Anda di halaman 1dari 18

PRINSIP PRINSIP KOORDINASI YANG TERKANDUNG DALAM PM 30 / 2012

(PROSEDUR KOORDINASI PCS1900 UMTS)

Direktorat Penataan Sumber Daya Ditjen SDPPI - Kementerian Kominfo 2013


1

PRINSIP PRINSIP KOORDINASI PM 30/2012


1. Pahami dan resapi 3 tujuan berkoordinasi : efisiensi, pencegahan dan mitigasi interferensi, serta menjaga kualitas layanan (Ps.3). 2. Munculkan itikad baik sejak awal dalam bentuk semangat kerjasama yang baik antara operator PCS1900 dan UMTS (Ps.12). 3. Itikad baik salah satunya diwujudkan dengan memperhatikan data BTS eksisting dari operator lain ketika akan membangun BTS baru di suatu wilayah (Ps.9). 4. Bila memang pada akhirnya harus ada pemasangan filter tambahan di kedua pihak, maka biayanya merupakan tanggung jawab masing-masing operator (Ps.11).

5. Jika operator PCS1900 tidak melaksanakan prosedur koordinasi sehingga interferensi masih terjadi, maka BTS PCS1900 yang menjadi suspect penginterferensi dihentikan operasionalnya hingga prosedur koordinasi dijalankan dengan baik oleh kedua belah pihak (Ps.14). 2

FREKUENSI RADIO ADALAH PUBLIC GOODS


1. Public goods : nonrivalrous consumption & nonexcludability. 2. Nonrivalrous consumption : konsumsi suatu public goods oleh seseorang atau satu pihak tidak akan mengurangi nilai dari public goods tersebut ketika dikonsumsi oleh orang atau pihak lain. 3. Nonexcludability : tidak ada seorang pun atau satu pihak pun yang dapat menghalangi orang atau pihak lain untuk mengkonsumsi suatu public goods.

4. Ketika seseorang atau sejumlah pelanggan seluler suatu operator tidak bisa berkomunikasi dengan baik, misalnya drop call atau susah terkoneksi saat menggunakan modem 3G-nya, maka sifat alami frekuensi radio sebagai public goods menjadi tidak berlaku bagi orang tersebut.
5. Sudut pandang ini wajib untuk menjadi prioritas pertimbangan, bahwa yang paling dirugikan dari interferensi adalah masyarakat umum (publik), bukan operator.
3

PENGELOLAAN FREKUENSI RADIO OLEH NEGARA BERBASIS PUBLIC TRUST DOCTRINE


1. Public trust doctrine : sumber daya alam, termasuk frekuensi radio, pemanfaatannya adalah untuk kepentingan publik (public interest) dan Negara bertanggung jawab untuk melindungi hak hak publik di dalamnya. 2. Dalam hal ini, peran Negara adalah sebagai pemegang amanah publik (trustee) : menerbitkan regulasi, menjaga hak penguasaan Negara atas sumber daya frekuensi radio, melindungi hak setiap warga negara dalam menggunakannya, serta memastikan pemanfaatan frekuensi radio oleh pihak swasta semata mata ditujukan untuk kepentingan publik. 3. UUD 1945 Ps. 33 ayat (3) : Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar - besar kemakmuran rakyat.

4. Dengan pemahaman Public Trust Doctrine tersebut, Negara berhak melakukan segala hal yang dipandang perlu agar kepentingan publik tetap terjaga, mulai dari menetapkan pedoman penyelesaian interferensi sampai dengan penghentian operasional dari sumber penginterferensi.
4

ITIKAD BAIK ... (1)


1. Sebagaimana diamanatkan dalam ketentuan Pasal 9 dan 12 PM 30/2012, baik operator PCS1900 maupun UMTS harus memiliki itiad baik dalam menyelesaikan permasalahan interferensi ini. 2. Itikad baik tersebut dapat diwujudkan antara lain dengan cara sering bertemu sejak tahap perencanaan jaringan BTS yang akan dibangun. 3. Dengan duduk bersama, diharapkan operator yang baru akan masuk ke suatu wilayah dimana di wilayah tersebut ada operator dengan teknologi lain dapat memilih lokasi BTS yang paling minim potensi interferensinya. 4. Lebih diharapkan lagi, operator yang baru akan membangun tersebut dapat co-location pemasangan antenanya dengan operator berteknologi lain yang telah lebih dulu eksis di wilayah tersebut. Dengan kata lain, antenanya ditempatkan di menara operator eksisting. Pemisahan yang kemudian tercipta adalah pemisahan secara vertikal. Keuntungannya adalah bahwa space isolation yang tercipta lebih besar dibandingkan dengan isolasi horizontal untuk jarak yang sama.
5

ITIKAD BAIK ... (2)


5. Ketika terjadi kasus interferensi pun sebaiknya operator UMTS yang terkena dampak interferensi berkoordinasi terlebih dahulu secara B-to-B (Business to Business) dengan operator PCS1900. 6. Diharapkan dengan pertemuan B-to-B, tercipta solusi yang sifatnya : a) lebih cepat (faster solution), b) lebih win-win solution dari sudut pandang bisnis operator,

c) dapat diterapkan di wilayah yang lebih luas (diharapkan bisa menjadi solusi secara nasional), dan
d) mampu bertahan untuk jangka waktu yang lebih lama (long term solution). 7. Setelah usaha maksimal di level B-to-B belum mampu menghasilkan solusi yang dapat diterima kedua pihak, baru kemudian dilaporkan kepada aparat Pemerintah, dalam hal ini UPT Monitor Frekuensi di wilayah terkait (Balmon / Loka / Posmon). 6

