Anda di halaman 1dari 24

KASUS PENERAPAN PARIWISATA BERKELANJUTAN DI BALI DAN SOLUSINYA

OLEH :

Dali Primantara Eirene Lestari P. Hutagaol Putu Yuni Ardhiani Kadek Dwi Bima Pande

1012041013 1012014052 1012041032 1112014055

PROGRAM STUDI DIPLOMA IV PARIWISATA FAKULTAS PARIWISATA UNIVERSITAS UDAYANA 2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat-Nya paper yang berjudul Kasus Penerapan Pariwisata Berkelanjutan di Bali dan Solusinya dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan moral maupun material sehingga karya tulis ilmiah ini dapat tersusun dengan baik. Penulis menyadari bahwa apa yang telah dipaparkan pada karya tulis ilmiah ini masih jauh dari tingkat sempurna baik menyangkut isi, teknis, maupun bahasa. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan penelitian ini. Betapapun kekurangan itu, penilaian sepenuhnya diserahkan kepada para pembaca. Akhirnya penulis berharap semoga penelitian ini dapat bermanfaat sehingga dapat disimak dalam bentuk bahan bacaan.

Denpasar, 26 september 2013

Penulis

ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................. ii DAFTAR ISI ................................................................................................................ iii BAB I ............................................................................................................................ 1 PENDAHULUAN ........................................................................................................ 1 1.1 Latar Belakang ............................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................... 3 1.3 Tujuan .................................................................................................................. 3 1.4 Manfaat ............................................................................................................... 3 BAB II ........................................................................................................................... 4 TINJAUAN KONSEP .................................................................................................. 4 2.1 Tinjauan Konsep Pariwisata Berkelanjutan......................................................... 4 2.2 Indikator Pariwisata Berkelanjutan .................................................................... 7 BAB III ......................................................................................................................... 9 PEMBAHASAN ........................................................................................................... 9 3.1 Isu-Isu Terkini Terkait Dengan Dampak Pariwisata ........................................... 9 3.2 Kasus-Kasus Pembangunan Pariwisata di Bali Yang Tidak Sesuai Dengan Penerapan Pariwisata Berkelanjutan ......................................................................... 9 3.3 Solusi Atas Kasus Penerapan Pariwisata Berkelanjutan di Bali ....................... 12 BAB IV ....................................................................................................................... 18 SIMPULAN DAN SARAN ........................................................................................ 18 4.1 Simpulan ............................................................................................................ 18 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 21

iii

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Munculnya isu pengelolaan pariwisata yang berkelanjutan adalah sebagai hal yang dinamis dalam skala industri secara makro melalui pendekatan strategis dalam perencanaan dan pembangunan sebuah destinasi pariwisata. Meskipun banyak anggapan bahwa pariwisata adalah sebuah sektor pembangunan yang kurang merusak lingkungan dibandingkan dengan industri lainnya, namun jika kehadirannya dalam skala luas akan menimbulkan kerusakan lingkungan fisik maupun sosial. Melanjutkan konsep pembangunan berkelanjutan, Murphy dan Price (dalam Theobald, 2004) berpendapat bahwa ada hubungan antara ekonomi dan lingkungan serta memiliki hubungan yang sangat erat. Kepentingan pariwisata dalam pembangunan berkelanjutan adalah logis mengingat bahwa pariwisata adalah salah satu industri yang produknya menjual lingkungan, baik fisik dan manusia sebagai sebuah totalitas produk. Penulis lainnya juga berpendapat bahwa integritas dan kelangsungan produk pariwisata telah membutuhkan perhatian utama sebagai sebuah industri. Sebenarnya pembangunan pariwisata merupakan konsep yang sedang berkembang, konsep siklus hidup pariwisata dan konsep daya dukung saling terkait adalah cara yang baik dan dinamis untuk melihat kondisi dan perkembangan pariwisata. Konsep siklus hidup menunjukkan bahwa daerah tujuan wisata senantiasa mengalami perubahan dari waktu ke waktu, dan kemajuannya dapat dilihat melalui tahapan-tahapan dari pengenalan hingga penurunan. Dengan pengelolaan yang baik, pariwisata berperanan untuk memberdayakan sumber daya yang langka serta menjadikan industri pariwisata dapat diperpanjang siklus hidupnya dan berkelanjutan.

