Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN KASUS

IDENTIFIKASI Nama Jenis kelamin Usia Alamat Pekerjaan Status perkawinan Agama MRS ANAMNESIS Keluhan Utama Demam mendadak sejak + 4 hari sebelum masuk rumah sakit Riwayat Perjalanan Penyakit Sekitar 3 hari sebelum masuk rumah sakit pasien mengeluh demam, demam terus menerus, berkeringat (-), menggigil (-) , sakit kepala (+), nyeri belakang mata (-), nyeri pada otot (+), nyeri sendi (+), badan terasa lesu (+), mimisan (-), nafsu makan baik, gusi berdarah (-), timbul bintik kemerahan (-), mual (+), muntah (-), batuk (-), sakit tenggorokan (-) BAB normal(warna kuning, konsistensi padat) dan BAK normal(warna kuning biasa, banyaknya biasa) nyeri saat kencing (-). Sekitar 2 hari sebelum masuk rumah sakit, pasien mengeluh demam meninggi, berkeringat banyak (-), menggigil (-) , sakit kepala (+),nyeri belakang mata (-), nyeri sendi (+), nyeri otot (+), badan terasa lesu (+), mimisan (-), nafsu makan baik, gusi berdarah (-), timbul bintik kemerahan (-). Mual (+), muntah (-) , batuk (-), BAB (+), warna kuning dan BAK (+), warna kuning, nyeri saat kencing (-), Pasien berobat ke Puskesmas Kenali, Pasien tidak tahu nama obatnya hanya tahu obat warna bulat putih dan pink. Lalu pasien disuruh melakukan : Desi Permata Sari : Perempuan : 13 tahun : RT 13 Kel Kenali besar Kec Kota baru Kota Jambi : Pelajar : Belum menikah : Islam : 20 September 2011(pukul 16.30)

pemeriksaan Lab. Pasien melakukan pemeriksaan Lab di luar puskesmas(di Laboratorium Nusa Indah). 1 hari SMRS, Pasien memberikan hasil Lab ke Puskesmas dari Puskesmas diberitahuakan bahwa pasien menderita DBD dan dirujuk ke RSUD Raden Mattaher.os mengeluh demam (+), berkeringat (+), menggigil (-) , sakit kepala (+),nyeri belakang mata (-), nyeri sendi (+), nyeri otot (+), badan terasa lesu (+), mimisan (-), nafsu makan berkurang, gusi berdarah (-), timbul bintik kemerahan (-). Mual (+), muntah (-), 1 kali, warna bening , batuk (-), BAB (-), dan BAK (+), warna kuning, nyeri saat kencing (-). Dilakukan Rumple lead pada malam hari dan didapatkan petechiae > 20. Riwayat Penyakit Dahulu - Riwayat asma disangkal Pasien belum pernah mengalami penyakit ini sebelumnya

Riwayat Penyakit Keluarga Keluarga pasien (kakak dan adik pasien) pernah mengalami penyakit ini sebelumnya 1 tahun lalu

PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum Keadaan sakit Kesadaran Keadaan gizi Cara berjalan Cara berbaring Suhu Nadi Tekanan darah : tampak sakit sedang : compos mentis : IMT = 20,5 (BB = 48 kg, TB = 156) : baik : aktif : 39C : 84x/menit : 120/100 mmHg

Bentuk badan / habitus: pikinikus

Keadaan Spesifik Kulit Warna sawo matang, efloresensi (-) petechie pada lengan, scar (-), pigmentasi normal, ikterus (-), sianosis (-), spider nevi (-), temperatur kulit (-) panas, pertumbuhan rambut normal, telapak tangan dan kaki pucat (-) KGB Kelenjar getah bening di submandibula, leher, axila, inguinal tidak teraba Kepala Bentuk oval, simetris, ekspresi tampak sakit, warna rambut hitam, rambut mudah rontok (-), deformitas (-) Mata Eksophtalmus (-), endophtalmus (-), edema palpebra (-), konjungtiva palpebra anemis (-), sklera ikterik (-), pupil isokor, reflek cahaya (-), pergerakan mata ke segala arah baik. Hidung Bagian luar hidung tak ada kelainan, septum dan tulang-tulang dalam perabaan baik, selaput lendir dalam batas normal, epistaksis (-) Telinga Kedua meatus acusticus eksternus normal, pendengaran baik Mulut Sariawan (-), pembesaran tonsil (-), gusi berdarah (-), lidah pucat (-), lidah kotor (-), atrofi papil (-), stomatitis (-), rhagaden (-), bau pernapasan khas (-) Leher Pembesaran kelenjar getah bening (-), pembesaran kelenjar thyroid (-), JVP (5-2) cmH2O, hipertrofi musculus sternocleidomastoideus (-), kaku kuduk (-)

