Anda di halaman 1dari 17

B. *Konsep Dasar Asuhan Keperawatan 1. Pengkajian a.

Identitas Klien Merupakan informasi pertama atau biografi yang sangat membantu dalam menyusun riwayat kesehatan. Informasi tersebut meliputi : nama, alamat, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, suku, bahasa, agama, pekerjaan individu yang bersangkutan dan sebagainya. b. Keluhan Utama Keluhan yang dirasakan oleh pasien pada saat dilakukan pengkajian atau keluhan-keluhan yang lazim yang ditemui. Dapat ditemukannya keluhan poliuria, polidipsia, polifagia, penurunan berat badan, kelelahan, gangguan penglihatan, dan kram otot c. Riwayat Kesehatan 1) Riwayat Kesehatan sekarang. Keadaan atau keluhan yang dirasakan pada saat masuk rumah sakit dapat berupa poliuria, polidipsia, polifagia, penurunan berat badan, pruritus vulvular, kelelahan, gangguan penglihatan, peka rangsang, dan kram otot. 2) Riwayat Kesehatan Masa Lalu. Riwayat tentang penyakit, obesitas, riwayat pankreatitis kronik, riwayat melahirkan anak lebih dari 4 kg, riwayat glukosuria selama stress (kehamilan, pembedahan, trauma, infeksi, penyakit) atau terapi obat (glukokortikosteroid, diuretik tiasid, kontrasepsi oral). 3) Riwayat Kesehatan Keluarga. Riwayat kesehatan kelurga disini termasuk genogram. Genogram bertujuan untuk mengetahui kemungkinan adanya faktor keturunan dari generasi sebelumnya ataupun mengetahui kemungkinan turunan terhadap generasi. d. Riwayat Psikososial, meliputi : 1) Pola konsep diri 2) Pola Kognitif diderita. 3) Pola interaksi e. Riwayat Spiritual Yang dikaji dalam hal ini adalah bagaimana keadaan pasien dalam menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinannya dan bagaimana dukungan keluarga terhadap keyakinan pasien serta ritual dan acara keagamaan yang biasa dilakukan sebelum dan selama sakit. : Menggambarkan bagian hubungan pasien dengan keluarga, orang lain, perawat dan tenaga kesehatan lainnya. : Pandangan pasien terhadap keadaannya. : Pengetahuan pasien terhadap penyakit yang

f.

Pengkajian Persistem 1) Aktifitas / Istirahat a) Gejala : Lemah, letih, sulit bergerak / berjalan. Kram otot, tonus otot b) 2) Tanda : menurun, gangguan tidur / istirahat Takikardia, takipnea pada keadaan istirahat atau letargi / disorientasi, koma, penurunan kekuatan otot. Sirkulasi a) Gejala : b) Tanda : Adanya riwayat hipertensi, kesemutan ekstramitas, ulkus pada kaki, penyembuhan yang lama. Takikardia, perubahan tekanan daripostural hipertensi, nadi yang menurun / tidak ada, kulit panas, kering dan 3) kemerahan, bola mata cekung. Integritas Ego a) Gejala : Stress, tergantung pada orang lain, masalah finansial yang b) Tanda Eliminasi a) gejala b) tanda : : : berhubungan dengan kondisi. Anxietas, peka rangsang. Perubahan pola berkemih (Poliurua), ISK baru / berulang, nyeri tekan abdomen, diare. Urine pucat kering, Poliurua (dapat berkembang menjadi oliguria / anuria, jika terjadi hipovolemia berat), urine berkabut, bau busuk (infeksi), abdomen keras, adanya asites, 5) bising usus lemah dan menurun. Makanan dan Cairan a) gejala : Hilang nafsu makan, mual/muntah, tidak mengikuti diet, peningkatan masukan glukosa, karbohidrat, penurunan berat b) tanda : badan lebih dari periode beberapa hari/minggu, haus. Penggunaan diuretik, tiazid, kulit kering / bersisik, turgor kulit jelek, kekakuan / distensi abdomen, muntah, pembesaran tiroid (peningkatan kebutuhan metabolik dengan peningkatan gula darah). 6) Neurosensori a) gejala : b) tanda : Pusing, pening, sakit kepala, kelemahan pada