Masalah standar dalam industri pariwisata juga menjadi isu yang sangat menarik untuk diutarakan sebagai upaya untuk mewujudkan pembangunan pariwisata yang bertanggungjawab dan berkelanjutan. Standar adalah dokumen yang menetapkan dasar, contoh atau prinsip untuk menyesuaikan hal-hal yang terkait dengan unit pengukuran yang seragam. Standar dapat berupa kewajiban (misalnya, ditetapkan dalam undang-undang) yang membahas pengembangan standar

keberlanjutan dari usaha-usaha lokal untuk menciptakan perbaikan bisnis sebagai bagian dari upaya persiapan bersaing pada industri pariwisata global. Proposisi yang ditetapkan pada pembahasan tentang standar adalah bahwa penetapan standar dan sertifikasi adalah alat berharga untuk membantu membawa para pemangku kepentingan bersama-sama menemukan sebuah kesepakatan bentuk penilaian yang bertanggungjawab. Sertifikasi adalah proses yang bertujuan untuk membantu meningkatkan standar industri dan merupakan alat kebijakan untuk melakukan perbaikan secara sukarela di bawah lima aspek: keadilan, efektivitas, efisiensi, kredibilitas dan integrasi. Dalam pengembangan strategi pariwisata dan kebijakan, otoritas yang bertanggung jawab, harus mempertimbangkan pandangan dari sejumlah pemangku kepentingan termasuk industri, penduduk, kelompok khusus yang mewakili kepentingan lingkungan dan masyarakat, serta wisatawan sendiri. Pelibatan stakeholder dalam perumusan strategi pengembangan pariwisata yang berkelanjutan dan kebijakan mungkin menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Di banyak negara-negara dunia maju, pertentangan tajam terjadi antara kelompok konservasionis dan industri pariwisata. Konservasionis berpendapat bahwa

lingkungan harus mendapatkan perlindungan dan pembatasan pada pertumbuhan pariwisata yang dramatis. Industri Pariwisata di sisi lain berusaha untuk

meningkatkan dan mengembangkan fasilitas baru untuk mewujudkan kepuasan wisatawan. Lebih Lanjut, Hudson dan Miller berpendapat bahwa mengeksplorasi hubungan antara pentingnya etika dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan dan

mempertimbangkan bagaimana pemahaman tentang pendekatan etis dari para pejabat pariwisata di masa depan bisa menguntungkan mereka secara efektif dalam mengelola industri di masa depan. Hudson dan Miller menyimpulkan bahwa negaranegara maju mungkin akan mengalami tekanan besar untuk menetapkan hak atas alam agar penduduk lebih makmur dan oleh karena itu menjadi lebih peduli dengan masalah estetika, namun, gerakan untuk perlindungan lingkungan tidak mungkin untuk dilanjutkan pada negara-negara yang kurang berkembang di mana isu-isu kelangsungan hidup lebih mendesak untuk dibicarakan dibandingkan isu-isu konservasi. 1.2 Rumusan Masalah 1. Apa saja kasus yang ada mengenai penerapan pariwisata berkelanjutan di Bali?
2. Bagaimana solusi terhadap kasus penerapan pariwisata berkelanjutan di Bali?

1.3 Tujuan Untuk mengetahui kasus yang ada mengenai penerapan pariwisata berkelanjutan di Bali dan solusi yang bagaimana yang bisa diberikan atas kasus tersebut. 1.4 Manfaat
1. Dalam bidang akademis bermanfaat dalam meningkatkan keilmuan bagi mahasiswa dan masyarakat khususnya dalam bidang penerapan pariwisata berkelanjutan. 2. Manfaat praktisnya adalah pemerintah dapat menentukan kebijakan terbaru dalam menerapkan pariwisata berkelanjutan di Bali.

BAB II

TINJAUAN KONSEP
2.1 Tinjauan Konsep Pariwisata Berkelanjutan Pembangunan pariwisata harus didasarkan pada kriteria keberlanjutan yang artinya bahwa pembangunan dapat didukung secara ekologis dalam jangka panjang sekaligus layak secara ekonomi, adil secara etika dan sosial terhadap masyarakat (Piagam Pariwisata Berkelanjutan, 1995)Pembangunan pariwisata berkelanjutan, seperti disebutkan dalam Piagam Pariwisata Berkelanjutan (1995) adalah pembangunan yang dapat didukung secara ekologis sekaligus layak secara ekonomi, juga adil secara etika dan sosial terhadap masyarakat. Artinya, pembangunan berkelanjutan adalah upaya terpadu dan terorganisasi untuk mengembangkan kualitas hidup dengan cara mengatur penyediaan, pengembangan, pemanfaatan dan pemeliharaan sumber daya secara berkelanjutan. Hal tersebut hanya dapat terlaksana dengan sistem penyelenggaraan kepemerintahan yang baik (good governance) yang melibatkan partisipasi aktif dan seimbang antara pemerintah, swasta, dan masyarakat. Dengan demikian,

pembangunan berkelanjutan tidak saja terkait dengan isu-isu lingkungan, tetapi juga isu demokrasi, hak asasi manusia dan isu lain yang lebih luas. Tak dapat dipungkiri, hingga saat ini konsep pembangunan berkelanjutan tersebut dianggap sebagai resep pembangunan terbaik, termasuk pembangunan pariwisata. Pembangunan pariwisata yang berkelanjutan dapat dikenali melalui prinsipprinsipnya yang dielaborasi berikut ini. Prinsip-prinsip tersebut antara lain partisipasi, keikutsertaan para pelaku (stakeholder), kepemilikan lokal, penggunaan sumber daya secara berkelanjutan, mewadahi tujuan-tujuan masyarakat, perhatian terhadap daya dukung, monitor dan evaluasi, akuntabilitas, pelatihan serta promosi.
4

1.

