

c.

Aspek Lingkungan Dilihat dari jenis bantuan alat tangkap yang diberikan, program ini telah

memperhatikan aspek keberlanjutan dalam pengelolaan lingkungan alam. Bantuan yang diberikan tidak akan menimbulkan kerusakan pada lingkungan.

59

Permasalahannya adalah bantuan tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.

5.2 5.2.1

Bantuan Peningkatan Dan Pengembangan Tambak Udang Deskripsi Program Kegiatan program pengembangan masyarakat yang dilaksanakan di Desa

Meskom, Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, diantaranya sebagai berikut : Judul : Peningkatan dan Pengembangan Tambak Udang, penyelenggara : Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Bengkalis, sumber dana : Dana Perimbangan Tahun Anggaran 2001, pendekatan : pembangunan ekonomi lokal sektor informal dan Usaha Kecil Menengah (UKM). Golongan Partisipan : dua belas (12) Kepala Keluarga (nelayan 5 KK, pekerja kolam 7 KK), Paket Bantuan terdiri dari : pompa air 2 buah, mesin diesel 1 buah, rumah bangsal dan rumah mesin, serta dengan modal kerja Rp. 661.250.000. Selanjutnya bantuan pinjaman modal Tahun Anggaran 2002 kepada Abdul Rahman, Rp. 70.000.000, Bukhari, Rp. 45.000.000 dan Muhammad Isya Rp. 45.000.000. Pelaksanaan kegiatan merupakan salah satu kegiatan ekonomi

kerakyatan dengan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan sebagai berikut : menyurati Camat Bengkalis untuk menunjukkan desa yang layak, survei ke lokasi, tatap muka dengan kelompok pengusaha tambak udang sebanyak dua kali, penyerahan bantuan mesin dan peralatan lainnya, pelatihan penggunaan peralatan bantuan, serta penyerahan modal kerja.

60

5.1.2

Pengembangan Ekonomi Masyarakat Proyek tambak udang di Desa Meskom bertujuan untuk meningkatkan

pertumbuhan ekonomi masyarakat, khususnya pengusaha tambak udang yang selama ini mengelola usahanya secara tradisional. Usaha tambak udang merupakan sektor informal dan tergolong dalam Usaha Kecil Menengah (UKM) yang dikelola secara kelompok yang merupakan usaha bersama dan bersifat kekeluargaan. Dari hasil wawancara dengan salah seorang pengusaha tambak udang, diperoleh informasi bahwa usaha tambak udang sudah dimulai sejak tahun 1995, yang merupakan usaha sampingan dimana usaha utama adalah petani atau pola nafkah ganda dengan produksi yang masih terbatas. Adapun sebagian besar tenaga kerja berasal dari sanak keluarga yang ditambah dengan beberapa orang pekarja dari luar untuk pekerjaan penggalian kolam dan pemberian pangan. Banyak permasalahan yang dijumpai dalam mengembangkan usaha tambak udang sebagaimana yang dijumpai pada sektor informal pada umumnya.

5.1.3

Pengorganisasian dan Pengembangan Modal Sosial Di dalam pengembangan usaha tambak udang yang ada di Desa Meskom

pada awalnya masih dilakukan dengan usaha keluarga dan perorangan, dengan modal yang sangat terbatas. Masyarakat masih berpola untuk memenuhui kebutuhan lokal masyarakat itu sendiri. Rata-rata setiap pengusaha mempunyai modal antara satu sampai dengan dua juta rupiah. Dengan adanya proyek dari Dinas Perikanan dan Kelautan sasaran kegiatan adalah kelompok yaitu setiap

61

dusun satu kelompok (setiap kelompok dengan jumlah anggota sepuluh Kepala Keluarga) yaitu Kepala Keluarga yang sudah mempunyai usaha dan yang belum mempunyai pekerjaan. Pengorganisasian dalam kegiatan ini dimulai pada tahun 2000 setelah adanya sistem bantuan dana bergulir dari Pemerintah Daerah. Dimana kepada pengusaha tambak udang diminta membuat usulan Kepada Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Bengkalis untuk mendapat bantuan kegiatan. Dalam pengorganisasian kelompok yang akan mendapat bantuan dilakukan dengan memanfaatkan modal sosial yang ada sesuai dengan hasil pemetaan dengan memanfaatkan organisasi komunitas yang ada, yaitu perkumpulan orang dalam masyarakat yang mengelola kegiatan tertentu. Modal sosial yang berupa norma yang mengatur hubungan antar manusia yang bertujuan untuk memenuhui kebutuhan pokok manusia sehingga menimbulkan

kelembagaan, dimana dalam hal ini adalah kelembagaan usaha tambak udang.

5.1.4

Keberlanjutan Program Sebagaimana diketahui kegiatan usaha tambak udang yang selama ini

dilakukan oleh masyarakat Desa Meskom menurut penulis belum sesuai dengan prinsip pembangunan berwawasan lingkungan khususnya prinsip kearifan terhadap eksistensi alam dengan penggunaan sumberdaya alam yang arif dan tidak ekspoitatif. Dampak lain dari tidak dikelolanya lobang bekas penggalian tanah dapat menimbulkan kerusakan lingkungan fisik dan dapat membahayakan ekosistem pinggiran pantai.

62

Dari aspek keberlanjutan kegiatan tambak udang ini kalau dikelola dengan baik akan dapat terus berlanjut dan berkembang. Apalagi di Desa Meskom terdapat usaha batu bata, dimana bekas galian kolam batu bata tersebut dapat dimanfaatkan untuk pembuatan kolam baru. Untuk perbaikan kegiatan ini dari aspek keberlanjutannya maka perlu disarankan beberapa hal sebagai berikut : (1) Perlu adanya alternatif untuk memanfaatkan bekas penggalian lobang dengan kegiatan pelestarian lingkungan dan usaha ekonomi sehingga lobang-lobang bekas penggalian lobang dapat dimanfaatkan untuk pembuatan kolam usaha tambak udang sehingga

meningkatkan ekonomi masyarakat. Dari wawancara yang dilakukan dengan pengusaha telah direncanakan pemanfaatan dengan mengembangkan budidaya perikanan, sehingga diharapkan dapat melestarikan lingkungan dan meningkatkan pendapatan, (2) Melibatkan semua unsur masyarakat lokal, terutama kaum ibu untuk digalang partisipasinya dalam program pengembangan tambak udang di Desa Meskom ini.

5.1.5 a.

Berbagai Aspek Keragaan Program Aspek Pemberdayaan Sesuai dengan paradigma pemberdayaan bahwa pembangunan lebih

mengedepankan prakarsa lokal. Dilihat dari kegiatan yang dilaksanakan (menurut penulis) program pengembangan masyarakat yang dilaksanakan melalui usaha tambak udang belum sepenuhnya berasal dari prakarsa lokal karena dalam penentuan pemberian bantuan tidak berasal dari komunitas, apalagi partisipasi

63

perempuan,

tetapi

bersifat

top-down

walaupun

dalam

pelaksanaannya

memanfaatkan potensi lokal.

b.

Aspek Lingkungan Dalam kegiatan usaha tambak udang, perencanaan kegiatan belum

mencakup pengelolaan aspek lingkungan sesuai dengan pembangunan ekonomi berbasis ekologis. Sebaiknya kegiatan ini direncanakan secara terpadu sehingga program yang dilaksanakan bukan hanya bertujuan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat dalam komunitas tetapi juga dapat menjaga keseimbangan dengan alam.

c.

Aspek Keberlanjutan Menurut observasi dan hasil wawancara dengan masyarakat, program ini

dapat terlaksana dengan baik jika memanfaatkan peluang-peluang yang ada seperti pemasaran hasil panen dan pemanfaatan lobang-lobang bekas galian batu bata yang ada sehingga pengusaha diharapkan dapat mengembalikan modal kerja setelah satu tahun kegiatan.

d.

Aspek Ekonomi Dalam kegiatan usaha tambak udang, perencanaan kegiatan belum

mencakup pengelolaan aspek lingkungan sesuai dengan pembangunan ekonomi berbasis ekologis. Sebaiknya kegiatan ini direncanakan secara terpadu sehingga program yang dilaksanakan bukan hanya bertujuan untuk meningkatkan ekonomi

64

masyarakat dalam komunitas tetapi juga dapat menjaga keseimbangan dengan alam.

e.

Aspek Sosial Budaya Program usaha tambak udang yang dilaksanakan telah disesuaikan dengan

potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang dimiliki oleh masyarakat di wilayah pesisir sehingga aspek sosial budaya cukup menjadi perhatian utama dari program bantuan terhadap masyarakat Desa Meskom ini.

