Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Issu adalah suatu berita yang ramai di bicarakan, tentunya berita yang aktual yang dijadikan acuan perubahan khususnya dalam penjas. Ukuran keberhasilan kinerja atau efektivitas PBM Penjas tersebut dinilai dari aspek lain yang seharusnya terintegrasi dalam Penjas. Sebagai contoh kualitas proses yang seharusnya dapat terlihat dari Penjas yang baik, bagaimana guru menerapkan model pengembangan disiplin, pengajaran yang bernuansa DAP (Developmentally Appropriate Practice), kesadaran guru dalam mengembangkan bukan hanya aspek fisik dan motorik, tetapi aspek kognitif dan mental sosial serta moral anak. Bersamaan dengan semakin populernya kebugaran jasmani dan semakin meningkatnya kesenangan masyarakat, khususnya anak-anak terhadap olahraga, dampak kemamapuan gerak dan olahraga menjadi salah satu tujuan Pendidikan Jasmani. Untuk meraih target tersebut, selain pendekatan teknis, kini muncul berbagai model, misalnya yang cukup populer adalah PENDEKATAN TAKTIS, Sport Education, Cooperative Teaching. Fokus utamanya adalah terjalinnya keseimbangan antara peningkatan keterampilan gerak dan bermain

Issu dalam penjas dan olahraga

B. Rumusan Masalah Dari survey yang dilakukan oleh Pusat Kesegaran jasmani Depdiknas, diperoleh informasi bahwa hasil pembelajaran Penjas di sekolah secara umum hanya mampu memberikan efek kebugaran jasmani terhadap kurang lebih 15 persen dari keseluruhan populasi siswa. Sedangkan dalam penelusuran sederhana lewat test Sport Search dalam aspek yang berkaitan dengan kebugaran jasmani siswa SMU, siswa Indonesia rata-rata hanya mencapai kategori "Rendah" (Ditjora, 2002). Hal tersebut perlu mendapatkan perhatian kepada kita, bahwa mutu kebugaran jasmani siswa sekolah dari seluruh jenjang pendidikan di Indonesia masih tergolong sangat rendah.

C. Tujuan

Untuk mengetahui issu dalam penjas dan tantangan apa saja yang dialami guru penjas saat ini, dalam menghadapai perkembangan kurikulum baru yang diterapkan pemerintah dari tahun ke tahun, sehingga guru penjas dapat menyesuaikan perubahan tersebut.

Issu dalam penjas dan olahraga

BAB II PEMBAHASAN

A. Issu, Tantangan dan Masa Depan Pendidikan Jasmani dan Olahraga Dari survey yang dilakukan oleh Pusat Kesegaran jasmani Depdiknas, diperoleh informasi bahwa hasil pembelajaran Penjas di sekolah secara umum hanya mampu memberikan efek kebugaran jasmani terhadap kurang lebih 15 persen dari keseluruhan populasi siswa. Sedangkan dalam penelusuran sederhana lewat test Sport Search dalam aspek yang

berkaitan dengan kebugaran jasmani siswa SMU, siswa Indonesia ratarata hanya mencapai kategori "Rendah" (Ditjora, 2002). Hal tersebut perlu mendapatkan perhatian kepada kita, bahwa mutu kebugaran jasmani siswa sekolah dari seluruh jenjang pendidikan di Indonesia masih tergolong sangat rendah. Rendahnya mutu hasil pembelajaran pendidikan jasmani pun dapat disimpulkan dari keluhan masyarakat olahraga yang mengindikasikan bahwa mutu bibit olahragawan usia dini dari sekolah-sekolah kita sangat rendah. Keluhan ini dapat dikaitkan dengan dua hal. Pertama, para calon atlet kita rata-rata mengandung kelemahan dalam hal kemampuan motoriknya, dari mulai kecepatan, kelincahan, koordinasi, keseimbangan, dan kesadaran ruangnya; kedua, para calon atlet kita pun sekaligus memiliki kekurangan dalam hal kemampuan fisik (kebugaran jasmani), terutama dalam hal daya tahan umum, kekuatan, kelentukan, power, dan daya tahan otot lokal. Ukuran keberhasilan kinerja atau efektivitas PBM Penjas tersebut dinilai dari aspek lain yang seharusnya terintegrasi dalam Penjas. Sebagai contoh kualitas proses yang seharusnya dapat terlihat dari Penjas yang baik, bagaimana guru menerapkan model pengembangan disiplin, pengajaran yang bernuansa DAP (Developmentally Appropriate Practice), kesadaran guru dalam mengembangkan bukan hanya aspek fisik dan motorik, tetapi aspek
3 Issu dalam penjas dan olahraga