4)

otot,parestesia, gangguan penglihatan. Disorientasi (mengantuk, letargi, stupor apabila tahap lanjut), kacau mental, reflek tendon dalam menurun, aktivitas kejang

7)

dapat terjadi. Nyeri / kenyamanan a) gejala : Abdomen yang tegang / nyeri (sedang/berat). b) tanda : Wajah meringis dengan palpitasi / tampak sangat berhatihati. Pernafasan a) Gejala :

8)

Merasa kurang oksigen, batuk dengan/tanpa sputum purulen tergantung adanya infeksi/tidak.

b) 9)

Tanda

Lapar udara, batuk dengan/tanpa sputum purulen (infeksi), frekwensi pernafasan meningkat.

Keamanan a) Gejala : b) Tanda :

Kulit kering, gatal, ulkus kulit. Demam, diaphoresis, kulit rusak, lesi/ulserasi, menurunnya kekuatan umum/rentang gerak.

10) Seksualitas a) Gejala :

Rabas vagina (cenderung infeksi). Masalah impotensi pada pria 11) Penyuluhan / Pembelajaran a) Gejala : Faktor resiko keluarga DM, penyakit jantung, stroke, hipertensi, penyembuhan yang lambat, penggunaan obat seperti steroid, diuretik (tiazid), dilantin (dapat meningkatkan kadar glukosa darah) 12) Rencana Pemulangan Mungkin memerlukan bantuan dalam

pengaturan

diet,

pengobatan,

perawatan diri, pemantauan terhadap glukosa darah. 2. Diagnosa Keperawatan Pada Pasien dengan DM pada umumnya : a. Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan masukan nutrisi yang tidak adekuat, masukan dibatasi. b. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik. c. Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi metabolik, insufisiensi insulin, peningkatan kebutuhan energi. d. Perubahan membran mukosa mulut berhubungan dengan efek obat, xerostomia, kesulitan mengunyah, perubahan pengecapan, oral hygiene tidak adekuat, gigi rusak atau hilang. e. Kurang pengetahuan tentang masalah dan penanganan penyakit berhubungan dengan kurang mendapat informasi. Adapun diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien gangren kaki diabetik adalah sebagai berikut : a. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan melemahnya / menurunnya aliran darah ke daerah gangren akibat adanya obstruksi pembuluh darah. b. Gangguan integritas jaringan berhubungan dengan adanya gangren pada ekstrimitas. c. Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) berhubungan dengan iskemik jaringan. d. Keterbatasan mobilitas fisik berhubungan dengan rasa nyeri pada luka. e. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan

intake makanan yang kurang. f. Potensial terjadinya penyebaran infeksi ( sepsis ) berhubungan dengan tingginya kadar gula darah. g. Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya. h. Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi. i. j. 3. Gangguan gambaran diri berhubungan dengan perubahan bentuk salah satu anggota tubuh. Ganguan pola tidur berhubungan dengan rasa nyeri pada luka di kaki Intervensi Keperawatan Pada pasien DM pada umumnya : a. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan masukan nutrisi yang tidak adekuat. Tujuan Intervensi 1. Timbang (tanyakan terakhir). 2. Anjurkan klien makan makanan 2. Makanan kelemahan pemulihan. 3. Anjurkan klien untuk menghindari 3. Kafein dapat meningkatkan aktivitas kopi, alkohol, dan merokok lambung, rokok dapat mengurangi sekresi pancreas sehingga menghambat netralisasi asam lambung, juga memacu kerja jantung. 4. Anjurkan mengkonsumsi vitamin B 4. Memperbaiki kompleks, tambahan diet lain sesuai indikasi. 5. Berikan klien petunjuk makanan 5. Membantu klien untuk mengatur pola diet sehari-hari. sehari-hari untuk lansia kekurangan dan membantu proses penyembuhan. sedikit dan menurunkan proses porsi sedikit tapi sering. membantu : Menjamin masukan nutrisi yang adekuat. Rasional klien 1. Memberikan badan

berat berapa

badan berat

informasi

tentang

kebutuhan diet/keefektifan intervensi.