5.3

Ikhtisar Bantuan jaring yang diberikan kepada masyarakat nelayan Desa

Meskom, merupakan program pemberdayaan masyarakat nelayan Kabupaten Bengkalis. Program pemberdayaan masyarakat dalam bentuk bantuan jaring ini lebih bersifat top down. Meskipun dalam penetapan program memperhatikan adanya usulan dari Desa Meskom, akan tetapi substansi bantuan yang diberikan sama sekali tidak memperhatikan usulan masyarakat. Bantuan jaring yang diberikan kepada masyarakat tidak berpengaruh banyak pada pengembangan ekonomi masyarakat. Hal ini disebabkan oleh tidak seluruhnya masyarakat penerima bantuan dapat memanfaatkannya secara baik. Dalam pemberian paket bantuan, masyarakat dihimpun dalam satu kelompok, yaitu kelompok nelayan Desa Meskom. Dalam perkembangannya pengorganisasian ini tidak bertahan lama, karena ikatan diantara anggota kelompok tidak terlalu kuat dan kelompok tidak dapat mengakomodir kepentingan para anggotanya, akhirnya kelompok ini dibubarkan. Bantuan jaring yang diberikan tidak akan merusak lingkungan

65

ataupun mengancam kepunahan habitat laut. Permasalahannya hanya terletak kurang memperhatikan lingkungan sosial dan potensi lokal, sehingga

menyebabkan program tidak berkelanjutan dilihat dari aspek kemanfaatannya. Selain itu, juga terdapat program kegiatan usaha tambak udang yang selama ini dilakukan oleh masyarakat Desa Meskom menurut penulis belum sesuai dengan prinsip pembangunan berwawasan lingkungan khususnya prinsip kearifan terhadap eksistensi alam dengan penggunaan sumberdaya alam yang arif dan tidak ekspoitatif. Dampak lain dari tidak dikelolanya lobang bekas penggalian tanah dapat menimbulkan kerusakan lingkungan fisik dan dapat membahayakan ekosistem pinggiran pantai. Dalam kegiatan usaha tambak udang, perencanaan kegiatan belum mencakup pengelolaan aspek lingkungan sesuai dengan pembangunan ekonomi berbasis ekologis. Sebaiknya kegiatan ini direncanakan secara terpadu sehingga program yang dilaksanakan bukan hanya bertujuan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat dalam komunitas tetapi juga dapat menjaga keseimbangan dengan alam. Program tidak memberi akses pada perempuan dan tidak berbasis perempuan. Ini menunjukkan hambatan struktural bagi perempuan untuk berpartisipasi dalam program.

66

BAB VI ANALISIS PARTISIPASI PEREMPUAN DALAM PROGRAM PENGEMBANGAN MASYARAKAT

Partisipasi perempuan dalam program pengembangan masyarakat nelayan Desa Meskom baik secara individual maupun secara kelompok masih terbatas karena pada umumnya para perempuan di desa Meskon memiliki kemampuan di bawah rata-rata serta keterbatasan terhadap akses kegiatan ekonomi. Kehidupan masyarakat nelayan memiliki karaktersitik yang berbeda dengan masyarakat agro ekosistem lainya. Pola sikap yang berkembang dalam pemanfaatan hasil tangkapan ikan pada umumnya sangat banyak dipengaruhi oleh kegiatan penangkapan ikan yang bersifat bebas disamping keterbatasan dalam penggunaan teknologi. Kegiatan penangkapan ikan yang mereka lakukan cenderung menyebabkan para nelayan tidak berhemat dalam pemanfataan hasil tangkapan dan akhirnya pada saat membutuhkan sesuatu mereka selalu memanfaatkan peluang pinjaman kepada para tauke. Kondisi ini menyebabkan para perempuan di Desa Meskom juga turut membantu usaha suaminya dalam menambah penghasilan bagi keluarga. Hasil penelitian yang telah dilakukan di Desa Meskom menunjukkan suatu data berupa informasi dalam meningkatkan program pengembangan masyarakat. Potensi, hambatan, modal sosial, kebutuhan dan keinginan masyarakat serta sistem sosial masyarakat akan dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan program pengembangan masyarakat nelayan ini.

67

Adapun

program

pengembangan

masyarakat

yang

direncanakan

akan

dilaksanakan adalah Program Pengembangan Masyarakat Nelayan Melalui Partisipasi Perempuan.

6.1

Karakteristik Perempuan dalam Masyarakat Nelayan Desa Meskom Secara umum perempuan dalam masyarakat nelayan memiliki

karakteristik yang secara eksplisit menunjukkan suatu ketimpangan gender. Hal tampak dari beberapa aspek meliputi jenis pekerjaan, tingkat pendidikan, akses kelembagaan, kepemilikan aset produksi dan kegiatan pemasaran hasil. Jenis pekerjaan yang diberikan pada golongan perempuan umumnya merupakan pekerjaan yang dipandang ringan dan memerlukan ketelitian. Tingkat pendidikan, pengetahuan dan keterampilan golongan perempuan secara umum juga tampak lebih rendah dari golongan laki-laki. Adapun akses kelembagaan golongan perempuan juga lebih rendah daripada golongan laki-laki dimana golongan perempuan tidak dapat menempati posisi penting dalam struktur kelembagaan dan organisasi. Disamping itu, kepemilikan aset produksi juga didominasi oleh golongan laki-laki, dimana perempuan dengan keterbatasan penguasaan teknologi dan keterampilan tidak memiliki kontrol terhadap aset produksi. Demikian pula dalam kegiatan pemasaran hasil golongan laki-laki pengambil kebijakan transaksi baik dalam pemilihan tauke maupun penentuan harga jual hasil tangkapan. Lebih lanjut merujuk pada alur kerja analisis gender, dalam kaitannya dengan karakteristik perempuan tersebut diketahui bahwa terdapat beberapa faktor kesenjangan yang tampak lebih jelas dalam Gambar 3.

68

Memilih sasaran-sasaran 2. Data pembuka wawasan Indikator menurut Jenis Kelamin Pada saat sosialisasi program, Dinas Perikanan hanya mengundang Kepala Keluarga yang dominan berjenis kelamin laki-laki 3. Faktor-faktor Kesenjangan Kewenangan Akses Peran Serta Penguasaan Pemanfaatan 4. Masalah Gender Program bantuan jaring dan usaha tambak udang tidak melibatkan partisipasi perempuan Perempuan bertugas memperbaiki jaring yang rusak Laki-laki bertugas melaut Perempuan tidak mengetahui teknis operasional melaut Perempuan memisahkan ikan hasil tangkapan Mengapa terjadi kesenjangan 5. Sasaran Kebijakan Gender Program dirumuskan dengan melibatkan partisipasi masyarakat laki-laki dan perempuan Meningkatkan keterwakilan perempuan dalam program Meningkatkan peluang akses dan kcontrol perempuan dalam rumah tangga terhadap pengelolaan kegiatan nelayan 7. Indikator Gender Minimal 50% perempuan usia produktif terlibat secara aktif dalam program Perempuan dilibatkan dalam pertemuanpertemuan Perempuan diberi pengetahuan teknis opersional kegiatan nelayan serta pelatihan pemasaran dan pengelolaan hasil tangkapan ikan secara modern

1.
Sasaran Umum Untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam program pemberdayaan masyarakat nelayan

Kuantitatif dan Kualitatif

Gambar 3 Alur Kerja Analisis Gender (Gender Analysis Pathway (GAP) Dalam Kajian Upaya Peningkatan Partisipasi Perempuan Dalam Program Pengembangan Masyarakat Nelayan

69

6.2

Potensi Partisipasi Komunitas Perempuan Dalam Pengembangan Masyarakat Partisipasi perempuan yang dikaji dalam program pengembangan

masyarakat nelayan Desa Meskom, Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, Propinsi Riau ini adalah partisipasi sosial formal dan partisipasi dalam kelembagaan sosial perempuan. Mengacu kepada pendapat Bertrand (1958) yang mengatakan bahwa partisipasi sosial formal dan informal dapat dibedakan dengan jelas dalam tatanan kehidupan komunitas desa, sedangkan partisipasi sosial semi-formal sulit dibedakan. Bertrand (1958) menyebutkan bahwa partisipasi sosial formal adalah partisipasi individu atau kelompok sebagai anggota dalam organisasi formal yang ada di desa. Dalam hal ini organisasi formal yang dilihat adalah partisipasi perempuan dalam Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD). LKMD

dipilih menjadi obyek penelaahan untuk melihat partisipasi perempuan dalam program pengembangan masyarakat nelayan Desa Meskom, karena dalam lembaga tersebut banyak terdapat kaum ibu yang menjadi anggota pengurus Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD) yang dimaksudkan. Setiap bidang terdiri dari komisi-komisi : (1) bidang politik, terdiri dari : komisi hari-hari libur nasional, komisi keamanan dan kestabilan umum, (2) bidang ekonomi, terdiri dari : komisi koperasi dan komisi peningkatan produksi dan (3) bidang kesejahteraan terdiri dari : komisi bidang kelangsungan kehidupan, komisi perempuan PKK/dasawisma, komisi pendidikan/seni/olahraga, komisi

