Anda di halaman 1dari 21

IDENTITAS PASIEN Nama Umur : Farel : 9 tahun

Jenis kelamin : laki-laki No. RM Tgl. MRS Ruangan Status : 622948 : 15 Juni 2013 : Lontara III Bedah Saraf K 4 : JAMKESMAS

ANAMNESIS KU AT : Sakit kepala : Dirasakan sejak 5 bulan SMRS dan semakin memberat 3 minggu SMRS, terutama

dirasakan pada bagian dahi. Demam (-), riwayat demam (-). Kejang (-), riwayat kejang (+) dialami 3 minggu yang lalu dengan frekuensi 4x dalam sehari dan setelah kejang pasien mengeluarkan busa dari mulut, pasien juga mengeluh kan silau bila melihat cahaya terang, mual (-), riwayat mual (+), muntah (-), riwayat muntah (+) dialami 3 minggu yang lalu dengan frekuensi 4x dalam sehari setelah kejang. Anak mau makan dan minum. BAB dan BAK kesan normal. Riwayat diopname selama seminggu di RS. Palu seminggu SMRS Riwayat persalinan : Lahir spontan, dibantu oleh dokter, cukup bulan, segera menangis, BBL bayi 4,4 kg, panjang badan lahir dilupa, dan air ketuban jernih. Riwayat kehamilan : Kontrol teratur di dokter. Konsumsi vitamin serta penambah darah secara teratur. Tidak pernah mengkonsumsi obat-obatan lain dan jamu. Ibu tidak pernah sakit selama hamil. Umur ibu saat hamil 24 tahun. Riwayat memeihara kucing di sekitar rumah (+) Pasien adalah anak pertama dari dua orang bersaudara. Riwayat penyakit yang sama dalam keluarga (-)

PEMERIKSAAN FISIS STATUS GENERALIS Sakit sedang/ Gizi cukup/ Sadar


1

BB TB LK

: 29 kg : 115 cm : 51,5 cm

STATUS VITALIS Tensi Nadi Pernapasan Suhu aksilla : 120/80 mmHg : 72 x/menit : 24 x/menit : 36,5 C

STATUS LOKALIS Regio Capitis Inspeksi Palpasi : Tampak strabismus ke arah medial sinistra : Tidak ada nyeri tekan

STATUS REGIONAL Kepala Inspeksi massa tumor. Palpasi ada. Mata Hidung Bibir : Konjungtiva kedua mata tidak anemis, sklera tidak Ikterus. : Tidak ada epistaksis : Tidak tampak sianosis : ubun-ubun besar menutup, masa tumor tidak teraba, nyeri tekan tidak : : Tidak tampak pembesaran, tidak tampak pelebaran vena, tidak tampak

Leher : Aksila : Inspeksi : Warna kulit sama dengan sekitar, tidak tampak massa Inspeksi Palpasi : Warna kulit sama dengan sekitar, tidak ada hematoma : Nyeri tekan (-), Tidak teraba pembesaran kelenjar getah bening

tumor, dan tidak ada hematoma


2

Palpasi

: Tidak teraba pembesaran kelenjar getah bening.

Jantung Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi : Iktus kordis tidak tampak : Iktus kordis sulit dinilai : Pekak : Bunyi jantung I/II dalam batas normal, bising (-)

Abdomen Vertebra Inspeksi Palpasi : Alignment tulang baik, tidak tampak massa tumor, warna kulit Inspeksi Auskultasi Palpasi Perkusi : Datar, ikut gerak napas : Peristaltik ada, kesan normal. : Massa (-), nyeri tekan (-), hepar/lien tidak teraba : Timpani

sama dengan sekitar : Massa tumor (-), nyeri tekan (-)

Ekstremitas Ekstremitas superior kanan dan kiri : Inspeksi : Warna kulit sama dengan sekitarnya, tidak tampak jejas dan

hematoma, edema pretibial tidak ada Palpasi : Nyeri tekan tidak ada

Ekstremitas inferior kanan dan kiri Inspeksi : Warna kulit sama dengan sekitarnya, tidak tampak jejas dan

hematoma, edema pretibial tidak ada Palpasi : Nyeri tekan tidak ada

STATUS NEUROLOGIS Tanda Rangsang Meningeal:


3

Kaku Kuduk : Tidak ada Kernig Sign Lasegue Brudzinsky : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada

Nervi Craniles: N. Olfaktorius Penciuman N.Opticus Visus Lapangan pandang Kanan Normal Kanan 6/6 normal Kiri Normal Kiri 6/6 defek lateral superior

Nn. Occulomotorius, Trochlearis dan Abducens Kanan Pupil Bentuknya Besarnya Isokor/anisokor Midriasis/miosis Refleks cahaya (+) (+) normal tidak ada tidak ada tidak ada kesegala arah (-) (-) (+) tidak ada ada tidak ada menetap pada sisi medial bulat 2,5 mm isokor normal bulat 2,5 mm isokor normal Kiri

- Langsung - Tidak langsung Diplopia Ptosis Strabismus Exophtalmus Gerakan bola mata

N.Trigeminus Motorik Menggigit

Kanan

Kiri

normal

normal
4

Trismus Refleks kornea

normal normal

normal normal

Sensorik Dahi Pipi Dagu normal normal normal normal normal normal

N.Facialis Motorik Sensorik N. Cochlearis Pendengaran N. Vestibularis Nistagmus Vertigo

Kanan normal normal

Kiri normal normal

normal

normal

normal normal

normal normal

N. Glossopharingeus dan N. Vagus Arcuspharingeus Uvula Gangguan menelan Suara serak/sengau Denyut jantung N. Accessorius Mengangkat bahu Memutar kepala normal normal normal normal normal normal normal

N. Hypoglossus Mengulur lidah Disartria MOTORIK LENGAN Kanan normal normal Kiri
5

Kekuatan Tonus TUNGKAI Kekuatan Tonus Klonus Paha Kaki

normal Normal Kanan normal Normal

normal Normal Kiri Normsl Normal

Normal Normal

Normal Normal

GAIT DAN KESEIMBANGAN Gait Tidak dilakukan pemeriksaan Keseimbangan dan Koordinasi Tidak dilakukan pemeriksaan

GERAKAN ABNORMAL Tremor : tidak ada

Pemeriksaan Penunjang Laboratorium (15/06/2013) Pemeriksaan WBC RBC HGB HCT PLT Hasil 20,3 x 103 4,44 x 106 13,3 mg/dl 41.6 % 265 x 103

Laboratorium (15/08/2013) Pemeriksaan Natrium Kalium Klorida Hasil 146 3,6 112

SGOT SGPT HbsAg Anti HCV

17 41 Non reactive Non reactive

Laboratorium (15/08/2013) Pemeriksaan BT CT GDS Ureum Kreatinin PT APTT Hasil 200 600 155 mg/dl 25 0,7 8,9 21,2

CT-Scan Kepala Posisi Sagital Kontras ( 1 Agustus 2013 RS Palu)

Lesi isodens inhomogen di posterior corpus callosum yang menyayat kontras

Kesan : Tumor intracranial+hidrosefalus

Resume Seorang anak laki-laki masuk rumah sakit dengan keluhan utama cephalgia. Dirasakan sejak 5 bulan SMRS dan semakin memberat 3 minggu SMRS, terutama dirasakan pada bagian frontal. Riwayat kejang (+) dialami 3 minggu yang lalu dengan frekuensi 4x dalam sehari dan setelah kejang pasien mengeluarkan busa dari mulut, pasien juga mengeluh kan photophobia bila melihat cahaya terang, riwayat nausea (+), riwayat vomitting (+) dialami 3 minggu yang lalu dengan frekuensi 4x dalam sehari setelah kejang. Anak mau makan dan minum. BAB dan BAK kesan normal. Riwayat diopname selama seminggu di RS. Palu 1 minggu SMRS Riwayat persalinan : Lahir spontan, dibantu oleh dokter, cukup bulan, segera menangis, BBL bayi 4,4 kg, panjang badan lahir dilupa, dan air ketuban jernih. Riwayat kehamilan : Riwayat antenatal care di dokter teratur. Konsumsi vitamin serta penambah darah secara teratur. Tidak pernah mengkonsumsi obat-obatan lain dan jamu. Ibu tidak pernah sakit selama hamil. Umur ibu saat hamil 24 tahun. Riwayat memeihara kucing di sekitar rumah (+) Pasien adalah anak pertama dari dua orang bersaudara. Riwayat penyakit yang sama dalam keluarga (-) Pada pemeriksaan fisis didapatkan status lokalis kepala berupa strabismus ke arah medial sinistra, diplopia (+) sinitra, defek lapangan pandang lateral superior sinistra, dan gerakan bola mata yang menetap pada arah medial orbita dextra.