Partisipasi Masyarakat setempat harus mengawasi atau mengontrol pembangunan pariwisata dengan ikut terlibat dalam menentukan visi pariwisata, mengidentifikasi sumbersumber daya yang akan dipelihara dan ditingkatkan, serta mengembangkan tujuan-tujuan dan strategi-strategi untuk pengembangan dan pengelolaan daya tarik wisata. Masyarakat juga harus berpartisipasi dalam mengimplementasikan strategi-strategi yang telah disusun sebelumnya.

2.

Keikutsertaan Para Pelaku/Stakeholder Involvement Para pelaku yang ikut serta dalam pembangunan pariwisata meliputi kelompok dan institusi LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), kelompok sukarelawan, pemerintah daerah, asosiasi wisata, asosiasi bisnis dan pihak-pihak lain yang berpengaruh dan berkepentingan serta yang akan menerima dampak dari kegiatan pariwisata.

3.

Kepemilikan Lokal Pembangunan pariwisata harus menawarkan lapangan pekerjaan yang berkualitas untuk masyarakat setempat. Fasilitas penunjang kepariwisataan seperti hotel, restoran, dsb. seharusnya dapat dikembangkan dan dipelihara oleh masyarakat setempat. Beberapa pengalaman menunjukkan bahwa pendidikan dan pelatihan bagi penduduk setempat serta kemudahan akses untuk para pelaku

bisnis/wirausahawan setempat benar-benar dibutuhkan dalam mewujudkan kepemilikan lokal. Lebih lanjut, keterkaitan (linkages) antara pelaku-pelaku bisnis dengan masyarakat lokal harus diupayakan dalam menunjang kepemilikan lokal tersebut.
4.

Penggunaan Sumber Daya yang Berkelanjutan Pembangunan pariwisata harus dapat menggunakan sumber daya dengan berkelanjutan yang artinya kegiatan-kegiatannya harus menghindari penggunaan sumber daya yang tidak dapat diperbaharui (irreversible) secara berlebihan. Hal ini juga didukung dengan keterkaitan lokal dalam tahap perencanaan, pembangunan dan pelaksanaan sehingga pembagian keuntungan yang adil dapat
5

diwujudkan. Dalam pelaksanaannya, kegiatan pariwisata harus menjamin bahwa sumber daya alam dan buatan dapat dipelihara dan diperbaiki dengan menggunakan kriteria-kriteria dan standar-standar internasional.
5.

Mewadahi Tujuan-tujuan Masyarakat Tujuan-tujuan masyarakat hendaknya dapat diwadahi dalam kegiatan pariwisata agar kondisi yang harmonis antara pengunjung/wisatawan, tempat dan masyarakat setempat dapat terwujud. Misalnya, kerja sama dalam wisata budaya atau cultural tourism partnership dapat dilakukan mulai dari tahap perencanaan, manajemen, sampai pada pemasaran.

6.

Daya Dukung Daya dukung atau kapasitas lahan yang harus dipertimbangkan meliputi daya dukung fisik, alami, sosial dan budaya. Pembangunan dan pengembangan harus sesuai dan serasi dengan batas-batas lokal dan lingkungan. Rencana dan pengoperasiannya seharusnya dievaluasi secara reguler sehingga dapat ditentukan penyesuaian/perbaikan yang dibutuhkan. Skala dan tipe fasilitas wisata harus mencerminkan batas penggunaan yang dapat ditoleransi (limits of acceptable use).

7.

Monitor dan Evaluasi Kegiatan monitor dan evaluasi pembangunan pariwisata berkelanjutan mencakup penyusunan pedoman, evaluasi dampak kegiatan wisata serta pengembangan indikator-indikator dan batasan-batasan untuk mengukur dampak pariwisata. Pedoman atau alat-alat bantu yang dikembangkan tersebut harus meliputi skala nasional, regional dan lokal.

8.

Akuntabilitas Perencanaan pariwisata harus memberi perhatian yang besar pada kesempatan mendapatkan pekerjaan, pendapatan dan perbaikan kesehatan masyarakat lokal yang tercermin dalam kebijakan-kebijakan pembangunan. Pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam seperti tanah, air, dan udara harus menjamin

akuntabilitas serta memastikan bahwa sumber-sumber dieksploitasi secara berlebihan.


9.

yang ada

tidak

Pelatihan Pembangunan pariwisata berkelanjutan membutuhkan pelaksanaan programprogram pendidikan dan pelatihan untuk membekali pengetahuan masyarakat dan meningkatkan keterampilan bisnis, vocational dan profesional. Pelatihan sebaiknya meliputi topik tentang pariwisata berkelanjutan, manajemen perhotelan, serta topik-topik lain yang relevan.