70

agama/budaya, komisi kesehatan dan komisi sosial serta dilengkapi komisi informasi. Dengan adanya partisipasi perempuan dalam kepengurusan Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa Meskom (LKMD Meskom) pada posisi strategis, dapat dikatakan bahwa telah terjadi partisipasi perempuan, terutama pada kegiatan lembaga formal desa. Bentuk kegiatan partisipasi perempuan adalah memberi masukan berupa fikiran, tenaga, waktu, keahlian, materi, serta ikut memanfaatkan dan menikmati hasil yang telah dicapai oleh Lembaga Ketahanan Desa (LKMD) dalam memajukan masyarakat Desa Meskom melalui program pengembangan masyarakat nelayan Desa Meskom. Dengan duduknya kaum perempuan dalam kepengurusan LKMD memberi manfaat bagi kelancaran program pengembangan masyarakat nelayan di Desa Meskom. Selama ini proyek-proyek pengembangan masyarakat nelayan Desa Meskom maupun kegiatan-kegiatan lain yang dilakukan di Desa Meskom selalu dibantu oleh kaum ibu. Mereka sangat kompak antara satu dengan yang lainnya di dalam melakukan sesuatu kegiatan di desa ini. Bagi kaum perempuan yang belum aktif, dengan duduknya beberapa orang tokoh perempuan dalam kepengurusan LKMD, mau tidak mau menyebabkan mereka untuk turut membantu dalam memberi dukungan terlaksananya program pengembangan masyarakat nelayan di Desa Meskom tersebut. Hal ini dimungkinkan kerana kaum perempuan yang duduk dalam kepengurusan LKMD itu sangat disegani oleh kaum perempuan lainnya. Sehingga

71

kaum perempuan yang kurang aktif terpengaruh oleh kegiatan mereka. Inilah yang disebut partisipasi yang tersamar/semu, seperti yang diungkapkan oleh Uphoff (1988) bahwa partisipasi yang tidak lahir dari kesadaran sendiri dan ikutikutan ini disebut sebagai pseudo-participation (partisipasi semu).

6.3

Partisipasi dalam Kelembagaan Sosial Partisipasi kaum perempuan dalam kelembagaan sosial di Desa Meskom

relatif cukup baik, terutama dalam menghadiri acara-acara perkawinan, lebaran, rebana, arisan, wirid pengajian dan kematian. Partisipasi perempuan berusia tua dalam aktifitas sosial seperti menghadiri acara-acara perkawinan, lebaran, rebana, arisan, wirid pengajian dan kematian relatif tinggi. Sedangkan partisipasi perempuan berusia muda dan remaja cukup memprihatinkan dalam kegiatankegiatan sosial keagamaan seperti menghadiri wirid pengajian dan mendatangi pada saat musibah (kematian). Sebaliknya partisipasi kaum perempuan berusia muda dan remaja cukup tinggi pada kegiatan-kegiatan seperti lebaran, rebana, arisan dan acara-acara perkawinan. Dapat pula dijelaskan bahwa ada kecenderungan partisipasi dalam kelembagaan sosial perempuan muda dan remaja lebih tinggi pada kegiatankegiatan tersebut di atas karena kelompok perempuan berusia muda dan remaja mengandung unsur resiprositas (timbal balik dan saling menghargai). Dengan kata lain seseorang perempuan akan melakukan kunjung balik, bila perempuan lain mendatangi acara-acara mereka, begitu juga sebaliknya. Di samping itu kegiatankegiatan di atas dapat dijadikan sebagai wahana hiburan pedesaan, perkenalan

72

antara seorang perempuan dengan seorang pria dan sebagai ajang menampilkan dan menonjolkan diri. Bila didasarkan pada jenis kelaminnya ternyata partisipasi dalam kelembagaan sosial kelompok perempuan jauh lebih besar bila dibandingkan kelompok laki-laki. Rendahnya partisipasi laki-laki pada kegiatan-kegiatan di atas, karena biasanya kaum laki-laki lebih sering berada di luar rumah dan lebih banyak melakukan aktifitas sosial di luar kampung. Sedangkan kaum ibu lebih sering berada di rumah dan beraktifitas sosial di sekitar kampung itu.

6.4

Penyesuaian Diri Perempuan Nelayan Kemampuan penyesuaian individu-individu atau kelompok perempuan

dalam program pengembangan masyarakat nelayan Desa Meskom sangat menentukan kelangsungan partisipasi individu-individu atau kelompok

perempuan itu sendiri dalam suatu program. Salah satu indikasi yang dapat dijadikan petunjuk untuk melihat upaya penyesuaian diri dari kaum perempuan adalah pengenalan dan penguasaan masalah program yang lazim dikomunikasikan di desa mereka. Dari hasil wawancara diperoleh bahwa kebanyakan kaum ibu tidak tahu adanya program pengembangan masyarakat nelayan dan kurang mampu memahami masalah-masalah program pengembangan masyarakat nelayan di Desa Meskom yang telah diintrodusir buat mereka. Mereka masih menggunakan pendekatan manual, tanpa alat bantu dalam bekerja, serta tidak ikut dalam program yang dicanangkan di Desa Meskom tersebut. Kekurangmampuan

73

memahami masalah-masalah program ini menyebabkan komunikasi dan interaksi mereka untuk berpartisipasi tidak dapat berjalan dengan baik. Dalam wawancara peniliti dengan salah seorang perempuan nelayan, ibu Sultia, mengungkapkan ketidakmengertiannya dengan bantuan dan tambahan

informasi mengenai kerja yang dilakukannya selama membantu suaminya. Faktor inilah yang menjadi faktor pembatas interaksi dan komunikasi kaum perempuan terhadap kegiatan suatu program. Sehingga apa yang dikatakan oleh informan bahwa salah satu penyebab terhalangnya asimilasi dan penyesuaian diri terhadap program pengembangan masyarakat nelayan Desa Meskom adalah

ketidakmampuan perempuan itu dalam memahami dan menyesuaikan diri dengan suatu kegiatan atau program.

6.5

Keikutsertaan dalam Perkumpulan Sukarela Perkumpulan sukarela yang dimaksud dalam kajian ini adalah

perkumpulan-perkumpulan yang dibentuk oleh kelompok masyarakat dalam melengkapi kebutuhan-kebutuhan masyarakat desa baik yang bersifat permanen maupun non-permanen. Perkumpulan sukarela yang ditelaah di Desa Meskom adalah : siskamling, gotong-royong untuk kebersihan kampung, assosiasi nelayan, panitia 17 Agustus-an, perkumpulan olah raga, posyandu dan dasawisma. Untuk melihat sejauh mana partisipasi perempuan pada perkumpulanperkumpulan sukarela yang terdapat di Desa Meskom menggunakan acuan Chapin (1947), yaitu dengan cara melihat : kedatangan, konstribusi, keanggotaan dalam komisi perkumpulan sukarela, posisi dalam pengurusan dan acuan dari Kaufman (1949) untuk mengetahui tingkat aktifitas mereka.