kognitif dan mental sosial serta moral anak, yang dipercayai oleh para ahli dapat mengembangkan nilai-nilai dan karakter positif pada diri anak. Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa mutu hasil pembelajaran penjas di Indonesia bisa sedemikian rendah. Apakah karena faktor guru yang juga kualitasnya rendah, ataukah disebabkan faktor lain seperti sarana dan prasarana yang tidak memadai? Ataukah semua kelemahan ini harus dialamatkan pada kurikulum yang tidak relevan, serta kurangnya dukungan dari pemerintah dan masyarakat dalam hal pentingnya

pendidikan jasmani? Untuk menjawab pertanyaan tersebut tidaklah mudah. Diperlukan penelusuran cermat yang melibatkan berbagai alat telaah multidisipliner, baik yang melibatkan tinjauan dari aspek filosofis,

sosiologis, psikologis, budaya, ekonomi serta politik. Dalam wilayah akademik, kita dapat mendekati permasalahan ini dalam hubungannya dengan kemampuan guru dan kurikulum yang diberlakukan dalam

program Penjas di Indonesia. Kemampuan guru harus ditelusuri dari segi nilai acuan (value orientation) (Jewet and Bain, 1995) mereka terhadap program yang menjadi tanggung jawabnya selama ini, sedangkan masalah kurikulum dapat dikaji dalam kaitannya dengan kemampuan sebuah kurikulum sebagai sebuah dokumen dalam memberikan keleluasaan

kepada guru untuk melakukan interpretasi dalam hal pelaksanaannya. B. Issu Krisis Pendekatan Pembelajaran Pendidikan Jasmani Sucipto Krisis pendidikan jasmani (penjas) disebabkan karena pengajaran yang tidak membangkitkan terjadinya proses belajar, sehingga penjas menjadi kurang bermakna; akarnya bukan karena kelangkaan infrastruktur atau biaya. Salah satu penyebab utamanya karena pendekatan mengajar guru dalam proses belajar mengajar belum sesuai dengan karakteristik siswa, materi ajar, dan tujuan yang harus dicapai. Salah satu cara untuk mengatasi masalah di atas adalah melalui penerapan pendekatan taktis dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran penjas. Pendekatan taktis pada hakekatnya adalah suatu
4 Issu dalam penjas dan olahraga

pendekatan pembelajaran keterampilan teknik dan sekaligus diterapkan dalam situasi permainan. Tujuan utama dari pendekatan taktis dalam pembelajaran adalah untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep bermain yang sesungguhnya. C. Issu Global Pendidikan Jasmani Isu global sekaligus tantangan berat dalam upaya mempersiapkan peserta didik melalui Pendidikan Jasmani adalah Semakin Besarnya Tuntutan akan Disain Implementasi Kurikulum Pendidikan Jasmani (Penjas) yang Relevan dan Akuntabel. 1. Tuntutan tersebut antara lain dipicu oleh a. perubahan nilai budaya dan gaya hidup yang berujung pada rendahnya kualitas fisik, prestasi olahraga, meningkatnya obesitas pada anak, angka sakit, dan yang lebih parah lagi adalah bahwa Indonesia sudah termasuk 6 besar negara Asia yang prevalensi penyakit tidak menular (kurang gerak). Angka kematian akibat penyakit tidak menular di Indonesia terus meningkat, dari 41,7% (1995) naik menjadi 49,9% (2001), kemudian 59,5% (2007). b. Tuntutan lain juga adalah semakin meningkatnya aksi kekerasan para pelajar dan penyalahgunaan NARKOBA yang akhir-akhir ini semakin memprihatinkan hingga mengkhawatirkan semua pihak. c. demikian juga jumlah penduduk yang cukup besar yang diperkirakan akan mencapai 260 juta pada tahun 2020 dengan struktur usia muda yang dominan, yang mengandung arti tanggungjawab pendidikan akan semakin meningkat karena jumlah siswa sekolah berikut berbagai permasalahannya semakin meningkat, semakin memerlukan

penanganan khusus, sistematis, dan terintegrasi.