Diagnosis Hidrosefalus + Tumor intracranial

Penatalaksanaan VP Shunt

DISKUSI PENDAHULUAN Hidrosefalus ialah keadaan patologis otak yang mengakibatkan bertambahnya cairan serebrospinalis (CSS) dengan atau pernah dengan tekanan intrakranial yang meninggi sehingga terdapat perlebaran ruangan tempat mengalirkan CSS. Akumulasi berlebihan CSS menyebabkan dilatasi abnormal ruang-ruang di otak yang disebut ventrikel. Dilatasi ini menyebabkan tekanan yang berpotensi membahayakan pada jaringan otak. Hidrosefalus dibagi kepada bawaan atau kongenital dan didapat (acquired). Hidrosefalus kongenital sering didapat pada saat lahir dan dapat disebabkan oleh kelainan genetik atau gangguan perkembangan seperti spina bifida dan encephalocele. Hidrosefalus yang bawaan berkembang pada saat kelahiran atau suatu ketika setelahnya dan dapat mempengaruhi orang dari segala usia. Harus dibedakan dengan pengumpulan cairan lokal tanpa tekanan intrakranial yang meninggi seperti pada kista porensefali atau perlebaran ruangan CSS akibat tertimbunnya CSS yang menempati ruangan, sesudah terjadinya atrofi otak.1, 2 Hidrosefalus dapat didefinisikan secara luas sebagai suatu gangguan pembentukan, aliran, atau penyerapan CSS yang mengarah ke peningkatan volume ditempati oleh cairan dalam sistem saraf pusat (SSP). Kondisi ini juga bisa disebut sebagai gangguan hidrodinamik dari CSS . Hidrosefalus akut terjadi selama beberapa hari, hidrosefalus subakut terjadi selama beberapa minggu, dan hidrosefalus kronis terjadi selama bulan atau tahun. Pada hidrosefalus tidak diobati, kematian dapat terjadi akibat dari herniasi tonsil sekunder karena peningkatan tekanan intrakranial hingga terjadi kompresi batang otak dan pernapasan. Ketergantungan shunt terjadi pada 75% dari semua kasus penatalaksanaan hidrosefalus dan 50% dari anak-anak dengan hidrosefalus komunikans. Pasien dirawat di rumah sakit untuk dijadwalkan revisi shunt atau untuk pengobatan komplikasi atau kegagalan shunt. Pengembangan fungsi kognitif yang buruk pada bayi dan anak-anak, dapat mempersulit hidrosefalus yang tidak diobati. Keadaan ini dapat bertahan setelah pengobatan. Kehilangan penglihatan dapat mempersulit hidrosefalus yang tidak diobati dan dapat bertahan setelah pengobatan.3