74

Siskamling (sistem keamanan lingkungan) berfungsi untuk menjaga rasa aman penduduk dari tindakan-tindakan kriminal seperti pencurian, perampokan maupun tindakan-tindakan kekerasan lainnya. Dalam melaksanakan siskamling di Desa Meskom aktifitas yang dilakukan oleh penduduk adalah ronda malam yang dilakukan setiap malam. Setiap kepala keluarga diharuskan melakukan ronda malam secara bergiliran. Sedangkan kaum perempuan berpartisipasi menyiapkan konsumsi dan makanan ringan untuk penjaga ronda yang bergiliran dari rumah ke rumah. Dari beberapa kaum perempuan yang diwawancarai ternyata keikutsertaan perempuan dalam kegiatan ronda malam terkonsentrasi pada penyediaan makanan ringan dan minuman. Dan sedikit sekali kaum ibu yang membayar dengan uang sebagai pengganti menyediakan makanan ringan dan minuman untuk ronda malam. Seperti halnya dengan siskamling, kegiatan gotong royong untuk kebersihan kampung menunjukkan pola yang sama. Kebanyakan kaum perempuan tidak melakukan aktifitas gotong royong untuk kebersihan kampung dan lebih senang membuat makanan ringan dan minuman untuk yang bergotong royong. Jika mereka tidak mempunyai kesempatan dan berhalangan menyediakan konsumsi untuk yang bergotong royong mereka biasanya membayar dengan uang sebagai pengganti. Kebiasaan ini terus berlangsung karena pihak laki-laki yang bergotong royong lebih suka menerima uang pengganti untuk mereka belikan ke rokok (karena makanan dan minuman biasanya banyak disediakan oleh ibu-ibu setiap rumahtangga). Di Desa Meskom terdapat tiga assosiasi nelayan : assosiasi nelayan yang dipimpin oleh Syafii, Ngalime dan Jusman. Dari pengamatan dan informasi yang

75

terkumpul selama ini, keterlibatan kaum perempuan dalam assosiasi nelayan lebih banyak disebabkan oleh kepentingan klasik dan sosial, seperti : pengolahan ikan, penjualan, pembuatan dan perbaikan jaring penangkap ikan, kegiatankegiatan yang berhubungan dengan pemasaran hasil tangkapan dan menyediakan konsumsi untuk anggota assosiasi. Kepanitiaan-kepanitiaan yang bersifat insidental seperti peringatan 17 Agustus-an di Desa Meskom, sering terlihat keterlibatan secara aktif kelompok perempuan berusia muda dan remaja. Seperti halnya dengan kegiatan-kegiatan lain, dari hasil wawancara, kebanyakan kelompok perempuan berusia muda dan remaja lebih senang terlibat dalam kepanitian ataupun kegiatan. Sikap ini dimanfaatkan sepenuhnya oleh aparat desa untuk meminta kelompok perempuan berusia muda dan remaja melakukan bermacam-macam kegiatan yang berhubungan dengan acara-acara peringatan 17 Agustus, seperti menyuruh kelompok perempuan berusia muda dan remaja meminta bermacam-macam sumbangan, karena dana sangat banyak diperlukan untuk mengadakan acara atau kegiatan 17 Agustus tersebut. Fasilitas olahraga, yang terdapat di Desa Meskom adalah : dua lapangan sepak bola, tiga lapangan bola volley dan tiga lapangan bulu tangkis. Dari tiga perkumpulan olah raga yang terdapat di Desa Meskom, kaum perempuan hanya aktif dalam perkumpulan volley ball, sedangkan untuk dua olahraga lainnya seperti sepak bola dan bulu tangkis tidak terlihat keaktifan dari kaum perempuan sebagai anggota tim desa. Kelompok perempuan yang telah berumahtangga berantusias sekali untuk ikutserta dalam kegiatan-kegiatan perkumpulan perempuan seperti

76

Posyandu dan Dasawisma. Tingginya tingkat aktifitas perempuan yang telah berumahtangga dalam kegiatan Posyandu dan Dasawisma, karena mendapat dorongan dari suami atau orang tua mereka. Ada anggapan dari suami atau orang tua perempuan yang telah berumahtangga bahwa kegiatan Posyandu dan Dasawisma adalah pekerjaan yang mendatangkan keuntungan secara kesehatan dan sosial serta tidak membuang-buang waktu saja.

6.6

Kontak Informal dan Pertemanan Pada umumnya interaksi sosial sebagai ciri masyarakat desa yang

gemainschaft adalah face to face. Kontak-kontak informal dan pertemanan dari setiap individu maupun kelompok perempuan didasarkan kepada kepentingan dan tujuan, kenapa kontak informal dan pertemanan itu dilakukan. Mengacu kepada pendapat Mitchel dalam Lewis (1979) tentang kontak informal dan pertemanan menyebutkan ada lima cara menelaah kontak informal dan pertemanan : 1) isi atau yang mendasari interaksi, 2) langsung atau timbal balik, 3) daya tahan atau durabilitas, 4) intensitas atau tingkat ke dalaman dan 5) frekwensi atau tingkat keseringan interaksi. Dalam melakukan kontak informal dan pertemanan kaum perempuan lebih banyak didasarkan kepada kepentingan yang berhubungan dengan urusan sosial dan kesukaan. Kontak informal dan pertemanan kaum perempuan yang didasarkan atas kepentingan sosial dilakukan secara langsung dan timbal balik, mempunyai durabilitas yang kokoh intensitas yang dalam dan tingkat keseringan (frekwensi) yang tinggi pula.

77

Secara lebih khusus kontak informal dan pertemanan antara perempuan dengan perempuan nelayan di Desa Meskom menunjukkan pola kontak informal dan pertemanan yang didasarkan atas kesukaan dan kekeluargaan. Pola hubungan yang demikian akan membentuk keakraban antara perempuan yang satu dengan perempuan yang lainnya, karena dirajut oleh perasaan kefamilian.

6.7

Solidaritas Komunitas Solidaritas komunitas perempuan dalam program pengembangan

masyarakat nelayan di Desa Meskom memiliki ciri-ciri yang khusus karena adanya perbedaan tujuan dan kepentingan. Bagi kelompok perempuan berusia muda dan remaja memiliki norma-norma maupun nilai-nilai yang mengutamakan kepentingan aspek ekonomi dari aspek-aspek yang lainnya, melahirkan rasa solidaritas komunitas yang selalu mengacu kepada kepentingan dan untung rugi. Dari hasil pengamatan dan pengalaman dapat dijelaskan, pada saat warga desa bergotong royong melakukan perbaikan sarana umum, kelompok perempuan berusia muda dan remaja lebih senang berada di rumah dan melakukan pekerjaanpekerjaan lain daripada ikutserta bekerjasama dengan warga lainnya. Alasanalasan yang selalu diberikan adalah tidak ada waktu, atau mereka beranggapan bahwa melakukan gotong royong itu adalah pekerjaan laki-laki. Dalam kegiatankegiatan seperti itu, sikap kelompok perempuan berusia muda dan remaja acuh tak acuh, tampak sebagai indikasi kurangnya rasa solidaritas komunitas dalam tatanan kehidupan Desa Meskom. Sangat berbeda halnya bila terjadi pada kegiatan olahraga dan acara kesenian. Attensi solidaritas kelompok perempuan berusia muda dan remaja tampak sangat tinggi. Pada saat acara kegiatan olahraga dan

78

acara kesenian kelompok perempuan berusia muda dan remaja selalu memberikan sumbangan-sumbangan pemikiran dan tenaganya untuk kelancaran kegiatan atau acara tersebut. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kelompok perempuan berusia muda dan remaja selalu menunjukkan partisipasi aktif, bukan hanya memberikan pemikiran dan tenaga, tetapi juga mereka selalu hadir atau datang pada kegiatan atau acara demikian.

6.8

Kepuasan Komunitas Penelahaan tentang kepuasan komunitas mencakup bidang pendekatan

yang sangat luas dan memerlukan penelitian yang dalam dari berbagai disiplin ilmu. Kepuasan komunitas mencakup sarana dan prasarana yang tersedia di desa dan tatanan harmonisasi sosial, ekonomi, budaya dan keamanan kehidupan komunitas yang menimbulkan kebetahan dan rasa memilki terhadap desa. Dalam kajian ini kepuasan komunitas dari kaum perempuan hanya melihat kebetahan mereka tinggal di Desa Meskom ditinjau dari aspek migrasi keluar daerah. Dari kedua aspek dapat dikatakan bahwa kepuasan komunitas kaum perempuan yang bermukim di Meskom belum memadai. Kaum perempuan terutama kelompok yang berpendidikan tinggi bermigrasi keluar desa dengan daerah tujuan utama seperti kota Bengkalis, Dumai, Duri, Pekanbaru, Medan dan Semarang. Dari hasil wawancara dengan Kepala Desa Meskom, semenjak 10 tahun terakhir ini, ada beberapa orang kelompok perempuan berusia muda dan remaja meninggalkan Desa Meskom. Mereka pergi untuk menuntut ilmu

pengetahuan, mencari pendidikan setinggi-tingginya, karena di Desa Meskom belum terdapat lagi perguruan tinggi.

79

Disamping itu, dari informasi yang diperoleh, diketahui bahwa banyak pula perempuan pergi meninggalkan Desa Meskom untuk mencari kehidupan baru (mata pencaharian lain) karena di Desa Meskom mereka kurang mendapat pekerjaan yang layak, sebab belum lapangan pekerjaan yang bervariasi.