Issu dalam penjas dan olahraga

D. Untuk Apa Pendidikan Jasmani Pendidikan Jasmani memiliki potensi untuk mengatasi permasalahan tersebut karena Pendidikan Jasmani memiliki dampak fisikal, sosial, afektif, maupun kognitif. 1. Dampak Fisik Pendidikan Jasmani Tidak diragukan lagi bahwa keuntungan fisik merupakan dampak Pendidikan Jasmani (Penjas) yang paling populer di masyarakat dan diposisikan sebagai kontribusi unik Penjas karena dampak ini tidak didapatkan melalui mata pelajaran lain. Dampak fisik dari penjas ini dikelompokkan ke dalam kebugaran jasmani, keterampilan olahraga, dan Gaya hidup aktif. Berdasarkan perspektif sejarah, dampak kebugaran jasmani merupakan target tujuan Penjas yang paling awal. Kebugaran jasmani dimaksud ditujukan pada dua sisi, yaitu rehabilitasi kelainan postur tubuh dan peningkatan fungsi tubuh. Beberapa program populer untuk meraih target ini, misalnya senam sistem Swedia, Erobik, dan Fitness Education. Bersamaan dengan semakin populernya kebugaran jasmani dan semakin meningkatnya kesenangan masyarakat, khususnya anak-anak terhadap olahraga, dampak kemampuan gerak dan olahraga menjadi salah satu tujuan Pendidikan Jasmani. Untuk meraih target tersebut, selain pendekatan teknis, kini muncul berbagai model, misalnya yang cukup populer adalah PENDEKATAN TAKTIS, Sport Education, Cooperative Teaching. Fokus utamanya adalah terjalinnya keseimbangan antara peningkatan keterampilan gerak dan bermain. Sedangkan tujuan gaya hidup aktif hadir pada tahun 1970an di beberapa negara maju sebagai alternatif solusi untuk meningkatkan gaya hidup aktif guna lebih menjamin kesehatan fisik di hari tua. Hasil
6 Issu dalam penjas dan olahraga

penelitian menunjukkan, meskipun semasa kanak-kanak memiliki status kebugaran baik, terampil olahraga, terbiasa aktif berolahraga, namun pada masa paruh bayanya tidak aktif, maka mereka memiliki potensi yang sama terkena berbagai penyakit kronis. Gaya hidup aktif berguna untuk memperlambat menurunnya fungsi tubuh, pencegahan dari penyakit kronis, dan hidup ketergantungan dari orang lain. Kecenderungan ini ditindaklanjuti oleh NASPE dengan

menetapkan produk Penjas yang disebut PHYSICALLY EDUCATED PERSON, dan target gaya hidup aktif yang berbunyi: Setiap orang melakukan aktivitas fisik sebagai bagian dari aktivitas sehari-harinya, minimal: akumulasi 20 menit/hari, 3x/minggu, pada katagori moderat setara dengan jalan cepat 100 hingga 130 langkah permenit. Di Indonesia program serupa sempat booming walaupun tidak berkelanjutan, seperti SPI (senam Pagi Indonesia), Senam Aerobik, CSD (Community Sport Development), dan SSD (School Sport Development), dsb. 2. Dampak Sosial Pendidikan Jasmani Selain memberi keuntungan pada dimensi fisik, Penjas juga memberi keuntungan pada dimensi sosial seperti kerjasama, leadership, dan empathy. Nauer (2010:1) melaporkan bahwa siswa yang memperoleh skor leadership skills tinggi adalah mereka yang secara fisik lebih aktif, dan mereka juga memperlihatkan skor empathy yang tinggi. Keuntungan dimensi sosial ini diperkuat oleh best practices di Australia Barat yang memanfaatkan olahraga sebagai instrumen untuk merehabilitasi dan mengalihkan perilaku kriminal dan anti sosial para anak muda di kota Perth (DSR, 2010). Hal serupa juga dilakukan oleh Presiden Nelson Mandela, yang meyakini bahwa olahraga memiliki kekuatan sebagai pemersatu bangsa dengan cara-cara yang tidak banyak dimiliki media lain. Olahraga mampu menembus rintangan ras dan kesukuan.