1) Kekurang

b.

Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik. Tujuan : kekurangan volume cairan teratasi Rasional pasien 1. Membantu

Intervensi g. Dapatkan

riwayat

dalam

memperkirakan

sehubungan dengan pengeluaran urine yang sangat berlebihan. h. Pantau tanda-tanda vital, catat adanya perubahan tekanan darah ortostatik. i. Observasi suhu, warna kulit dan kelembabannya. j. Kaji turgor kulit dan membrane mukosa.

kekurangan volume total. 2. Hipovolemia dapat dimanifestasikan oleh hipotensi dan takikardia. 3. Demam dengan kulit yang kemerahan, kering mungkin sebagai cerminan dari dehidrasi 4. Merupakan adekuat. indikator dri tingkat

dehidrasi atau volume sirkulasi yang k. l. Pantau masukan dan pengeluaran. 5. Memberikan Pertahankan hari. m. Tingkatkan lingkungan yang dapat menimbulkan tipis. n. Berikan terapi cairan sesuai 8. Tipe dan jumlah dari cairang tergantung pada derajat kekurangan cairan dan respon pasien secara individual. c. Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolik, kebutuhan energi meningkat. Tujuan : Menunjukkan peningkatan tingkat energi rasa nyaman, 7. Menghindari pemanasan yang selimuti pasien dengan selimut berlebihan terhadap pasien lebih lanjut akan dapat menimbulkan kehilangan cairan. dengan indikasi. untuk memberikan cairan paling sedikit 2.500 cc / 6. Mempertahankan sirkulasi. hidrasi / volume perkiraan kebutuhan akan cairan pengganti

Intervensi 1. Anjurkan

klien

untuk

Rasional melakukan 1. Mencegah kelelahan yang berlebihan energi yang telah

aktivitas yang dapat ditoleransi 2. Anjurkan klien untuk istirahat yang 2. Mengembalikan cukup dan mengurangi kelelahan 4. Diskusikan bersama klien hal-hal apa yang dapat menimbulkan kelelahan terpakai / pengumpulan energi. dan kebutuhan terapi ataupun intervensi 4. Memberi kesempatan kepada klien untuk bersama-sama perawat mengidentifikasi hal-hal / aktivitas yang perlu dihindari.

3. Kaji faktor yang dapat meningkatkan 3. Membantu dalam pembuatan diagnosa

Diagnosa 4 d. Perubahan membran mukosa mulut berhubungan dengan efek obat, xerostomia, kesulitan mengunyah, perubahan pengecapan, oral hygiene tidak adekuat, gigi rusak atau hilang. Tujuan : Menjamin perbaikan membran mukosa mulut

Intervensi Rasional 1. Beritahu klien bahwa mulut yang 1. Memberikan pemahaman kepada klien kering dapat disebabkan oleh efek obat dan harus dievaluasi sebelum memulai obat simptomatik. permen karet atau menhisap permen yang asem dapat merangsang pada mukosa mulut. 4. Dapat menimbulkan eksoserbasi pada tentang mulut sebab dan keringnya pentingnya mukosa untuk

melakukan evaluasi. cara lain untuk mencegah mulut kering

2. Beri tahu klien bahwa mengunyah 2. Sebagai informasi bagi klien tentang

produksi saliva (bila dapat ditoleransi) 3. Membantu memberikan kelembaban 3. Anjurkan klien untuk minum 10-12 gelas/hari

4. Anjurkan klien untuk menghindari mencuci mulut dengan bahan yang mengandung alkohol. 5. Anjurkan klien untuk menghindari rokok 6. Anjurkan klien agar teratur dalam melakukan oral hygien

mulut. 5. Rokok dapat menimbulkan

eksoserbasi pada mulut dan dapat mengiritasi membran mukosa mulut. 6. Mulut yang kering dapat meningkatkan resiko kerusakan

f.