Dada Bentuk dada normal, retraksi (-), nyeri tekan (-), nyeri ketok (-), krepitasi (-) Paru: Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Jantung Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi : ictus cordis tidak terlihat : ictus cordis teraba ICS VI dua jari lateral linea mid klavikularis : batas atas ICS II, batas kanan linea sternalis dextra, batas kiri 2 jari lateral lnea mid clavicula sinistra : HR 84 x/ menit, BJ I, II reguller murmur (-), gallop (-) : statis-dinamis simetris kanan dan kiri : stem fremitus kanan sama dengan kiri : sonor pada kedua lapangan paru : vesikuler (+) N, ronchi basal(+) , wheezing (-)

Abdomen Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Genital Ekstremitas : tidak membesar dbn : Soepel, nyeri tekan abdomen (-), hepar/lien tidak teraba, undulasi (+) : thympani, pekak alih (+), : bising usus (+) normal : tidak diperiksa : :nyeri sendi (+), gerakan bebas, edema (-), jaringan parut (-), pigmentasi

Ekstremitas atas

normal, telapak tangan pucat (-), jari tabuh (-), turgor kembali lambat (-), Rumple leed test sinistra (+), palmar eritem (-),

Ekstremitas bawah : nyeri sendi (-), gerakan bebas, edema (-), jaringan parut (-), pigmentasi normal, telapak kaki pucat (-), jari tabuh (-), turgor kembali lambat (-) PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium (18 september 2011) Pemeriksaan pukul 14.00 WIB Hematologi No. Pemeriksaan 1. Hematokrit 2. Leukosit 3. Trombosit

Hasil 40 vol % 2800/l 106000/ mm3

Nilai Normal L:40-48 vol%, P:37-43 vol% 5.000-10.000/l 200000-500000 mm3

DIAGNOSA KERJA DBD Grade I DIAGNOSA BANDING DBD Grade I Demam Typhoid Malaria PENATALAKSANAAN Non farmakologis: Istirahat Banyak minum Diet NB :

Farmakologi: IVFD RL gtt XL/menit Paracetamol 500 mg tab 3X1 Vit. B1, B6, B12 3x1 tab Domperidon tab 3x1 tab

Trolit 3x1 sachet

RENCANA PEMERIKSAAN: - Darah Rutin (Hb,Ht, Trombosit tiap 8 jam) - Dengue Antigen PROGNOSIS Quo ad vitam Quo ad functionam : Bonam : Bonam

ANALISIS KASUS

Demam merupakan manifestasi respon tubuh dalam menjaga keutuhan tubuh ( homeostasis ) terhadap benda asing ( mikroba, debu anorganik, zat-zat kimia ) atau yang dianggap beanda asing ( auto antigen/ autoantibodi ). Dalam menegakkan diagnosis dengan gejala demam perlu mengetahui riwayat perjalan penyakit, epidemiologi, mengidentifikasi tipe demam dan didukung pemeriksaan fisik & laboratorium penunjang. Pada kasus DBD, virus dengue dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus sebagai vector ke tubuh manusia melalui gigitan nyamuk tersebut. Infeksi yang pertama kali dapat member gejala sebagai demam dengue. Apabila orang itu mendapat infeksi berulang oleh tipe virus dengue yang berlainan akan timbul reaksi yang berbeda. DBD dapat terjadi bila seseorang yang telah terinfeksi dengue pertama kali, mendapat infeksi berulang virus dengue lainnya. Virus akan bereplikasi di nodus limpatikus regional dan menyebar ke jaringan lain, terutama ke sistem retikuloendotelial dan kulit secara bronkogen dan hematogen. Tubuh akan membentuk komplek virus-antibodi dalam sirkulasi darah sehingga akan mengaktivasi sistem komplemen yang berakibat dilepaskannya anafilatoksin C3a dan C5a sehingga permeabilitas dinding pembuluh darah meningkat. Akan terjadi juga agregasi trombosit yang melepaskan ADP, trombosit melepaskan vasoaktif yang bersifat meningkatkan permeabilitas kapiler dan melepaskan trombosit faktor 3 yang merangsang koagulasi intravaskular. Terjadinya aktivasi faktor Hageman (faktor XII) akan menyebabkan pembekuan intravaskular yang meluas dan meningkatkan permeabilitas dinding pembuluh darah.3 Gejala klinis demam dengue amat bervariasi, dari yang ringan, sedang seperti DD, sampai ke DBD dengan manifestasi demam akut, perdarahan, serta kecenderungan terjadi renjatan yang dapat berakibat fatal. Masa inkubasi dengue antara 3-15 hari, rata-rata 5-8 hari. Gejala prodromal meliputi nyeri kepala, nyeri berbagai bagian tubuh, anoreksia, menggigil dan malaise. Pada umumnya ditemukan sindroma trias, yaitu demam tinggi, nyeri pada anggota badan dan timbulnya ruam. Ruam biasanya timbul 5-12 hari sebelum naiknya suhu pertama kali, yaitu pada hari ketiga samapi hari kelima dan biasanya berlangsung selama 3-4 hari. Ruam bersifat makulopapular yang menghilang pada tekanan. Ruam mula-mula dilihat di dada, tubuh serta abdomen dan menyebar ke anggota gerak dan muka. Pada lebih dari separuh penderita gejala klinis timbul mendadak, disertai kenaikan suhu, nyeri kepala hebat, nyeri di belakang bola mata, punggung, otot dan sendi disertai rasa menggigil. Pada beberapa penderita dapat dilihat