EPIDEMIOLOGI Insiden hidrosefalus kongenital berkisar 0,9-1,8 per 1000 kelahiran. Perdarahan neonatal matriks germinal dan koroid pleksus serta infeksi dapat menyebabkan perlengketan yang terbentuk dalam cerebral aqeduct atau foramen Magendie dan Luschka hingga mengganggu penyerapan CSS. Insiden hidrosefalus kongenital di Amerika Serikat adalah 3 per 1.000 kelahiran hidup, insiden hidrosefalus yang diakui tidak diketahui karena berbagai gangguan atau kelainan dapat menyebabkan terjadinya hidrosefalus. Insiden hidrosefalus di seluruh dunia, yang diperoleh tidak diketahui. Sekitar 100.000 shunts yang tertanam setiap tahun di negara-negara maju, tetapi sedikit informasi yang tersedia untuk negara-negara lain.4,3 ANATOMI DAN FISIOLOGI Ruangan CSS mulai terbentuk pada minggu kelima masa embrio, terdiri dari sistem ventrikel, sisterna magna pada dasar otak dan ruang subaraknoid yang meliputi seluruh susunan saraf. CSS yang terbentuk dalam sistem ventrikel oleh pleksus koroidalis kembali ke dalam peredaran darah melalui kapiler dalam piamater dan araknoid yang meliputi seluruh susunan saraf pusat (SSP). Hubungan antara sistem ventrikel dan ruang subaraknoid adalah melalui Foramen Magendie di median dan foramen Luschka di sebelah lateral ventrikel IV. 1 Aliran CSS yang normal ialah dari ventrikel lateralis melalui foramen Monro ke ventrikel III, dari tempat ini melalui saluran yang sempit akuaduktus Sylvii ke ventrikel IV dan melalui foramen Luschka dan Magendie ke dalam ruang subaraknoid melalui sisterna magna. Penutupan sisterna basalis menyebabkan gangguan kecepatan resorpsi CSS oleh kapiler. Produksi CSF normal adalah 0,20-0,35 mL / menit; CSS diproduksi oleh pleksus koroid yang terletak dalam sistem ventrikel terutama ventrikel lateral dan keempat. Kapasitas ventrikel lateral dan ketiga pada orang yang sehat adalah 20 mL. Total volumer CSS pada orang dewasa adalah 120 mL. Pada neonatus jumblah total CSS berkisar 20-50 cc dan akan meningkat sesuai usia sampai mencapai 150 cc pada orang dewasa.1,3,5

10

Gambar 1 8

11

ETIOLOGI Hidrosefalus terjadi bila terdapat penyumbatan aliran CSS pada salah satu tempat antara tempat pembentukan CSS dalam sistem ventrikel dan tempat absorbsi dalam ruang subaraknoid. Akibat penyumbatan, terjadi dilatasi ruangan CSS di atasnya. Tempat yang sering tersumbat adalah foramen Monro, Luschka dan Magendie, sisterna magna dan sisterna basalis. Teori pembentukan CSS yang terlalu banyak dengan kecepatan absorbsi yang normal akan menyebabkan terjadinya hidrosefalus, namun dalam klinis sangat jarang terjadi misalnya perlebaran ventrikel tanpa penyumbatan pada adenomata pleksus koroideus. Berkurangnya absorpsi CSS pernah dilaporkan dalam kepustakaan pada obstruksi kronis aliran vena otak pada thrombosis sinus longitudinalis. Contoh lain ialah terjadinya hidrosefalus setelah operasi koreksi dari spina bifida dengan meningokel akibat berkurangnya permukaan kulit untuk absorbsi. 1 Hidrosefalus obstruktif atau nonkomunikans terjadi bila sirkulasi likuor otak terganggu, kebanyakan disebabkan oleh stenosis akuaduktus sylvius, atresia foramen Magendi dan Luschka, malformasi vascular atau tumor bawaan agak jarang menyebabkan hidrosefalus. Hidrosefalus komunikans yang terjadi karena produksi berlebihan atau gangguan penyerapan juga jarang ditemukan. Stenosis akuaduktus sylvii pada bayi dan anak berumur kurang dari dua tahun dapat disebabkan oleh infeksi intrauterine berupa meningoensefalitis virus atau bakteri, anoksia dan perdarahan intracranial akibat cedera perinatal. 6