6.9

Ikhtisar Partisipasi perempuan dalam program pengembangan masyarakat

nelayan Desa Meskom baik secara individual maupun secara kelompok masih terbatas karena pada umumnya para perempuan di desa Meskon memiliki kemampuan di bawah rata-rata serta keterbatasan terhadap akses kegiatan ekonomi. Namun, secara umum perempuan dalam masyarakat nelayan memiliki karakteristik yang secara eksplisit menunjukkan suatu ketimpangan gender. Hal tampak dari beberapa aspek meliputi jenis pekerjaan, tingkat pendidikan, akses kelembagaan, kepemilikan aset produksi dan kegiatan pemasaran hasil. Partisipasi perempuan yang dikaji dalam program pengembangan masyarakat nelayan Desa Meskom, Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, Propinsi Riau ini adalah partisipasi sosial formal dan partisipasi dalam kelembagaan sosial perempuan. Partisipasi kaum perempuan dalam kelembagaan sosial di Desa Meskom relatif cukup baik, terutama dalam menghadiri acara-acara perkawinan, lebaran, rebana, arisan, wirid pengajian dan kematian. Dari hasil wawancara diperoleh bahwa kebanyakan kaum ibu tidak tahu adanya program pengembangan masyarakat nelayan dan kurang mampu memahami masalah-masalah program pengembangan masyarakat nelayan di Desa Meskom yang telah diintrodusir buat mereka. Mereka masih menggunakan

80

pendekatan manual, tanpa alat bantu dalam bekerja, serta tidak ikut dalam program yang dicanangkan di Desa Meskom tersebut. Kekurangmampuan memahami masalah-masalah program ini menyebabkan komunikasi dan interaksi mereka untuk berpartisipasi tidak dapat berjalan dengan baik. Di samping program tersebut diberikan secara top down, maka mau tidak mau masyarakat nelayan di Desa Meskom khususnya golongan laki-laki (kepala keluarga) menerima program tersebut. Para perempuan nelayan pun mau tidak mau patuh pada suaminya untuk menerima dan melaksanakan program tersebut. Golongan perempuan sudah tidak dimintakan pendapat mereka karena mereka tidak memiliki akses dan kontrol khususnya dalam pengelolaan dan penguasaan aset keluarga. Hal ini dikarenakan program yang diberikan kepada para kepala keluarga merupakan aset keluarga dan kepala keluarga atau suamilah yang menentukan segala kebijakan yang terkait dengan aset tersebut.

81

BAB VII PENYUSUNAN PROGRAM PENINGKATAN PARTISIPASI PEREMPUAN DALAM PENGEMBANGAN MASYARAKAT NELAYAN

Hasil kajian yang dilakukan dengan wawancara di Desa Meskom Bengkalis Riau beberapa bulan yang lalu dapat dinyatakan bahwa sebagai suatu strategi sosial, perempuan rumahtangga nelayan Desa Meskom terlibat dalam berbagai lembaga kemasyarakatan dengan kecenderungan bahwa dalam kelembagaan formal, kaum perempuan nelayan banyak terlibat dalam lembaga yang berorientasi pada kebutuhan sosial dan dalam kelembagaan informal, mereka banyak terlibat dalam lembaga yang berorientasi ekonomi atau perpaduan sosial dan ekonomi. Perempuan nelayan cenderung kurang menjangkau atau akses terhadap lembaga formal yang diintroduksikan dari dan atas desa. Motif solidaritas dan kesejahteraan sosial (kesehatan dan pendidikan) merupakan motif utama keterlibatan perempuan miskin dalam kelembagaan, tetapi manfaat utama keterlibatan dalam kelembagaan adalah manfaat kesejahteraan sosial (kesehatan dan pendidikan) dan ekonomi. Perolehan manfaat sosial ekonomi yang konkrit seperti ini, diduga melanggengkan keterlibatan perempuan nelayan dalam lembaga kemasyarakatan. Keterlibatan perempuan dalam kelembagaan itu merupakan strategi sosial untuk memenuhi kebutuhan sosial-ekonomi, yaitu secara konkrit kesehatan, pendidikan dan pendapatan yang lebih baik. Pengembangan peran perempuan dalam kelembagaan itu sebaiknya memprioritaskan lembaga-lembaga informal,

82

terutama kelompok arisan dan kelompok keagamaan (yang ternyata dapat diintegrasikan dengan kegiatan yang bersifat ekonomi). Secara umum alasan keterlibatan perempuan dalam kelembagaan di Desa Meskom dapat dibagi ke dalam tiga kategori, yaitu : (a) alasan ekonomi : butuh modal, (b) alasan kesehatan dan pendidikan : menambah ilmu pengetahuan mengenai kesehatan anak dan KB, dan (c) alasan tuntutan normatif/solidaritas : kewajiban/keharusan, tradisi, disuruh atau diundang/dipanggil, malu jika tidak ikut, kesadaran sendiri, tempat untuk berkumpul, saling membantu (antar kerabat atau antar kelompok).

7.1

Identifikasi Potensi, Permasalahan dan Kebutuhan Pengembangan Partisipasi Perempuan Pada umumnya sebuah penyusunan program diawali dengan pengenalan

terhadap daerah yang akan diberikan program tersebut sehingga dapat disesuaikan dengan kondisi dan potensi yang ada di masyarakat.Hal-hal yang sangat perlu dilakukan adalah dengan melakukan identifikasi terhadap potensi yang ada di masyarakat, identifikasi permasalahan, dan kebutuhan masyarakat. Adapun cara yang dapat dilakukan untuk melakukan identifikasi adalah dengan melakukan wawancara dengan seluruh lapisan masyarakat, stakeholder dari masyarakat seperti aparat pemerintah desa, tokoh masyarakat, serta masyarakat yang akan menerima program itu sendiri. Disamping itu, penulis juga melakukan diskusi kelompok dengan mengundang perempuan nelayan untuk membicarakan beberapa hal mengenai partisipasi perempuan dan pengembangan masyarakat yang selama ini sudah berjalan di Desa Meskom. Ibu AS (28 tahun) salah satu ibu

83

rumah tangga yang hadir dalam diskusi tersebut mengemukaan bahwa pada umumnya para perempuan nelayan di Desa Meskom mengharapkan partisipasi mereka tidak hanya dalam pekerjaan yang lazim seputar kegiatan rutinitas dalam rumah tangga. Mereka juga ingin dilibatkan dalam upaya-upaya peningkatan pendapatan diri sendiri sehingga dapat lebih bermanfaat bagi keluarganya. Namun, sejauh ini Ibu RO (32 tahun) seorang kader PKK Desa Meskom lebih lanjut memaparkan bahwa Kami selama ini tidak pernah merasakan bantuan langsung dari pemerintah atau pihak penyandang modal, hanya sebatas tahu diundang hadir dan diberi upah kalau bekerja. Kedua pernyataan tersebut mennjukkan bahwa pada umumnya perempuan nelayan Desa Meskom memiliki keinginan untuk memanfaatkan potensi dirinya agar lebih bermanfaat bagi keluarganya akan tetapi sejauh ini program pengembangan masyarakat yang diselenggarakan di Desa Meskom tidak melibatkan partisipasi perempuan. Lebih lanjut, Ibu SI (25 tahun) seorang ibu rumah tangga mengatakan bahwa mereka sebagai perempuan memiliki kemauan ikut serta dalam program apabila mereka memang diberi kesempatan untuk terlibat dalam program tersebut, selama dilakukan pada waktu luang mereka atau setelah mereka menyelesaikan pekerjaan rumah tangga sebagai kewajibatan utama mereka. Berdasarkan kajian yang telah dilakukan, maka dapat diperoleh informasi dari berbagai stakeholder seperti aparat desa, tokoh masyarakat, baik formal maupun informal, masyarakat nelayan dan kaum perempuan yang ada di Desa Meskom.