Issu dalam penjas dan olahraga

Dalam konteks ini olahraga tidak lagi ditempatkan untuk kepentingan politis melainkan untuk kemaslahatan hidup, menolong masyarakat menjadi lebih kuat, sehat, bahagia, dan nyaman (DSR, 2010). Melalui olahraga siswa belajar hidup dan bekerja kompetitif dan kolaboratif agar siap dan mampu hidup dalam kehidupan sosial yang penuh kompetisi. Pelajaran berharga yang dapat dipetik dari olahraga kompetitif adalah, Selalu bekerja keras, fair play, menghargai lawan, menerima kenyataan, when the contest is over, it is over. Dengan demikian tidak terlalu mengherankan Adolf Ogi, mantan Presiden Swiss, menyatakan bahwa nilai-nilai olahraga identik dengan nilai-nilai PBB, dan karena itu olahraga perlu terus dipromosikan demi kemaslahatan umat manusia. Lebih jauh ia menyatakan: Sport teaches life skill sport remains the best school of life. 3. Dampak Afektif Pendidikan Jasmani Para ahli Penjas juga meyakini bahwa aktivitas fisik dapat meningkatkan kesehatan psikologis anak seperti self-esteem, selfperception and psychological well-being. Pengakuan dampak positif afektif ini dituangkan dalam sejumlah dokumen kebijakan Penjas baik nasional seperti dalam dokumen KTSP (mendorong penghayatan nilainilai; sikap-mental-emosional-sportivitas-spiritual-sosial) maupun dalam dokumen internasional seperti dalam dokumen World Health

Organisation (1998) dan dokumen Council of Europe (Svoboda, 1994). Fox (2000) mengemukakan bahwa self-esteem anak dapat meningkat sebagai akibat dari partisipasi dalam olahraga; pengalaman menyenangkan selama melakukan aktivitas fisik dan olahraga dapat menumbuhkan self-esteem (Williams and Gill 1995; Sonstroem 1997). Gilman (2001) menyatakan bahwa mereka yang biasa berolahraga secara signifikan memiliki perasaan lebih senang daripada mereka yang tidak biasa berolahraga. Selain itu mereka yang biasa berolahraga juga
8 Issu dalam penjas dan olahraga

memiliki angka hadir sekolah yang lebih tinggi, dan menyenangi berbagai pengalaman belajar yang diberikan di sekolahnya (Fejgin, 1994). Berdasarkan sudut pandang neurosain, aktivitas fisik juga dapat memicu pelepasan neurotrofin, NGF (nerve growth factor), dopamine, dan adrenalin-noradrenalin yang dapat meningkatkan pertumbuhan, mempengaruhi suasana hati, menyimpan memori, dan meningkatkan koneksi antar neuron, struktur otak, serta efisiensi persyarafan (brain structure and neural efficiency); aktivitas fisik berkorelasi positif dengan neurogenesis dan neurogenesis berkorelasi negatif dengan perasaaan depresi (Brown, Burton & Heesch, 2007) 4. Dampak kognitif dari Pendidikan Jasmani Walaupun beredar keyakinan bahwa partisipasi siswa dalam olahraga berpengaruh negatif terhadap rata-rata nilai akademik, namun keyakinan tersebut belum pernah terbukti dan malah bertentangan dengan teori dan bukti empiris. Bailey ( 2009: 6) mengatakan bahwa, untuk berhasil belajar gerak, pelaku perlu konsentrasi, tekun, ulet, teliti, dan melakukan proses yang sama seperti yang dilakukan para ilmuwan dari disiplin ilmu lain. Berdasarkan perspektif teori proses informasi, bahwa untuk dapat menampilkan gerak yang baik, pelaku harus mengidentifikasi stimulus yang datang, memilih respon yang sesuai, mengorganisir sistem gerak, dan melakukan gerakan yang dipilihnya (respon programing stage), sebagai produk dari proses informasi. Dari sisi yang lainnya, semboyan klasik men sana in corpore sano, akhir-akhir ini terbukti sejalan dengan temuan kajian neuroscience yang telah mampu menjelaskan keterkaitan aktivitas fisik dan keberfungsian kognitif yang tidak terungkap melalui disiplin