Kurang pengetahuan tentang masalah dan penanganannya berhubungan dengan kurang mendapat informasi. Tujuan : Meningkatkan pengetahuan klien tentang pengertian penyakit, faktor yang dapat mendukung munculnya masalah kesehatan yang dihadapi dan penanganannya: Meningkatkan kesadaran klien tentang pengaturan diet dan kebiasaan makan.

Intervensi Rasional 1. Kaji pengetahuan klien tentang masalah 1. Membantu menentukan hal spesifik kesehatan yang dialami. yang akan menjadi klien topik/materi penyuluhan. 2. Identifikasi bersama klien kebiasaan 2. Membantu yang masalah 3. Anjurkan klien untuk mengkonsumsi obat-obatan penurun memungkinkan munculnya hubungan mengidentifikasi dengan kebiasaan

masalah yang dihadapi saat ini. teratur 3. Memberikan dorongan kepada klien agar konsisten terhadap program penyembuhan. dan panduan agar dapat dipatuhi.

glukosa darah sesuai resep (kolaborasi) dihindari dll) (misalnya: kafein, nikotin,

4. Berikan klien daftar zat-zat yang harus 4. Memberikan informasi kepada klien permen, coklat, makanan yang manis, 5. Anjurkan klien untuk menyesuaikan diet 5. Memberi kesempatan kepada klien dengan makanan yang disukai, pola makan dan jumlah yang dibutuhkan. diabetes mellitus yang meliputi: untuk bekerjasama dengan perawat dalam pengaturan diet. bertujuan berhubungan untuk dengan memberikan DM dan klien dan

6. Jelaskan kepada klien informasi tentang 6. Informasi yang diberikan kepada klien pengertian, penyebab, gejala klinik dan cara penanggulangannya. pemahaman tentang hal-hal yang penanganannya. 7. Berikan dorongan kepada klien untuk 7. Meningkatkan mematuhi semua saran-saran yang tentang disampaikan oleh perawat. kebiasaan makan. 8. Memberikan 8. Berikan tentang klien hal-hal kesempatan yang bertanya kesempatan kepada kesadaran diet pengaturan

klien untuk mencari informasi tentang hal-hal yang belum diketahui dan dipahami.

berhubungan

dengan masalah yang sedang dihadapi

Sedangkan untuk pasien gangren kaki diabetic adalah : a. Gangguan perfusi berhubungan dengan melemahnya/menurunnya aliran darah ke daerah gangren akibat adanya obstruksi pembuluh darah. Tujuan : mempertahankan sirkulasi perifer tetap normal. Intervensi 1. Ajarkan pasien untuk melakukan mobilisasi 2. Ajarkan tentang faktor-faktor yang dapat meningkatkan aliran darah : Tinggikan kaki sedikit lebih rendah dari jantung waktu ( posisi elevasi pada ), hindari istirahat Rasional 1. Mobilisasi darah. 2. Meningkatkan melancarkan aliran darah balik sehingga tidak terjadi oedema.

meningkatkan

sirkulasi

penyilangkan kaki, hindari balutan ketat, hindari penggunaan bantal, di belakang lutut dan sebagainya. 3. Ajarkan tentang modifikasi faktorfaktor resiko berupa : Hindari diet tinggi kolestrol, teknik relaksasi, menghentikan kebiasaan merokok, 3. Kolestrol tinggi dapat mempercepat terjadinya arterosklerosis, merokok dapat menyebabkan terjadinya

dan penggunaan obat vasokontriksi. 4. Kerja sama dengan tim kesehatan lain dalam pemberian vasodilator, pemeriksaan gula darah secara rutin dan terapi oksigen ( HBO ).