PATOFISIOLOGI Hidrosefalus merupakan penumpukan cairan serebrospinal yang menyebabkan dilatasi sistem ventrikel otak. Sebagian besar cairan serebrospinal diproduksi oleh pleksus koroideus di dalam vetrikel otak dan mengalir melalui foramen Monro ke ventrikel III, kemudian melalui akuaduktus Sylvii ke ventrikel IV. Dari sana, likuor mengalir melalui foramen Magendie dan Luschka ke sisterna dan rongga subaraknoid di bagian cranial maupun spinal. Penyerapan terjadi melalui vilus araknoid yang berhubungan dengan sistem vena seperti sinus venosus serebral. 6 Setelah diproduksi oleh pleksus koroideus dalam ventrikel, cairan serebrospinal akan bersirkulasi dalam sistem ventrikel dan keluar melalui foramen Magendie dan Luschka. CSS
12

akan mengisi ruang subaraknoid di otak dan saraf tulang belakang dan berkontribusi terhadap bantalan dari sistem saraf di pinggir tulang. Granulasi araknoid bertanggungjawab terhadap resorbsi CSS. Keseimbangan antara penghasilan CSS dan resorbsi mempertahankan volumer cairan ini stabil. Hidrosefalus merujuk kepada akumulasi cairan CSS yang berlebihan dalam sistem ventrikel. Banyak kasus terjadi akibat dari aliran atau resorbsi cairan serebrospinal yang terganggu. Cairan CSS yang diproduksi berlebihan juga menjadi penyebab kepada terjadinya hidrosefalus. Pada saat hidrosefalus terjadi pada infan sebelum penutupan sutura krani, berlakulah pembesaran kepala. Sekiranya hidrosefalus terjadi setelah fusi dari sutura, secara kontranya, ia berhubungan dengan dilatasi dari ventrikel dan peningkatan tekanan intracranial tanpa perubahan dalam sirkumferens kepala. 7

Gambar 25

KLASIFIKASI Hidrosefalus memberikan gejala disertai tekanan CSS yang meninggi. Terdapat dua macam hidrosefalus berdasarkan anatomi atau tempat obstruksi yaitu hidrosefalus

nonkomunikans, tekanan CSS yang tinggi disebabkan obstruksi pada salah satu tempat antara pembentukan CSS oleh pleksus koroideus dan keluarnya dari ventrikel IV melalui foramen Luschka dan Magendie manakala komunikans yaitu bila tekanan CSS yang meninggi tanpa penyumbatan sistem ventrikel. Hidrosefalus komunikans terjadi ketika terjadinya aliran penuh antara ventrikel dan ruang subarachnoid. Hal ini disebabkan oleh kelebihan produksi CSS (jarang), defek penyerapan CSS (paling sering), atau ketidakcukupan drainase vena (kadangkadang). Hidrosefalus nonkomunikans terjadi ketika aliran CSS terhalang dalam sistem ventrikel atau perlepasan ke ruang araknoid, sehingga penurunan CSS dari ventrikel ke ruang subaraknoid. Bentuk yang paling umum dari hidrosefalus nonkommunikans adalah obstruktif dan disebabkan
13

oleh lesi massa yang menempati di intraventrikular atau extraventricular yang mengganggu anatomi ventrikel.1,3

Gambar 3 : Hidrosefalus komunikans dengan sekitarnya "atrofi" dan peningkatan periventricular dan deep white matter. 3

Gambar 4: Hidrosefalus obstruktif nonkomunikans akibat dari obstruksi pada foramen Luschka dan Magendie.3

Hidrosefalus berdasarkan penyebab atau etiologinya adalah bawaan atau 14eurologic dan didapat atau acquired. 1 i. Kelainan 14eurologic a. Stenosis akuaduktus Sylvii merupakan penyebab terbnyak pada hidrosefalus bayidan anak. Akuaduktus menjadi buntu sama sekali atau abnormal lebih sempit dari biasa. Umumnya gejala hidrosefalus terlihat sejak lahir atau progresif dengan cepat pada bulan-bulan pertama setelah lahir. b. Spina bifida dan cranium bifida, hidrosefalus terjadi akibat kelainan ini biasanya berhubungan dengan sindrom Arnold-Chiari karena tertariknya medulla spinalis
14