Issu dalam penjas dan olahraga

ilmu manapun, yaitu a. latihan fisik memiliki korelasi positif dengan neurogenesis (produksi sel-sel baru), b. neurogenesis memiliki korelasi positif dengan peningkatan kemampuan belajar dan peningkatan kemampuan memory, dan c. latihan fisik memiliki korelasi positif dengan pelepasan BDNF (brain-derived neurotrophic factor), sebuah molekul penting bagi pertumbuhan sel-sel otak dan sinap-sinap syaraf otak. Jensen (2008) mengatakan bahwa promosi Pendidikan Jasmani setara dengan promosi fungsi otak dan otak akan memperoleh keuntungan dari aktivitas fisik melalui berbagai sisi. Perspektif teori neurosain ini sejalan dengan fakta di lapangan. Misalnya penelitian Hervet (1952), Dwyer et al. (1983), dan terakhir Martin K. (2010:5) dari University of Western Australia melaporkan bahwa a. penambahan jam pelajaran Penjas tidak mengganggu perolehan hasil akademik siwa meskipun waktu belajar akademiknya dikurangi; b. pada beberapa outcome tertentu (konsentrasi, kesiapan belajar, semangat belajar), penambahan jam pelajaran Penjas dapat menguntungkan bagi peningkatan perolehan hasil akademik; c. keterkaitan fungsi kognitif dan aktivitas fisik semakin kuat manakala program Pendidikan Jasmani dilakukan terus menerus dalam waktu yang lama. E. Issu Implementasi Kurikulum Pendidikan Jasmani Dari perspektif dokumen, kurikulum penjas sudah akomodatif terhadap tuntutan nilai-nilai hakiki dan tantangan Pendidikan Jasmani, perbandingan learning outcome dimensi fisik (35%) lebih rendah daripada dimensi non fisik (65%). namun dari perspektif kurikulum sebagai proses, pembelajaran Penjas di sekolah-sekolah masih menyisakan masalah besar meskipun perubahan kurikulum sudah berkali-kali dilakukan. Hasil penelitian Suherman, A. (2007) terungkap bahwa: 1. nilai rujukan yang berkembang di kalangan guru Penjas berbanding terbalik dengan nilai rujukan kurikulum, demikian juga orientasi
10 Issu dalam penjas dan olahraga

nilai rujukan tradisional (kebugaran dan sport skill) mendominasi pelaksanaan pembelajaran Penjas. Ini mengandung arti bahwa perubahan kurikulum Penjas tidak kompatibel dengan proses pembelajaran yang terjadi di kelas. Salah satu penyebabnya adalah lemahnya pengendalian proses transfer dari kurikulum sebagai dokumen ke dalam kurikulum sebagai proses pembelajaran Pendidikan Jasmani di sekolah. Lemahnya proses ini, selain menyebabkan ketidak selarasan antara kurikulum sebagai dokumen dan sebagai proses juga menyebabkan lemahnya kemampuan personal guru Pendidikan Jasmani di indonesia dalam menghadapi perubahan dan tantangan. Dalam rangka memperkecil kesenjangan antara kurikulum sebagai dokumen dan proses pembelajaran pendidikan jasmani, maka koordinasi harmonis semua pihak perlu dilakukan. Dari perspektif pemerintah, perlu dibangkitkan kembali program Sport for All sebagai bagian integral dari promosi gaya hidup aktif di Indonesia. Kebijakan Sport for All yang di Indonesia diluncurkan pada tahun 1983 melalui gerakan Mengolahragakan Masyarakat Dan Memasyarakatkan Olahraga pernah disambut dengan meriah oleh masyarakat yang ditandai dengan munculnya berbagai kegiatan seperti Senam Pagi Indonesia (hingga beberapa seri), senam erobik, senam Poco-Poco, hari Krida, program olahraga rekreasi dan olahraga tradisional, program tes kebugaran jasmani siswa sekolah, Community Sport Development (CSD) dan School Sport Development (SSD). Pemerintah juga perlu mendorong tumbuh dan berkembangnya organisasi profesi pendidikan, khususnya profesi Pendidikan Jasmani untuk mengembangkan jati dirinya, spesifikasi produk dan programnya, serta target capaiannya sehingga eksistensinya diakui. Organisasi profesi Pendidikan