10.

Promosi Pembangunan pariwisata berkelanjutan juga meliputi promosi penggunaan lahan dan kegiatan yang memperkuat karakter lansekap, sense of place, dan identitas masyarakat setempat. Kegiatan-kegiatan dan penggunaan lahan tersebut seharusnya bertujuan untuk mewujudkan pengalaman wisata yang berkualitas yang memberikan kepuasan bagi pengunjung.

2.2 Indikator Pariwisata Berkelanjutan

1. Secara garis besar, indikator yang dapat dijabarkan dari karakteristik berkelanjutan antara lain adalah lingkungan. Artinya industri pariwisata harus peka terhadap kerusakan lingkungan, misalnya pencemaran limbah, sampah yang bertumpuk, dan kerusakan pemandangan yang diakibatkan pembalakan hutan, gedung yang letak dan arsitekturnya tidak sesuai, serta sikap penduduk yang tidak ramah. Dengan kata lain aspek lingkungan lebih menekankan pada kelestarian ekosistem dan biodiversitas, pengelolaan limbah, penggunaan lahan, konservasi sumber daya air, proteksi atmosfer, dan minimalisasi kebisingan dan gangguan visual. 2. Selain lingkungan, sosial budaya pun menjadi aspek yang penting diperhatikan. Interaksi dan mobilitas masyarakat yang semakin tinggi menyebabkan persentuhan antarbudaya yang juga semakin intensif. Pariwisata merupakan salah

satu kegiatan yang memberi kontribusi persentuhan budaya dan antaretnik serta antarbangsa. Oleh karenanya penekanan dalam sosial budaya lebih kepada ketahanan budaya, integrasi sosial, kepuasan penduduk lokal, keamanan dan keselamatan, kesehatan publik. 3. Aspek terakhir adalah sosial dan ekonomi. Penekanan aspek ekonomi lebih kepada Pemerataan Usaha dan Kesempatan Kerja, Keberlanjutan Usaha, Persaingan Usaha, Keuntungan Usaha dan Pajak, Untung-Rugi Pertukaran Internasional, Proporsi Kepemilikan Lokal, Akuntabilitas.

BAB III

PEMBAHASAN
3.1 Isu-Isu Terkini Terkait Dengan Dampak Pariwisata Isu-isu tentang dampak positif dari berkembangnya pariwisata sudah banyak diketahui oleh banyak orang, bahkan pihak dari WTO hingga pengelola bisnis pariwisata di tingkat lokal berpendapat pada hal yang sama yakni pariwisata berpengaruh atau berdampak positif terhadap pembangunan sebuah Negara, wilayah, atau destinasi. Bila pandangan saat ini dibelokkan pada hal-hal yang telah mengalami perubahan seperti pengakuan bahwa pembangunan telah menyebabkan beberapa dampak negatif yang serius terhadap lingkungan, dan beberapa diantaranya telah begitu jelas terlihat seperti pasokan air semakin menyusut, terjadinya masalah sampah, dan masalah misterius lainnya seperti pemanasan global, penipisan lapisan ozon, dan hilangnya keanekaragaman hayati. Dalam konteks ini, isu-isu untuk melakukan mitigasi atas misteri kerusakan lingkungan telah menjadi isu yang hangat dalam konteks pembangunan pariwisata berkelanjutan dan termasuk juga pembangunan pada sektor lainnya. 3.2 Kasus-Kasus Pembangunan Pariwisata di Bali Yang Tidak Sesuai Dengan Penerapan Pariwisata Berkelanjutan Menurut pendapat seorang tokoh Bali (Manuaba), harus dapat dibedakan antara Pembangunan Bali dan pembangunan di Bali pembangunan bali mengidentifikasi bahwa pembagunan dilakukan atas inisiatip masyarakat bali dilakukan oleh masyarakat, untuk kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat bali. Namun yang terjadi saat ini, ada indikasi bahwa masyarakat bali justru mulai tergusur dan jika ada masyarakat bali yang dapat bersaing pada dunia bisnis, jumlahnya sangat kecil. Lahan-lahan hijau atau persawahan dan pertanian produktif telah semakin
9