dengan medulla oblongata dan serebelum letaknya lebih rendah dan menutupi foramen magnum hingga terjadi penyumbatan sebagian atau total. c. Sindrom Dandy-Walker merupakan atresia 15eurologic foramen Lushka dan Magendie dengan akibat hidrosefalus obstruktif dengan perlebaran sistem ventrikel terutama ventrikel IV yang dapat sedemikian besarnya hingga merupakan suatu kista yang besar di daerah fosa posterior. d. Kista araknoid dapat terjadi 15eurologic tetapi dapat juga timbul akibat trauma sekunder suatu hematoma e. Anomali pembuluh darah, hidrosefalus yang terjadi akibat aneurisma arterio-vena yang mengenai arteria serebralis posterior dengan vena Galeni atau sinus transversus dengan akibat obstruksi akuaduktus. ii. Kelainan didapat a. Infeksi hingga timbul perlekatan meningen sehingga dapat terjadi obliterasi ruangan subaraknoid. Perlebaran pada fase akut meningitis purulenta terjadi bila aliran CSS terganggu oleh obstruksi mekanik eksudat purulen di akuaduktus Sylvii atau sisterna basalis. b. Neoplasma yang menyebabkan terjadi hidrosefalus oleh obstruksi mekanis yang dapat terjadi di setiap tempat aliran CSS. Pada anak yang terbanyak menyebabkan penyumbatan ventrikel IV atau akuaduktus Sylvii bagian terakhir biasanya suatu glioma yang berasal dari serebelum, sedangkan penyumbatan bagian depan ventrikel III biasanya disebabkan suatu kraniofaringioma. c. Perdarahan sebelum dan sesudah lahir dalam otak dapat menyebabkan fibrosis leptomeningen terutama pada daerah basal otak, selain penyumbatan yang terjadi akibat dari darah itu sendiri.

GEJALA KLINIS Gambaran klinis pada permulaan adalah pembesaran tengkorak yan disusul oleh gangguan 15eurologic akibat tekanan likuor yang meningkat yang menyebabkan hipotrofi otak. Pada bayi yang suturanya masih terbuka akan terlihat lingkar kepala fronto-osipital yang membesar, sutura yang meregang dengan fontaneal cembung dan tegang. Vena kulit kepala sering terlihat menonjol. Kelainan neurologic berupa mata yang selalu mengarah ke bawah
15

(fenomena matahari terbenam), gangguan perkembangan motorik dan gangguan penglihatan akibat atrofi atau hipotrofi saraf penglihatan. Bila proses penimbunan cairan serebrospinal dibiarkan terus berlangsung, akan terjadi penipisan korteks serebrum yang permanen walaupun kemudian hidrosefalusnya dapat diatasi. 6 Gejala yang tampak berupa gejala akibat tekanan intracranial yang meninggi. Pada bayi biasanya disertai pembesaran tengkorak sendiri yaitu bila tekanan yang meninggi ini terjadi sebelum sutura tengkorak menutup. Gejala tekanan intracranial yang meninggi dapat berupa muntah, nyeri kepala dan pada anak yang agak besar mungkin terdapat edema papil saraf otak II pada pemeriksaan fundoskopi (choked disk). Kepala terlihat lebih besar dari tubuh. Ubun-ubun besar melebar atau tidak menutup pada waktunya, teraba tegang atau menonjol. Dahi tampak melebar dengan kulit kepala yang menipis, tegang dan mengkilat dengan perlebaran vena kulit kepala. Sutura tengkorak belum menutup dan terasa melebar. 1 Didapatkan pula cracked pot sign yaitu bunyi seperti pot kembang yang retak pada perkusi kepala. Bola mata terdorong kebawah oleh tekanan dan penipisan tulang supraorbita. Sklera tampak di atas iris sehingga iris seakan-akan matahari terbenam (sunset phenomenon). Pergerakan bola mata yang tidak teratur dan nistagmus tidak jarang terdapat. Kerusakan saraf yang memberi gejala kelainan neurologis berupa gangguan kesadaran, motoris atau kejang, kadang-kadang gangguan pusat vital bergantung kepada kemampuan kepala untuk membesar dalam mengatasi tekanan intracranial yang meninggi. Bila proses berlangsung lambat, maka mungkin tidak terdapat gejala neurologis walaupun telah terdapat perlebaran ventrikel yang hebat, sebaliknya ventrikel yang belum begitu melebar akan tetapi berlangsung dengan cepat sudah dapat memperlihatkan kelainan neurologis yang nyata. 1

