Anda di halaman 1dari 1

e-Budgeting Solusi atau Nambah masalah baru?

basuniccl[at]yahoo.com

Demam e-Government sedang melanda pemerintah Indonesia baik pusat maupun daerah berlomba-lomba menerapkan e-Government. Pemilihan sistem informasi sebagai solusi untuk mengatasi masalah korupsi dan reformasi birokrasi sangatlah tepat. Masalahnya adalah Sumber Daya Manusia (SDM) di pemerintahan masih lemah. Lemahnya perencanaan sistem informasi menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah untuk bisa menerapkan e-Government secara maksimal. Kita lihat saja carut marut e-KTP, e-KTP yang awalnya untuk mencegah KTP ganda, ternyata pada saat pelaksanaan perekaman data ditemukan jutaan KTP ganda. Temuan E-KTP ganda itu diungkapkan oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Gamawan Fauzi saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakenas) Asosiasi Pemerintah Kota seluruh Indonesia (Apeksi) di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Sekarang untuk menghindari penyelewangan anggaran pemerintah lagi jatuh cinta dengan ebudgeting. Konon katanya dengan e-budgeting, anggaran tidak bisa diubah oleh siapa pun. Sebab, password hanya akan diketahui oleh Kepala Daerah ataupun otoritas tertentu. Tidak usah dengan e-budgeting, dengan sistem informasi keuangan daerah yang ada saat ini seharusnya penyelewangan anggaran sudah bisa diatasi. Artinya sistem informasi keuangan daerah seharusnya dikembangkan untuk mencegah terjadinya kebocoran anggaran. Di sini kita dipertontonkan kembali lemahnya perencanaan sistem informasi di pemerintahan, yang seharusnya berbentuk A diubah menjadi bentuk a, yang penting bunyi lafalnya sama meskipun bentuk berbeda. Dengan e-budgeting masalah penyelewangan anggaran tidak mungkin bisa diatasi, karena lambat laun begitu pegawai menguasai dan memahami kelemahan dari sistem kerja ebudgeting maka akan timbul masalah baru yang tidak terprogram di e-budgeting yang akan mainkan oleh pegawai. Dengan e-budgeting ada dua pihak yang harus kita hadapi, pihak di dalam sistem dan pihak di luar sistem. Membangun sistem informasi untuk menghadapi pihak di dalam sistem sama sulitnya dengan membangun sistem informasi untuk menghadapi pihak di luar sistem di era yang semakin canggih ini. Apalagi e-budgeting mengandalkan password untuk menghadapi orang di dalam sistem akan sia-sia. Jangankan orang di dalam sistem, orang di luar sistem saja sekarang banyak yang bisa menjebol password dari luar sistem. Untuk mengatasi lemahnya SDM dan lemahnya mentalitas pegawai serta mencegah praktek kecurangan yang dilakukan oleh orang di dalam sistem, maka tidak ada pilihan lain pemerintah harus konsen mengembangkan sistem informasi pintar..