menyempit yang menandakan bahwa pengelolaan terhadap sumberdaya alam bali nyaris tanpa kendali yang baik. Pengelolaan terhadap kunjungan wisatawan pada beberapa tempat wisata di Bali belum memiliki standar yang baik untuk mendukung daya dukung dan keberlanjutan atas sumberdaya yang ada, sebagai contohnya, misalnya pengelolaan tempat wisata Tanah Lot di Tabanan, belum dikelola dengan standar yang baik sehingga permasalahan pengelolaan masih terjadi di banyak tempat wisata di Bali. Pembangunan akomodasi yang seolah-olah tanpa batas dan tanpa mempertimbangkan daya dukung wilayah dan mengabaikan asas pemerataan pembangunan wilayah masih nampak dengan jelas seperti kesenjangan pembagunan pariwisata wilayah bali selatan dengan bali utara misalnya. Reklamasi Pulau Serangan merupakan salah satu contoh nyata dari sekian banyak kasus yang telah mengakibatkan terjadinya kerusakan lingkungan dalam bentuk abrasi di Pantai Merta Sari dan Pantai Matahari Terbit sehingga wisatawan tidak bisa lagi menikmati pantai yang asli (natural-made) tetapi hanya pantai buatan (man-made) yang dananya juga berasal dari bantuan negara lain. Di dalam kehidupan sosial budaya telah terjadi beberapa perubahan seperti budaya konsumtif dan individual terutama di perkotaan serta perpaduan atau akulturasi budaya asing dan lokal. Kontribusi langsung pariwisata terhadap ekonomi masyarakat Bali terutama yang bekerja di industri pariwisata seperti hotel dan restoran masih sangat kecil. Uang yang diperoleh setiap bulannya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari dan hampir tidak ada alokasi dana untuk masa depannya seperti untuk membangun rumah dan pendidikan. Kecilnya pendapatan yang diperoleh memaksa mereka untuk hidup di ruangan yang sempit atau kamar kost dengan segala keterbatasannya. Hal ini terjadi karena rendahnya pendidikan dan kualitas sumber daya manusia sehingga mereka hanya bekerja pada tingkat bawah (front-line employee).

10

Ketidaktegasan penerapan hukum telah mengakibatkan terjadinya banyak penyimpangan. Sebagai contoh, sekarang ini telah banyak ditemukan vila-vila illegal yang letaknya di kawasan pemukiman penduduk dan di tepi-tepi jurang yang tidak memiliki jaminan keamanan dari bencana tanah longsor. Exploitasi dan alih fungsi lahan dari lahan persawahan menjadi bangunan rumah-toko yang hampir tidak bernuansa Bali di sepanjang jalan Sunset Road sama sekali tidak bersahabat dengan alam yang kedepanya bisa mengakibatkan bencana banjir sebagaimana terjadi di Jakarta sekarang ini. Masih terjadi pencatatan ganda kependudukan khususnya yang berhubungan dengan penduduk pendatang lokal yang berasal dari kabupaten lain di Provinsi Bali yang berimbas pada ketidakrapian database kependudukan Provinsi Bali dan bahkan pencatanan secara nasional. Masih terjadi konflik desa adat, perebutan lahan pada tapal batas desa dan konflik kecil lainnya menandakan bahwa masyarakat Bali semakin kritis dan jika tidak diberikan pemahanan yang cukup baik, akan dapat menimbulkan konflik baru di masyarakat. Menurut beberapa surat kabar dan beberapa media online mengatakan bahwa banyak tour guide yang belum memiliki sertifikasi yang layak sehingga terkadang dapat menimbulkan permasalahan seperti barang-barang wisatawan yang hilang, pembiaran memasuki tempat suci atau bukan tempat umum, izin-izin bepergian yang tidak lengkap dan lainnya. Dinas Pariwisata Provinsi Bali dan Badan Pariwisata Bali (Bali Tourism Board) yang diharapkan mampu bekerja secara holistik untuk menangani masalah dan mencari solusi permasalahan pariwisata di Bali yang semata-mata untuk keberlanjutan pariwisata Bali ternyata hanya mampu bekerja secara parsial. Usahausaha yang dilakukan selama ini hanya terfokus untuk mendatangkan wisatawan dengan cara mengadakan promosi wisata dan pemberian penghargaan kepada hotel

11

yang menerapkan konsep Tri Hita Karana, dan mempertahankan citra Bali sebagai destinasi wisata terbaik. Upaya terpenting untuk memperbaiki dan melestarikan objek dan daya tarik wisata, penataan kawasan wisata, pendataan secara berkala fasilitas pariwisata (hotel, vila, bungalow, dan restoran) dan pembinaan terhadap pengelola objek wisata nyaris terlupakan. 3.3 Solusi Atas Kasus Penerapan Pariwisata Berkelanjutan di Bali 3.3.1 Keterlibatan Semua Pemangku Kebijakan Dalam Pembangunan Pariwisata di Bali Keterlibatan masyarakat dalam pembangunan adalah kondisi yang diinginkan dan mungkin menjadi elemen yang paling penting dari manajemen pertumbuhan. Mengembangkan mekanisme yang tepat untuk menggabungkan pandangan berbeda adalah penting untuk keberhasilan pembangunan yang menyesuaikan kepentingan masyarakat dan wisatawan secara bersama-sama (Cleveland dan Hansen, 1994). Perbedaan mendasar dapat terjadi antara masyarakat lokal dan wisatawan namun pada kenyataannya ada perbedaan yang lebih besar sehubungan dengan perbedaan sikap terhadap pembangunan itu sendiri (Lawrence, et al., 1993). Di kotakota wisata yang telah banyak berkembang, msyarakat menjadikan destinasi sebagai rumah kedua khususnya penduduk sebagai karyawan musiman, hal ini juga terjadi di Bali, di mana kota-kota wisata seperti Kuta, Nusa Dua, Sanur, Denpasar dan lainnya menjadi rumah kedua bagi masyarakat Bali yang berasal dari beberapa kabupaten di Bali. Masing-masing kelompok msyarakat memiliki kebutuhan yang sangat berbeda dalam hal fasilitas perumahan dan pelayanan. Alternatif mekanisme, seperti pertemuan kelompok kecil yang lebih informal, telah digunakan dalam beberapa kasus. Dalam hubungannya dengan proses ini, informasi komunitas yang aktif dan program publisitas (misalnya, melalui talk show radio, newsletter, dll) sering