DIAGNOSIS Pengukuran lingkar kepala fronto-oksipital yang teratur pada bayi merupakan tindakan terpenting untuk diagnosis dini. Pertumbuhan kepala normal paling cepat terjadi pada tiga bulan pertama. Lingkar kepala akan bertambah kira-kira 2 cm setiap bulan. Pada tiga bulan berikutnya, penambahan akan berlangsung lebih lambat. Ultrasonografi melalui fontanel anterior pada bayi berguna untuk mengevaluasi perdarahan subependymal dan intraventrikular dan infan yang berkemungkinan hidrosefalus progresif. 3,6

16

Gambar 5: Ukuran rata-rata lingkar kepala. 6

Pada anak yang lebih besar kemungkinan hidrosefalus diduga bila terdapa gejala dan tanda tekanan intracranial yang meninggi. Tindakan yang dapat membantu dalam menegakkan diagnosis ialah transluminasi kepala, ultrasonografi kepala bila ubun-ubun besar belum menutup, foto Rontgen kepala dan tomografi computer (CT scan). Pemeriksaan untuk menentukan lokalisasi penyumbatan ialah dengan menyuntikkan zat warna PSP ke dalam ventrikel lateralis dan menampung pengeluarannya dari pungsi lumbal untuk mengetahui penyumbatan ruang subaraknoid. Sebelum melakukan uji PSP ventrikel, dilakukan dahulu uji PSP ginjal untuk menentukan fungsi ginjal. Ventrikulografi dapat dilakukan untuk melengkapi pemeriksaan. Namun dengan adanya pemeriksaan CT scan kepala, uji PSP tidak dikerjakan lagi.1

Gambar 6: Hidrosefalus nonkomunikans dan komunikans11

17

PENATALAKSANAAN Pengobatan kausal hanya mungkin dilakukan bila hidrosefalus disebabkan oleh sumbatan seperti pada tumor kistik yang menyumbat sistem ventrikel. Pada sebagian penderita pembesaran kepala berhenti sendiri (arrested hydrocephalus), mungkin oleh rekanalisasi ruang subaraknoid atau kompensasi pembentukan CSS yang berkurang. Tindakan bedah belum ada yang memuaskan 100 %, kecuali bila penyebabya ialah tumor yang masih dapat diangkat. Pemasangan pintasan dilakukan untuk mengalirkan cairan serebrospinal dari ventrikel otak ke atrium kanan jantung atau ke rongga peritoneum yaitu pintasan ventrikuloatrial atau ventrikuloperitoneal. Pintasan terbuat dari bahan silikon khusus yang tidak menimbulkan reaksi radang atau penolakan hingga dapat ditinggalkan dalam tubuh untuk selamanya. Penyulit terjadi pada 40-50%, terutama berupa infeksi, obstruksi dan dislokasi. Ada tiga prinsip pengobatan hidrosefalus: 1, 6 i. Mengurangi produksi CSS dengan merusak sebagian pleksus koroideus dengan tindakan reseksi (pembedahan) atau koagulasi akan tetapi hasilnya tidak memuaskan. ii. Memperbaiki hubungan antara tempat produksi CSS dengan tempat absorbs yakni menghubungkan ventrikel dengan subaraknoid. Misalnya ventrikulosisternostomi Torkildsen pada stenosis akuaduktus. iii. Pengeluaran CSS ke dalam organ ekstrakranial a. Drainase ventrikulo-peritoneal b. Drainase lombo-peritoneal c. Drainase ventrikulo-pleural d. Drainase ventrikulo-ureterostomi e. Drainase ke dalam antrum mastoid f. Drainase CSS ke dalam vena jugularis dan jantung melalui kateter yang berventil (Holter Valve) yang memungkinkan pengaliran CSS ke satu arah. Operasi Endoscopy Third Ventricle ini menggantikan kebutuhan untuk memiliki shunt. Paling sering itu dilakukan pada anak-anak yang memiliki saluran sempit atau diblokir di ventrikel (stenosis aqueductal). Sewaktu ETV, ahli bedah saraf membuat lubang kecil di tengkorak. Kemudian ahli bedah saraf menggunakan endoskopi masuk ke ventrikel tiga dan membuat lubang di bawahnya. CSS akan mengalir keluar dari lubang dan mencapai tempattempat yang normal sekitar otak di mana ia diabsorbsi. Pasien yang dilakukan ETV dapat
18

menghindari komplikasi terkait dengan shunt, seperti mendapatkan infeksi atau membutuhkan shunt diganti (revisi shunt).9