84

Adapun beberapa keadaan umum yang menjadi permasalahan dalam peningkatan partisipasi perempuan dalam pengembangan masyarakat nelayan Desa Meskom dapat diuraikan pada Tabel 13.
Tabel 13. Identifikasi Potensi, Permasalahan dan Kebutuhan Pengembangan Partisipasi Perempuan Desa Meskom Potensi Masalah Utama Sebab-Sebab Cara Mengatasi Masalah Kultural Pendampingan golongan Kurangnya akses dan Adanya sifat Golongan perempuan pada kontrol perempuan dalam kekompakan perempuan hanya kelembagaan ekonomi kelembagaan ekonomi diposisikan untuk golongan maupun sosial maupun sosial menempati perempuan Rendahnya tingkat kelembagaan untuk pendidikan golongan berpartisipasi yang bersifat perempuan informal dalam Adanya norma sosial yang kelembagaan Kurangnya menempatkan posisi lakipengetahuan dan laki lebih tinggi daripada keterampilan perempuan dalam perempuan dalam lingkungan domestik pengelolaan maupun publik kelembagaan Keterbukaan Kurangnya Rendahnya tingkat Melakukan bimbingan masyarakat kesadaran gender pendidikan penyadaran gender (sifat adaptif Adanya norma sosial yang pada menempatkan posisi lakiinformasi) laki lebih tinggi daripada perempuan dalam lingkungan domestik maupun publik Struktural Mengadakan pendampingan Rendahnya tingkat Keterbukaan Kurangnya kelompok secara pendidikan keterampilan masyarakat berkesinambungan Kurangnya pendampingan (sifat adaptif masyarakat dari instansi terkait dalam mengelola pada kelompok informasi) Program tidak berorientasi Perancangan program Program yang gender dengan melibatkan golongan diselenggarakan perempuan tidak melibatkan perempuan Adanya Kurangnya Rendahnya tingkat Mengadakan bimbingan dan kemampuan penguasaan pendidikan pelatihan teknis utntuk dasar teknologi dan Kurangnya pendampingan pengelolaan hasil tangkapan golongan kurangnya dari instansi terkait untuk Melengkapi fasilitas yang perempuan keterampilan memfasilitasi upaya dibutuhkan untuk kegiatan untuk peningkatan nilai jual dan pengelolaan tersebut mengolah nilai tambah hasil Perlunya dukungan modal hasil tangkapan Membuka peluang tangkapan komunikasi dengan pihak pengembang

85

7.2

Program Pengembangan Masyarakat Nelayan Desa Meskom Merujuk pada hasil evaluasi program pengembangan masyarakat Desa

Meskom, uraian identifikasi akses dan kontrol perempuan serta tinjauan karakteristik perempuan dalam masyarakat nelayan, dengan melalui serangkaian proses penyusunan program, maka program upaya peningkatan partisipasi perempuan dalam pemberdayaan masyarakat nelayan dapat disusun sebagai berikut. 7.2.1 Latar Belakang Program ini diselenggarakan dengan melibatkan golongan laki-laki dan perempuan, agar memliki akses dan kontrol dan dapat berpartisipasi aktif secara setara dalam pembangunan.

7.2.2 Tujuan Program Tujuan program ini yaitu menempatkan golongan laki-laki dan Perempuansecara setara dalam akses dan kontrol pada berbagai kegiatan pengembangan masyarakat

7.2.3 Identifikasi Masalah Permasalahan dasar yang ada pada kelompok Perempuandesa Mesko adalah permasalahan segi kemampuan dari Perempuan untuk melakukan usaha-usaha untuk peningkatan pengetahuan masyarakat dan pengelolaan sumber daya alam

86

7.2.4 Kegiatan Yang Diusulkan a. Penyelenggaraan Pertemuan Rutin Pertemuan dihadiri oleh masyarakat baik laki maupun pertemuan untuk sebagai wadah penyadaran gender dalam kaitannya dengan pelaksanaan program pengembangan masyarakat setempat Metode yang dilakukan yaitu diskusi, simulasi dan role playing Pelaksana kegiatan ini yaitu Dinas Perikanan dan Kelautan dan Bagian Pemberdayaan Perempuan Sekretariat Daerah Kabupaten Bengkalis Waktu pelaksanaan kegiatan ini yaitu awal tahun 2006 sampai dengan Maret 2006 Tujuan kegiatan ini yaitu memberikan pengetahuan secara komperhensif sistematis kepada kelompok Perempuan mengenai pentingnya gender dalam pelaksanaan program pengembangan masyarakat

b. Pendampingan Kelompok Usaha Mikro Pembentukkan dan pendampingan kelompok mikro ini ditujukan untuk meningkatkan kualitas dan nilai hasil laut. Kelompok ini beranggotakan laki-laki dan perempuan Bentuk kegiatan yang akan dilakukan yaitu pelatihan manajemen koperasi, nelayan Pelaksana Dinas Perikanan dan Kelautan dan Bagian Pemberdayaan Perempuan Sekretariat Daerah Kabupaten Bengkalis pemberian modal, bantuan sarana dan prasarana kegiatan

87

Waktu pelaksanaan awal tahun 2006 sampai dengan Desember 2006 Tujuan kegiatan ini yaitu memberikan wadah kepada masyarakat Desa Meskom baik laki-laki maupun perempuan dalam memanfaatkan potensi ekonomi lokal dan masyarakat lokal

7.3

Program Peningkatan Partisipasi Perempuan Dalam Pengembangan Masyarakat Desa Meskom

7.3.1

Latar Belakang Pembangunan yang dilaksanakan bagi masyarakat khususnya kaum Perempuan Desa Meskom haruslah senantiasa memikirkan sisi nonfisik yang akan berdaya guna dalam menunjang keberhasilan program yang akan dilakukan.

7.3.2 Tujuan Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan perempuan untuk akses dan kontrol dalam berbagai kegiatan pengembangan masyarakat

7.3.3 Identifikasi Masalah Kelemahan kemampuan dari sisi ekonomi yang umumnya dirasakan oleh sebagian masyarakat Desa Meskom mengakibatkan ketersediaan sarana dan prasarana untuk kegiatan ekonomi rumah tangga terbatas sehingga akibatnya hasil yang diharapkan tidak maksimal

88

7.3.4 Kegiatan yang Diusulkan a. Pelatihan Keterampilan Pengelolaan Hasil Laut Pendampingan dan pelatihan keterampilan tersebut secara khusus diberikan kepada perempuan nelayan Desa Meskom agar dapat berpartisipasi aktif dalam meningkatkan kesejahteraan dan pendapatan keluarga Metode yang digunakan yaitu diskusi, demonstrasi pembuatan bakso ikan, kerupuk ikan dan abon ikan Pelaksana Dinas Perikanan dan Kelautan dan Bagian Pemberdayaan Perempuan Sekretariat Daerah Kabupaten Bengkalis Waktu pelaksanaan kegiatan ini awal tahun 2006 sampai dengan Maret 2006 Tujuan pendampingan dan pelatihan ini ditujukan untuk meningkat nilai tambah pada nilai jual pengolahan hasil laut. Selain itu memanfaatkan waktu luang perempuan Desa Meskom agar lebih produktif

b. Peningkatan Partisipasi Sosial Perempuan Pendampingan berupaya mewadahi aspirasi perempuan Desa Meskom untuk dapat mengoptimalkan partisipasi aktifnya sehingga mampu untuk menyampaikan ide, gagasan dan fikiran sekaligus menyumbangkan waktu dan tenaga dalam berbagai program pengembangan masyarakat Metode yang digunakan yaitu metode diskusi, ceramah dan praktek lapangan

89

Pelaksana kegiatan ini Dinas Perikanan dan Kelautan dan Bagian Pemberdayaan Perempuan Sekretariat Daerah Kabupaten Bengkalis Waktu pelaksanaan kegiatan ini awal tahun 2006 sampai dengan maret 2006 Tujuan pendampingan ini ditujukan untuk meningkatkan partispasi aktif perempuan dalam program pengembangan masyarakat melalui

kelembagaan formal maupun informal dalam masyarakat 7.3 Ikhtisar Beberapa rumusan program untuk mengupayakan peningkatan partisipasi perempuan di Desa Meskom secara terperinci tampak pada Tabel 14 sebagai berikut :

90

Tabel 14. Penyusunan Program Upaya Peningkatan Partisipasi Perempuan dalam Program Pengembangan Masyarakat Nelayan
KEBUTUHAN PROGRAM PENYANDANG WAKTU DANA PELAKSANAAN Penyelenggaraan Diskusi, simulasi Dinas Perikanan dan APBD Kabupaten Awal tahun 2006 pertemuan rutin dan role playing Kelautan dan Bagian Bengkalis sampai dengan maret untuk penyadaran Pemberdayaan Perempuan Dana Masyarakat 2006 gender Sekretariat Daerah Pihak swasta Kabupaten Bengkalis, Perempuan nelayan Desa Meskom KEGIATAN METODE PELAKSANA APBD Kabupaten Awal tahun 2006 Bengkalis sampai dengan Dana Masyarakat Desember 2006 Pihak swasta