12

diperlukan untuk memastikan bahwa masyarakat dapat memberikan masukan dalam proses manajemen pertumbuhan (Gill, 1992). Selain sikap warga, penting juga untuk melakukan pendektan dengan para wisatawan untuk memahami mengapa mereka memutuskan untuk mengunjungi sebuah destinasi, seberapa baik harapan mereka terpenuhi dan apa yang dapat dilakukan untuk membuat mereka tetap lebih terpuaskan. Menjaga keseimbangan antara kebutuhan wisatawan dan orang-orang dari semua masyarakat sangatlah penting untuk diketahui. Seperti banyak penduduk kota wisata memilih untuk tinggal di sana karena gaya hidup yang dirasakan dan faktor kemudahan, program yang dirancang untuk memfasilitasi penggunaan fasilitas, dan layanan yang dapat digunakan untuk mengurangi gesekan antara warga dan pengunjung. Keterlibatan semua pemangku kebijakan memang telah menjadi perhatian serius pada setiap pembangunan di Bali, dan bahkan masyarakat Bali telah merasakan atmosfer kebebasan demokrasi yang cukup, namun karena masih lemahnya pemahaman masyarakat atas konsep pembangunan, akhirnya masyarakat justru menjadi penghalang pembangunan itu sendiri Pentingnya untuk menanamkan konsep kepemilikan bersama atas alam ciptaan Tuhan, konsep kepemilikan satu bumi untuk semua umat manusia akan menjadi relevan untuk disosialisasikan bersama-sama, bukan hanya ditujukan kepada masyarakat, tetapi juga di tujukan kepada wisatawan. Penanaman konsep ini juga dapat diterapkan menjadi visi di pemerintahan seperti di Dinas Pariwisata Bali. 3.3.2. Penerapan Sertifikasi Sebagai Instrumen untuk Keberlanjutan di Bali Sertifikasi sebagai proses untuk meningkatkan standar industri memiliki pendukung dan dan nilai kritik. Bagian ini sebenarnya meninjau kelayakan sertifikasi sebagai alat kebijakan untuk melakukan perbaikan secara sukarela, di bawah lima

13

aspek: keadilan, efektivitas, efisiensi, kredibilitas, dan integrasi (Toth, 2002). Instrumen keadilan dianggap sebagai kesempatan semua perusahaan pariwisata untuk mengakses sertifikasi. Tiga wilayah dianggap berpotensi menimbulkan ketidakadilan dapat berupa biaya biaya (1) aplikasi, (2) pelaksanaan oleh perusahaan pariwisata, dan (3)program pelaksanaannya. Tingginya biaya relatif yang dirasakan dari sertifikasi dianggap sebuah ketidakadilan karena tidak semua perusahaan akan memiliki potensi yang sama untuk mengakses program sertifikasi tersebut. Program sertifikasi sangat penting karena berhubungan dengan standar atau prosedur yang dipakai atau pengakuan atas profesionalitas pelaku pada bidangnya, misalnya seorang pramuwisata haruslah seseorang yang telah tersertifikasi sesuai dengan kriteria global yang telah ditetapkan yang dapat diterima oleh semua orang secara internasional. Pekerja hotel yang memiliki keahlian dibidangnya yang ditunjukkan dengan sebuah program sertifikasi yang dilakukan secara periodic dengan cara yang baik, proses yang baik, dan dievaluasi secara periodic untuk menyesuaikan dengan isu-isu pembangunan terkini dalam konteks pembangunan pariwisata berkelanjutan. Pada Bali sendiri seharusnya pemerintah perlu menerapkan system sertifikasi yang jelas dan mensosialisasikannya kepada pelaku pariwisata, serta sanksi yang tegas jika pelaku pariwisata tidak menerapkan atau tidak mengikuti sertifikasi tersebut, dan mengenai biaya atas sertifikasi tersebut pemerintah seharusnya member bantuan dana atau potongan kepada masyarakat yang memiliki keahlian di bidang tersebut akan tetapi terbenggala dana agar tidak terjadi adanya praktik-praktik illegal ataupun yang berada di bawah standar.