POSISI PITA UMTS vs PCS1900


INTERFERENSI

UMTS

UPLINK PCS1900

DOWNLINK PCS1900
7

ARAH INTERFERENSI

UMTS

PCS1900
8

Respon Filter Rx UMTS

Respon dari perangkat filter receiver yang ada dan ter-deploy saat ini di BTS BTS operator UMTS terbukti tidak memadai untuk co-existence dengan PCS-1900 (ditujukan hanya untuk co-exist dengan sesama UMTS) -> memperparah kondisi interferensi. 9

UMTS DAN PCS1900 SAMA SAMA MEMILIKI KEWAJIBAN DALAM MEMITIGASI INTERFERENSI
RESPON FILTER INTERNAL UMTS (DI DALAM DUPLEXER)

Di titik 1980 MHz, respon filter UMTS harus langsung turun (rejection loss : 3 - 6 dB)
Asumsi, nilai telah dipatuhi operator PCS

Di titik 1983.125 MHz, respon filter UMTS harus mampu menekan sinyal PCS1900 sehingga lebih selektif dalam memilih sinyal

79 dBc

10

KAPAN DISINYALIR INTERFERENSI DL PCS1900 -> UL UMTS TELAH TERJADI ?


1. Terjadi drop call di area pancaran satu BTS UMTS dalam persentase yang tinggi, atau sama juga dengan success call rate yang rendah. Ini dinamakan terjadi blocking di sisi Rx BTS UMTS. 2. Setelah dicek ke OSS, rupanya ada nilai RSSI pada salah satu atau lebih sektornya yang terdeteksi di atas -90 dBm. 3. Setelah diselidiki di lapangan, BTS UMTS yang diduga mengalami blocking tersebut rupanya berdekatan dengan BTS operator PCS1900 (Smart Telecom), kira kira dalam radius di bawah 15 meter. 4. Setelah diamati di lapangan, ada salah satu antena sektor BTS UMTS yang face-to-face atau nyaris face-to-face dengan antena sektor dari BTS PCS1900.
11

Contoh Identifikasi Blocking


3G Drive test KPI
No Response from Node-B Blocked Call Call Attempt Call Attempt Retry Call Setup Dropped Call Call Setup Success Rate Dropped Call Rate

MS1_10813 MS2_10838 Block 11 Block 12


5 1 12 1 7 0 53.84 % 0.00 % 25 13 20 24 6 0 13.64 % 0.00 %

MS1: Dedicated Short Call Mode 3G (lock UARFCN 10813) 60s dedicated / 10s idle MS2: Dedicated Short Call Mode 3G (lock UARFCN 10838) 60s dedicated / 10s idle
12

Contoh Identifikasi RSSI di atas -90 dBm


XL (Blok 9 dan 10)

Telkomsel (Blok 4 dan 5)

PROFIL RTWP

13

Contoh Identifikasi Lapangan Lokasi BTS UMTS dan BTS PCS1900


Lokasi : Di Atap Hotel Pangrango, Bogor Ket. Gambar : Sektor (alpha) Smart Telecom menginterferensi sektor (gamma) Telkomsel
INTERFERENSI

Sektor Telkomsel

Sektor Smart

14

PASAL 4 : KEWAJIBAN OPERATOR PCS1900


1. 2. 3. 4. Wajib memenuhi Spectrum Emission Mask (SEM) di Lampiran I. Untuk menguji sudah memenuhi SEM atau belum, lakukan di titik referensi pengirim (transmitter) PCS1900. Untuk menguji sudah memenuhi SEM atau belum, daya pancar BTS operator PCS1900 harus maksimum : 20 watt (setara dengan 32 dBm/100 kHz). Pada saat pengujian SEM, ada 2 hal yang wajib dipenuhi : a) Out of Band Emission (OOBE) maksimum : -47 dBm/100 kHz, dan b) 79 dBc sebagai selisih minimum antara level OOBE dengan level daya pancar maksimum. Batasan level OOBE di atas adalah untuk titik 1980 MHz dan lebih kecil. Setelah lolos pengujian dan kemudian beroperasi di lapangan, operator PCS1900 harus mampu menjaga nilai 79 dBc dalam ayat (4) huruf b di atas. Jika dalam pengujian, terbukti tidak memenuhi SEM, operator PCS1900 wajib pasang filter tambahan. Letak titik referensi Tx PCS1900 adalah di Lampiran II.
15

5. 6. 7. 8.

PASAL 10 : PROSEDUR KOORDINASI


a) Tahapan pertama : cek terlebih dahulu apakah operator PCS1900 sudah memenuhi kewajiban Spectrum Emission Mask (SEM) sebagaimana dimaksud Pasal 4. b) Tahapan kedua : kalau operator PCS1900 sudah memenuhi SEM-nya, lanjut dengan operator UMTS mengukur mean power di rentang 1980 1985 MHz pada titik referensi Rx UMTS. Ingat : bahwa uplink pita UMTS Blok 11-12 hanya 1970 1980 MHz dan downlink pita PCS1900 adalah 1983,125 1990 MHz c) Tahapan ketiga : jika nilai mean power terukur masih lebih besar dari -52 dBm, maka lakukan koordinasi diantara operator UMTS Blok 11-12 dengan operator PCS1900 untuk mengatur posisi antenanya sehingga didapat nilai isolasi antena yang maksimum.
16

PASAL 10 : PROSEDUR KOORDINASI


setelah dilakukan pengaturan antena, cek kembali nilai mean power terukur, apakah sudah di bawah -52 dBm atau belum. d) Tahapan keempat : kalau nilai mean power-nya masih lebih besar dari -52 dBm, maka operator UMTS Blok 11-12 harus pasang filter tambahan sedemikian hingga nilai mean powernya jadi di bawah -52 dBm. Letak titik referensi Rx UMTS adalah di Lampiran III.

17

18