Jasmani perlu menggalakkan kembali program dan target kebugaran jasmani pelajar melalui program tes kebugaran jasmani yang dulu pernah diluncurkan

11

Issu dalam penjas dan olahraga

dengan menambahkan program dan target gaya hidup aktif pelajar dan masyarakat sebagaimana dilakukan juga di negara-negara maju. Perlu juga dibuat regulasi yang menyebabkan orang harus aktif secara fisik, seperti, penataan ruang terbuka, akses pejalan kaki, ruang parkir, transportasi, penggunaan lift dan tangga di perkantoran dan gedung-gedung pemerintah maupun swasta. Kebijakan dan program ini perlu terus dipromosikan dengan cara persuasif dan edukatif sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan kualitas hidup bangsa Indonesia. Dari perspektif Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), penguatan terhadap pendampingan dan pengendalian proses transfer dari kurikulum sebagai dokumen ke dalam kurikulum sebagai proses pembelajaran Pendidikan Jasmani di sekolah merupakan hal yang urgen dilakukan, beberapa diantaranya adalah 1. Meningkatkan kemampuan calon guru dalam menerapkan berbagai inovasi untuk lebih menjamin implementasi kurikulum di sekolah Pengenalan dan penguatan guru dan calon guru terhadap berbagai inovasi model kurikulum dan pembelajaran Penjas telah mampu menghantarkan para guru Penjas menjadi lebih efektif dalam

mengartikulasi dan menghantarkan program pendidikan jasmani sejalan dengan standar kurikulum Pendidikan Jasmani yang berlaku. Demikian juga model pembelajaran telah mampu membantu para guru Penjas menyadari, meredefinisikan, dan menyesuaikan model yang digunakan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran Penjas. Melalui penerapan dan pengembangan berbagai model kurikulum dan pembelajaran, para guru Penjas mampu melakukan sinkronisasi tujuan, materi, metode, dan penilaian sebagai bagian integral dari perencanaan pembelajarannya.

12

Issu dalam penjas dan olahraga

2. Penguatan Program Pengalaman Lapangan (PPL) Melalui PPL, calon guru Penjas meningkat tanggung jawab mengajar hariannya, tidak terlalu shock dalam menjalankan tugas mengajar yang sebenarnya, dan dapat mengembangkan pembelajaran yang berorientasi pada siswa (Child-centered), serta lebih fokus pada penciptaan pembelajaran efektif dalam meraih tujuan. Namun demikian masih ada kecenderungan LPTK kurang memperhatikan program PPL ini dengan cara: membiarkan mahasiswa calon guru mencari sekolah sendiri untuk melaksanakan PPL, melakukan proses pembelajaran dengan Teachercentered, dan membiarkan mahasiswa PPL mendapat kesulitan dalam mengembangkan proses pembelajaran yang lebih bermakna karena kurang mendapat supervisi, bimbingan, dan feedback yang memadai dari dosen pembimbing dan guru modelnya 3. Penguatan Program Mentoring Program mentoring dibuat dalam rangka memfasilitasi idealisme calon guru Penjas dalam melaksanakan inovasi untuk meraih standar profesional mengajar. Menyadari bahwa banyak permasalahan yang harus diatasi dalam pembelajaran Penjas, para calon guru pergi melaksanakan PPL tidak dengan pikiran kosong melainkan dengan membawa sejumlah gagasan dan berbagai inovasi yang ingin direalisasikan, pada kesempatan tersebut, keberadaan para mentor yang berpengalaman, terlatih, dan profesional dari universitas akan sangat membantu dalam menguasai dan mengimplementasikan Subject Spesific Pedagogy (SSP) yang sudah didapatkan selama di bangku perkuliahannya. Fokus terhadap proses belajar yang dilakukan dalam real setting melalui program mentor inilah yang menyebabkan calon guru lebih siaga dalam mengatasi berbagai masalah dan diharapkan berhasil dalam meminimalisir marginalisasi Pendidikan Jasmani.