3.3.3

Penerapan Standar Global Untuk Ekonomi Global di Bali Kode etik pembangunan pariwisata berkelanjutan telah dirumuskan dan

menjadi agenda yang terus menerus di revisi dan bahkan revisi yang terakhir
14

diselenggarakan di Bali (UNWTO Etic Code, 2011). Standar yang tetapkan memang masih terlalu umum untuk diterapkan oleh unit bisnis, sehingga masih perlu dilakukan penjabaran menjadi standar yang lebih rinci dalam bentuk buku manual (Font dan Bendell, 2002). Sebagai gambaran, model untuk sertifikasi di Amerika Latin adalah CST Kosta Rika, sebagian besar negara-negara di wilayah ini telah menandatangani perjanjian untuk melaksanakan program secara nasional untuk mendorong perusahaan bertanggung jawab atas masalah pariwisata yang keberlanjutan dengan program CST sebagai model. CST juga berharap bahwa WTO akan memberikan dukungan penuh ke Costa Rika pada mereka untuk menjalani program sertifikasi global (Toth, 2000). Namun, usulan itu tidak diterima oleh Negara Anggota WTO yang lainnya karena dianggap dirancangan oleh panitia teknis, yang seharusnya disusun oleh Komite pada Sekretariat WTO berupa rekomendasi dan pedoman tentang bagaimana membangun sistem sertifikasi tersebut. Kasus lainnya, di Eropa secara sukarela mengambil inisiatif untuk program pariwisata berkelanjutan dan menciptakan sebuah sistem federal untuk meningkatkan standar di antara program-program saat ini, telah digunakan pada 1000 akomodasi sebagai sebuah disertifikasi untuk konsumen dalam promosi, dan penawaran paket wisata mereka (Visitor, 2003). Penerapan program standar global pada pariwisata bali memang telah dilakukan oleh beberapa perusahaan atau hotel tertentu di Bali namun jumlahnya masih sangat kecil jika dibandingkan dengan harapan yang mestinya dapat dilakukan di Bali untuk mendukung pembangunan pariwisata bali yang bekelanjutan. Bali sendiri sudah mencangkan program Tri Hita Karana Award dan juga mensosialisasikan kepada industry pariwisata untuk mendaftarkan pada program tersebut, akan tetapi jumlah industry pariwisata yang mengikuti program tersebut

15

sangatlah minim. Program Tri Hita Karana Award seharusnya bukan hanya sebagai saran terhadap akomodasi pariwisata tetapi menjadi suatu keharusan atau kewajiban yang harus diikuti oleh setiap akomodasi pariwisata yang ada di Bali agar bisa mengontrol keberlanjutan pembangunan pariwisata yang ada di Bali. 3.3.4 Solusi Lainnya Dalam Menjaga Keberlanjutan Pembangunan Pariwisata di Bali Upaya terpenting untuk memperbaiki dan melestarikan objek dan daya tarik wisata, penataan kawasan wisata, pendataan secara berkala fasilitas pariwisata (hotel, vila, bungalow, dan restoran) dan pembinaan terhadap pengelola objek wisata nyaris terlupakan. Seharusnya pemerintah dan badan pariwisata ini bekerja dari tingkat bawah mulai dari penataan objek-objek wisata secara fisik agar keindahan dan kebersihannya terjamin sehingga nyaman untuk dikunjungi, memberikan pelatihan pengelolaan objek wisata agar siap dalam menerima kunjungan wisatawan, dan yang tak kalah pentingnya adalah promosi pariwisata. Perlu digarisbawahi dan diketahuai oleh masyarakat bahwa keberlanjutan pariwisata Bali sangat tergantung dari kelestarian sumber daya alam dan budaya serta kualitas sumber daya manusia. Berdasarkan lima tahapan pada siklus pariwisata (discovery, involvement, development, consolidation, dan stagnation) sebagaimana ditulis oleh Butler (1980), Bali berada pada tahap development atau perkembangan. Ini dapat dilihat dari masuknya investor lokal dan dari luar daerah untuk membangunan dan mengembangkan prasarana, sarana dan faslitas pariwisata seperti hotel dan restoran. Usaha-usaha lainnya yang harus dilakukan untuk menjamin keberlangsungan pariwisata di Bali adalah sebagai berikut: Pertama, peningkatan kualitas dan taraf hidup masyarakat yang bergelut dalam bidang pariwisata dan masyarakat lokal. Kedua, menjamin keberlangsungan sumber daya alam yang dijadikan sebagai objek atau daya tarik wisata dan kelestarian budaya-budaya masyarakat lokal dengan

16

menegakkan hukum dan perundang-undangan yang berlaku secara tegas dan tidak pandang bulu terhadap pelanggaran hukum dan penyimpangan yang dilakukan. Ketiga, menjaga keseimbangan kebutuhan industri pariwisata, lingkungan, dan masyarakat lokal agar tercipta tujuan dan kerjasama yang saling menguntungkan di antara para stakeholders (wisatawan, industri pariwisata, pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan masyarakat lokal).