vasokontriksi dari stres. 4. Pemberian meningkatkan darah dapat rutin

pembuluh

darah,

relaksasi untuk mengurangi efek vasodilator dilatasi perfusi darah dan akan pembuluh jaringan secara keadaan sedangkan mengetahui

sehingga gula

diperbaiki, dapat

pemeriksaan perkembangan

pasien, HBO untuk memperbaiki oksigenasi daerah ulkus/gangren. b. Ganguan integritas jaringan berhubungan dengan adanya gangren pada ekstrimitas. Tujuan : Tercapainya proses penyembuhan luka. Intervensi Rasional 1. Kaji luas dan keadaan luka serta 1. Pengkajian yang tepat terhadap luka proses penyembuhan dan proses penyembuhan dalam akan membantu menentukan

tindakan selanjutnya. 2. Rawat luka dengan baik dan benar : membersihkan luka secara aseptik menggunakan larutan yang tidak iritatif, angkat sisa balutan yang menempel pada luka dan nekrotomi jaringan yang mati. 2. Merawat luka dengan teknik aseptik, dapat menjaga kontaminasi luka dan larutan sisa yang iritatif akan merusak jaringan granulasi yang timbul, granulasi 3. Insulin akan menurunkan kadar gula 3. Kolaborasi pemberian dengan insulin, dokter untuk darah, pemeriksaan kultur pus untuk mengetahui antibiotik pengobatan, gula darah jenis yang untuk kuman tepat dan untuk kadar pemeriksaan balutan jaringan nekrosis dapat menghambat proses

kultur pus, pemeriksaan gula darah, pemberian antibiotik.

pemeriksaan

mengetahui

perkembangan penyakit

c. Ganguan rasa nyaman ( nyeri ) berhubungan dengan iskemik jaringan. Tujuan : rasa nyeri hilang/berkurang Intervensi Rasional 1. Kaji tingkat, frekuensi, dan reaksi 1. Mengetahui berapa berat nyeri yang nyeri yang dialami pasien. 2. Jelaskan pada pasien tentang sebab-sebab timbulnya nyeri. dialami pasien 2. Pemahaman pasien tentang penyebab nyeri yang terjadi akan mengurangi ketegangan pasien dan memudahkan bekerjasama tindakan. 3. Ciptakan lingkungan yang tenang. 4. Ajarkan relaksasi. teknik distraksi dan 3. Rangasangan yang berlebihan dari lingkungan akan memperberat rasa nyeri. 4. Teknik distraksi dan relaksasi dapat mengurangi rasa nyeri yang dirasakan pasien. 5. Posisi yang nyaman akan membantu 5. Atur posisi pasien senyaman memberikan kesempatan pada otot untuk relaksasi seoptimal mungkin. 6. Massage dapat meningkatkan mungkin sesuai keinginan pasien. 6. Lakukan massage dan kompres luka dengan BWC saat rawat luka. pasien dalam untuk diajak melakukan

vaskulerisasi dan pengeluaran pus sedangkan BWC sebagai desinfektan yang 7. Obat dapat obat memberikan analgesik rasa dapat nyaman.

7. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgesik.

membantu mengurangi nyeri pasien.

d. Keterbatasan mobilitas fisik berhubungan dengan rasa nyeri pada luka di kaki. Tujuan : Pasien dapat mencapai tingkat kemampuan aktivitas yang optimal Intervensi Rasional 1. Kaji dan identifikasi tingkat kekuatan 1. Mengetahui derajat kekuatan otototot pada kaki pasien. 2. Beri penjelasan tentang pentingnya melakukan aktivitas untuk menjaga kadar gula darah dalam keadaan normal. 3. Anjurkan menggerakkan/ ekstrimitas kemampuan. 4. Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhannya. 5. Kerja sama dengan tim kesehatan lain : dokter ( pemberian analgesik ) dan tenaga fisioterapi. 4. Agar kebutuhan pasien tetap dapat terpenuhi. 5. Analgesik dapat membantu mengurangi rasa nyeri, fisioterapi untuk melatih pasien melakukan aktivitas benar. e. Gangguan pemenuhan nutrisi ( kurang dari ) kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan yang kurang. Tujuan : Kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi Intervensi Rasional 1. Kaji status nutrisi dan kebiasaan 1. Mengetahui makan. dapat 2. Anjurkan pasien untuk mematuhi diet yang telah diprogramkan. 3. Timbang berat badan setiap secara bertahap dan bawah pasien untuk mengangkat sesuai 3. Melatih otot otot kaki sehingga berfungsi dengan baik. otot kaki pasien. 2. Pasien mengerti pentingnya aktivitas sehingga dapat kooperatif dalam tindakan keperawatan.