kurva yang menyerupai pelana kuda atau bifasik, tetepi pada penelitian selanjutnya bentuk kurva ini tidak ditemukan pada semua penderita sehingga tidak dianggap patognomonik. Anoreksia dan obstipasi sering dilaporkan; di samping perasaan tidak nyaman di daerah epigastrium disertai nyeri kolik dan perut lembek sering ditemukan. Pada stadium dini penyakit sering timbul perubahan dalam indra pengecap. Gejala klinis yang lain adalah fotofobia, keringat yang bercucuran, suara serak, batuk, epistaksis dan diuria. Demam menghilang secara lisis, disertai keluarnya banyak keringat. Lama demam berkisar 3,9 hari dan 4,8 hari. Kelenjar getah bening servikal dilaporkan membesar pada penderita, beberapa sarjana menyebutnya tanda Castelani, sangat patognomonik dan merupakan patokan berguna untuk membuat diagnosis banding.3,4 Untuk dapat menegakkan diagnosis demam dengue (DD), kriteria berikut harus dapat terpenuh dua atau lebih yaitu: nyeri kepala, nyeri retrorbital, mialgia/atralgia, ruam kulit, manifestasi perdarahan (petikie dan uji bendung positif), leukopenia dan pemeriksaan serologi positif. Sedangkan untuk diagnosis DBD ditegakkan bila semua kriteria berikut terpenuhi yaitu: 1. 2. Demam atau riwayat demam akut, antara 2-7 hari, biasanya bifasik. Terdapat minimal satu manifestasi perdarahan berikut: uji bending positif; petikie, ekimosis, purpura; perdarahan mukosa (tersering epistaksis atau perdarahan gusi); hematemesis atau melena. 3. 4. Trombositpenia (trombosit < 100.000/ul) Terdapat minimal satu tanda-tanda plasma leakage (kebocoran plasma) berikut: peningkatan hematokrit >20% dibandingkan standar sesuai dengan umur dan jenis kelamin; penurunan hematokrit >20% setelah mendapat terapi cairan, dibandingkan dengan nilai hematokrit sebelumnya; tanda kebocoran plasma seperti efusi plura, asites atau hipoproteinemia. 3,5 Pada pasien ini gejala yang ditemukan adalah demam yang tinggi sejak 4 hari SMRS, disertai sakit kepala, mual dan muntah,nyeri sendi dan otot. Pada tes Rumple Leed bernilai positif terjadi penurunan jumlah trombosit (trombositopenia) dan leukopenia relatif. Kami berkesimpulan bahwa pada hari pasien masuk rumah sakit sampai heri ke-2 perawatan, pasien masih dalam DBD grade I, dengan adanya ptechiae di lengan melalui rumple lead test sehingga kami menyimpulkan bahwa pasien ini berada di DBD grade I. Tatalaksana pada pasien ini terdiri dari tindakan suportif dengan cara memperbaiki kedaan umum penderita (kebutuhan cairan dan perawatan umum), pengobatan

simptomatik yaitu dengan pemberian antipiretik untuk mencegah hipertermia (paracetamol), pemberian obat anti mual dan pemberian obat anti malaria (amodiakuin dan artesunat). Prognosis vitam et functionam pada pasien ini adalah bonam, karena pada penderita ini tidak dijumpai adanya tanda-tanda penyulit atau komplikasi.