17

BAB IV

SIMPULAN DAN SARAN


4.1 Simpulan Pembangunan berkelanjutan dimaknai sebagai sebuah usaha pembangunan saat ini yang dilakukan secara bijaksana dengan memaksimalkan dampak positif dan mengurangi dampak negatifnya. Keberlanjutan juga dimaknai sebagai usaha untuk melakukan preservasi atas sumber daya alamiah, dan begitu juga pengelolaan sumberdaya alam yang dapat diperbarauhi maupun yang tidak dapat diperbarui. Pembangunan pariwisata yang bekelanjutan adalah tujuan dari semua stakeholder pembangunan yang akhirnya bertemu dalam sebuah titik keseimbangan antara tujuan industri, tujuan wisatawan, dan terwujudnya kualitas hidup masyarakat lokal. Pembangunan dapat berkelanjutan jika pembangunan tersebut dari sejak tahap perencanaan telah melibatkan semua pemangku kepentingan pembangunan untuk menyatukan visi dan tujuan, menyatukan semua persamaan dan perbedaan atas keinginan, harapan, kebutuhan, dan tujuannya dalam jangka panjang. Usaha-usaha mewujudkan pembangunan pariwisata yang berkelanjutan telah dimulai dengan pembentukan kode etik pembangunan pariwisata, pembentukan standar dalam pariwisata yang meliputi standar penawaran maupun standar permintaan untuk memperkuat daya saing industri pariwisata di mata konsumen. Pada tingkat destinasi, usaha mewujudkan pariwisata yang berkelanjutan telah diwujudkan dalam bentuk penerapan manajemen kapasitas atau daya dukung sebuah destinasi terhadap kemampuannya untuk menerima kedatangan wisatawan, daya dukung tersebut dapat berupa penentuan kapasitas maksimal, daya dukung social, dan daya dukung lingkungan lainnya untuk dapat memperpanjang siklus hidup dari sebuah destinasi sehingga kehadiran pariwisata tidak menimbulkan antagonism bagi masyarakat local.

18

4.2 Saran Berdasarkan kasus dan permasalahan atas penerapan pariwisata berkelanjutan di Bali seperti yang telah disampaikan di atas, dapat di berikan saran sebagai berikut 1. Menerapkan sertifikasi yang jelas dan tepat kepada pelaku industry dan digunakan sebagai instrument keberlanjutan pembangunan pariwisata di Bali. 2. Pemerintah harus mengatur jelas tentang penerapan standar global terhadap industry dan pelaku pariwisata, seperti mengatur jumlah pembangunan hotel yang standar di setiap kabupaten, mengatur luas lahan hijau yang harus tersedia, mengatur bahwa setiap akomodasi harus mengikuti program sertifikasi Tri Hita Karana Award, mengatur hak-hak dari pengelola local dan terutama hak-hak dan kewajiban dari pengelola swasta ataupun investor baik local atau asing, mengatur jelas tentang tata letak rumah

suci(pura/mesjid/vihara/gereja dan lainnya) terhadap bangunan sekitarnya, tata letak dari akomodasi pariwisata dan tata letak dari bangunan lainnya. 3. Mensosialisasikan dan menanamkan konsep kepemilikan bersama atas alam ciptaan Tuhan, konsep kepemilikan satu bumi untuk semua umat manusia kepada masyarakat, wisatawan dan pemerintah serta pengelola ataupun investor. 4. Peningkatan kualitas dan taraf hidup masyarakat yang bergelut di bidang pariwisata ataupun yang turut berkontribusi dalam jalannya kegiatan kepariwisataan. 5. Menegakkan hukum dan perundang-undangan yang berlaku secara tegas dan tidak pandang bulu terhadap pelanggaran hukum dan penyimpangan yang dilakukan terutama terkait dengan keberlanjutan pembangunan pariwisata.

19

6. Mengatur dalam perundangan ataupun ketetapan terhadap jumlah investor asing yang boleh masuk dan ikut berkontribusi atas kegiatan kepariwisataan.

20

DAFTAR PUSTAKA

Hudson, Simon and Miller, G. 2001. Corporate Responsibility in the UK Tourism Industry. Tourism Management 22(6): 589598. Hunter, C. J. 2002. Aspects of the Sustainable Tourism Debate from a Natural Resources Perspective. In Sustainable Tourism: A Global Perspective. eds. R. Harris, T. Griffin, and P. Williams. Oxford: Butterworth-Heinemann. Hunter, C., and H. Green. 1995. Tourism and The Environment: A Sustainable Relationship London: Routledge. I Gusti Rai Utama, Mempertanyakan Keberlanjutan Pembangunan Pariwisata Bali http://tourismbali.wordpress.com/2012/02/10/mempertanyakan-keberlanjutanpembangunan-pariwisata-bali/ Subadra, I Nengah. Senin,14 maret 2011. Konsep Pariwisata Berkelanjutan. http://subadra.wordpress.com/2007/03/01/how-sustainable-is-sustainable-tourism-inbali/

21