tentang

keadaan tindakan diet

dan dan dapat

kebutuhan nutrisi pasien sehingga diberikan pengaturan diet yang adekuat. 2. Kepatuhan mencegah 3. Mengetahui badan terhadap komplikasi terjadinya berat badan

hipoglikemia/hiperglikemia. perkembangan ( berat seminggu sekali. pasien

merupakan salah satu indikasi untuk menentukan diet ). 4. Identifikasi makan. 5. Kerja sama dengan tim kesehatan lain untuk pemberian insulin dan diet diabetik. perubahan pola 4. Mengetahui ditetapkan. 5. Pemberian insulin akan meningkatkan pemasukan jaringan glukosa sehingga ke gula dalam darah apakah pasien diet telah yang melaksanakan program

menurun,pemberian diet yang sesuai dapat mempercepat penurunan gula darah dan mencegah komplikasi.

f.

Potensial terjadinya penyebaran infeksi ( sepsis) berhubungan dengan tinggi kadar gula darah. Tujuan : Tidak terjadi penyebaran infeksi (sepsis).

g. Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya. Tujuan : rasa cemas berkurang/hilang. Intervensi 1. Kaji Rasional yang 1. Menentukan tingkat kecemasan yang dialami pasien sehingga perawat bisa memberikan intervensi yang cepat dan tepat. 2. Beri untuk kesempatan pada pasien rasa 2. Dapat meringankan beban pikiran pasien 3. Agar terbina rasa saling percaya antar perawat-pasien kooperatif keperawatan. 4. Beri informasi yang akurat tentang proses penyakit dan anjurkan pasien untuk ikut serta dalam tindakan keperawatan. 5. Berikan keyakinan pada pasien bahwa perawat, dokter, dan tim kesehatan lain selalu berusaha memberikan 6. Berikan keluarga pertolongan kesempatan untuk yang pada 6. Pasien akan merasa lebih tenang bila ada anggota keluarga yang menunggu. 7. lingkungan yang tenang dan nyaman dapat membantu mengurangi rasa cemas pasien. h. Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, diet, perawatan, dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi. Tujuan : Pasien memperoleh informasi yang jelas dan benar tentang penyakitnya. Intervensi 1. Kaji tingkat Rasional pengetahuan 1. Memberikan tentang penyakit pasien/keluarga, informasi perawat pada perlu terbaik dan seoptimal mungkin. mendampingi 4. Informasi dalam yang akurat tindakan tentang dapat penyakitnya dan keikutsertaan pasien melakukan mengurangi beban pikiran pasien. 5. Sikap positif dari tim kesehatan akan membantu menurunkan kecemasan yang dirasakan pasien. sehingga dalam pasien tindakan mengungkapkan

tingkat

kecemasan

dialami oleh pasien.

cemasnya. 3. Gunakan komunikasi terapeutik.

pasien secara bergantian. 7. Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman.

pasien/keluarga

DM dan gangren.

mengetahui sejauh mana informasi atau pengetahuan yang diketahui pasien/keluarga.

2. Kaji

latar

belakang

pendidikan

2. Agar perawat dapat memberikan penjelasan dengan menggunakan kata-kata dan kalimat yang dapat dimengerti pasien sesuai tingkat pendidikan pasien.

pasien.

3. Jelaskan tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatan pada pasien dengan bahasa dan kata-kata yang mudah dimengerti. 4. Jelasakan prosedur yang akan dilakukan, manfaatnya bagi pasien dan libatkan pasien didalamnya.