13

Issu dalam penjas dan olahraga

Dari perspektif Sekolah, sebagai unit pelaksana terkecil penyelenggaraan pendidikan, beberapa hal yang harus dilakukan antara lain adalah: 1. Meningkatkan Akuntabilitas PBM dalam Meraih Standar Minimal Kompetensi Dasar (KD) Pendidikan Jasmani Sekolah dan guru Penjas hendaknya memanfaatkan KTSP untuk mengembangkan dan mengimplementasikan berbagai model yang sesuai dengan kondisi setempat dalam rangka meningkatkan

akuntabilitas PBM Penjas pada tingkat satuan pendidikan yang dirasakan masih sangat minim, baik dilihat dari perkembangan dimensi fisik (kebugaran, kemampuan gerak, gaya hidup aktif), maupun pada dimensi sosial, afektif, dan kognitif. Untuk itu, satuan pendidikan harus selalu bekerja sama dengan akademisi dan stakeholdernya (3 parti). Dengan demikian hasil belajar (learning outcomes) yang tertuang dalam KTSP menjadi lebih jelas, tegas, dan realistis diraih siswa melalui Penjas, demikian juga para guru lebih leluasa memilih strategi, pendekatan, model yang dapat meraih hasil pembelajaran Penjas yang lebih baik. 2. Pengembangan Program Penjas Berbasis Masyarakat (PPBM) Sebagian besar Pendidikan Jasmani dilaksanakan dalam seting lingkungan sekolah yang bisa jadi jauh dari realitas yang sebenarnya. Para guru Penjas sudah saatnya mengembangkan PPBM agar suatu saat Penjas di sekolah memegang peranan sentral bagi penanaman nilai-nilai pendidikan pada anak-anak, keluarga, dan masyarakat pada umumnya. Program PPBM dapat dilakukan mulai dari bentuk yang sederhana dengan mendatangkan volunteer pengajar Penjas di Sekolah hingga bentuk yang lebih kompleks. Embrio PPBM dapat dimulai dari kegiatan ekstra kurikuler seperti: olahraga permainan, bersepeda, adventure, mountaining, aerobic, dan lain sebagainya.

14

Issu dalam penjas dan olahraga

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Meskipun banyak faktor yang menentukan kualitas hidup bangsa, namun berdasarkan uraian di atas, Pendidikan Jasmani memiliki peranan yang sangat strategis (dapat menjangkau semua ranah perilaku seperti domain fisik, sosial, afektif, kognitif) dan unik (memiliki kontribusi yang tidak dimiliki mata pelajaran lain) yang salah satunya adalah gaya hidup aktif dan sehat sepanjang hayat, yang di negara-negara maju, merupakan target utama Penjas, karena terbukti memberi dampak keuntungan luar biasa dan tak terhingga pada berbagai aspek kehidupan suatu negara seperti dijelaskan dalam naskah ini. Oleh karena itu, upaya meningkatkan sinkronisasi kurikulum sebagai ide, dokumen, dan proses merupakan suatu pekerjaan yang sangat berharga, mulia, dan harus merupakan tanggung jawab bersama. Pekerjaan mulia ini bukan hanya tanggung jawab guru Penjas semata namun tanggung jawab kita semua insan pendidikan dan semua orang yang mencintai dan mendambakan kehidupan yang lebih baik, beradab, bermartabat, dan diakui dunia. Oleh karena itu dalam kesempatan ini saya mengajak semua pihak untuk bersamasama Membangun Kualitas Hidup Bangsa Yang Lebih Baik Melalui Pendidikan Jasmani. B. saran

15

Issu dalam penjas dan olahraga

DAFTAR PUSTAKA

http://berita.upi.edu/2013/02/15/membangun-kualitas-hidup-bangsa-melaluipendidikan-jasmani/

16

Issu dalam penjas dan olahraga