Gambar 7: Area letak shunt di ventrikel otak.9

Gambar 8: VP shunt.9

19

Gambar 9 : Endoscopy Third Ventriculostomy9

KESIMPULAN Hidrosefalus merupakan suatu keadaan dimana terjadi ketidakseimbangan antara produksi dan absorpsi dari CSS. Hidrosefalus dapat diklasifikasikan berdasarkan anatomi atau tempat obstruksi CSS, etiologinya, dan usia penderitanya. Diagnosa hidrosefalus selain berdasrkan gejala klinis juga diperlukan pemeriksaan khusus. Penentuan terapi hidrosefalus berdasarkan ada tidaknya fasilitas. 5 Prognosis untuk hidrosefalus adalah sulit untuk memprediksi, meskipun ada beberapa korelasi antara penyebab spesifik dari hidrosefalus dan hasilnya. Prognosis lebih rumit dengan adanya gangguan terkait, ketepatan waktu diagnosis, dan keberhasilan pengobatan. Perawatan oleh tim profesional medis, spesialis rehabilitasi, dan ahli pendidikan sangat penting untuk hasil yang positif. Tanpa pengobatan , hidrosefalus progresif dapat berakibat fatal.10 Gejala-gejala hidrosefalus dengan tekanan normal biasanya bertambah buruk dari waktu ke waktu jika kondisi ini tidak diobati, meskipun pasien mungkin mengalami perbaikan sementara. Sementara keberhasilan pengobatan dengan shunts adalah bervariasi dari setiap pasien, ada pasien yang sembuh hampir sepenuhnya setelah perawatan dan memiliki kualitas hidup yang baik. Diagnosis dini dan pengobatan meningkatkan kemungkinan pemulihan yang baik.10

20

DAFTAR PUSTAKA

1. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak, buku kuliah jilid 2. Jakarta: 1996. 874-5 2. www.ninds.nih.gov/disorders/hydrocephalus/hydrocephalus.htm 3. Nelson S. L, Hoffman M., Article: Hydrocephalus. Available at:

http://emedicine.medscape.com/article/1135286-overview 4. Song. D. S, Maher. C. O., Muraszko K. M, Current Diagnosis and Treatment Surgery 13th edition, chapter 36 neurosurgery, Publisher: McGraw Hill Companies, Inc. United States. 2010.p.852 5. Yoppy Wijaya. Makalah Hidrosefalus. Smf Ilmu Bedah Rsu-Usd Gambiran Kediri, Kepaniteraan Klinik Ilmu Bedah. Surabaya. 2006. 6. Sjamsuhidajat, de Jong. Hidrosefalus. Sistem Saraf. Buku Ajar Ilmu Bedah. Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan. 2012. p. 934 7. Abbas K., Mitchell F. Hydrocephalus. The Nervous System. Robins Basic Pathology. International 8th Ed. Publisher: Sauders, Elsevier Inc Philadephia. 2007. p. 862. 8. Netter F. H., Atlas Netter of Neuroanatomy. Philadephia, Pennsylvania; 2006. 9. Setti S. Rengachary, Richard G. Ellenbogen, Edited by. Reprinted from 'Principles of Neurosurgery,' 2nd edition, Elsevier : 2005. Also available at: http://www.seattlechildrens.org/medical-conditions/brain-nervous-system-mentalconditions/hydrocephalus-treatment/ 10. http://www.medicinenet.com/hydrocephalus/page5.htm 11. http://www.virtualmedstudent.com/links/neurological/hydrocephalus.html

21