3. Agar tidak

informasi

dapat

diterima

dengan mudah dan tepat sehingga menimbulkan kesalahpahaman. 4. Dengan penjelasan yang ada dan ikut secra langsung dalam tindakan yang dilakukan, pasien akan lebih kooperatif dan cemasnya berkurang. 5. Gambar-gambar dapat membantu

5. Gunakan

gambar-gambar

dalam

mengingat penjelasan yang telah diberikan.

memberikan penjelasan (jika ada / memungkinkan). i.

Gangguan gambaran diri berhubungan dengan perubahan bentuk salah satu anggota tubuh. Tujuan : Pasien dapat menerima perubahan bentuk salah satu anggota tubuhnya secar positif.

Intervensi 1. Kaji

perasaan/persepsi dengan

pasien keadaan

Rasional 1. Mengetahui

adanya

rasa

negatif

tentang perubahan gambaran diri berhubungan anggota tubuhnya yang kurang berfungsi secara normal. 2. Lakukan pendekatan dan bina hubungan saling percaya dengan pasien. 3. Tunjukkan rasa empati, perhatian dan penerimaan pada pasien.

pasien terhadap dirinya.

2. Memudahkan

dalam

menggali

permasalahan pasien. 3. Pasien akan merasa dirinya di hargai.

4. Bantu pasien untuk mengadakan hubungan dengan orang lain.

4. Dapat dalam

meningkatkan mengadakan

kemampuan hubungan

dengan orang lain dan menghilangkan perasaan terisolasi. 5. Beri kesempatan kepada pasien untuk mengekspresikan perasaan kehilangan. 6. Beri diri dorongan dan pasien untuk 6. Meningkatkan perilaku yang adiktif dari pasien berpartisipasi masalah pasien. j. Gangguan pola tidur berhubungan dengan rasa nyeri pada luka di kaki. Tujuan : Gangguan pola tidur pasien akan teratasi. Intervensi Rasional 1. Ciptakan lingkungan yang nyaman 1. Lingkungan yang nyaman dapat dan tenang. 2. Kaji tentang kebiasaan tidur pasien di rumah. membantu tidur/istirahat. 2. Mengetahui perubahan dari hal-hal yang merupakan kebiasaan pasien ketika tidur akan mempengaruhi pola tidur pasien. 3. Kaji adanya pola faktor tidur penyebab yang lain 3. Mengetahui faktor penyebab gangguan pola tidur yang dialami dan dirasakan pasien. 4. Pengantar tidur akan memudahkan pasien jatuh dalam tidur, teknik relaksasi akan mengurangi ketegangan dan rasa nyeri. kurangnya 5. Mengetahui terpenuhi atau tidaknya kebutuhan tidur pasien akibat gangguan pola tidur sehingga dapat diambil tindakan yang tepat. meningkatkan dalam perawatan pemecahan dari 5. Mendapatkan dukungan dalam proses berkabung yang normal.

hargai yang

konstruktif

gangguan

seperti cemas, efek obat-obatan dan suasana ramai. 4. Anjurkan pasien untuk menggunakan pengantar tidur dan teknik relaksasi. 5. Kaji tanda-tanda

pemenuhan kebutuhan tidur pasien.

4.

Implementasi Dalam fase pelaksanaan ini merupakan pengolahan dan perwujudan rencana keperawatan pada seorangpasien dalam melaksanakan asuhan keperawatan sesuai dengan cara yang telah disusun berdasarkan kebutuhan pasien untuk mencegah, mengurangi dan menghilangkan masalah yang ada pada pasien. Perlu dilihat kembali bahwa setiap akan menerapkan asuhan keperawatan sebaiknya mengkaji ulang data karena kemungkinan muncul data yang baru, bila terjadi demikian perlu revisi rencana yang ada sesuai kebutuhan pasien.

5.

Evaluasi Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan. Evaluasi adalah kegiatan terus menerus dilakukan dengan melibatkan pasien, perawat dan anggota kesehatan lainnya. Tujuan evaluasi adalah untuk melihat kemampuan pasien dalam mencapai tujuan. Hasil asuhan keperawatan dalam bentuk perubahan tingkah laku pasien merupakan fokus dari evaluasi.