Anda di halaman 1dari 2

PENGGUNAAN KOSAKATA

17.48 FAHRI_EL BANJARI NO COMMENTS

Sumber dan Cara Pengembangan Kosakata Perkembangan kosakata diperlukan dalam kaitannya dengan usaha perkembangan konsep dan gagasan kehidupan modern. Dalam hal ini, ada dua masalah pokok yang perlu diperhatikan, yaitu masalah sumber pengembangan dan cara pengembangannya. Dua masalah tersebut dikemukakan berikut ini Sumber Pengembangan Kosakata dari Bahasa Indonesia Kata Indonesia yang dapat dijadikan bahan istilah kata umum, baik yang lazim maupun yang tidak lazim, yang memenuhi salah satu syarat atau lebih berikut ini. 1) Kata yang dapat dengan tepat mengungkapkan makna konsep, proses, keadaan atau sifat yang dimaksudkan. Contoh: tunak (steady), telus (percolate), imak (simulate) 2) Kata yang lebih singkat daripada yang lain yang beracuan sama. Contoh: gulma bukan tumbuhan pengganggu suaka (politik) bukan perlindungan (politik) 3) Kata yang tidak bernilai rasa (konotasi) buruk dan yang sedap didengar (eufonik). Contoh: pramuria bukan hostes, tunakarya bukan penganggur

Di samping itu, ada beberapa cara lain yang dapat ditempuh untuk mengembangkan kosakata bahasa Indonesia. Cara-cara tersebut adalah sebagai berikut. 1) Cara perluasan dan penyempitan makna: Contoh: a) b) Perluasan makna: (hari) jatuh, garis (bapak), dan garam (kimia) Penyempitan makna: kendala (constrain), (momen) gaya, dan tenaga (listrik)

2) Cara penghidupan kembali unsur leksimal lama yang dapat diaktifkan lagi dengan maknanya yang sama, atau dengan makna baru lewat proses perluasan atau penyempitan makna. Contoh: Pemerhati, tolok, pelanggan (customer), kanjang (ausdauer), tapak (site) 3) Cara pemajemukan dengan mengambil unsur leksikon yang ada Contoh: angkatan bersenjata, daya angkut, mesin hitung, tampak depan, segitiga 4) Cara penciptaan bentuk baru lewat proses penamaan baru atau lewat proses pengakroniman. Contoh: Sinambung, berdikari, niraksara, plin-plan 1.2. Sumber Pengembangan Kosakata dari Bahasa Serumpun

Jika bahasa Indonesia tidak ditemukan istilah yang dengan tepat dapat mengungkapkan makna konsep, proses, keadaan, atau sifat yang dimaksudkan, makna istilah dicari dalam bahasa serumpun, baik yang lazim maupun yang tidak lazim, yang memenuhi ketiga syarat di atas. Contoh:

Istilah yang lazim


gambut (Banjar) ------------- peat (Inggris) nyeri (Sunda) --------------- pain (Inggris) timbel (Jawa) ---------------- lead (Inggris)

Istilah yang tidak lazim atau kuno


gawai (Jawa) ---------------- device (Inggris) luah ------------------------- discharge (Inggris) (Bali, Bugis, Minagkabau, sunda) Dalam rangka pengembangan bahasa Indonesia selayaknya diperhitungkan masalah yang mungkin timbul, karena adanya perasaan terhadap dominasi bahasa serumpun tertentu. Kata seperti tanpa, karsa,dan sarjana dianggap memperkaya kosakata bahasa Indonesia. Bentuk sasana tinju yang dilafalkan menurut fonologi Indonesia, dianggap ciptaan yang jitu. Karena itu, kebiasaan yang sebenarnya sudah lama berlangsung di dalam proses pemungutan, untuk menyulih fonem / / dengan /a/, patut dipertahankan agar ciri keindonesiaan tampil dengan lebih nyata. Sumber Pengembangan Kosakata dari Bahasa Asing 1. Cara Penyerapan Jika dalam bahasa Indonesia atau bahasa serumpun tidak ditemukan istilah yang tepat, maka bahasa asing dapat dijadikan sumber peristilahan Indonesia. Istilah baru dapat dibentuk dengan menerjemahkan, menyerap, dan menyerap sekaligus menerjemahkan istilah asing.

http://fahrielbanjari.blogspot.com/2012/01/penggunaan-kosakata.html