Program Penanaman pengetahuan dan pengembangan masyarakat pemahaman masyarakat mengenai nelayan Desa gender dan partisipasi Meskom perempuan dalam program Keterampilan masyarakat dalam mengelola kelompok usaha mikro

Pendampingan Pelatihan Dinas Perikanan dan kelompok usaha manajemen Kelautan dan Bagian mikro koperasi, Pemberdayaan Perempuan pemberian modal, Sekretariat Daerah bantuan sarana Kabupaten Bengkalis, dan prasarana Perempuan nelayan Desa kegiatan nelayan Meskom Pelatihan Peningkatan nilai jual Program Diskusi, Dinas Perikanan dan keterampilan dan nilai tambah peningkatan demonstrasi Kelautan dan Bagian pengelolaan hasil laut partisipasi pengelolaan hasil pembuatan bakso Pemberdayaan Perempuan (abon, baso ikan dll) perempuan dalam laut ikan, kerupuk Sekretariat Daerah pengembangan ikan dan abon Kabupaten Bengkalis, masyarakat Desa ikan Perempuan nelayan Desa Meskom Meskom Metode diskusi, Dinas Perikanan dan Peningkatan Peningkatan Kelautan dan Bagian pengetahuan dan partisipasi sosial ceramah dan perempuan praktek lapang Pemberdayaan Perempuan keterampilan Sekretariat Daerah perempuan dalam Kabupaten Bengkalis, pengelolaan Perempuan nelayan Desa kelembagaan Meskom

APBD Kabupaten Awal tahun 2006 Bengkalis sampai dengan Maret Dana Masyarakat 2006 Pihak swasta

APBD Kabupaten Awal tahun 2006 Bengkalis sampai dengan maret Dana Masyarakat 2006 Pihak swasta

91

Adapun beberapa stakeholder yang terkait dalam upaya peningkatan partisipasi perempuan dalam program pengembangan masyarakat nelayan yaitu dirinci pada Tabel 15.
Tabel 15. Stakeholder pada Program Upaya Peningkatan Partisipasi Perempuan dalam Program Pengembangan Masyarakat Nelayan

No 1

Stakeholder Masyarakat nelayan di Desa Meskom, khususnya perempuan nelayan Kader PKK dan kelompokkelompok sosial perempuan

Peran dan Program Pengembangan Masyarakat Berpartisipasi aktif menyumbang tenaga dan fikiran guna kelancaran pelaksanaan program-program pengembangan masyarakat di Desa Meskom

3 4

Memfasilitasi dan mengorganisir secara lebih intensif keterlibatan perempuan dalam programprogram pengembangan masyarakat di Desa Meskom Dinas Perikanan dan Kelautan Menyediakan sarana dan prasarana penyelenggaraan pelatihan pengolahan hasil tangkapan ikan

Bahagian Pemberdayaan Mendampingi perempuan nelayan dalam upaya Perempuan Sekretariat Daerah penyadaran gender dan dalam keterlibatannya dalam Kabupaten Bengkalis program-program pengembangan masyarakat Desa Meskom Dinas Koperasi dan Usaha Melakukan pendampingan kepada kelompok usaha Kecil Menengah mikro nelayan Desa Meskom dan menyediakan sarana dan prasaran pelatihan manajemen koperasi dan usaha kecil menengah Dinas Perindustrian dan Melakukan peninjauan produk hasil pengolahan Perdagangan tangkapan ikan khususnya yang diusahakan perempuan nelayan Desa Meskom yang ditindaklanjuti dengan membuka peluang pasar agar produk tersebut dapat memasuki perdagangan lintas batas Pemerintah Daerah Kabupaten Melakukan pengawasan, evaluasi dan monitoring Bengkalis bersama DPRD pada penyusunan dan pelaksanaan program-program melalui Komisi II dan IV pengembangan masyarakat nelayan Desa Meskom

92

BAB VIII KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

8.1

Kesimpulan Berdasarkan uraian kajian upaya peningkatan partisipasi perempuan dalam

program pengembangan masyarakat nelayan, meliputi tinjauan program pengambangan masyarakat nelayan, analisis gender dalam program

pengembangan masyarakat nelayan dan penyusunan program peningkatan partisipasi perempuan dalam pengambangan masyarakat nelayan, maka terdapat beberapa kesimpulan yang dirumuskan sebagai berikut : Desa Meskom merupakan wilayah yang diwarnai oleh kultur Melayu dan budaya Islam. Kultur Melayu dan kultur Islam secara eksplisit menyatakan bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan. Apabila masih ada laki-laki, maka dipilihlah dia sebagai pemimpin, dan hal itu berlaku dalam berbagai aspek. Kentalnya kedua kultur tersebut berpengaruh kuat terhadap pengaturan hubungan gender antara laki-laki dan perempuan khususnya dalam pengambilan kebijakan dan penguasaan akses dan kontrol sumber daya, di sektor domestik maupun publik. Pada dasarnya, program pengembangan masyarakat di Desa Meskom yang telah dilaksanakan tidak berperspektif gender, sama sekali tidak secara spesifik ditujukan untuk mengembangkan potensi golongan perempuan di Desa Meskom bersifat top down dan tanpa memperhatikan potensi sumberdaya manusia dan potensi ekonomi lokal. Peserta program secara dominan adalah para laki-laki nelayan dalam posisi mereka sebagai kepala rumah tangga (sebagai suami),

93

sehingga istri-istri mereka tidak dilibatkan secara aktif dalam program. Golongan perempuan cukup diharapkan dalam membantu suaminya dalam melaksanakan program. Hal ini dikarenakan program pengembangan masyarakat nelayan di Desa Meskom secara dominan ditujukan untuk para laki-laki sebagai pencari nafkah utama yang bekerja melaut. Kondisi tersebut terkait dengan kultur sosial budaya setempat, dimana kultur Melayu dan Islam menempatkan posisi laki-laki di atas perempuan dalam hal pengambilan kebijakan khususnya dalam rumah tangga. Kegiatan dalam program tersebut pun dipandang merupakan kebijakan golongan laki-laki sebagai kepala rumah tangga dan suami, sehingga istri cukup patuh saja pada kebijakan-kebijakan suami dalam pelaksanaan program-program tersebut. Lebih lanjut, program yang direkomendasikan berdasarkan kajian ini yaitu (1) Program pengembangan masyarakat nelayan di Desa Meskom meliputi penyelenggaraaan pertemuan rutin dan pembentukan kelompok usaha mikro; (2) Program peningkatan partisipasi Perempuan meliputi pendampingan dan pelatihan keterampilan pengelolaan hasil laut dan pendampingan peningkatan partisipasi sosial perempuan. Penyelenggaraan program pengembangan masyarakat tersebut diharapkan lebih berorientasi gender dan dapat mewadahi partisipasi aktif dari perempuan di Desa Meskom. Adanya titik berat orientasi gender dalam programprogram tersebut merupakan suatu langkah strategis untuk meningkatkan potensi lokal dan potensi sumber daya manusia di Desa Meskom khususnya golongan perempuan.

94

8.2

Rekomendasi Merujuk pada simpulan di atas, maka penulis memaparkan beberapa

rekomendasi yang ditujukan kepada pihak-pihak atau stakeholder terkait sebagai berikut : 1. Masyarakat nelayan di Desa Meskom, baik kaum laki-laki maupun perempuan diharapkan dapat menyadari pentingnya kesetaraan gender dalam melaksanakan peran dan fungsinya baik dalam sektor domestik maupun publik. Di samping itu, khususnya para perempuan nelayan, di harapkan memiliki kesadaran gender dalam keterlibatannya pada programprogram pengembangan masyarakat di Desa Meskom. 2. Para pihak yang terkait seyogyanya dapat melakukan suatu pendekatan individu kepada kelompok-kelompok sosial yang beranggotakan

perempuan seperti kelompok PKK. Selain itu juga dapat memanfaatkan wadah-wadah aktivitas social yang sudah berjalan di Desa Meskom seperti majlis taklim dan pengajian untuk memfasilitasi pertemuan-pertemuan guna penyadaran gender, pelatihan, serta kegiatan-kegiatan

pendampingan. 3. Dinas Perikanan dan Kelautan diharapkan dapat menyusun dan menyelenggarakan program-program pengembangan masyarakat yang

lebih berperspektif gender. Adanya pelibatan perempuan nelayan secara aktif dengan disesuaikan pada aspek kultural dan struktural Desa

Meskom.

95

4. Bagian pemberdayaan perempuan sekretariat daerah Kabupaten Bengkalis diharapkan dapat melakukan suatu proses pendampingan dalam upaya peningkatan partisipasi aktif perempuan nelayan di Desa Meskom. 5. Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah diharapkan dapat menjadi mitra usaha kelompok usaha mikro yang dibentuk oleh para nelayan Desa Meskom. Disamping itu, Dinas tersebut juga diharapkan dapat melakukan suatu pendampingan melalui metode-metode yang sesuai untuk diterapkan di Desa Mekom. 6. Dinas Perdagangan diharapkan dapat memberikan bantuan dengan mengupayakan berbagai peluang agarproduk hasil olahan tangkapan ikan, khususnya yang diusahakan oleh perempuan nelayan dapat masuk perdagangan lintas batas. 7. Pemerintah Daerah Kabupaten Bengkalis bersama DPRD diharapkan dapat melakukan suatu pengawasan meliputi evaluasi dan monitoring terhadap penyusunan dan pelaksanaan program pengembangan masyarakat yang diselenggarakan di Desa Meskom. Pengawasan tersebut dapat dilakukan dengan melibatkan Anggota Dewan pada Komisi II yakni bahagian Keterkaitan Perekonomian, Koperasidan Perindustrian. Selain itu, juga dengan melibatkan Anggota Dewan pada Komisi IV diantaranya membidangi pemberdayaan perempuan. Kedua komisi tersebut diharapkan secara intensif dapat berperan aktif dalam program-program peningkatan upaya partisipasi perempuan dalam program pengembangan masyarakat Desa Meskom.

96

DAFTAR PUSTAKA

Amaluddin. Moh. 1987. Kemiskinan dan Polarisasi Sosial. Studi Kasus di Desa Bulu Gede. Kabupaten Kendal. Jawa Tengah. Tesis S-2 IPB. Penerbit UI Press : Jakarta. Anker dan Hein. Catherine. 1996. Sex Inequalities in Urban Employment in the Third Word London. Macmillan Press. Anonymous. 1998. Rencana Aksi Pembangunan Berkelanjutan Sumberdaya Pesisir dan Lautan Indonesia. PKSPL : Bogor. 1993. Peranan Sosial-Ekonomi Wanita dalam Rumahtangga Nelayan Miskin (Hasil Penelitian di Desa Nelayan di Jawa Barat. Jawa Tengah dan NTT). Pusat Studi Wanita-IPB Bogor bekerjasama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Social Departemen Sosial Republik Indonesia. Bogor. Anwar. S. 1986. Prinsip-prinsip Penyuluhan dan Pembinaan Partisipasi Masyarakat. dalam Mahasiswa Pembangunan : Materi Pembekalan KKN. Diedit oleh Margono Slamet. UNILA Lampung (tidak diterbitkan). Asrid. S.S. 1985. Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sosial. Bina Cipta : Jakarta. Bertrand. A.L 1958. Rural Sociology : An Analysis of Contemprorary Rural Life. Mc Graw-Hill Book Company Inc. New York. Bunch. Roland. 1991.Dua Tongkol Jagung : Pedoman Pengembangan Pertanian Berpangkal Pada Rakyat. Yayasan Obor : Jakarta. Brinkerhoff and Lynn K. White. 1990. Sociology (second edition). West USA. Chapin. FS (1947). Exprimental Design In Sociology Research. Harvey and Row. New York. Cohen. J.M dan Norman T. Uphoff. 1977. Rural Development Participation : Concepts an Measures for Project Design. Implementation and Evaluation. Rural Development Monograph No. 2. Dipublikasi oleh Rural Development Committee Center for International Studies. Cornell University. Conyers. D. 1991. Perencanaan Sosial di Dunia Ke Tiga : Suatu Pengantar. Gajah Mada University Press : Yongyakarta.

97

Crawford R. 1998. Aspek Sosial Ekonomi untuk Pemanfaatan Sumberdaya Pesisir di Desa Blongko Propinsi Sulawesi Utara. Proyek Pesisir SulutCoastal Resources Center. University of Rhode Island. Narragansett. Rhode Island USA. Eko. W Supriono. 1999. Laporan Mariculture Specialist dalam Pengkajian Budidaya Ikan di Bengkalis. Project Management Consultant. Proyek Pembangunan Masyarakat Pantai dan Pengelolaan Sumberdaya Perikanan. Kerjasama ADB dan Dirjen Perikanan Indonesia. Local Project : Bengkalis (tidak diterbitkan).

Elsje Maginsela. 1991.Gejala Matrifokal dan Status Sosial Wanita dalam Masyarakat Nelayan di Pulau Tagulandang Kabupaten Dati II Kepulauan Sangihe Talaud Propinsi Sulawesi Utara. Pascasarjana IPBBogor. Gerungan. 1981. Psychologi Sosial. Eresco : Bandung Hock. Lim. Lee. 1982. A Fishing Village. Dalam Abraham ed Microcosm of Indigenous Development. Case Study Pahang Tenggara Region. Jahi. A. 1988. Komunikasi dan Pembangunan. Dalam Komunikasi Massa dan Pembangunan Pedesaan di Negara-negara Dunia Ke tiga : Suatu Pengantar. Disunting oleh Amri Jahi. Gramedia : Jakarta. Lewis. G.J. 1979. Rural Communities. David and Charles : London. Misa R.P. Parantilla. 1980. Basic Needs and Development Planing Focus in India and Philipines. Mc Clelland. D.C. 1987. Memacu Masyarakat Berprestasi. Intermedia : Jakarta. Oppenheim. A.N.1973. Questionnare Design and Attitude Measurement. Heinemann : London. Ponsioen. 1969. The Analisys of Social Change Reconsidered. Mouton Hague : Paris. P3K UGM-Bapeda Riau. 1988. Ringkasan Eksekutif Study Pengembangan Desa Pantai di Provinsi Riau. Sajogyo. A Mc Ewn. 1985. Women and Industrialisation Exammining the Female Marginalitation Thesis : The Journal of Development Studies 22 (U).p. 649-640. Sanderson. Stephen K. 1993. Sosiologi Makro. Rajawali : Jakarta.

98

Sastropoetro. RA. S. 1988. Partisipasi. Komunikasi. Persuasi dan Disiplin dalam Pembangunan Nasional. Alumni : Bandung. Schoorl. 1980. . Modernisasi : Pengantar Sosiologi Pembangunan Negara-Negara Berkembang. Gramedia : Jakarta. Siagian. S.P. 1983. Administrasi Pembangunan. Gunung Agung : Jakarta. Slamet. M. 1992. Perspektif Ilmu Penyuluhan Pembangunan Menyongsong Era Tinggal landas. dalam Penyuluhan Pembangunan di Indonesia : Menyongsong Abad XXI. Diedit oleh Aida Viatalaya Syafri Hubeis. Prabowo Tjitropranoto dan Wahyudi Ruwiyanto. PT. Pustaka Pembangunan Swadaya Nusantara : Jakarta. Soemarwoto. Otto. 1991. Ekologi. Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Penerbit Djambatan : Jakarta. Wolf. Eric. 1983. Petani Suatu Tinjauan Antroplogis. Rajawali : Jakarta. Tim Peneliti BPE-PDU Universitas Riau. 1999. Studi Indentifikasi Keperluan Usaha Ekonomi dalam Rangka Penghapusan Kemiskinan di Kabupaten Bengkalis. Proyek Pembangunan Masyarakat Pantai dan Pengelolaan Sumberdaya Perikanan. Kerjasama ADB dan Dirjen Perikanan Indonesia : Pekanbaru (tidakditerbitkan). Uphoff. N. 1988. Menyesuaikan Proyek pada Manusia. dalam Mengutamakan Manusia di dalam Pembangunan : Variabel-variabel sosiologi dalam Pembangunan Pedesaan. Diedit oleh Michael M. Cerne. UI-Press : Jakarta. 1992. Learning From Gal Oya : Possibilities for Participatory Development and Post-Newtonian Social Science. Cornell University press : Ithaca and London. Wardoyo. 1992. Penyuluhan Pertanian di Indonesia. dalam Penyuluhan Pembangunan di Indonesia : Menyongsong Abad XXI. Diedit oleh Aida Vitalaya Syafri Hubeis. Prabowo Tjitropranoto dan Wahyudi Ruwiyanto. PT. Pustaka Pembangunan Swadaya Nusantara : Jakarta.

99

Lampiran 2

PETA KABUPATEN BENGKALIS

LOKASI PENELITIAN Desa Meskom Kecamatan Bengkalis Kabupaten Bengkalis, Propinsi Riau